Akhir-akhir ini hiking atau panjat gunung kembali menjadi
suatu hal yang fenomenal di kalangan muda mudi. Sukan mendaki gunung adalah
salah satu aktiviti rekreasi yang mencabar. Mereka melihat sukan ini sebagai
salah satu cabang untuk menyihatkan badan di samping mempunyai beberapa
kelebihan tersendiri.
Sedari dulu, diri tidaklah termasuk dalam kalangan orang
yang suka mendaki gunung. Namun kerna tiap kali cuti sekolah, ayah dan ummi
akan menghantar diri ke kem-kem kerohanian, yang mana salah satu tentative wajibnya
adalah “jungle trekking/hiking/dsb” hingga diri terbiasa dengan sukan lasak itu
bahkan lama kelamaan menunbuhkan cinta pada aktivitas ini.
Pada mulanya diri tidak mengerti apa gunanya aktivitas ini
dijalankan.. bersusah payah mengharung bahaya, mehnah dan tribulasi mendaki,
sampai dipuncak, duduk-duduk, foto-foto, mendengarkan sedikit tazkirah dan
menikmati sedikit makanan kemudian turun lagi dengan segala susah payah. Aneh rasanya
mendaki hanya untuk mengundang sekelumit puas pada rasa. Padahal banyak lagi
yang bisa dilakukan untuk menghasilkan euphoria yang sama.
Tapi pada suatu hari tidak lama sewaktu diri berada di
bangku Senior High School, diri pernah berjalan-jalan di pantai bersama ayah
tercinta. Kerna kebetulannya disitu ada Bukit Keluang yang tersergam indah,
kami memutuskan untuk mendaki ke atas. Dalam pendakian kami, ayah bercerita..
“Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jika
kita mengambil setiap perjalanan tarbawi kita ini sebagai suatu didikan, maka
kita akan mendapati bahawa alam juga adalah guru kita. kakak tahu kenapa dalam
tiap kem, pakcik-pakcik menyediakan tentative trekking/hiking?kerna
trekking/hiking ini adalah padang latihan bagi melatih dan membina kekuatan
dari tiga fakulti insane yang utama yaitu jasmani, mental dan rohani bagi
membentuk modal insan yang berkualiti tinggi selari dengan apa yang telah digariskan
oleh Islam seterusnya melahirkan generasi pewaris yang seimbang.
Kenapa kita memberi anak-anak ruang untuk dekat dengan alam?
Supaya anak-anak bisa merasai sendiri kedamaian alam. Melihat fajar saat ia
terbit dikaki langit, merasai dinginnya air sungai yang mencucuk tulang
belulang. Melihat flora dan fauna yang tersimpan dibalik hutan yang melindungi.
Melihat hamparan pantai dari atas laut. Semua itu tanda kebesaran Allah SWT
yang menciptakan.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera yang belayar dilaut membawa apa yang
berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu
dengan air itu DIA hidupkan bumi setelah mati (kekeringan) dan DIA sebarkan
dibumi itu segala jeneis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda keEsaan dan kebesaran
Allah bagi kaum yang memikirkan”
[Al-Baqarah:164]
“Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?
Dan gunung-gunung sebagai pasak?”
(Q.S. An-Nabaa 78:6-7)
Begitu kata ayah sewaktu itu. Membuat diri kembali
membaca-baca fungsi gunung sebagai pasak bumi seperti yang ayah katakan. Membuat
diri mengerti bahwa kita hiking bukan saja-saja. Tanpa tujuan seperti orang
lain pergi hiking. Tapi kita hiking untuk melihat bukti kekuasaan Allah.
Dan sekarang, keinginan untuk pergi hiking itu datang lagi. Setelah
6 tahun meninggalkan aktivitas itu. Maklum, sejak bersekolah di sekolah
perubatan ini, jarang benar punya peluang mengikuti aktivitas seumpama itu lagi
hingga diri kembali mencari-cari catatatan perjalanan dulu buat dibaca ulang. Tentang
Gunung Sebagai Pasak Bumi.
Sepanjang sejarah, manusia selalu terpana oleh tinggi dan
besarnya gunung. Mereka menganggap gunung adalah tempat suci, tempat bersemayam
Tuhan. Orang Jepang mensakralkan Gunung Fuji. Dewa-dewi orang Yunani tinggal di
Gunung Olympus.
Pegunungan Himalaya merupakan tempat dewanya orang India dan
Tibet. Gunung Merapi dianggap angker oleh orang Yogyakarta. Gunung Bromo
merupakan kahyangan penduduk Tengger. Gunung Agung tempat dewanya orang Bali.
Semua mengaiskan gunung pada fungsi mistik supranatural. Hanya Islam yang
menempatkan kembali fungsi gunung secara ilmiah.
Dalam Al Quran kita temukan kata gunung sebanyak 49 kali. Di
antaranya, 22 ayat menyebutkan fungsi gunung sebagai pasak atau tiang pancang.
Pasak atau paku besar merupakan benda yang menancap ke
dalam. Artinya, kepala pasak yang tampak di luar selalu jauh lebih pendek
dibanding panjangnya pasak yang terhunjam.
Ketika agama-agama primitif selama ribuan tahun hanya takjub
pada ketinggian gunung, Al-Quran mementahkan kekaguman sesat mereka itu.
Ternyata bukan tingginya, tetapi kedalaman akar gunung yang menghunjam sampai
15 kali lipat dari tinggi di atas permukaan bumi, itulah yang lebih dahsyat.
Al-Quran menegaskan bahwa fungsi gunung adalah pasak bumi
yang memancang ke bawah tanah dengan kokoh. Itu adalah sebuah konsep tentang
gunung yang sangat mutakhir dan baru dikenal. Baru 20 tahun yang lalu para ahli
geofisika menemukan bukti bahwa kerak bumi berubah terus. Ketika itu baru
ditemukan teori lempeng tektonik (plate tectonics) yang menyebabkan asumsi
bahwa gunung mempunyai akar yang berperan menghentikan gerakan horisontal
lithosfer.
"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi
tidak goncang bersama kamu,..."
(QS. An-Nahl (161: 15)
Rasulullah SAW. bersabda, "Tatkala Allah menciptakan
bumi, bumi bergoyang dan menyentak, lalu Allah menenangkannya dengan
gunung." Bagaimana mungkin Nabi SAW. yang buta huruf dan hidupnya di abad
ke-6 di tengah masyarakat padang pasir, bisa mengetahui tentang gerakan
horisontal lithosfer humi yang berfungsi menstabilkan goncangan? Subhanallaah.
Memang, sejak tahun 1620-an, para ilmuwan seperti Francis
Bacon dan RPF Placer dari Prancis mengamati kemungkinan bahwa dahulu benua
Amerika, Eropa, dan Afrika pernah menyatu. Pada 1858, Antonio Snider
mengemukakan konsep Continental Drift, mengambangnya benua-henua. Kemudian
menurut ahli geologi Austria, Eduard Suess, semua benua dulunya memang menjadi
satu, diberi nama Godwanaland. Sedangkan ilmuwan Jerman, Alfred Wegener
menamakannya Pangea.
Pada awal abad ke-20 seorang ilmuwan Jerman Alfred Wegener
mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal
bumi. Namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah
ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915
menyatakan sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di
permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea, terletak di
kutub selatan. Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian
yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau
benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika
dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa,
Amerika Utara, dan Asia kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini,
Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk setelah terbelahnya Pangaea
bergerak di permukaan bumi secara terus menerus sejauh beberapa sentimeter per
tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara
wilayah daratan dan lautan di bumi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru
pada tahun 1980 yakni setelah 50 tahun kematiannya. Pergerakan kerak bumi ini
ditemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di abad ke-20. Namun,
teori-teori itu belum mendapatkan pengesahan, sampai tahun 1960-an saat
ditemukannya bukti-bukti meyakinkan hahwa benua-benua memang bergerak.
Kecepatan pergerakan itu 1 cm per tahun di Laut Arktik, 6 cm
per tahun di khatulistiwa, sampai 9 cm per tahun di jalur pegunungan. Dan itu
adalah 1400 tahun setelah Al-Quran memberitahukan tentang konsep gunung kepada
manusia! Allaahu Akbar
Teori lempeng tektonik menyebutkan bahwa kulit bumi herupa
12 lempeng lithosfer setebal 5 sampai 100 km mengapung di atas substratum
plastis (astenosfer), yang tebalnya sampai 3000 km. Lempengan itu bergerak
secara horisontal dan saling bertabrakan dari waktu ke waktu dan terlipat ke
atas dan ke bawah, melahirkan gunung-gunung.
Misalnya, tabrakan lempeng India dan lempeng Eurasia
menghasilkan formasi rantai pegunungan Himalaya dengan puncak tertingginya
Gunung Everest dgn ketinggian 8,848 km, terbentuk mulai 45 juta tahun yang
lalu. Pose akhir terbentuknya glinting ditandai dengan akar yang jauh menancap
ke dalam bumi. Hal ini menyebabkan melambatnya pergerakan lempeng lithosfer.
ltulah fungsi gunung. Tanpa gunung, gerakan lithosfer akan
lebih cepat dan tabrakan antar lempeng akan lebih drastis dan mungkin
membahayakan kehidupan.
Terdapat fakta yang menakjubkan bahwa ternyata gunung-gunung
tersebut adalah laksana pasak yang menjaga stabilitas daratan dari pergerakan
lempeng bumi yang massif. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang
lebih kuat menyelip dibawah lempengan yang satunya, sementara yang diatas
melipat dan membentuk dataran tinggi. Lapisan bawah bergerak dibawah permukaan
dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah.

Gunung adalah lapisan yang melipat dan membentuk dataran
tinggi. Dan gunung selalu mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang
tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi. Dengan kata lain,
gunung-gunung menggengam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke
atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan
ini. Dengan cara ini, gunung memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari
terombang-ambing diatas lapisan magma atau diantara lempengan-lempengannya.
Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan
lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Fungsi pemancangan dari gunung disebut
dengan istilah "isostasi".