Minggu 1 Bagian Surgery. Dinas UGD hari ke 3. Hari ini seperti biasanya serangan
pasien ditengah malam seperti mall yang sementara sale penghabisan stok. Kebanyakan
adalah rujukan dari rumah sakit daerah yang jaraknya 2-10jam dari kota
Makassar. Biasa juga yang kondisinya sudah parah. Menjelang tengah malam,
tensinya orang-orang semakin tinggi. Baik dokter, perawat, penata radiologi,
pemeriksa lab mahupun pasien dan keluarga pasien. Semua orang keletihan. Semua
orang mahu istirehat. Namun itulah, keadaan kesehatan tidak bisa kompromi
dengan waktu. Tidak boleh kita mengatakan “nanti besok saja” pada pasien yang
mengalami perdarahan massif hingga membawa kepada syok. Begitu juga tidak bisa
kita katakan “saya tidur dulu” kepada pasien yang datang dengan sindroma kompartmen
pada ekstremitas hingga mengancam kondisi tangan atau kakinya untuk mati dalam
beberapa jam.
Mahu tidak mahu, dokter dan tim medis harus siap untuk
melayani pasien kapan saja. Malam ini, diri dihadapkan dengan suatu pengalaman
yang amat berbekas dijiwa hingga insyaAllah akan menjadi bekal dalam
mengharungi dunia praktik nantinya.
Ada satu pasien datang dari daerah. Pasien ini adalah
seorang dukun kampong yang sangat disegani. Anaknya tentera wirabuana. Keluhan
utamanya pasien ini adalah nyeri daerah dada. Dialami sejak 10 jam sebelum
masuk rumah sakit gara-gara jatuh dari pohon rambutan yang berketinggian 2.5m.
pasien masih sempat berjalan pulang sendiri dan merawat beberapa orang
pasiennya yang sangat berharap. Menjelang malam, baru kesakitan yang tak
tertanggung menerpa. Hingga pasien terpaksa diusung ke rumah sakit untuk
mendapatkan perawatan. Dari pemeriksaan
fisik didapatkan emfisema subkutis dan fraktur pada tulang costa. Namun ia
bukan fraktur segmental dan berturut-turut sebanyak 3 costa hingga menyebabkan
terjadinya flail chest. Frakturnya sebaliknya berupa fraktur simple transverse
tapi cukup untuk menyebabkan terjadinya robek lapisan pleura dan menyebabkan
emfisema subkutis. Saat ini emfisema subkutisnya sudah menebar kemana-mana.
Massif.
Tiba jam 2 pagi memang waktu yang kemuncak kesibukan. Diri
dan Bayu diarahkan untuk membawa pasien untuk foto Rontgen. Dan kami hanya
menerima pengarahan bahawa foto thorax dilakukan dalam posisi anteriorposterior dan lateral. Setelah difoto
dan pasien telah dikembalikan ke tempat, dokter manyuruh kami pergi foto ulang
dengan posisi pasien duduk sedangkan pasien merasa sakit amat jika duduk.
Aduh!! Kami hanya diam dan menurut arahan. Membantu bapak duduk dengan susah
payah sedang dokter hanya melihat dari jauh dan mengarah begitu begini..
arrgghh!! Stress!! Tapi tetap bersabar. Kasihan pada bapak soalnya. Ternyata
tindakan dokter tersebut memancing amarah anaknya yang tentara itu. Mungkin dia
juga kasihan melihat kami yang Cuma diarah-arah tidak jelas tanpa diperlihatkan
contohnya. Lansung anaknya ini berteriak:
“ih dokter suruh-suruh saja!! ke sinimi tunjuk!!”
Dokter terkaget-kaget dan membalas
“kamu kira cuma satu saya
urus?”
Waduh, gawat!! Orang Makassar jika sudah mulai bab berbalas
teriak, nada tinggi, besar resikonya untuk berantam (gaduh) di tempat.. Bayu
cepat-cepat merangkul bahu anaknya yang tentara sambil tersenyum.
“sabarki pak.. malam-malam begini tensi semua orang juga
naik”
Tidak banyak bicara Cuma keakraban tersalur lewat sapaan
sentuhannya yang hangat kasih sayang. Bapak itu lansung mereda.
“ Iya dok. Kita mengerti. Capek semua orang disini. Tapi
kita juga dari kampong kasihan. Butuh pertolongan. Tidak perlu lebih layanannya
dok. Cukup dilayan baik saja. Manis muka saja kayak dokter-dokter disini”
Kata-kata yang simple tapi cukup mengesankan bagi diri dan
Bayu. Perbahasan setelah itu kami berusaha untuk mengalihkan perbicaraan ke
topic yang lebih menyenangkan. Berusaha untuk mengembalikan suasana harmonis.
Si pasien sewaktu kami hantar kembali ke tempatnya
mengatakan
“makasih dokter, saya sudah merasa banyak lebih baik dari
pertama. Biar belum masuk obatnya tetap sudah merasa semangat kembali pulih”
Begitulah.. kadang dokter juga dalam melayani pasien terlupa
yang kita bukan hanya berhadapan dengan
frakturnya saja, bukan emfisemanya saja. Tapi ada hati yang harus
disembuhkan. Ada jiwa yang harus dikomunikasikan dengan baik. Ada kerunsingan
keluarga yang memuncak. Menjadi dokter
bukan andalannya hanya pada otak tapi juga pada komunikasinya dengan pasien
yang baik.
Sewaktu ingin melakukan hecting/suturing pada pasien
tersebut, Bayu mengatakan
“Fuzah bisa kalo kamu bantu saya hecting itu bapak yang
tadi? Pelipisnya yang mahu dihecting.. maaf yah saya merepotkan kamu. Pasti
kamu capek”
“Aduh bayu tidakji kale. Kan memang kita sama-sama terima
pasien yang tadi. Ayomi!!”
meski lenguh mulai memanjat batang tubuh, tapi mendengarkan
kata-kata Bayu seperti sentrum yang membuatkan semangat kembali okay.. ringan
rasanya tangan mahu membantu biar tidak diminta kerna kita tahu kita bekerja
bersama-sama untuk kebaikan pasien. sebenarnya tidak memerlukan usaha yang
banyak untuk menciptakan suasana yang bersahabat untuk bekerja. Cukup dengan
manis muka dan mengucapkan kata-kata yang baik.
Setiap hari juga Bayu menunjukkan perhatian dan sifat
sensitifnya pada pasien. Setiap ada sela waktu, dia akan mendekati mana-mana
pasien dan berkenalan dengan mereka hingga pasien dan keluarganya merasakan
mereka diperhatikan. Kadang yang lebih diperlukan pasien bukan obat tapi curhat
(curahan hati).


0 ulasan:
Catat Ulasan