
Di mana Allah dalam hati kita? Renungkan dan pikirkan kalimat ini, saudaraku. Kerana Ali bin Abi Talib RA pernah menyifatkan keadaan para solihin di zamannya dengan mengatakan “azhumal khaliqu fii qulubihim, fashaghura maa duunahu fii a’yunihim”, sungguh keagungan Allah telah mendominasi dinding hati mereka. Karenanya menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka, selain Allah. Mereka menjadi besar kerana telah meyakini kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kedudukan mereka menjadi tinggi, kerana mereka telah meninggikan Allah SWT. Jiwa mereka telah sibuk dengan hanya mengagungkan Allah hingga mereka menjadi tidak takut kecuali kerana Allah, menjadi tidak tenang kecuali bila dekat kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bersandar kecuali kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bergantung kecuali Allah. Keagungan Allah benar-benar telah merajai hati mereka. Selalu begitu hebat dan mengagumkan keadaan hati para solafussoleh dalam tingkat ma’rifah mereka kepada Allah SWT.. Subhanallah.. Maha Suci Allah…
Saudaraku,
Dimana Allah dalam hati kita? Seberapa dominan keagungan Allah SWT dalam hati kita? Allah SWT tak ingin hati kita dipenuhsesaki oleh keinginan nafsu dan ita-cita dunia. Dahulu, ketika Nabi Allah Ibrahim terdominasi oleh kecintaannya kepada sang anak, Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Dahulu, ketika suatu saat Rasulullah SAW dan para sahabat begitu memuliakan Baitul haram dalam hati mereka, Allah lalu memerintahkan mereka melakukan solat menghadap Baitul Maqdis. Agar Allah mengetahui apakah kadar kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat, lebih dominan dan lebih besar daripada kecintaan mereka terhadap Baitul Haram? Ketika jawabannya adalah IYA, lalu Allah mengembalikan lagi Baitul Haram kepada mereka dengan perintahNya. Ketika Ibrahim ternyata lebih menyintai Allah, maka Allah kembalikan lagi sang anaknya kepadanya dan menggantikannya dengan menyembelih kambing qibashy.
Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Apakah yang mendominasi hati kita selama ini?
Saudaraku,
Apakah kita merasa gembira dan senang saat berdekatan denganNya? Apakah kita selalu berusaha agar Allah selalu bersama kita? Sejauh mana tingkat kesenangan dan kedamaian kita saat sholat, disaat kita bertemu dan bermunajat kepadaNya? Seberapa sejuk dan teduhnya jiwa kita saat sujud di hadapanNya, kerana saat sujud merupakan saat yang paling dekat denganNya.. Duhai, indahnya bila kita mengetahui firman Allah SWT :
“Aku bersama hambaKU di saat ia mengingatiKU dan dua bibirnya menyebutKU”
[HR Bukhari, Kitab at Tauhid]
Apakah kita menyediakan waktu sejenak, disepertiga malam terakhir untuk menikmati saat-saat kedekatan kita denganNya? Di saat Allah mengatakan:
“Apakah ada orang yang bertaubat yang aku terima taubatnya. Adakah orang yang meminta ampun atas dosanya dan Aku ampuni dosanya. Adakah orang yang meminta dan aku berikan pintanya.”
[HR Muslim]
Sejauh manakah pengorbanan kita untukNya? Apakah kita selalu berupaya melangkah dan bergegas mendekat tempat-tempat yang bisa membuat Allah redha kepada kita? Atau justeru kita mendekati tempat-tempat kemurkaanNya hingga kita semakin jauh dari redhaNya? Tapi lalu kita memohon dan meminta keluasan rahmatNya, mengeluhkan ragam kesempitan, kesedihan dan kelemahan kita kepadaNya. Mengetuk pintu kasih sayangNya dan berharap agar Allah mau membukakannya untuk kita yang penuh dosa, banyak lalai dan berlumur kesalahan?
Saudaraku,
Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Saat kita harus melewati sebuah peristiwa pahit dan menyakitkan dalam hidup. Mampukah kita meraba kasih sayang Allah SWT dalam setiap peristiwa pahit dan menyakitkan itu? Karena, sesungguhnya apapun yang datang dari Allah itu adalah indah. Meskipun kadang kita tak mampu melihat keindahan dalam musibah yang menimpa. Tapi itu tetap saja indah. Renungkanlah keindahan dalam musibah yang menimpa Nabi Musa AS saat bersama Nabi Khaidir. Bagaimana peristiwa kapal yang diboocrkan, seorang anak yang dibunuh dan rumah hampir roboh yang dibangun kembali. Semua itu musibah yang buruk dalam pandangan Nabi Musa AS. Tapi saksikanlah betapa keindahan itu terbentuk sedemikian rupa dari ketetapan Allah, setelah diketahui hakikat dan hikmah musibah itu semua? [Ibnu Qayyim, Al Fawaid]
Saudaraku,
Mari terus menerus berlatih agar jiwa kita benar-benar dipenuhi oleh cinta kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sudah lama menjalani hidup. Tapi kita terlalu lama dibuai dunia. Kita harus berhenti sejenak disini. Lalu bertanya kepada diri sendiri
“Dimanakah Allah SWT dalam hati kita?”
Saudaraku,
Dimana Allah dalam hati kita? Seberapa dominan keagungan Allah SWT dalam hati kita? Allah SWT tak ingin hati kita dipenuhsesaki oleh keinginan nafsu dan ita-cita dunia. Dahulu, ketika Nabi Allah Ibrahim terdominasi oleh kecintaannya kepada sang anak, Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Dahulu, ketika suatu saat Rasulullah SAW dan para sahabat begitu memuliakan Baitul haram dalam hati mereka, Allah lalu memerintahkan mereka melakukan solat menghadap Baitul Maqdis. Agar Allah mengetahui apakah kadar kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat, lebih dominan dan lebih besar daripada kecintaan mereka terhadap Baitul Haram? Ketika jawabannya adalah IYA, lalu Allah mengembalikan lagi Baitul Haram kepada mereka dengan perintahNya. Ketika Ibrahim ternyata lebih menyintai Allah, maka Allah kembalikan lagi sang anaknya kepadanya dan menggantikannya dengan menyembelih kambing qibashy.
Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Apakah yang mendominasi hati kita selama ini?
Saudaraku,
Apakah kita merasa gembira dan senang saat berdekatan denganNya? Apakah kita selalu berusaha agar Allah selalu bersama kita? Sejauh mana tingkat kesenangan dan kedamaian kita saat sholat, disaat kita bertemu dan bermunajat kepadaNya? Seberapa sejuk dan teduhnya jiwa kita saat sujud di hadapanNya, kerana saat sujud merupakan saat yang paling dekat denganNya.. Duhai, indahnya bila kita mengetahui firman Allah SWT :
“Aku bersama hambaKU di saat ia mengingatiKU dan dua bibirnya menyebutKU”
[HR Bukhari, Kitab at Tauhid]
Apakah kita menyediakan waktu sejenak, disepertiga malam terakhir untuk menikmati saat-saat kedekatan kita denganNya? Di saat Allah mengatakan:
“Apakah ada orang yang bertaubat yang aku terima taubatnya. Adakah orang yang meminta ampun atas dosanya dan Aku ampuni dosanya. Adakah orang yang meminta dan aku berikan pintanya.”
[HR Muslim]
Sejauh manakah pengorbanan kita untukNya? Apakah kita selalu berupaya melangkah dan bergegas mendekat tempat-tempat yang bisa membuat Allah redha kepada kita? Atau justeru kita mendekati tempat-tempat kemurkaanNya hingga kita semakin jauh dari redhaNya? Tapi lalu kita memohon dan meminta keluasan rahmatNya, mengeluhkan ragam kesempitan, kesedihan dan kelemahan kita kepadaNya. Mengetuk pintu kasih sayangNya dan berharap agar Allah mau membukakannya untuk kita yang penuh dosa, banyak lalai dan berlumur kesalahan?
Saudaraku,
Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Saat kita harus melewati sebuah peristiwa pahit dan menyakitkan dalam hidup. Mampukah kita meraba kasih sayang Allah SWT dalam setiap peristiwa pahit dan menyakitkan itu? Karena, sesungguhnya apapun yang datang dari Allah itu adalah indah. Meskipun kadang kita tak mampu melihat keindahan dalam musibah yang menimpa. Tapi itu tetap saja indah. Renungkanlah keindahan dalam musibah yang menimpa Nabi Musa AS saat bersama Nabi Khaidir. Bagaimana peristiwa kapal yang diboocrkan, seorang anak yang dibunuh dan rumah hampir roboh yang dibangun kembali. Semua itu musibah yang buruk dalam pandangan Nabi Musa AS. Tapi saksikanlah betapa keindahan itu terbentuk sedemikian rupa dari ketetapan Allah, setelah diketahui hakikat dan hikmah musibah itu semua? [Ibnu Qayyim, Al Fawaid]
Saudaraku,
Mari terus menerus berlatih agar jiwa kita benar-benar dipenuhi oleh cinta kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sudah lama menjalani hidup. Tapi kita terlalu lama dibuai dunia. Kita harus berhenti sejenak disini. Lalu bertanya kepada diri sendiri
“Dimanakah Allah SWT dalam hati kita?”

0 ulasan:
Catat Ulasan