
Jaga malam (oncall) keempat malam ini. Pengalaman baru apabila diri dan Amel harus menjaga (standby) di UGD (unit gawat darurat/emergency) walhal kami masih bergelar koas Minggu Satu (clinical student minggu 1/baru). Dan Alhamdulillah sepanjang giliran kami jaga (standby) di situ, tiada kasus (kes) yang benar-benar gawat (emergency) hingga memaksa kami ke jalan buntu. Paling-paling yang kami terima adalah pasien (pesakit) Gullian Barre Syndrome yang memiliki ciri khas dan tidak susah untuk menegakkan diagnosisnya.
Pas jam 9 lewat, (9.30 malam) kembali lagi menjaga bangsal (ward). Seperti biasa, masih lagi follow up. Tiba-tiba seorang ibu dari kamar 6 datang dan menghulurkan 1 kantongan plastic. Ibu ini adalah isteri kepada salah satu pasien yang dirawat dengan non-hemorrhagic stroke et susp. Malaria. Asal dari Palopo (suatu kota yang terletak 8 jam perjalanan menaiki mobil/kereta dari Makassar). Ibu membuka usaha sendiri di Palopo begitu juga bapak yang sekarang terlantar lemah diranjang rumah sakit. Sudah 2 minggu lebih bapak dalam kondisi seperti ini, namun ibu dan keluarga tetap sabar merawatnya. Bayangkan lebih dua minggu ibu dan anak-anak tidur dilantai rumah sakit beralaskan kain tipis dan menjadi tempat laluan umum, hidup mereka berantakan namun masih bisa mengulum senyum, menyambut dokter dan suster (perawat/nurse) yang datang memeriksa.

Diri agak-agak kaget namun tetap menyambut bungkusan yang dihulurkan sambil bertanya
“Apa ini ibu?” dalam fikiran terbayang obat apa yang dibeli ibu hingga sebanyak ini.. [catatan: biasanya keluarga pasien/pesakit sendiri yang membeli obat dan menyerahkannya kepada dokter/perawat untuk ditindak lanjuti].
“Oh itu makanan dari Palopo dok. Ama buah-buahan dikit. Untuk qt (kamu). saya liat dokter di sini terus rawat pasien, pasti nda (tidak) sempat makan toh..” wah terharunya. Begitu perhatiannya ibu sedangkan diri sendiri tidak perasan kalau sudah makan atau belum hari ini.
“Nda usahmi repot2 ibu..( jangan susah-susah)” merasa tidak enak untuk menerima pemberian ibu.
“Ambilmi doc. Yang namanya rejeki itu lebih berkah bila dibagi-bagi. Lagi pula qt(kamu) yang banyak membantu sejak bapak di sini. Doc, saya lebih senang hati kalo qt (kamu) bisa terima. Anggaplah sebagai ucapan terima kasih atas layananta’ (layananan yang diberikan) sepanjang kami disini.” ibu masih mendesak. Walau masih berat hati tetap menerima pemberian ibu tersebut.
MasyaAllah terharunya. Meskipun diri sebenarnya tidak melakukan apa-apa melainkan follow up tanda vital (tekanan darah [blood pressure], nadi, pernafasan dan suhu) tapi itu ternyata amat dihargai oleh ibu. Muhasabah diri kembali, terkadang melakukan follow up atas dasar tanggungjawab yang wajib dilaksanakan. Terlupa untuk menyertakan hati didalam mengerjakannya. Terlupa untuk menyelipkan rasa kasihan dan ingin mendoakan semoga pasien/pesakit cepat sembuh..
Semoga nilai dari peduli dan kasih sayang yang terkandung dalam “ole-ole” pemberian ibu itu akan menjadi motivasi dan peringatan agar diri lebih berhati-hati dan ikhlas dalam menjalankan tugas. Ia juga menjadi salah satu pelajaran penting dalam siri pembentukan diri membina peribadi sebagai seorang dokter di masa akan datang.

0 ulasan:
Catat Ulasan