Minggu ke-3 department Neurology. Diri bersama Amalia Kurnia Ekasari dan Permata Nila ditugaskan ke Rumah Sakit Tentera (Wirabuana) yang terletak di Kerebosi, Rumah Sakit Pelamonia. Hari pertama mendaftar. Kami disambut oleh Colonel Abd Azis yang bertanggungjawab terhadap koas (clinical student) dari bagian pendidikan. Sepanjang perjalanan ke pejabat (kantor) Col.Abd Aziz, kami diiringi oleh beberapa orang tentera yang berwajah dingin dan lengkap berseragam dan bersenjata. Ah, menakutkan! Terasa seperti dibangku orang bersalah juga ada.
Tiba dipejabat (kantor) colonel, kami diberi sedikit penerangan tentang sejarah dan prestasi Rumah Sakit Pelamonia dan peraturan yang harus kami penuhi sepanjang kami berada di sini. Melalui penjelasan Colonel juga, diri dapat memahami betapa kedisiplinan itu dijunjung tinggi dan sikap ramah dan mesra sangat dituntut di Rumah Sakit ini. Sebelum bersurai (selesai), kami diarahkan untuk melapor pada dr.Artha Bayu Sp.S selaku pakar (specialist) Neurology (neurologist) yang bertanggungjawab penuh pada seluruh department Neurology di RS Pelamonia ini besoknya.
Hari kedua di rumah sakit tentera. Berangkat dari Rusun selesai subuh. Seawal jam 5.15 pagi. Mentari masih bersemayam di balik awan tebal. Fajar masih belum terbit dengan semburat cahayanya. Tiba di hospital (RS) jam 6.00 am. Lansung bergegas ke ward (bangsal) untuk follow up pagi. Maklum saja di bagian neurologi, kami bukan sekadar dituntut untuk menjalankan follow up tanda vital pada jam follow up pagi, tapi juga pemeriksaan neurologis yang khas seperti pergerakan, kekuatan dan tonus otot, reflex fisiologis dan patologis, fungsi otonom (autonomic function) dan juga pemeriksaan nervus cranialis (cranial nerve examination). Yang seorang penderita dapat memakan masa 8-10 menit pemeriksaan lengkap. Sedangkan dokter resident akan memulai follow up paginya jam 7 pagi. Satu ward (bangsal) pula memiliki 6-7 orang penderita. Dikalikan dengan 5 ward (Akasia, Asoka, Angeliar, Melati, Mawar).
Walau paginya agak tegang dengan wajah cemberut dan marah-marah tidak jelas dokter residen senior di ward (bangsal), namun setelahnya hati kembali terpujuk saat menghadap dr.Artha Bayu, SpS. Kehalusan budi pekerti dan kesantunan bahasanya menciptakan suasana kerja yang harmonis dan cukup santai. Dr. Bayu adalah seorang dokter militer yang direkrut berkhidmat dengan Wirabuana sejak mengikuti pelatihan militer setelah tamat pendidikan dokter umum beberapa belas tahun yang lalu. Setelah itu beliau dibiayai untuk melanjutkan kuliah specialist dan hingga sekarang beliau berkhidmat dengan militer. Melalui hari-hari dibawah didikan dr.Bayu benar memberikan impak yang tersendiri. Bukan sekadar pelajaran neurology yang diajarkan bahkan masalah etika, perilaku, disiplin dan hubungan dokter-pasien.
Pernah menemani dr.Bayu di kliniknya (praktek) pada malam hari [kebetulan oncall/jaga]. Dokter banyak bercerita masalah halal haramnya rezeki yang dicari dan diraih, tentang bagaimana hati itu sebenarnya harus dilunakkan dengan banyak bersedekah, merasai kesusahan orang lain, dan berbagi-bagi. Dokter juga banyak bertanya tentang kehidupanku di Malaysia. Tentang keluarga, biaya pendidikan dan sebagainya. Banyak lagi hal yang menjadi topik perbincangan seperti issue ketenteraan (militer), pengalaman-pengalam hidupnya yang bisa dijadikan pengajaran dan pelajaran.
Sejak hari itu, setiap kali ketemu pasti dr.Bayu akan menyebut namaku dan mengajarkan hal-hal yang baru tentang neurology. Dari skill nya dr.Bayu membina hubungan dengan orang di sekitarnya termasuklah petugas lab, perawat, penderita, dan keluarga penderita membuatkan dr.Bayu cukup disenangi dan dihormati orang semua orang dihospital (RS) tersebut. Belum lagi contoh teladan yang beliau berikan secara lansung dan tidak lansung contohnya koas follow up pagi jam 6 pagi sedangkan dr.Bayu (supervisor) visite jam 6.30am. sama pagi dengan koas, sebelum datangnya residen.
Teringat salah satu kata-kata beliau:
“ Seorang dokter harus siap melayani pasien dalam sebarang kondisi. Layanilah mereka sama sepertimana kita ingin keluarga kita dilayani sementara sedang sakit dan sama seperti mana kita ingin diri kita dilayani saat kita jatuh sakit. Anda adalah asset saya, maka saya mengajarkan anda semaksimal mungkin yang saya mampu, agar suatu hari nanti, anda akan menjadi seorang dokter yang lebih baik dari saya. Dan jika suatu hari nanti saya jatuh sakit, andalah.. yang akan saya percayakan untuk merawat saya..”
Dokter residen yang pada awalnya garang (galak) juga pada hari kedua dan berikutnya tidak lagi marah-marah setelah melihat tingkah laku kami dan kesungguhan kami dalam menjalankan tugas. Bahkan dialah yang mengajar kami banyak hal yang tidak kami fahami. Dan apa yang paling terkesan saat dia mulai berbagi kue saat minum pagi yang memang disediakan untuk para dokter serta membelikan kami minuman setelah selesai visite. Dari situ diri mempelajari bahawa sebenarnya yang paling penting saat berhadapan dengan dokter adalah sikap (sopan, ingin belajar, bertanya,rajin menjalankan tugas) pengetahuan dan juga kemahiran kita (attitude,knowledge and skill). Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari sekali pandang dan terus menghukum tanpa kita benar-benar mengenali orang tersebut. ^_^
Hari kedua di rumah sakit tentera. Berangkat dari Rusun selesai subuh. Seawal jam 5.15 pagi. Mentari masih bersemayam di balik awan tebal. Fajar masih belum terbit dengan semburat cahayanya. Tiba di hospital (RS) jam 6.00 am. Lansung bergegas ke ward (bangsal) untuk follow up pagi. Maklum saja di bagian neurologi, kami bukan sekadar dituntut untuk menjalankan follow up tanda vital pada jam follow up pagi, tapi juga pemeriksaan neurologis yang khas seperti pergerakan, kekuatan dan tonus otot, reflex fisiologis dan patologis, fungsi otonom (autonomic function) dan juga pemeriksaan nervus cranialis (cranial nerve examination). Yang seorang penderita dapat memakan masa 8-10 menit pemeriksaan lengkap. Sedangkan dokter resident akan memulai follow up paginya jam 7 pagi. Satu ward (bangsal) pula memiliki 6-7 orang penderita. Dikalikan dengan 5 ward (Akasia, Asoka, Angeliar, Melati, Mawar).
Walau paginya agak tegang dengan wajah cemberut dan marah-marah tidak jelas dokter residen senior di ward (bangsal), namun setelahnya hati kembali terpujuk saat menghadap dr.Artha Bayu, SpS. Kehalusan budi pekerti dan kesantunan bahasanya menciptakan suasana kerja yang harmonis dan cukup santai. Dr. Bayu adalah seorang dokter militer yang direkrut berkhidmat dengan Wirabuana sejak mengikuti pelatihan militer setelah tamat pendidikan dokter umum beberapa belas tahun yang lalu. Setelah itu beliau dibiayai untuk melanjutkan kuliah specialist dan hingga sekarang beliau berkhidmat dengan militer. Melalui hari-hari dibawah didikan dr.Bayu benar memberikan impak yang tersendiri. Bukan sekadar pelajaran neurology yang diajarkan bahkan masalah etika, perilaku, disiplin dan hubungan dokter-pasien.
Pernah menemani dr.Bayu di kliniknya (praktek) pada malam hari [kebetulan oncall/jaga]. Dokter banyak bercerita masalah halal haramnya rezeki yang dicari dan diraih, tentang bagaimana hati itu sebenarnya harus dilunakkan dengan banyak bersedekah, merasai kesusahan orang lain, dan berbagi-bagi. Dokter juga banyak bertanya tentang kehidupanku di Malaysia. Tentang keluarga, biaya pendidikan dan sebagainya. Banyak lagi hal yang menjadi topik perbincangan seperti issue ketenteraan (militer), pengalaman-pengalam hidupnya yang bisa dijadikan pengajaran dan pelajaran.Sejak hari itu, setiap kali ketemu pasti dr.Bayu akan menyebut namaku dan mengajarkan hal-hal yang baru tentang neurology. Dari skill nya dr.Bayu membina hubungan dengan orang di sekitarnya termasuklah petugas lab, perawat, penderita, dan keluarga penderita membuatkan dr.Bayu cukup disenangi dan dihormati orang semua orang dihospital (RS) tersebut. Belum lagi contoh teladan yang beliau berikan secara lansung dan tidak lansung contohnya koas follow up pagi jam 6 pagi sedangkan dr.Bayu (supervisor) visite jam 6.30am. sama pagi dengan koas, sebelum datangnya residen.
Teringat salah satu kata-kata beliau:
“ Seorang dokter harus siap melayani pasien dalam sebarang kondisi. Layanilah mereka sama sepertimana kita ingin keluarga kita dilayani sementara sedang sakit dan sama seperti mana kita ingin diri kita dilayani saat kita jatuh sakit. Anda adalah asset saya, maka saya mengajarkan anda semaksimal mungkin yang saya mampu, agar suatu hari nanti, anda akan menjadi seorang dokter yang lebih baik dari saya. Dan jika suatu hari nanti saya jatuh sakit, andalah.. yang akan saya percayakan untuk merawat saya..”
Dokter residen yang pada awalnya garang (galak) juga pada hari kedua dan berikutnya tidak lagi marah-marah setelah melihat tingkah laku kami dan kesungguhan kami dalam menjalankan tugas. Bahkan dialah yang mengajar kami banyak hal yang tidak kami fahami. Dan apa yang paling terkesan saat dia mulai berbagi kue saat minum pagi yang memang disediakan untuk para dokter serta membelikan kami minuman setelah selesai visite. Dari situ diri mempelajari bahawa sebenarnya yang paling penting saat berhadapan dengan dokter adalah sikap (sopan, ingin belajar, bertanya,rajin menjalankan tugas) pengetahuan dan juga kemahiran kita (attitude,knowledge and skill). Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari sekali pandang dan terus menghukum tanpa kita benar-benar mengenali orang tersebut. ^_^
0 ulasan:
Catat Ulasan