Skinpress Rss

Ahad, 16 Disember 2012

LINGKARAN KECIL KITA

0



Sahabatku,
Aku rindu pada lingkaran kecil kita
Lingkaran yang kita ratib di awal temu
Saat kaki menginjak dibelahan bumi terasing ini
Taaruf itu membuatku yakin
Bahwa Tuhan tidak pernah membiar kita sendiri

Sahabatku,
Bagai putaran video di layar minda
Waktu-waktu indah dalam lingkaran kecil kita
Kau memperbaiki tilawahku
Dan aku mencubit kecil lengan halusmu membantu mujahadah
Melawan nafsu kantuk itu
Kita mendengar, kita memberi, kita berkongsi
kita saling memperingatkan tentang iman..tentang taqwa

Sahabatku,
Masih kau ingat jaulah pertama kita?
jaulah sederhana yang amat mengesankan itu?
Kita mentarbawikan jaulah dengan ziarah
Ingin merasa “perjalanan” yang berbeza dari biasa
Berbeza kerna biah dan mahabbah
Melengkapi kata Rasul,
Sahabat itu adalah apabila kamu tidur bersamanya dan bermusafir dengannya


Sahabatku,
Masihkah kau ingat saat-saat payah menyentak kesadaran masyarakat
Tentang kepedulian pada sesama lewat Life-line For Gaza
Usaha kecil kita ternyata lebih berat dari perhitungan
Namun kita mengatur peran dalamnya
Dengan berbekal “yakin” dan “ saling membahu”
Hingga akhirnya kita berjaya menempuhinya…bersama

Sahabatku,
Masih segar diingatan
Kekompakan kita tinggal bersama dikamar sempit sewaktu di Bira dulu
Meski terbatas ruang dan terkekang bekal air yang tercatu
Kita saling mengutamakan satu sama lain…
Tetap merona bahagia dalam dekapan ukhuwah

Sahabat,
Masih menari-nari diakal sedarku
Zaman yang menjerat waktu dalam ruang sempit
Kita bahkan tidak sempat mengambil jeda buat diri
Namun pertemuan itu tetap kita wujudnyatakan
Mengintip sela dicelah kepadatan rutinitas
Peringatan ringkas dimana saja kapan jua
Kerna kita sama-sama tahu, betapa pentingnya lingkaran kecil kita


Sahabat,
Semakin hari, semakin kuat badai ujian yang datang menyergah
Mencoba untuk melantak-landaikan ikatan kita ini
Elnino fitnah dan la nina tohmah kian menggugah
Para syaitan beradu-adu membisikkan dendang neraka
Membanjiri ruang atmosfer wujud kita
Namun kita sama-sama sedar bukan?
Bahwa ini hanya sekadar “ujian” untuk meningkatkan debit ukhuwah kita

Sahabat,
Hari ini, lingkaran kecil ini semakin meluas
Ada wajah-wajah baru yang duduk disamping kita
Ada nafas jadid yang berhembus meniup puing-puing semangat tersisa
Syukur Alhamdulillah…
Tetap saja, aku masih merindu lingkaran kecil kita itu
Berharap kita sama-sama iltizam dengan ikrar kita
Untuk saling mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran

Sahabatku,
Semoga kita akan terus bertemu
Dalam tiap episode kehidupan ini
Aku, sungguh ingin merengkuh ukhuwah kita
Hingga tangan bergaris tua, hingga kedutan renta memanjat wajah mulus kita
Hingga kita dipanggil kembali ke sisiNya
Dan semoga DIA mengizinkan kita untuk bertemu lagi disyurgaNya..
Amin..

~amni_shamrah~
16 Disember 2012
08.00pm

Isnin, 10 Disember 2012

MENDIDIK KETAATAN

0



Mendapat sebuah sms dari murabbi pagi itu
 “Hadiri program Cinta Keluarga di Lapangan Karebosi Sabtu 08-12-12 jam 8 pagi dilapangan. Bawa mad’u/binaan anti”

Segera sms itu diteruskan buat adik-adik naqibah. Diri juga tidak tahu detail program. Namun begitulah. Kadang untuk taat tidak butuh alasan. Ya, seperti itulah taat.. dan ketsiqahan (keyakinan) terhadap pimpinan. Apalagi taat pada Allah dalam setiap suruhan dan laranganNya. Namun ketaatan itu harus diproses. Dibina. Dididik supaya kita siap meski dalam kondisi apapun. Meski mengorbankan waktu lapang, waktu sibuk. Dalam senang dan susah.

“Dan mereka berkata: Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami, dan kepada Mu tempat (kami) kembali” (surah al-Baqarah 2:285)

Ini adalah prinsip umat Islam bila menerima perintah dari Allah dan Rasul. Ketika menerima perintah untuk berpuasa selama sebulan di bulan Ramadhan. Maka, tanpa banyak soal, orang muslim taat dan patuh untuk berpuasa. Prinsip ini tidak sama dengan Yahudi, mereka dengan jelas berpendirian ‘kami dengar, tapi kami ingkar’. Sebab itu, walaupun ada ayat-ayat di dalam Taurat yang menceritakan tentang kenabian Rasulullah saw, tetapi mereka tetap menolak berita kenabian tersebut sedangkan mereka memahami benar ciri-ciri kenabian yang disebutkan itu.

Sebagai muslim, kita tidak wajar mempersoalkan apa-apa perintah dan larangan yang datangnya dari Allah. Kalau disuruh puasa, puasalah kita. Kalau dikatanya halal, maka halallah tapi kalau dah tetap haram, maka biar diputar terbalik bagamana pun, tetap haram. Puasa yang kita jalani hari ini adalah latihan pengukuhan ketaatan kita kepada Allah yang bukan sekadar pada ayat puasa sahaja, tetapi pada seluruh ayat dalam Quran dan Hadith untuk kita imani dan taati.

Tetapi saudara, keadaan ini agak berbeza bila dilihat kepada realiti umat pada hari ini. Ada sebahagian mereka secara terang-terangan mempersoalkan perintah dan hukum Allah. Ada sahaja yang tidak kena. Yang peliknya, tatkala perintah atau hukum itu datangnya dari manusia yang berkuasa, tidak berani pula mereka mempersoalkannya. Ketidakjelasan dalam beragama menyebabkan mereka tidak nampak kesempurnaan hukum dan perintah Allah berbanding hukum dan perintah manusia yang belum tentu sempurna. Yang sebenarnya, tiada ketaatan yang mutlak kepada manusia sekalipun manusia itu bergelar raja, menteri, ustaz dan sebagainya. Ketaatan kepada manusia akan terpakai tatkala suruhan dan perintah tersebut menepati kerangka syariat yang begitu luas dimensinya.

Begitu juga untuk taat pada pemimpin/ketua. Sepertimana firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan ulil Amri di antara kalian..” (QS. An Nisa (4): 59)

Melihat adik-adik yang sanggup bersusah payah meredah hujan, berkumpul dirusun untuk sama-sama menghadiri program umum ini membuat hati berbunga mekar. Alhamdulillah Ya Allah, meski “short-note”, tapi mereka-mereka yang telah Kau pilih untuk  menghadiri program ini adalah antara mereka yang jiddiyah dengan jalanMu ini.. dan adik-adik yang tidak dapat hadir mungkin kerna kesibukan yang tidak dapat dielakkan. Sungguh, dari mereka saja, banyak tarbiyah yang Allah sampaikan pada diri. Bagaimana Allah sungguh telah menguatkan langkah kita dijalan ini dengan sahabat-sahabat yang mengingatkan kita padaNya. Baik dari generasi manapun. Adik-adikku ini meski dari angkatan yang berbeda namun matlamatnya hanya satu.. menuju kepada Allah dan saff yang teratur dan mengajak orang lain untuk sama-sama dekat kepada Allah insyaAllah.

Sengaja menutuskan untuk menaiki pete-pete bersama. Padahal ada motor yang boleh memendekkan jarak perjalanan. Namun itulah, seperti kata pakcik, yang penting itu, kita mentarbawikan perjalanan. Paling dalam perjalanan bersama ini kita dapat duduk bersama dengan lebih lama, bertukar cerita dan paling penting menyuburkan kembali syu’ur (rasa hati) untuk thabat (tetap) dan taat di jalan Allah ini.. tambahan, kesibukan yang melanda sepanjang satu bulan di Anestesi ini benar-benar mengekang waktu dari banyak bersama mereka. Sedangkan adik-adik ini masih butuh dukungan.

Sesampai ditempat program, Alhamdulillah kami sama-sama mendapat pengalaman baru. Ternyata program ini adalah program ibu-ibu bersama calon gebenur Sulawesi selatan Ilham-Aziz. Judul yang diketengahkan adalah cinta keluarga memangkin semangat baru. Atau lebih ringkasnya bagaimana mendidik anak-anak dan bagaimana istri menjadi sumber kekuatan dan tulang belakang perjuangan suami. Sebelum itu ditampilkan anak-anak usia SD yang sudah berjaya menghafaz Al-Quran hasil didikan ibu perkasa. Begitu juga anak-anak yang mampu bersajak, bersyair, berpuisi memuji Allah sedangkan mereka adalah anak-anak yang lahir dari keluarga kader-kader dakwah yang ibu ayahnya adalah orang-orang perkasa yang memperjuangkan kalimah Allah di muka bumi. Sungguh luar biasa. Meski ada berunsur politik, namun kami mengambil setiap pelajaran yang bisa kami kutip sebagai bahan tarbiyah utk kami hari ini.

Ahad, 9 Disember 2012

IKHTIAR DALAM KEIKHLASAN (FORMULA JIDDIYAH)

2



Ikhtiar adalah usaha seseorang dan  usaha yang benar adalah usaha yang sungguh-sungguh (jiddiyah). Usaha yang sungguh-sungguh ini ditandai dengan adanya pengorbanan (tadhiyyah). So, kalau kamu mau mengukur seberat apa sih usaha yang sudah kamu lakukan, jawabnya gampang.. sudah seberapa banyak pengorbanan yang telah kamu lakukan? Pengorbanan punya banyak jalan. Pengorbananmu bangun malam untuk shalat dan belajar, pengorbananmu untuk menahan rasa kantuk demi mengikuti pelajaran di kelas, dan banyak lagi. 
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
 (QS.Ash-Shaff:11)
Semestinya, kesungguhan ini dilakukan dalam berbagai keadaan. Artinya kesungguhan (jiddiyah) yang dilakukan secara terus-menerus (istimrariyah), baik dalam keadaan ringan ataupun berat, keadaan lapang maupun sempit,  di kala mudah maupun susah, dikala senang maupun sedih. So, belajar bukan Cuma di waktu luang aja... anggap saja belajar ketika kondisi mu lagi MALES BANGET adalah sebagai kesungguhan dan pengorbananmu ketika kamu sedang dalam keadaan berat.
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS.At taubah:41)
Kesungguhan (jiddiyah) yang disertai pengorbanan (tadhiyyah) apabila dilakukan secara berkesinambungan atau terus-menerus (istimrariyah) maka buahnya adalah KERJA yang PROFESIONAL (itqanul �amal) atau IKHTIAR maksimal yang bisa kamu lakukan. Ketiga elemen ini apabila dilakukan secara simultan makan akan menghasilkan suatu ENERGI besar bagi seseorang dalam berikhtiar.
Sudah berikhtiar, selanjutnya belajar untuk ikhlas...
Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :

1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa,
Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.

2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk
Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.

3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.

4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia
Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.

5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi
Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan  yang harus senantiasa  kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.

Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan.

Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut.

Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin. [
http://nezha.abatasa.com]


Sabtu, 8 Disember 2012

ANESTHESY POSTING

2




Minggu pertama. Ditugaskan di PACU (post-operation anesthesy care unit) atau Recovery Room. Kami dituntut untuk mempelajari bagaimana menentukan stabilitas hemodinamik pasien post-operasi sebelum mereka diizinkan untuk keluar ke perawatan.
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan general anestesi, maka kita perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room (RR) atau High Care Unit (HCU). berikut beberapa skor yang biasa digunakan untuk menilai kondisi pasien pasca anestesi.

A. Aldrete Score (dewasa)
Penilaian :
  1. Nilai Warna
              Merah muda,          2
              Pucat,                       1
              Sianosis,                  0
       2. Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk,                           2
               Dangkal namun pertukaran udara adekuat,           1
               Apnoea atau obstruksi,                                              0
  1. Sirkulasi
              Tekanan darah menyimpang <20 dari="dari" normal="normal" span="span" style="mso-spacerun: yes;">    
 2
              Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1
              Tekanan darah menyimpang >50% dari normal       0
  1. Kesadaran 
               Sadar, siaga dan orientasi,                                  2
              Bangun namun cepat kembali tertidur,            1
              Tidak berespons,                                                   0
  1. Aktivitas 
                   Seluruh ekstremitas dapat digerakkan,               2
                  Dua ekstremitas dapat digerakkan,                      1
                  Tidak bergerak                                                          0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan

B. Steward Score (anak-anak)
1. Pergerakan
Gerak bertujuan                  2
Gerak tak bertujuan           1
Tidak bergerak                    0
2. Pernafasan
Batuk, menangis                           2
Pertahankan jalan nafas              1
Perlu bantuan                               0
3. Kesadaran
Menangis                                                2
Bereaksi terhadap rangsangan           1
Tidak bereaksi                                        0
Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.

C. Bromage Score (spinal anestesi)
Kriteria Nilai
Gerakan penuh dari tungkai,                    0
Tak mampu ekstensi tungkai,                   1
Tak mampu fleksi lutut,                             2
Tak mampu fleksi pergelangan kaki,      3
Jika Bromage Score 2 dapat pindah ke ruangan.

Minggu ini kami diberi jadual oncall sebanyak 6 kali dalam satu minggu. Sepertinya tiap hari ada jadual oncall kecuali 1 hari yang bebas oncall. Berbeda dari bagian-bagian lainnya, anestesi benar-benar menguji stamina dan pikiran. Banyak yang harus dikerjakan jika jaga. Apalagi hampir setiap kali jaga, kami tidak mendapat waktu istirehat yang cukup. Standby terus. Apalagi saat malam minggu yang pasien didorong seperti mendorong barang belian di mall untuk di operasi. Keempat-empat ruang operasi emergensi dibuka dan pasien bergilir masuk hingga pagi.

Minggu Kedua. Diri ditugaskan untuk bertugas di Ruang Operasi Central (COT) kamar Onkologi. Bersama dengan dokter-dokter yang baik hati lagi tidak sombong, diri diajar banyak hal dalam sela kesibukan mereka. Dari perbedaan penggunaan GETA hingga GA-LMA. Dari penggunaan obat induksi hingga maintainence isofluren, sevofluran dan halotan. Diri juga diajar tentang balance cairan, cara menghitung MABL (manimum tolerable blood lost), kapan saja blood lost akan digantikan dengan whole blood, packed red cell dan kapan untuk menggunakan crystalloid dan kapan digunakan colloid.

Kami dituntut untuk oncall sebanyak 4 kali dalam minggu ini dengan ruang lingkup kamar operasi emergensi (OK CITO) dan juga APS (acute pain service). Di bagian APS kami mendampingi dokter untuk berkeliling rumah sakit dan memasukkan obat pasien-pasien post-operasi diperawatan yang dipasang epidural catheter sebagai pain control. Selain itu juga, APS melayani keluhan dan rujukan tentang acute pain termasuk juga cancer pain. Disini kami diajar teori dan praktisnya mencampurkan obat pain controller dan berpeluang untuk merasakan sendiri sensasinya memasukkan obat epidural, melawan tahanan tekanan negative di epidural space.

Minggu Ketiga. Diri ditemptkan di RS Ibnu Sina disebabkan diri bakal ujian dengan salah satu supervisor yang tugas dirumah sakit ini.. dr,Syafri Arief, Sp.An. Diri diharuskan untuk mengikuti adaptasi di rumahsakit tersebut pada hari sabtu yang merupakan hari boss anestesi, dr.Syafruddin Gaus,PHD,SpAn. Hari yang menegangkan. Namun kami harus juga melaluinya. Menerima operan dari minggu sebelumnya dan belajar untuk “lebih lincah” bekerja memandangkan kami pada minggu berikutnya hanya berdua disitu berbanding 4 orang minggu sebelumnya.

Melalui minggu berikutnya, meski supersibuk dan kewalahan gara-gara terlalu banyak operasi yang dijalankan tiap harinya, tetap saja kami gembira dan menikmati hari. Setiap dari kami harus mengcover 2 ruang operasi dan membantu dokter yang hanya berdua tugas disana. Memerlukan kelincahan tingkat tinggi untuk bergerak ke sana sini apalagi jika semua ruang operasi dibuka untuk operasi. Kadang kami masing-masing dan dokter harus masing-masing mengambu ditiap ruang operasi. Juga butuh ingatan yang kuat untuk menghapal obat yang masuk, tensi dan heart rate setiap pasien kerna kami jarang punya peluang untuk mencatat sewaktu operasi berlansung. Dokter dan co-ass sama sibuk. Namun apa yang mengurangi kadar ketensionan kami adalah kerna dokter yang kami damping sangat bersahabat, seru dan sporting. dr.Ayu dan dr.Iswan. paling cepat kami pulang sewaktu stase disini adalah jam 7 malam. Itu juga sebenarnya kami tidak menunggu hingga selesai semua operasi kerna dokter-dokter yang baik hati itu tidak sanggup menyiksa kami hingga tengah malam.

Minggu tiga kami tituntut oncall sebanyak 4 kali seminggu. Tempat standby kami pula ditempatkan di ruang ICU. Intensive care unit. Namun disebabkan diri bertugas dirumah sakit luar, diri diberi kelonggaran dikurangi jaga menjadi 3. Apalagi kerna diri akan dinas 6 hari seminggu. Baca: hari sabtu tetap dinas di IBSI sedangkan di RSWS, hari kerja Cuma hingga Jumat. Menjaga pasien sepanjang malam benar-benar suatu tugas mencabar apalagi jika ada keluhan pada tengah malam. Tidak seperti di bagian Interna yang biasanya keluhan ringan, bisa kita sebagai co-ass sendiri yang tindaki. Namun di ruang ICU, biar keluhan kecil harus kita melapor pada dokter yang bertugas. Kerna setiap pasien memiliki tingkat sensitivitas mereka lebih tinggi dan mereka terhubung dengan mesin-mesin anestesi seperti ventilator dsb yang memerlukan tingkat waspada yang lebih tinggi.

Minggu Keempat.kembali ke RSWS. Diri ditugaskan dinas di ICU. Disini diri belajar tentang terapi cairan, tentang apa yang harus diperhatikan dan difollow up pada pasien-pasien yang ada disitu serta bagaimana menjalankan protap FASTHUG pada pasien yang memerlukan perawatan khusus. Disini diri berpeluang melihat sendiri pelbagai jenis tindakan anestesi dari memasang dan mengatur mesin ventilator, mengambil darah AGD, dan memasang double lumen pada pasien yang akan menjalankan hemodialisa.

Minggu 4 hanya oncall sebanyak 2 kali. Namun tetap standby di ICU. Sudah terbiasa dan agak enak juga memandangkan diri juga dinas di sana hingga diri menghapal betul semua pasien yang ada disana.

Selasa, 4 Disember 2012

ANESTHESY MODE: ON [BEGINNING OF A NEW JOURNEY]

2



Alhamdulillah akhirnya berjaya melewati satu bagian yang Alhamdulillah yah mencabar banget. Revine…
Anestesi memerlukan kami untuk melapor ke gebenur pada hari Jumat minggu sebelum masuk dan mendapatkan pengarahan tentang hal-hal yang perlu kami persiapkan sebelum terjun ke bagian anestesi. 

Antaranya:
1)Papan tulis
2) Pulpen (ballpen) 4 warna- biru, hitam, hijau, merah
3) Highlighter hijau
4) Marker (spidol) hitam, biru merah
5)Gunting
6) Plaster coklat
7) Pembaris (penggaris)
8) Status anestesi FK Unhas (bisa dibeli di Askulapius)
9)Lembar absen harian (turut bisa dibeli di Askulapius)
10) Statescope
11) Foto 3x4 dan 4x6

Semua perlengkapan ini harus dibawa serta selain alat-alat TNPS yang biasa kita bawa ke mana-mana. Setelah melapor ke gabenur koas, kami diarahkan untuk ke RSP lantai 5 untuk melapor kepada sekreteris bagian, Kak Teti untuk menandatangani komitment dengan bagian anestesi dan menerima logbook dan “pin keramat” anestesi.

Kami diwajibkan untuk mengikuti adaptasi pada hari minggu untuk melihat sekaligus belajar apa yang harus dilakukan pada hari senin saat sudah mulai dinas supaya kami agak lincah dan tidak terlalu “laload (lambat loading)”. Pada hari ini kami diberi pre-test tentang beberapa pertanyaan mendasar di anestesi. Untung, dokter yang memberikan pretest itu bermurah hati untuk memberi kami peluang “open-book”. Katanya jika kami tidak bisa mencapai 70%, kami tidak akan diterima masuk ke anestesi. Wajar. Namanya juga bagian yang paling “life-saving”. 30% kesalahan lebih dari cukup berakibat fatal pada pasien.

Setelah pre-test, dokter lansung mendiskusikan hasil pretest kami sambil mengajarkan teori-teori anestesi seperti obat-obat yang akan dan biasa digunakan, teori ventilasi, mekanisme nyeri dsb. Setelah itu kami dituntun untuk mengisi status anestesi yang bakal menjadi pekerjaan asasi kami di anesresi. Kami diharuskan untuk mampu membuat status yang baik sebagai bahan pelajaran kami sekaligus sebagai bahan juga untuk para residen dan masukan buat Rumah sakit. Wah besar benar tuntutannya ke atas “Koass Anestesi”. Setelah diskusi, kami diarahkan ke Kamar Operasi CITO (emergency) untuk melakukan penyesuaian OT (operation theater).  Di sini kami diajar apa yang harus dilakukan dari pertama pasien masuk hingga terakhir pasien keluar dari kamar operasi. Pokoknya setiap hari sepanjang 4 minggu ke depan kami akan menghabiskan hidup kami di kamar operasi.



Bermula dengan STATICS
S-statescope & laryngoscope
T-tube  (endotracheal tube etc)
A-airway (gurdel/ orotracheal tube)
T-tape untuk fiksasi
I-introducer (mandarin atau stylet sebagai guider)
C-connector (penyambung antara pipe dengan alat-alat anestesi)
S-suction (tabung, selang dan tabung suction)

Sebaik pasien masuk, co-ass bertanggungjawab menyediakan dan memasang oksigen, (cannule/NRM), memasang electrode pre-cordial, statescope precordial, tensi, infusion set, mengatur cairan, memasukkan premedikasi dan mengosongkan urine. Setelah itu menjadi kewajiban co-ass untuk mencatat semua obat-obat yang masuk, tensi, heart rate, pernafasan, dan input cairan serta output urine, perdarahan dan sebagainya. Untung-untung diberi peluang oleh dokter residen untuk melakukan intubasi dan memasukkan ETT ke dalam trachea.

Jika tugas dirumah sakit luar juga, co-ass yang bertanggungjawab untuk menyiapkan dan mencampurkan obat-obat dari premedikasi, seperti ondasentron, ketorolac, ranitidin dan dexametason, obat-obat induksi, sedasi dan analgesi seperti propofol, pethitidin, fentanyl, hinggakan obat-obat emergensi seperti atrophin sulfat, efedrin, epinefrin..


Sabtu, 1 Disember 2012

DISEMBER

2



Disember tiba…
Diiringi hujan renai yang perlahan-lahan mengguyur bumi. Suasana yang persis sama sewaktu kau memutuskan untuk pergi. Disember yang memaksaku untuk menghitung hari-hari yang tersisa. Menyiksa. Seakan menghitung mundur menuju hari kematian. Jarak antara dua angka di jam dinding seakan menyempit secara drastic. Cemburu benar akan kebersamaan. Untuk kali itu, benar-benar berharap waktu akan berhenti.. tolong berhenti saja disitu. Tidak sanggup melangkah dengan lebih jauh. Kerna langkah kita hanya akan memperbesar jarak.

Namun waktu tidak pernah mahu akur. Ia lebih memilih untuk melatih hati supaya tegar dari memanjakan diri dengan mimpi yang membuai lena hari semalam. Ia sepertinya sedang mempermainkan kita. Kenapa sekarang?? Kenapa di saat kebersamaan baru berjalan segaris? Saat semuanya berlansung baik-baik saja? Saat aku masih bersandar dibelakangmu saat mahu rebah dijalan? Bersembunyi dibelakangmu untuk menangis diam-diam.. Disaat kau kau sedang mengajarku bahwa kekuatan itu harus dibina dari dalam… Di saat kau mengatakan “ambil jeda sejenak saat kau lelah, tapi jangan lama.. bangkitlah lagi..dan kita sama-sama berjuang dijalan kita masing-masing!!”  Justeru saat begini, kau akan pergi.. tidak tahu kapan kembalinya. Kenapa tidak dari dulu? Waktu-waktu menyebalkan yang dipenuhi konfrontasi tidak jelas dan musim salju yang membekukan itu? Perpisahan ini pasti akan menoreh luka. Mendalam mungkin. Munafik untuk tidak merasa kehilanganmu dan mengatakan “aku akan baik-baik saja”..

Tapi itulah.. lagi-lagi aku yang harus akur pada takdir. Belajar tersenyum pada hakikat. Pasrah dengan permainan waktu.. kerna Tuhan sungguh mahu mensutradarai kisah ini sendiri. Tuhan yang Maha Pemurah membuktikan sifat kekuasaanNya dengan memberi kemurahan airmata yang tak reti untuk berhenti mengalir dari tubir muara. DIA harus melakukan itu!! Demi mengajar hati untuk kuat. DIA ingin mendidikku sendiri. meski lewat kamu. Membuka mata ini supaya melihat dengan lebih jelas dan positif. Toh, hujung-hujungnya, hukum jarak, perbedaan longitude dan latitude bukanlah suatu tantangan yang mustahil kita lewati. Seperti kisah kupu-kupu yang harus melalui celah yang sempit sebelum berjaya keluar dari kepompong dan melihat dunia yang indah. Aku juga. Mungkin kesakitan dan kehilangan itu perlu.. untuk menjadi kuat dan tegar..melihat dunia dari bingkai yang lebih indah…

Meski Disember tetap saja menghadirkan rasa yang sedih dan menyiksa, Disember yang mengingatkan pada airmata yang tidak ada harganya, Disember yang memaksa bahwa harus ada kata “pisah” dalam episode kehidupan yang tidak mungkin dipungkiri, Namun rasa syukur tetap melangit tinggi. Kerna Disember itu mengundang Januari, Februari dan bulan-bulan seterusnya yang digilir cahaya mentari, mendung, hujan serta pelangi yang kita lewati..

Disember memang lambang penghujung bagi sebuah tahun. Pengakhir bagi sebuah kisah. Namun menjemput tahun yang baru pula. Dengan kisah yang baru…ada pepatah mengatakan: tak bersama tak berarti renggang, jauh tak berarti terpisah..

Aku suka kata-kata yang pernah kau lakarkan:
“Aku suka senja,aku suka warna langitnya…suka keindahan  mataharinya, berharap aku bisa menjadi seperti matahari yang akan selalu terbenam, namun tak pernah lupa untuk terbit.”

Sabtu, 24 November 2012

PENGORBANAN TERINDAH

3



membaca sebuah cerpen yang keren.. hanya perlu 2 saat untuk empangan airmata pecah dan mengguyurkan airmata tanpa henti.. pengorbanan tidak butuh untuk diungkapkan setiap satunya.. ia sebaliknya menjadi sangat indah saat dirahsiakan.. dan waktu tetap saja akan mengungkapkannya dalam garis cerita tersendiri..

(kisah seorang kakak dan adik) ^^,

by Uswatul Hasanah on Friday, October 19, 2012 at 5:21pm ·
~~,Sebuah Kisah untuk kita renungkan dan jadikan motivasi...

  Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil..Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, halmemalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik... hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. " Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampaike tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! "Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskansedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!""Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

apa bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, ... tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita..^^,