Skinpress Rss

Sabtu, 22 Oktober 2011

CREDIT DARI MUTARABBI KEPADA MUTARABBI

0


Pagi ini membuka halaman muka buku.. terbaca artikel yang baru ditagkan oleh adik kesayanganku.. Miftahul Jamilah.. tentang mutarabbi..
Sebuah puisi indah yang di petik dari : http://muharikah.com/archives/720/

A’uzubillahiminassyaitonirrajim..Bismillahirrahmanirrahim..
Dengan namaNya,Ar-Rahman..Ar-Rahim..
Ar-Rahman atas segalanya..Ar-Rahim atas segalanya..
Adunan rasa yang disimpan,Jauh di sudut yang paling dalam
Buat jiwa-jiwa..yang berjiwa mutarabbi
Meski sudah jauh berjalan,Jiwanya masih jiwa mutarabbi
Mengharap sayang sang murabbi,Mengharap kasih sang murabbi
Wahai ‘ibadurrahman..
Dalam hatimu itu ada rasa sayang,Dalam hatimu itu ada rasa kasih
Sayang bukan sebarang sayang,Kasih bukan sebarang kasih
Cuma..cuma..,Ingin kuingatkan
Diriku dan kalian
Murabbi itu bukan malaikat,Murabbi itu bukan nabi yang maksumCuma..cuma..
Murabbi itu cuma seorang manusia,yang dengan sedayanya mencuba
menjadikan nabi itu qudwah terbaik dalam hidupnya
Dan kenapa, duhai pemilik hati ‘ibadurrahman
Perlu kalian mengeluh, berkeluh kesah
Resah menanti murabbi sepertinya malaikat,Menunggu murabbi sepertinya nabi
Tanpa ada cacat walau sedikit
Benar..benar..
Benar murabbi itu bagaikan ayah, bagaikan ibu,Benar murabbi itu seorang pemimpin
Benar murabbi itu seorang guru,Benar murabbi itu seorang sahabat
Benar, seharusnya begitu
Tapi..
Ingin diingatkan,Diriku dan kalian
Kita merancang,,Allah jua merancang,
dan Dia adalah sebaik-baik perancang
Sabar..sabar..sabar duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Tarbiyah itu dari Allah..
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang murabbi
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang mutarabbi
Ada harinya tarbiyah itu, lewat diri kita sendiri
Tapi datangnya sama, dari Allah..
Kenapa harus ada masa berhenti?
Kenapa harus ada masa berhenti dari tarbiyah ini?
Kenapa..?
Yang miliki hatimu itu hatimu sendiri,Yang miliki jiwamu itu jiwamu sendiri
Yang miliki imanmu itu imanmu sendiri
Allah kan ada..,Allah ada..,Allah..
Duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Ku katakan begini,
untuk kalian yang memiliki jiwa mutarabbi
untuk diriku yang jua seorang mutarabbi
dan murabbi kita..jua seorang mutarabbi
Sampai..Murabbi teragung..Tidak rindukah kita pada baginda?
Murabbi kepada murabbi teragung..?DIA pemilik nyawa kita..
DIA pemilik hati kita..DIA pemilik iman kita..Kembali pada asalnya diri.
Jadi kenapa harus lari?

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA
Setelah membaca puisi tersebut, jiwa bergetar. Benarlah mendidik hati itu adalah suatu hal yang tidak mudah. Menjadi MUTARABBI yang menganggap kebaikan itu datangnya dari langit itu tidak mudah. Kerna seorang mutarabbi itu mendambakan sosok yang bisa dijadikan contoh teladan. Mendewasa dibawah bayangan yang hebat untuk melentur diri menjadi hebat. Ia butuh tsiqqah yang tinggi dan mapan terhadap peribadi murabbinya. Kadang terlupa bahawa murabbinya juga manusia yang masih melalui hari-hari tarbiyah yang penuh dengan mujahadah. Masih bertarung dalam pergelutan antara nafsu dan iman. Antara keanakan dan kematangan. Antara realities dan fantasis.

Menjadi MURABBI lebih tidak mudah. Mendidik orang lain untuk menjadi mapan sedang diri juga masih dalam proses untuk memujuk hati, mendidik diri sendiri. Membina diri untuk menjadi solid dan menangani masalah mutarabbinya dengan penuh kesenian dan pemahaman. Itu sungguh hal yang tidak mudah. Saat perhatian harus difokuskan sepenuhnya. Saat sensitivity harus diasah setingginya. Menaggapi semua permasalahan dengan dewasa dan harus mampu untuk menembus dimensi hati yang dinamik dan kompleks.. Untuk memahami dan mengerti setiap ahli dalam suatu halaqah itu suatu cabaran. Untuk mempersatukan setiap orang dalam satu wadah, menghapuskan perbezaan, dalam masa yang sama menimbulkan toleransi dan saling menerima itu bukan mudah..apatah lagi untuk menjaga keseimbangan dan keserasian.. Sungguh.. hanya Allah lah yang mampu mempersatukan hati manusia..

Kita tidak pernah layak untuk menjadi mutarabbi yang baik. Apalagi menjadi murabbi yang baik. Tapi.. kita harus berusaha dan terus berusaha untuk melayakkan diri kita dengan mendidik dan melenturnya dengan tarbiyah pencipta.

“Kita tidak mungkin mengubah arah angin tapi kita bisa mengubah arah sayap kita..”

0 ulasan: