
“Ayah bukan tidak mahu anak ayah belajar di luar negara, tapi ayah cukup takut, jika anak ayah nanti, balik sebagai seorang dokter yang berjaya tapi tidak lagi sebagai seorang manusia yang soleh”
Kata-kata ayah kembali terngiang-ngiang di telinga saat dihadapkan dengan 2 pilihan yang agak payah. Mengikut majority atau berkeras untuk pulang. Hari sudah malam benar. Teman-teman bersetuju sebulat suara untuk menonton wayang/bioskop bersama. Cerita larut malam setelah selesai acara farewell party tadi sebagai “nonton bareng” terakhir sebelum berpisah. Suatu tempat yang tidak pernah kaki ini jejaki sejak dulu. Tidak pernah dibawa ayah mahupun ummi. Serba salah. Menyertai mereka, menjejakkan kaki ke panggung wayang/bioskop berarti melanggar prinsip utama yang terbina, mengkhianati kepercayaan ayah dan ummi yang mengizinkan diri menuntut ilmu sejauh ini. Sementara pulang sendiri dikala jam sudah menginjak angka 11 berarti mengundang bahaya pada keselamatan diri. Buntu. Mana yang lebih aula(utama)?
Saat itu akal seakan berhenti berfungsi. Atma tiba-tiba berbicara: Ya Allah, ayah di tempat, sedang giat buat kerja Islam, takkan anak disini mahu melakukan hal yang maksiat? Dimana selarinya didikan ummi yang membisikkan “Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar dan Allah Maha Menyaksikan” sejak kecil. MasyaAllah.. malu pada Allah jika Allah lihat kita yang mengaku taat padaNya sedang dalam waktu yang sama menderhaka padaNya dengan memasuki tempat yang lebih mengundang maksiat ketimbang amal soleh. Malu pada Allah jika Allah lihat kita yang melaungkan kalimat tauhid pada masyarakat dalam masa yang sama mengkhianati syiar agungNya dengan melakukan hal yang membelakangi syariat. Allahu Akbar!!
Hati telus dan terus berdoa semoga Allah memberikan jalan keluar. Diri meminta izin teman yang membonceng untuk lansung pulang. Betapapun resikonya setelah memberikan alasan yang tepat dan meluahkan hal yang sebenarnya. Alhamdulillah, sungguh Allah lah yang menggenggam hati-hati manusia. Teman yang kebetulannya anak seorang Ustaz, lansung mengerti dan meminta maaf. Dia lansung menemani diri untuk pulang. Meredah pekatnya malam berdua. Lebih aman. Percaturan Allah lebih indah dari yang kita perkirakan. Kadang kita terlalu takut dan terlalu bimbang akan pendapatnya manusia hingga kita mengabaikan perintah Allah dan mengetepikan apa yang Allah tuntut. Kita lebih menjaga perasaan manusia ketimbang “perasaan Allah” yang telah memberikan segalanya pada kita. Dari situ diri mengambil pelajaran bahawa apa jua masalah yang mendatang, Allah pasti ada solusinya. Hanya saja kita yang memutuskan jalan mana yang ingin kita tempuh. Jalan kefasikan atau jalan ketaqwaan. Pasti Allah akan memudahkan urusan kita, InsyaAllah..
Beberapa hari setelahnya, kakak yang kebetulannya selesai menjalankan liqa dengan adik-adik binaannya, bercerita, betapa pentingnya kita menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kita. Ternyata banyak di kalangan adik-adik yang melakukan hal yang sama sekali dilarang oleh orang tua masing-masing. Ada yang berkata “saya disini saja masuk ke bioskop, kalau di Malaysia, parents tak bagi sebenarnya”. Ada anak ustaz, tapi di sini berpakaian seperti orang biasa. Bangga melilitkan pakaian ketat ditubuh, bangga memakai jilbab tapi mendedahkan aurat. Yang sekolah agama, bangga membawa perempuan bukan muhrim keluar berduaan dan melakukan hal yang sebagaimana dipandangan masyarakat sesuatu yang “normal” dan layak. Tanpa pernah diketahui oleh orang tua masing-masing.Tidak sedar sama sekali bahawa kita datang dengan membawa maruah dan kepercayaan orang tua kita. Tapi disini kita menginjak-injaknya tanpa menyedari betapa jika mereka mengetahui apa yang telah kita perbuat, pasti mereka akan kecewa. Anak yang mereka didik bagai menatang minyak yang penuh akhirnya melupakan semua didikan mereka dan menjadi orang berbeda.
Bayangkan saudaraku, ibu yang siang malam mendoakan kesejahteraan kita, berkorban tanpa jemu untuk kita, namun kita menderhakainya dengan melakukan hal yang tidak disukainya. Alangkah kecewanya ibu. Ayah yang membanting tulang membesarkan kita dengan peluh keringatnya, ayah yang tak jemu mendidik kita menjadi anak soleh, kita membalasnya dengan menderhakai mereka lewat perbuatan kita yang telah sekian lama ditegahnya. Wajarkah?
Ayuhlah saudaraku, pecahkan tembok keegoan kita. Taatilah Allah.. Taatilah RasulNya dan taatilah ibu bapa yang telah mengasuh kita sejak dari kecil. kasihani mereka saudaraku.. Kita adalah amanah yang telah Allah SWT turunkan kepada mereka untuk dijaga. Sanggupkah kita melihat ibu dan ayah kita diazab di api nereka kerana perbuatan derhaka kita?
Break the siege!! Belajarlah untuk menderhaka pada maksiat!! semoga Allah mengampunkan dosa kita dan

0 ulasan:
Catat Ulasan