Skinpress Rss

Ahad, 10 Mac 2013

PASIEN RUJUKAN ~ PPCM

0



Pengalaman pertama merujuk pasien ke RS WS. Ibu MRS dengan keluhan sesak napas setelah melahirkan. Sewaktu masuk, wajah pasien sudah pucat dan nadi dan pernapasan yang cepat. Kelihatan otot-otot bantu napas sudah digunakan untuk memaksa udara masuk ke dalam paru. ibu ini habis melahirkan di rumah sakit Siti Fatimah 3 hari lalu dan dipulangkan kerna dikatakan sudah sembuh. Sesampai dirumah pasien sudah diserang sesak. Tidak ada riwayat asma sebelumnya. Tidak ada riwayat batuk lama. Pada pemeriksaan fisik juga tidak didapatkan bunyi Wheezing atau ronchi. Jadi curiga ke arah penyakit jantung yang biasa terkena pada ibu hamil. suspek kardiomiopati pada kehamilan. 

Kardiomiopati peripartum merupakan suatu kardiomiopati dilatasi dengan etiologi yang tidak diketahui. Kondisi ini didefinisikan sebagai :
    Berkembangnya gagal jantung di bulan terakhir masa kehamilan atau dalam 5 bulan setelah kelahiran.
    Tidak adanya penyebab gagal jantung.
    Tidak adanya gagal jantung sebelum satu bulan terakhir kehamilan.
    Terdokumentasi adanya disfungsi sistolik

Kardiomiopati peripartum relative jarang, tetapi dapat mengancam jiwa penderita. Di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), diperkirakan kondisi ini terjadi pada 1 dari setiap 2.289 kelahiran hidup. Keadaan ini lebih sering mengenai wanita Afrika Amerika. Angka kejadian pastinya sangat bervariasi. Angka tertinggi ditemukan di Haiti dengan kejadian 1 dari 300 kelahiran hidup atau 10x lebih tinggi dari AS.
Kardiomiopati peripartum lebih sering ditemukan pada wanita multipara. Kondisi ini dilaporkan lebih sering pada wanita yang hamil anak kembar dan pada wanita dengan preeklamsia. Tapi kedua kondisi ini berhubungan  dengan tekanan onkotik serum yang lebih rendah, yang dapat menjadi faktor predisposisi edema paru non kardiogenik pada wanita dengan stressor lain.

Etiologi
Kardiomiopati peripartum merupakan salah satu bentuk penyakit miokardial primer idiopatik, yang berhubungan dengan kehamilan. Beberapa mekanisme etiolog telah diajukan. Tetapi tidak satupun yang dapat menjelaskan dengan pasti bagaimana penyakit ini bisa muncul.
Beberapa kaadaan yang diperkirakan dapat menjadi penyebab, atau mekanisme terjadinya kardiomiopati peripartum, antara lain :
    Miokarditis: Melvin dan kawan-kawan membuktikan adanya miokarditis dengan melakukan biopsi endomiokardial, pada pasien dengan kardiomiopati peripartum. Dikatakan bahwa hipotesa menurunnya sistim kekebalan selama hamil, dapat meningkatkan replikasi virus dan kemungkinan untuk terjadinya miokarditis meningkat. Infeksi virus yang bersifat kardiotropik.
    Aportosis dan inflamasi.
    Respon abnormal hemodinamik pada kehamilan: perubahan heodinamik selama kehamilan dengan meningkatnya volume darah dan curah jantung, serta menurunnya afterload. Sehingga, respon dari ventrikel kiri untuk penyesuaian menyebabkan terjadinya hipertrofi sesaat.
    Faktor-faktor penyebab lain: efek tokolisis yang lama, kardiomiopati dilatasi idiopatik, abnormalitas dari relaxine, defisiensi selenium dan sebagainya.
    Laporan kasus dan pengalaman menunjukkan adanya ejeksi fraksi yang rendah, yaitu sekitar 10-15% pada pasien dengan preeklamsia berat. Normalisasi ekokardiogram baru bisa dicapai dalam 3-6 bulan. Preeklamsia termasuk faktor risiko, tetapi pada beberapa kasus kondisi ini justru bisa menjadi penyebab. Edema paru non kardiogenik memiliki banyak penyebab yang juga harus dipertimbangkan.
    Sebuah penelitian tahun 2005 menemukan, 8 dari 26 pasien yang terinfeksi parvovirus B19, virus herpes manusia 6, virus Epstein-Barr dan sitomegalovirus terdeteksi setelah analisa molekuler spesimen biopsi miokardial.
    Otoantibodi terhadap protein miokardial telah teridentifikasi pada pasien dengan kardiomiopati peripartum, tetapi tidak pada pasien dengan kardiomiopati idiopatik.

Mortalitas dan Morbiditas
Angka mortalitas dari berbagai penelitian berskala kecil, berkisar 7-50%. Setengah kematian terjadi dalam 3 bulan setelah kelahiran. Penyebab terbanyak adalah gagal jantung progresif, aritmia atau tromboembolisme. Angka kematian yang dihubungkan dengan kejadian embolik, dilaporkan sebanyak 30%.
Dalam keadaan akut, hipoksia pada ibu hamil dapat menyebabkan tekanan pada janin. Sementara thromoembolik bisa mempersulit kardiomiopati peripartum, karena dapat menyebabkan kondisi hiperkoagulabilitas pada kehamilan. Aliran darah yang rendah dapat memicu thrombosis vena, atau terjadi embolisme arterial akibat ventrikel kiri yang terdilatasi berat.
Ketika seorang wanita hamil terdiagnosa menderita kardiomiopati peripartum, berikan antikoagulasi antepartum dengan heparin subkutan. Lanjutkan sampai 6 minggu setelah kelahiran. Untuk beberapa alasan, unfractionated heparin memberikam lebih banyak manfaat, dibanding low molecular weight heparin selama periode antepartum.

Manifestasi Klinis
Pada kehamilan normal, dispnea ringan adalah hal yang wajar. Banyak gejala yang dialami pasien penyakit jantung, juga dialami pasien dengan kehamilan hormal. Dispnea, pusing, orthopnea dan penurunan kapasitas kemampuan fisik, merupakan gejala normal yang terjadi pada wanita hamil.

Pada penderita kardiomiopati peripartum, gejala-gejalanya sama pada pasien dengan disfungsi sistolik yang tidak hamil. Perlu dilakukan evaluasi lebih jauh, pada orang dengan gejala-gejala berikut: batuk, orthopnea, dispnea nokturnal paroksismal, kelelahan, palpitasi, hemoptisis, nyeri dada dan nyeri pada perut.
Pada kehamilan normal, karena ada peningkatan progestin endogen, volume tidal respirasi meningkat dan pasien memiliki kecenderungan mengalami hiperventilasi. Meski demikian, kecepatan repirasi seharusnya masih normal. Kehamilan normal ditandai penurunan gelombang X dan Y yang berlebihan pada vena di leher. Tetapi tekanan vena di leher seharusnya juga masih dalam kondisi normal.

Jika dilakukan auscultation pada jantung, akan terlihat suatu murmur ejeksi sistolik di sudut sterna kiri bagian bawah, di atas daerah paru pada 96% wanita. Murmur aliran arterial paru ini cenderung lebih tenang, saat inspirasi. Murmur diastolik butuh evaluasi lebih jauh S1 mungkin berlebihan dan pemisahan S2 mungkin lebih menonjol karena peningkatan aliran darah di sisi sebelah kanan. Sedangkan S3 merupakan temuan normal pada kehamilan.

Edema peripheral terjadi pada sepertiga wanita hamil sehat. Meski begitu, waspadai perubahan secara tiba-tiba berupa pembengkakan di akhir masa kehamilan, yang memungkin tidak normal dan harus diselidiki lebih jauh.
Pada wanita dengan kardiomiopati peripartum. tanda-tanda gagal jantung sama dengan pasien yang mengalami disfungsi sistolik yang tidak hamil. Mereka umumnya mengalami takikardi dan pernurunan oksimetri denyut. Tekanan darah normal.
Temuan fisik kardiomiopati peripartum, meliputi peningkatan tekanan vena leher, kardiomegali, suara jantung ketiga, komponen pulmonik suara jantung kedua yang keras, regurgitasi mitral dan atau tricuspid, pulmonary arles, pemburukan edema peripheral, aritmia, fonemena embolik dan hepatomegali.

Pemeriksaan Laboratorium
Preeklamsia seharusnya bisa disingkirkan, berdasar riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan darah. Pada riwayat kesehatan, penderita mengalami sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri abdominal sisi bagian kanan dan pembengkakan tangan atau wajah.
Pada pemeriksaan fisik, bisa ditemukan vasospasma retina, terdengar S4 saat dilakukan auscultation pada jantung, hiperrefleksia/klonus, kekakuan pada quadran bagian atas kanan dan terdapat edema di wajah atau tangan.

Pemeriksaan laboratorium akan ditemukan abnormalitas pada kadar serum kreatinin, yang meningkat lebih dari 0,8 mg/dL, kadar hemoglogin lebih dari 13 g/dL (karena ada kebocoran kapiler dan hemokonsentrasi) peningkatan kadar enzim lever, trombositopenia, hasil urin dipstick test mengindikasikan lebih dari "1+" protein, penurunan kliren kreatinin urin 24 jam (normal 150% di atas kadar wanita tidak hamil atau mendekati 150 mL/min), dan proteinuria lebih dari 300 mg.

Pemeriksaan urin: Trace atau proteinuria 1+ bisa normal. Proteinuria 2+ atau lebih tinggi menunjukkan preeklamsia. Kesampingkan infeksi. Kultur urin bisa membantu mengesampingkan infeksi. Ukur oksimetri denyut.uji serologis, bisa mengesampingkan penyebab lain kardiomiopati, termasuk infeksi (misalnya viorus, rickettsial, HIV, syphilis, Chagas disease, diphtheria toxin). Kesampingkan etologi toksin, seperti alkohol dan kokain.

Pemeriksaan Penunjang Elektrokardiografi (EKG)
Perubahan normal pada pembacaan EKG yang muncul selama kehamilan, mencakup sinus takikardi, pergesaran axis QRS ke kiri atau ke kanan dan denyut prematur atrium dan ventrikel. Denyut prematur atrium dan ventrikel, sinus aritmia, sinus arrest dengan irama nodal escape, wandering atrial pace maker dan paroksismal supraventrikular takikardi, umumnya tidak terjadi selama proses melahirkan.
ST segment elevasi, depresi, atau perubahan amplitudo gelombang P.QRS, atau T harus diinterpretasikan secara hati-hati. Beberapa ahli melaporkan, hal ini tidak menjadi masalah. Dengan tidak adanya gejala, banyak perubahan EKG yang tidak spesifik ini tidak membutuhkan evaluasi lebih lanjut. EKG lebih berguna untuk mendiagnosa aritmia dari pada untuk menggambarkan kelainan struktural.

Pemeriksaan Invasif
Kateterisasi jantung menghasilkan paparan sekitar 0,005 rad terhadap janin yang telah dilindungi penutup. Jika kateterisasi jantung diperlukan, akses dari arteri radialis atau arteri brakialis sebaiknya digunakan, daripada menggunakan akses dari arteri femoral. Ini akan menghasilkan paparan radiasi yang lebih sedikit terhadap janin. Akses dari arteri radialis sekarang lebih popular, daripada pendekatan dari arteri brakhialis. Dan, dengan kateter yang lebih kecil dan bentuk balon dan stent yang lebih baik,  percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA) dapat dibawa keluar secara aman melalui rute arteri radialis, jika diperlukan.


Mengawasi tanda-tanda vital si pasien yang baru berusia 19 tahun. Tiba-tiba dr.Anty yang jaga pada hari itu berkata;

“Fuzah, pasien ini mahu dirujuk ke RSWS. Kita tidak bisa tangani disini. Jadi kamu ikut hantar pasiennya. Jangan sampai kenapa-kenapa di jalan”

Sedikit panic. Mahu ku apakan pasiennya kalau “kenapa-kenapa” seperti dibilang sama dokter.

“nanti bidan juga ikut. Tapi kamu yang harus tindaki kalau pasien tiba-tiba gawat. Jika tidak bisa baru hubungi saya..” bisik dr.Anty.

Alamak!! Pengalaman masih setahun jagung. Belum mantap tapi kerna arahannya dr.Anty terpaksa memikul amanah ini. Perjalanan menaiki ambulan yang menegangkan. Jika dulu waktu sekolah menengah, suka saat menaiki ambulan menemani faten atau hidayati yang tiba-tiba pingsan disekolah. Apalagi bunyi siren yang menyihir semua kenderaan untuk ke samping. Perasaan kali ini sangat berbeda. Kerna diri memakai jas putih ini. Jas putih yang memiliki tanggungjawab maha berat disebaliknya.

Mengawasi tanda vital si ibu. Nadi, pernafasan. Oksigen tambahan hanya tersedia canul yang bisa mensuplai 2L-4L oksigen. Tidak cukup untuk menampung kebutuhan oksigen si ibu yang sangat sesak. Semoga cepat tiba di WS!! Perjalanan sepertinya jauh berbatu-batu. Ambulan serasa merangkak perlahan membelah pekatnya malam. Ibu sempat henti napas. Hampir kami melakukan resusitasi jantung paru (CRP). Namun untungnya setelah satu siklus ibu kembali sadar dan sesak lagi. Paling kurang masih sadar sampai ke rumah sakit. Oh Tuhan!! Sungguh ngeri pengalaman seperti itu. Tapi seru juga sih. Disitu baru merasa pentingnya ilmu yang selama ini kita pelajari untuk membantu orang lain. Nampak sederhana namun sebenarnya sangat penting. Sama seperti di filem-filem medis di televesi. Keren juga yah.

Sampai di WS, sudah ada teman sejawat yang menunggu. Teman ko-ass. Kerna tidak ada oksigen transfer, diri menggunakan ambu bag buat sementara melarikan pasien ke dalam UGD Pinang. Sambil tangan sibuk mengambu, sambil mulut harus melaporkan kasus pada teman sejawat guna mempercepat penanganan yang tepat yang harus dilakukan. Sebentar baru datang dokter-dokter residen yang bertugas untuk menangani pasien tersebut. Untung kami selesai juga memasang oksigen, mengambil darah dan melakukan pemeriksaan fisik yang dasar pada pasien.

Tidak ada ibu bapa pasien yang datang. Padahal anaknya sekritis ini, antara hidup dan mati. Sebelum berangkat tadi, dr.Anty sempat membisikkan, jika pasien ini untung-untungan selamat sampai pagi besok. Kerna hemoglobin dalam darahnya sangat rendah. Dan kontraksi jantungnya tidak begitu bagus.  Cek percek, baru diri mendapat tahu, sebenarnya pasien ini tidak didatangi keluarga kerna beliau ternyata KAWIN LARI!! Astagfirullahal adzim.. ternyata ada kejadian yang seperti ini. Anak ini masih begitu muda.  Kami memujuk sang suami untuk mengkhabari orang tuanya. Dalam kondisi seperti ini, harus ada pemberitahuan pada orang tua sebelum ada hal yang tidak diinginkan berlaku.

Ya akhirnya orang tua perempuan tersebut datang. Menangis. ketersinggungan yang sepertinya lama membengkak masih berbekas di mata orang tuanya. Mamanya si pasien memeluknya erat. Menangis jadi-jadi. Bapanya memarahinya dalam bahasa bugis yang ku tak mengerti. Yang jelas semua penuh penyesalan. Si pasien tak henti meminta maaf dari orang tuanya. Persoalan cinta selalu menjadi hal yang rumit. Entahlah adakah kekuatan cinta selalu memilih jalan yang salah untuk membuktikan? Ataukah manusia sebenarnya cenderung memilih jalan yang salah itu? Pertimbangan keharusan selalu berseberangan dengan kemahuan. Kenapa pernikahan selalu saja dijadikan penyelesaian yang begitu memaksa. Walau apa caranya. Harusnya arti pernikahan itu sendiri dipahami. 

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Pernikahan adalah ibadah. Bukan Cuma sekadar mendapat  pengesahan secara hukum, yang biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Pernikahan itu menyambung silaturrahim. Bukan bahkan memutuskannya.


0 ulasan:

Catat Ulasan