
Setelah lebih 2 bulan bergelut di bagian (depertment) internal medicine (interna), diri akhirnya telahpun menduduki ujian akhir dibagian (department) ini. Menempuh 11 minggu di interna [baca:12minggu gara-gara turun minggu missal (extent) sewaktu lebaran Aidilfitri] benar-benar adalah waktu yang amat singkat untuk mempelajari apatah lagi untuk menguasai bagian ini.
Internal Medicine (interna) mencakupi dari paru (pulmonology), jantung (cardiology), sistem pencernaan (Gastroenterohepatology) dan juga ginjal (urology). Terlalu banyak yang harus dipelajari dalam waktu yang singkat. Namun disitulah cabarannya.

Minggu pertama dan ke-2, diri telah ditempatkan di Infection (IC) Center RSWS. Di IC ini, hanya seramai 4 orang co-ass yang ditugaskan memandangkan IC sendiri terdiri dari 4 lantai. Setiap orang bertanggungjawab ke atas 1 lantai. Semua kes (kasus) infeksi ditangani di IC. Yang paling banyak itu adalah Tuberculosis baik paru mahupun ekstra paru, ada juga HIV dengan segala macam komplikasinya, serta ada juga infeksi lain yang agak jarang. Minggu pertama diri dipertanggungjawab ke atas ward (bangsal) TB lelaki yang pesakitnya meliputi hampir 16 orang perward (perkamar) dan ada 2 kamar. Ditambah dengan 3 ward (kamar) kelas 2 yang masing-masing memiliki 4 orang pesakit. Jadi untuk memulai follow up pagi di IC, diri harus berangkat seawal jam 4.30 pagi setiap hari dan follow up hanya akan selesai jam 7 pagi. Waktu oncall (jaga), hanya seorang co-ass dan seorang dokter yang ditugaskan disitu. Akan agak kepenatan tapi disitulah diri banyak belajar untuk mengatasi sendiri keluhan yang muncul.

Minggu ke-3 di ward (kamar) perawatan khusus yang menangani kes Asites ec causa Cirrhosis Hepatis. Meski pesakit Cuma dua orang, yang agak meletihkan adalah apabila terpaksa melakukan follow up per jam. Namun di sini, diri berpeluang melakukan pungsi cairan pleura (pleural puncture) dan melihat sendiri control spironolactone diuretic, terapi yang digunakan sebagai first line theraphy terhadap kes ascites seperti ini. Pemilihan spironolactone adalah kerna sifat antialdosterone yang mana diketahui secara umum, pada pesakit dengan diagnosis cirrhosis hepatis, kadar aldosteron (hormone yang meningkatkan retensi/penahanan air di tubulus distalis) sangat tinggi hingga menyebabkan air dalam tubuh tidak dapat keluar melalui urin. Peningkatan kadar aldosteron adalah kerana kerusakan hati yang mana hati berfungsi untuk menginaktivasikan hormone aldosteron tersebut.
Minggu ke-4 paling memberikan pengalaman yang berharga buat diri. Dinas (bekerja) di IRD/Unit Gawat Darurat (UGD/emergency). Di situ diri dan sahabat seperjuangan dilatih dan diasah daya analisis kami untuk melakukan anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik (physical examination), hingga pemeriksaan penunjang seperti lab test, radiology dan diagnosis serta pengobatan. Setelah itu baru status yang telah kami lengkapkan, diperiksa oleh dokter residen dan diperbaiki yang salah dan ditambahkan yang kurang. Di sini juga kami dilengkapkan dengan skill/ kemahiran seperti memasang kateter (catheter), nasogastric tube (NGT), infuse (branula) dsb. Walau agak melelahkan namun disini pengetahuan dan pengalamannya amat berharga untuk dibawa sebagai bekalan.

Minggu ke 5-6, kami dihantar untuk bertugas didaerah (hospital peripher). Diri dan seorang lagi teman seperjuangan telah ditugaskan ke Rumah Sakit Ibnu Sina, Rumah sakit dalam Kota yang terletak tidak jauh dari Almamater ku (kampus Hasanuddin). Pengalaman di Ibnu Sina lumayan memperkaya pengalamanku. Walau sibuknya tidak seperti di Rumah Sakit Utama RSWS, namun banyak kes (kasus) yang jarang ditemui didapatkan disini. Seperti hepatoma, tumor colorectal dan beberapa lagi kes (kasus) lainnya. Setiap Senin, Rabu dan Jumat kami akan mengikuti pemeriksaan endoscopy dan colonoscopy yang dijalankan sendiri oleh Prof. H.M. Akil, SpPD KGEH. Selain menjalani rutin untuk follow up pesakit, kami juga berpeluang mengikuti visit supervisor dan meneguk lautan ilmu dari mereka.

Minggu ke7 & 8, diri ditukarkan lagi ke rumah sakit daerah yang lain yang merupakan salah satu rumah sakit pendidikan Labuang Baji yang terletak hampir 1 jam perjalanan dari rumah sakit. Di Labuang Baji, suasananya lebih santai dan bersahabat. Namun tidak menafikan keseriusan dokter-dokternya dalam menjalankan tugas. Baik teman-teman sejawat, dokter mahupun perawat lebih heboh di sini. Dalam kesibukan merawat masih sempat juga menyelit waktu untuk sama-sama memasak Baro’bo dan Kapurung. Sama-sama menikmati enaknya makanan asli Palopo dan Manado tersebut. Dinas (jam kerja) di poliklinik, membantu dr.Mely menangani kasus rawat jalan yang membanjir setiap harinya. Banyak yang kami pelajari di sini terutama penyakit Grave Disease, hipertiroid, tyrothoxicosis dan sebagainya.
Minggu 9-10, kami kembali bertugas di Rumah Sakit Utama RSWS di poliklinik. Setiap hari kami akan dirolling dari poliklinik Umum, Rheumatology, Geriatric, Gastrointestinal, Endocrine &

Metabolic, Ginjal Hipertensi, hingga kepada Pulmonologi. Setiap hari menjanjikan pengalaman yang berbeza dan cukup berharga dalam diari kehidupan koass ku.. dengan dokter-dokter yang baik hati lagi senang untuk mengajarkan, supervisor yang sedia memberi tunjuk ajar, teman sejawat yang banyak membantu. Tenaga medis yang cukup membantu. Tiap hujung minggu kami diwajibkan menghadiri symposium / pertemuan ilmiah di hotel mahupun diruang-ruang kuliah bagi menambah ilmu semasa. Ditambah dengan olahraga sore untuk mengukuhkan ikatan antara keluarga interna. Setiap hari penuh dengan aktivitas.
0 ulasan:
Catat Ulasan