Setelah melalui satu minggu yang penuh stress di Rumah Sakit Labuang Baji, diri akhirnya berjaya menghabiskan jaga (jadwal oncall) pada hari Sabtu. Hingga mengizinkan diri untuk libur (cuti) 1 hari pada Ahad nya. Wah, weekend pertama di bagian pediatric!! Aseekk!!
Mahu sekali istirehat total dirumah. Tirah baring!! Namun jadi ingat pada adik-adik binaanku. Minggu lalu sewaktu liqa’, tidak dapat menumpukan sepenuh perhatian pada mereka gara-gara keletihan yang amat. Pengisian juga tidak seserius biasanya. Kasihan mereka. Walau sepertinya banyak yang mahu mereka ceritakan, namun tertahan dengan kondisi diri yang agak turun.
Lansung jemari mengetik sms buat mereka. Biarlah sisa waktu yang tersisa walau kurang dari 24 jam tersebut, dapat diri manfaatkan sebaiknya bersama mereka. Begitulah. Harus korbankan masa lapang untuk persediaan masa yang sibuk nanti. Inilah investasi akhirat kita. Diri mengajak mereka keluar untuk jaulah bersama keesokannya. Seperti biasa, Tim dan Azurin yang sentiasa ceria dan happening membalas girang untuk keluar bersama. Begitu juga yang lain. Ya.. mereka sentiasa positif untuk melakukan apa saja bersama. Rasa tsiqah yang tinggi dan keazaman yang kuat membuatkan mereka sangat antusias untuk berkomitmen dengan apa saja yang diajukan.
Akhirnya kami bersetuju untuk menjadikan Akarena sebagai tujuan destinasi. Pantai pasir hitam, Akarena yang terletak tidak jauh dari Pantai Losari merupakan suatu destinasi wisata (perlancongan) yang menjadi tumpuan untuk warga Makassar menghabiskan sisa hujung minggu mereka bersama keluarga tersayang. Biasanya warga Makassar berdatangan ke sana untuk menyaksikan matahari terbit mahupun tenggelam yang ternyata sangat indah disaksikan dari kawasan pantai ini. namun tidak kurang juga yang menjadikan pantai ini sebagai tempat bermandi manda dan beramah mesra dengan keluarga masing-masing.
Memulakan aktiviti (aktivitas)dengan sepinggan nasi kuning khas Makassar dan segelas akua (air mineral) dari warung yang berdekatan, kami menyantap makan pagi dengan penuh selera. Bahagia melihat mereka berlari-lari di atas jembatan kayu mendekat ke pantai, bergurau senda menghilangkan sungkam dan ketawa ceria, usil mengusik antara satu sama lain. Alhamdulillah inilah rahmat kasih sayang yang tercurah lewat ukhuwah yang semakin matang. Inilah biasan cinta yang tercipta dari yang ESA. Tiba-tiba, rindu mencengkam terhadap adik-adik yang tidak dapat ikut serta hari ini. Natrah yang semakin hilang kelibatnya disapa waktu yang mencengkam(disebabkan suatu kondisi). Ida yang juga jarang kelihatan bayang. Syafini yang lebih sibuk dengan aktiviti kampus.
Ampunkan aku Ya Allah!! Ampunkan kekhilafan dan kelemahan diri ini. Jangan dikau hukum diri ini atas kelalaian yang tidak disedari. Maafkan diri ini wahai adik-adikku yang tercinta. Berikanku peluang untuk menjadi lebih baik. Terima kasih, kalian sentiasa disisi dalam perjuangan panjang ini. Terima kasih, kalian telah bersabar untuk sekian waktu yang diri ini tidak bisa menemani…
Sempat singgah di Trans Mall sebelum pulang, menikmati pancake enak,ANGEL DELIGHT di MR.PANCAKE sambil berlindung dari dinginnya hujan yang mencucuk hingga ke tulang belulang. Ini pertama kalinya mereka menikmatinya pancake yang amat dibanggakan TransMall tersebut sejak pembukaannya April lalu. Selain memiliki pancake enak bertaraf dunia, MR.PANCAKE juga memiliki restoran yang didekorasi ala rumah klasik inggeris yang menciptakan suasana romantis dan harmonis buat pengunjungnya. Walau harganya tergolong standard dan agak mahal pada status kehidupan masyarakat umumnya, namun disitu ada rasa yang tersendiri. Paling tidak mereka pernah makan disitu “sekali” sepanjang berada di Makassar..
Jam 2. Belum solat Zohor. Pakaian sudah kotor disapa pasir pantai yang basah dan selut yang masih bercecer ditepian jalan. Kami bersetuju meredah lebatnya hunjaman air hujan yang menerjah bumi, pekatnya awan hitam yang membalut langit, dan percikan becak dari kenderaan bermotor yang lewat. Sebenarnya pada awalnya, perancangan hari ini hampir saja tertunda gara-gara hujan Disember yang turun tanpa permisi, namun akhirnya kami sepakat meneruskan agenda jaulah ini memandangkan lama sekali kami tidak keluar bersama. Meredah banjir serta bermain di gigi air ternyata memberi kredit memori tersendiri dalam perjalanan hidup ini. Tidak perlu menunggu teduh dulu untuk melakukan sesuatu hal bersama..








