Skinpress Rss

Selasa, 28 Jun 2011

NEUROLOGY POSTING

0


Posting di department neurology adalah posting yang paling menarik setakat ini. Di sini diri belajar banyak hal berkenaan asas dalam ilmu kedokteran yaitu ilmu saraf. Membahas tentang neuronal pathway sama seperti membahas tentang basic living sources.. yang mana tanpa neuron dan electrical impulses, manusia ibarat mesin yang tidak dapat diguna pakai dengan maksimal.

Teknik pembelajaran aktif meliputi bedside teaching, case-presentation, mini lecture, discussion team dan clinical-based examination. Department ini hanya memakan masa 4 minggu yang mana waktu yang diberikan ini adalah amat dan tersangat singkat untuk mendalami ilmu neurology yang luas. Minggu pertama, kami diajarkan dan dimahirkan cara melakukan neurologic examination yang meliputi pemeriksaan motoric, sensoric dan reflexes. Mulai dari cara menilai pergerakan, kekuatan dan tonus otot hinggalah pemeriksaan reflex fisiologis dan patologis. Reflex fisiologis yang wajib diperiksa setiap harinya adalah reflex bisep dan trisep, reflex knee-joint dan ankle. Sementara reflex patologis yang wajib dikuasai adalah reflex Hoffman-Tromner (jari tangan), reflex Babinski, Cardock, Schufer, Gordon, Ophemhelm dan juga Gonda pada kaki. Selain menguasai kemahiran mengerjakannya, kami juga diajar teori-teori serta pada kelainan apa saja yang bisa menemukan kelainan pada pemeriksaan fisik (physical examination) tersebut.

Minggu kedua baru kami diberikan lebih banyak pendedahan tentang penyakit neurology dan cara perawatannya. Kes yang terbanyak ditemukan adalah stroke baik hemorrhagic (HS) ataupun non-hemorrhagic (NHS). Di sini juga kami diajarkan cara membezakan kedua jenis (tipe) stroke ini dan pemeriksaan-pemeriksaan lain yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis. Contohnya dalam kes HS dan NHS, kita memerlukan pemeriksaan CT Scan untuk menentukan samada terdapat ischemic area atau hemorrhagic area pada kedua hemisphere otak. Setelah itu kami juga diajarkan tentang penanganan mulai dari tujuan pengobatan, perawatan masa akut (acute phase) dan perawatan pasca akut (pasca-acute) hinggalah fisioterapinya nanti.

Selain penyakit yang terbanyak yaitu stroke, kami juga diajarkan tentang penyakit-penyakit yang memiliki area competency 4 (clinical student should know up to the treatment) seperti tetanus, rabies, parkinson, trauma kapitis (head trauma : contusio cerebri, commusio cerebri, epidural hematoma, subdural hematoma, subarachnoid hematoma, cranial-base fracture etc). Bertugas dirumah sakit (hospital) perifer (RS Labuang Baji), memberikan kami peluang untuk mendalami penyakit-penyakit ini dengan menemui patient secara lansung dan melihat sendiri gejala dan keluhan yang dialami. Tak kurang pengalaman untuk memberitakan kabar yang tidak baik kepada keluarga pesakit dan juga menentukan waktu kematian pesakit.

Pada minggu 3, diri ditugaskan berkhidmat di hospital tentera (RS Pelamonia) poliklinik. Di situ, mendapatkan kes rawat jalan (clinic-cases) dengan keluhan (chief-complaint) terbanyak itu sekitar sakit kepala(headache), migraine, vertigo, dan sakit belakang(low back pain). Sambil mempelajari kes yang ada sambil mempelajari kembali teori yang pernah didapatkan sewaktu masih dibangku kuliah dahulu.

Minggu ke 4, masih di poliklinik. Namun untuk kali ini diri kembali bertugas di RS utama yaitu RS Wahidin. Alhamdulillah dalam minggu ke4 ini banyak menyaksikan procedures dalam pemeriksaan penunjang seperti cara pemeriksaan EEG (electroencephalograph) yang digunakan untuk melihat fungsi otak. Kebanyakannya di indikasikan buat pesakit Epilepsy. Contohnya pada penderita epilepsy type tonic-clonic akan didapatkan spike-wave yang tidak beraturan etc. Ada juga pemeriksaan TCD (transcerebral Doppler) yang digunakan untuk melihat keadaan pembuluh darah otak (peripheral cerebral artery & vein) diindikasikan buat pasakit dengan chronic headache, migraine etc. hari terakhir sebelum ujian sempat melihat procedure lumbar puncture yang dilakukan pada pesakit dengan diagnosis SOL Medulla Spinalis suspect abdomen tumor metastasis.

Walaupun akhirnya agak stress kerna pengujiku (supervisor/specialist) yang perfectionist dan terkenal agak “killing” dan juga tandom (rakan sejawat yang exam bersama) yang terkenal pintar luar biasa, Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar dan baik berkat doa dari ummi dan ayah juga keluarga.. buat dokter-dokter yang mendidik dan memberikan bimbingan sepanjang diri berada di department neurology, terima kasih yang sebesar-besarnya diucapkan. Hanya Allah yang mampu membalas jasa kalian..

Jumaat, 24 Jun 2011

MILITARY HOSPITAL

0


Minggu ke-3 department Neurology. Diri bersama Amalia Kurnia Ekasari dan Permata Nila ditugaskan ke Rumah Sakit Tentera (Wirabuana) yang terletak di Kerebosi, Rumah Sakit Pelamonia. Hari pertama mendaftar. Kami disambut oleh Colonel Abd Azis yang bertanggungjawab terhadap koas (clinical student) dari bagian pendidikan. Sepanjang perjalanan ke pejabat (kantor) Col.Abd Aziz, kami diiringi oleh beberapa orang tentera yang berwajah dingin dan lengkap berseragam dan bersenjata. Ah, menakutkan! Terasa seperti dibangku orang bersalah juga ada.

Tiba dipejabat (kantor) colonel, kami diberi sedikit penerangan tentang sejarah dan prestasi Rumah Sakit Pelamonia dan peraturan yang harus kami penuhi sepanjang kami berada di sini. Melalui penjelasan Colonel juga, diri dapat memahami betapa kedisiplinan itu dijunjung tinggi dan sikap ramah dan mesra sangat dituntut di Rumah Sakit ini. Sebelum bersurai (selesai), kami diarahkan untuk melapor pada dr.Artha Bayu Sp.S selaku pakar (specialist) Neurology (neurologist) yang bertanggungjawab penuh pada seluruh department Neurology di RS Pelamonia ini besoknya.

Hari kedua di rumah sakit tentera. Berangkat dari Rusun selesai subuh. Seawal jam 5.15 pagi. Mentari masih bersemayam di balik awan tebal. Fajar masih belum terbit dengan semburat cahayanya. Tiba di hospital (RS) jam 6.00 am. Lansung bergegas ke ward (bangsal) untuk follow up pagi. Maklum saja di bagian neurologi, kami bukan sekadar dituntut untuk menjalankan follow up tanda vital pada jam follow up pagi, tapi juga pemeriksaan neurologis yang khas seperti pergerakan, kekuatan dan tonus otot, reflex fisiologis dan patologis, fungsi otonom (autonomic function) dan juga pemeriksaan nervus cranialis (cranial nerve examination). Yang seorang penderita dapat memakan masa 8-10 menit pemeriksaan lengkap. Sedangkan dokter resident akan memulai follow up paginya jam 7 pagi. Satu ward (bangsal) pula memiliki 6-7 orang penderita. Dikalikan dengan 5 ward (Akasia, Asoka, Angeliar, Melati, Mawar).

Walau paginya agak tegang dengan wajah cemberut dan marah-marah tidak jelas dokter residen senior di ward (bangsal), namun setelahnya hati kembali terpujuk saat menghadap dr.Artha Bayu, SpS. Kehalusan budi pekerti dan kesantunan bahasanya menciptakan suasana kerja yang harmonis dan cukup santai. Dr. Bayu adalah seorang dokter militer yang direkrut berkhidmat dengan Wirabuana sejak mengikuti pelatihan militer setelah tamat pendidikan dokter umum beberapa belas tahun yang lalu. Setelah itu beliau dibiayai untuk melanjutkan kuliah specialist dan hingga sekarang beliau berkhidmat dengan militer. Melalui hari-hari dibawah didikan dr.Bayu benar memberikan impak yang tersendiri. Bukan sekadar pelajaran neurology yang diajarkan bahkan masalah etika, perilaku, disiplin dan hubungan dokter-pasien.

Pernah menemani dr.Bayu di kliniknya (praktek) pada malam hari [kebetulan oncall/jaga]. Dokter banyak bercerita masalah halal haramnya rezeki yang dicari dan diraih, tentang bagaimana hati itu sebenarnya harus dilunakkan dengan banyak bersedekah, merasai kesusahan orang lain, dan berbagi-bagi. Dokter juga banyak bertanya tentang kehidupanku di Malaysia. Tentang keluarga, biaya pendidikan dan sebagainya. Banyak lagi hal yang menjadi topik perbincangan seperti issue ketenteraan (militer), pengalaman-pengalam hidupnya yang bisa dijadikan pengajaran dan pelajaran.

Sejak hari itu, setiap kali ketemu pasti dr.Bayu akan menyebut namaku dan mengajarkan hal-hal yang baru tentang neurology. Dari skill nya dr.Bayu membina hubungan dengan orang di sekitarnya termasuklah petugas lab, perawat, penderita, dan keluarga penderita membuatkan dr.Bayu cukup disenangi dan dihormati orang semua orang dihospital (RS) tersebut. Belum lagi contoh teladan yang beliau berikan secara lansung dan tidak lansung contohnya koas follow up pagi jam 6 pagi sedangkan dr.Bayu (supervisor) visite jam 6.30am. sama pagi dengan koas, sebelum datangnya residen.

Teringat salah satu kata-kata beliau:

“ Seorang dokter harus siap melayani pasien dalam sebarang kondisi. Layanilah mereka sama sepertimana kita ingin keluarga kita dilayani sementara sedang sakit dan sama seperti mana kita ingin diri kita dilayani saat kita jatuh sakit. Anda adalah asset saya, maka saya mengajarkan anda semaksimal mungkin yang saya mampu, agar suatu hari nanti, anda akan menjadi seorang dokter yang lebih baik dari saya. Dan jika suatu hari nanti saya jatuh sakit, andalah.. yang akan saya percayakan untuk merawat saya..”

Dokter residen yang pada awalnya garang (galak) juga pada hari kedua dan berikutnya tidak lagi marah-marah setelah melihat tingkah laku kami dan kesungguhan kami dalam menjalankan tugas. Bahkan dialah yang mengajar kami banyak hal yang tidak kami fahami. Dan apa yang paling terkesan saat dia mulai berbagi kue saat minum pagi yang memang disediakan untuk para dokter serta membelikan kami minuman setelah selesai visite. Dari situ diri mempelajari bahawa sebenarnya yang paling penting saat berhadapan dengan dokter adalah sikap (sopan, ingin belajar, bertanya,rajin menjalankan tugas) pengetahuan dan juga kemahiran kita (attitude,knowledge and skill). Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari sekali pandang dan terus menghukum tanpa kita benar-benar mengenali orang tersebut. ^_^

Khamis, 9 Jun 2011

GAWAT DARURAT

2


Tok..tok..tok..

Bunyi ketukan keras dari kaca poliklinik Neuro. Mata sempat mengerling jam (arloji) di dinding. 12.00am. segera menyahut ketukan tersebut.

“ Coas (dokter muda) neuro, ada konsul (pasien[pesakit] dari bagian[department] lain yang dicurigai mempunyai penyakit neurologi) CITO (memerlukan tindakan segera) di UGD (emergency).”

Segera, diri dan teman sejawat yang sama-sama bertugas hari ini, Fitrah Muhibbah, mencapai tas alat (beg kecil yang berisi alat-alat untuk melakukan pemeriksaan) dan bergegas ke UGD (ward kecemasan). Bertugas di rumah sakit perifer, Labuang Baji, membuatkan kami menjadi tempat rujukan yang pertama untuk bagian neurologi. Tambahan apabila waktu malam yang tiada dokter residen (dokter yang menjalani pendidikan spesialisasi) yang turut ada di rumah sakit (hospital).

Setiba di UGD,agak kaget melihat pasien[pesakit] yang terlantar di atas meja operasi dilumuri dengan darah yang tidak berhenti-henti keluar. Pemuda yang berusia 19 tahun tersebut batuk dan menghemburkan lebih banyak darah mewarnai lantai UGD yang putih bersih dengan warna merah pekat disertai bau amis yang khas. Wajahnya lebam. Tulang-tulang pipi kelihatan telah hancur. Luka dalam di bagian kepala(alis) menzahirkan tulang tengkorak didalam. Pemandangan yang sangat ngeri yang pertama kali kusaksikan dengan mata kepala sendiri.

Dokter bedah yang sementara menangani (merawat) pasien tersebut lantas menyapa

“Coas neuro? GCS=5,PMB, frontal fracture, suspect contusio cerebri. Sudah dikasi masuk RL (ringer lactate) 4 bag guyur , obat tahan sakit, dan Qt(kamu) yang tangani dan hubungi dokter jaganya (dokter neuro yang oncall).” kata dokter bedah tersebut sambil menaggalkan handscon (sarung tangan) dan masker (penutup mulut) tanda mahu cepat-cepat meninggalkan operation theater tersebut.

“Dok, apa yang harus kami lakukan? Baru coas minggu 1 & 2 kodong (kasian).” Mengaku jujur. Untuk menangani kasus (kes) darurat seperti ini, kami masih belum memiliki kompetensi itu.

“Ya terserah kamu ajha mau diapain pasienmu (terserah pada kamu mahu buat apa pada pesakitmu). Yang penting penanganan yang baik.” Kata dokter bedah tersenyum sinis sambil mengambil helmnya (helmet) dan pulang.

Aduh, parah. Diri dan Ibha saling memandang. Tidak tahu, mahu berbuat apa. Paling-paling kami memonitor tekanan darah dan nadinya selain hal-hal penting seperti memastikan jalan nafas baik (suction perdarahan massif yang keluar dari hidung dan mulut serta luka terbuka pada dahi pasien), sirkulasinya masih baik dan jantung masih bagus. Basic life support. Itu saja. Selebihnya kami tidak tahu. Telefon dokter jaga (oncall) juga masih tidak diangkat. Lebih 10 kali. Sms tidak berbalas. Kondisi (keadaan) tubuh pasien semakin menurun. Tekanan darah mulai turun 80/60. Hipovolemic shock!!

Luka terbuka masih belum terjahit. Darah keluar darinya bagai air mengalir. Untuk menjahit luka terbuka dalam kondisi (keadaan) seperti itu masih belum yakin. Hingga tiba-tiba datang seorang dokter bedah lain yang gayanya baru selesai operasi (bedah). Dokter tersebut tanpa banyak bicara masuk dan mengarahkan agar mempersiapkan alat untuk jahitan luka (suturing) serta mengarahkan diri memeriksa tingkat kesadaran pasien (Gaslow Comma Scale, GCS). Segera, dokter memulakan suturing bagian luka terbuka yang besar di kepala pasien/pesakit. Wah, Asada Ryutaro!! Rupanya masih ada dalam dunia dokter yang peduli pada pasien/pesakit. Tidak hanya melihat pasien/pesakit sebagai objek yang diatasi sesuai dengan bidang taklukannya.

Masih menjalankan suturing. Dokter bedah tersebut kemudian berkata pada diri.

“Coas yah? Ayo sini bantu… Kalo pasiennya ada luka terbuka harus dijahit dulu dengan asumsi (assumption) kita akan mengurangi sumber perdarahannya terlebih dahulu. Jika lukanya besar seperti ini, dan darahnya tidak berhenti, jangan dulu pakai (guna) obat anestesi kerna obat anestesi biasa, ada efek anti-pembekuannya. Itu akan memperparah keadaan pasien/pesakit. Tambahan kerna pasiennya sudah syok seperti ini. Lagipula jarumnya itu pake yang kecil supaya kesannya tidak terlalu kentara didahinya. Kita kan harus juga menimbang “quality of life”nya pasien(pesakit)." Dokter tersebut menjelaskan sambil tangan tangkas menjahit luka terbuka yang lebih kurang 6-7 cm tersebut.

Diri sekadar mengangguk tanda mengerti sambil sibuk melakukan suction dan mengelap darah yang berjejeran keluar dari luka tersebut.

Setelah selesai menjalankan suturing, dokter bedah tersebut mengatur kembali aliran NaCl yang diinfus masuk ke tubuh pasien tersebut. Sepanjang 2 jam menantikan kehadiran dokter dari bagian/department neurologi, dokter bedah tersebut tetap setia dan sibuk memastikan kondisi pasien/pesakit dalam keadaan yang paling maksimal.

Setelah dokter neurologi tiba, baru dokter bedah tersebut meninggalkan pasien yang gawat tersebut. Dokter neurologi tenang-tenang memeriksa reflex pupil dan pemeriksaan neurologi yang khas. Kami sempat juga diajar disitu bagaimana untuk menangani kasus(kes) emergensi seperti ini walaupun pada akhirnya pasien tersebut terpaksa dirujuk ke rumah sakit (hospital) kelas 1 (wahidin) kerana kekurangan alat (CT Scan) untuk dilakukan pemeriksaan lantaran dicurigai Contusio Cerebri (cedera organic pada otak akibat trauma).

Rabu, 8 Jun 2011

OLE-OLE DARI PASIEN (PESAKIT)

0


Jaga malam (oncall) keempat malam ini. Pengalaman baru apabila diri dan Amel harus menjaga (standby) di UGD (unit gawat darurat/emergency) walhal kami masih bergelar koas Minggu Satu (clinical student minggu 1/baru). Dan Alhamdulillah sepanjang giliran kami jaga (standby) di situ, tiada kasus (kes) yang benar-benar gawat (emergency) hingga memaksa kami ke jalan buntu. Paling-paling yang kami terima adalah pasien (pesakit) Gullian Barre Syndrome yang memiliki ciri khas dan tidak susah untuk menegakkan diagnosisnya.

Pas jam 9 lewat, (9.30 malam) kembali lagi menjaga bangsal (ward). Seperti biasa, masih lagi follow up. Tiba-tiba seorang ibu dari kamar 6 datang dan menghulurkan 1 kantongan plastic. Ibu ini adalah isteri kepada salah satu pasien yang dirawat dengan non-hemorrhagic stroke et susp. Malaria. Asal dari Palopo (suatu kota yang terletak 8 jam perjalanan menaiki mobil/kereta dari Makassar). Ibu membuka usaha sendiri di Palopo begitu juga bapak yang sekarang terlantar lemah diranjang rumah sakit. Sudah 2 minggu lebih bapak dalam kondisi seperti ini, namun ibu dan keluarga tetap sabar merawatnya. Bayangkan lebih dua minggu ibu dan anak-anak tidur dilantai rumah sakit beralaskan kain tipis dan menjadi tempat laluan umum, hidup mereka berantakan namun masih bisa mengulum senyum, menyambut dokter dan suster (perawat/nurse) yang datang memeriksa.



Diri agak-agak kaget namun tetap menyambut bungkusan yang dihulurkan sambil bertanya

“Apa ini ibu?” dalam fikiran terbayang obat apa yang dibeli ibu hingga sebanyak ini.. [catatan: biasanya keluarga pasien/pesakit sendiri yang membeli obat dan menyerahkannya kepada dokter/perawat untuk ditindak lanjuti].

“Oh itu makanan dari Palopo dok. Ama buah-buahan dikit. Untuk qt (kamu). saya liat dokter di sini terus rawat pasien, pasti nda (tidak) sempat makan toh..” wah terharunya. Begitu perhatiannya ibu sedangkan diri sendiri tidak perasan kalau sudah makan atau belum hari ini.

“Nda usahmi repot2 ibu..( jangan susah-susah)” merasa tidak enak untuk menerima pemberian ibu.

“Ambilmi doc. Yang namanya rejeki itu lebih berkah bila dibagi-bagi. Lagi pula qt(kamu) yang banyak membantu sejak bapak di sini. Doc, saya lebih senang hati kalo qt (kamu) bisa terima. Anggaplah sebagai ucapan terima kasih atas layananta’ (layananan yang diberikan) sepanjang kami disini.” ibu masih mendesak. Walau masih berat hati tetap menerima pemberian ibu tersebut.

MasyaAllah terharunya. Meskipun diri sebenarnya tidak melakukan apa-apa melainkan follow up tanda vital (tekanan darah [blood pressure], nadi, pernafasan dan suhu) tapi itu ternyata amat dihargai oleh ibu. Muhasabah diri kembali, terkadang melakukan follow up atas dasar tanggungjawab yang wajib dilaksanakan. Terlupa untuk menyertakan hati didalam mengerjakannya. Terlupa untuk menyelipkan rasa kasihan dan ingin mendoakan semoga pasien/pesakit cepat sembuh..

Semoga nilai dari peduli dan kasih sayang yang terkandung dalam “ole-ole” pemberian ibu itu akan menjadi motivasi dan peringatan agar diri lebih berhati-hati dan ikhlas dalam menjalankan tugas. Ia juga menjadi salah satu pelajaran penting dalam siri pembentukan diri membina peribadi sebagai seorang dokter di masa akan datang.

Isnin, 6 Jun 2011

FOLLOW UP

0


Menjadi rutinitas saat jaga (oncall) untuk follow up pasien (patient) yang dianggap berada dalam keadaan kritis.

Sepanjang minggu pertama di bagian (department) Neurology, Rumah Sakit Wahidin S. diri dipertanggungjawabkan untuk menjaga 1 kamar di bangsal (ward) yang di dalamnya terdapat 6 orang pasien (pesakit). Seorang masuk dengan hemiparese (lumpuh separuh badan) diakibatkan komplikasi penyakit metabolic, (DM dan hypertension). Di sebelahnya pasien dengan suspect metastasis tumor abdomen et medulla spinalis (paraparese), lemah separuh bawah badan, sebelahnya lagi pasien post stroke (non-hemorrhagic stroke) hemiparesis, pasien dengan hemiparesis NHS dengan suspect malaria. Dengan catatan HBs Ag (+) [hepatitis B@ penyakit menular yang sangat menggerunkan], pasien dengan contusio cerebri (trauma pada otak kerna dijatuhi buah kelapa), dan pasien decubitus (luka pada tulang belakang akibat terlalu lama berbaring) kerna post hemorrhagic stroke.

Yang di follow up Cuma 2 orang dari kamar tersebut yaitu pasien dengan suspect malaria dengan catatan tekanan darah semakin meningkat dan suhu melebihi 40 derajah celcius, dan juga pasien dengan dengan trauma vertebra dengan keluhan melena (buang air besar disertai darah beku yang sedang diterapi dengan memberikan blood transfusion, Packed Red Cell 2 bag) yang dikhawatiri akan menimbulkan komplikasi. Kedua pasien ini harus di follow up per jam.

Malam semakin larut. Rasa pegal-pegal badan juga mulai terasa akibat seharian berlari-lari menjawab konsul (pasien/pesakit dari department lain yang dirujuk ke bagian neurologi atas alasan tertentu) yang mana tempat keberadaan pasien jauh antara satu sama lain. Jaga (oncall) siang malam, 12 jam amat menguji stamina diri. Namun mata tidak boleh lelap. Harus bertahan untuk pasien (pesakit) yang perlukan perawatan yang intensif.

Jam 1 pagi. Memasuki kamar 6 (bilik perawatan 6) untuk follow up yang ke seterusnya, selesai melakukan follow up, seorang ibu menyapa,

“Doc, bisa ditensi Pak Juma juga doc (boleh tak periksa juga tekanan darah Pak Juma)?” isteri Pak Juma yang mungkin dari tadi hanya memerhatikan diri yang bolak balik memeriksa 2 pasien (pesakit) yang gawat tersebut meminta.

“Oh iyek ibu..” diri hanya menyetujui memandangkan waktu larut malam seperti ini, tidak ada juga hal yang terlalu menyibukkan melainkan follow up dan belajar. Dan pasien adalah guru terbaik untuk mempelajari sesuatu penyakit.

Sambil menensi (mengukur tekanan darah) sambil menanyakan ibu tentang keluhan (chief complaint) yang dialami oleh Pak Juma. Mulalah sang ibu menggali semula peristiwa dari awal sakitnya bapak sambil ditambah juga oleh bapak tentang apa yang dirasai dan gejala apa saja yang dialaminya. Dari cerita penyakit beralih ke cerita lain berkaitan kampungnya, keluarga dan keadaan ekonomi keluarganya. MasyaAllah dari sini baru mulai merasai bahawa kita sebenarnya terlalu sibuk dalam keseharian kita untuk mengerjakan banyak hal seperti mengisi status untuk case-discussion, follow up, bedside teaching, visited an sebagainya hingga terkadang lupa untuk menitikberatkan soal menjalin hubungan yang baik antara dokter-pasien. Dan merawat pasien bukan hanya susp metastasis tumor abdomen ke Medulla Spinalis sahaja namun untuk merawat pasien secara holistic termasuklah psikologi dan emosinya.

Setelah selesai memeriksa tekanan darahnya Pak Juma, ibu yang disebelahnya pula meminta supayadiperiksa tekanan darah pasien yang dirawat. Dan begitulah seterusnya hingga keenam-enam pasien yang ada dikamar tersebut semua diperiksa dan sempat berkenalan dengan lebih dalam hingga jam menunjukkan angka 3. Rupanya, pasien dikamar tersebut semua memerlukan perhatian dari diri selaku dokter muda yang bertanggungjawab ke atas kamar (ward) tersebut. Mereka ingin mengenali diri dengan lebih dekat dan membina hubungan yang baik dengan diri. Alhamdulillah malam ini dapat memenuhi hajat mereka semua dan ikhlas, banyak hal yang diri pelajari dari mereka. Baik dari segi ikatan kekeluargaan, pengorbanan dan semangat mereka untuk terus bertahan hidup.

Benarlah terkadang kita harus agak melonggarkan diri kita daripada buku dan semua teori kedokteran (perubatan) yang menyesakkan kepala, sebaliknya belajarlah dari pasien yang benar-benar mengalami dan binalah hubungan yang baik dengan mereka. Menjadi seorang dokter bukanlah menjadi mesin yang tidak punya hati namun sebaliknya menggunakan peluang dan kepakaran untuk lebih bisa membagi peduli dan berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih baik

Sabtu, 4 Jun 2011

ORANG YANG BERSEMBUNYI

0


Wahai orang yang bersembunyi,
Mengapa harus berselimut kebencian
Sedang hati kaya dengan kasih sayang
Mengapa berlindung dibalik awan gelap
Sedang jiwa benderang dengan cahaya pelangi

Duhai orang yang bersembunyi,
Tahukah dikau betapa kebencian itu melelahkan
Betapa awan gelap itu mengundang ketakutan
Ia tidak akan pernah menyelesaikan apa-apa
Kecuali menancapkan luka didada yang tak berdosa

Dengarkan aku sebentar walau di balik persembunyian,
Mengenang hari-hari yang berlalu bersamamu
Cukup menata hati mengenang mengimbau memori
Betapa indahnya semalam yang berlalu
Bersama kebaikan dan santun pekertimu

Waktu itu kita bebas berbicara apa sahaja
Tawa senda bumbu ikatan persahabatan
Saat galau menyesakkan atma
Atau awan komulunimbus berarak menziarahi kota
Aku akan berpaling dan melihat, bahawa kau selalu ada

Tika memori memainkan melodinya sendiri
Dalam irama melankolis yang menyayat hati
Ingatan padamu berpadu kukuh
Benar, kerinduan yang mencengkam terasa amat menyakitkan

Betapa aku ingin menjalani hari-hari penuh arti disampingmu
Dalam tatanan masa yang kian menghimpit dan hampir mencapai hujungnya
Aku hanya ingin bersamamu dalam menghidupkan sang waktu
Biar bahagia it terus bernyawa dalam diri walau jasad dipisah samudera

Namun bagai tsunami yang melanda
menyapu pergi semua kenangan yang terbina
Kembali ku berpijak pada bumi yang nyata
Bahawa kita tak lagi seperti dulunya.

Setiap kata yang terungkap bagai api dalam sekam
Saling menyakiti dan berbalas lawan
Ibarat racun yang menjalar dalam urat saraf
Semakin menjarakkan dan semakin mematikan rasa

Hai sang pengamat sepi,
Mungkin benar katamu bahawa terkadang berdiam diri adalah jalan terbaik
Kerna barangkali kita lebih butuh waktu sendiri
Untuk mengintrospeksi sekaligus memperbaiki diri

Walau diam sebenarnya lebih menyiksa
Biarlah waktu yang mengobati segalanya
Cukuplah aku yakini bahawa dihatimu masih ada cahaya
Dijiwamu masih ada rasa kasih yang tersisa..

~mode: suasana hati lagi ambruk galau~
3 June 2011
2.30am
[jaga malam ditemani musik alam dari tangki oksigen]

Isnin, 30 Mei 2011

BAKSOS DI TAKALAR

0

~bersama Dr.Asmiranda dan Dr.Fatma~

Baru kemarin menyelesaikan ujian di bagian Jiwa (Psychiatric). Cuma hari ini libur (cuti) menantikan esok harus melapor lagi dibagian baru yaitu Neurology. Berkesempatan mengikuti bakti sosial (baksos) anjuran PKS bersama 6 orang lagi sahabat seperjuangan dan dari pihak muslimin juga. Baksos ini telah dijalankan oleh PKS kebupaten Takalar dengan kerjasama dari rumah zakat. Diadakan di kantor (pejabat) PKS di Takalar.

Pada kegiatan baksos kali ini diadakan pemeriksaan kesehatan dan juga sunatan missal (berkhatan bersar-besaran). Diri memilih untuk melibatkan diri dalam pemeriksaan kesehatan memandangkan diri sudah sering terlibat dalam sunatan. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan hanya sebatas pemeriksaan yang umum memandangkan alatan untuk pemeriksaan darah dan gula terlupa untuk dibawa bersama.

Bertugas bersama kakak angkatan 2005 yang telah selesai dokter, Kak Fatmawati dan Kak Asmiranda benar-benar memberikan pengalaman baru. Kak Fatma yang kebetulan duduk disampingku banyak mengajarkan cara meresepkan obat (memberi ubatan), cara menggali gejala utama dari pesakit dan sebagainya. Kakak juga tidak lupa untuk menunjukkan beberapa kasus klinis (cases) daripada yang sering ditemui dimasyarakat seperti Parkinson,Sindrom nefrosis, dermatitis sebbaroid, elephant leg (cara membedakan elephant leg disebabkan nephropathy diabetes, atau filariasis atau disebabkan complication of infection. Ada banyak juga kasus (cases) penyakit mata yang ditemukan seperti ptyrigium (adanya selaput diatas anak mata) menyebabkan mata kabur dan sebagainya, katarak, dan banyak lagi.

Bermula dari jam 11 hingga hampir jam 5, kami berjaya menyelesaikan pemeriksaan kesehatan kepada 150 orang warga kampong tersebut. Hanya dengan 4 orang tenaga medis, Dr.Fatma dan Dr.Aida, diri dan Rahma, mengatasi pasien (patient) seramai itu tetap menimbulkan sedikit kelelahan namun ia amat bermakna. Selesai bertugas, kami dijamu dengan pelbagai makanan enak yang disediakan oleh tuan rumah sebagai tanda terima kasih. Waktu makan sempat lagi berkenalan dengan 2 orang apoteker (farmasis) yang sejak awal begitu cekap meracik (menyediakan) obat dan setia memenami kami bertugas di situ.

Subhanallah, walau lebih kepenatan dari hari kerja biasanya, namun merasa begitu puas hati. Kerna melakukan kerja sukarela seperti ini, diri merasa seakan kita melakukan hal yang kita inginkan.. membantu orang-orang yang tidak berupaya. Walau badan letih, namun bibir masih berukir senyum. Saat yang paling bahagia itu adalah apabila kita dapat menggunakan professional kita untuk membantu orang yang memerlukannya. Bukan hanya menggunakan professional tersebut untuk memenuhkan saku baju. Melalui program seperti ini juga kita dapat mendidik hati kita supaya lebih dekat pada orang dan menjadikan kebajikan sebagai sesuatu yang melunakakan hati kita.