Skinpress Rss

Selasa, 1 Mei 2012

TENTANG BAYU

0



Minggu 1 Bagian Surgery. Dinas UGD hari ke 3. Hari ini seperti biasanya serangan pasien ditengah malam seperti mall yang sementara sale penghabisan stok. Kebanyakan adalah rujukan dari rumah sakit daerah yang jaraknya 2-10jam dari kota Makassar. Biasa juga yang kondisinya sudah parah. Menjelang tengah malam, tensinya orang-orang semakin tinggi. Baik dokter, perawat, penata radiologi, pemeriksa lab mahupun pasien dan keluarga pasien. Semua orang keletihan. Semua orang mahu istirehat. Namun itulah, keadaan kesehatan tidak bisa kompromi dengan waktu. Tidak boleh kita mengatakan “nanti besok saja” pada pasien yang mengalami perdarahan massif hingga membawa kepada syok. Begitu juga tidak bisa kita katakan “saya tidur dulu” kepada pasien yang datang dengan sindroma kompartmen pada ekstremitas hingga mengancam kondisi tangan atau kakinya untuk mati dalam beberapa jam.

Mahu tidak mahu, dokter dan tim medis harus siap untuk melayani pasien kapan saja. Malam ini, diri dihadapkan dengan suatu pengalaman yang amat berbekas dijiwa hingga insyaAllah akan menjadi bekal dalam mengharungi dunia praktik nantinya.

Ada satu pasien datang dari daerah. Pasien ini adalah seorang dukun kampong yang sangat disegani. Anaknya tentera wirabuana. Keluhan utamanya pasien ini adalah nyeri daerah dada. Dialami sejak 10 jam sebelum masuk rumah sakit gara-gara jatuh dari pohon rambutan yang berketinggian 2.5m. pasien masih sempat berjalan pulang sendiri dan merawat beberapa orang pasiennya yang sangat berharap. Menjelang malam, baru kesakitan yang tak tertanggung menerpa. Hingga pasien terpaksa diusung ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.  Dari pemeriksaan fisik didapatkan emfisema subkutis dan fraktur pada tulang costa. Namun ia bukan fraktur segmental dan berturut-turut sebanyak 3 costa hingga menyebabkan terjadinya flail chest. Frakturnya sebaliknya berupa fraktur simple transverse tapi cukup untuk menyebabkan terjadinya robek lapisan pleura dan menyebabkan emfisema subkutis. Saat ini emfisema subkutisnya sudah menebar kemana-mana. Massif.

Tiba jam 2 pagi memang waktu yang kemuncak kesibukan. Diri dan Bayu diarahkan untuk membawa pasien untuk foto Rontgen. Dan kami hanya menerima pengarahan bahawa foto thorax dilakukan dalam posisi  anteriorposterior dan lateral. Setelah difoto dan pasien telah dikembalikan ke tempat, dokter manyuruh kami pergi foto ulang dengan posisi pasien duduk sedangkan pasien merasa sakit amat jika duduk. Aduh!! Kami hanya diam dan menurut arahan. Membantu bapak duduk dengan susah payah sedang dokter hanya melihat dari jauh dan mengarah begitu begini.. arrgghh!! Stress!! Tapi tetap bersabar. Kasihan pada bapak soalnya. Ternyata tindakan dokter tersebut memancing amarah anaknya yang tentara itu. Mungkin dia juga kasihan melihat kami yang Cuma diarah-arah tidak jelas tanpa diperlihatkan contohnya. Lansung anaknya ini berteriak:
“ih dokter suruh-suruh saja!! ke sinimi tunjuk!!”
Dokter terkaget-kaget dan membalas
 “kamu kira cuma satu saya urus?”

Waduh, gawat!! Orang Makassar jika sudah mulai bab berbalas teriak, nada tinggi, besar resikonya untuk berantam (gaduh) di tempat.. Bayu cepat-cepat merangkul bahu anaknya yang tentara sambil tersenyum.

“sabarki pak.. malam-malam begini tensi semua orang juga naik”
Tidak banyak bicara Cuma keakraban tersalur lewat sapaan sentuhannya yang hangat kasih sayang. Bapak itu lansung mereda.
“ Iya dok. Kita mengerti. Capek semua orang disini. Tapi kita juga dari kampong kasihan. Butuh pertolongan. Tidak perlu lebih layanannya dok. Cukup dilayan baik saja. Manis muka saja kayak dokter-dokter disini”

Kata-kata yang simple tapi cukup mengesankan bagi diri dan Bayu. Perbahasan setelah itu kami berusaha untuk mengalihkan perbicaraan ke topic yang lebih menyenangkan. Berusaha untuk mengembalikan suasana harmonis.
Si pasien sewaktu kami hantar kembali ke tempatnya mengatakan
“makasih dokter, saya sudah merasa banyak lebih baik dari pertama. Biar belum masuk obatnya tetap sudah merasa semangat kembali pulih”

Begitulah.. kadang dokter juga dalam melayani pasien terlupa yang kita bukan hanya berhadapan dengan   frakturnya saja, bukan emfisemanya saja. Tapi ada hati yang harus disembuhkan. Ada jiwa yang harus dikomunikasikan dengan baik. Ada kerunsingan keluarga yang memuncak.  Menjadi dokter bukan andalannya hanya pada otak tapi juga pada komunikasinya dengan pasien yang baik.
Sewaktu ingin melakukan hecting/suturing pada pasien tersebut, Bayu mengatakan
“Fuzah bisa kalo kamu bantu saya hecting itu bapak yang tadi? Pelipisnya yang mahu dihecting.. maaf yah saya merepotkan kamu. Pasti kamu capek”
“Aduh bayu tidakji kale. Kan memang kita sama-sama terima pasien yang tadi. Ayomi!!”

meski lenguh mulai memanjat batang tubuh, tapi mendengarkan kata-kata Bayu seperti sentrum yang membuatkan semangat kembali okay.. ringan rasanya tangan mahu membantu biar tidak diminta kerna kita tahu kita bekerja bersama-sama untuk kebaikan pasien. sebenarnya tidak memerlukan usaha yang banyak untuk menciptakan suasana yang bersahabat untuk bekerja. Cukup dengan manis muka dan mengucapkan kata-kata yang baik.

Setiap hari juga Bayu menunjukkan perhatian dan sifat sensitifnya pada pasien. Setiap ada sela waktu, dia akan mendekati mana-mana pasien dan berkenalan dengan mereka hingga pasien dan keluarganya merasakan mereka diperhatikan. Kadang yang lebih diperlukan pasien bukan obat tapi curhat (curahan hati).

 Ya.. belajar dari Bayu.. menjadi dokter itu bukan hanya menjadi robot merawat tapi menjadi daei.. pendakwah yang peduli pada pasiennya..merawat dengan kasih sayang dan mengharap Allah akan menyembuhkannya dengan usaha kita..

0 ulasan:

Catat Ulasan