Skinpress Rss

Isnin, 6 Jun 2011

FOLLOW UP

0


Menjadi rutinitas saat jaga (oncall) untuk follow up pasien (patient) yang dianggap berada dalam keadaan kritis.

Sepanjang minggu pertama di bagian (department) Neurology, Rumah Sakit Wahidin S. diri dipertanggungjawabkan untuk menjaga 1 kamar di bangsal (ward) yang di dalamnya terdapat 6 orang pasien (pesakit). Seorang masuk dengan hemiparese (lumpuh separuh badan) diakibatkan komplikasi penyakit metabolic, (DM dan hypertension). Di sebelahnya pasien dengan suspect metastasis tumor abdomen et medulla spinalis (paraparese), lemah separuh bawah badan, sebelahnya lagi pasien post stroke (non-hemorrhagic stroke) hemiparesis, pasien dengan hemiparesis NHS dengan suspect malaria. Dengan catatan HBs Ag (+) [hepatitis B@ penyakit menular yang sangat menggerunkan], pasien dengan contusio cerebri (trauma pada otak kerna dijatuhi buah kelapa), dan pasien decubitus (luka pada tulang belakang akibat terlalu lama berbaring) kerna post hemorrhagic stroke.

Yang di follow up Cuma 2 orang dari kamar tersebut yaitu pasien dengan suspect malaria dengan catatan tekanan darah semakin meningkat dan suhu melebihi 40 derajah celcius, dan juga pasien dengan dengan trauma vertebra dengan keluhan melena (buang air besar disertai darah beku yang sedang diterapi dengan memberikan blood transfusion, Packed Red Cell 2 bag) yang dikhawatiri akan menimbulkan komplikasi. Kedua pasien ini harus di follow up per jam.

Malam semakin larut. Rasa pegal-pegal badan juga mulai terasa akibat seharian berlari-lari menjawab konsul (pasien/pesakit dari department lain yang dirujuk ke bagian neurologi atas alasan tertentu) yang mana tempat keberadaan pasien jauh antara satu sama lain. Jaga (oncall) siang malam, 12 jam amat menguji stamina diri. Namun mata tidak boleh lelap. Harus bertahan untuk pasien (pesakit) yang perlukan perawatan yang intensif.

Jam 1 pagi. Memasuki kamar 6 (bilik perawatan 6) untuk follow up yang ke seterusnya, selesai melakukan follow up, seorang ibu menyapa,

“Doc, bisa ditensi Pak Juma juga doc (boleh tak periksa juga tekanan darah Pak Juma)?” isteri Pak Juma yang mungkin dari tadi hanya memerhatikan diri yang bolak balik memeriksa 2 pasien (pesakit) yang gawat tersebut meminta.

“Oh iyek ibu..” diri hanya menyetujui memandangkan waktu larut malam seperti ini, tidak ada juga hal yang terlalu menyibukkan melainkan follow up dan belajar. Dan pasien adalah guru terbaik untuk mempelajari sesuatu penyakit.

Sambil menensi (mengukur tekanan darah) sambil menanyakan ibu tentang keluhan (chief complaint) yang dialami oleh Pak Juma. Mulalah sang ibu menggali semula peristiwa dari awal sakitnya bapak sambil ditambah juga oleh bapak tentang apa yang dirasai dan gejala apa saja yang dialaminya. Dari cerita penyakit beralih ke cerita lain berkaitan kampungnya, keluarga dan keadaan ekonomi keluarganya. MasyaAllah dari sini baru mulai merasai bahawa kita sebenarnya terlalu sibuk dalam keseharian kita untuk mengerjakan banyak hal seperti mengisi status untuk case-discussion, follow up, bedside teaching, visited an sebagainya hingga terkadang lupa untuk menitikberatkan soal menjalin hubungan yang baik antara dokter-pasien. Dan merawat pasien bukan hanya susp metastasis tumor abdomen ke Medulla Spinalis sahaja namun untuk merawat pasien secara holistic termasuklah psikologi dan emosinya.

Setelah selesai memeriksa tekanan darahnya Pak Juma, ibu yang disebelahnya pula meminta supayadiperiksa tekanan darah pasien yang dirawat. Dan begitulah seterusnya hingga keenam-enam pasien yang ada dikamar tersebut semua diperiksa dan sempat berkenalan dengan lebih dalam hingga jam menunjukkan angka 3. Rupanya, pasien dikamar tersebut semua memerlukan perhatian dari diri selaku dokter muda yang bertanggungjawab ke atas kamar (ward) tersebut. Mereka ingin mengenali diri dengan lebih dekat dan membina hubungan yang baik dengan diri. Alhamdulillah malam ini dapat memenuhi hajat mereka semua dan ikhlas, banyak hal yang diri pelajari dari mereka. Baik dari segi ikatan kekeluargaan, pengorbanan dan semangat mereka untuk terus bertahan hidup.

Benarlah terkadang kita harus agak melonggarkan diri kita daripada buku dan semua teori kedokteran (perubatan) yang menyesakkan kepala, sebaliknya belajarlah dari pasien yang benar-benar mengalami dan binalah hubungan yang baik dengan mereka. Menjadi seorang dokter bukanlah menjadi mesin yang tidak punya hati namun sebaliknya menggunakan peluang dan kepakaran untuk lebih bisa membagi peduli dan berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih baik

0 ulasan:

Catat Ulasan