
Sebulan berlalu. Pejam celik telah selesai posting (stase) ku di bagian (department) dermatology. Alhamdulillah, banyak pengalaman dan pelajaran yang kudapatkan dibagian ini.

Hari pertama, kami diwajibkan mengkuti kursus (pelatihan) berkenaan penyakit yang menular dengan sangat luas terutama di Sulawesi Selatan, yaitu Morbus Hansen atau Kusta di Pusat Latihan Kusta Nasional (PLKN) selama sehari sebelum menjalani praktikal dan pengamatan di Hospital Kusta Tajuddin Chalid. Di sini kami dibolehkan untuk melakukan pemeriksaan dan anamnesis terhadap penderita kusta dan memerhatikan proses pembersihan luka, rehabilitasi, pembuatan protesa (kaki palsu), dan juga pembedahan amputasi.
Pada minggu pertama, kami diajarkan untuk mengenal effloresensi (kelainan kulit) serta bagaimana untuk membedakannya. Seperti macula (kelainan kulit berbatas tegas dan merupakan perubahan warna semata), vesikel (gelembung berisi cairan serum, diameter<0.5mm dan mempunyai dasar), bulla (vesikel yang berukuran lebih besar), pustule (vesikel yang berisi nanah), papul (penonjolan diatas permukaan kulit, sirkumskrip, diameter <0.5cm, berisi zat padat). Rata-rata pesakit yang dapat berubat ke poliklinik dermatologi dengan keluhan utama gatal-gatal di pelbagai bagian tubuh samada setempat atau secara general. Sepanjang seminggu, kami diperlihatkan cara membedakan atau menegakkan diagnosis daripada beberapa differential diagnosis kelainan kulit yang muncul.

Contohnya pada kes (kasus) Skabies (kutu badan), penderita biasa datang dengan keluhan gatal disela-sela jari tangan dan kaki. Dengan effloresensi papul, erosi, ekskoriasi yang kemudiannya menyebar ke inguinal(sela peha), alat kelamin, bawah perut dan punggung (pantat). Kelaianan begini, bisa juga kita dapatkan pada penderita tinea cruris (penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur/fungi). Cara membezakan keduanya adalah melalui anamnesis (history taking). Pada scabies, penderita biasanya lebih merasa gatal pada malam hari, ada riwayat keluarga/teman yang tinggal bersama yang menderita gejala yang sama. Pentingnya untuk membezakan kedua penyakit ini adalah kerna penanganan yang akan dilakukan pada kedua kes (kasus) ini amat berbeda.
Minggu kedua, kami lebih diberikan penekanan tentang prosedur /teknik-teknik yang harus kami kuasai sebagai dokter umum nantinya seperti elektrokauter, yang digunakan dalam pengobatan veruka vulgaris (suatu hyperplasia kulit disebabkan sejenis human pappiloma virus), pemeriksaan KOH sebagai salah satu gold standard dalam menegakkan diagnosis penyakit jamur/fungi seperti tinea , pemeriksaan lampu Wood (Wood lamp examination), skin biopsy dan lain-lain. Selain menjadi pemerhati, kami turut diberi peluang untuk menjalankan sendiri prosedur tersebut dengan dituntun oleh dokter residen yang baik hati.

Minggu ketiga, kami lebih terfokus pada penyakit IMS @ Sexual transmitted disease (STD) seperti kondiloma akuminata, gonorrhea, uriteritis Non-gonorrhea, dll. Banyak sinetron (drama) yang kami tonton dengan mata kepala kami sendiri, bagaimana iman berfungsi dalam menahan nafsu serakah manusia. Tentang kesetiaan dan kejujuran dalam perhubungan rumahtangga (suami isteri). Ada yang sudah pacaran semenjak SMA (sek.menengah) hingga ke jenjang pernikahan, setelah sakit baru terbongkar bahawa sang suami selingkuh dibelakang sudah bertahun lamanya. Ada yang si suami penyayang, demi tidak menyusahkan si isteri, melarang si isteri bekerja, tapi tenyata, saat suami membantng tulang demi mencari sesuap rezeki, si isteri malah membawa laki-laki asing berasmara di rumah. Betapa kejamnya manusia. Sanggup mengkhianati perhubungan suci demi keseronokan yang sementara.
0 ulasan:
Catat Ulasan