Skinpress Rss

Jumaat, 6 Januari 2012

PEDIATRIC POSTING

0


Sudah terlalu banyak rasanya mencoret catatan sepanjang berada di Posting Pediatric (Anak). Dari rasa gembira, sedih, sebal (bête) hingga rasa kasihan dan sebagainya. 10 minggu yang memberikan pelbagai citra dalam kehidupan. Suka dan duka dalam menjalani dunia koas. Berapa kali semangat itu naik dan turun. Kemarin semagat, hari ini tidak. Besok semangat lusa tidak lagi. Wajar saja. Namun tiap kali semangat itu turun, Tuhan telah bermurah hati untuk menurunkan pertolongannya lewat sahabat-sahabat dan lewat persekitaran. Hingga berapa kalipun tubuh ini rebah, cepat-cepat akan bangkit kembali.

10 minggu di anak. Boleh terhitung sebagai 10 minggu tersibuk ditingkat ini. meski begitu, masih bisa mencari celah disamping kesempitan untuk berusrah, bersosial dan sebagainya. Kerna jiwa tetap butuh keseimbangan. Rohani meronta untuk dipenuhi.


Teringat saat pertama ingin follow up pesakit anak. Sebanyak 5 bagian yang telah diri lewati, semua pesakitnya terdiri dari orang dewasa. Jadi agak berdebar (dumba) juga saat pertama kali mahu follow up. Kaki mnjejak ke bangsal (wad) anak. Menghampiri tempat tidur (katil) mereka. Tatapan si kecil penuh curiga. Mempersiapkan energi untuk mulai menangis. Mata berkaca. “sudah” detik hati. Mudah sekali membaca pesan permusuhan dari mata kecil bundar tersebut. Diri cepat-cepat menyapa dengan wajah termanis “sayang, belum tidur yach? Eh liat tuh, teddy nya, lucu sekali”.. berbasa basi sambil mencuit teddy bear disampingnya. Kelip-kelip. Mata kecil itu hairan barangkali. “siapa namanya teddy ta’?” mulai membuka perbualan “antri” jawab suara mungil yang mulai reda stressnya. “nama kakak, kk Fuza.. siapa namata?” masih memancing. “Indah Riska” jawab si comel yang agak pucat tersebut. “bisa kakak periksa Riska? Gak sakit kok.. cuman pake ini dan ini (sambil menunjukkan alat tensi dan thermometer monyet yang lucu)” wajah Riska masih ragu. Mamanya tiba-tiba mencelah “periksa ajha doc.. gak apa-apaji itu..” ibu pasien sepertinya agak memaksa. Diri coba memujuk lagi “bisa tidak sayang? Diperiksa disini ama disini ajha (sambil menunjukkan ke lengannya dan ketiaknya)” lama. Berberapa detik, Riska menganggukkan kepala sambil menyerahkan tangannya untuk diperiksa tensinya (blood pressure). Alhamdulillah, Allah mempermudahkan jalanku. Kali kedua diri datang ke tempat Riska untuk memeriksa, Riska sudah tersenyum dan dengan rela menyerahkan tangan kecilnya untuk diperiksa.

Benarlah untuk meraih kepercayaan dari anak-anak ternyata lebih payah dari orang dewasa. Bagi mereka, orang berkot(jas) putih itu jahat, kerana menyuntik mereka, memberikan pengalaman rasa sakit pada mereka. Jadi minda kecil mereka akan mulai membenci dan ketakutan saat melihat jas putih. Untuk menembus masuk ke dunia mereka amat payah. Namun jika kunci yang kita gunakan tepat dengan anak-anak, maka mereka akan korperatif dengan kita. Itu petua yang Nabilah ajarkan pada diri. Bagaimana menemukan kunci keberhasilan tersebut berbalik pada kreativitas dan kebijaksanaan kita sendiri. Diatas adalah salah satu dari beribu pengalaman yang diri alami sepanjang di bagian Anak. Semoga ilmu, skill dan pengalaman yang telah diri rasai sepanjang 10 minggu ini akan mempersiapkan diri untuk melangkah ke depan.

Khamis, 5 Januari 2012

SAAT KAU PERGI

2


5 Januari 2011. Hujan rintik-rintik diluar. Mentari masih segan menampakkan diri. Bersembunyi disebalik awan pekat. Menyembunyikan juga harapan yang cerah untuk menjalani hari. Semenjak belakangan ini, langit Makassar sering sekali menangis. Menumpahkan tetes-tetes bening yang menghangatkan perasaan. Seperti saja hati yang acap kali gundah. Menyelak bait-bait kalimat dalam Galaksi Cinta Kinanti. Kini seakan bisa memahami. Iya.. rasa itu begitu hidup saat dihadapkan dengan perpisahan yang nyata. Saat perpisahan tak lagi jadi barang mainan yang biasa dipersendakan. Perpisahan itu hanya sejengkal lagi. Tidak sampai. Setengah jengkal mungkin. Cukuplah kau menangis. Sudah beberapa hari ini kau menangis terus. Untuk kali ini, tolonglah tersenyum. Iringi dia pergi dengan senyum termanismu. Biar dia bebas menggapai awan..biar dia tak lagi ragu untuk merentas petala langit.. Ya.. langit adalah arenamu..

"Januari yang ditunggu-tunggu. Saat itu para penghuni Galaksi Cinta akan duduk bergerombol di atas bukit yang ditumbuhi ilalang berbulu lembut. Angin memainkan musik yang menabuh sepi dalam kerinduan yang kronis. Mereka lalu saling bercerita tentang kisah yang sama. Diulang-ulang, tapi tak pernah mendatangkan rasa bosan. Ada yang tersenyum sambil membisikkan dendang langka. Lagu yang sudah tidak dikenali generasi kini. Punah dikunyah dek masa. Bibirnya tersenyum tapi matanya melelehkan air mata. Ia teringat tatapan mata pelengkap jiwanya saat ini. Jika engkau cinta, tatapan seperti itu tidak mungkin dusta. Seolah tidak cukup engkau serahkan seluruh hidup. Tatapan yang telah tertinggal oleh waktu, mustahil diulang. Sebab, pelengkap jiwanya terlanjur mengangkasa. Meninggalkan dia di Galaksi Cinta. Membiarkannya menunggu tanpa tenggat waktu. Rasanya, melanjutkan hidup sekadar menghitung mundur menuju hari kematian. Namun dia rela.

Ada yang menyendiri sambil menatap langit. Baginya menarik napas pun membuat nyawanya terampas. Rindu yang menyesakkan. Pada titik tertentu seakan mengosongkan paru-paru. No air…no air.. rasa yang sudah begitu renta, tapi tidak pernah menjadi kata-kata. Baginya tidak pernah ada waktu untuk mengatakan “setelah Tuhan, kaulah yang mampu memadamkan matahari.”

Dahulu, ketika jiwanya belum terbelah, ketika kebersamaan masih begitu mudah, dia menyemai bibit dalam hati. Begitu asyiknya. Saat pelengkap jiwanya pergi, sudah terlambat untuk mematikan tanaman hati ini. Hingga kini baginya, menunggu… tidak berarti harus bertemu. Ia melarikkan bait puisi tanpa berharap, pelengkap jiwanya akan kembali. Tetap menunggu.. tapi tidak berharap untuk bertemu. Dia menyedari, tidak semua cinta itu layak untuk diperjuangkan. Maka yang tertinggal adalah harapan yang memburam. Ia bersihkan setiap debu yang membuat jejak itu tidak gemintang. Mencoba untuk bergembira dengan apa yang pernah terjadi. Menyimpannya sebagai sekotak perhiasan."

Langit adalah arenamu.. terbanglah.. Aku tidak akan berkata apa-apa. Ini bukan sebuah pengorbanan. Kerna aku memang tidak pernah merasa berhak atasmu. Engkau akan selalu menjadi keajaiban bagiku. Bahkan diammu dulu…

Air mata jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan.. air mata kelemahan. Namun sebaliknya air mata kekuatan. Kuat kerna rela untuk melepas pergi.

~dedikasi buat teman terbaikku.. meski pertemuan tak bisa lagi menjengah namun saat kau pergi, tetap dengan harapan akan ada pertemuan semula..katamu pertemuan itu tidak bisa diraba dan diduga-duga~

Rabu, 4 Januari 2012

MOTHER OF PERINATOLOGY

0


Minggu Sembilan di Pediatric. Kali ini diri ditugaskan di bagian Perinatology atau lebih tepatnya di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Diri dan teman-teman seperjuangan yang lain harus standby disini 7x24 jam. Masing-masing diberikan satu/dua bayi yang harus dijaga. Dari bayi ini kami banyak belajar. Mulai dari penyakitnya, segala macam riwayat pengobatannya hinggalah kepada riwayat kehamilan dan persalinannya.

Bayiku, By.Agustina adalah bayi kecil berusia 13 hari yang lahir cukup bulan namun kecil masa kehamilan. Dia dirawat di NICU disebabkan adanya kelainan OMPHALOCELE. Omphalocele adalah sebuah cacat lahir di mana organ usus atau perut bayi keluar dari pusar (pusar). Pada bayi dengan omphalocele , usus keluar yang hanya ditutupi lapisan tipis jaringan dan dapat dengan mudah dilihat. Sebuah omphalocele berkembang saat bayi tumbuh dalam rahim ibu. Otot-otot pada dinding abdomen (cincin pusar) tidak menutup dengan benar. Akibatnya, usus tetap berada di luar tali pusat. Sekitar 25 - 40% dari bayi dengan omphalocele yang memiliki cacat lahir lainnya. Mereka mungkin termasuk masalah genetik (kelainan kromosom), hernia diafragma kongenital, dan cacat jantung.

Selain omphalocele, bayiku juga memiliki kelainan ATRESIA ANI. Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal. Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar (Walley,1996). Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi,2001). Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan. Jadi secara kesimpulan, atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan.

Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaan anus umumnya tidak ada kelainan rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak memadai. Menurut peneletian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan kromosom atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan bawaan rectum terjadi karena gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal yang memisahkannya.

Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti :
1. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe).
2. Kelainan sistem pencernaan.
3. Kelainan sistem pekemihan.
4. Kelainan tulang belakang.

Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu :
1. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu.
2. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalan keluar tinja.Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Nah, bayiku termasuk dalam klasifikasi ini.

Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya mekonium setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rectal, adanya membran anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi,2001). Gejala lain yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir, gangguan intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh darah di kulir abdomen akan terlihat menonjol (Adele,1996)
Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan salah satu manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium.
Untuk memperkuat diagnosis, dokter ruanganku meminta beberapa pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
1. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
3. Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.
4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
6. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari.
g. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius.

Penatalaksaan
* Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang disebut diseksi posterosagital atau plastik anorektal posterosagital.
* Colostomi sementara

Pokoknya bayiku tetap harus dioperasi. Cuma sekarang kondisi tubuh kecilnya tidak mampu untuk menjalani operasi makanya dia distabilkan terlebih dahulu disini. Satu lagi penyakit yang memperberat kondisi bayiku adalah INKOMPATIBILITAS DARAH.

Kelainan hemolitik ini dapat disebabkan oleh inkompentibilitas factor Rhesus. Factor Rhesus ini bersifat dominan, artinya seseorang yang memiliki satu saja copy factor rhesus dalam gennya digolongkan sebagai Rh + sedangkan yang tidak punya copy factor Rh dalam gennya digolongkan sebagai Rh -. Ibu dengan Rh – dan ayah Rh +, ada kemungkinan anaknya memiliki Rh+ kerana mendapat factor Rh dari ayahnya. Hal ini berarti darah ibu tidak punya factor Rh, sedangkan dalam darah janin ada factor Rh, dan hanya dalam kasus seperti inilah terjadi inkompitibilitas Rh.

Pada prinsipnya inkompitibilitas terjadi bila sel darah merah janin yang mengandungi satu antigen yang tidak dimiliki oleh ibu masuk ke dalam sirkulasi darah ibu. Antigen tersebut mensensitasi sistem imun ibu untuk membentuk antibody, yaitu suatu protein yang berfungsi menyerang dan menghancurkan sel-sel yang dianggap benda asing atau membawa benda asing (antigen), dan terjadilah destruksi sel darah merah janin. Meskipun prinsipnya hampir sama, inkompentibilitas Rh lebih berbahaya daripada inkompentibilitas ABO kerana anti-Rh yang terbentuk lebih mudah masuk ke sirkulasi bayi melalui plasenta dibandingkan anti-A atau anti-B.

Hemolisis menyebabkan bayi mengalami anemia. Tubuh bayi coba untuk mengkompensasi dengan melepaskan sel darah muda yang disebut eritroblast ke sirkulasi darahnya. Produksi besar-besaran eritroblast ini menyebabkan pembesaran hati dan limpa, dan dapat juga menyebabkan pembentukan jenis sel darah lain seperti trombosit dan factor pembekuan darah lain berkurang, akhirnya dapat terjadi perdarahan massif. Hiperbilirubinemia juga terjadi akibat hemolisis. Hemoglobin dipecahkan dan terbentuk bilirubin. Bayi menjadi jaundice, yaitu terlihat warna kuning pada kulit dan sclera matanya.

Pada bayiku, By.Agustina, dilakukan transfusi darah sebanyak 2 kantong untuk mengatasi anemia dan juga perdarahan. Fototerapi juga dilakukan untuk membantu mengatasi hiperbilirubinemia. Bayiku juga diberikan terapi oksigen ventilasi positif, CPAP (continuous positive airway pressure).

Disebabkan bayiku stop intake oral (baca: tidak perlu membuat susu) maka memberi ruang untuk diri berkenalan dengan lebih banyak bayi dengan penyakit-penyakit yang pelbagai.
Disamping ilmu pengetahuan yang didapat, hubungan antara rakan sejawat dan dokter-dokter residen juga sangat akrab. Ibarat sebuah keluarga yang saling membantu, berbagi ilmu dan sebagainya. Sama-sama gege (baca: gaduh gelisah) setiap paginya menanti visite Mother of Peri (baca;supervisor/dr specialis/dr pakar), menanti panggilan partus/SC (section Cessarian) dan menanti pesanan makanan bersama. NICU ibarat sebuah dunia biru terisolasi.. tersendiri.. namun disitu tercipta keakraban, kebersamaan dan saling mempercayai.. saling meringankan beban. Aseek sekali..

Selasa, 3 Januari 2012

K.A.L.A.S.I

0


Kalasi= menipu atau melakukan hal yang diamanahkan dengan tidak jujur.

Minggu 5 di bagian Pediatric (Anak). Diri dan teman-teman satu minggu ditemukan kembali di Rumah Sakit Labuang Baji untuk menjalani tugas Luar Negeri kami. Tapi sangat memilukan saat teman-teman minggu tidaklah supportive sepertimana yang diharapkan. Banyak sekali yang KALASI!!

Entah sejak kapan. Kalasi mulai membudaya ke dalam dunia koas. Mereka tidak datang jaga (onall) pada jadual yang ditetapkan, malah tidak juga datang saat jam kerja. Jika dicari dokter, meminta teman-teman lain menelefon dan baru bergegas untuk datang. Satu hal yang sangat tidak bertanggungjawab dan membahayakan nyawa orang lain. Bayangkan nasib anak-anak tak berdosa yang memerlukkan bantuan kita dengan penuh harap, dalam masa yang sama kita telah mengkhianati mereka. Sudahlah tidak ada dokter residen yang ditugaskan di Rumah Sakit tersebut. Hanya bergantung pada kudrat 4 orang supervisor (dokter spesialis/pakar) yang bergilir-gilir oncall. Ya, oncall berarti tidak standby ditempat. Bagaimana jika sang pesakit datang dengan keadaan yang gawat? Kejang, status konvulsif, syok? Tidak ada sama sekali tenaga medis yang kompeten yang standby dibangsal kecuali dokter-dokter muda yang telah disumpah untuk berkhidmat pada mereka yang tak berdaya ini.

Belum lagi bayi-bayi di NICU yang gawat. BBLR (bayi berat lahir rendah/ low birth weight), kejang, kernicterus (komplikasi dari Icterus neonatorum/ kuning), hipoglikemik dan sebagainya yang terlantar di incubator yang tidak berfungsi baik. Tidak ditutup, tidak juga disediakan secara rapi. Asal-asalan. Mereka butuh (perlukan) penjagaan dan perhatian yang teliti sekali. Kasihan.

Ada yang bilang,
“janmoko terlalu sok rajin, nanti diinjak kau itu (jangan terlalu rajin, nanti dipergunakan)”.
Ada lagi yang bilang
“ededeh, pusingka sama supervisor yang begitu,geje (gak jelas).. jangan pade dikerjakan (bingung dengan arahan dokter spesialis/pakar, jangan saja dikerjakan)”.
Yang lain bilang
“jangan terlalu polos (lurus) jadi koas, kalasi(tidak jujur) sedikit..nikmati jaman-jaman koasmu”.. “ndeeh cari mukami sedeng.. mw nasayang madam (berpura-pura rajin untuk menarik perhatian dokter spesialis/pakar)”..
A’udzubillahi minal syaithonirrajim… semua itu bisikan syaitan yang membisikkan kejahatan ke dalam hati manusia. Dan syaitan itu boleh jadi dari diri sendiri mahupun dari orang lain.

AMANAH. Barang langka yang mahal harganya dewasa ini. Kebanyakan orang hanya mementingkan kerehatan sendiri. Bersenang-senang untuk kepuasan sendiri. Tidak peduli yang namanya berkerjasama dengan rakan sejawat untuk kepentingan dan kesehatan orang lain. Tidak peduli lagi yang namanya belas kasihan, perikemanusiaan. Bukan permasalahan pura-pura rajin. Bukan masalah mencari muka. Tapi inti kepada permasalahan itu adalah bagaimana kita melaksanakan amanah yang diberikan. Bagaimana kita menghulurkan tangan pada orang yang memerlukan. Dunia koas bukan hanya dunia teori yang buta-buta ingin buru ranking (membaa terus), bukan dunia anak-anak yang hanya mempraktikkan skill pada manakin-manakin yang tidak bernyawa.. tapi jauh lebih dari itu…

Dunia koas adalah permulaan bagi kita untuk belajar mengenalpasti masalah dan coba untuk menguraikannya. Belajar berempati, berkomunikasi dengan pesakit dan keluarga pesakit, belajar memahami dan mengendalikan kerunsingan dan keraguan orang tua, belajar saling berkerjasama dengan para dokter, rakan sejawat, perawat, bidan dan staff rumah sakit.

Disini diri banyak belajar tentang protap penanganan kejang, terutama kejang demam yang banyak dialami oleh anak-anak yang dirujuk ke sini, diare (diarrhea), demam berdarah dengue (DBD/DHF), demam Thyphoid dan sebagainya. Memandangkan diri yang sebelumnya tugas Luar Negeri di RS Fatimah yang mentong hanya mengurusi bayi-bayi baru lahir, di Labuang baji ini diri harus lebih aktif progresif mengejar ketertinggalan ilmu yang telah diperoleh teman sejawat yang bertugas di luar daerah seperti di RS Syeikh Yusuf, Gowa, Maros, Faisal dan Ibnu Sina.

Dalam kesempitan dan tekanan yang menggunung itu, Alhamdulillah, dikurniai teman sejawat yang mahu untuk memikul tanggungjawab ini bersama-sama. Saling bahu membahu untuk membantu yang tidak upaya sekaligus mempertajam ilmu pengetahuan dan menguasai protap-protap pengobatan dan penanganan penyakit.

Isnin, 2 Januari 2012

ALHAMDULILLAH ALA KULLI HAL

0


Sebuah perjalanan pasti mengandungi resiko. Sebuah langkah pasti memiliki konsekuensi. Tapi hanya dijalan inilah.. dijalan taat kepada Allah, dijalan pengabdian kepada Allah, dijalan pengorbanan untuk Allah, semua resiko bisa kita rasakan sebagai nikmat. Maka ungkapkanlah lagi rasa syukur kita.. "Alhamdulillah ala kulli hal.."..segala puji hanya untuk Allah atas segala keadaan ^_^

Ahad, 1 Januari 2012

SARTIKA

2


“Dokter Puca, ayo foto..” ujar Sartika sambil menarik-narik jas putihku. Tangan masih sibuk memegang statesope, memeriksa keadaan umum Indah yang akan dimasukkan obat kemoterapi jam 8 nanti. Hari masih gelap benar. Jam baru menunjukkan angka 5.30pagi. Embun masih belum kering dari ujung dedaunan. Sartika sudah segar dan lincah berlari ke sana sini.
“kenapa Sartika? Kok ribut sekali pagi-pagi begini” sapaku sambil bibir mengelus senyum.
“Ntar lagi Sartika mau pulang. jadi foto kenang-kenangan dulu”..
kata Sartika sambil tersenyum polos. Hatinya bagai bunga kembang menanti fajar yang akan menyinsing. Mana tidaknya, sudah seminggu terpenjara di Rumah Sakit ini untuk menjalani pelbagai jenis pemeriksaan guna melanjutkan kemoterapi. Dia mau menunggu Prof.Dasril datang dan membenarkannya pulang.

SARTIKA, anak perempuan kecil yang berusia 5 tahun 3 bulan, dia berulang alik masuk ke Rumah Sakit Wahidin sejak berusia 4 tahun kerana menjalani siklus kemoterapi setelah terdiagnosis Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL).

Leukemia limfoblastik akut (ALL) adalah keganasan klonal dari sel-sel prekursor limfoid. Pada lebih dari 80% kasus, sel-sel ganas berasal dari limfosit B dan sisanya merupakan leukemia sel T. Leukemia ini merupakan bentuk leukemia yang paling banyak pada anak-anak. Penyebab pastinya tidak diketahui. Faktor keturunan dan sindrom predisposisi genetik lebih berhubungan dengan onset pada anak. Beberapa faktor lingkungan dan kondisi klinis yang berkaitan adalah radiasi ionik, paparan benzene kadar tinggi, merokok, kemoterapi, infeksi virus Epstein Barr, Down syndrome, dan Wiskott-Aldrich

Manifestasi leukemia limfositik akut merupakan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal (kegagalan sumsum tulang) atau keterlibatan ekstramedular oleh sel leukemia. Akumulasi sel-sel limfoblas ganas di sumsum tulang menyebabkan berkurangnya sel-sel normal di darah perifer dengan manifestasi utama berupa infeksi, perdarahan, dan anemia.

Pertama didiangnosa, Sartika adalah anak yang manis, lucu dan cerewet, dengan kulit yang kemerahan dan rambut panjang kehitaman, suatu hari dilarikan ke rumah sakit kerana tiba-tiba pingsan sewaktu bermain. Wajahnya berubah pucat. Dia mulai sering berdarah, demam, sakit seluruh tubuh, sesak, lemah dan hilang selera makan. Berat badannya kian menurun saban hari hingga menggetuskan kebimbangan yang besar buat ibunya. Dari Rumah Sakit Daerah di Soppeng, beliau dirujuk ke Rumah Sakit Kelas A di Makassar, RS Wahidin Sudirohusudo.Setelah diperiksa lengkap, diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium (CBC, apus darah tepi, pemeriksaan koagulasi, kadar fibrinogen, kimia darah, ABO dan Rh, penentuan HLA), foto toraks atau CT, pungsi lumbal, aspirasi dan biopsi sumsum tulang (pewarnaan sitokimia, analisis sitogenetik, analisis imunofenotip, analisis molekular BCR-ABL). Ternyata.. Limfoblastik Leukemia Akut!! Penyakit darah yang langka.

Di sini dia mulai diterapi dengan terapi induksi remisi dan terapi intensifikasi/konsolidasi yang mana masing-masin bertujuan untuk mencapai remisi komplit hematologik yaitu eradikasi sel leukemia yang dapat dideteksi secara morfologi dalam darah dan sumsum dan kembalinya hematopoiesis normal. Dan yang lainnya terapi yang bertujuan mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan mencegah timbulnya sel yang resisten obat. Terapi juga ini dilakukan 6 bulan kemudian.
Program pengobatan menggunakan kombinasi vinkristin, prednison, L-asparaginase, siklofosfamid, dan antrasiklin seperti daunorubisin.

Berbeda dengan anak-anak lain seumurannya yang turut mengalami nasib malang menderita penyakit darah, Sartika tidak pernah menangis saat tubuhnya ditusuk jarum untuk dipasang infuse (branula), diambil darah mahupun disuntik obat. Jika anak lain pasti sudah menjerit-jerit histeris. Tidak sanggup rasanya menanggung derita. Sartika tenang-tenang sahaja. Katanya “dokter mau bantu Sartika.. jadi Sartika harus kuat”.

Hari Sartika dimasukkan obat Kemoterapi oleh Prof. Dasril, Malam sebelumnya, dia masih menonton Sponge Bob bersama kami. Setelah itu bermain game Angry Bird. Hari itu giliran diri diberi peluang untuk mengikuti procedure kemoterapi. Mengiringi Sartika masuk ke kamar Kemoterapi. Wajahnya agak tegang. Siapa juga yang tidak tegang jika harus menghadapi saat penderitaan yang menyiksa.. Sartika sudah terbaring di meja tindakan. Diri berada di sampingnya. Tiba-tiba tangan mungilnya memegang tanganku dan tersenyum. Menusuk kalbu. Betapa kuatnya anak ini. rasa haru menyesakkan atma tatkala melihat tulang belakangnya ditusuk spinal needle no.20 didaerah lumbal 3-4, sebelum cairan likuor cerebrospinal ditarik keluar sebanyak dosis obat yang akan dimasukkan. Obat dimasukkan secara intratechal, lansung ke dalam sumsum tulangnya. Sartika Cuma mengerang kesakitan. Tidak menangis. Jejer air mata hanya mengalir lesu ditubir mata, mengikut alur garis pipi yang melengkung. Tidak projektil.

Setelah prosedur selesai, tubuh kecil Sartika layu. Kehabisan energi. Matanya terpejam. Anggotanya sama sekali tidak bisa melakukan gerakan. Bisanya obat kemoterapi hingga meninggalkan kesan lecet (luka) dibelakang anak kecil itu. Selesai dirawat, Sartika diangkat ke kamar perawatan untuk istirehat. 1 hari suntuk Sartika lemas dan tidak bisa terlalu banyak bergerak. Besoknya, sewaktu diri menyuapi Sartika makan bubur, Sartika tiba-tiba berkata “Dokter Puca, bisakah Sartika sembuh? Alvin, Dewi, Zaki, Yoga, semua pergimi (teman-teman yang biasanya bersama Sartika untuk menjalani kemoterapi semua telah meninggal dunia)”.
Air mata bagai mau saja menerjah keluar. Dada sesak menahan sebak yang amat. Jujur, prognosis bagi penyakit ALL tidak begitu bagus. Karena onset biasanya mendadak, maka dapat disertai perkembangan dan kematian yang cepat bila tidak diobati. 60% pasien yang diobati menjadi sembuh dan mengalami harapan hidup yang meningkat dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang serta SSP. Namun tidak banyak anak yang bisa bertahan dengan kemoterapi agresif itu sendiri. Perlahan diri berkata
“Sartika harus kuat say.. banyakkan berdoa” itu saja.
Tidak bisa untuk berkata-kata lagi. Sartika hanya tersenyum dan menghabiskan sisa bubur yang baru masuk ke mulutnya.

Klik.. klik.. klik..

Bunyi dari kamera telefon genggam Sartika.. tersentak dari lamunan.
“ih, Dokter Pua gak senyum.. jelek. Ulang!!”. Rungut Sartika.
“Yah, maafkan.. sinimi kita ulang” kata diri sambil tersenyum.
Setelah selesai foto, Sartika menggalas tas kecilnya dan memegang tangan ibunya seraya berkata
“ Dadaa dokter.. doakan Sartika..”

Jumaat, 30 Disember 2011

NAFAS KEHIDUPAN

0


Ketakutan adalah bagian dari nafas kehidupan yang harus kita miliki selain nafas harapan dan cinta. Takut pada kegagalan setelah memulai perjalanan dan berusaha sepenuh tenaga untuk meraih jaya. Takut pada perpisahan setelah hadirnya pertemuan, serta menjalani persahabatan dalam bingkai kasih sayang. Wajar. Ketakutanlah yang membuat kita waspada..

Mari lanjutkan perjalanan kita. Waspadai segala ketenangan di jalan ini. Berhati-hati dengan kemudahan. Dan hargailah segala hal yang berlaku disekeliling kita.. Fatamorgana dunia sentiasa melalaikan kita dan menjadikan kita tidak siap untuk menghadapi banyak hal dalam hidup ini..^__~