Skinpress Rss

Jumaat, 15 Oktober 2010

FROM MAKASSAR TO BONE

2


Besok bakalan melawat Bone untuk kedua kalinya. Bercerita tentang Bone, terkenang pula lawatan pertama kami ke sana pada 21 mac lalu. Satu pengalaman yang berharga yang sukar untuk dilupakan.
Dalam kekalutan menelaah pelajaran buat menghadapi ujian final sistem Gastroenterohepatologi, seseorang telah menegur diri lewat salah satu web di dunia maya. Dari situ terbina satu perkenalan yang sangat tak disangka-sangka. Ya, begitulah penyusunan Allah Yang Maha Teliti.. apabila DIA berkehendak.. maka semuanya akan berlaku sesuai dengan kehendakNya.
Dari perkenalan itu diri mengetahui bahawa masih ada anak Malaysia yang belajar di tanah kelahiran Wali Songo selain dari kami yang mengambil jurusan Kedokteran dan farmasi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Mereka ini sedang melanjutkan pelajaran dalam bidang agama dan ekonomi di salah satu sekolah tinggi di kebupaten Bone. Walau sudah 3 tahun di Sulawesi, mereka tidak mengetahui akan kewujudan Persatuan Pelajar yang menjadi rujukan kepada Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia. Yang menjalankan tanggungjawab untuk menjaga kebajikan warga Malaysia di sini.
Diringkaskan cerita, perkenalan ini ku khabarkan kepada sahabat-sahabat dunia akhiratku sepertimana lazimnya. Hingga persoalan demi persoalan muncul atas dasar prihatin dan peduli pada rakan senegara hingga tercetuslah idea untuk menziarahi mereka di sana usia imtihan kabir.
Dengan izin Allah, kami berlima ditemani seorang wakil dari pihak muslimin atas pertimbangan keselamatan berangkat ke Bone tanggal 21 Mac 2010. Waktu itu minggu kedua perkuliyahan traumatologi. Perjalanan ke Bone mengambil masa 4 jam dengan jalanan lereng bukit yang bersimpang siur. Namun indahnya saujana mata memandang menghilangkan sengal-sengal sendi yang coba memanjat. Diri yang memang dari awal punya “motion sickness” hanya berjaga tak lebih dari 2 jam lantaran mual muntah yang membadai.
Tiba di kota Watanpone kebupaten Bone jam 1 siang. Berjanjian dengan Ros, kenalanku yang baru pertama kali mahu ketemu di hadapan masjid besar Bone. Kelibat tudung polos bidang 60 dengan baju kurung yang menjadi identiti bangsa memudahkan kami mengenali sahabat itu walau tak pernah sekalipun melihat gambarnya di internet. Setelah bersalaman secara jamaie kami saling memperkenalkan diri supaya manik-manik ukhuwwah yang baru terbina tersemai dengan lancar. Kami juga turut berkenalan dengan AAM, pelajar S2 bidang ekonomi yang merupakan lulusan UIAM. AA adalah seorang pelajar aktif yang menerajui persatuan pelajar (MPP/BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampus.

Kami bermalam di rumah kos Ros dan malam itu berpeluang bertaaruf dan menyelami kehidupannya sesuai dengan tujuan utama kami datang. Dari perkenalan itu, terbukalah kitab hidupnya yang penuh onak duri, kerikil batu dan awan mendung yang menyelimuti perjalanannya hingga dia bisa lolos demi melanjutkan pelajaran di peringkat yang lebih tinggi. Ya, Ros telah menjadi mangsa kepada ketidak cekapan sistem imigrasi Sabah yang akhirnya menafikan kewarganegaraannya sebagai anak jati Malaysia. Ini menyebabkan haknya untuk mewarisi tanah, melanjutkan pelajaran dan semuanya terhalang. Usaha kerasnya berjuang untuk mendapatkan keputusan cemerlang dalam pelajaran demi melanjutkan pendidikan ibarat sia-sia.
Akhirnya dia ada di sini, mengadu nasib dan mencoba untung di tanah Sultan Hasanuddin lantaran ada pertolongan dari saudara maranya yang ada di sini. Alhamdulillah Allah masih menyanyanginya dengan memberinya peluang melanjutkan pelajaran dalam bidang syariah. Sempat air mata mengalir mengenangkan liku-liku hidup sahabatku serta melihat kesederhanaan hidupnya yang tidur beralaskan tilam tipis, tidak berkipas, tidak bermeja dan tiada perabot apapun di kamar kecilnya. Memasak juga Cuma menggunakan dapur kompor yang masih menggunakan minyak tanah. Perbelanjaan bulanan juga terpaksa sangat berjimat lantaran uang kiriman dari kakaknya cuma RM200 per bulan. Namun di dalam kesederhanaannya dia tetap gembira dan menikmati hidup apa adanya.
Berbanding kami di Makassar, sudahlah ibu kota SulSel, hidup dalam kondisi yang serba lengkap. Kamar sudah taraf perpustakaan.. buku rujukan serba ada. Jangan dikata almari dan kipas, peti sejuk, mesin cuci pakaian bahkan televisyen juga kami punya. Laptop dan telefon genggam tidak usah di kira. Begitupun masih lagi banyak merungut dan merasa tak cukup. Astagfirullahal adzim..

Sepanjang lebih kurang 2 hari di Bone, Ros dan AA sempat membawa kami melawat kampus kebanggaan mereka di samping tempat-tempat wisata seperti taman bunga, rumah adat bugis, dan Tanjung Pallate. Kami juga di bawa ke pusat membeli belah yang sering mereka kunjungi buat membeli kelengkapan hidup seharian. Walaupun dalam keadaan yang sangat sederhana, layanan yang mereka berikan sangat istimewa.
Hari minggu menjelma. Kami akan berangkat pulang ke Makassar berikutan Isnin sudah mulai kuliyah. Walau masa berada di Bone amat singkat, namun syu’ur yang terbina mengikat kita dalam kasih sayangNya. Benarlah apabila berkasih sayang semata-mata kerana Allah, kita tidak memerlukan sebab atau alasan. Semoga saja kami diberikan lagi kesempatan untuk mengunjingi mereka lagi..

Rabu, 13 Oktober 2010

MET ULTAH UMAR..

0

Met ultah buat anak saudaraku (keponakan) yang pertama.. pada 9 October yang lalu. Umar Al-Fateh.. semoga umar membesar dengan sihat di bawah jagaan Allah.. dan semoga Umar menjadi anak soleh, pahlawan agama yang akan menegakkan panji Allah di muka bumi serta pembela nasib keluarga tercinta.

buat kakakku, Mahfuzah Hanisah dan abang iparku Hazimi, tahniah buat kalian kerana telah melahirkan Umar..dan mendidiknya dengan corakan Islam. Semoga rumahtangga kalian sentiasa dirahmati Allah dan diberkahi sentiasa.

Anak Soleh - Rabbani

Kenangi ibu bapa
Doakanlah sejahtera
Kita anak harus membela
Apabila sudah dewasa

Jangan biarkan mereka
Sia-sia di hari tua
Kecewa hidup dan merana
Kerna perbuatan anak derhaka

Bahgiakan mereka
Hingga ke hujung usia
Bila sampai waktu ajalnya
Anak soleh sebagai harta

Hai... Ibu bapa
Kami permata anda
Tidak jemu berdoa
Agar sejahtera terpelihara

Di dunia bahagia
Akhirat pun begitu jua
Inilah harapan kami semua
Moga Allah kabulkan doa


terlambat mengirim post lantaran server internet down dan tidak membolehkan diri untuk mengekses internet tepat waktu. apapun, doa dan ingatan ku pada kalian tetap utuh tanpa sempadan jarak dan waktu..

Selasa, 5 Oktober 2010

REMEMBER ME

0


Remember me when I am gone away,
Gone far away into the silent land;
When you can no more hold me by the hand,
Nor I half turn to go yet turning stay.
Remember me when no more day by day
You tell me of our future that you plann'd:
Only remember me; you understand
It will be late to counsel then or pray.
Yet if you should forget me for a while
And afterwards remember, do not grieve:
For if the darkness and corruption leave
A vestige of the thoughts that once I had,
Better by far you should forget and smile
Than that you should remember and be sad.

by: Christina Rossetti

*This is the first poem I've read when I was in secondary school which then succeed to make me fall in love with this kind of literature art works. it's hard to understand the underlying messages in the very beginning but my great teacher help me with that.

Just want to share a biography of the poet, Christina Rossetti..

Christina Georgina Rossetti (5 December 1830 – 29 December 1894) was an English poet who wrote a variety of romantic, devotional, and children's poems. She is best known for her long poem Goblin Market, her love poem Remember, and for the words of the Christmas carol In the Bleak Midwinter.

EARLY LIFE

Rossetti was born in London and educated at home by her mother. She had two brothers and a sister - Dante Gabriel Rossetti would become an influential artist and poet, William Michael Rossetti, and Maria Francesca Rossetti would both become successful writers. Their father, Gabriele Rossetti, was an Italian poet and a refugee from Naples; their mother, Frances Polidori, was the sister of Lord Byron's friend and physician, John William Polidori, author of The Vampyre.

In the 1840s, her family faced severe financial difficulties due to the deterioration of her father's physical and mental health. When she was 14, Rossetti suffered a nervous breakdown and left school. Bouts of depression and related illness followed. During this period she, her mother, and her sister became deeply interested in the Anglo-Catholic movement that developed in the Church of England. Religious devotion came to play a major role in Rossetti's life. In her late teens, Rossetti became engaged to the painter James Collinson, who was, like her brothers Dante and William, one of the founding members of the avant-garde artistic group, the Pre-Raphaelite Brotherhood. The engagement was broken when he reverted to Catholicism. Later she became involved with the linguist Charles Cayley, but declined to marry him, also for religious reasons. Rossetti sat for several of Dante Rossetti's most famous paintings. In 1848, she was the model for the Virgin Mary in his first completed oil painting, The Girlhood of Mary Virgin, which was the first work to be inscribed with the initials 'PRB', later revealed to signify the Pre-Raphaelite Brotherhood.The following year she modelled again for his depiction of the Annunciation, Ecce Ancilla Domini.

CAREER

Rossetti began writing at the age of 7, and published her first poem, which appeared in the Athenaeum, when she was 18. She contributed to the literary magazine ,The Germ, published by the Pre-Raphaelites from January - April 1850, and it was also edited by her brother William. Her most famous collection, Goblin Market and Other Poems, appeared in 1862, when she was 31. The title poem from this book is one of Rossetti's best known works. Although the poem is ostensibly about two sisters' misadventures with goblins, critics[citation needed] have interpreted the piece in a variety of ways: seeing it as an allegory about temptation and salvation; a commentary on Victorian gender roles and female agency; and a work about erotic desire and social redemption. She was a volunteer worker from 1859 to 1870 at the St. Mary Magdalene "house of charity" in Highgate, a refuge for former prostitutes and it is suggested Goblin Market may have been inspired by the "fallen women" she came to know. There are parallels with Coleridge's The Rime of the Ancient Mariner given both poems' religious themes of temptation, sin and redemption by vicarious suffering.[citation needed] Rossetti's collection received critical praise on publication, and according to biographer Jan Marsh, the death of Elizabeth Barrett Browning's in 1861 "led to Rossetti being hailed as her natural successor as 'female laureate'." She was ambivalent about women's suffrage, but many scholars have identified feminist themes in her poetry.[citation needed] Marsh notes, "she was opposed to war, slavery (in the American South), cruelty to animals (in the prevalent practice of animal experimentation), the exploitation of girls in under-age prostitution and all forms of military aggression."

Rossetti maintained a very large circle of friends and correspondents and continued to write and publish for the rest of her life, primarily focusing on devotional writing and children's poetry. In 1892, Rossetti wrote The Face of the Deep, a book of devotional prose, and oversaw the production of a new and enlarged edition of Sing-Song, published in 1893.

DEATH

In the later decades of her life, Rossetti suffered from Graves Disease, suffering a nearly fatal attack in the early 1870s. In 1893, she developed breast cancer and though the tumour was removed, she suffered a recurrence in September 1894. She died the following year on 29 December 1894 and was buried in Highgate Cemetery.Her Christmas poem "In the Bleak Midwinter" became widely known after her death when set as a much loved Christmas carol first by Gustav Holst, and then by Harold Darke.Her poem "Love Came Down at Christmas" (1885) has also been widely arranged as a carol. In the early 20th century Rossetti's popularity faded in the wake of Modernism. In the 1970s scholars began to rediscover and critique her work again, and it regained admittance to the Victorian literary canon



* What I found interesting about the poet is that the faith tought that she had in her. How the religion took control and runs in her life as a living system. she devote her life with everything she had and satisfied with the sacrifiction that she'd made. she just got through a lot of obstacles and yet still very calm and just let herself flow the fate..

Let us look into muslim's life nowadays.. plenty of them didn't get into Islam.. didn't take it as the way Allah want us to be. Suppose we, as a muslim are more proud & practice Allah's rule because HE choose us to be who we are right now.. be grateful and obey HIM in every angle of our life..INSYAALLAH, HE will always be there for us.

Isnin, 4 Oktober 2010

MORNING WALK

0


Kalau sebut tentang Makassar, takkan terlepas dari Pantai Losari yang menjadi tempat wisata utama di kota ini. Pantai Losari adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah.

Dahulu, pantai ini dikenal dengan pusat makanan laut dan ikan bakar di malam hari (karena para penjual dan pedagang hanya beroperasi pada malam hari), serta disebut-sebut sebagai warung terpanjang di dunia (karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang pantai yang panjangnya kurang lebih satu kilometer).
Salah satu penganan khas Makassar yang dijajak di warung-warung tenda itu adalah pisang epe (pisang mentah yang dibakar, kemudian dibuat pipih, dan dicampur dengan air gula merah. Paling enak dimakan saat masih hangat).
Pada sore hari, semua orang bisa menikmati proses atau detik-detik tenggelamnya matahari sunset.

Sejak tahun pertama menjejakkan kaki di Bandar Hasanuddin pada 2007, diri memang telah diperkenalkan dengan Pantai Losari oleh senior-senior yang baik hati. Namun baru pertama kali mengunjungi Pantai Losari versi pagi hari setelah 3 tahun bergelar sebagai mahasiswa UNHAS. Ntahlah mungkin sebelumnya tidak pernah terfikir untuk mengunjungi Pantai pada waktu pagi (hari minggu).

Pagi itu siap berpakaian setelah selesai solat subuh. Teringat sms yang dikirim Rahma, teman poskoku yang mengajak diri ke Pantai untuk melihat suasana Pantai pada hari minggu. Menurut temanku itu, sudah agak lama juga dia tidak ke sana. Katanya suasana pagi minggu di Losari agak berbeda dari hari biasanya. Kalau bab berjalan-jalan, diri memang tidak pernah menolak kecuali ada keperluan yang terlalu mendesak. Bab kata guruku, alang-alang belajar di Negara orang, rebutlah peluang untuk meluaskan pemandangan dan menajamkan pengetahuan setempat.

Perjalanan ke Pantai Losari yang memakan masa lebih kurang 30 minit memberi kami ruang waktu untuk menyaksikan terbitnya mentari pagi di ufuk timur dari atas fly over FAJAR. Subhanallah, indahnya panorama alam seakan membuai perasaan agar lebih dekat pada Penciptanya..

Setiba di Pantai, sempat kaget seketika melihat suasana yang bagiku cukup berbeda. Seperti ada pesta yang besar sedang berlansung. Lautan manusia yang kelihatan berdatangan dengan gembira menunjukkan betapa Pantai Losari mampu memaut warga Makassar dalam satu ikatan kesatuan. Gerai-gerai perniagaan yang beragam memeriahkan lagi suasana. Kapal-kapal dan bot penangkap ikan di bawa ke tepi perlabuhan menyebabkan panorama Losari seakan suatu karya alam yang amat memukau.

Melihat gerai jualan yang pelbagai menarik perhatian. Sempat mencoba beberapa jenis makanan tempatan yang kurasakan agak asing pada diriku sebelum menyantap Nasi Kuning sebagai makan siang di salah satu gerai di pinggir jalan. Menaiki bebek (angsa) music mengundang rasa seronok walau tidak terlalu seru seperti yang pernah ku naiki di Bira tak berapa lama yang lalu tetap membahagiakan.

Yah, merasa sangat berterima kasih pada temanku Rahma yang cukup sabar membawaku ke sana dan menemani hari-hariku sekaliguskan melakarkan warna yang lebih indah dalam kanvas hidupku..

SESUNGGUHNYA AKU MENYAYANGIMU

0


Sahabatku,
Tatkala subuh bertamu,
Dingin tubuh disapa embun semu,

Di saat itu,
Rasa rindu padamu bertandang di kalbu
Mengingatkanku pada hari semalam yang telah berlalu

Waktu itu sahabatku,
Kita masih tertawa menonton bersama
Menikmati hidangan makan siang yang membuka selera
Lebih indah bila kita mulai saling bertukar cerita
Mengimbau kenangan lalu yang masih segar di minda

Namun hari ini sahabatku,
Jarak dan masa kian galak memisahkan kita
Seakan cemburu dengan kemesraan yang terbina
Hakikat juga tunduk akur pada tarbiyah Sang Pencipta

Ketahuilah wahai sahabatku,
Walau kita terpisah hingga ke penjuru dunia
Walau perbezaan masa memburu kita hingga penghujung nyawa
Aku kan tetap menyayangimu sampai bila-bila
Mengingatimu dalam setiap doaku padaNya

Andai kita ditakdirkan tidak dapat lagi bertemu di dunia
Berdoalah semoga DIA menemukan kita di syurga..

amni_shamrah
khamis 8 July 2010
8.00pm (posko lagi mati lampu)

JALAN SANTAI PKS

1


Ahad, 3 Oktober 2010. Berpeluang mengikuti Jalan Santai anjuran PKS yang diadakan di lapangan Karebosi Makassar. Jalan Santai ini diadakan berangkaian dengan Mesyuarat Agung PKS yang kedua. Program terbuka kepada seluruh warga masyarakat yang berminat. Alhamdulillah, dalam perjalanan pulang dari control gigi semalam terserempak dengan senior yang secara kebetulan memaklumkan tentang aktiviti ini dan Allah izin kami punya waktu lapang untuk bergabung ke program.

Jalan santai adalah salah satu permulaan kepada senam yang menyihatkan. Bentuk olah raga ringan yang perlu untuk mula dilakukan dari sekarang. Seperti salah satu hadith Qudsi yang bermaksud “ mukmin yang kuat itu lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” Salah satu daripada 10 ciri mukmin itu juga adalah sihat tubuh badannya.
Ditinjau dari aspek medis juga, senam/olah raga punya banyak manfaat. Selain meningkatkan penghasilan hormon, berjalan cepat ada manfaat terhadap kesihatan keseluruhan seperti:

# Menyihatkan jantung dan merendahkan risiko mengalami serangan jantung dengan merendahkan paras kolesterol tidak baik (LDL) dan meninggikan paras kolesterol baik (HDL).

# Mengawal tekanan darah. Berjalan cepat sekurang-kurangnya tiga hingga empat kali seminggu selama 30 minit sehari boleh menurunkan tekanan darah dan mengembalikannya ke paras sihat. Ia juga mampu mencegah komplikasi kesihatan yang buruk kerana tekanan darah tinggi seperti serangan jantung atau strok.

# Merendahkan risiko mendapat kencing manis. Kencing manis biasanya datang bersama tekanan darah tinggi dan berlebihan berat badan. Kencing manis jenis 2 berlaku kerana badan tidak dapat menggunakan insulin bagi mengawal paras gula dalam darah. Berjalan dapat meningkatkan keupayaan badan untuk memproses gula dengan lebih baik.

# Mengawal kencing manis. Berjalan memperbaiki kebolehan badan untuk memproses gula dan mengawal paras gula dalam darah. Ia membantu melancarkan aliran darah, terutama ke kaki iaitu anggota yang sering mengalami masalah kerosakan saraf dan salur darah halus yang secara tidak langsung mengurangkan risiko penyakit jantung.

# Memperbaiki emosi. Berjalan dan bersenam merangsang badan menghasilkan hormon endorfin yang membuatkan kita berasa gembira.

# Mengekalkan keanjalan dan kekuatan otot serta sendi.

# Menguatkan tulang dan mengurangkan risiko osteoporosis.

# Mengekalkan kestabilan dan mengurangkan risiko jatuh, terutama kepada warga tua.

Sebenarnya jika bercakap tentang jalan santai, banyak saja pogram seperti ini yang dianjurkan oleh pihak-pihak tertentu seperti DINAS Kesehatan, Rumah Sakit, Syarikat persendirian. Namun apa yang menarik diri untuk menyertai jalan santai anjuran PKS ini adalah suasana biah solehah yang dibina sangat mentarbiyah diri.

Meskipun hanya berjalan santai.. Tiada ceramah yang berapi-api, tiada pengisian yang panjang lebar, namun suasana yang tercipta sangat mendidik. Melihat keluarga-keluarga baitul muslim yang berjalan bersama-sama sambil menggendong anak cukup mempamerkan kemesraan dan kebahagiaan. Walaupun mereka tampak kepenatan namun hasrat besar mereka untuk membiasakan anak-anak mereka berada dalam suasana yang soleh, dalam biah yang terjaga menghapus pergi kepenatan yang bertandang. Kerna anak-anak itulah yang diharapkan untuk meneruskan perjuangan dakwah dan tarbiyyah demi mengislahkan masyarakat.

Ada juga dikalangan pak cik- pak cik yang sudah menginjak usia pertengahan, memakai baju PKS sambil bergandingan tangan. Terlihat akrab sekali.. Seperti sudah lama terpisah dek mas’uliyah dan waktu. Mungkin dalam program seperti ini, mereka bisa kembali bertemu. Menzahirkan rasa rindu yang memuncak di kalbu.bercerita panjang sepanjang perjalanan sambil melihat-lihat alam damai ciptaan Allah. Asyiknya mereka tenggelam dalam perbualan yang hanya mereka yang tahu seakan tiada orang lain yang berada di situ.

Melihat panorama tersebut, teringat pula pada ayah dan pak cik-pak cik. Dari usia muda bersama-sama menongkah arus perjuangan. Saling bergandingan tangan dan bahu untuk menegakkan deen Allah. Hingga sekarang masing-masing sudah menginjak ke usia-usia pertengahan.. di mana rambut kian memutih.. anak-anak juga semakin mendewasa. Namun mereka masih tetap bersama. Masih lagi menongkah arus perjuangan yang takkan pernah surut. Memberikan inspirasi dan contoh teladan kepada generasi muda untuk turut melangkah ke dalam arus perjuangan itu dan bekerja bersama untuk membina bangunan Islam yang teguh.

Ahad, 3 Oktober 2010

NATIJAH RAMADHAN

0


Sedar tidak sedar, sudah hampir 1 bulan berlalunya Ramadhan dari kehidupan kita tahun ini. berlalunya bulan yang Allah janjikan keberkatan dan kenikmatan ibadah yang berlipat ganda. Itulah dia keistimewaan yang diberikan Allah kepada ummat Nabi Muhammad.

Ramadhan juga diistilahkan sebagai suatu madrasah atau institusi pendidikan yang mana barangsiapa yang melaluinya akan diampunkan segala dosa telah lalu dan dilahirkan sebagai insan baru yang kembali pada fitrahnya. Apa yang diharapkan lahir dari tarbiyah Ramadhan adalah kesannya pada jiwa kita hingga mampu memomentumkan perubahan agar makin hampir kepada Allah dan lebih rajin untuk beribadah sepertimana ia seharusnya mendekatkan kita kepada kalimah-kalimah cinta tinta Al-Quran.
Kesan Ramadhan:

1) Tidak mudah berbuat dosa (nafsu yang berjaya dilentur)
Sepanjang Ramadhan, Allah telah mengurungkan syaitan durjana dari mengganggu manusia.. maka manusia hanya berhadapan dengan musuh yang berada dalam dirinya iaitu nafsu. Nafsu harus dilatih supaya mampu tunduk pada kekuatan iman.
2) Berhati-hati dalam berakhlak dan menghindari terlalu banyak bercakap
Suasana Ramadhan melatih manusia untuk sentiasa menjaga lisan dan mengurangkan dari berbicara hal-hal yang tidak perlu.
3) Bersifat jujur
Jika kita perhatikan tidak ada seorangpun yang curi-curi (kalasi) makan atau minum di bulan Ramadhan kerana adanya sifat ikhlas kepada Allah. Sifat jujur ini diharapkan untuk bisa diaplikasi dalam kehidupa kita. Kita seharusnya mengamalkan sifat jujur ini dalam hubungan dengan ibubapa, dengan majikan, guru, suami & isteri.
“hendaklah kamu semua bersikap jujur kerana kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa kita ke syurga”
4) Semangat berjemaah
Ramadhan hadir serentak di seluruh dunia. Jadi dalam masa yang sama, seluruh umat islam di setiap penjuru dunia menunaikan ibadah dalam waktu yang bersamaan. Menjalani ibadah puasa, iftar, bersahur, melaksanakan solat terawih, qiamulail, mentadabbur Al-Quran dan mendalami ilmu Islami.
5) Berupaya mengawal diri