Skinpress Rss

Ahad, 27 November 2011

PERIPHERAL POSTING OF PEADIATRIC : FATIMAH ONCALL

0


Bismillahi Alhamdulillah.. segala puja dan puji dipersembahkan buat Rabb yang Maha Agung, Pemilik mutlak jiwa-jiwa yang masih terus diberi kesempatan menjalani kehidupan di dunia fana ini.

Sedikit perkongsian setelah menjalani fase tugas di hospital Daerah di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah. Selama 1 minggu bertugas di rumah sakit yang terkenal sebagai rumah sakit yang “paling sibuk” dikota ini, diri belajar banyak hal baik dari segi nilai dan juga dari segi ilmu medisnya. Menurut Kak Hajar, salah seorang perawat senior di Fatimah, rata-rata kelahiran perhari yang diterima oleh rumah sakit ini minimal 10 kelahiran. Baik persalinan normal (partus) mahupun malalui pembedahan, Section Cessarean. Paling maksimal bisa mencapai hingga 20-30 kelahiran. MasyaAllah. Kebanyakan masyarakat memilih Rumah sakit ini lantaran ia dibiaya penuh oleh pemerintah Indonesia. Tidak seperti Rumah sakit lain yang mereka harus membayar lagi jasa dokter dan tenaga medis yang tidak sedikit jumlahnya. Maka di Fatimah, kakitangannya benar-benar bekerja di luar dari keuntungan semata. tiada insentif yang dikenakan atas jasa mereka, tiada uang jaminan tambahan gaji.

Kesibukan bekerja disini benar-benar menguji eksistensi diri dalam menjalani hidup di dunia kedokteran. Apatah lagi saat diri harus bertindak sebagai “lone ranger” lantaran teman yang seharusnya masuk bersama mengundurkan diri kerna jatuh sakit. Diri hanya sempat tidur selama 2 jam paling lama dalam sehari kerna saking sibuknya.

Mana tidaknya Sectio Cessarian paling kurang 5-6 dalam sehari yang mengharuskan diri untuk ikut serta, menyambut bayi yang baru lahir sekaligus memberikan pertolongan pertama, “hangatkan, posisikan, bersihkan jalan napas, keringkan, ransang taktil dan reposisi” serta menilai APGAR SCORE bagi bayi-bayi ini. Banyak bayi yang lahir tidak menangis yang harus ditangani segera, bayi yang lahir dengan kelainan congenital seperti encepahly, meningeocele, dan hidrocephalus, dan banyak lagi kes yang gawat (emergency). Memandangkan dokter residen tidak masuk ke ruang operasi, maka diri sebagai co-ass lah yang bertanggungjawab penuh melakukan first aid tersebut. Nah, disitu terkuras segala ilmu yang telah dipelajari teorinya sewaktu kuliah dulu serta ilmu CSL yang diperuntukkan. Di situ diri dilatih untuk menggalas tanggungjawab yang maha berat untuk menyelamatkan nyawa makhluk kecil yang tidak berdaya itu. Kadang biar perawat dan bidan senior juga mengharapkan diri yang setahun jagung ini untuk mengatasi kerna mungkin difikirannya mereka, masih banyak hal yang belum mereka ketahui.

Pengalaman menyaksikan SC sangat menginsafkan. Melihat perjuangan sang ibu yang tak kenal lelah berusaha untuk melahirkan anaknya. Bertaruh nyawa di meja operasi. Betapa cinta dan sayang yang lahir dari ketelusan hati meleburkan siksa dan sengsara yang merantai. Melihat kebahagiaan dari sang ayah yang erat menampung tubuh mungil sambil di azankan. Suasana yang sangat harmonis dan bahagia. Seorang anak yang lahir dengan seribu harapan, berjuta kebahagiaan. Banyak kisah yang kusaksikan. Ada juga ykisah yang sebaliknya. Saat sang anak tidak berjaya diselamatkan, sang ibu meraung histeris. Minta nyawanya diganti dengan nyawa sang anak. Dalam kisah lain, ayah yang berwajah dingin menjualkan anaknya yang masih belum sampai 1 jam menghirup udara dunia yang fana dengan tukaran uang Rupiah. Tanpa belas. Tanpa kasihan. Nauzubillahi min dzalik..

Selain SC, diri harus standby di bagian NICU (Neonatal Intensive Care Unit) yang menempatkan bayi-bayi yang bermasalah. Banyak yang didapatkan di sini adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (low birth weight), premature, bayi dengan Respiratory distress, icterus neonatorum, sepsis, dan sebagainya. Bayi-bayi ini memerlukan perhatian yang baik dan penjagaan yang teleti untuk melewati fase yang maha berat ini dikehidupan mereka. Di sini diri di ajar untuk menghitung keperluan harian bayi dan mengatur jadual susu mereka. Kasihan melihat tubuh-tubuh kecil yang tidak berdosa, bersusah payah berjuang untuk menyambung kehidupan. Berjuang untuk mengembangkan paru menghirup udara. Ada yang menyerah duluan, tidak sanggup menghadapi kerasnya hidup, ada yang terus berjuang dan ada yang akhirnya berjaya melewati. Semua sesuai dengan aturan Allah, Sang Pengatur segala perancangan.

Diri terlatih untuk peka pada tangisan sang bayi, entah kerna popoknya (pampers basah), entah kerna laparnya (beri susu) atau entah kerna kesakitan (phlebitis etc). sepanjang malam harus berjaga untuk memastikan kondisi bayi tetap baik. Walau sangat memenatkan namun disitulah seninya sabar dan berkorban. Tambah membebankan saat harus menulis status patient yang akan difollow up pada besoknya. “nyanyian langka” patient seramai kurang lebih totalnya 50 orang perhari harus disiapkan dalam satu malam. Benar-benar menguji kekuatan mental fisikal.
Kepercayaan dokter atas diri bernilai segalanya. Dokter yang sibuk dengan ujian akhir memberikan keperayaan kepada diri untuk memeriksa dan meresepkan obat dan konsultasi (inform concern) kepada bayi dengan persalinan normal sekaligus memberi kuasa penuh untuk memulangkan pasien setelah memastikan kondisi bayi baik dan sehat.

Alhamdulillah dengan bantuan dokter bertugas, Dr.fauzin, dan dokter-dokter yang jaga, bidan, perawat dan mahasiswa yang ada disana, diri berjaya mengharungi badai kesibukan tersebut. Mereka semua kasihan melihat diri yang tidak sempat istirehat gara-gara badai kesibukan yang merantai. Namun di situ kita harus menunjukkan betapa kita berbeda sama orang lain kerna kita melakukan pekerjaan ini bukan hanya atas dasar tugas yang terbeban dipundak. Malah lebih dari itu… kita melakukan pekerjaan ini atas dasar kasih sayang dan belas kasihan. Melakukan kebajikan bermaharkan pengorbanan untu meraih cintaNya. Setiap hari diri akan memulakan hari dengan semangat yang baru dan senyuman yang merawat biar suasana harmonis untuk bekerja bisa tercipta. Mereka hairan kenapa diri bisa bertahan, sedang hakikatnya Allah lah yang memberikan kekuatan lewat doa dan pengharapan hanya kepadaNya.

Terima kasih buat semua warga Fatimah yang menyambut diri dengan penuh hangat..
Dr.Fauzin, Ibu Hasni yang tak kenal jemu menjaga kebajikan makanan dan tempat istirehatku, Kak Hajar,yang mengajarkan tentang keikhlasan (ternyata kita satu tarbiyah kak di’), Kak Marwah yang mempercayakan diri ini untuk menyambut kelahiran bayi abnormal, Kak Mia yang memberi peluang untuk melakukan banyak tindakan, Kak Asdar, diri banyak belajar tentang sifat care dan ketelitian darimu kakak, Kak Adet, Kak Yuyun, terima kasih menjadi teman terbaikku, Kak Vivin dan adik2 mahasiswa yang banyak membantu. Ida, semoga persahabatan akan kekal hingga ke syurga.

Semoga bekal yang telah diri perolehi diri akan menjadi suatu pengalaman bermakna dalam meniti kehidupan sebagai seorang dokter nanti..amin..

0 ulasan:

Catat Ulasan