Skinpress Rss

Selasa, 5 Mac 2013

WELCOME TO RSUD SALEWANGANG,MAROS

0



MINGGU 3. Bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang,Maros. 1 Jam dari Makassar. Selalu bagus perasaannya jika bertugas di rumah sakit jejaring. Suasana yang baru lagi. Bertemu dengan orang-orang yang baru. Berkerjasama dengan dokter dan rakan sejawat yang baru.

Di Maros disediakan ruang koass yang tersendiri dengan makanan yang disediakan 4x1. Dari makan pagi, makan siang, minum sore dan makan malam. Cukup adekuat hingga menjadikan stase di Maros like heaven vacation. Awalnya diri merequest di Maros gara-gara Kak Murni yang pulang bercuti. Kerna diri yang sudah terlanjur masuk di Obgyn, untuk bertemu dengan kakakku sayang itu akan sedikit sulit. Makanya memutuskan untuk minta surat tugas ke Maros. Namun yah mungkin takdir masih mahu menguji, ternyata Kak Murni sudah pulang hari sebelum diri ditugaskan ke sana. Belum jodoh mungkin.

RSUD Salewangang sangat damai. Khas dengan suasana pendesaan dengan ibu bidan dan bicil-bicil yang sangat ramah dan baik hati. Begitu juga dokter residen Obgyn yang bertugas disana. Di bawah bimbingan dr.Isma, dr.Edwin dan dr.Anca’, kami diberi peluang untuk merasai pelbagai pengalaman. Dari menyambut kelahiran gamelli (kembar) hingga menangani kasus pasien plasenta (ari-ari) letak rendah, plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir) dan sebagainya. Membantu persalinan dan hecting itu menjadi santapan harian. Apalagi jarang ada bicil(bidan cilik/mahsiswa kebidanan) yang mahu menindaki. Paling mereka  minta diajarkan. Mengajar bicil bik tindakan mahupun teori selalu saja menyenangkan. Selain membangun hubungan yang baik dalam tim, kita juga dapat berbagi ilmu dan memperkukuhkan pengetahuan yang ada.

Ada satu pengalaman sewaktu tugas disini yang sangat tidak bisa diri lupakan. Ada seorang pasien, Ny.T, usia 21 tahun yang masuk dengan kehamilan anak pertama (G1P0A0) yang masih dalam fase laten (fase lama) dengan pembukaan mulut rahim belum ada. Atas indikasi bayinya dikhawatirkan besar menurut perkiraan ultrasonografi, maka dokter memutuskan untuk merawat inap pasien tersebut dan diinduksi kelahiran. Diri yang kebetulan tugas hari itu, menerima pasien baru ini(clerk case). Sepanjang Ny.T mempunyai keluhan, pasti diri yang dicari untuk menenangkannya. Entah itu pertanyaannya “doc, kenapa sakit sekali seperti ini?” “doc, bisa saya makan kacang?” “doc, anak pertamaku, baik-baikji didalam?” mungkin kedengarannya pertanyaan yang konyol (ridiculous)  tapi itulah kekhawatiran-kekhawatiran yang melanda ibu primigravida atau ibu muda yang hamil pertama kalinya. Prinsip “never lies to the patient” sangat membantu. Diri menjelaskan baik-baik bahwa kesakitannya akan bertambah keras tiap jam. Dan itu sebenarnya proses untuk membantu anaknya mencari jalan keluar dari pintu panggul. Tapi ibunya dilarang untuk mengedan/berkuat. Takutnya akan menyebabkan kepala anaknya bengkak (kaput). Ny.T mendengarkan dengan baik. Dan kami masih sempat bercanda sebelum semakin lama, mukanya makin jauh ditinggal senyum akibat sakitnya kontraksi yang frekuensinya bertambah kerap dan durasinya menjadi semakin lama.

Terakhir sewaktu diri meninggalkan ruang kamar bersalin, Ny.T masih pada pembukaan mulut rahim 4cm. menurut ilmu medis, ibu yang pertama kali hamil membutuhkan 1jam untuk pembukaan mulut rahimnya maju 1cm. untuk menunggu hingga pembukaan lengkap (10cm) ibarat suatu penyiksaan yang tidak berpenghujung. Seakan jarum jam terkena sumpahan Ratu Salju yang membekukan segalanya. Diri bebas tugas malam itu. Kerna system shift yang kami atur. Tim yang satunya yang bertugas. Pagi besoknya, ternyata Ny.T belum juga kunjung melahirkan. Padahal beliau sudah diinduksi dengan obat pematangan serviks 2kali dan induksi oxytocin. Wajahnya yang kepenatan lansung menyungging senyum tatkala meliht wajah bugar cukup tidurku yang muncul saat visite pagi itu. Ny.T mahu diri yang membantu menyambut kelahiran permata hati yang pertamanya itu. Padahal mungkin dia tidak tahu bahwa diri baru 3 kali menyambut kelahiran sewaktu di Siti Fatimah dulu. Hadeuh!! Diri mengiyakan saja. Tidak sampai 5 menit diri duduk di meja untuk mengisi laporan pagi, datang mama dan tante dari Ny.T menemui diri.

“Doc, minta tolong sekali qta(kamu) yang menyambut anaknya. Dia mahunya cuman sama qt(kamu), doc. Katanya lembut carata (caramu).”

Kamprett!! Matemi. Aduh padahal masih belajar juga. Lembut dari mananya juga tidak tahu. Entahlah.
Diri hanya senyum dan mengangguk. Direquest untuk menyambut kelahiran adalah hal yang pertama kali dialami. Mahunya ini ibu disambut anaknya oleh calon dokter yang masih belajar. Namun, mungkin inilah yang dikatakan rezeki untuk menimba lebih banyak ilmu.

Jam 15.00. diri hari ini bertugas di poliklinik. Pasiennya sangat banyak. Supersibuk. Dokter hanya menghandle yang mahu USG dan kasus yang bermasalah. ANC dang anti verban diserah penuh pada diri. Tiba-tiba diri dipanggil oleh adik bidan cilik ke kamar bersalin. Katanya harus segera. Terpaksa meninggalkan poliklinik untuk sementara. Di kamar bersaalin ternyata Ny.T yang mahu melahirkan. Dr.Isma berkata

“Fuzah, kasi partus(melahirkan) pasienmu. Dia requestki.. biar sama saya tidak mahu. Mahunya cuman sama kamu..” dr.Isma ketawa-ketawa. Hadueh!! -__- oklah.

Membantu persalinan Ny.T agak lama kerna ibu itu tidak pengalaman berkuat. Dan beliau kehabisan energy sebelum puncaknya.  Memakan waktu satu jam sebelum bayi perempuan yang mungil itu bisa keluar dari ruang sempit panggul si ibu. Alhamdulillah. Namun tetap terdapat robek perineum tingkat II memandangkan ini adalah kelahiran pertama dan jalan lahir masih sempit.

Setelah diyakini kondisi Ny.T baik-baik pasca persalinan, beliau dipindahkan ke perawatan di bangsal Nifas yang terletak di bagian belakang ruangan VIP, berdekatan dengan kamar koass kami. Namanya juga ibu baru. Sedikit hal yang tidak kena dengan anaknya sudah mampu membuat Ny.T sangat stress. Contohnya, anaknya demam setelah diimunisasi HepB 0 membuat beliau sangat khawatir. Padahal bayi lain dibangsal tersebut tidak ada yang demam. Segera dia menyusul diri di kamar operasi untuk melihat kondisi anaknya. Keseringan keluarga Ny.T mencari diri, membuat teman-teman sejawat jadi jengkel. Tapi mungkin kerna kekhawatirannya dan kurangnya pengalaman membuatkan si ibu terus khawatir.

Jadi ingat suatu kejadian sewaktu bayi Ny.T tidak berhenti menangis. diri sementara tidur siang di kamar koass kerna tidak jaga siang. Mencover tidur gara-gara jaga malam sebelumnya menghadapi kasus gawat dan 3 ibu yang melahirkan. Malam yang melelahkan. Ketukan di pintu kamar koass benar-benar membuat jengkel teman sejawat yang lain dan membuat mereka sampai marah-marah. Mereka melarang diri terus melayani kemanjaan Ny.T namun diri tidak tega. Kasihan sekali sama itu ibu. Segera bangun, mengenakan jas koass dan menyusur ke pintu. Melihat Ny.T yang berwajah kusut dan mendodoi anaknya yang tak kunjung berhenti menangis, mungkin anaknya kelaparan. Diri menyarankan supaya anak itu dibantu saja dengan susu formula. Tidak ada sekali air susu yang keluar hingga membuat bayi mungil itu terus kelaparan. Katanya sudah dibantu namun si anak tetap tidak mahu berhenti menangis. barangkali caranya yang salah.
Diri memangku bayi mungil itu dan memberikan susu formula yang sudah dikemas dalam dot/ botol bayi. 
Tidak sampai setengah jam ia sudah berhenti menagis. Ny.T pula yang menangis terisak-isak sambil mengeluarkan keluh kesahnya. Dia tidak mahu diri pergi dari situ kerna menurutnya anaknya berhenti menangis cuman jika diri ada sisana. Hadeuh!! -_-“ [ribet juga nih jadinya] dalam nada bercanda, aiisyy kalo saya yang jagai terus jadinya anak saya donk. Sambil diri memberi semangat lagi pada ibu muda itu bahwa dia pasti bisa menjalaninya. Anak kecil menangis cuman kerna 3 penyebab. Lapar, popoknya basah (pampers) atau kerna sakit. Padahal diri juga belum punya anak. Hanya mengandalkan teori dan pengalaman mengurus bayi sewaktu koass di bagian anak dulu. Untuk mengajar orang lain menjadi ibu ternyata susah juga. Mungkin dia hanya perlukan waktu dan pengalaman yang akan mengajarkannya. Semoga Ny.T akan berjaya menjadi ibu yang baik suatu hari nanti.

Menjelang hari ke-3 pasca melahirkan, Ny.T diizinkan untuk pulang. Sewaktu pamitan, dia merangkul diri erat-erat sambil mengucapkan ribuan terima kasih atas kesabaranku menghadapi kerenahnya. Yang menurutku tidak sebegitunya. Pengalaman ini mengajarku bahwa kita menjadi dokter tidak cukup mengurus ibunya dari saat mulai sakit mahu melahirkan, sampai 2 jam habis melahirkan, selesai. Namun bagaimana kita mengurusi ibu sampai melayani kekhawatirannya untuk menjalani rutinitas barunya sebagai ibu. Menjelaskan untuk tidak berputus asa untuk memberikan air susu ibu pada bayi, makanan bergizi yang hanya bisa diberikan setelah usia anak 6 bulan. Ny.T sempat menyimpan nomor telpon genggamku andai ada yang mahu ditanyakan. Dan diri berbesar hati mempersilakan saja ditanya apa yang menjadi keraguannya. Mungkin itu bisa membantu.

Benarlah profesion dokter itu punya banyak peluang untuk berbuat baik pada orang lain. Membantu yang dibutuhkan dan menjaga silaturrahim. Tergantung bagaimana kita kemudian menyikapi suatu permasalahan dan pembelajaran itu.



0 ulasan:

Catat Ulasan