Malam tadi diri ditugaskan untuk standby di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). NICU adalah ruang ICU yang dikhaskan untuk bayi baru lahir yang bermasalah. Baik berat badan lahir rendah, lahir tidak cukup bulan (premature), lahir dengan New Born Distress Syndrome, atau dengan kelainan-kelainan yang lain seperti hemangioma, sepsis,septal defect, icterus neonatorum, dan pelbagai lagi penyakit lain. jadi tidak hairan apabila di bagian ini kita diharuskan untuk standby 12 jam @ sepanjang malam. Memastikan bayi-bayi kecil ini dalam kondisi aman terkendali.
Tugas yang benar-benar diri rasakan tidak masuk akal. Meski kami adalah co-assiatant, namun tugas utama kami masih sebagai mahasiswa yang meniti jengjang pendidikan. Yang mana seharusnya setiap tugas yang dibebankan kepada kami adalah tugas yang membantu pendidikan kami sebagai calon dokter. Berulang alik menempuh jarak yang tidak dekat untuk ke laboratorium benar-benar melelahkan. Belum lagi bab mencari hasil laboratorium yang telah diproses di laboratorium sentral atau di laboratorium unit gawat darurat yang jauh dan dimarah-marah tidak jelas oleh petugas laboratorium, hasil yang tidak jelas di laboratorium, hasil yang hilang dan sebagainya, amat menguji kesabaran. Tidak ada sama sekali yang bisa dipelajari kerana keletihan memanjat saat “serangan” sampel yang perlu dihantar tidak pernah berhenti.
Siangnya harus kembali bertugas di NICU selama 8 jam. Berdiri dan menguruskan semuanya tentang bayi kecil. Malamnya masih ditugaskan sebagai PJ Lab dan banyak pula yang harus dihantar segera (CITO). Aduh, kaki sudah pegal, badan benar-benar lelah. Baru teringat bahawa diri belum menjamah makanan dari tadi malam. Aduh, hanya mampu bertahan dengan sisa tenaga yang ada. Mahu sekali tidur. Namun sampel yang perlu dihantar tidak mengenal ampun. Menyebabkan diri tidak sempat tidur sampai jam menunjukkan angka 3.30am.Kembali dikejutkan oleh teman sejawat kerna dipanggil oleh dokter ke PICU (pediatric intensive care unit. Ada seorang pesakit anak yang harus di periksa gula darah sewaktu (GDS) setiap jam. Diri diarahkan untuk meminjam alat pemeriksa GDS dari laboratorium unit gawat darurat memandangkan lab central hanya beroperasi sesuai waktu kerja. Malangnya, petugas lab tidak bisa meminjamkan alat tersebut untuk sepanjang malam kerna di unit gawat darurat juga ada 2 orang pesakit yang harus diperiksa GDS per jam. Dan kondisi mereka kritis. Diri dibolehkan untuk meminjam alat tersebut dipulangkan kembali setiap jamnya. Kerna hanya 1 alat yang berfungsi. Please deh.. besarnya rumah sakit Wahidin sebagai rumah sakit rujukan hanya memiliki 1 alat pemeriksaan GDS yang harga satunya tidak mencapai 500k. benar-benar mengecewakan.
Tapi setelah berfikir ulang, this is it. Untuk bisa memilih hal yang ingin kita lakukan dalam hidup adalah suatu anugerah. Tidak semua hal dalam perjalanan ini kita sukai. Termasuk juga dalam hal yang telah kita pilih. Namun disitulah seninya untuk kita bertahan dan terus melangkah. Menuju puncak itu susah dan berat namun saat bertahan di puncak itu sebenarnya jauh lebih berat. Jadi perjalanan berat menuju puncak itu harusnya menjadi suatu persediaan dan motivasi supaya kita menjadi lebih tegar bukan malah menyerah dipertengahan jalan. Kadang, hal yang tidak kita sukai itu justeru, yang mendidik kita untuk menjadi perkasa..
Maka, bertahanlah dan teruskan berjuang.

0 ulasan:
Catat Ulasan