Suatu kisah yang pernah berlaku sewaktu diri lagi stase di
RSIA Siti Fatimah.
Satu sore yang damai, masuk seorang ibu hamil anak pertama
yang sudah memasuki fase aktif kala 1 dengan pembukaan mulut rahim 5 cm. wah,
pasien pertamaku untuk dibantu partus/melahirkan. Maklum saja diri yang
sementara menjalani kursus asuhan persalinan normal di RSP sangat bersemangat
waja untuk melakukan bantu partus ini. Untuk itu, dokter menugaskan diri untuk
mengobservasi ibu tersebut (menghitung kontraksi uterus/rahim dan observasi
denyut jantung bayinya tiap setengah jam).menurut perkiraan medis, jika sebuah
persalinan kala I sudah memasuki fase aktif, ibu yang kali pertama hamil,
membutuhkan waktu 1 jam untuk pembukaan 1cm. dengan kata lain calon pasien
pertamaku ini membutuhkan 5 jam lagi untuk mencapai pembukaan lengkap dan siap
untuk dipimpin mengedan dan melahirkan bayinya.
Lewat 5 jam. Ibu tersebut sudah mulai merasa kram akibat
kontraksi uterus yang semakin lama dan sering. Lendir berdarah keluar dari
mulut vagina menandakan waktu untuk melahirkan atau istilahnya “inpartu” sudah
sampai. Tiba-tiba BRUSSTTT!! Pecah ketuban/amnion sac. Menandakan bayi sudah
siap untuk dilahirkan. Memakai handscone, melakukan pemeriksaan dalam
vagina/VT. Pembukaan lengkap. Ubun-ubun kecil sudah arah jam 12 menandakan bayi
sudah siap melakukan putaran paksi dalam. Diri siap-siap memakai apron
(celemek) dan sarung tangan steril untuk membantu persalinan. Mengajarkan cara berkuat
yang benar dan memberikan pengarahan kepada sang ibu untuk mengedan saat paling
nyeri dirasakan. 15 menit dipimpin, bayi masih belum keluar. Dokter mulai
campur tangan. Ya.. 15 menit terlalu lama untuk mengeluarkan bayi yang berat
badan jangkaan 2500g. dipimpin oleh dokter juga berhasil yang sama. Ibunya mengedan
terus. Kepala anaknya dibawah sudah terjadi kaput (pembesaran tidak alami
akibat tumpukan cairan bawah lapisan kutis) hingga tidak memungkinkan untuk
membantu ibu dengan vacuum. Jalan terakhir..IBU HARUS DIOPERASI!! Padahal kepala
anaknya hanya 0.5cm hampir keluar di pintu atas panggul. Semua gara-gara si Ibu yang tidak tahu cara
mengedan yang benar.
tidak lama setelah aku menelpon, itu ibu gawat. sesak napas.
si ibu yang memang mempunyai riwayat asma sebelumnya terpaksa dilarikan ke
ruang operasi sesegera mungkin. suaminya disuruh masuk ke kamar operasi. kami
sudah standby dengan pelbagai alat bantu dan obat-obat emergensi yang
berkemungkinan dibutuhkan untuk menolong mempertahankan jalan napas sang ibu.
tapi resikonya jika menolong ibu, kemungkinan untuk turut menyelamatkan anaknya
sangat tipis. hanya salah satu yang bisa dipilih.
dalam suasana yang mencemaskan itu, sang ibu itu memeluk
suaminya sambil berkali-kali meminta maaf dan menyebutkan kesalahan2x.. saat
suaminya mengatakan "saya memaafkan kamu dan ridho atasmu" beberapa
menit kemudian ibu itu mencoba mengumpulkan kekuatannya dan mengedan keras.
membuat kami semua kaget. Bayangkan, tindakan yang diambil itu bisa berakibat
fatal pada dirinya. kerna saat ibu menghabiskan sisa udara dalam rongga paru,
cabang-cabang bronkus yang sedia menyempit pada kasus asma akan segara tertutup
dan terblokir.dalam waktu 5 menit saja jika tidak segara ditolong dengan
bronkodilator inhalasi dan udara yang cukup akan menyebabkan otak sang ibu mati
dan ibu akan tewas dimeja operasi.
tapi selalu saja ada yang namax keajaiban dari Allah.. kamu
tahu, anak yang tertahan lama dijalan lahir itu akhirnya lahir dengan normal..
meski kepalanya agak panjang (caput succidum), tapi ia bisa hilang dalam waktu
beberapa minggu. dan ibu itu bisa kembali mengatur nafas normal. seperti tidak
pernah terkena serangan asma.. Subhanallah sekali. Bayi mereka, meski tidak menangis spontan,
tetap tertolong setelah diresusitasi. benar-benar suatu keajaiban redha seorang
suami....
Aku jadi ingat pertanyaan temanku sewaktu kuberikan “tiket
jujur” lama dulu. Pertanyaannya,”Jika aku memberikanmu sebuah gelas bertatahkan
permata, dan kemudian, aku menyuruhmu untuk memecahkannya, apa yang kamu akan
lakukan? dan sebutkan alasannya.” Pertanyaan
yang gampang-gampang susah. Aku memberikan
dua jawaban saat itu. Ada dua
kemungkinan yang akan diri lakukan. Yang pertama, mungkin diri akan menuruti
katanya dengan memecahkan gelas tersebut. Kerna mungkin dia ada alasan tertentu
yang membuatnya memerintahkan seperti itu. Yang kedua, mungkin juga diri akan
mengingkarinya dengan alasan, gelas itu adalah suatu bentuk amanah. Yang mana
amanah itu adalah harus dipertahankan biar nyawa dituntut sebagai ganti. (Dia memberikan
penilaian 50 markah untuk jawaban itu.) dia
kemudian mengaitkan pertanyaan itu dengan sebuah kisah sang raja yang memilih
istri atas dasar ketaatannya. Waktu itu aku berpikir, jika taat dikerja secara
buta, ia sia-sia. bukan dasarnya keikhlasan tapi keterpaksaan yang akhirnya
menjadi kepasrahan. Tapi sekarang aku mengerti, arti dari ketaatan itu sendiri
didalamnya ada kerelaan. keyakinan dan kepercayaan. dan itulah pondisi terkuat
sebuah keikhlasan. jika seorang istri tidak bisa memberikan ketaatan pada
suami, jadi bagaimana dia menjaga kehormatan keluarganya?..hmm..(dengan catatan
suaminya beriman kepada Allah dan suruhannya tidak bertentangn dengan perintah
Allah)..
CINTA YANG MANA
Ditugaskanlah para orang kepercayaan untuk mencari wanita di seluruh pelosok negeri..
Mulai dari rakyat biasa, hingga yang terpandang..
Dari yang berparas sedang, hingga yang rupawan..
Dari yang sederhana, juga yang kaya raya..
Pada suatu kesempatan, diundanglah beberapa wanita tersebut oleh Sang Raja..
Sebuah jamuan dan pesta mewah pun digelar untuk menyambut mereka..
Namun, tidak beberapaa lama setelah jamuan itu berlangsung…
Kepada mereka diberikan gelas crystal yang bertahtakan permata, berisi minuman terbaik.
Sang Raja kemudian memerintahkan agar mereka membanting gelas masing-masing..
Semuanya terperangah dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu..
Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, karenanya suasana menjadi hening..
Ternyata itu datang dari seorang wanita berparas biasa, sederhana, dan tidak juga begitu kaya..
Di kakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan keheranan.
"Mengapa kau banting gelas itu?"
Tanpa takut wanita itu menjawab : "Ada beberapa sebab :
Pertama, “ Dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Paduka..
Sang Raja terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu.
Sebab lainnya?" tanya Sang Raja.
"Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Alquran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Paduka adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Paduka." Jawab sang wanita
Sang Raja pun kian takjub.Demikian pula paran tamunya. "Masih ada sebab lain?"
Wanita itu mengangguk dan berkata :
"Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Pemimpin nya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya."
Maka kemudian, Sang Raja melamar wanita tersebut..
Semua rakyak merasa gembira karena Sang Raja memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada Pemimpin, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya..
Sesungguhnya..
Bersama nafsu dan kekuasaannya yang senantiasa menggoda..
Intan permata yang bernilai tinggi, pun tak kan ada guna..
Ketika “getaran rasa” telah pergi meninggalkan seorang hamba..
Yang tanpa sadar menyangsikan cinta yang Hakiki..


0 ulasan:
Catat Ulasan