
“ Berusaha sekuat tenaga untuk menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan. Kelezatan di atas segala kelezatan”
[Ahli Hikmah]
Saudaraku,[Ahli Hikmah]
Manusia,tetap manusia. Bukan malaikat. Rasulullah SAW, sebagai hamba Allah teladan, juga manusia. Ia tetap memiliki tabiat kemanusiaan. Kerana andai sosok teladan untuk manusia itu bukan manusia, sudah tentu tidak ada manusia yang bisa mengikutinya. Dan artinya ia tidak mungkin dijadikan teladan. Kerana itulah Rasulullah mengucapkan doa:
“ Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia. Aku marah sebagaimana manusia marah. Maka siapa saja dari kaum muslimin yang merasa telah aku sakiti, aku caci, dan aku laknat, jadikanlah hal itu sebagai doa dan pembersih yang akan mendekatkannya kepadaMu pada hari kiamat.”
[HR Bukhari & Muslim]
Meski tetap dengan kemanusiaannya, Rasul tetap memiliki predikat Al-Ma’shum –yang terpelihara dari dosa kerana keimanannya yang tinggi dan Allah merahmatinya dengan selalu meluruskannya dari kesalahan. Iman sajalah yang membuat Rasulullah memiliki kemahuan mantap, cita-cita tinggi, dan mampu terhindar dari bisikan syaitan melalui hawa nafsu.Saudaraku, ketahuilah..
Syaitan adalah pemangsa orang yang lemah semangat, tidak percaya diri, pesimistik, dan tidak kuat kemahuannya. Orang-orang seperti itu mudah terjebak dengan bisikan syaitan. Munurut Ibnu Qayyim rahimahumullah,
“Jika syaitan melihat seseorang memiliki kemahuan yang lemah, cita-cita yang rendah, condong mengikut hawa nafsu, maka syaitan sangat menginginkannya, membantingnya dan mengekangnya dengan kekangan hawa nafsu dan kemudian mengendalikannya kea rah mana yang ia kehendaki. Tapi, jangan juga menganggap kita mampu menaklukkan hawa nafsu kerana kita merasa memiliki semangat tinggi, optimistic, sangat percaya diri serta kuat kemahuan. Kerana sebenarnya perasaan itu akan membuka celah syaitan untuk menyelinap masuk lalu menguasai hati.”
Coba perhatikan perkataan Ali RA. Menurutnya ada 4 momen kebaikan tertentu yang paling berat dilakukan. Yakni memaafkan ketika marah, menderma ketika tidak punya, menjaga diri dari dosa ketika sendirian, dan menyampaikan kebenaran pada orang yang ditakuti atau diharapkan.
Saudaraku..
Renungkanlah. Momen-momen sepertilah sebenarnya yang sering menjadi celah rawan pencurian oleh syaitan.sulit sekali memberi maaf ketika justeru amarah seseorang meletup dan dalam kondisi mampu melampiaskannya. Sangat sulit sekali memberi sesuatu yang kita sendiri sangat membutuhkannya. Sangat sulit memelihara diri dari dosa bila kesempatan untuk melakukannya datang berulang kali dan terbuka lebar di depan mata kita. Apalagi, kita tahu tidak ada orang lain yang melihat tingkah kita saat itu. Seberapa mampu kita menyampaikan kebenaran kepada orang yang kita takuti? Atau kepada orang yang justeru kita menanam harapan kepadanya? Saudaraku, pada momen-momen itulah kita manusia seringkali tergelincir.
Ada satu kata sangat sederhana untuk mengatasinya. Keikhlasan. Itulah kuncinya. Keikhlasan membawa seseorang mudah memaafkan dikala marah. Ikhlas juga yang menjadikan seseorang ringan memberi meski ia membutuhkan. Ikhlas yang membuat seseorang tidak memandang situasi dalam beramal dan menjauhi maksiat, meski tidak seorangpun melihat. Keikhlasan juga yang membuat seseorang tidak memandang resiko apapun dalam menyampaikan kebenaran. Itulah rahsia-rahsia di sebalik keikhlasan.
Da’ie dan mujahid Islam terkenal, Imam As-Syahid Hassan Al-Banna mengatakan: “ Ikhlas itu kunci keberhasilan”. Menurut Al Banna, para solafussoleh yang mulia, tidak menang kecuali kerana tiga hal, yaitu kekuatan iman, kebersihan hati dan keikhlasan mereka. “bila engkau sudah memiliki tiga karekter tersebut, maka ketika engkau berpikir, Allah akan mengilhamimu petunjuk dan bimbingan. Jika engkau beramal,maka Allah akan mendukungmu dengan kemampuan dan keberhasilan.”
Saudaraku,
Dengan keikhlasan, kita jadi tidak mudah terpedaya oleh nafsu. Dan itulah nikmat yang hanya dirasakan para mukhlisin. Seperti yang tertuang dalam untaian nasehat Ibnu Qayyim, bahawa mengutamakan kelezatan iffah (menjaga diri dari perbuatan durhaka), lebih lezat daripada kelezatan maksiat. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Rasa sakit yang ditimbulkan oleh mengikuti hawa nafsu, lebih dahsyat daripada kelezatan dirasakan seseorang kerna memperturutkan hawa nafsu”.

0 ulasan:
Catat Ulasan