MINGGU 2. Bagian Obstetric & Gynecology (Obgyn)
ditugaskan di Rumah Sakit Ibu Anak Siti Fatimah. Minggu ini sebenarnya diri
akan mengikuti kursus dan pelatihan tentang asuhan persalinan normal (APN) di Rumah Sakit
Pendidikan (RSP). Jadi kami hanya akan bertugas oncall/jaga di RS jejaring ini.
Bersama M.Rizal, Jackson, Zein, Agus dan Tengku Shah, hanya
diri seorang coass perempuan yang stase di RS ini. Kami berenam dibahagi kepada
2 tim. Tim A dan tim B yang akan bergiliran jaga sepanjang satu minggu di sini.
Diri sangat beruntung untuk berada satu tim dengan M.Rizal dan Jackson. Jack
yang dari minggu satu kebetulan satu tim dengan diri sangat membantu
mempermudahkan urusan pembelajaranku sepanjang di Obgyn.
Tiap kali jaga Jack
akan mengajarkan teori-teori dan mendiskusikan hal yang penting untuk
diketahui. Sama saat kami menerima pasien baru, dia akan memberikan peluang
pada diri untuk melakukan Vaginal Toucher (VT) atau nama lainnya Pemeriksaan
dalam Vagina. Ini memberikan diri pengalaman untuk menentukan pembukaan portio
uterus (mulut rahim) yang membenarkan kepala bayi keluar dari ruang sempit itu.
Kemahiran menentukan luas pembukaan sangat tergantung dari jam terbang. Artinya,
semakin sering kita melakukan VT, semakin banyak pengalaman dan semakin kita
tahu bagaimana yang namanya pembukaan satu sentimeter, dua, tiga dan
seterusnya. Begitu juga dengan
pemeriksaan luar. Kepekaan tangan untuk meraba bagian punggung (belakang badan)
dan kepala pada pemeriksaan Leopold I-IV serta menentukan perlimaan sangat
tergantung dari jam terbang atau pengalaman kita memeriksa. Sepanjang itu Jack
banyak mendampingi dan mengajarkan. Maklum saja Jack sudah minggu
berbelas-belas di Obgyn. Diri suka menjulukinya dengan panggilan Prof saking
pintarnya dia dengan ilmu-ilmu Obgyn. Psst: diri tidak pernah membaca buku untuk
kursus APN di keesokan harinya, cukup Prof.Jack mengajarkan tip-tips penting
APN hingga diri mampu menjawab pre-test APN dengan baik. Discuss make perfect!!
As always..
Berbeda dengan Rizal alias Ical. Meski agak pendiam dan
kalem (cool), Ical sangat percaya diri dalam menangani pasien. Ical yang
mendampingi diri waktu “partus pertama” yang kubantu. Waktu itu, ibu yang
kubantu melahirkan anak pertama. Jadi wajar saja terjadi robekan perineum
(bagian antara vagina dan anus) hingga memaksa kami untuk hecting (jahit). Ical
ini seperti spesialis yang serba tahu bab-bab hecting. Kata Ical, hecting itu
seperti meluahkan karya seni seorang dokter. Harus tahu yang mana yang mahu
kita sambungkan dan perkemaskan…bagaimana mahu kita jahit..ototnya, mukosanya,
kulitnya..adakah menggunakan teknik interuptus (jahitan putus2) atau subkutikal
(antara kulit). Bagaimana memperkemas jahitan hingga ia tidak menyebabkan
pendarahan. Alias menutup sumber perdarahan. Ical paling professional tentang
itu. Maklum saja sudah minggu keempat di obgyn dan alumni RSUD Salewangang,
Maros lagi.
Dokter-dokter residen di sana juga sangatlah baik hati lagi
tidak sombong. Ada dr.Eric, dr.Tuti, dr.Santi dan dr.Emmy yang dari dokter
senior sampai Observer (dokter yang mengikuti pendidikan spesialis yang
semester 1) sangat baik hati. Apalagi diri seorang coass perempuan dan minggu
bawah. Sangat di”manjakan”.dan tidak lokek diajar. Very friendly peoples. Dr.Santi
misalnya, datang saja pasien baru, pasti diri yang pertama yang dipanggil untuk
mengikuti beliau melakukan pemeriksaan dalam alias VT. Beliau juga selalu akan
bertanya “Fuzah sudah makan? Sini dulu makan..kasi Bicil (bidan kecil/mahasiswa
kebidanan) yang observasi(follow up)”.
Bicil-bicil di RS ini juga sangat membantu. Tiap kali ada
ibu melahirkan, mereka lincah menyiapkan set partus (alat-alat yang diperlukan
untuk partus/melahirkan), hecting set, underpad, lampu sorot, pakaian bayi,
kantong untuk plasenta dan yang paling penting, kami berkerja seperti satu tim
bola. Ada yang jaga gawang (bantu melahirkan). Ada penyerang (bantu untuk
melakukan aksi Cress-John/Cress-taller) yang tidak etis dilihat itu), ada
defender (yang menahan perineum dari robek sewaktu kepala bayi melewati pintu
panggul bawah alias vagina) dan ada supporter (bicil-bicil yang menyemangati
ibu dengan kata-kata seperti “ayo, ibu pasti bisa!!” “yah, begitu cara
berkuatnya,pintar ibu…terussss!!!” “semangat ibu mawmi keluar anakta” “berkuat
ibu!!ayo!!”) kita berkisar dengan waktu. Mungkin fase melahirkan/KALA II tidak
selama waktu bermain bola, ini hanya kisaran 5-10 menit dan tidak boleh
melewati 2jam. Maka kami menukarkan suasana rumahsakit itu menjadi lapangan
bola yang meriah..penentu menang kalahnya, pastilah SI IBU ITU SENDIRI. dengan
kontraksi yang adekuat dan kekuatan ibu mengedan, maka lahirlah bayi comel yang
kutarik kepalanya sewaktu dalam misi penyelamatan gawang gol dari bobolan bola
alias keluarnya bayi dari uterus sang ibu.
Seringkali tim bola kami menang..meski harus akhirnya
menggunakan “set hecting” akibat adanya robekan perineum, namun saat kemenangan
itu datang, seperti supporter Liverpool yang doyan menyanyikan lagu kebanggaan
Anfield “You’ll Never Walk Alone” usai kemenangan..tapi tidak kurang juga kami
menelan pahitnya kegagalan dengan segala dukacitanya dimaklumkan, sang ibu
HARUS DI SC/dioperasi atas segala indikasi. Saat itu, ooo no.. kecewa penonton.
Tapi kami tetap saja solid. Kami temani sang ibu sampai ke meja operasi. Meski bukan
kami yang menindaki ibu tersebut (pastilah..kerna sudah kompetensinya dokter spesialis
dan dokter residen PPDS), namun kami tetap saja berkontribusi dengan membantu
dokter menulis laporan operasi sebanyak 3rangkap..
Meski tiap kali jaga, kepenatan gara-gara pasien yang tidak
mengenal system waktu 24 jam, namun tetap terasa seru..sama-sama menderita dan
merasai penderitaan si pasien juga. Tidur dimeja-meja atau kursi tidak masalah.
Meski diri harus bertemankan secangkir kopi untuk memulakan hari di APN, tetap
saja pelatihan yang didapatkan dan langsung dipraktekkan di Rumah Sakit
memberikan pengalaman yang luar biasa dan jauh lebih mudah untuk diingat.
Knowledge plus practice make perfect!!




0 ulasan:
Catat Ulasan