Skinpress Rss

Jumaat, 11 November 2011

MY BESTFRIEND'S WEDDING

0


Selamat Pengantin BaruAlign Center
Album : Layar Keinsafan
Munsyid : Mestica
http://liriknasyid.com



kami ucapkan selamat pengantin baru
kekal abadi buat selamanya
berbahagialah suri di dalam rumah tangga
kasih yang bersemi mula mekar berbunga

pernikahan adalah diperintahkan
sunnah baginda yang dimuliakan
bahtera dikemudi bersama sehaluan
keimanan di hati dijadikan pedoman

pabila dua hati bercantum menjadi satu
kata disepakati tanda telah setuju
majlis diraikan pengantin tersimpuh malu
santapan dihidangkan buat para tetamu

rasul berbangga dengan ummat yang ramai
kerana itulah kita digalakkannya
tanda agama indah berkembang
ummat islam maju gemilang
terbina ummat yang terbilang
persaudaraan

"SEMOGA MEMBENTUK KELUARGA YANG SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH"

Rabu, 2 November 2011

SANTAPAN PAGI

0


Setelah melalui hari yang melelahkan, pulang ke rumah untuk isterehat sebentar sebelum menempuh lagi hari baru yang penuh cabaran sebaik 7.00 am nanti. Jam menunjukkan angka 4.30 pagi. Azan subuh sudah berkumandang sebagai penanda bagi hari baru yang penuh dengan sinar cahaya dan harapan. Kepala oleng (pening) sebagai manifestasi kelelahan, tidak cukup tidur dan lapar. Sebaik sahaja menunaikan solat subuh, diri lansung rebah di hamparan tilam.. Tidur pulas. Tidak ada lagi yang bisa difikirkan kecuali mahu sekali istirehat.

Terjaga jam 6.30 am. Kakak sudah menyiapkan makan pagi. Cucur kentang, kentang goreng bersama teh susu yang kelihatannya sangat enak. “Jom makan” ajak kakak. Wah, jarang sebenarnya kami makan pagi bersama di kamar kecuali hari libur (cuti) dan kami sama-sama berada di kamar.

Cucur kentang kakak benar-benar memberikan motivational support pada diri yang semakin lesu menghadapi hari-hari awal di bagian pediatric. Mungkin kerna kakak yang telah terlebih dahulu melalui department ini lebih memahami kesengsaraannya. Stress tingkat tinggi. Penat yang mengasak jasad.

Alhamdulillah puji dan syukur kehadrat Allah kerna dikurniakan sahabat seperjuangan yang mengerti situasi. Terharu. Jadi teringat pada satu tazkirah yang pernah diri baca:

Kita dididik menjadi ummat yang berakhlak. Kita selalu dituntun oleh Allah dan RasulNya menjadi orang-orang yang mahu berkorban dan memberi. Berkorban untuk memberi petunjuk kepada orang lain. Dengan cara apapun. Memberi untuk meringankan beban orang lain. Memberi apapun. Berusaha untuk menyampaikan kebaikan pada orang lain. Kebaikan apapun. Meski harus membebani, menyulitkan diri kita sendiri. Kita selalu diajarkan untuk menebar kebaikan di mana sahaja. Menjadi umat yang laksana lebah. Hinggap ditempat yang baik, menghisap yang paling baik, dan menyebarkan yang baik dan bermanfaat bagi manusia. Itulah akhlak kita. Itulah cirri khas dan jati diri ummat kita, sejarah kita.

Kita tidak diajarkan seperti lalat. Yang hinggap ditempat yang paling kotor, mengambil yang kotor dan menyebarkan kekotoran itu untuk merusak manusia.

Ini memang logika pahala, amal soleh, yang didorong oleh keimanan. Imanlah yang mendorong orang untuk berbuat baik, meski secara kasat, mungkin sia-sia, bahkan bisa berupa beban atau kesulitan. Kebaikan harus diberikan kepada siapa sahaja. Keadilan juga harus diberikan kepada siapa sahaja. Kezaliman harus dijauhkan dari siapa sahaja. Itulah sendi-sendi ajaran Islam yang diberikan kepada kita. Memberi tanpa mengharap balasan. Berkorban tanpa meminta hadiah.

Jangan mundur memberi pengorbanan untuk orang lain. jangan berhenti memberi dan berusaha untuk melahirkan kebahagiaan untuk orang lain. mungkin saja ada yang tidak setuju dengan bentuk pengorbanan yang kita berikan kepada orang lain kerana dianggap menyulitkan diri sendiri. Mungkin juga ada yang menganggap upaya kita untuk kebahagiaan orang lain itu, membebani dan tidak ada gunanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, bila kita jujur dan tulus pada orang lain, orang mungkin akan mempergunakan kita dan menindas kita. Tapi tetaplah jujur dan telus. Jika kita mengalami kebahagiaan dan ketenangan, mungkin ada orang yang iri. Tapi tetaplah syukuri kebahagiaan kita. Kebaikan kita hari ini gampang dan sering dilupakan orang. Tapi jangan berhenti melakukan kebaikan. Kerna inti masalahnya, ada di antara kita dan Allah, bukan antara kita dengan manusia. Siapapun dia.

Terima kasih kakak untuk santapan pagi yang penuh dengan motivasi.. ^_^

Selasa, 1 November 2011

HARI YANG MEMENATKAN

0



Malam tadi diri ditugaskan untuk standby di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). NICU adalah ruang ICU yang dikhaskan untuk bayi baru lahir yang bermasalah. Baik berat badan lahir rendah, lahir tidak cukup bulan (premature), lahir dengan New Born Distress Syndrome, atau dengan kelainan-kelainan yang lain seperti hemangioma, sepsis,septal defect, icterus neonatorum, dan pelbagai lagi penyakit lain. jadi tidak hairan apabila di bagian ini kita diharuskan untuk standby 12 jam @ sepanjang malam. Memastikan bayi-bayi kecil ini dalam kondisi aman terkendali.

Pagi ini ditugaskan untuk menjadi Penanggungjawab Laboratorium (PJ Lab). Kerjanya PJ Lab adalah menghantar sampel untuk pemeriksaan lab seperti darah, urine, faces, cairan bilas lambung dan sebagainya di samping harus mencari hasil laboratorium yang telah selesai dip roses. Sebenarnya kerja ini bukan tugas co-assistant seperti kami namun kerna katanya jika mengharapkan petugas laboratorium yang datang secara berkala itu lambat sedangkan hasil mahu dikerjakan secara cepat, maka tugas itu dibebankan ke atas pundak kami, co-assistant bagian pediatric minggu pertama.

Tugas yang benar-benar diri rasakan tidak masuk akal. Meski kami adalah co-assiatant, namun tugas utama kami masih sebagai mahasiswa yang meniti jengjang pendidikan. Yang mana seharusnya setiap tugas yang dibebankan kepada kami adalah tugas yang membantu pendidikan kami sebagai calon dokter. Berulang alik menempuh jarak yang tidak dekat untuk ke laboratorium benar-benar melelahkan. Belum lagi bab mencari hasil laboratorium yang telah diproses di laboratorium sentral atau di laboratorium unit gawat darurat yang jauh dan dimarah-marah tidak jelas oleh petugas laboratorium, hasil yang tidak jelas di laboratorium, hasil yang hilang dan sebagainya, amat menguji kesabaran. Tidak ada sama sekali yang bisa dipelajari kerana keletihan memanjat saat “serangan” sampel yang perlu dihantar tidak pernah berhenti.

Siangnya harus kembali bertugas di NICU selama 8 jam. Berdiri dan menguruskan semuanya tentang bayi kecil. Malamnya masih ditugaskan sebagai PJ Lab dan banyak pula yang harus dihantar segera (CITO). Aduh, kaki sudah pegal, badan benar-benar lelah. Baru teringat bahawa diri belum menjamah makanan dari tadi malam. Aduh, hanya mampu bertahan dengan sisa tenaga yang ada. Mahu sekali tidur. Namun sampel yang perlu dihantar tidak mengenal ampun. Menyebabkan diri tidak sempat tidur sampai jam menunjukkan angka 3.30am.

Kembali dikejutkan oleh teman sejawat kerna dipanggil oleh dokter ke PICU (pediatric intensive care unit. Ada seorang pesakit anak yang harus di periksa gula darah sewaktu (GDS) setiap jam. Diri diarahkan untuk meminjam alat pemeriksa GDS dari laboratorium unit gawat darurat memandangkan lab central hanya beroperasi sesuai waktu kerja. Malangnya, petugas lab tidak bisa meminjamkan alat tersebut untuk sepanjang malam kerna di unit gawat darurat juga ada 2 orang pesakit yang harus diperiksa GDS per jam. Dan kondisi mereka kritis. Diri dibolehkan untuk meminjam alat tersebut dipulangkan kembali setiap jamnya. Kerna hanya 1 alat yang berfungsi. Please deh.. besarnya rumah sakit Wahidin sebagai rumah sakit rujukan hanya memiliki 1 alat pemeriksaan GDS yang harga satunya tidak mencapai 500k. benar-benar mengecewakan.

Menelefon dokter. Dokter tetap berkeras untuk mendapatkan alat tersebut. Marah-marah. dan diri sebagai PJ Lab yang tersepit (terjepit) ditengah masalah. Diri yang bakal menjadi korban keadaan. Terpaksa menempuh jarak jauh berulang alik untuk mengambil dan memulangkan alat GDS untuk kepentingan bersama. Amat sadis. Penat. Lapar. Pegal. Lelah. Kecewa. Semua teradun dalam satu diri. Sistem yang benar-benar kejam ini membuat akal tiba terfikir “benarkah kehidupan seperti ini yang diri impikan? Benarkah pilihan yang telah diri ambil untuk terjun ke bidang kedokteran?” kehidupan yang memenatkan. Pertama kalinya dalam kehidupan co-ass ku mengharungi hari seperti ini. namun diri yakin jika ini hanya sebuah permulaan. Permulaan kepada kehidupan yang lebih penat dan melelahkan. Ya.. lebih banyak lagi yang harus ditempuh. Surgery. O&G. Anesthesi. Forensic. Tiada henti.

Tapi setelah berfikir ulang, this is it. Untuk bisa memilih hal yang ingin kita lakukan dalam hidup adalah suatu anugerah. Tidak semua hal dalam perjalanan ini kita sukai. Termasuk juga dalam hal yang telah kita pilih. Namun disitulah seninya untuk kita bertahan dan terus melangkah. Menuju puncak itu susah dan berat namun saat bertahan di puncak itu sebenarnya jauh lebih berat. Jadi perjalanan berat menuju puncak itu harusnya menjadi suatu persediaan dan motivasi supaya kita menjadi lebih tegar bukan malah menyerah dipertengahan jalan. Kadang, hal yang tidak kita sukai itu justeru, yang mendidik kita untuk menjadi perkasa..
Maka, bertahanlah dan teruskan berjuang.

Isnin, 31 Oktober 2011

1 WEEK OFF

0


It’s October 24. Monday. Extraordinarily, I just laid down on the mattress without any hurry to prepare to work. Last week, I’ve just finished my Medicine Posting examination. And for the first time since I’ve got into practical field, I gave myself a space to be “OFF” the cycle. Took my own holiday before getting into the most “disastrous” department P-E-D-I-A-T-R-I-C.

I ‘m getting so exited to enjoy it as the flights of ideas come across my mind. I want to go to my dream place Bissapu waterfall, I want to visit my KKN village in Jeneponto, or I want to go to the bay, watching the sunset and eating the good stuff or going to the most beautiful island... Wah..i want to chase the rainbow and collect the stars..feel the wind and hear the water to flow.. Heaven!! Just want to go out of here.. being free from my routine. But…

Wrong timing. My friends are all on the hectic mode. Thinking of spending times with my sweet sisters in islam, my juniors 09. But they’ve got an examination to settle at the end of the week. So I have to cancel my plan to go on trip with them. Gratefully, one of my sister, Aqilah invited me to accompany her to our favorite seafood restaurant at Losari Beach, Lae-Lae. Along with her smart circle group of 1st year juniors which means to be 4 years younger then me not really makes me felt weird.. yeah.. we enjoyed the evening by riding a musical boat while waiting the sun to set. Hanging out together create an exclusive dimension to know each other better.. they are all happening. After having our dinner at Lae-Lae, we drop by the ice-cream stalls and eat some ice-cream of various flavor before going home.

Aqilah didn’t talk much. Just observing her juniors and make sure that they’re in comfort and safe condition. She’d grown up fast. I remember the 1st time I met her when she was in her 1st year, she used to be very cute and like to ask those controversial questions. Unlike others, she’s not really used to have the birthday party. She can’t tolerate stupid things or childish games.. However, she’s the most fastest learner, she hold tight the knowledge she’d got and make it to apply them in her daily. time runs. She’s now in her 3rd year and manage to mentor the juniors.. Feeling very proud of Aqilah.

I remember once upon ago, I’d been in smart circle group with my friend. Spending our time to hang out together with our mentor, laughing, exploring new places, eating good foods.. just like them. In other time, we used to sit together and listen to our mentor’s tazkirah or the story of great men from the previous centuries. But now, we ourselves have to take the responsibilities to give the tazkirah, mentoring juniors to solve their problems and to be close to them. Guide them. Teach them. Just like how we’d been thought. Treat them well exactly how our mentor do it for us.. Aqilah too.. going through the process.. life is like a wheel. There’s a time, we’re accepting the knowledge and tarbiyah and in other time, we have to give it out to our juniors. Our sisters in Islam. That’s the bright circle.

We do this because we love our juniors as our seniors back there who love us.

Thanks my sisters for a cozy day ^_^

Ahad, 30 Oktober 2011

APAKAH KITA SEORANG MUKMIN?

0



Sejak pertama melangkahkan kaki disini,setiap kita harus tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah menuju kepada Allah SWT. Kita berjalan dan berlari menujuNya. Hanya Allah sahaja. Kita juga harus mengerti bahawa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga terakhir.

Saudaraku,
Sungguh mulia perjalanan hidup para salafussoleh. Orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadith bernama Ibrahim Al-Harabi, mengisahkan pengalamannya selama bertahun-tahun menemani tokoh salafussoleh Imam Ahmad Bin Hambal.
Katanya “aku telah menemaninya selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin”
(Manaqib Ahmad, Ibnul jauzi,40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah SWT. Semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaedah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah SWT. Di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.
Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip seperti itu.

Saudaraku,
Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al-hafi mendefiniskan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan “Jika engkau merasa amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit”

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahumullah saat menyinggung masalah ini. katanya, syaitan akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga perilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lainnya” begitu kata iblis seperti yang diungkapkan oleh Fudhail. Tiga perilaku itu adalah : ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya. Itulah pangkal dosa.

Kata Nabi Allah, Isa AS, “berapa banyak lantera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal soleh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan”

Saudaraku,
Semoga cahaya amal soleh kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapat penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita. Dahulu, Hasan Al-Basri tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhuatiran bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya “Ya Hasan, apakah engkau seorang mukmin?” Hasan Al-basri hanya menjawab “InsyaAllah”. Penanya terkejut dengan jawaban beliau “kenapa engkau menjawab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’en itu lalu mengatakan “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’. Kerna itulah aku katakan InsyaAllah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang IA benci, lalu IA murka kepadaku dan mengatakan ‘Pergilah..Aku tidak menerima amal-amalmu..”

Saudaraku...apakah kita seorang mukmin?

“Semoga Allah tidak melihat kita berada dalam larangan-larangaNya dan tidak kehilangan kita dalam suruhan-suruhanNya..”

Khamis, 27 Oktober 2011

DAD'S PRINCESS

2


It was a very hectic day in hospital. I just came out from one of the ward to exchange the branula set of chirrosis hepatic patient. He had a phlebitis on his hand due to the long-term infusion. Suddenly my mobile phone rang. “beep..beep” it’s sms sound. I took a look and found that it was from my dad. As long as I can remember, it was really a rare thing to get the sms from dad. Because he usually calls in or I’ll call him out. It makes me damn curious about the content of the sms.

Quickly I’d press the “OPEN” button and start reading. “Dear daughter and son (me and my brother who studies in Mesir), Now I’m in a Graduation Hall to see your big sister’s graduation event. If you want to give your words to her, better say it right now and I’ll pass it to her..” the tears suddenly drop out my eyes as the warm feeling crawls into my heart. Today is my sister’s big day. A Graduation Day. She had succeeded to become a lawyer as she always dream. A civil law degree and a syariah law degree.. for the first time in my life, I can feel how proud my dad is, having her as a daughter. My mom is also in the same way. To be called a “dad” and a “mom” to a succeeded daughter give a meaning that they are both superb..

To give the same feeling that makes your parents proud of you is that you have to shot a goal to be the best. Studying medicine is literally and factually uneasy. Seriously speaking. (as well as other field). But trying to give out your best effort toward it, is not impossible.. Parents send you off with a kind of hope to see that you can hold the thing you want to do in your whole life. That’s the spirit. Remember it. Catch it. Hold it. And move forward. Genius is a gift. Not everyone born with it. But intellegency can be learned by hardworking, that’s the effort ordinary people can put to be extraordinary. My teacher’s favorites word : “Success is 1% inspiration and 99% perspiration”. That’s how life goes. So just keep positive to move on your road, put your effort and pray.

My sister is a kind of inspiring person. She’d proved it to be the best in her life. Being a good daughter. A good wife. A great mom and a good student. We can make it the way we want as long as we have the hopes and chase for it..

I love you dad.. I love you mom.. I love you sis.. do pray for me to be the best!! For my lovely brother, Keep Fighting!!


“The words are so powerful. The path is too dangerous. Walk slowly. And be patient. Then you’ll know that you can go beyond your limit”

Sabtu, 22 Oktober 2011

CREDIT DARI MUTARABBI KEPADA MUTARABBI

0


Pagi ini membuka halaman muka buku.. terbaca artikel yang baru ditagkan oleh adik kesayanganku.. Miftahul Jamilah.. tentang mutarabbi..
Sebuah puisi indah yang di petik dari : http://muharikah.com/archives/720/

A’uzubillahiminassyaitonirrajim..Bismillahirrahmanirrahim..
Dengan namaNya,Ar-Rahman..Ar-Rahim..
Ar-Rahman atas segalanya..Ar-Rahim atas segalanya..
Adunan rasa yang disimpan,Jauh di sudut yang paling dalam
Buat jiwa-jiwa..yang berjiwa mutarabbi
Meski sudah jauh berjalan,Jiwanya masih jiwa mutarabbi
Mengharap sayang sang murabbi,Mengharap kasih sang murabbi
Wahai ‘ibadurrahman..
Dalam hatimu itu ada rasa sayang,Dalam hatimu itu ada rasa kasih
Sayang bukan sebarang sayang,Kasih bukan sebarang kasih
Cuma..cuma..,Ingin kuingatkan
Diriku dan kalian
Murabbi itu bukan malaikat,Murabbi itu bukan nabi yang maksumCuma..cuma..
Murabbi itu cuma seorang manusia,yang dengan sedayanya mencuba
menjadikan nabi itu qudwah terbaik dalam hidupnya
Dan kenapa, duhai pemilik hati ‘ibadurrahman
Perlu kalian mengeluh, berkeluh kesah
Resah menanti murabbi sepertinya malaikat,Menunggu murabbi sepertinya nabi
Tanpa ada cacat walau sedikit
Benar..benar..
Benar murabbi itu bagaikan ayah, bagaikan ibu,Benar murabbi itu seorang pemimpin
Benar murabbi itu seorang guru,Benar murabbi itu seorang sahabat
Benar, seharusnya begitu
Tapi..
Ingin diingatkan,Diriku dan kalian
Kita merancang,,Allah jua merancang,
dan Dia adalah sebaik-baik perancang
Sabar..sabar..sabar duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Tarbiyah itu dari Allah..
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang murabbi
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang mutarabbi
Ada harinya tarbiyah itu, lewat diri kita sendiri
Tapi datangnya sama, dari Allah..
Kenapa harus ada masa berhenti?
Kenapa harus ada masa berhenti dari tarbiyah ini?
Kenapa..?
Yang miliki hatimu itu hatimu sendiri,Yang miliki jiwamu itu jiwamu sendiri
Yang miliki imanmu itu imanmu sendiri
Allah kan ada..,Allah ada..,Allah..
Duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Ku katakan begini,
untuk kalian yang memiliki jiwa mutarabbi
untuk diriku yang jua seorang mutarabbi
dan murabbi kita..jua seorang mutarabbi
Sampai..Murabbi teragung..Tidak rindukah kita pada baginda?
Murabbi kepada murabbi teragung..?DIA pemilik nyawa kita..
DIA pemilik hati kita..DIA pemilik iman kita..Kembali pada asalnya diri.
Jadi kenapa harus lari?

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA
Setelah membaca puisi tersebut, jiwa bergetar. Benarlah mendidik hati itu adalah suatu hal yang tidak mudah. Menjadi MUTARABBI yang menganggap kebaikan itu datangnya dari langit itu tidak mudah. Kerna seorang mutarabbi itu mendambakan sosok yang bisa dijadikan contoh teladan. Mendewasa dibawah bayangan yang hebat untuk melentur diri menjadi hebat. Ia butuh tsiqqah yang tinggi dan mapan terhadap peribadi murabbinya. Kadang terlupa bahawa murabbinya juga manusia yang masih melalui hari-hari tarbiyah yang penuh dengan mujahadah. Masih bertarung dalam pergelutan antara nafsu dan iman. Antara keanakan dan kematangan. Antara realities dan fantasis.

Menjadi MURABBI lebih tidak mudah. Mendidik orang lain untuk menjadi mapan sedang diri juga masih dalam proses untuk memujuk hati, mendidik diri sendiri. Membina diri untuk menjadi solid dan menangani masalah mutarabbinya dengan penuh kesenian dan pemahaman. Itu sungguh hal yang tidak mudah. Saat perhatian harus difokuskan sepenuhnya. Saat sensitivity harus diasah setingginya. Menaggapi semua permasalahan dengan dewasa dan harus mampu untuk menembus dimensi hati yang dinamik dan kompleks.. Untuk memahami dan mengerti setiap ahli dalam suatu halaqah itu suatu cabaran. Untuk mempersatukan setiap orang dalam satu wadah, menghapuskan perbezaan, dalam masa yang sama menimbulkan toleransi dan saling menerima itu bukan mudah..apatah lagi untuk menjaga keseimbangan dan keserasian.. Sungguh.. hanya Allah lah yang mampu mempersatukan hati manusia..

Kita tidak pernah layak untuk menjadi mutarabbi yang baik. Apalagi menjadi murabbi yang baik. Tapi.. kita harus berusaha dan terus berusaha untuk melayakkan diri kita dengan mendidik dan melenturnya dengan tarbiyah pencipta.

“Kita tidak mungkin mengubah arah angin tapi kita bisa mengubah arah sayap kita..”