Skinpress Rss

Ahad, 30 Oktober 2011

APAKAH KITA SEORANG MUKMIN?

0



Sejak pertama melangkahkan kaki disini,setiap kita harus tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah menuju kepada Allah SWT. Kita berjalan dan berlari menujuNya. Hanya Allah sahaja. Kita juga harus mengerti bahawa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga terakhir.

Saudaraku,
Sungguh mulia perjalanan hidup para salafussoleh. Orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadith bernama Ibrahim Al-Harabi, mengisahkan pengalamannya selama bertahun-tahun menemani tokoh salafussoleh Imam Ahmad Bin Hambal.
Katanya “aku telah menemaninya selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin”
(Manaqib Ahmad, Ibnul jauzi,40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah SWT. Semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaedah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah SWT. Di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.
Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip seperti itu.

Saudaraku,
Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al-hafi mendefiniskan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan “Jika engkau merasa amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit”

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahumullah saat menyinggung masalah ini. katanya, syaitan akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga perilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lainnya” begitu kata iblis seperti yang diungkapkan oleh Fudhail. Tiga perilaku itu adalah : ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya. Itulah pangkal dosa.

Kata Nabi Allah, Isa AS, “berapa banyak lantera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal soleh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan”

Saudaraku,
Semoga cahaya amal soleh kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapat penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita. Dahulu, Hasan Al-Basri tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhuatiran bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya “Ya Hasan, apakah engkau seorang mukmin?” Hasan Al-basri hanya menjawab “InsyaAllah”. Penanya terkejut dengan jawaban beliau “kenapa engkau menjawab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’en itu lalu mengatakan “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’. Kerna itulah aku katakan InsyaAllah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang IA benci, lalu IA murka kepadaku dan mengatakan ‘Pergilah..Aku tidak menerima amal-amalmu..”

Saudaraku...apakah kita seorang mukmin?

“Semoga Allah tidak melihat kita berada dalam larangan-larangaNya dan tidak kehilangan kita dalam suruhan-suruhanNya..”

0 ulasan:

Catat Ulasan