Skinpress Rss

Isnin, 11 Mac 2013

REST PLACENTA ~RS POLRI BHAYANGKARA MODE

0




MINGGU 5. Stase RS Polri Bhayangkara, Mappaodang. Seharusnya diri akan mengikuti kursus POED minggu ini. Namun disebabkan ada acara besar besaran Obyn minggu ini, maka POED ditiadakan. Lebih malang lagi, diri akan menjadi chief/kapten pada minggu ini. Hadeuh satu tugas yang berat. Tapi mungkin inilah salah satu bentuk pendidikan yang melatih kita memikul tanggungjawab. Untungnya kami diwajibkan mengikuti acara Kongres Nasional bagian Obstetri dan Ginekologi yang akan diadakan di Hotel Clarion pada 2-6 Maret. Berarti kami hanya diwajibkan oncall setelah acara itu berakhir. Sepanjang acara berlansung kami diberikan libur missal oleh pihak KPM.
Dengan waktu yang singkat tersebut, kami juga berpeluang menimba pengalaman yang sangat keren menurutku. Beberapa pengalaman yang sungguh mendewasakan.

Sewaktu berlansung acara Kongres Nasional, atau tepatnya hari pertama ko-ass diliburkan dari tugas di rumah sakit, ada dokter yang menelpon diri. Dimarah dan dimaki-maki. Dengan kata-kata yang keras. Pokoknya beliau mahu diri dan yang jaga datang malam itu juga. Olala, sudah jam 00.15. mana ada pete-pete (angkotan umum) jam segini. Sebentar disms, “Dik, paling lambat itu kalian ada di RS Bhayangkara jam 3 subuh”. Baca ulang. Weh biar  betul ini dokter. Tidak percaya. Pikiran menerawang. Kalau saja ada superjet 2040 atau pintu doraemon, sekelip mata dokter, Jreeennnggg!! Adama didepan situ.

Besoknya pagi-pagi selesai saja solat subuh, diri ke sana menaiki taksi. Dengan hujan keras dan gelap gulita, benar-benar melatih kesabaran. Tidak semua orang akan mengerti. Sampai disana subuh-subuh. Dokter sudah mulai visite. Meski dia masih mahu marah-marah, namun mungkin kerna kasihan melihat diri yang sudah basah kuyup diguyur hujan, diurung niatnya jauh-jauh. Akhirnya visite berakhir tenang. Dokter tersebut siap memberikan kami tumpangan untuk sama-sama ke tempat acara. Sebelum ke tempat acara, dokter singgah dikosan dokter residen untuk mandi.setelah itu beliau siap membelikan diri sarapan dan didalam mobil beliau bercerita itu ini seperti sudah melupakan semua kemarahan yang sebelumnya. Baguslah. Ternyata dia seorang yang tidak menyimpan dalam hati. Hubungan dengan dokter residen kemudiannya jadi enak. Meski dia masih sering marah-marah tidak lagi seperti pertama kalinya yang sangat begis dan menggunakan kata-kata kasar tersebut. Sebaliknya lebih toleransi.entahlah mungkin sebenarnya tergantung bagaimana kita bersikap.

Jngat satu kejadian sewaktu jaga malam. Seorang ibu hamil kedua datang dengan pembukaan 4. Kala aktif bagi proses kelahiran. Ibu itu melahirkan pada tengah malam. Jam 02.00 pagi WITA. Bidan besar yang menolong persalinan. Kerna sudah dibantu bidan, diri lansung menyiapkan oxytocin dan sebagainya. Kerna suasana yang kalut tiba-tiba itu, diri tidak memperhatikan jika bidan telah memeriksa plasenta yang lahir. Perkiraan diri, tidak mungkin bidan besar akan melewatkan hal yang seperti itu. Dia juga tidak melakukan eksplorasi dalam untuk membersihkan sisa jaringan dalam uterus (rahim). Dipikiranku, mungkin kerna mempercayakan bahwa bidannya yakin plasenta lahir lengkap dan tidak lagi membutuhkan eksplorasi..tidak juga terjadi robekan perineum. Maka selesai. Pasien ditutup.

Diri masih mengawasi pasien untuk 2 jam pasca persalinan. Ibunya kelihatan baik-baik saja. Kecuali ada keluhan nyeri perut bagian bawah. Mungkin disebabkan kontraksi uterus. Sehingga setengah jam ibu masih mengeluh yang sama. Dan ini tidak biasa. Timbul kecurigaan. Pas diri melihat perdarahan ibu yang masih membanjir, yakin ada yang tidak beres. Lansung memakai handscone (sarung tangan steril) dan melakukan explorasi.  OMG!! Masih ada plasenta yang tersisa. Agak besar hingga menyebabkan ibu mengeluh sakit perut bawah. Kontaksi masih berlansung kuat gara-gara berusaha mengeluarkan sisa plasenta yang masih banyak. REST PLACENTA!! 

Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan.

Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena:
a). plasenta belum lepas dari dinding uterus; atau
b). plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.

Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:
a). kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva);
b). plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).

Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).

Insiden
Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%–60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Insidens perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta dilaporkan berkisar 16%–17% Di RSU H. Damanhuri Barabai, selama 3 tahun (1997–1999) didapatkan 146 kasus rujukan perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta. Dari sejumlah kasus tersebut, terdapat satu kasus (0,68%) berakhir dengan kematian ibu.

Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecian mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta.

Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat oto miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan. 

Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:
1. Fase laten, ditandai oleh menebalnya duding uterus yang bebas tempat plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
2. Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm).
3. Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa.
4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya.

Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang mendadak, uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang.
Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala tinggi. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan dan mengklovasi uterus, bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta :
1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction ring.
2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa; implantasi di cornu; dan adanya plasenta akreta.
3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.

Gejala Klinis
a. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
b. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.

Pemeriksaan Penunjang
a. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
b. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time (PT) dan activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.

Diagnosa Banding
Meliputi plasenta akreta, suatu plasenta abnormal yang melekat pada miometrium tanpa garis pembelahan fisiologis melalui garis spons desidua.

Penanganan
Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah:

a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
1. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan.
2. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ.
3. Sepsis
4. Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak selanjutnya.

Prognosis
Prognosis tergantung dari lamanya, jumlah darah yang hilang, keadaan sebelumnya serta efektifitas terapi. Diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting.

Serentak, dokter Anty masuk. Beliau terjaga gara-gara diri sempat izin dulu untuk melakukan eksplorasi tadi. Marah-marah pada bidan. Aduh jadi tidak enak. Pasien didorong ke USG besoknya untuk mengevaluasi berapa banyak sisa yang tertinggal didalam. Jika terlalu banyak, pasien terpaksa dikuret. Distu diri mndapat pelajaran betapa pentingnya memeriksa plasenta yang lahir lengkap apa tidak, melakukan eksplorasi setelah membantu persalinan meski plasentanya lengkap untuk mengelakkan sebarang kemungkinan dan pentingnya pengawasan 2 jam postpartum. Jika salah satu dari hal ini terlewatkan atau diabaikan, kita mungkin bahkan mencelakakan pasien atau membiarkan pasien dalam kondisi yang tidak terbantu. 

0 ulasan:

Catat Ulasan