
Tok..tok..tok..
Bunyi ketukan keras dari kaca poliklinik Neuro. Mata sempat mengerling jam (arloji) di dinding. 12.00am. segera menyahut ketukan tersebut.
“ Coas (dokter muda) neuro, ada konsul (pasien[pesakit] dari bagian[department] lain yang dicurigai mempunyai penyakit neurologi) CITO (memerlukan tindakan segera) di UGD (emergency).”
Segera, diri dan teman sejawat yang sama-sama bertugas hari ini, Fitrah Muhibbah, mencapai tas alat (beg kecil yang berisi alat-alat untuk melakukan pemeriksaan) dan bergegas ke UGD (ward kecemasan). Bertugas di rumah sakit perifer, Labuang Baji, membuatkan kami menjadi tempat rujukan yang pertama untuk bagian neurologi. Tambahan apabila waktu malam yang tiada dokter residen (dokter yang menjalani pendidikan spesialisasi) yang turut ada di rumah sakit (hospital).
Setiba di UGD,agak kaget melihat pasien[pesakit] yang terlantar di atas meja operasi dilumuri dengan darah yang tidak berhenti-henti keluar. Pemuda yang berusia 19 tahun tersebut batuk dan menghemburkan lebih banyak darah mewarnai lantai UGD yang putih bersih dengan warna merah pekat disertai bau amis yang khas. Wajahnya lebam. Tulang-tulang pipi kelihatan telah hancur. Luka dalam di bagian kepala(alis) menzahirkan tulang tengkorak didalam. Pemandangan yang sangat ngeri yang pertama kali kusaksikan dengan mata kepala sendiri.
Dokter bedah yang sementara menangani (merawat) pasien tersebut lantas menyapa
“Coas neuro? GCS=5,PMB, frontal fracture, suspect contusio cerebri. Sudah dikasi masuk RL (ringer lactate) 4 bag guyur , obat tahan sakit, dan Qt(kamu) yang tangani dan hubungi dokter jaganya (dokter neuro yang oncall).” kata dokter bedah tersebut sambil menaggalkan handscon (sarung tangan) dan masker (penutup mulut) tanda mahu cepat-cepat meninggalkan operation theater tersebut.
“Dok, apa yang harus kami lakukan? Baru coas minggu 1 & 2 kodong (kasian).” Mengaku jujur. Untuk menangani kasus (kes) darurat seperti ini, kami masih belum memiliki kompetensi itu.
“Ya terserah kamu ajha mau diapain pasienmu (terserah pada kamu mahu buat apa pada pesakitmu). Yang penting penanganan yang baik.” Kata dokter bedah tersenyum sinis sambil mengambil helmnya (helmet) dan pulang.
Aduh, parah. Diri dan Ibha saling memandang. Tidak tahu, mahu berbuat apa. Paling-paling kami memonitor tekanan darah dan nadinya selain hal-hal penting seperti memastikan jalan nafas baik (suction perdarahan massif yang keluar dari hidung dan mulut serta luka terbuka pada dahi pasien), sirkulasinya masih baik dan jantung masih bagus. Basic life support. Itu saja. Selebihnya kami tidak tahu. Telefon dokter jaga (oncall) juga masih tidak diangkat. Lebih 10 kali. Sms tidak berbalas. Kondisi (keadaan) tubuh pasien semakin menurun. Tekanan darah mulai turun 80/60. Hipovolemic shock!!Luka terbuka masih belum terjahit. Darah keluar darinya bagai air mengalir. Untuk menjahit luka terbuka dalam kondisi (keadaan) seperti itu masih belum yakin. Hingga tiba-tiba datang seorang dokter bedah lain yang gayanya baru selesai operasi (bedah). Dokter tersebut tanpa banyak bicara masuk dan mengarahkan agar mempersiapkan alat untuk jahitan luka (suturing) serta mengarahkan diri memeriksa tingkat kesadaran pasien (Gaslow Comma Scale, GCS). Segera, dokter memulakan suturing bagian luka terbuka yang besar di kepala pasien/pesakit. Wah, Asada Ryutaro!! Rupanya masih ada dalam dunia dokter yang peduli pada pasien/pesakit. Tidak hanya melihat pasien/pesakit sebagai objek yang diatasi sesuai dengan bidang taklukannya.
Masih menjalankan suturing. Dokter bedah tersebut kemudian berkata pada diri.
“Coas yah? Ayo sini bantu… Kalo pasiennya ada luka terbuka harus dijahit dulu dengan asumsi (assumption) kita akan mengurangi sumber perdarahannya terlebih dahulu. Jika lukanya besar seperti ini, dan darahnya tidak berhenti, jangan dulu pakai (guna) obat anestesi kerna obat anestesi biasa, ada efek anti-pembekuannya. Itu akan memperparah keadaan pasien/pesakit. Tambahan kerna pasiennya sudah syok seperti ini. Lagipula jarumnya itu pake yang kecil supaya kesannya tidak terlalu kentara didahinya. Kita kan harus juga menimbang “quality of life”nya pasien(pesakit)." Dokter tersebut menjelaskan sambil tangan tangkas menjahit luka terbuka yang lebih kurang 6-7 cm tersebut.
Diri sekadar mengangguk tanda mengerti sambil sibuk melakukan suction dan mengelap darah yang berjejeran keluar dari luka tersebut.
Setelah selesai menjalankan suturing, dokter bedah tersebut mengatur kembali aliran NaCl yang diinfus masuk ke tubuh pasien tersebut. Sepanjang 2 jam menantikan kehadiran dokter dari bagian/department neurologi, dokter bedah tersebut tetap setia dan sibuk memastikan kondisi pasien/pesakit dalam keadaan yang paling maksimal.Setelah dokter neurologi tiba, baru dokter bedah tersebut meninggalkan pasien yang gawat tersebut. Dokter neurologi tenang-tenang memeriksa reflex pupil dan pemeriksaan neurologi yang khas. Kami sempat juga diajar disitu bagaimana untuk menangani kasus(kes) emergensi seperti ini walaupun pada akhirnya pasien tersebut terpaksa dirujuk ke rumah sakit (hospital) kelas 1 (wahidin) kerana kekurangan alat (CT Scan) untuk dilakukan pemeriksaan lantaran dicurigai Contusio Cerebri (cedera organic pada otak akibat trauma).

Waw...Serunya ceritanya! Masya Allah, sangat berat memang tanggung jawab yang dipikul oleh seorang dokter. Semoga dapat terus belajar dan memberikan manfaat bagi ummat yah kak!
Eh, salam sama Ibha.. :D
iya diena.. begitulah.. semakin hari menempuh kehidupan semakin banyak tanggungjawab yang tergalas di bahu.. sungguh diri ini tidak mampu menghadapinya kecuali dengan bantuan Allah SWT yang Maha Kuasa.. makasih doax diena.. insyaAllah sudah saya sampaikan salamta ama Ibha..