
Kali ini rasa ingin sekali berkongsi tentang “ Membesar di Belakang Bayangan Yang Hebat”. Pengalaman yang pernah dilalui sewaktu zaman kecilku. Dari kacamata seorang adik lebih tepatnya. Semoga bermanfaat. [mungkin bawaan hujan dan rindukan kakak membuatkan memori semalam berputar di minda sedar hingga memberikan ilham sebuah perkongsian]
Membesar sebagai seorang adik, pasti sosok sang kakak yang paling berperan dalam pembentukan peribadinya. Kerana sebagai anak-anak, pastilah didikan paling efektif itu adalah melalui contoh teladan yang baik ketimbang kata-kata semata. Kadang untuk anak yang berusia 6-7 tahun, mencontohi ibu bapa secara lansung boleh jadi terasa amat berat kerana pada pikiran dangkal kita, ibu dan ayah adalah sosok yang sangat sempurna dan tingga hingga kita tidak
mungkin dapat mencapainya. Kita cenderung untuk melihat dan mengambil contoh dari sosok yang berada di depan kita (alias kakak/saudara yang lebih tua). Makanya, menjadi kakak juga sebenarnya tidak mudah. Bak kata teori Survival Of The Fittest, “Chosen by Fate”. Jadi terserah kita untuk membentuk diri kita menjadi teladan yang baik buat adik-adik kita atau sebaliknya menjadi teladan yang jelek untuk mereka contohi.Meski terlahir bersaudara, tetap kita menjalani proses perkenalan dan kebersamaan yang tersendiri. Kebanyakan kita bisa lihat, hubungan bersaudara itu sangat jarang yang bisa diekspresikan. Kadang, meski sang kakak sangat menyayangi adiknya, namun sebaliknya mereka bersikap cuek (tidak peduli) atau bersikap usil (nakal). Mereka lebih selesa dengan menjadikan adik-adik mereka bahan ketawa, bahan ejekan dan sebagainya. Sang adik jua merespon sedemikian. Saat sang kakak dimarahi, mereka juga akan membalas dendam dengan mengetawai atau mengacungkan jempol sebagai tanda gembira atau “padan muka”!! Tak kurang juga yang acap menggunakan bahasa yang kasar dalam bertutur dan mengeluarkan caci maki dalam perbualan harian. Tanpa disedari, hal-hal ini mendarah daging dalam kehidupan dan menjadi bagian dari peribadi mereka.
Perbedaan usia diri dan kakak tidak jauh beda. 4 tahun. Tambahan diri dan kakak sama-sama perempuan membuat hubungan kami sangat akrab sejak kecil. Kakakku teman terbaikku. Teman bermainku. Teman ceritaku. Sepanjang akal ini masih mampu mengingat, selalu ada kakak yang menemani hari kecil dan hari remajaku.
Sewaktu pertama menjejakkan kaki ke alam sekolah menengah (SMP), diri masih lagi terperangkap dalam dunia kanak-kanak yang tidak begitu mempedulikan soal aurat dsb. Dan kemudian kakaklah yang mengajarkan diri untuk lebih prihatin terhadap pakaian yang menutup aurat. Tapi cara kakak mendidik diri jelas terasa seninya. Diri masih ingat sewaktu kakak meminta ummi membelikan kami jubah (gamis) yang serupa coraknya. Kakak mengajak diri untuk memakai baju yang sama dan menghadiahkan diri sepasang stoking (koas kaki). Beliau tidak lansung memarahi diri yang masih tidak menutup aurat dengan sempurna di usia 13 ku. Namun sebaliknya beliau mengajarkan diri dengan teladan yang baik dan cerita-cerita tentang wanita hebat zaman nabi.
Kakak selalu menggunakan pendekatan psikologis. Walau tampak sederhana namun sebenarnya amat berbekas dihati. Selalu, jika dimarahi, kakak menjadi orang pertama yang akan membela. Pasti al sepele seperti itu, buat anak-anak akan menjadi suatu hal yang sangat berharga. Belum lagi, kebiasaan kakak yang membelikan hadiah buat kami. Meski jika dia hanya ke kota untuk membeli keperluan tanpa kami, pasti dia tetap akan membelikan sesuatu sebagai ole-ole. Diri yang semakin meningkat remaja, dan mulai punya pemikiran tersendiri, pernah bertanya pada kakak kenapa harus dia bazirkan uangnya untuk kami? Padahal uang tersebut bisa digunakan untuk perbelanjaan hariannya. Namun kakak hanya tersenyum dan menjawab tak mengapa. Kemurahan hati dan kasih sayang yang kakak tunjukkan mengajar diri bahawa kemurahan hati itu adalah suatu yang harus mendasar dalam diri dan indahnya kasih sayang jika diterjemahkan dalam perbuatan.Masih segar diingatan,hari pengumuman keputusan SPM (Sijil Peperiksaan Malaysia/ Ujian Nasional SMA), kakak tidak berada di rumah. Beliau sedang melanjutkan pelajarannya di kampus KUSZA, Terengganu. Sebaik mengetahui keputusan ujian, diri segera menelefon kakak untuk memberitahunya kabar tersebut. Jawaban kakak sewaktu itu “tahniah angah, kakak tau angah boleh..” kata-kata sederhana. Tapi buat seorang adik, ia memberi makna yang sangat mendalam. Kakak punya keyakinan yang tinggi pada kita meski dia terkesan lebih dewasa dan lebih berpengalaman. Ia menanam keyakinan diri dan rasa ingin berusaha dengan lebih keras. Kakak lansung menyuruh diri mengambil hadiah (kado) yan sudah disiapkan dari awal dikamarnya. Segera berlari ke kamar kakak setelah pulang dari sekolah. Kakak telah menghadiahkan sehelai jubah (gamis) berwarna pink muda dengan layer tipis berwarna peach. Baju yang kian lama diri impikan. Menangis terharu. Wah, kakak tau betul apa yang diri mau.. TERIMA KASIH KAKAK..
Kehalusan jiwa kakak dan sensitivitinya amat terserlah sejak kecil. Sewaktu adikku Afham masih ditingkatan 1 (SMP kelas 1) , pernah satu kejadian sewaktu adikku yang tinggal di asrama sekolah Tahfiz Sains, pulang bercuti (libur) di rumah. Suatu pagi, sedang diri sedang membersihkan kamar, kakak tiba-tiba masuk sambil matanya merah. Sisa air mata masih mengalir deras ditubir matanya menandakan hati yang gundah masih belum tenang. Hairan. Padahal baru setengah jam yang lalu beliau keluar dari kamarku untuk menggambil minuman dalam keadaan ketawa-ketawa.setelah diri bertanya, kakak mengatakan “sedih lihat adik menangis kerana susah menghafal Al-Quran. Tapi kakak tidak dapat bantu sedikitpun..” sebaik mendengar kata-kata kakak, semerta dada ini sebak. Ingin ikut menangis. Tapi harus dipendam. Memang seperti itu. Sejak kecil diri harus lebih pintar menyembunyikan perasaan kerana kakak sangat ekspresif orangnya. Saat kakak menarik tanganku keluar kamar dan mengintip dikamar adik, air mata ini tidak mampu lagi terbendung. Mengingat kata-kata kakak tadi dan melihat sendiri sosok adik yang sedaya upaya berusaha dengan keras untuk memantapkan hafalannya..kasihan adikku..Begitu juga adikku Ijah, dari kecil, kerna perempuan bungsu, Ijah selalu adalah yang paling unik. Jadi sebagai yang bungsu, sering dimanjakan oleh kakak. Apapun maunya pasti kakak turuti. Setiap kali pulang dari kampus, kakak pasti akan membahagikan waktunya untuk menemani
Ijah menonton kartun meski itu bukanlah kebiasaan kakak, sepertimana kakak mengajar diri untuk menyintai sepak bola gunag menembusi dunia satu-satunya adik lelakiku. Kakak juga sering membelikan sesuatu yang disukai adikku Ijah menjelang hari lahirnya. Kakak mulai suka menonton Barbie gara-gara adikku yang satu. Tiap kali Ijah bercerita tentang Barbie dan cerita tentang zaman kanak-kanaknya disekolah rendah, Kakak pasti menunjukkan perhatian penuh dan merespon cerita tersebut hingga adik semakin senang dan mulai cerewet dengan kakak..Sepanjang akal ini mampu menyimpan memori, tidak pernah rasanya mendengar kakak mengeluarkan kata-kata yang kasar atau kesat. Sebaliknya kakak sering memberi motivasi dan paling penting, kakak adalah tempat mencurah masalah dan berkongsi pendapat. Kakak sangat rasional dan berfikiran terbuka serta berpandangan jauh. Setiap dia memberi pendapat pasti masuk akal dan bisa dipraktekkan. Bukan sekadar teori semata-mata. Berbicara dengan kakak itu menambah ilmu dan wawasan. Berbincang dengan kakak itu akan membenahi idea yang kreatif.
~kakak, saranghyeyo~

semoga kk juga bisa mencontoh dgn baik pribadi Kk Fuzah yang bagi kk sungguh mengagumkan...aamiin Yaa Alloh...
amin Ya Rabb.. fuzah juga ingin kenalkan kk murni dengan kkx fuzah satu hari nanti insyaAllah.. ^__^ semoga kakak akan menjadi seorang yang hebat amin..
iya, semoga kk ada jodoh untuk bisa bertemu dgn keluarga Fuzah yg hebat yg dipenuhi dengan ilmu...aamiin
semoga qta semua bisa menjadi orang2 yg kuat dgn keimanan dan ketaqwaan yg kokoh utk bisa menjadi mujahidah-Nya demi tegaknya agama Alloh SWT dgn sebenar2x, Allohumma aamiin...
allohumma amin.. smga Allah berkenan mengabulkan doa kita..