Skinpress Rss

Isnin, 12 Disember 2011

DI MANA ALLAH DALAM HATI KITA?

0


Di mana Allah dalam hati kita? Renungkan dan pikirkan kalimat ini, saudaraku. Kerana Ali bin Abi Talib RA pernah menyifatkan keadaan para solihin di zamannya dengan mengatakan “azhumal khaliqu fii qulubihim, fashaghura maa duunahu fii a’yunihim”, sungguh keagungan Allah telah mendominasi dinding hati mereka. Karenanya menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka, selain Allah. Mereka menjadi besar kerana telah meyakini kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kedudukan mereka menjadi tinggi, kerana mereka telah meninggikan Allah SWT. Jiwa mereka telah sibuk dengan hanya mengagungkan Allah hingga mereka menjadi tidak takut kecuali kerana Allah, menjadi tidak tenang kecuali bila dekat kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bersandar kecuali kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bergantung kecuali Allah. Keagungan Allah benar-benar telah merajai hati mereka. Selalu begitu hebat dan mengagumkan keadaan hati para solafussoleh dalam tingkat ma’rifah mereka kepada Allah SWT.. Subhanallah.. Maha Suci Allah…

Saudaraku,

Dimana Allah dalam hati kita? Seberapa dominan keagungan Allah SWT dalam hati kita? Allah SWT tak ingin hati kita dipenuhsesaki oleh keinginan nafsu dan ita-cita dunia. Dahulu, ketika Nabi Allah Ibrahim terdominasi oleh kecintaannya kepada sang anak, Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Dahulu, ketika suatu saat Rasulullah SAW dan para sahabat begitu memuliakan Baitul haram dalam hati mereka, Allah lalu memerintahkan mereka melakukan solat menghadap Baitul Maqdis. Agar Allah mengetahui apakah kadar kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat, lebih dominan dan lebih besar daripada kecintaan mereka terhadap Baitul Haram? Ketika jawabannya adalah IYA, lalu Allah mengembalikan lagi Baitul Haram kepada mereka dengan perintahNya. Ketika Ibrahim ternyata lebih menyintai Allah, maka Allah kembalikan lagi sang anaknya kepadanya dan menggantikannya dengan menyembelih kambing qibashy.

Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Apakah yang mendominasi hati kita selama ini?

Saudaraku,

Apakah kita merasa gembira dan senang saat berdekatan denganNya? Apakah kita selalu berusaha agar Allah selalu bersama kita? Sejauh mana tingkat kesenangan dan kedamaian kita saat sholat, disaat kita bertemu dan bermunajat kepadaNya? Seberapa sejuk dan teduhnya jiwa kita saat sujud di hadapanNya, kerana saat sujud merupakan saat yang paling dekat denganNya.. Duhai, indahnya bila kita mengetahui firman Allah SWT :

“Aku bersama hambaKU di saat ia mengingatiKU dan dua bibirnya menyebutKU”
[HR Bukhari, Kitab at Tauhid]

Apakah kita menyediakan waktu sejenak, disepertiga malam terakhir untuk menikmati saat-saat kedekatan kita denganNya? Di saat Allah mengatakan:

“Apakah ada orang yang bertaubat yang aku terima taubatnya. Adakah orang yang meminta ampun atas dosanya dan Aku ampuni dosanya. Adakah orang yang meminta dan aku berikan pintanya.”
[HR Muslim]

Sejauh manakah pengorbanan kita untukNya? Apakah kita selalu berupaya melangkah dan bergegas mendekat tempat-tempat yang bisa membuat Allah redha kepada kita? Atau justeru kita mendekati tempat-tempat kemurkaanNya hingga kita semakin jauh dari redhaNya? Tapi lalu kita memohon dan meminta keluasan rahmatNya, mengeluhkan ragam kesempitan, kesedihan dan kelemahan kita kepadaNya. Mengetuk pintu kasih sayangNya dan berharap agar Allah mau membukakannya untuk kita yang penuh dosa, banyak lalai dan berlumur kesalahan?

Saudaraku,

Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Saat kita harus melewati sebuah peristiwa pahit dan menyakitkan dalam hidup. Mampukah kita meraba kasih sayang Allah SWT dalam setiap peristiwa pahit dan menyakitkan itu? Karena, sesungguhnya apapun yang datang dari Allah itu adalah indah. Meskipun kadang kita tak mampu melihat keindahan dalam musibah yang menimpa. Tapi itu tetap saja indah. Renungkanlah keindahan dalam musibah yang menimpa Nabi Musa AS saat bersama Nabi Khaidir. Bagaimana peristiwa kapal yang diboocrkan, seorang anak yang dibunuh dan rumah hampir roboh yang dibangun kembali. Semua itu musibah yang buruk dalam pandangan Nabi Musa AS. Tapi saksikanlah betapa keindahan itu terbentuk sedemikian rupa dari ketetapan Allah, setelah diketahui hakikat dan hikmah musibah itu semua? [Ibnu Qayyim, Al Fawaid]

Saudaraku,

Mari terus menerus berlatih agar jiwa kita benar-benar dipenuhi oleh cinta kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sudah lama menjalani hidup. Tapi kita terlalu lama dibuai dunia. Kita harus berhenti sejenak disini. Lalu bertanya kepada diri sendiri

“Dimanakah Allah SWT dalam hati kita?”

Sabtu, 10 Disember 2011

HAYO SEMANGAT!!

0


Jalan ini bukan jalan yang mudah.. harus dilalui dengan susah payah, keringat dan air mata.. ada ketika kita berlari terlalu laju dan kelelahan hingga pada waktu yang lain kita harus berjalan perlahan-lahan. Tapi jangan terlalu lama dan jangan terlalu larut dengan "jalan perlahan" kerna ia hanya sekadar jeda untuk mengisi kembali takungan semangat yang kian berkurang, habis dipakai buat energi diperjalanan.. Tetaplah semangat lagi!! terus berjalan walau bertapakkan kaki yang tempang, sayap yang patah maupun hati yang terluka hingga ke akhirnya..

[Rabbi Yassir Wa Laa Tu'Assir, Ya Kareem..] ^__^

I heard..
The sound of Ur footstep..

The sound of Ur falling tears..

Running doubt..

Flooding feelings..


Now Go...!

Firing with super strength..

To Promise HOUSE!!

Hayo sama sama SEMANGAT!! kerana semangat itu sendiri adalah kehidupan!!

Isnin, 5 Disember 2011

BERWAJAH BIASA

0


Gadisku,
Saat dikau berwajah muram,
Dan mengeluhkan kenapa kau tidak secantik yang lainnya
Kenapa mereka punya penaksir sedang kau tidak
Kenapa mereka sering berganti pasangan sedang kau tak pernah punya

Kau lupa barangkali gadisku,
Kata “cantik” itu sangat subjektif
Kecantikan, nilainya bukan pada lahiriah semata
Tapi ia lebih cenderung pada pekerjaan hati
Yang diperelok dengan kebaikan dan ketaqwaan
Diperindah dengan amal soleh dan keikhlasan
Itulah kecantikan paling sempurna dan terindah

Gadisku,
Bersyukurlah saat Allah menjadikan wajahmu biasa-biasa saja
Kerana Allah sebenarnya menyelamatkanmu dari fitnah dunia
Laki-laki yang menyintaimu kerana parasmu atau fisikmu
Sungguh mereka hanya pendusta yang bertuhankan nafsu
Leki-laki yang naksir padamu lantaran keelokan wajahmu
Tidak mustahil akan berpaling darimu demi seorang yang lebih elok paranya pula

Tetapi laki-laki yang menerima dirimu yang berwajah biasa,
Mereka melihat kepada kecantikan hati dan pekertimu,
Dialah laki-laki yang akan memuliakanmu
Laki-laki yang akan berbuat baik padamu kerana Tuhannya
Laki-laki yang akan melindungimu dan membimbing tanganmu menuju syurgaNya
Apakah yang lebih baik dari itu?

Gadisku,
Pernah kau dengar kisah apel yang bermutu?
Apel dengan kualiti terbaik itu adanya di puncak pohon
Sedang apel kurang berkualiti jatuh berguguran sebelum masa panennya
Diinjak, dilempar, dimakan ulat.. sama sekali tidak dihargai
Sedang apel dipuncak terus menanti
Menanti orang yang benar-benar yakin akan keberadaannya
Walau terlindung dek dedaunan merimbun yang menutupi
Hanya orang terpilih yang akan memanjat pohon itu dan memetiknya dengan hormat
Apel it uterus bersabar dan memperbaiki dirinya
Agar saat dipetik, ia bisa menmberikan rasa yang manis dan bergizi…

“Duhai orang yang menanti, teruslah menanti dengan sedikit kesabaran lagi.. yakinlah bahawa janji Allah itu pasti..”

~amni shamrah~
05 December 2011
11.00pm

credit to: gadis yang bertanya dalam kegalauan.. kerana dirimu begitu berharga ^_^

Ahad, 4 Disember 2011

TUNGGU TEDUH DULU

0


Setelah melalui satu minggu yang penuh stress di Rumah Sakit Labuang Baji, diri akhirnya berjaya menghabiskan jaga (jadwal oncall) pada hari Sabtu. Hingga mengizinkan diri untuk libur (cuti) 1 hari pada Ahad nya. Wah, weekend pertama di bagian pediatric!! Aseekk!!

Mahu sekali istirehat total dirumah. Tirah baring!! Namun jadi ingat pada adik-adik binaanku. Minggu lalu sewaktu liqa’, tidak dapat menumpukan sepenuh perhatian pada mereka gara-gara keletihan yang amat. Pengisian juga tidak seserius biasanya. Kasihan mereka. Walau sepertinya banyak yang mahu mereka ceritakan, namun tertahan dengan kondisi diri yang agak turun. Sejak terjun ke dunia koas, diri agak kurang meluangkan waktu bersama mereka, mendengar keluh kesahnya mereka. Sedangkan sewaktu pre-klinik dulu, setiap hari ulangtahun kami akan makan bersama..

Lansung jemari mengetik sms buat mereka. Biarlah sisa waktu yang tersisa walau kurang dari 24 jam tersebut, dapat diri manfaatkan sebaiknya bersama mereka. Begitulah. Harus korbankan masa lapang untuk persediaan masa yang sibuk nanti. Inilah investasi akhirat kita. Diri mengajak mereka keluar untuk jaulah bersama keesokannya. Seperti biasa, Tim dan Azurin yang sentiasa ceria dan happening membalas girang untuk keluar bersama. Begitu juga yang lain. Ya.. mereka sentiasa positif untuk melakukan apa saja bersama. Rasa tsiqah yang tinggi dan keazaman yang kuat membuatkan mereka sangat antusias untuk berkomitmen dengan apa saja yang diajukan.

Akhirnya kami bersetuju untuk menjadikan Akarena sebagai tujuan destinasi. Pantai pasir hitam, Akarena yang terletak tidak jauh dari Pantai Losari merupakan suatu destinasi wisata (perlancongan) yang menjadi tumpuan untuk warga Makassar menghabiskan sisa hujung minggu mereka bersama keluarga tersayang. Biasanya warga Makassar berdatangan ke sana untuk menyaksikan matahari terbit mahupun tenggelam yang ternyata sangat indah disaksikan dari kawasan pantai ini. namun tidak kurang juga yang menjadikan pantai ini sebagai tempat bermandi manda dan beramah mesra dengan keluarga masing-masing.

Kami tiba di Akarena jam 7.30 pagi. Meskipun hari hujan dan langit masih mendung, menutupi sinar sang mentari pagi yang mengintip celah untuk menebar gemerlap, namun hati kami tetap girang dan bahagia. Tambahan adik-adik juga baru usai ujian akhir bagian Gastroenterohepatologi. Minggu depan mereka akan memasuki sistem baru yaitu Onkologi. Meskipun diri masih dalam mood keletihan namun jaulah seperti ini mampu me recharge kembali energy yang hampir terkuras total di RS Labuang Baji minggu lalu.

Memulakan aktiviti (aktivitas)dengan sepinggan nasi kuning khas Makassar dan segelas akua (air mineral) dari warung yang berdekatan, kami menyantap makan pagi dengan penuh selera. Bahagia melihat mereka berlari-lari di atas jembatan kayu mendekat ke pantai, bergurau senda menghilangkan sungkam dan ketawa ceria, usil mengusik antara satu sama lain. Alhamdulillah inilah rahmat kasih sayang yang tercurah lewat ukhuwah yang semakin matang. Inilah biasan cinta yang tercipta dari yang ESA. Tiba-tiba, rindu mencengkam terhadap adik-adik yang tidak dapat ikut serta hari ini. Natrah yang semakin hilang kelibatnya disapa waktu yang mencengkam(disebabkan suatu kondisi). Ida yang juga jarang kelihatan bayang. Syafini yang lebih sibuk dengan aktiviti kampus.

Itulah.. mungkin khilaf diri yang lambat beradaptasi dengan lingkungan hingga mereka semakin jarang diri perhatikan. Mungkin khilaf diri yang lemah dan tidak cukup stamina untuk menggenggam tangan mereka dan menemani mereka dalam episode perjalanan panjang ini. Sibuk dengan kesibukan sendiri. Selesa dengan waktu istirehat sendiri. Padahal mereka masih memerlukan tangan ini untuk berpaut. Mereka masih butuh bayangan diri ini untuk berlindung dari terik mentari dan memerlukan contoh tapak kaki ini untuk mengatur langkah.

Ampunkan aku Ya Allah!! Ampunkan kekhilafan dan kelemahan diri ini. Jangan dikau hukum diri ini atas kelalaian yang tidak disedari. Maafkan diri ini wahai adik-adikku yang tercinta. Berikanku peluang untuk menjadi lebih baik. Terima kasih, kalian sentiasa disisi dalam perjuangan panjang ini. Terima kasih, kalian telah bersabar untuk sekian waktu yang diri ini tidak bisa menemani…

Sempat singgah di Trans Mall sebelum pulang, menikmati pancake enak,ANGEL DELIGHT di MR.PANCAKE sambil berlindung dari dinginnya hujan yang mencucuk hingga ke tulang belulang. Ini pertama kalinya mereka menikmatinya pancake yang amat dibanggakan TransMall tersebut sejak pembukaannya April lalu. Selain memiliki pancake enak bertaraf dunia, MR.PANCAKE juga memiliki restoran yang didekorasi ala rumah klasik inggeris yang menciptakan suasana romantis dan harmonis buat pengunjungnya. Walau harganya tergolong standard dan agak mahal pada status kehidupan masyarakat umumnya, namun disitu ada rasa yang tersendiri. Paling tidak mereka pernah makan disitu “sekali” sepanjang berada di Makassar..

Apa yang meninggalkan kenangan yang manis adalah apabila kami memesan hidangan pancake dan berkongsi 1 hidangan berdua sebagai penambah rasa.. diri yang berkongsi dengan Tim memesan hidangan Angel Delight yang terdiri dari pancake serta ais krim coklat strawberry serta Banana Split cukup mengocak deria rasa… indahnya kebersamaan letaknya bukan hanya pada pertemuan tapi pada perasaan yang bertemu dalam keakraban dan bersatu dalam tautan kemesraan ^_^

Jam 2. Belum solat Zohor. Pakaian sudah kotor disapa pasir pantai yang basah dan selut yang masih bercecer ditepian jalan. Kami bersetuju meredah lebatnya hunjaman air hujan yang menerjah bumi, pekatnya awan hitam yang membalut langit, dan percikan becak dari kenderaan bermotor yang lewat. Sebenarnya pada awalnya, perancangan hari ini hampir saja tertunda gara-gara hujan Disember yang turun tanpa permisi, namun akhirnya kami sepakat meneruskan agenda jaulah ini memandangkan lama sekali kami tidak keluar bersama. Meredah banjir serta bermain di gigi air ternyata memberi kredit memori tersendiri dalam perjalanan hidup ini. Tidak perlu menunggu teduh dulu untuk melakukan sesuatu hal bersama..

Rabu, 30 November 2011

BREAKING A TRUST

0


“Ayah bukan tidak mahu anak ayah belajar di luar negara, tapi ayah cukup takut, jika anak ayah nanti, balik sebagai seorang dokter yang berjaya tapi tidak lagi sebagai seorang manusia yang soleh”

Kata-kata ayah kembali terngiang-ngiang di telinga saat dihadapkan dengan 2 pilihan yang agak payah. Mengikut majority atau berkeras untuk pulang. Hari sudah malam benar. Teman-teman bersetuju sebulat suara untuk menonton wayang/bioskop bersama. Cerita larut malam setelah selesai acara farewell party tadi sebagai “nonton bareng” terakhir sebelum berpisah. Suatu tempat yang tidak pernah kaki ini jejaki sejak dulu. Tidak pernah dibawa ayah mahupun ummi. Serba salah. Menyertai mereka, menjejakkan kaki ke panggung wayang/bioskop berarti melanggar prinsip utama yang terbina, mengkhianati kepercayaan ayah dan ummi yang mengizinkan diri menuntut ilmu sejauh ini. Sementara pulang sendiri dikala jam sudah menginjak angka 11 berarti mengundang bahaya pada keselamatan diri. Buntu. Mana yang lebih aula(utama)?

Saat itu akal seakan berhenti berfungsi. Atma tiba-tiba berbicara: Ya Allah, ayah di tempat, sedang giat buat kerja Islam, takkan anak disini mahu melakukan hal yang maksiat? Dimana selarinya didikan ummi yang membisikkan “Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar dan Allah Maha Menyaksikan” sejak kecil. MasyaAllah.. malu pada Allah jika Allah lihat kita yang mengaku taat padaNya sedang dalam waktu yang sama menderhaka padaNya dengan memasuki tempat yang lebih mengundang maksiat ketimbang amal soleh. Malu pada Allah jika Allah lihat kita yang melaungkan kalimat tauhid pada masyarakat dalam masa yang sama mengkhianati syiar agungNya dengan melakukan hal yang membelakangi syariat. Allahu Akbar!!

Hati telus dan terus berdoa semoga Allah memberikan jalan keluar. Diri meminta izin teman yang membonceng untuk lansung pulang. Betapapun resikonya setelah memberikan alasan yang tepat dan meluahkan hal yang sebenarnya. Alhamdulillah, sungguh Allah lah yang menggenggam hati-hati manusia. Teman yang kebetulannya anak seorang Ustaz, lansung mengerti dan meminta maaf. Dia lansung menemani diri untuk pulang. Meredah pekatnya malam berdua. Lebih aman. Percaturan Allah lebih indah dari yang kita perkirakan. Kadang kita terlalu takut dan terlalu bimbang akan pendapatnya manusia hingga kita mengabaikan perintah Allah dan mengetepikan apa yang Allah tuntut. Kita lebih menjaga perasaan manusia ketimbang “perasaan Allah” yang telah memberikan segalanya pada kita. Dari situ diri mengambil pelajaran bahawa apa jua masalah yang mendatang, Allah pasti ada solusinya. Hanya saja kita yang memutuskan jalan mana yang ingin kita tempuh. Jalan kefasikan atau jalan ketaqwaan. Pasti Allah akan memudahkan urusan kita, InsyaAllah..

Beberapa hari setelahnya, kakak yang kebetulannya selesai menjalankan liqa dengan adik-adik binaannya, bercerita, betapa pentingnya kita menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kita. Ternyata banyak di kalangan adik-adik yang melakukan hal yang sama sekali dilarang oleh orang tua masing-masing. Ada yang berkata “saya disini saja masuk ke bioskop, kalau di Malaysia, parents tak bagi sebenarnya”. Ada anak ustaz, tapi di sini berpakaian seperti orang biasa. Bangga melilitkan pakaian ketat ditubuh, bangga memakai jilbab tapi mendedahkan aurat. Yang sekolah agama, bangga membawa perempuan bukan muhrim keluar berduaan dan melakukan hal yang sebagaimana dipandangan masyarakat sesuatu yang “normal” dan layak. Tanpa pernah diketahui oleh orang tua masing-masing.

Tidak sedar sama sekali bahawa kita datang dengan membawa maruah dan kepercayaan orang tua kita. Tapi disini kita menginjak-injaknya tanpa menyedari betapa jika mereka mengetahui apa yang telah kita perbuat, pasti mereka akan kecewa. Anak yang mereka didik bagai menatang minyak yang penuh akhirnya melupakan semua didikan mereka dan menjadi orang berbeda.

Bayangkan saudaraku, ibu yang siang malam mendoakan kesejahteraan kita, berkorban tanpa jemu untuk kita, namun kita menderhakainya dengan melakukan hal yang tidak disukainya. Alangkah kecewanya ibu. Ayah yang membanting tulang membesarkan kita dengan peluh keringatnya, ayah yang tak jemu mendidik kita menjadi anak soleh, kita membalasnya dengan menderhakai mereka lewat perbuatan kita yang telah sekian lama ditegahnya. Wajarkah?

Ayuhlah saudaraku, pecahkan tembok keegoan kita. Taatilah Allah.. Taatilah RasulNya dan taatilah ibu bapa yang telah mengasuh kita sejak dari kecil. kasihani mereka saudaraku.. Kita adalah amanah yang telah Allah SWT turunkan kepada mereka untuk dijaga. Sanggupkah kita melihat ibu dan ayah kita diazab di api nereka kerana perbuatan derhaka kita?

Break the siege!! Belajarlah untuk menderhaka pada maksiat!! semoga Allah mengampunkan dosa kita dan

Ahad, 27 November 2011

PERIPHERAL POSTING OF PEADIATRIC : FATIMAH ONCALL

0


Bismillahi Alhamdulillah.. segala puja dan puji dipersembahkan buat Rabb yang Maha Agung, Pemilik mutlak jiwa-jiwa yang masih terus diberi kesempatan menjalani kehidupan di dunia fana ini.

Sedikit perkongsian setelah menjalani fase tugas di hospital Daerah di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah. Selama 1 minggu bertugas di rumah sakit yang terkenal sebagai rumah sakit yang “paling sibuk” dikota ini, diri belajar banyak hal baik dari segi nilai dan juga dari segi ilmu medisnya. Menurut Kak Hajar, salah seorang perawat senior di Fatimah, rata-rata kelahiran perhari yang diterima oleh rumah sakit ini minimal 10 kelahiran. Baik persalinan normal (partus) mahupun malalui pembedahan, Section Cessarean. Paling maksimal bisa mencapai hingga 20-30 kelahiran. MasyaAllah. Kebanyakan masyarakat memilih Rumah sakit ini lantaran ia dibiaya penuh oleh pemerintah Indonesia. Tidak seperti Rumah sakit lain yang mereka harus membayar lagi jasa dokter dan tenaga medis yang tidak sedikit jumlahnya. Maka di Fatimah, kakitangannya benar-benar bekerja di luar dari keuntungan semata. tiada insentif yang dikenakan atas jasa mereka, tiada uang jaminan tambahan gaji.

Kesibukan bekerja disini benar-benar menguji eksistensi diri dalam menjalani hidup di dunia kedokteran. Apatah lagi saat diri harus bertindak sebagai “lone ranger” lantaran teman yang seharusnya masuk bersama mengundurkan diri kerna jatuh sakit. Diri hanya sempat tidur selama 2 jam paling lama dalam sehari kerna saking sibuknya.

Mana tidaknya Sectio Cessarian paling kurang 5-6 dalam sehari yang mengharuskan diri untuk ikut serta, menyambut bayi yang baru lahir sekaligus memberikan pertolongan pertama, “hangatkan, posisikan, bersihkan jalan napas, keringkan, ransang taktil dan reposisi” serta menilai APGAR SCORE bagi bayi-bayi ini. Banyak bayi yang lahir tidak menangis yang harus ditangani segera, bayi yang lahir dengan kelainan congenital seperti encepahly, meningeocele, dan hidrocephalus, dan banyak lagi kes yang gawat (emergency). Memandangkan dokter residen tidak masuk ke ruang operasi, maka diri sebagai co-ass lah yang bertanggungjawab penuh melakukan first aid tersebut. Nah, disitu terkuras segala ilmu yang telah dipelajari teorinya sewaktu kuliah dulu serta ilmu CSL yang diperuntukkan. Di situ diri dilatih untuk menggalas tanggungjawab yang maha berat untuk menyelamatkan nyawa makhluk kecil yang tidak berdaya itu. Kadang biar perawat dan bidan senior juga mengharapkan diri yang setahun jagung ini untuk mengatasi kerna mungkin difikirannya mereka, masih banyak hal yang belum mereka ketahui.

Pengalaman menyaksikan SC sangat menginsafkan. Melihat perjuangan sang ibu yang tak kenal lelah berusaha untuk melahirkan anaknya. Bertaruh nyawa di meja operasi. Betapa cinta dan sayang yang lahir dari ketelusan hati meleburkan siksa dan sengsara yang merantai. Melihat kebahagiaan dari sang ayah yang erat menampung tubuh mungil sambil di azankan. Suasana yang sangat harmonis dan bahagia. Seorang anak yang lahir dengan seribu harapan, berjuta kebahagiaan. Banyak kisah yang kusaksikan. Ada juga ykisah yang sebaliknya. Saat sang anak tidak berjaya diselamatkan, sang ibu meraung histeris. Minta nyawanya diganti dengan nyawa sang anak. Dalam kisah lain, ayah yang berwajah dingin menjualkan anaknya yang masih belum sampai 1 jam menghirup udara dunia yang fana dengan tukaran uang Rupiah. Tanpa belas. Tanpa kasihan. Nauzubillahi min dzalik..

Selain SC, diri harus standby di bagian NICU (Neonatal Intensive Care Unit) yang menempatkan bayi-bayi yang bermasalah. Banyak yang didapatkan di sini adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (low birth weight), premature, bayi dengan Respiratory distress, icterus neonatorum, sepsis, dan sebagainya. Bayi-bayi ini memerlukan perhatian yang baik dan penjagaan yang teleti untuk melewati fase yang maha berat ini dikehidupan mereka. Di sini diri di ajar untuk menghitung keperluan harian bayi dan mengatur jadual susu mereka. Kasihan melihat tubuh-tubuh kecil yang tidak berdosa, bersusah payah berjuang untuk menyambung kehidupan. Berjuang untuk mengembangkan paru menghirup udara. Ada yang menyerah duluan, tidak sanggup menghadapi kerasnya hidup, ada yang terus berjuang dan ada yang akhirnya berjaya melewati. Semua sesuai dengan aturan Allah, Sang Pengatur segala perancangan.

Diri terlatih untuk peka pada tangisan sang bayi, entah kerna popoknya (pampers basah), entah kerna laparnya (beri susu) atau entah kerna kesakitan (phlebitis etc). sepanjang malam harus berjaga untuk memastikan kondisi bayi tetap baik. Walau sangat memenatkan namun disitulah seninya sabar dan berkorban. Tambah membebankan saat harus menulis status patient yang akan difollow up pada besoknya. “nyanyian langka” patient seramai kurang lebih totalnya 50 orang perhari harus disiapkan dalam satu malam. Benar-benar menguji kekuatan mental fisikal.
Kepercayaan dokter atas diri bernilai segalanya. Dokter yang sibuk dengan ujian akhir memberikan keperayaan kepada diri untuk memeriksa dan meresepkan obat dan konsultasi (inform concern) kepada bayi dengan persalinan normal sekaligus memberi kuasa penuh untuk memulangkan pasien setelah memastikan kondisi bayi baik dan sehat.

Alhamdulillah dengan bantuan dokter bertugas, Dr.fauzin, dan dokter-dokter yang jaga, bidan, perawat dan mahasiswa yang ada disana, diri berjaya mengharungi badai kesibukan tersebut. Mereka semua kasihan melihat diri yang tidak sempat istirehat gara-gara badai kesibukan yang merantai. Namun di situ kita harus menunjukkan betapa kita berbeda sama orang lain kerna kita melakukan pekerjaan ini bukan hanya atas dasar tugas yang terbeban dipundak. Malah lebih dari itu… kita melakukan pekerjaan ini atas dasar kasih sayang dan belas kasihan. Melakukan kebajikan bermaharkan pengorbanan untu meraih cintaNya. Setiap hari diri akan memulakan hari dengan semangat yang baru dan senyuman yang merawat biar suasana harmonis untuk bekerja bisa tercipta. Mereka hairan kenapa diri bisa bertahan, sedang hakikatnya Allah lah yang memberikan kekuatan lewat doa dan pengharapan hanya kepadaNya.

Terima kasih buat semua warga Fatimah yang menyambut diri dengan penuh hangat..
Dr.Fauzin, Ibu Hasni yang tak kenal jemu menjaga kebajikan makanan dan tempat istirehatku, Kak Hajar,yang mengajarkan tentang keikhlasan (ternyata kita satu tarbiyah kak di’), Kak Marwah yang mempercayakan diri ini untuk menyambut kelahiran bayi abnormal, Kak Mia yang memberi peluang untuk melakukan banyak tindakan, Kak Asdar, diri banyak belajar tentang sifat care dan ketelitian darimu kakak, Kak Adet, Kak Yuyun, terima kasih menjadi teman terbaikku, Kak Vivin dan adik2 mahasiswa yang banyak membantu. Ida, semoga persahabatan akan kekal hingga ke syurga.

Semoga bekal yang telah diri perolehi diri akan menjadi suatu pengalaman bermakna dalam meniti kehidupan sebagai seorang dokter nanti..amin..

Selasa, 15 November 2011

DIAM

0


Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi komen..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam menegur..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi nasihat..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memprotes..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam persetujuan..
...
tapi..

Biarlah DIAM kita mereka faham ertinya..
Biarlah DIAM kita mereka terkesan maknanya..
Biarlah DIAM kita mereka maklum maksudnya..
Biarlah DIAM kita mereka terima tujuannya..

kerana..

DIAM kita mungkin disalah tafsir
DIAM kita mungkin mengundang syak wasangka
DIAM kita mungkin disilap terjemah..
DIAM kita mungkin tidak membawa apa-apa maksud..

maka..

jika kita merasakan DIAM itu terbaik..
seharusnya kita DIAM..
namun seandainya DIAM kita bukanlah sesuatu yang bijak..
berkatalah sehingga mereka DIAM…

[creditted to Wan Nor Fazlina]