Skinpress Rss

Ahad, 30 Disember 2012

MOUNTAIN HIKE

0



Akhir-akhir ini hiking atau panjat gunung kembali menjadi suatu hal yang fenomenal di kalangan muda mudi. Sukan mendaki gunung adalah salah satu aktiviti rekreasi yang mencabar. Mereka melihat sukan ini sebagai salah satu cabang untuk menyihatkan badan di samping mempunyai beberapa kelebihan tersendiri.
Sedari dulu, diri tidaklah termasuk dalam kalangan orang yang suka mendaki gunung. Namun kerna tiap kali cuti sekolah, ayah dan ummi akan menghantar diri ke kem-kem kerohanian, yang mana salah satu tentative wajibnya adalah “jungle trekking/hiking/dsb” hingga diri terbiasa dengan sukan lasak itu bahkan lama kelamaan menunbuhkan cinta pada aktivitas ini.

Pada mulanya diri tidak mengerti apa gunanya aktivitas ini dijalankan.. bersusah payah mengharung bahaya, mehnah dan tribulasi mendaki, sampai dipuncak, duduk-duduk, foto-foto, mendengarkan sedikit tazkirah dan menikmati sedikit makanan kemudian turun lagi dengan segala susah payah. Aneh rasanya mendaki hanya untuk mengundang sekelumit puas pada rasa. Padahal banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menghasilkan euphoria yang sama.

Tapi pada suatu hari tidak lama sewaktu diri berada di bangku Senior High School, diri pernah berjalan-jalan di pantai bersama ayah tercinta. Kerna kebetulannya disitu ada Bukit Keluang yang tersergam indah, kami memutuskan untuk mendaki ke atas. Dalam pendakian kami, ayah bercerita..

“Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jika kita mengambil setiap perjalanan tarbawi kita ini sebagai suatu didikan, maka kita akan mendapati bahawa alam juga adalah guru kita. kakak tahu kenapa dalam tiap kem, pakcik-pakcik menyediakan tentative trekking/hiking?kerna trekking/hiking ini adalah padang latihan bagi melatih dan membina kekuatan dari tiga fakulti insane yang utama yaitu jasmani, mental dan rohani bagi membentuk modal insan yang berkualiti tinggi selari dengan apa yang telah digariskan oleh Islam seterusnya melahirkan generasi pewaris yang seimbang.

Kenapa kita memberi anak-anak ruang untuk dekat dengan alam? Supaya anak-anak bisa merasai sendiri kedamaian alam. Melihat fajar saat ia terbit dikaki langit, merasai dinginnya air sungai yang mencucuk tulang belulang. Melihat flora dan fauna yang tersimpan dibalik hutan yang melindungi. Melihat hamparan pantai dari atas laut. Semua itu tanda kebesaran Allah SWT yang menciptakan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang belayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu DIA hidupkan bumi setelah mati (kekeringan) dan DIA sebarkan dibumi itu segala jeneis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda keEsaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan”
 [Al-Baqarah:164]

“Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?”
(Q.S. An-Nabaa 78:6-7)

Begitu kata ayah sewaktu itu. Membuat diri kembali membaca-baca fungsi gunung sebagai pasak bumi seperti yang ayah katakan. Membuat diri mengerti bahwa kita hiking bukan saja-saja. Tanpa tujuan seperti orang lain pergi hiking. Tapi kita hiking untuk melihat bukti kekuasaan Allah.
Dan sekarang, keinginan untuk pergi hiking itu datang lagi. Setelah 6 tahun meninggalkan aktivitas itu. Maklum, sejak bersekolah di sekolah perubatan ini, jarang benar punya peluang mengikuti aktivitas seumpama itu lagi hingga diri kembali mencari-cari catatatan perjalanan dulu buat dibaca ulang. Tentang Gunung Sebagai Pasak Bumi.

Sepanjang sejarah, manusia selalu terpana oleh tinggi dan besarnya gunung. Mereka menganggap gunung adalah tempat suci, tempat bersemayam Tuhan. Orang Jepang mensakralkan Gunung Fuji. Dewa-dewi orang Yunani tinggal di Gunung Olympus.
Pegunungan Himalaya merupakan tempat dewanya orang India dan Tibet. Gunung Merapi dianggap angker oleh orang Yogyakarta. Gunung Bromo merupakan kahyangan penduduk Tengger. Gunung Agung tempat dewanya orang Bali. Semua mengaiskan gunung pada fungsi mistik supranatural. Hanya Islam yang menempatkan kembali fungsi gunung secara ilmiah.

Dalam Al Quran kita temukan kata gunung sebanyak 49 kali. Di antaranya, 22 ayat menyebutkan fungsi gunung sebagai pasak atau tiang pancang.
Pasak atau paku besar merupakan benda yang menancap ke dalam. Artinya, kepala pasak yang tampak di luar selalu jauh lebih pendek dibanding panjangnya pasak yang terhunjam.

Ketika agama-agama primitif selama ribuan tahun hanya takjub pada ketinggian gunung, Al-Quran mementahkan kekaguman sesat mereka itu. Ternyata bukan tingginya, tetapi kedalaman akar gunung yang menghunjam sampai 15 kali lipat dari tinggi di atas permukaan bumi, itulah yang lebih dahsyat.
Al-Quran menegaskan bahwa fungsi gunung adalah pasak bumi yang memancang ke bawah tanah dengan kokoh. Itu adalah sebuah konsep tentang gunung yang sangat mutakhir dan baru dikenal. Baru 20 tahun yang lalu para ahli geofisika menemukan bukti bahwa kerak bumi berubah terus. Ketika itu baru ditemukan teori lempeng tektonik (plate tectonics) yang menyebabkan asumsi bahwa gunung mempunyai akar yang berperan menghentikan gerakan horisontal lithosfer.

"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi tidak goncang bersama kamu,..."
 (QS. An-Nahl (161: 15)

Rasulullah SAW. bersabda, "Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi bergoyang dan menyentak, lalu Allah menenangkannya dengan gunung." Bagaimana mungkin Nabi SAW. yang buta huruf dan hidupnya di abad ke-6 di tengah masyarakat padang pasir, bisa mengetahui tentang gerakan horisontal lithosfer humi yang berfungsi menstabilkan goncangan? Subhanallaah.

Memang, sejak tahun 1620-an, para ilmuwan seperti Francis Bacon dan RPF Placer dari Prancis mengamati kemungkinan bahwa dahulu benua Amerika, Eropa, dan Afrika pernah menyatu. Pada 1858, Antonio Snider mengemukakan konsep Continental Drift, mengambangnya benua-henua. Kemudian menurut ahli geologi Austria, Eduard Suess, semua benua dulunya memang menjadi satu, diberi nama Godwanaland. Sedangkan ilmuwan Jerman, Alfred Wegener menamakannya Pangea.

Pada awal abad ke-20 seorang ilmuwan Jerman Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi. Namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915 menyatakan sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea, terletak di kutub selatan. Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk setelah terbelahnya Pangaea bergerak di permukaan bumi secara terus menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di bumi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980 yakni setelah 50 tahun kematiannya. Pergerakan kerak bumi ini ditemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di abad ke-20. Namun, teori-teori itu belum mendapatkan pengesahan, sampai tahun 1960-an saat ditemukannya bukti-bukti meyakinkan hahwa benua-benua memang bergerak.

Kecepatan pergerakan itu 1 cm per tahun di Laut Arktik, 6 cm per tahun di khatulistiwa, sampai 9 cm per tahun di jalur pegunungan. Dan itu adalah 1400 tahun setelah Al-Quran memberitahukan tentang konsep gunung kepada manusia! Allaahu Akbar

Teori lempeng tektonik menyebutkan bahwa kulit bumi herupa 12 lempeng lithosfer setebal 5 sampai 100 km mengapung di atas substratum plastis (astenosfer), yang tebalnya sampai 3000 km. Lempengan itu bergerak secara horisontal dan saling bertabrakan dari waktu ke waktu dan terlipat ke atas dan ke bawah, melahirkan gunung-gunung.

Misalnya, tabrakan lempeng India dan lempeng Eurasia menghasilkan formasi rantai pegunungan Himalaya dengan puncak tertingginya Gunung Everest dgn ketinggian 8,848 km, terbentuk mulai 45 juta tahun yang lalu. Pose akhir terbentuknya glinting ditandai dengan akar yang jauh menancap ke dalam bumi. Hal ini menyebabkan melambatnya pergerakan lempeng lithosfer.

ltulah fungsi gunung. Tanpa gunung, gerakan lithosfer akan lebih cepat dan tabrakan antar lempeng akan lebih drastis dan mungkin membahayakan kehidupan.
Terdapat fakta yang menakjubkan bahwa ternyata gunung-gunung tersebut adalah laksana pasak yang menjaga stabilitas daratan dari pergerakan lempeng bumi yang massif. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip dibawah lempengan yang satunya, sementara yang diatas melipat dan membentuk dataran tinggi. Lapisan bawah bergerak dibawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah.

Gunung adalah lapisan yang melipat dan membentuk dataran tinggi. Dan gunung selalu mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung-gunung menggengam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, gunung memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing diatas lapisan magma atau diantara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Fungsi pemancangan dari gunung disebut dengan istilah "isostasi".

Jumaat, 28 Disember 2012

AUTOPSY PERTAMA

4



Mendapat sms dari teman-teman minggu 3 yang sekarang bertugas di RS Bhayangkara atau RS Polisi yang terletak di Mapaodang. Katanya ada Autopsi di sana jam 1 siang nanti. Bagi ko-ass di bagian Forensik, kami diwajibkan untuk mengikuti sekurang-kurangnya 1 autopsi sepanjang berada dalam kepanitraan ini. Jadi semua ko-ass forensic  akan mengikuti dan mencatat proses dan penemuan dari autopsy yang dijalankan.

Otopsi (juga dikenal pemeriksaan kematian atau nekropsi) adalah investigasi medis jenazah untuk memeriksa sebab kematian. Kata "otopsi" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "lihat dengan mata sendiri". "Nekropsi" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "melihat mayat". Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atau penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.

Berdasarkan tujuannya, otopsi terbagi atas :
Otopsi Anatomi, : dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas kedokteran. Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit yang setelah disimpan 2 x 24 jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman tidak ada ahli waris yang mengakuinya. Setelah diawetkan di laboratorium anatomi, mayat disimpan sekurang-kurangnya satu tahun sebelum digunakan untuk praktikum anatomi. Menurut hukum, hal ini dapat dipertanggungjawabkan sebab warisan yang tak ada yang mengakuinya menjadi milik negara setelah tiga tahun (KUHPerdata pasal 1129). Ada kalanya, seseorang mewariskan mayatnya setelah ia meninggal pada fakultas kedokteran, hal ini haruslah sesuai dengan KUHPerdata pasal 935.

Otopsi Klinik,:  dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti, menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, pathogenesis penyakit, dan sebagainya. Otopsi klinis dilakukan dengan persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya ahli waris sendiri yang memintanya.

Otopsi Forensik/Medikolegal,:  dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara. Tujuan dari otopsi medikolegal adalah :

  • Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas.
  • Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian.
  • Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan.
  • Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum.
Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah temuan obyektif pada korban, yang diperoleh dari pemeriksaan medis.
Tiba di RS Bhayangkara jam 12.45 siang. Habis solat Jumat. Semua ko-ass kelihatannya sibuk mengurus perlengkapan yang diperlukan. Operator untuk autopsy kali ini akan dikendalikan oleh ko-ass minggu 3 yang bertanggungjawab.

Masuk ke kamar bedah mayat. Rasa sedikit berbeda. Teruja dan tegang kerna pertama kali akan menyaksikan proses otopsi medikolegal yang selama ini hanya dilihat lewat tontonan video dan sebagainya. Jenezah seorang laki-laki yang sudah kelihatan membiru akibat lebam mayat (Livor Mortis) seperti wajah dan belakang tubuhnya.  Jenazah ini ditemukan di Gowa. Tergantung di sebuah pohon jambu mante dikebun warga. Sewaktu ditemui, mayat sudah berusia beberapa hari hingga mengeluarkan aroma gas yang khas dan busuk.  Mengikut siasatan yang dijalankan oleh pihak polisi, mayat ini dipercayai dibunuh sebelum digantung di pohon tersebut. Makanya mereka meminta pihak kedokteran polisi menjalankan otopsi medikolegal untuk mencari bukti.

Dr.Eko, dokter polisi yang bertanggungjawab pada kasus ini masuk. Lengkap dengan pakaian dan apron serta sarung tangan panjang.masuk ke ruangan. Beliau memberikan peluang kepada ko-ass yang mahu ikut membantu untuk menjalankan otopsi tersebut. Pastilah Hana yang paling pertama bersemangat. Apalagi memang minggunya yang bertanggungjawab sebagai operator. Hafiz  dan Gopi juga masuk membuat diri terfikir, jika bukan sekarang kapan lagi ada peluang untuk melakukan otopsi. Antara takut dan mahu, akhirnya diri memilih “ON” juga. Pengalaman sekali seumur hidup mungkin.
Inti dari bedah otopsi medikolegal terletak pada pemeriksaan dalam yang dilakukan berbeda pada korban hidup yang hanya dilakukan pemeriksaan luar.

Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut ini :

Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai prosesus xifoideus kemudian 2 jari paramedian kiri dari puat sampai simfisis, dengan demikian tidak perlu melingkari pusat.
Insisi Y, merupakan salah satu tehnik khusus otopsi dan akan dijelaskan kemudian.
Insisi melalui lekukan suprastenal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan suprasternal ini dibuat sayatan melingkari bagian leher.

Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati dan dicatat :
  1. Ukuran : Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur. Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas inferior organ. Organ hati yang mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran.
  2. Bentuk.
  3. Permukaan : Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang lembut, berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika terdapat penebalan, permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan.
  4. Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut.
  5. Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu. Caranya dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada saat ditarik. Jaringan yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi yang rendah sedangkan jaringan yang susah menunjukkan kohesi yang kuat.
  6. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur permukaan penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ tubuh adalah keabu-abuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah yang terdapat pada organ tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak, lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen bisa merubah warna organ. Warna yang pucat merupakan tanda anemia.
Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan khusus juga bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian
Otopsi berjalan selama 3 jam lebih. Dengan bau keras yang kami semua dilarang memakai masker. Belajar bertahan dengan bau kurang enak. Dan mencari penyebab kematian sedetail mungkin. Salut dengan Hana yang perkasa yang tidak teragak-agak untuk mengambil tindakan. Dan Hafiz yang bersungguh-sungguh hingga akhir.

Melihat sekujur tubuh yang terbaring, dibuka dan dinilai organ-organnya seperti tiada arti. Insaf melihat betapa sebenarnya yang paling berharga pada diri manusia itu adalah bagaimana mereka sewaktu hidupnya. Apa yang mereka kerjakan yang menbedakan anatara satu individu dengan yang lainnya. Kerna saat kematian menjemput. Tubuh kita tidak bernilai sedikit pun kecuali amalan kita yang diangkat sebagai ibadah terhadapNya..

Khamis, 27 Disember 2012

GAUDEAMUS IGITUR

0




Graduasi adikku Aine Rain..

Alhamdulillah adikku akan melangkah setapak lebih ke depan dalam dunia koass. Semoga ia menjadi pembakar dan pemangkin semangat untuk terus maju..

Adikku pernah bertanya tentang lagu yang sering dinyanyikan dalam baruga saat upacara graduasi dilaksanakan. Mungin diri bisa berkongsi sedikit tentang lagu ini.

De Brevitate Vitae (Dalam Singkatnya Kehidupan), atau lebih dikenal dengan judul Gaudeamus igitur ("Karenanya marilah kita bergembira") adalah lagu berbahasa Latin yang merupakan lagu komersium akademik dan sering dinyanyikan di berbagai negara Eropa. Di negara-negara Barat, lagu ini dinyanyikan sebagai anthem dalam upacara kelulusan. Melodi lagu ini terinspirasi oleh lagu abad pertengahan, bishop of Bologna ciptaan Strada. Gaudeamus ini pada zaman dahulu di jerman merupakan lagu perjuangan kebebasan akademi.

Liriknya sendiri mencerminkan semangat para pelajar yang tetap semangat meskipun dengan pengetahuan bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan mati, seperti terangkum dalam bait pertama pada baris ke-4 dan yang lebih diperjelas lagi pada isi bait ketiga, yang mengandung arti kesadaran akan dekatnya kematian dengan kehidupan manusia di bumi ini.

Dengan demikian bukanlah sebuah 'ajakan' untuk hidup dalam hedonisme seperti yang sering dituduhkan, hal ini dapat dilihat dari bait kedua dari stanza ini yang secara tersurat dan tersirat berisi pengakuan akan keberadaan alam lain setelah kematian yaitu surga dan neraka
Meskipun sering dipakai sebagai 'lagu pembuka' acara, lagu ini sendiri bukan dimaksudkan untuk mabuk-mabukan namun lebih kepada perayaan atas segala keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang, misalnya berhasil menyelesaikan pendidikan. Itulah sebabnya Gaudeamus igitur banyak dipakai di hampir seluruh universitas di dunia dalam acara wisuda.

De Brevitate Vitae dikenal dengan sebutan "Gaudeamus igitur" atau "Gaudeamus", yang merupakan kata pembuka lagu ini. Di Britania Raya, lagu ini juga dikenal sebagai The Gaudie.
Di negara-negara seperti Italia, Jerman, Belanda, dan Swiss, lagu ini juga sering dinyanyikan sebelum acara minum (bir) bersama untuk merayakan kelulusan. Di negara Belgia dan Belanda, dimana aktivitas minum sambil bernyanyi dianggap lazim, lagu ini menjadi salah satu lagu yang sering dinyanyikan sebagai 'lagu pembuka' acara pada pesta para pelajar.

Tidak diketahui sejak kapan lagu ini menjadi pengiring 'pesta-pesta' tersebut, namun seringkali karena lagu tersebut merupakan lagu yang membuat mereka mengenang akan masa-masa sekolah dan kuliah menjadi alasan lagu tersebut selalu dipilih dalam menemani acara minum.
Kebiasaan ini berkaitan erat dengan acara minum bersama pada malam hari setelah acara kelulusan, setelah sekian lama mengikuti kegiatan akademis yang melelahkan, dan para pelajar tersebut mengulangi lagu Gaudeamus igitur yang dinyanyikan sebelumnya oleh paduan suara Universitas untuk merayakan keberhasilan mereka. Kebiasaan inilah yang akhirnya terbawa-bawa dalam acara-acara resmi publik dan acara privat lainnya yang membuat lagu ini dikenal sebagai lagu pesta.

Di Universitas Indonesia, sudah menjadi tradisi tersendiri untuk menyanyikan lagu ini saat Upacara Pelepasan Wisudawan dan Penyambutan Mahasiswa Baru. Mahasiswa Baru di bawah pelatihan seorang dosen komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Agustinus Sudibyo akan menyanyikan lagu Gaudeamus igitur saat petinggi universitas memasuki atau meninggalkan lokasi upacara di Balairung UI. Sedangkan di Institut Kesenian Jakarta ini adalah salah satu lagu wajib yang harus dihapalkan oleh semua mahasiswa baru.

Teks yang tertulis di bawah ini merupakan versi Christian Wilhelm Kindleben yang ditulis pada tahun 1781, dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Sebagai catatan, kata antiburschius ("anti-mahasiswa") sebenarnya bukanlah kata asli dari bahasa Latin, melainkan sebuah kata serapan dari bahasa Jerman Bursch atau Bursche, yang berarti "anak muda" atau "mahasiswa".
Selain itu dalam acara wisuda umumnya lagu ini 'dipersingkat' dengan hanya menyanyikan bait kesatu dan bait keempat saja.

Latin
Indonesia
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Ubi sunt qui ante nos
In mundo fuere?
Vadite ad superos
Transite in inferos
Hos si vis videre.

Vita nostra brevis est
Brevi finietur.
Venit mors velociter
Rapit nos atrociter
Nemini parcetur.

Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quod libet
Vivant membra quae libet
Semper sint in flore.

Vivant omnes virgines
Faciles, formosae.
Vivant et mulieres
Tenerae, amabiles
Bonae, laboriosae.

Vivant et res publica
et qui illam regit.
Vivat nostra civitas,
Maecenatum caritas
Quae nos hic protegit.

Pereat tristitia,
Pereant osores.
Pereat diabolus,
Quivis antiburschius
Atque irrisores.

Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda.
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Tanah akan menguasai kita.

Kemana orang-orang sebelum kita
Yang pernah hidup di dunia ini?
Terbanglah ke surga
Terjunlah ke dalam neraka
Bila kau ingin menjumpai mereka

Hidup kita sangatlah singkat
Berakhir dengan segera
Maut datang dengan cepat
Merenggut kita dengan ganas
Tak seorang pun mampu menghindar

Panjang umur akademi!
Panjang umur para pengajar!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!
Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Panjang umur para gadis!
Yang sederhana dan elok
Juga, hidup para wanita!
Yang lembut dan penuh cinta
Jujur, pekerja keras

Hidup negaraku!
Dan pemerintahannya
Hidup kota kami!
Dan kemurahan hati para dermawan
Yang telah melindungi kami

Enyahlah kesedihan
Enyahlah kebencian
Enyahlah kejahatan
Dan siapa pun yg anti mahasiswa
Juga mereka yang mencemoh kami


 Penggunaan di Indonesia

Di Indonesia lagu ini di beberapa perguruan-perguruan tinggi yang memiliki tradisi paduan suara yang kuat, seperti di Makassar, Manado, Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Biasanya, lagu ini dimainkan untuk mengiringi kehadiran para anggota Senat Universitas pada awal upacara penerimaan mahasiswa baru dan pada awal upacara wisuda. dan juga menggunakan lagu-lagu lain seperti hymne atau mars universitas setelah lagu-lagu gaudemus dinyanyikan.
Ada beberapa juga yang tidak menyertakan lagu ini karena beberapa alasan yang salah kaprah, salah satunya karena mereka beranggapan lagu gaudemus sangat bernuansa hedonis padahal tidak demikian sebenarnya (karena kurangnya pengetahuan para penerjemah lagu latin ini dan juga kurangnya pengetahuan atas sejarah lagu gaudemus) yang adalah lagu perjuangan para mahasiswa di jerman.

Isnin, 24 Disember 2012

MALINO HIGHLAND

0



Libur natal selama 2 hari. Membuat kami memutuskan wisata dadakan (immediate vacation). Destinasi yang kami tuju adalah Malino. Salah satu tempat wisata tanah tinggi di Kepulauan Sulawesi Selatan ini. Kali kedua menjejakkan kaki ke sana setelah kali pertama pada 2007 yang lalu (baca:tahun pertama kuliyah di Makassar). Bersma tasya, ainul, ain, ana dan ain nursalli, kami menaiki mobil rental yang disetir oleh supir berbayar. Membawa bekalan karipap dan roti goreng ana yang enak, kami merentas perjalanan 3 jam dari kota Makassar ke Malino yang terletak di daerah Gowa.

Berangkat seawal jam 7 pagi dan tiba di sana jam 09.30 pagi. Ternyata ada tempat wisata yang baru di buka di sekitar situ. Malino Highland. Untuk masuk ke dalam, kami dikenakan bayaran sebanyak Rp50,000 setiap orang. Supir dan mobil dibenarkan masuk tanpa bayaran. Kerna penasaran dan ingin tahu yang tinggi, seperti apa pemandangannya di dalam situ, kami sanggupi untuk membayar masuk. Sebetulnya, masih banyak tempat yang masih dalam pembinaan. Namun sudah ada paling kurang 5 tempat yang bisa kami lawati di situ. Antaranya ladang the dan coffee house di puncak bukit, air terjun I dan II, taman setwa yakni taman burung dan kebun binatang. Meski binatangnya masih terbatas burung kasawari, kijang dan rusa, kaola, monyet dan aneka burung.

Dari atas bukit kami bisa melihat saujana ladang the yang menghijau. Didukung dengan hawa dingin yang menyegarkan. Menikmati the panas setelah penat berfoto di sela ladang the itu benar-benar refreshing. Kita juga diberi peluang untuk mengutip the dan diajarkan teknik memetik the yang baik. Setelah itu, kami juga berpeluang melihat penternakan kuda di puncak gunung tersebut. Kuda yang gagah perkasa diberi makan dari rumput yang bugar dan air yang berflorida. Setelah bermanja-manja dengan dinginnya puncak gunung, kami turun ke tepat air terjan yang menuntut kami untuk turun melalui celah yang curam beberapa kilometer sebelum sampai. Meski pemandangannya menyihir mata yang memandang namun keletihan tetap memanjat memandangkan kami sama sekali tidak bersedia atau tidak siap untuk hiking hari ini.

Pegal betis sedikit memanjat namun kesaktian alam tetap memenangkan euphoria dalam diri. Puas hati benar melihat air terjun yang cantik dan berbatu-batu. Masih terawat rapi disamping  bunga-bungaan yang sengaja ditanam di sepanjang trek perjalanan. Setelah mengambil beberapa waktu di air terjun, kami berpindah ke taman setwa atau taman burung. Di sini kami diperbolehkan untuk bercengkerama dengan lebih dekat dengan pelbagai spesies burung dari merpati hingga burung merbuk. Merak dan sebagainya. Diluar taman burung ada kebun binatang. Lucu melihat telatah monyet-monyet dan kaola yang agresif meminta dan makanan. Disini pengunjung dibenarkan untuk memberi makanan yang disediakan kepada para binatang yang ada. Ada   juga kijang bambi yang lucu dan menggemaskan.

Keluar dari Malino Highland, kami bergerak menuju ke tempat favourite kami di hutan Pinus. Di hutan ini kami bisa menunggang kuda mengelilingi perbukitan dengan biaya Rp10.000 dan berfoto disekitar hutan  terawatt itu. Sangat cantik pemandangan di hutan ini. Sebelumnya kami sempat singgah makan bihun yang dibawa sebagai bekal oleh cik Ain dan Cik Tasya sambil menikmati the susu hangat di warung pinggir jalan. Menghangatkan tubuh yang sudah menggigil kedinginan gara-gara cuaca puncak bukit ditambah hujan renai yang menyapa. Tak lupa jangung manis khas tanah tinggi yang menghangatkan tenggorokan.

Selesai dari menunggang kuda, kami lanjut lagi ke air terjun Takapala, salah satu air terjun tertinggi di Sulawesi Selatan ini. Kerna jalan menuju ke tempat air terjun tersebut licin, kami terpaksa meredah beberapa kilometer jalan hutan untuk turun ke tempat air terjun tersebut. Namun perjalanan  itu worth our while. Keindahan air terjun yang memukau dengan percikan air yang sudah terasa sejak juahari, kami benar-benar tidak bisa menahan diri dari terjun ke dalamnya. Melawan perkasa dingin yang mencucuk tulang belulang dan mengkonstriksikan pembuluh-pembuluh darah yang membawa cairan penghidupan itu.
Setelah puas berendam badak di dalam air terjun baru kami malas-malas naik dan bersiap untuk pulang.

~there's also hiking tract~

~high tea at tea house~

~memetik daun teh di ladang~

~ladang teh, Malino Highland~

~pemandangan dari atas bukit~

~tangga ke air terjun~

~istirehat seketika~

~pemandangan di cafe~
~di taman setwa~

~Menunggang kuda di Hutan Pinus~

~memetik daun teh~

~Halaman depan Malino Highland~

~Air terjun dalam MH~
~nice view, seriously~
~Rusa Bambi~
~Riding at Pinus Forest~

~air terjun Takapala~
~great waterfall of Takapala~

~beli ole-ole sebelum pulang~



Jumaat, 21 Disember 2012

BERTAHAN DI PUNCAK ITU LEBIH SULIT

0



Saudaraku,
Ternyata hanya mengetahui sesuatu kemaksiatan dan mengetahui bahayanya, tidak automatis menjadikan orang menjauhi maksiat dan meninggalkan kemaksiatan itu. Lihatlah, berapa banyak justeru orang berilmu yang melakukan kemaksiatan lebih besar daripada orang tidak berilmu.berapa banyak justeru orang yang mengetahui bahaya kemaksiatan itu, terjerumus di lumpur kemaksiatan yang sama.

Saudaraku,
Merubah diri dari lalai menjadi taat memang tak mudah. Mengangkat kaki dari suatu kekeliruan yang sudah lama dilakukan lalu memindahkannya ke atas jalan yang benar dan baik, itu sulit. Justru masalah inilah yang pertama kali harus kita sadari dalam-dalam. Seperti dikatakan Imam Ibnu Jauzi, “jangan sekali-kali engkau menganggap jalan (merubah diri menjadi baik)itu mudah.” Jalan itu dipenuhi sesuatu yang kita benci, banyak halangan, penuh duri-duri tajam yang akan membuat kita sakit. Hanya saja, jika kita sudah berhasil melewatinya, kita pasti akan melupakan seluruh rasa sakit seluruh keletihan itu. Jika telah melewatinya, kita akan merasakan kelezatan yang tak terbandingkan oleh kelezatan manapun dari kelezatan duniawi yang kita pernah rasakan.

Saudaraku,
Mari kita dengarkan indahnya uraian nasehat Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Shaidul Khatir tentang tahapan perjalanan yang harus kita lakukan untuk menjadi lebih baik.
Menurut Ibnu Jauzi, yang harus kita lakukan pertama adalah memperbanyak diam untuk melatih jiwa agar tidak banyak mengeluarkan komentar dan tidak mudah bergolak, sehingga lisan kita juga lebih banyak diam. “sesungguhnya lisan akan cenderung diam jika jiwa tidak bergejolak. Dalam diam itu, engkau akan lebih bisa meraba keburukan. Jika engkau sudah bisa merabanya, maka jiwa akan luluh dan hancur. Lalu menyedari bahwa dirimu berada di jalan yang berlawanan dari kehendak Allah. Setelah itu ingatkanlah jiwa dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan, satu persatu. Kenalilah apa akibat dari setiap kekeliruan itu sampai benar-benar disadari.”

Lupakan ketaatan kita saudaraku,
“Jika engkau menyadari diri telah lalai dan melakukan dosa, jadikan dirimu bisa berlama-lama dengan mengingat dosa itu, dan besar-besarkan ingatan tentang akibat kelalaian itu. Munculkanlah anggapan seolah kita tidak melakukan ketaatan apa-apa kecuali kemaksiatan itu. Lupakanlah ketaatan yang pernah engkau lakukan. Sampai engkau yakin akan hancur bila tidak segera bertaubat. Sampai suara hati kita teriak dan menangis”
“Tapi, jika jiwamu tidak bangkit, dan air mata tidak mengacur juga, sampaikanlah pada hati dan jiwa bahwa engkau tetap harus melepaskan diri dari kemaksiatan itu. Dan langkah ini takkan terjadi kecuali jika engkau meninggalkan semua orang, semua teman, semua benda yang menjadikan sebab dan tangga maksiat. Beritakanlah pada jiwa, bahwa engkau tidak akan bisa bertaubat dengan benar kecuali dengan meninggalkan semua itu”

Langkah berikutnya,
Lemahkan jiwa dengan rasa lapar. Ibnul Jauzi mengatakan “Jika jiwamu masih belum bisa melakukan itu dan menolaknya, maka hancurkanlah kekerasan jiwa itu dengan memperbanyakkan puasa. Hinakanlah ia dengan rasa lapar. Kerna sesungguhnya, jiwa jika mengalami sakit kerna lapar, ia akan tunduk. Mahu mendengar dan cenderung pasrah untuk menerima apa saja”.
Perangi sikap menunda-nunda. Ini nasihat Ibnu Jauzi selanjutnya. Bahwa tekad meninggalkan kemaksiatan itu sangat rentan dengan gangguan menunda-nunda, dengan seribu alasa. “jika engkau mendapati jiwa ingin menunda-nunda untuk kembali, dan membayangkan waktu panjang atau pendek, bawalah ia secara paksa untuk mengingat tidak ada ajal yang bisa diperkirakan. Bahwa mungkin saja, ajal itu datang menghampiri sebelum ia menunaikan keinginan kembalinya. Lalu ulangi lagi…katakana pada jiwamu tentang hukuman dan kengeriannya”.

Saudaraku,
Jiwa yang sudah dikosongkan dari kemaksiatan harus  segera diisi dengan kebalikan apa yang telah ditinggalkan. Imam ibnu Jauzi menganjurkan kita untuk mencari teman untuk jiwamu yang bisa memberi petunjuk. Katanya “Ajarkan dia berzikir untuk menggantikan kelalaian dan kelupaan. Paksa dia untuk teliti dan berpikir daripada ceroboh dan terburu-buru. Beri dia kelezatan bermunajat kepada Allah, nikmatnya membaca kitabNya, serta mempelajari ilmu pengetahuan. Kenali dia dengan sirah-sirah orang shalih dan bagaimana akhlak mereka. Lakukan itu untuk mengisi kekosongan kerna ia telah meninggalkan suasana kebatilan,lingkungan orang-orang yang merusak”

Saudaraku,
Jika ini bisa kita lakukan, kelak cahaya ketaatan, pengganti kelalaian itu akan terus merasuki jiwa dan semakin bersinar-sinar mengusir kegelapan hawa nafsu. Kita akan menjadikan ketaatan sebagai tabiat dan hal yang biasa. Sebagaimana juga dahulu, kemaksiatan itu telah menjadi hal yang tabiat dan biasa bagi jiwa kita.

Saudaraku, 
Tapi jangan anggap ini adalah akhir dari jalan perubahan kita. kerna, seperti juga dinasihatkan Ibnu Jauzi, “sesungguhnya mencapai puncak itu sulit, tapi bertahan dipuncak itu lebih sulit”. Dan kita tetap bertahan untuk berada di sini, bersama-sama. Menarik dan mengangkat diri kita bersama-sama hingga keadaan kita semakin tinggi. Lalu saling berpegangan tangan saat dihempas ujian dan fitnah, agar tidak jatuh. 

Ahad, 16 Disember 2012

LINGKARAN KECIL KITA

0



Sahabatku,
Aku rindu pada lingkaran kecil kita
Lingkaran yang kita ratib di awal temu
Saat kaki menginjak dibelahan bumi terasing ini
Taaruf itu membuatku yakin
Bahwa Tuhan tidak pernah membiar kita sendiri

Sahabatku,
Bagai putaran video di layar minda
Waktu-waktu indah dalam lingkaran kecil kita
Kau memperbaiki tilawahku
Dan aku mencubit kecil lengan halusmu membantu mujahadah
Melawan nafsu kantuk itu
Kita mendengar, kita memberi, kita berkongsi
kita saling memperingatkan tentang iman..tentang taqwa

Sahabatku,
Masih kau ingat jaulah pertama kita?
jaulah sederhana yang amat mengesankan itu?
Kita mentarbawikan jaulah dengan ziarah
Ingin merasa “perjalanan” yang berbeza dari biasa
Berbeza kerna biah dan mahabbah
Melengkapi kata Rasul,
Sahabat itu adalah apabila kamu tidur bersamanya dan bermusafir dengannya


Sahabatku,
Masihkah kau ingat saat-saat payah menyentak kesadaran masyarakat
Tentang kepedulian pada sesama lewat Life-line For Gaza
Usaha kecil kita ternyata lebih berat dari perhitungan
Namun kita mengatur peran dalamnya
Dengan berbekal “yakin” dan “ saling membahu”
Hingga akhirnya kita berjaya menempuhinya…bersama

Sahabatku,
Masih segar diingatan
Kekompakan kita tinggal bersama dikamar sempit sewaktu di Bira dulu
Meski terbatas ruang dan terkekang bekal air yang tercatu
Kita saling mengutamakan satu sama lain…
Tetap merona bahagia dalam dekapan ukhuwah

Sahabat,
Masih menari-nari diakal sedarku
Zaman yang menjerat waktu dalam ruang sempit
Kita bahkan tidak sempat mengambil jeda buat diri
Namun pertemuan itu tetap kita wujudnyatakan
Mengintip sela dicelah kepadatan rutinitas
Peringatan ringkas dimana saja kapan jua
Kerna kita sama-sama tahu, betapa pentingnya lingkaran kecil kita


Sahabat,
Semakin hari, semakin kuat badai ujian yang datang menyergah
Mencoba untuk melantak-landaikan ikatan kita ini
Elnino fitnah dan la nina tohmah kian menggugah
Para syaitan beradu-adu membisikkan dendang neraka
Membanjiri ruang atmosfer wujud kita
Namun kita sama-sama sedar bukan?
Bahwa ini hanya sekadar “ujian” untuk meningkatkan debit ukhuwah kita

Sahabat,
Hari ini, lingkaran kecil ini semakin meluas
Ada wajah-wajah baru yang duduk disamping kita
Ada nafas jadid yang berhembus meniup puing-puing semangat tersisa
Syukur Alhamdulillah…
Tetap saja, aku masih merindu lingkaran kecil kita itu
Berharap kita sama-sama iltizam dengan ikrar kita
Untuk saling mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran

Sahabatku,
Semoga kita akan terus bertemu
Dalam tiap episode kehidupan ini
Aku, sungguh ingin merengkuh ukhuwah kita
Hingga tangan bergaris tua, hingga kedutan renta memanjat wajah mulus kita
Hingga kita dipanggil kembali ke sisiNya
Dan semoga DIA mengizinkan kita untuk bertemu lagi disyurgaNya..
Amin..

~amni_shamrah~
16 Disember 2012
08.00pm

Isnin, 10 Disember 2012

MENDIDIK KETAATAN

0



Mendapat sebuah sms dari murabbi pagi itu
 “Hadiri program Cinta Keluarga di Lapangan Karebosi Sabtu 08-12-12 jam 8 pagi dilapangan. Bawa mad’u/binaan anti”

Segera sms itu diteruskan buat adik-adik naqibah. Diri juga tidak tahu detail program. Namun begitulah. Kadang untuk taat tidak butuh alasan. Ya, seperti itulah taat.. dan ketsiqahan (keyakinan) terhadap pimpinan. Apalagi taat pada Allah dalam setiap suruhan dan laranganNya. Namun ketaatan itu harus diproses. Dibina. Dididik supaya kita siap meski dalam kondisi apapun. Meski mengorbankan waktu lapang, waktu sibuk. Dalam senang dan susah.

“Dan mereka berkata: Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami, dan kepada Mu tempat (kami) kembali” (surah al-Baqarah 2:285)

Ini adalah prinsip umat Islam bila menerima perintah dari Allah dan Rasul. Ketika menerima perintah untuk berpuasa selama sebulan di bulan Ramadhan. Maka, tanpa banyak soal, orang muslim taat dan patuh untuk berpuasa. Prinsip ini tidak sama dengan Yahudi, mereka dengan jelas berpendirian ‘kami dengar, tapi kami ingkar’. Sebab itu, walaupun ada ayat-ayat di dalam Taurat yang menceritakan tentang kenabian Rasulullah saw, tetapi mereka tetap menolak berita kenabian tersebut sedangkan mereka memahami benar ciri-ciri kenabian yang disebutkan itu.

Sebagai muslim, kita tidak wajar mempersoalkan apa-apa perintah dan larangan yang datangnya dari Allah. Kalau disuruh puasa, puasalah kita. Kalau dikatanya halal, maka halallah tapi kalau dah tetap haram, maka biar diputar terbalik bagamana pun, tetap haram. Puasa yang kita jalani hari ini adalah latihan pengukuhan ketaatan kita kepada Allah yang bukan sekadar pada ayat puasa sahaja, tetapi pada seluruh ayat dalam Quran dan Hadith untuk kita imani dan taati.

Tetapi saudara, keadaan ini agak berbeza bila dilihat kepada realiti umat pada hari ini. Ada sebahagian mereka secara terang-terangan mempersoalkan perintah dan hukum Allah. Ada sahaja yang tidak kena. Yang peliknya, tatkala perintah atau hukum itu datangnya dari manusia yang berkuasa, tidak berani pula mereka mempersoalkannya. Ketidakjelasan dalam beragama menyebabkan mereka tidak nampak kesempurnaan hukum dan perintah Allah berbanding hukum dan perintah manusia yang belum tentu sempurna. Yang sebenarnya, tiada ketaatan yang mutlak kepada manusia sekalipun manusia itu bergelar raja, menteri, ustaz dan sebagainya. Ketaatan kepada manusia akan terpakai tatkala suruhan dan perintah tersebut menepati kerangka syariat yang begitu luas dimensinya.

Begitu juga untuk taat pada pemimpin/ketua. Sepertimana firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan ulil Amri di antara kalian..” (QS. An Nisa (4): 59)

Melihat adik-adik yang sanggup bersusah payah meredah hujan, berkumpul dirusun untuk sama-sama menghadiri program umum ini membuat hati berbunga mekar. Alhamdulillah Ya Allah, meski “short-note”, tapi mereka-mereka yang telah Kau pilih untuk  menghadiri program ini adalah antara mereka yang jiddiyah dengan jalanMu ini.. dan adik-adik yang tidak dapat hadir mungkin kerna kesibukan yang tidak dapat dielakkan. Sungguh, dari mereka saja, banyak tarbiyah yang Allah sampaikan pada diri. Bagaimana Allah sungguh telah menguatkan langkah kita dijalan ini dengan sahabat-sahabat yang mengingatkan kita padaNya. Baik dari generasi manapun. Adik-adikku ini meski dari angkatan yang berbeda namun matlamatnya hanya satu.. menuju kepada Allah dan saff yang teratur dan mengajak orang lain untuk sama-sama dekat kepada Allah insyaAllah.

Sengaja menutuskan untuk menaiki pete-pete bersama. Padahal ada motor yang boleh memendekkan jarak perjalanan. Namun itulah, seperti kata pakcik, yang penting itu, kita mentarbawikan perjalanan. Paling dalam perjalanan bersama ini kita dapat duduk bersama dengan lebih lama, bertukar cerita dan paling penting menyuburkan kembali syu’ur (rasa hati) untuk thabat (tetap) dan taat di jalan Allah ini.. tambahan, kesibukan yang melanda sepanjang satu bulan di Anestesi ini benar-benar mengekang waktu dari banyak bersama mereka. Sedangkan adik-adik ini masih butuh dukungan.

Sesampai ditempat program, Alhamdulillah kami sama-sama mendapat pengalaman baru. Ternyata program ini adalah program ibu-ibu bersama calon gebenur Sulawesi selatan Ilham-Aziz. Judul yang diketengahkan adalah cinta keluarga memangkin semangat baru. Atau lebih ringkasnya bagaimana mendidik anak-anak dan bagaimana istri menjadi sumber kekuatan dan tulang belakang perjuangan suami. Sebelum itu ditampilkan anak-anak usia SD yang sudah berjaya menghafaz Al-Quran hasil didikan ibu perkasa. Begitu juga anak-anak yang mampu bersajak, bersyair, berpuisi memuji Allah sedangkan mereka adalah anak-anak yang lahir dari keluarga kader-kader dakwah yang ibu ayahnya adalah orang-orang perkasa yang memperjuangkan kalimah Allah di muka bumi. Sungguh luar biasa. Meski ada berunsur politik, namun kami mengambil setiap pelajaran yang bisa kami kutip sebagai bahan tarbiyah utk kami hari ini.