Skinpress Rss

Sabtu, 7 Ogos 2010

LONG DISTANCE RIDE

1


2 Ogos 2010. Pengalaman pertama diri menempuh perjalanan yang panjang dengan menaiki motor. Bersama dengan beberapa orang teman beriringan pulang ke Jeneponto dari Tanjung Bira. Terpaksa menaiki motor berikutan kereta (mobil) yang bertambah penumpangnya (barang hiasan cenderamata) berbanding dengan sewaktu kami datang. Pertama kali juga bergaul dengan teman-teman yang “spesial” yang tidak begitu dikenali dengan akrab sebelumnya. Ya.. sentiasa ada perkataan “pertama kali”.. kerana pertama kali adalah satu nilaian pengalaman yang paling terkesan dan berbekas di memori.

Sepanjang berada di Jeneponto, motor telah menjadi suatu pengangkutan yang paling sering digunakan. Walaupun sebelumnya diri agak-agak fobia dengan motor tapi suka pula bila sudah terbiasa menaiki kenderaan beroda dua ini. Ya.. pastilah diri hanya menjadi pembonceng setia memandangkan diri lansung tidak memiliki pengetahuan tentang motor.. apatah lagi untuk membawanya.

Pemandangan sepanjang perjalanan saujana mata memandang. Kehijauan sawah yang terbentang luas sangat mendamaikan hati yang gundah. Lautan yang membiru membawa pergi resah yang bertandang di jiwa. Subhanallah, lafaz syukur terbit di atma mengenangkan nikmat penglihatan yang terus menerus dikurniakan Allah walau diri cemar bersalut dosa noda.

Lambaian pepohonan menghijau menyapa laluan kami sepanjang perjalanan 4 jam ke posko. Sebelumnya sempat singgah di rumah tante (mak cik) kepada teman yang berada di Bira. Bahagia melihat hubungan baik yang terjalin antara teman dengan keluarga tante nya tersebut. Ya lah anak muda sekarang kebanyakannya susah untuk bergaul dengan orang tua apatah lagi mahu untuk mampir (berkunjung) .. Tante siap memasakkan juadah enak yang menjadi santapan kami siang itu. Usai makan siang, kami tidak dibiar berehat.. lansung dihulurkan pisang goreng kegemaran bersama air teh panas. Alhamdulillah sewaktu makan siang tadi, tidak makan hingga terlalu kenyang.. jadi masih mampu menjamah sedikit teh dan goreng pisang yang terhidang. Sempat singgah di masjid Nurul Aziz di Bantaeng untuk menunaikan solat jama’ qasar zohor asar. Lega rasanya apabila selesai menunaikan solat.

Perjalanan kali ini tidak menyebabkan timbul gejala mual muntah sepertimana kebiasaan. Walaupun dari awal sudah bersedia dengan obat anti muntah, obat itu seakan tidak berjasa pada diri sekarang. Kerana diri sudah terubat dengan kesaktian alam. Sudah terubat dengan lopak-lopak jalan yang bagaikan bulan penuh dengan kawah-kawahnya, terubat dengan gelagat-gelagat manusia yang bermacam-macam ditepi jalanan. Terubat juga dengan rintikan gerimis yang sempat menyapa.

Sampai di posko jam 4.30 sore.. Sesampai di posko sudah ada teman kecilku, Anah dan Kasmah yang setia menanti dipintu. Terukir pengharapan di pesona wajah yang mungil menyebabkan diri tidak tegar untuk menolak ajakan mereka berjalan-jalan ke sawah seperti biasanya walaupun rasa pegal dan lenguh-lenguh sendi mulai terasa menjalar hingga ke tulang belulang. Usai memenuhi ajakan mereka, diri pulang ke posko dan merapikan diri.

Kasihan melihat teman yang memboncengku tidur pulas malam itu. Pasti capek (letih) sekali dia terpaksa memboncengku selama berjam-jam tanpa ada berhenti rehat. Dia yang selalunya jago /juara satu membawa motor hari itu, menjadi yang paling terakhir antara teman-teman yang lain. mungkin kerana pertimbangannya yang macam-macam kerana memboncengku.

*Teman, terima kasih atas perhatian dan kebaikanmu..semoga sahaja Allah membalasmu dengan kebaikan yang berlipat ganda.. amin..

MEMORI PERMATA 2010

2


Berada di Tanjung Bira.. Suasana di Bira masih seperti hari-hari kelmarin. Cantiknya laut yang membiru menggambarkan keagungan penciptanya. Perbedaan kedalaman air menghasilkan warna yang berbeda pula. Menambahkan lagi keunikan pantai Bira yang indah berlantaikan pepasir halus memutih.

Saat-saat di Bira benar membangkitkan memori bersama teman-teman sewaktu menjalani program PERMATA Mei yang lalu.. seperti tahun-tahun sebelumnya, Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia (PKPMI) telah menganjurkan program motivasi PERMATA yang mana pihak penganjur telah menjemput seorang penceramah dari Malaysia, En. Fazrul Ismail, motivator yang membawa pendekatan dakwah secara simple dan global yang dinamakan sebagai teknik PIES & CASIC. Tujuannya adalah untuk menjadikan dakwah kelihatan ringan di mata masyarakat umum.

Diri bersama Kak Soolihah, Nabilah dan Ana telah mengikuti program tersebut. Ummi yang pada awalnya agak keberatan untuk mengikuti lantaran adanya masalah air yang hampir saban tahun dihadapi di lokasi, turut hadir pada akhirnya, melengkapkan lagi kebersamaan. Turut hadir, sahabatku Rosnani, calon ustazah kelahiran Sabah yang kini sedang menuntut di Sekolah Tinggi Agama Negeri (STAIN) Watanpone, kebupaten Bone. Diri yang menjemput Nani untuk mengikuti program ini usai pertemuan kami dalam ziarah tarbawi Mac lalu ke Bone. Harapanku, di program itu nanti dapat memberi pengalaman pertama pada Nani menyertai acara anak Malaysia setelah setahun terpisah dari komuniti lantaran ketidak tahuan. Di samping ingin memperkenalkannya kepada pimpinan PKPMI tahun ini.

Di Bira, kami menempatkan diri di sebuah kamar (bilik) belakang berenam walaupun sebenarnya harus berlima per kamar. Diri dan Nabilah telah dilantik sebagai panitia (ahli jawatan kuasa, AJK) divisi makanan menyebabkan kami begitu sibuk hingga tidak seluruhnya dapat mengikuti program yang disediakan. Harap maklum, kami terpaksa bersedia di lokasi setengah jam dari waktu program untuk menyediakan kosumsi, keluar dari program juga 15 menit lebih awal. Belum masuk bab cuci gelas, piring, periuk dan sebagainya. Akibatnya, jangankan mahu mengikuti aktiviti lasak seperti explorace, mendengar materi hingga selesai juga tidak sempat.

Agak stress dengan kondisi seperti ini. Bayangkan sejauh 6 hingga 7 jam perjalanan ditempuh untuk datang ke Bira dengan segala bentuk pengorbanan waktu belajar dan jam istirehat, tidak dapat pula memaksimalkan waktu untuk mendapatkan bekal pengisian. Teringat cerita kakakku sewaktu dia menjadi panitia makanan salah satu kem tarbiyyah di Kelantan. Katanya memang susah untuk mengikhlaskan tenaga dan waktu untuk menyediakan makanan untuk program namun itulah hal yang harus kita latih.. latih diri untuk melakukan barang apa kerja sekalipun, dengan ikhlas. Walaupun bekerja di balik tabir tidak dipandang, bahkan tidak dirasakan penting, namun itu sebenarnya adalah suatu tanggungjawab yang maha berat dan krusial. Tanamkan rasa “ Ya Allah, aku ni nak bagi makanan pada orang-orang yang ingin mendalami agamamu..maka ikhlaskanlah ya Allah”..

Mujur ada teman-teman yang tetap setia mendokong. Walaupun tak dapat menghabiskan banyak waktu dengan sahabat-sahabat di program, tetap merasa bersyukur apabila selesai tugasan, pulang ke kamar dapat duduk kembali bersama-sama. Berbincang tentang iman dan membuat konklusi tentang program yang berjalan pada hari tersebut. Jadi setiap hari menghadiri program dengan iman yang ter’cas’. Teringat satu kata-kata :

“ Seorang pejuang berjuang bukan hanya disandarkan oleh kekuatan hatinya tapi disokong oleh kekuatan hati saudara-saudaranya hingga dia berteguh dalam melakukan kebenaran dan bertegas dalam mencegah kebatilan..”

TANJUNG BIRA HANG OUT.. POSKO MODE

0


2 August 2010, hari ini, diri akan berkunjung ke salah satu tempat wisata tunjangan (tempat perlancongan utama) Sulawesi Selatan yang telah sering dikunjungi sebelumnya yaitu Tanjung Bira bersama dengan teman-teman seposko. Bertolak dari posko Tolo’ Barat jam 9 pagi. Cuaca yang cerah ibarat mendokong perjalanan kami.

Perjalanan ke Bulukumba mengambil masa 4 jam dari Jeneponto. Harus melalui Bantaeng Ayong yang memandu kereta yang disewa khas (mobil rental) untuk ke sana. Dalam perjalanan sempat singgah di satu warong bakso untuk mengalas perut. Berada dalam kereta bersama menempuh perjalanan yang panjang benar-benar memberi kami waktu untuk lebih saling memahami antara satu sama lain via komunikasi. Di situ kami berkenalan dan bercerita tentang apa sahaja yang bisa menghangatkan suasana. Bergurau (bercanda) mengeratkan lagi hubungan yang terbina.. ya..inilah proses.. proses untuk membina rasa sayang antara satu sama lain.

Sampai di Bira menginap di rumah tumpangan yang telah ditempah oleh temanku Kiki dari hari sebelumnya.. walaupun kamarnya tidaklah terlalu besar namun masih selesa untuk ditempati oleh 10 orang cewek. Teman-teman cowok menempati kamar yang berbeda namun berdekatan atas pertimbangan keselamatan. Kasihan cowok.. setelah hampir sebulan di posko mereka tidak pernah tidur di atas katil berikutan keterbatasan ruang. Hari ini baru merasa enaknya tidur di tilam (kasur) empuk yang tersedia..

Menikmati hari yang tidak terlalu panjang di Bira tetap menjanjikan pengalaman baru. Bersama teman-teman menikmati dinginnya air laut, menyusuri pantai yang indah dihiasi pelangi, menaiki boat mengharung ombak yang agak deras..memori yang takkan terlupakan..

Pasti.. semua orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Begitu juga dalam perjalanan ke Bira kali ini.. kesalahfahaman dan perselisihan pendapat bagai tidak dapat di elakkan. Namun itu rencah dan asam garam persahabatan. Justeru itulah intipati dari keakraban. Akhirnya akan terlahir ikatan kasih sayang yang utuh dan akan membuatkan kita menghormati antara satu sama lain..menerima baik buruk seseorang apa adanya dan saling menampungi kelemahan sesama sendiri.. kerana persahabatan itu adalah apabila kita bisa saling menghargai, saling mengambil berat dan mementingkan orang lain sepertimana mengambil berat tentang kepentingan kita sendiri..

Jumaat, 6 Ogos 2010

AFTER 10 DAYS

0


Pejam celik pejam cilik, sudah 10 hari berada di Jeneponto. Hari ini terpaksa pulang ke Makassar berikutan notis pendek yang diperoleh 2 hari yang lepas. Harus menghantar softcopy flipchart bagi membantu proses pengeluaran nilai IKAKOM.

Selesai seminar awal, terus pulang dengan menaiki panter (kereta/mobil sewa yang membawa penumpang ke Makassar) bersama Wawan dan Winda. Pertama kali menimba pengalaman yang begini.. menaiki kereta dengan orang yang sama sekali tidak di kenali. Dan susah sekali mahu meminta untuk berhenti solat. Sesampai di Makassar Winda menghantar diri lansung pulang ke Rusun.

Kakak Soolihah sudah terlebih dahulu sampai. Gembira sekali pulang untuk bertemu sahabat-sahabat. Farhana juga pulang. Sebentar lagi mungkin dia juga akan sampai. Ummi besok baru akan pulang. Nabilah tidak dapat pulang lantaran dia baru pulang baru-baru ini disebabkan kekangan kesihatan yang tidak begitu bagus. Kebetulan hari ini hari lahir Ain. Kami keluar makan bersama untuk pertama kalinya setelah lebih seminggu tidak ketemu.

Setelah ummi sampai ke Makassar besoknya, rasa terubat rindu yang bersarang di hati. Masing-masing sibuk bercerita tentang pengalaman di tempat masing-masing. Inti kepada kepulanganj kali ini, kami sempat mengambil peluang untuk menjalankan usrah. Walaupun ianya tak lah seformal biasanya namun ia cukup untuk menjadi bekal menghadapi hari-hari yang mendatang.

Memandangkan semua orang juga tidak bersedia penuh, jadi usrah kali ini Cuma membacakan buku karangan Ummu Anas dengan tajuk tazkirah “Binalah Iman dan Taqwa”. Tajuk ini sangat sesuai dengan kebutuhan semasa kami yang ketika berada di Posko, tiada orang lain yang bisa membantu. Tiada teman yang selalu mengingatkan. Tiada murabbi yang bisa dirujuk. Semua berbalik pada iman di dada. Iman yang menjadi benteng dari kebatilan. Iman yang membolehkan kita berfikir dengan waras, membuat keputusan selari dengan syariat.

Hanyalah keimanan yang dapat memancarkan ke dalam hati, benih-benih kebahagiaan yang dirindui setiap diri. Dengan iman akan tercipta ketenangan, ketenteraman dan kepuasan. Dengan iman juga setiap diri akan terdorong melakukan amal soleh yang diperintahkan dalam Islam. Hanya diri yang beriman dan beramal soleh yang mampu mengajak insan lain melaksanakan sebarang bentuk kebaikan. Justeru itu, kita harus mengawal diri kita dengan iman dan memperindahkan akhlak kita dengan taqwa. Tanpa kawalan iman, nescaya runtuhlah segala kekuatan dan hancurlah segala kebaikan. Hati-hatilah dalam berfikir dan bertindak. Batasi segala keinginan dengan rasa takut kepada Allah. Itulah dia taqwa yang sentiasa menjurus diri dalam ketaatan dan kepatuhan.

Selasa, 27 Julai 2010

DOKTER CILIK

0



Bismillahi alhamdulillah, kesyukuran jua yang di rafa’kan ke hadrat Rabbul Izzah kerana masih mengizinkan mata untuk melihat, membenarkan hidung untuk menghidu, membiarkan lidah untuk merasa, mebuatkan telinga untuk mendengarkan dan mengurniakan hati untuk terus hidup.

Salah satu program KKN yang dijalankan oleh posko kami adalah Program Dokter Cilik (Docil). Program Docil ini dipertanggungjawabkan pada Amel. Sementara diri diberi peluang untuk membantu Amel dalam mengendalikan Docil bersama dengan Wawan memandangkan hanya kami bertiga dari Fakultas Kedokteran yang ada waktu itu (Adit lagi pulang ke Makassar).

Docil adalah suatu program Dokter Cilik yang memberi pelatihan pada anak-anak sekolah dasar kelas 4,5 & 6. Setiap kelas menghantar 4 orang perwakilan. Pelajar yang mempunyai prestasi paling bagus dan tertinggi di kelas masing-masing. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberi kesadaran kepada pelajar-pelajar tentang pentingnya perilaku hidup bersih sihat di samping membina sifat peka terhadap teman sebaya. Melahirkan rasa ingin membantu dan mendisiplinkan diri dengan hal yang menyangkut kesehatan. Dalam pelatihan ini, siswa siswi SD di ajarkan cara untuk menerapkan perilaku hidup sehat pada diri masing-masing dan diharapkan akan turut di aplikasi di rumah dan sekolah mereka. Antaranya adalah menggunakan jamban sehat, mandi 2 kali sehari, menggosok gigi, memakai selipar atau kasut, makan makanan yang seimbang dan mencuci tangan dengan benar.

Pada sesi pelatihan, kami mengajarkan siswa siswi SD cara member pertolongan pada teman yang hidung berdarah (mimisan), teman yang pengsan, luka, diarrhea, tercekik dan keracunan. Di awal pelatihan, diri ditugaskan untuk melontarkan beberapa persoalan untuk memastikan bahawa mereka benar-benar mengerti apa yang akan dilakukan nanti. Setelah itu, diri harus terlebih dahulu memperagakan cara melakukan pertolongan sebelum memberi pengarahan supaya mereka melakukan sendiri tindakan-tindakan tersebut.

Di sekolah pertama, yaitu SD Buanguang Kanunang, diri telah bertanggungjawab terhadap kelompok Docil dari kelas 4. Hendry, Rahman, Kasmah dan juga Sri Wahyuni. Sementara di sekolah kedua yaitu SD Pakborongan, diri telah menjadi fesi yang menuntun kelompok pelajar tahun 4 yang terdiri dari Wawan, Rudy, Asti dan Sumyati sementara di SD Rannayya, diri menjadi fesi bagi kelompok siswa kelas 4 yaitu Sandi, Taufiq, Nisa’ dan Risna.

Setelah menjalankan pelatihan, sempat bersembang-sembang dengan anak-anak ini. kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga petani. Tapi mereka bercita-cita tinggi. Ramai yang ingin menjadi doctor, ada yang ingin menjadi engineer dan guru (dosen). Namun kata mereka, mereka takut untuk membina impian untuk melanjutkan pelajaran di IPT (perguruan tinggi) kerana gusar keluarga tidak akan sanggup untuk membayar biaya pengajian. Diri menasihati mereka bahawa tidak mengapa jika membina impian yang besar kerana impian adalah titik mula kepada kejayaan. Rezeki untuk melanjutkan pelajaran ke peringkat IPT itu datangnya dari Allah dan kita sebagai hambanya harus berdoa memohon padanya.

“Tanamlah impian di bintang kejora walau kakimu berpijak di bumi”

Ahad, 25 Julai 2010

SELAMAT HARI LAHIR AYAHKU!!

0



Nukilan buat ayahku pada hari lahirnya 13 July lepas.. tidak berjaya menongkah kepayahan untuk mencari tempat yang boleh mengakses internet tepat waktu..

keringatmu mulai kering melewati terik matahari
tampak jelas senyummu namun tak jelas kulihat duka selimuti keningmu yang mulai berkerut
kokoh bagai batu kedua tanganmu memegang rindu
jadikan surga atas semangatmu yang bergemuruh dalam kepekatan dunia

malam yang tersenyum malu malu, itulah saat kau lepas semua elegi hati
termenung menatap langit langit kamar yang setengah berhias jutaan bintang
menulis cerita esok hari...............dimana mendapat sebait kata mimpi
lalu lelaplah engkau dia atas permadani indah menunggu sang fajar...

ayah...........
tak sempat aku memandang jauh dan mengisi hatiku utuk kutuliskan prasasti
tak sempat aku meneteskan air mata,dan darahku......

namun sempat kau dengar tangisku walau tak panjang
sempat tertulis cerita indah tentang taman impian yang kau hiasi penuh bunga
saat aku masih putih dan bersih...........
jiwa jiwa dan rohku melingkari benang benang hidup dan aku bernafas melalui jantungmu...

kini ayah..oh...ayahku...
perjuanganmu telah hampir sempurna...tinggal aku
aku dan dewi dewi kecilmu yang akan menyambung kisah kisah kita
meneruskan cerita hati untuk kutuliskan syair kehidupan....
tentang cinta dan pengorbanan tanpa henti.............

SEMINAR AWAL

0


Sebelum memulai program yang akan dijalankan untuk masyarakat atau yang kami sebut sebagai program kerja (proker), kami ditugaskan untuk menjalankan sebuah program yang dinamakan sebagai “Seminar Awal”. Tujuan program ini diadakan adalah sebagai sosialisasi awal atau pengenalan diri kami kepada masyarakat tentang keberadaan kami di lingkungan Tolo’ Barat untuk membantu meringankan dan mencari solusi kepada masalah kesihatan yang timbul dikalangan masyarakat. Sekaligus memberitahu masyarakat senarai program yang akan dijalankan sepanjang 2 bulan kami di sini.

Program ini diadakan pada 10 Julai 2010. Hasil rapat antara wakil posko dengan Pak Lurah menyatakan bahawa program ini akan diadakan pada sebelah pagi jam 9.00am di pejabat daerah (kantor kelurahan). agak hairan sebenarnya kerana 10hb sebenarnya jatuh pada hari Sabtu yang menurut budaya di sini, hari Sabtu merupakan “hari pasar besar” yang mana hari pasar adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh warga yang majority dari mereka terdiri dari petani yang bertaruh nasib di pasar, mendagangkan hasil tani untuk membela nasib keluarga. Bagi warga yang bukan dari petani pula, hari pasar turut dinantikan mereka untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari kerana di pasar inilah mereka dapat memperoleh bahan mentah seperti ikan segar, sayur sayuran, ikan, dan bawang-bawangan. Begitu juga dengan keperluan-keperluan lain seperti pakaian, peralatan sekolah anak, barang emas, kasut dan tilam.

Apabila seminar awal diadakan pada hari sabtu, maka hanya 2 kemungkinan yang akan berlaku samada aktiviti masyarakat akan terganggu kerana mereka tidak dapat ka pasar yang menjadi sumber kehidupan mereka atau mereka akan mengabaikan lansung program yang akan kami jalankan dan hasilnya tidak ramai yang akan hadir pada hari tersebut. Entahlah mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang akhirnya membawa kesimpulan yang demikian. Mungkin diri harus yakin dengan keputusan yang di ambil oleh pimpinan.

Hari program Seminar Awal yang dirancang tiba. Kami tiba di pejabat daerah kira-kira 30 minit sebelum kegiatan bermula. Segala persiapan telah dilengkapkan.LCD sudah terpasang. Kerusi-kerusi sudah tersusun rapi. Makanan dan minuman sudah disedia. Jam menunjukkan pukul 9.00 pagi. Seharusnya program akan dimulai. Tapi kelibat orang kampong tak satu pun kelihatan. Sebentar tiba Pak Lurah diikuti Ketua Pusat Kesehatan tempatan (kepala Puskesmas), pak Camat dan Dr.Devintha,supervisor kami. Jam terus berdetak menggantikan waktu yang lama dengan waktu yang baru. Tapi warga setempat tetap tidak muncul. Hingga Pak Lurah harus bersibuk-sibuk menelefon Ketua-ketua Lingkungan.Setengah jam kemudian barulah kelibat warga mulai kelihatan memenuhi kerusi yang tersedia. Itupun Cuma sayap kanan yang penuh. Sayap kiri tetap lengang hingga kamilah yang terpaksa mengisi lompong kekosongan tersebut.

Diri mendapat pelajaran penting dari peristiwa yang berlaku hari ini. Untuk masuk ke tengah-tengah masyarakat, kita seharusnya tidak boleh asal terjun tanpa mengambil peduli tentang persekitaran. Belajarlah untuk memahami dan mengenali budaya setempat terlebih dahulu agar kita tahu bagaimana untuk menyampaikan isi yang ingin kita bawa. Samalah kaedahnya dengan dakwah. Untuk menyampaikan Islam pada masyarakat kita tidak boleh asal serbu. Kenalilah mereka dengan sebaik-baik perkenalan dan selesaikanlah urusan dunia mereka terlebih dahulu agar hati lebih terbuka untuk menerima saran dan nasihat kita. Beradaptasi dengan budaya sekitar akan membantu kita dalam membina hubungan baik dengan masyarakat setempat. Belajarlah untuk menghormati orang lain kerana itulah yang akan melahirkan perasaan saling hormat menghormati nantinya.