Skinpress Rss

Isnin, 12 November 2012

PUSKESMAS ONCALL: KISAH DOKTER MUDA

0



Minggu ke 3 dan 4. Diri dan dua lagi teman lain, Ibu Aji (idfa) dan Andi Inayah (Naya) ditugaskan di Puskesmas Maredekaya, Sg. Saddang, Jln.Veteran. setelah melapor ke Dinas Kesehatan Kota dan makan pagi, kami berangkat ke Puskesmas (PKM). Disambut hangat oleh pegawai-pegawai disana, kami lansung cepat beradaptasi.

PKM Maradekaya diketuai oleh seorang dokter gigi yang berkarismatik dan berwibawa, drg. Siti Maisarah, MARS yang mempunyai honor dalam bidang managemen dan administrasi rumah sakit (MARS). Didukung oleh 23 orang tenaga kesehatan dari pelbagai bidang termasuk 2 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, 2 orang farmasi,5 orang perawat, 4 orang bidan, 1 orang ahli gizi dan yang lain dari SKM, sarjana kesehatan masyarakat yang masing-masing bertanggungjawab terhadap  kesehatan lingkungan, promosi kesehatan dan sebagainya. Semua dari mereka, meski ibu-ibu tapi sangat ramah mesra dan mudah diajak bicara istilah sininya “gaul buangett” ghitu..

Puskesmas ini memiliki wilayah kerja yang mencakupi 5 area, kelurahan Maradekaya Utara, Maradekaya Induk, Maradekaya Selatan, Maricaya Baru dan Maricaya Induk. Dalam setiap kelurahan pula terdapat beberapa unit lebih kecil yang dikenali sebagai Airway, yang mana setiap airway mempunyai perwakilan dari penduduk dan penanggungjawab dari PKM sendiri. PKM berfungsi sebagai penanganan tingkat pertama untuk menentukan taraf kesehatan masyarakat dimana PKM menyediakan pelayanan preventif, promotif dan kuratif. banyak program yang dijalankan dalam rangka mewujudkan upaya-upaya ini termasuklah program promosi kesehatan seperti kampenye (campign), mengadakan penyuluhan kesehatan tergantung kebutuhan sewaktu. Diadakan juga control Kesehatan Ibu Anak, Puskesmas keliling(Puskel), imunisasi missal dan sebagainya lagi.

Sepanjang 2 minggu disini, kami dituntut untuk mengikuti semua aktivitas yang dijalankan dengan tujuan memberi kami pengalaman dan pengetahuan bagaimana memberdayakan fungsi rumah sakit sebagai agen promoter kesehatan yang turjun lansung ke masyarakat.sepanjang dua minggu ini kami sebagai dokter muda diharuskan turun mengikuti  Puskesmas Keliling (PusKel) menggantikan dokter yang tidak bisa meninggalkan puskesmas kerna melayani kebutuhan kuratif pasien yang lebih membutuhkan. Jadilah kami, para dokter muda yang diandalkan untuk terjun ke lapangan. Sebelumnya, menurut Ibu Yetti, tugas sebegini dilemparkan kepada perawat memandangkan kekurangan tenaga dokter  yang bisa. Oleh itu, semenjak adanya ko-ass (dokter muda) yang ditugaskan ke situ, kerja merawat pasien dilapangan menjadi tugas asasi para ko-ass.


 Kami yang dipandang enteng dirumah sakit, dengan hireki terbawah, saat begini lebih diandalkan untuk tugas yang akan kami pertanggungjawabkan di kemudian nanti. Ilmu abal-abal (cincai) yang kami peroleh di rumah sakit ternyata bernilai tinggi untuk kami gunakan di lapangan.dari anamnesis, pemfis hingga penegakan diagnosis dan penatalaksanaan atau terapi semua terserah kami untuk meresepkan. Benar-benar menjadi dokter disitu. Meski tetap dibantu oleh Ibu Buby selaku apoteker(farmasis) tentang obat apa saja yang sering digunakan di PKM dan yang tersedia, kami cepat belajar. Biasanya kami akan membagi diri, 2 orang merawat pasien dan yang satunya akan memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang promosi kesehatan. Para bidan akan sibuk menimbang dan mengukur proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Setelah sesi pemeriksaan selesai.biasanya kami dijamu makan oleh warga setempat sambil bercerita tentang hal-hal semasa. Ini benar-benar mengajar kami bermasyarakat dan mengajar untuk lebih pintar bergaul. Meski kami jauh lebih muda dari segi usia, mereka seakan akan sangat mendengar saat kami menyampaikan sesuatu. Satu pendekatan yang sangat baik untuk ke masyarakat. Puskel biasanya 3x perminggu dan di area serta airway yang berbeda pula. Ia bertujuan memudahkan masyarakat mengakses pelayanan kesehatan yang diberi secara gratis dan ditempat tanpa memikirkan biaya dan transportasi yang memusingkan mereka.
Penyakit yang sering kami temukan dilapangan adalah common cold, batuk, diare, asma, scabies, dermatitis, hipertensi,rhinitis alergi nyeri kepala. Pernah juga diri dapatkan suspek TB, filariasis sinusitis kronik, tonsillofaringitis dan ileus.obstruktif serta hernia scrotalis.

Hari yang kami tidak keluar ke lapangan akan kami gunakan untuk mendampingi dokter Yuyun dan dr.Mida, dokter umum PKM yang baik hati, ramah lagi tidak lokek membagi ilmu, dan pengalaman berharga sepanjang bergelar dokter. Itu juga menjadi bekal buat kami. Selain itu juga kami akan menyibukkan diri memerhati dan melakukan pemeriksaan antenatal care pada ibu hamil, menyibuk dan mempelajari obat di battara (apotik), melihat dan melakukan imunisasi pada hari imunisasi.

Hari-hari di PKM menjadi hari padat, full dengan ilmu namun mengasyikkan..

Sabtu, 10 November 2012

PERNIKAHAN, ANTARA FITRAH DAN IBADAH?

0






Akhir-akhir ini sering terpapar dengan cerita-cerita pernikahan. Menghadiri pesta pernikahan teman-teman yang sederhana, yang mewah dan sebagainya. Ada yang menikah kerna saling mencinta. Ada yang menikah tanpa wali, ada yang menikah kerna terlanjur hamil, ada yang menikah kerna dipaksa keluarga, tak kurang kerna janji yang terpatri antara orang tua..pokoknya banyak asbab yang membawa kepada pernikahan dan banyak juga cara pernikahan yang dilakukan. Membuat diri tergerak untuk membaca dan sedikit memahami tentang apa yang dikatakan pernikahan, bukan hanya fitrah. Tapi harus bernilai ibadah…

“Menikah, adalah fitrah, merupakan ibadah tempat menuai berkah”

Banyak hal yang bisa menjadi motivasi seseorang untuk menikah, ada yang mengatas namakan cinta, sebagai tempat melabuhkan hatinya, belahan jiwa untuk berbagi suka dan duka, sebagai sarana meneruskan keturunan, untuk menyalurkan hasrat manusiawinya, dan lain sebagainya. Semua itu tentu tidaklah salah, karena memang hanya dengan menikahlah hal itu menjadi halal, legal, bermartabat dan terhormat.
Namun apakah hanya sampai disitu nilai sebuah pernikahan? Tentu saja tidak, karena sepasang burung pun melakukannya, mereka bahu membahu membangun sarangnya, bergantian mengerami telurnya, setiap pagi induknya mencari makan untuk anak-anaknya hingga mereka bisa terbang dan sanggup mencari makan sendiri. Subhanallah burung-burung itu telah mengajarkan arti kehidupan pada kita.

Rasulullah, teladan kita yang mulia telah mengajarkan bahwa menikah itu adalah ibadah. Kita sering mendengar pernyataan seperti itu, tapi apakah kita benar-benar memahaminya. Allahu’alam. Sungguh dibalik pernyataan sederhana itu terdapat banyak hikmah yang harus selalu kita gali, kita renungi, kita patri dalam hati, dan semoga bisa menjadi penghias diri, sebagai bekal di hari nanti.

Menikah itu ibadah, tidaklah Allah menciptakan diri ini melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya. Seluruh gerak kita sepatutnya kita niatkan untuk beribadah kepadaNya. Seluruh khilaf kita sepatutnya kita mohonkan ampun padaNya. Seluruh nikmat yang kita dapat sepatutnya kita syukuri dengan memuji namaNya. Setiap ujian yang datang sepatutnya kita hanya memohon pertolonganNya.

Menikah itu ibadah, karena kecintaan kita pada istri akan mendorong kita untuk membimbingnya pada kebaikan yang akan menghadirkan kecintaan Allah pada keluarga kita. Adakah cinta yang lebih patut kita harapkan dari cintanya Sang Maha Pencinta. Ketika suami istri saling menggenggam tangan, maka berguguranlah dosa-dosa mereka dari sela-sela jari. Adakah yang lebih beruntung dari orang-orang yang diampuni dosanya. Ketika istri dapat menyenangkan suaminya sehingga suaminya ridho, maka dibukalah pintu-pintu surga agar dia dapat memasukinya dari manapun dia suka. Subhanallah.

Menikah itu ibadah, Allah akan menolong hambaNya yang menikah karena ingin menjaga diri dari perbuatan zina. Jikalau menikah itu hanya untuk menyalurkan hasrat seksualnya, bukanlah tidak mungkin jika belum terpuaskan hasratnya dia akan mencari pelampiasan lain yang tidak halal. Maka jangan heran kalau kita pernah mendengar seorang aktifis dakwah yang berselingkuh dengan tetangganya, naudzubillah. Sungguh mulia ketika Rasulullah mengatakan menikah itu akan menjaga kehormatan kita, beliau tidak mengatakan bahwa menikah itu akan menjadi tempat menyalurkan hasrat kita. Meskipun pelaksanaannya sama sungguh nilainya sangat jauh berbeda, Allahu Akbar.

Menikah itu ibadah, insyAllah kita akan diamanahkan anak-anak yang akan menjadi hiburan bagi orang tuanya, ia nya adalah rizqi dari Allah sebagai pengikat hati orang tua. Membinanya bukanlah suatu beban melainkan sebuah amanah indah yang harus kita tunaikan, karena kebaikan dan doanya akan menjadi deposito pahala yang tak pernah putus hingga kita tiada. Maka bersyukurlah pada Allah atas segala nikmat yang bahkan kita tidak mengetahuinya.

Menikah itu ibadah, maka syaitan akan mengerahkan seluruh bala tentaranya untuk menghalang-halangi setiap usaha anak manusia untuk melaksanakan dan mempertahankan pernikahan. Pernikahan yang penuh barokah adalah benteng iman yang paling kokoh, melindungi orang-orang di dalamnya dari gempuran hizbu syaitan yang kian dahsyat di saat kiamat sudah dekat. Karena berarti realisasi janji syaitan untuk membawa pengikut sebanyak-banyaknya semakin mendekati dead line. Selain berharap hanya pada pertolongan Allah, dituntut kesabaran dan keikhlasan kita dalam mengarungi bahtera yang kadang bergelombang dan berbadai ini.

Menikah itu ibadah, tapi menikah bukanlah puncak prestasi yang patut kita bangga-banggakan, janganlah sampai kita merasa diri lebih baik dari orang lain karena kita sudah menikah. Marilah kita berlindung pada Allah dari tipu daya syaitan seperti ini. Sepatutnya pernikahan itu menjadi sebuah madrasah, media dakwah dan tarbiyah. Menjadikan kita semakin merasakan Kebesaran Allah, menjadikan tumbuhnya cinta dan kasih sayang semakin menjauhkannya dari hubbud dunya, membuat kita semakin mengerti akan kegelisahan saudara kita. Sehingga keberkahannya akan beresonansi pada orang-orang di sekitarnya.

Wallahu alam bish-shawab…







Semoga bermanfaat..

Amieeeen..

Jumaat, 9 November 2012

PUBLIC HEALTH POSTING

0



PUBLIC HEALTH. Atau ILMU KESEHATAN MASYARAKAT (IKM) merupakan satu department yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak dunia perkoasan. Kenapa? Kerna bagian ini katanya adalah bagian paling “santai”. Paling yang membuat stress otak adalah penyusunan skripsi (thesis) yang harus dituntaskan layaknya mahasiswa tingkat akhir di fakultas lain. Bedanya adalah jika mereka diberi waktu 1 semester untuk melakukan penelitian, kami hanya diberi waktu 2 minggu untuk menyelesaikannya. Waktu yang sangat singkat. Makanya biasa mahasiswa akan mengambil jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder untuk menghemat waktu.

Minggu 1. Minggu orentasi/ adaptasi. Kami ditempatkan ke bagian IKM di fakultas yang mengembalikan zaman-zaman nostalgic pre-klinik. Disini kami dibekalkan dengan kuliah-kuliah pengantar yang akan menjadi panduan untuk mengerjakan skripsi. Kami juga diberi kebenaran untuk melihat-lihat hasil skripsi senior terdahulu untuk mencari ide judul apa yang bakal kami angkat sebagai judul skripsi. Selain itu juga kami juga diberi pendedahan bagaimana mempresentasi seminar proposal dan juga ujian meja. Menjadi pemerhati, moderator dan nokturlan (juru catat). Memasuki jam dinas 9.00 pagi benar-benar bedanya seperti langit dan bumi dengan kondisi di rumah sakit (hospital) yang mengharuskan kami untuk masuk kerja jam 7.30 pagi. Jadual longgar yang memberi ruang untuk berleha-leha dan membangun solat dhuha dan bacaan Al-Quran tanpa tenggat waktu. Dan tidur second round juga ^_^v

Minggu  2. Kedokteran Okupasi (occupational health). Kami ditugaskan ke rumah sakit Ibnu Sina untuk menuntut ilmu dari salah satu dokter spesialis unggul di Indonesia Timur, dr. Sultan Buraena, SpOK (K). Di RS Ibnu Sina beliau menjadikan pusat prakteknya. Kami berkumpul disini seawall jam 8.00 pagi dan menunggu kehadiran beliau. Hari pertama diberi pre-test/kuiz tentang kedokteran okupasi dan keselamatan kerja. Kami juga dibagi kedalam kelompok kecil untuk diberi tugasan tertentu. Hari kedua kami diberi judul masing-masing dan harus mempresentasi tentang latar belakang dan rumusan masalah yang akan kami teliti. Hari ketiga, kami dituntut untuk menyelesaikan proposal tentang permasalahan yang diberikan. Hari keempat kami disuruh menyelesaikan kuestioner dan checklist untuk penelitian. Hari kelima dan keenam kami diberi kesempatan untuk lansung meneliti ditempat yang telah kami tentuan dan yang telah diizinkan oleh beliau sekaligus menyeleaikan mini skripsi yang akan kami presentasi pada hari ketujuhnya. Diri bersama Anhy dan Colette berada dalam satu kelompok dan diberikan judul Efek Sinar Ultraviolet dan Bahayanya terhadap Tukang Becak.

Minggu 3 dan 4, kami diberi dalam kelompok kecil untuk bertugas di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat). Diri bersama Idfa Mu’idah dan Andi Inayah ditugaskan di Puskesmas Maredekaya, Sg.Saddang, Jln.Veteran. agak jauh dari rumah menyebabkan kami harus bangun agak pagi dan berangkat dari rumah untuk menghindar 3 titik macet (traffic jammed) untuk sampai di Puskesmas. Di Puskesmas banyak lagi pengalaman baru yang kami peroleh dalam rangka membekali diri kami dengan pelayanan masyarakat. Khusus berguna sewaktu internship nanti. Kami belajar tentang penyakit-penyakit yang paling sering didapatkan di masyarakat dan obat-obat apa saja yang sering diberikan. Dibimbing oleh dokter-dokter berpengalaman dan staff Puskesmas yang sangat bersahabat, kami mendapat banyak ilmu baru. Kami juga diberi kepercayaan untuk merawat orang sakit dan diberi penghormatan sebagai dokter muda untuk mengeluarkan jurus-jurus ilmu yang telah kami dapatkan sepanjang dunia koas. Bukan sekadar merawat, kami juga memberikan penyuluhan tentang isu tertentu sesuai dengan kebuutuhan setempat. Mungkin detailnya akan ku ceritakan dikesempatan lain.

Minggu 5 dan 6, sudah sibuk-sibuknya mengurus penelitian. Biasanya, bagi anak-anak Malaysia atau Indonesia akan mengambil peluang pulang kampung dengan alasan meneliti (meneliti dikampung sendiri) pada minggu0minggu ini. Tapi memandangkan diri baru-baru saja pulang lebaran lalu, ingin rasanya mengambil peluang untuk menjelajah ditanah Indonesia. Sesuai perjanjian dengan kakakku untuk menemaninya jalan ke Bandung, diri mengambil peluang satu minggu itu untuk menjelajah beberapa tempat di Pulau Jawa. Kata orang Makassar, takkala adama di Jawa sekalian jalanmi..itulah menyempatkan diri untuk meneroka tempat-tempat wisata alam dan belanja di Bandung dan Jogjakarta yang memakan masa 1 minggu. Satu minggu lagi berjalan penuh untuk mengurus penelitian. Maklum penelitian yang diri lakukan melibatkan kuestioner yang diberikan kepada siswa SMA. Detail peneliannya insyaAllah akan diceritakan dikesempatan lain.

Minggu 7 kami ditugaskan di Klinik Keluarga dan Nutrisi di jalan Perintis Kemerdekaan. Berhadapan dengan ayat Penyet yang terkenal di Makassar (baca:di Bandar) hingga memberi kami kesempatan untuk makan enak tiap harinya. Nah, yang menambah enakkan tugas kami disini adalah kami dibagi-bagi shift standby memandangkan kami ramai dan klinik tersebut kecil untuk memungkinkan kami dibimbing secara bersamaan disitu. Jadi yang dinas pagi dari jam 9-00-14.00 sedang yang dinas siang hanya akan datang jam 14-18.00 selanjutnya yang dinas malam akan hadir jam 18.00-21.00.  kami dibimbing tentang penyakit yang biasanya ada hubungan secara keturunan seperti penyakit kelainan tulang, metabolic dsb.dokter-dokter umum yang tugas disini kebanyakan masih muda-muda dan gaul. Ada diantara mereka yang ternyata senior kami angkatan beberapa tahun lebih tua.. angkatan2005. Bukan hanya sebatas penyakit dan pengobatan yang kami pelajari dari senior-senior ini, bahkan pengalaman hidup dan pengalaman internship mereka juga.

Minggu 8. Perjalanan IKM semakin seru (menarik). Disini kami ditugaskan kembali ke Puskesmas untuk memerhati tentang penyakit TB. Kami diharuskan mendatangi rumah penderita sesuai petunjuk dari Puskesmas, mewawancara, melihat sendiri kondisi lingkungan dan pekerjaan penderita. Meski kami ditugaskan di Puskesmas yang jauhnya 1 jam 30 menit dari rumah. Untung ada Ibu Aji (Idfa) yang bisa kami tumpangi pergi bersama-sama sambil berseru-seru di mobil (kereta) hingga perjalanan jauh itu tidak terlalu berasa. Melihat sendiri kondisi rumah pasien benar-benar menyedihkan. Suami kepada ibu tersebut telah terjangkiti kuman berbahaya itu 1 tahun yang lalu. Kerna menginginkan kesembuhan beliau taat mengikuti instruksi dokter untuk berobat selama 6 bulan full. Tapi tiada siapa bisa melawan takdir. Si istri dan adim penderita mendapat jatahnya dalam fase aktif penyebaran TB yang bisa menjangkiti lewat udara pernafasan. Setelah beberapa bulan dorman (berhibernasi) dalam tubuh gara-gara ditekan system imun yang bagus, akhirnya mereka yang lain menampakkan gejala 1 tahun kemudian secara hampir bersamaan.namun mereka juga taat berobat. Termasuk bulan ini, sudah 3 bulan pengobatan berjalan.

Minggu 9 dan 10. Kami kembali ke bagian IKM di fakultas untuk menyelesaikan skripsi dan persiapan untuk ujian meja. Pembimbing merangkap penguji telah ditentukan selain penguji III yang ditentukan dari bagian. Kebaikan hati KPM (ketua bahagian), dr.Sri Ramadhani benar-benar memperlancarkan urusan kami Alhamdulillah.

Khamis, 8 November 2012

THE POWER OF DZIKIR

2


Isteri Umar bin Abdul Aziz pernah bercerita. Mungkin saja, katanya, ada orang yang lebih banyak melakukan solat dan puasa dari suamiku, tapi, tambahnya, aku belum pernah mendapatkan orang yang lebih memiliki rasa takut kepada Allah daripada Umar Bin Abdul Aziz.
“Setelah solat Isya aku pernah melihatnya duduk berdoa dan menangis. ia menangis sampai tertidur. Lalu tersadar, melanjutkan berdoa dan menangis hingga ia tertidur kembali. Itulah yang dilakukan sampai waktu subuh”

Saudaraku, 
betapa terasa ada kesenjangan sangat jauh antara kita dengan kehidupan para salafussoleh. Di antara mereka ada yang hidup dengan ragam kesulitan yang jauh melebihi kesulitan yang kita alami. Tapi mereka tetap mampu menunaikan ibadah secara proportional dan baik. Mereka, bahkan dengan tanggungjawab dan tuntutan tugas yang begitu melimpah. Tapi mereka tetap mampu memilih prestasi ibadah yang jauh lebih padat dan berkualitas. Begitulah gambaran kemampuan mereka mengimbangi tuntutan duniawi dan ukhrawi.

Bagaimana dengan kita?
Kita, mungkin kerap merasa kekurangan waktu. Atau, lebih tepatnya sulit membagi-bagi waktu untuk memenuhi semua tugas dan kewajiban. Kita, seolah ada diantara banyak tarikan kewajiban yang membuat kita kewalahan mengikutinya. Bahkan, boleh jadi, ada di antara kita yang merasa, untuk memenuhi suatu kewajiban itu, harus mengorbankan kewajiban yang lain. “kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia”motto perjuangan seperti ini menjadi tidak lebih dari sekadar memahami realitas yang tidak bisa diselesaikan.

Saudaraku, 
Mari duduk dan tenangkan hati. Biarkan suasana hening menguasai hati kita. resapilah betapa banyak dan luar biasanya nikmat dan kurnia Allah untuk kita. tidak ada nikmat yang mampu kita hitung. Berdzikirlah… ucapkan kalimah tasbih “Subhanallah”, tahmid “Alhamdulillah” dan takbir “Allahu Akbar”.. Laa haulaa wa laa quwwata illaa billah.. tidak ada daya upaya kecuali dari Allah semata..

Dalam suasana dan ucapan zikir itulah sesungguhnya kita tengah mengalami proses suplai energy yang bisa membuat hati kita menjadi kuat. Dan disanalah sesungguhnya inti kekuatan kita. Ya, dzikrullah. Tanpa itu, tubuh kita pasti sulit memikul ragam tanggungjawab hidup yang memang berat ini. Hati yang hidup menjadi sumber energy yang sangat berarti untuk segala aktivitas jasad. Inilah sebenarnya yang dimaksudkan dalam sabda Rasulullah SAW:

“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan orang yang telah mati”
[HR Bukhari]

Artinya, lalai dari dzikrullah sama dengan kematian jasad. Sebab orang mati, adalah jasad yang tak memiliki tenaga apapun untuk memiliki sesuatu. Sepertimana juga Imam Ibnu Taimiyah pernah mengilustrasikan yang mirip dengan hadith tadi

“Dzikir bagi hati itu ibarat air bagi ikan.  Bagaimana kondisi ikan bila ia harus berpisah dari air?”
[Al Wabil Ash-Shoib,93]

Saudaraku, 
Perhatikan firman Allah dalam surah Hud ayat 52:
“Istaghfiruu rabbakum”. Mohon ampunlah pada Tuhanmu..
Pada akhir ayat tersebut Allah mengatakan “Yazidkum quwwatan ilaa quwwatikum”. Allah akan menambah kekuatan pada kekuatanmu. Itu alasannya Rasulullah SAW lebih memilih memberi panduan dzikir tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x kepada Ali dan Aisyah RA, ketimbang memberikan pembantu untuk meringankan pekerjaan rumah tangga mereka. Ini juga yang menjadi latar belakang mengapa Hasan Al-Banna menekankan fondisi dakwahnya pada factor ihya’ul qulub, hidupnya hati yang akan menggerakkan kekuatan maha dahsyat dalam tubuh seorang muslim.

Saudaraku,
Dzikir itu mudah dan sederhana. Tapi betapa besar dan luar biasa faedahnya. Setidaknya ada 80 faedah dzikrullah yang diuraikan Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al wabil Ash Shoib. Antara lain, menghidupkan hati, mengusir syaitan mengalahkan tipu daya syaitan, memohon ridho Allah, menghilangkan resah gelisah, menjemput kebahagiaan, memberi cahaya dalam hati dan wajah, menjadikan pengal=malnya dekat pada Allah. Subhanallah…

Dzikir ada 3 jenis, menurut Ibnu Qayyim. Dzikir yang disertai hati dan lisan, itu tingkatan dzikir paling tinggi. Dzikir yang hanya dengan hati, derajat yang kedua. Dan dzikir dengan lisan sahaja, itu derajat ketiga. [Tahzibul Madarij,467]. Menurut Ibnu Hajar, semua bentuk dzikir itu mendapat pahala yang besar disisi Allah.

Saudaraku,
Jangan lalai. Mari, saling mengingatkan, agar kita tak lupa dan jauh dari dzikrullah. Kelalaian membawa kelemahan. Kelemahan yang semakin lama menjadikan kita “mati” secara ruhani, dan akibatnya jasad kita merasa berat menjalani perjuangan menegakkan kebenaran dalam hidup.sulit rasanya kita menyaingi prestasi para solafussoleh dalam beribadah mahupun perjuangan mereka. Tapi yakinlah, dzikir yang rutin kita ucapkan, akan menjadi suplai utama kekuatan, sebagaimana solafussoleh itu mengambil kekuatan utama mereka dari dzikir. Semoga kita mampu menangkap hikmah besar dari catatan hidup Sofyan Ats-Tsauri yang sangat takut bila diakhir hayatnya ia berada dalam kondisi lalai atau su’ul khotimah. Suatu ketika ia menangis semalam suntuk, hingga seorang sahabatnya bertanya, “Apakah engkau menangis kerana engkau takut dari dosa?” Sofyan menjawab “dosa lebih ringin dari apa yang aku rasakan. Saya menangis kerana takut dari su’ul Khotimah” [Qitarul Mustaghfirin ila Diyari Taibin]

Semoga Allah mengampuni kesalahan kita. 

*Foto-foto Program Pengenalan Usrah 2012

Selasa, 6 November 2012

UNNI SARANGHYEYO

5



Sudah lama aku ingin mencatatkan sesuatu buatmu
Meski kadang pena terhenti
Dan akal menguncikan diri
Tidak tahu harus bermula dari mana ingin menceritakan apa
Serasa tak terluah dek kata
Meski lautan aksara bersedia meminjamkan hurufnya
Kerna sememangnya, mengenalimu adalah suatu rahmat
Yang hanya mampu ditafsir oleh hati

Aku tidak tahu bagaimana lagi untuk berterima kasih pada Tuhan
Selain puji syukur hamdallah yang tak lepas ku rapal
Kerna menghadirkanmu dalam episode kehidupanku
Bagai kiriman istimewa dari syurga
Seperti cerekarama yang dimainkan dilayar kaca
Berjalan seperti garis cerita yang disutradarai takdir Pencipta

Unni,
Darimu aku belajar bersikap
Menjadi wanita cekal yang iltizam dalam kerjaya
Menjadi hamba muslimah yang taat beragama
Menjadi anak shalihah yang ikhsan pada orang tua
Menjadi calon istri dan ibu yang berbakti pada keluarga
Mmenjadi sosok wanita tangguh yang bisa diteladani

Unni,
Huluran tanganmu hangat mem’bluetooth’kan signal kasih sayang
Sinar mata beningmu menghantar daku dalam dekapan ukhuwah
Hamparan cintamu menggambarkan ladang kebaikan yang terbentang
Aku tidak tahu sejak kapan, kau sudah menjadi pemeran utama dalam sinetronku
Aku tiada mengingatmu kecuali semua tentang kebaikan
Kau mencontohkanku arti kelembutan hati
Serta bagaimana menjadi kakak sejati

Unni, tahukah dikau
Ada orang bijak mengatakan:
Saat kita mendewasa dibelakang bayangan sosok yang hebat
Kita akan belajar untuk menjadi seorang yang hebat pula
Dan sungguh, kau adalah sosok yang hebat itu….
Dan aku bersyukur bisa belajar dibalik bayangmu

Unni ketahuilah…
Bahwa kau adalah keajaiban bagiku…

~Amni_shamrah~
06 November 2012
08.00pm

Sabtu, 3 November 2012

MESKI SEKERDIPAN MATA

2


Saudaraku,
Cobalah perhatikan lebih seksama salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW berikut ini:
“Ya Allah, rahmatMu lah yang aku harapkan. Maka janganlah engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri, sekejap matapun. Perbaikilah semua keadaanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau”
[HR Abu Daud]

Tampak jelas sekali bagaimana Rasulullah SAW, figure dan guru paling baik untuk kita dalam kebersihan dan kesucian jiwa itu , memohon dengan segala kesungguhan. Ia bermunajat dengan potongan-potongan kata yang begitu merajuk memohon kasih sayang Allah SWT. Rasul yang maksum itu meminta supaya Allah tidak membiarkannya sendirian menjalani hidup. Begitu kuatnya permintaan Rasulullah agar Allah tidak membiarkannya hanyut terbawa oleh keinginan nafsu. Meski hanya sekejap mata. Sekali lagi, MESKI HANYA DALAM SEKEJAP MATA!!

Saudaraku,
Penegasan kata ‘sekejap mata’ dalam doa Rasulullah itu menandakan bahwa hidup ini memang seharusnya tidak boleh sedikitpun tergelincir dalam kedurhakaan. Hidup ini, satu detikpun tidak boleh jatuh dalam kemurkaanNya.tidak boleh sejenakpun terbawa dalam arus kemaksiatan. Kita sangat memerlukan bantuan Allah disini. Seperti yang diungkapkan dalam bait-bait doa Rasulullah SAW

Saudaraku,
Begitu panjang rentang waktu yang harus kita lewati dalam hidup ini. Melangkahkan kaki, satu langkah demi satu langkah. Menata dan menyusun amal-amal dari waktu ke waktu. Melihat ke belakang, berapa jauh jarak yang telah kita tinggalkan. Lalu melihat ke depan, jarak yang tidak bisa kita terka seberapa jauh panjangnya. Sejauh dan sepanjang itulah kewaspadaan kita untuk tidak cenderung pada bisikan yang mengajak pada kemaksiatan. Sejauh dan sepanjang itulah kita harus memohon dan menghiba kepada Allah SWT agar benar-benar memelihara dan melindungi kita dari kesesatan yang membawa kesengsaraan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kasih sayang Allah.

Saudaraku,
Nafsu keburukan itu tak pernah mati. Setiap kita berhasil mematahkannya, maka ia akan muncul kembali dalam bentuk yang lain. Hal ini disebutkan dalam perkataan Ibnu Ataillah
“setiap kali nafsu itu mati, maka Allah akan menghidupkan nafsu yang lain hingga ia mati dan pedangmu meneteskan darah mujahadah”
Begitulah.. tuntutan nafsu manusia akan terus menerus merayu manusia untuk dipenuhi. Ia bisa saja dipatahkan, tapi akarnya akan tetap ada dan suatu saat akan tumbuh dan hidup kembali dalam bentuknya yang berbeda.

Kerna itu kita memerlukan 2 bekal kesabaran. Sabar badany dan sabar nafsany.
“Kesabaran itu mempunyai dua bentuk. Pertama  disebut sabar badany,seperti menanggung beban secara fisik saat melakukan pekerjaan berat yang terkait urusan dunia atau agama. Kedua disebut sabar nafsany, seperti sabar dalam menahan diri dari keinginan hawa nafsu yang mendorong terus menerus”
[Ibnu Quddamah dalam Minhajul Qashidin]

Saudaraku,
Kuraslah semua potensi terpendam dalam diri kita untuk kebenaran. Habiskanlah waktu yang kita miliki untuk memepersembahkan amal-amal soleh yang banyak. Kerna, pasti, jika kebenaran menghabiskan potensi terpendam dalam diri kita, maka kebatilan tidak akan mendapat tempat untuk menggunakan potensi itu. Jika kebenaran telah menguasai hati dan sanubari kita, sudah pasti tidak ada tempat lai buat kerisauan, main-main, menjelek-jelekkan orang lain. Otak kita memang mustahil secara focus memikirkan lebih dari satu hal pada waktu bersamaan. Begitulah yang difirmankan Allah SWT
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”
[QS Al-Ahzaab:4]

Kita tidak bisa mengumpulkan dua perasaan yang bertentangan dalam satu hati. Kerna salah satu dari dua perasaan itu akan mengusir yang lainnya. Imam Syafi’e rahimahumullah mengatakan:
“jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebenaran, maka dirimu akan disibukkan dengan yang batil.”
Jika kita tidak menyesuaikan diri dengan selalu mengisi waktu dan bergerak cepat melakukan kebaikan, berjuang dengan prestasi teratur, maka kita akan terbawa arus pikiran yang buruk, kesia-siaan senda gurau, kebohongan dsb.

 Saudaraku,
Terakhir disini, mari menghitung, berapa banyak waktu-waktu yang tidak kita lewati di jalan ketaatan? Berapa banyak jarak kesempatan hidup yang tak terisi dengan amal-amal soleh? Sering terjadi pada umur yang panjang tapi sedikit manfaatnya. Ada pula umur yang pendek waktunya tapi panjang manfaatnya. Berdoalah selalu saudaraku, agar Allah tidak melepaskan kita tanpa perlindunganNya meski hanya sekejap mata..

Foto-foto sewaktu program Spider Nevi  bersama adik-adik naqibah. Menyambut ulangtahun dan makan-makan bersama. 

Khamis, 1 November 2012

ZUNEIGUNG PART 2

0



“Mai mahu solat dhuha sama-sama?” Kak Risma bertanya sambil tangannya lincah mengangkat tempat kopi, cangkir dan piring berisi ibu goreng dan sambal yang baru kami santap sebagai sarapan pagi itu. Wajah Kak Risma sudah basah dengan wudu’. Mai cepat-cepat menghulurkan tangan dan membantu Kak Risma merapikan tempat itu.

“Iya mahu kak..”Mai menjawab ringkas.

“Sudah.. biar kakak yang kerja.. sayang pergi wudu’ dulu sana..” Kak Risma senyum dan mengambil piring yang sedang dicuci Mai..sambil menarik tangan adiknya itu ke dalam aliran air. Mai membalas senyum sambil berlalu ke kamar mandi untuk berwudu’.

“Allahu Akbar!!” 
Takbiratul ihram. Sunyi. Tenang. Pintu-pintu langit pun terbuka memberi laluan buat doa yang dipohon dari hati yang terdalam.

Rakaat demi rakaat berdiri dalam khusyu’ yang mengabdi..seakan waktu terhenti disitu. Oh Tuhan, terimalah ibadah kami sebagai satu bentuk kesyukuran kami atas segala nikmatmu yang melimpah ruah. Mai tenggelam dalam dzikir solatnya. Terasa rahmat dan kasih sayang Allah yang dekat padanya. Merasa cinta Allah sedang mendakapnya dalam jalinan kasih sayang ini. Dada sebak. Mai sungguh menghargai ukhuwah ini. Sangat menghargai saat-saat solat dibelakang Kak Mukrim. Bahunya bersentuh dengan bahu Kak Risma. Hangat. Sehangat ukhuwah yang mengalir diselanya..Mai tak pernah merasai yang namanya solat sunat berjemaah bersama seperti ini dengan siapapun. Biasa, paling-paling dia melakukannya sendirian.sesederhana ilmu yang dia punya. Tapi sepertinya suami istri ini mendisiplinkan solat sunnah ini sebagai amal jama’ie mereka..menitikberatkan ibadah ini sebagai energi tambahan yang memomentumkan kekuatan..sungguh indah..terima kasih Ya Allah!! Terima kasih menghadirkan mereka dalam kehidupanku. Terima kasih meminjamkan sedikit dari sifat kasihmu yang memenuhi cekerawala untuk menjalinkan hati-hati kami. Tiada lain yang bisa kupersembahkan kecuali rasa syukurku..Mata Mai berkaca-kaca. Hatinya berbunga bahagia. Tak henti lafaz syukur itu diulang-ulang.

Usai solat dhuha. Kak Mukrim memperpanjangkan dzikirnya. Menikmati hening pagi dengan alunan asma’ Allah benar-benar menenangkan jiwa yang gundah. Empang tangis Mai pecah jua..tak sanggup lagi menampung hujan yang sudah menjadi bah yang menggenaskan.. dia menangis semahu-mahunya. Kaget Kak Risma dan Kak Mukrim. Segera Kak Risma merangkul bahu Mai..turut menangis entah kenapa. Dia hanya ingin menenangkan perasaan Mai. Tidak sanggup rasanya dia membenarkan airmata itu terus mengalir keluar dari mata bening adik yang disayangi fillah itu.. setelah tangis Mai mereda, dia memeluk Kak Risma seraya berkata

 “kakak, terima kasih…sungguh, kau adalah keajaiban bagiku..”

“dan kau adikku, adalah kado paling berharga dari Tuhan buatku..”

_________xx__________________________xx_________________________xx_______________

“Siap-siap sayang, kita pergi hantarkan undangan di Pare-pare”. Kak Risma menyodorkan gamis coklat yang telah siap diseterika untuk dipakai Mai.

“Undangan?”Mai sememangnya bingung kerna dia hanya mengikuti rentak perjalanannya keluarganya kak Risma. Maklum saja, Mai memang jarang sebenarnya main di daerah sini. Anak rantau yang dibebani kuliah dipundaknya.

“Iya sayang, undangan nikahannya sepupu kakak. Itu Kak Lin yang kita kerumahnya tadi malam.. Masih ingat? Kan Mai sudah janji tuh mahu datang pekan depan..Mapaccinya malam jumat. Akad nikahnya Sabtu siangnya..jangan lupa yah..hmm..begitulah Mai, agak ribet adatnya, kalau memanggil, harus kita sendiri hantarkan undangannya ke rumah.. sebenarnya sih tujuannya untuk mengeratkan silaturrahmi. Tapi Islam tidak menyusahkan.. Adat yang bikin begitu.. tapi yah, yang namanya adat,masih dijunjung tinggi sama orang tua.. selagi tidak bertentangan dengan syariat, kita turuti saja supaya tidak banyak silang dengan mereka kan.. ^_^”jelas kak Risma panjang lebar.

Perjalanan ke Pare-pare dari Sidrap memakan masa tidak sampai 2jam setengah. Pemandangan sawah padi yang hijau membentang, menyihir mata yang memandang. Tidak heran, Sidrap mendapat julukan Negeri penghasil beras.sesekali melewati kaki gunung lebih menyerlahkan kesaktian alam.. Diselang seli dengan lahan-lahan pembuatan garam di daerah tertentu, bagai hipnotis yang menghanyutkan. Negeri yang indah. Detik hati Mai. Ayah Kak Risma sibuk bercerita dengan menantu dan anaknya sementara ibu Kak Risma sudah terbang mengangkasa dalam mimpi indahnya. Kecape’an kerna telat tidur gara-gara menguruskan pembagian daging korban kemarin. Ponakan-ponakan kecil Kak Risma sibuk bercanda sesama sendiri. sesekali terdengar suara riuh dari tempat duduk belakang. Ada saja yang bisa dijadikan bahan mainan. Lucu benar anak-anak ini.

Tiba di rumah Kak Mukrim jam 11 pagi. Baru Mai tahu ternyata Kak Mukrim asli Pare-pare. Selama ini, Mai tidak pernah ambil tahu tentang Kak Mukrim.. hanya sebatas profesionalismenya di kampus. Tapi orang tuanya Kak Mukrim, memang pernah Mai kebetulan ketemu sewaktu pertama kali kerumahnya Kak Risma awal tahun ini. Sewaktu itu, orang tuanya Kak Mukrim singgah di rumah Kak Risma sehabis pulang dari kampung mereka di Bone. Mai maklum memang kalau orang tua Kak Mukrim tersangat baik. Apalagi mereka sungguh-sungguh mengajak Mai ke rumah mereka di Pare-pare jika berkesempatan. Sebaik saja Mai menjejakkan kaki ke rumah, segera dia disambut oleh mamanya Kak Mukrim dengan pelukan dan ciuman dipipi kanannya. MasyaAllah,padahal baru benar dia mengenali tante itu. Baru kali kedua bertemu.

“Akhirnya sampai juga disini yah nak..” kata tante penuh mesra. Mai disuruh duduk dan dihidangkan dengan kuih muih yang memenuhi meja.

Kak Risma hilang dibalik tabir membantu tante menyiapkan makan siang. Mai masih tidak begitu berani bertingkah. Kalau dinegaranya, pasti saja dia sudah turun ke dapur untuk turut membantu. Adat Melayu. Tapi disini sedikit berbeda budayanya. Biasa, biar anak gadis ke rumahnya orang, asal namanya tamu duduknya didepan saja. Tidak ikut membantu. Mai gatal tangan jadinya. Tapi takut juga malah dianggap tidak sopan jika dia ikut sibuk-sibuk didapurnya orang. Untung ada ayah Kak Mukrim yang ramah dan bisa ditemani cerita.

Ayah Kak Mukrim bekerja sebagai Kepala Dinas Perancangan Bandar di Pare-pare namun perwatakannya sangat sederhana. Dengan anak seusia Mai juga bisa ditemani bicara. Tidak lokek menceritakan pengalaman-pengalaman berharganya. Mai teringat kata murabbinya “kita selalu bisa menghirup lautan pengalaman berharga dari generasi yang lebih dulu dari kita. jadi jangan sungkan untuk ramah dan hormat pada yang lebih tua”. Terdetik dihati Mai, oh inilah dia, ayah dan ibu hebat yang melahir dan mendidik sosok sehebat Kak Mukrim sama seperti pikirannya sewaktu bertemu dengan ibu bapa Kak Risma pertama kali dulu. MasyaAllah sekali.

Mereka makan bersama siang itu. Keluarga Kak Risma. Dan keluarga Kak Mukrim. Dan tantenya Kak Mukrim yang ternyata berteman juga dengan Mai di alam maya facebook. Oh, lagi lagi dunia yang sempit. Selesai solat dzuhur, keluarga Kak Mukrim dan keluarga Kak Risma sama-sama berangkat untuk ziarah ke rumah keluarga Kak Mukrim. Bermula dari rumah neneknya hingga ke rumah tante-tante Kak Mukrim yang lain. Mama Kak Mukrim tak jemu-jemu memperkenalkan Mai pada keluarga. Dan sambutan hangat tetap menghiasi wajah yang melihat Mai.

Hati Mai tersentuh lagi saat tangannya menggenggam erat tangan neneknya Kak Mukrim. Dicium sungguh-sungguh tangan wanita tua itu. Teringat almarhumah neneknya yang baru 2 pekan kembali ke rahmatullah. Melengkapkan title “Mai tidak punya nenek lagi!!”fikirannya bahkan sempat lari ke sana sekali.

2 minggu yang lalu….

“Assalamu’alaikum Mai..ayah Cuma mahu kasi tahu, nenekmu sakit berat. Pak cikmu telpon tadi pagi. Dan ayah bergegas pulang. Sekarang saja masih dijalan. Mai doakan nenek ye..” nada suara ayah terdengar tenang. Tapi Mai tahu, gejolak hatinya pasti sudah menggegarkan volcano-volcano yang tidur lama.

“Iya ayah, insyaAllah. Ayah kabari Mai jika sudah lihat keadaan nenek”perasaan Mai tidak enak. Nenek jarang sakit yang pakai perkataan “berat” dibelakangnya. Saat ayah Mai yang selaku dokter mengatakan itu, Mai tahu keadaan neneknya benar-benar parah. Mai berkira-kira sendiri. dia menyiapkan dokumen imigrasi kilatnya. Persiapan kalau "ada apa-apa". Jadual pesawat diperiksa. Standby mode.

Jam 12.00 siang

“Mai, nenek sudah kembali ke rahmatullah.. Mai banyakkan sabar yah sayang. Nda usah pulang dulu. Kerna mahu cepat-cepat disimpan. Mai juga tahukan kalau jenazah itu harus disegerakan simpannya. Mai kirim doa saja ya nak.. semoga Allah terima doa anak cucunya yang soleh solehah..” Ayah masih kelihatan tenang.

‘Iya ayah insyaAllah..” tidak mampu berkata-kata. Airmata sepertinya sudah menenggelamkan bebola matanya hingga bayangan kamar saja tidak lagi jelas kelihatan.

Terbayang wajah bersih nenek tersenyum dengan garis-garis keriput khas orang tua saat menghantar Mai pulang ke bumi Angging Mammiri usai lebaran Eidul Fitri kemarin. Masih terasa hangatnya pelukan nenek. Tangan lembutnya yang kukuh berpegang saat Mai pimpin beliau menziarahi kubur kakek (atuk).Mai tidak punya peluang lagi untuk menggenggam tangan tua itu erat-erat.

_______xx______________________xx_________________________xx______________________

“Mai makan yuk. Itu tante Ida paling pintar bikin konro.. coba rasa” Suara mama Kak Mukrim mengembalikan Mai ke dunia nyata.

“Ih, tante kenyang sekali tante.. soalnya tadi Mai udah 3kali nambah dirumah tante. Salahnya kari ayam tante tuh.. yang enak buanget hingga full semua perut Mai sampai bagian cadangannya juga abis terpakai..hihi” Mai berbisik sambil mengharap pengertian tante dari disuruh makan terus..

“Itu tadi kari, ini konro.. pasti masih bisa kompromi dikit tuh perutnya..tante Ida udah dari tadi panggil-panggil nyuruhin coba.. gak enak gak disentuh sama sekali tuh” tante meyakinkan..

Mai terpaksa makan lagi. Enak betul konro masakan tante Ida. Sepertinya biar harus disimpan sebagian di ‘hepar’ juga, Mai tidak menyesal makan. Enaknya!! Nyum nyum..baru mahu tepar dengan perut kenyangnya, Mai disodor lagi dengan mangga ranum merah orange yang siap dikupas oleh mama Kak Mukrim..subhanallah ini tante satu sungguh-sungguh luar biasa layanannya. Sambil kumpul-kumpul bersama mama Kak Risma, mama Kak Mukrim dan tante-tante yang lain, mereka berkenalan dengan lebih dekat. Tante Ida selaku tuan rumah, sibuk bercerita tentang anak-anaknya hingga dikeluarkan album foto. Tidak cukup dengan itu, sampai foto yang dipajang didinding juga dikasi turun untuk memperkenalkan anak-anaknya pada Mai.

Keluarganya Kak Mukrim terlalu baik dan ramah. Mai tidak merasa asing berada ditengah mereka. Mai memang jarang canggung berada dikalangan orang tua. Mungkin hasil didikan ibunya dari kecil yang sering mambawanya bersama ke acara-acara pengajian. Tapi juga kadang Mai pasti lebih banyak mempertahankan kesopanan “gadis melayu”nya dikalangan teman pengajian ibunya. Tapi berada diantara tante-tante ini benar-benar nyaman. Mendengar tawa canda mereka dan menyedut pengalaman mereka. Apalagi pengalaman-pengalaman mendidik anak. Mai yakin pasti akan berguna buat dirinya dihari depan.

Usai kunjungan ke rumah keluarga, mama Kak Mukrim menyiapkan kari ayam bersama burasa dan tolong-tolong untuk Mai bawa pulang ke Makassar. Dengan pelukan hangat melepas Mai pulang dengan sinar mata penuh harap akan ada lagi pertemuan. Mai kembali menyalami nenek. Sambil mencium pipi tuanya. Mai tidak ngerti bahasa bugis. Tapi Mai ngerti bahasa kasih sayang nenek. 

Di perjalanan pulang, Mai menangis lagi. Entah kenapa hatinya semakin sensitive kerna dia semakin tua atau memang apa yang berlaku hari ini semuanya mengharukan hatinya. Kak  Risma memeluknya lagi. Kali ini dengan senyuman.

“Kenapa ini adiknya kakak, yang kakak sayang banget padanya, menangis terus hari ini?” Kak Risma mendekap sambil membelai belakang Mai..

“Gak tau juga kak, udah ketuaan kale, bawaanx emosian terus..” Mai mencoba menutup malu sambil meneggelamkan wajahnya yang masih bersisa airmata dibahu Kak Risma.

Seisi mobil ketawa.

Setelah lega, Mai bertanya pada Kak Risma,

“Kakak sama Kak Mukrim keluarga juga kah?”

Biasanya dikeluarga bugis, mereka suka menjodohkan anak-anak mereka dikalangan keluarganya. Katanya supaya harta tidak lari ke orang luar disamping mengakrabkan lagi hubungan kekeluargaan.

“Tidak..”

“Tapi sepertinya keluarganya Kak Risma sama keluarganya Kak Mukrim sangat akrab. Hingga keluarganya kakak juga bisa sama-sama jalan dirumah keluarganya Kak Mukrim?” Mai penasaran.

“^_^ sayang, pernikahan itu bukan Cuma untuk diri kita dan dia. Tapi pernikahan itu rahmat Allah untuk menyatukan dua buah keluarga. Ia menyatukan hati kita hingga kita menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita dan keluarga kita juga menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita juga. Pernikahan itu menjadi ibadah saat kita menjadikannya ladang tanaman akhirat.saat kita bersama-sama menjadikan rumah sebagai sambungan madrasah. Seninya kerna solat, indahnya oleh munajat. Tapaknya iman, jalannya syariat. Natijahnya akhlak…ih..kok jadinya kakak ngasi ceramah pra-pernikahan yah?” hahaha.. sama-sama ketawa..


Yang jelas, Mai sudah mendapat terlalu banyak pembelajaran berharga dalam episode kehidupannya hari ini.. …