MINGGU 3. Bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah
Salewangang,Maros. 1 Jam dari Makassar. Selalu bagus perasaannya jika bertugas
di rumah sakit jejaring. Suasana yang baru lagi. Bertemu dengan orang-orang
yang baru. Berkerjasama dengan dokter dan rakan sejawat yang baru.
Di Maros disediakan ruang koass yang tersendiri dengan
makanan yang disediakan 4x1. Dari makan pagi, makan siang, minum sore dan makan
malam. Cukup adekuat hingga menjadikan stase di Maros like heaven vacation.
Awalnya diri merequest di Maros gara-gara Kak Murni yang pulang bercuti. Kerna
diri yang sudah terlanjur masuk di Obgyn, untuk bertemu dengan kakakku sayang
itu akan sedikit sulit. Makanya memutuskan untuk minta surat tugas ke Maros.
Namun yah mungkin takdir masih mahu menguji, ternyata Kak Murni sudah pulang
hari sebelum diri ditugaskan ke sana. Belum jodoh mungkin.
RSUD Salewangang sangat damai. Khas dengan suasana pendesaan
dengan ibu bidan dan bicil-bicil yang sangat ramah dan baik hati. Begitu juga
dokter residen Obgyn yang bertugas disana. Di bawah bimbingan dr.Isma, dr.Edwin
dan dr.Anca’, kami diberi peluang untuk merasai pelbagai pengalaman. Dari
menyambut kelahiran gamelli (kembar) hingga menangani kasus pasien plasenta
(ari-ari) letak rendah, plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir) dan
sebagainya. Membantu persalinan dan hecting itu menjadi santapan harian.
Apalagi jarang ada bicil(bidan cilik/mahsiswa kebidanan) yang mahu menindaki.
Paling mereka minta diajarkan. Mengajar
bicil bik tindakan mahupun teori selalu saja menyenangkan. Selain membangun
hubungan yang baik dalam tim, kita juga dapat berbagi ilmu dan memperkukuhkan
pengetahuan yang ada.
Ada satu pengalaman sewaktu tugas disini yang sangat tidak
bisa diri lupakan. Ada seorang pasien, Ny.T, usia 21 tahun yang masuk dengan
kehamilan anak pertama (G1P0A0) yang masih dalam fase laten (fase lama) dengan
pembukaan mulut rahim belum ada. Atas indikasi bayinya dikhawatirkan besar
menurut perkiraan ultrasonografi, maka dokter memutuskan untuk merawat inap
pasien tersebut dan diinduksi kelahiran. Diri yang kebetulan tugas hari itu,
menerima pasien baru ini(clerk case). Sepanjang Ny.T mempunyai keluhan, pasti
diri yang dicari untuk menenangkannya. Entah itu pertanyaannya “doc, kenapa sakit
sekali seperti ini?” “doc, bisa saya makan kacang?” “doc, anak pertamaku,
baik-baikji didalam?” mungkin kedengarannya pertanyaan yang konyol
(ridiculous) tapi itulah
kekhawatiran-kekhawatiran yang melanda ibu primigravida atau ibu muda yang
hamil pertama kalinya. Prinsip “never lies to the patient” sangat membantu.
Diri menjelaskan baik-baik bahwa kesakitannya akan bertambah keras tiap jam.
Dan itu sebenarnya proses untuk membantu anaknya mencari jalan keluar dari
pintu panggul. Tapi ibunya dilarang untuk mengedan/berkuat. Takutnya akan
menyebabkan kepala anaknya bengkak (kaput). Ny.T mendengarkan dengan baik. Dan
kami masih sempat bercanda sebelum semakin lama, mukanya makin jauh ditinggal
senyum akibat sakitnya kontraksi yang frekuensinya bertambah kerap dan
durasinya menjadi semakin lama.
Terakhir sewaktu diri meninggalkan ruang kamar bersalin,
Ny.T masih pada pembukaan mulut rahim 4cm. menurut ilmu medis, ibu yang pertama
kali hamil membutuhkan 1jam untuk pembukaan mulut rahimnya maju 1cm. untuk menunggu
hingga pembukaan lengkap (10cm) ibarat suatu penyiksaan yang tidak
berpenghujung. Seakan jarum jam terkena sumpahan Ratu Salju yang membekukan
segalanya. Diri bebas tugas malam itu. Kerna system shift yang kami atur. Tim
yang satunya yang bertugas. Pagi besoknya, ternyata Ny.T belum juga kunjung
melahirkan. Padahal beliau sudah diinduksi dengan obat pematangan serviks 2kali
dan induksi oxytocin. Wajahnya yang kepenatan lansung menyungging senyum
tatkala meliht wajah bugar cukup tidurku yang muncul saat visite pagi itu. Ny.T
mahu diri yang membantu menyambut kelahiran permata hati yang pertamanya itu.
Padahal mungkin dia tidak tahu bahwa diri baru 3 kali menyambut kelahiran
sewaktu di Siti Fatimah dulu. Hadeuh!! Diri mengiyakan saja. Tidak sampai 5 menit
diri duduk di meja untuk mengisi laporan pagi, datang mama dan tante dari Ny.T
menemui diri.
“Doc, minta tolong sekali qta(kamu) yang menyambut anaknya.
Dia mahunya cuman sama qt(kamu), doc. Katanya lembut carata (caramu).”
Kamprett!! Matemi. Aduh padahal masih belajar juga. Lembut
dari mananya juga tidak tahu. Entahlah.
Diri hanya senyum dan mengangguk. Direquest untuk menyambut
kelahiran adalah hal yang pertama kali dialami. Mahunya ini ibu disambut
anaknya oleh calon dokter yang masih belajar. Namun, mungkin inilah yang
dikatakan rezeki untuk menimba lebih banyak ilmu.
Jam 15.00. diri hari ini bertugas di poliklinik. Pasiennya
sangat banyak. Supersibuk. Dokter hanya menghandle yang mahu USG dan kasus yang
bermasalah. ANC dang anti verban diserah penuh pada diri. Tiba-tiba diri
dipanggil oleh adik bidan cilik ke kamar bersalin. Katanya harus segera.
Terpaksa meninggalkan poliklinik untuk sementara. Di kamar bersaalin ternyata
Ny.T yang mahu melahirkan. Dr.Isma berkata
“Fuzah, kasi partus(melahirkan) pasienmu. Dia requestki..
biar sama saya tidak mahu. Mahunya cuman sama kamu..” dr.Isma ketawa-ketawa.
Hadueh!! -__- oklah.
Membantu persalinan Ny.T agak lama kerna ibu itu tidak
pengalaman berkuat. Dan beliau kehabisan energy sebelum puncaknya. Memakan waktu satu jam sebelum bayi perempuan
yang mungil itu bisa keluar dari ruang sempit panggul si ibu. Alhamdulillah. Namun
tetap terdapat robek perineum tingkat II memandangkan ini adalah kelahiran
pertama dan jalan lahir masih sempit.
Setelah diyakini kondisi Ny.T baik-baik pasca persalinan,
beliau dipindahkan ke perawatan di bangsal Nifas yang terletak di bagian
belakang ruangan VIP, berdekatan dengan kamar koass kami. Namanya juga ibu baru.
Sedikit hal yang tidak kena dengan anaknya sudah mampu membuat Ny.T sangat
stress. Contohnya, anaknya demam setelah diimunisasi HepB 0 membuat beliau
sangat khawatir. Padahal bayi lain dibangsal tersebut tidak ada yang demam. Segera
dia menyusul diri di kamar operasi untuk melihat kondisi anaknya. Keseringan keluarga
Ny.T mencari diri, membuat teman-teman sejawat jadi jengkel. Tapi mungkin kerna
kekhawatirannya dan kurangnya pengalaman membuatkan si ibu terus khawatir.
Jadi ingat suatu kejadian sewaktu bayi Ny.T tidak berhenti
menangis. diri sementara tidur siang di kamar koass kerna tidak jaga siang. Mencover
tidur gara-gara jaga malam sebelumnya menghadapi kasus gawat dan 3 ibu yang
melahirkan. Malam yang melelahkan. Ketukan di pintu kamar koass benar-benar
membuat jengkel teman sejawat yang lain dan membuat mereka sampai marah-marah. Mereka
melarang diri terus melayani kemanjaan Ny.T namun diri tidak tega. Kasihan sekali
sama itu ibu. Segera bangun, mengenakan jas koass dan menyusur ke pintu. Melihat
Ny.T yang berwajah kusut dan mendodoi anaknya yang tak kunjung berhenti
menangis, mungkin anaknya kelaparan. Diri menyarankan supaya anak itu dibantu
saja dengan susu formula. Tidak ada sekali air susu yang keluar hingga membuat
bayi mungil itu terus kelaparan. Katanya sudah dibantu namun si anak tetap
tidak mahu berhenti menangis. barangkali caranya yang salah.
Diri memangku bayi mungil itu dan memberikan susu formula
yang sudah dikemas dalam dot/ botol bayi.
Tidak sampai setengah jam ia sudah
berhenti menagis. Ny.T pula yang menangis terisak-isak sambil mengeluarkan
keluh kesahnya. Dia tidak mahu diri pergi dari situ kerna menurutnya anaknya
berhenti menangis cuman jika diri ada sisana. Hadeuh!! -_-“ [ribet juga nih jadinya]
dalam nada bercanda, aiisyy kalo saya yang jagai terus jadinya anak saya donk. Sambil
diri memberi semangat lagi pada ibu muda itu bahwa dia pasti bisa menjalaninya.
Anak kecil menangis cuman kerna 3 penyebab. Lapar, popoknya basah (pampers)
atau kerna sakit. Padahal diri juga belum punya anak. Hanya mengandalkan teori
dan pengalaman mengurus bayi sewaktu koass di bagian anak dulu. Untuk mengajar
orang lain menjadi ibu ternyata susah juga. Mungkin dia hanya perlukan waktu
dan pengalaman yang akan mengajarkannya. Semoga Ny.T akan berjaya menjadi ibu
yang baik suatu hari nanti.
Menjelang hari ke-3 pasca melahirkan, Ny.T diizinkan untuk
pulang. Sewaktu pamitan, dia merangkul diri erat-erat sambil mengucapkan ribuan
terima kasih atas kesabaranku menghadapi kerenahnya. Yang menurutku tidak
sebegitunya. Pengalaman ini mengajarku bahwa kita menjadi dokter tidak cukup
mengurus ibunya dari saat mulai sakit mahu melahirkan, sampai 2 jam habis
melahirkan, selesai. Namun bagaimana kita mengurusi ibu sampai melayani
kekhawatirannya untuk menjalani rutinitas barunya sebagai ibu. Menjelaskan
untuk tidak berputus asa untuk memberikan air susu ibu pada bayi, makanan
bergizi yang hanya bisa diberikan setelah usia anak 6 bulan. Ny.T sempat
menyimpan nomor telpon genggamku andai ada yang mahu ditanyakan. Dan diri
berbesar hati mempersilakan saja ditanya apa yang menjadi keraguannya. Mungkin itu
bisa membantu.
Benarlah profesion dokter itu punya banyak peluang untuk
berbuat baik pada orang lain. Membantu yang dibutuhkan dan menjaga
silaturrahim. Tergantung bagaimana kita kemudian menyikapi suatu permasalahan
dan pembelajaran itu.







0 ulasan:
Catat Ulasan