Menyempatkan diri hadir di program Ziarah Akbar Anis Matta,
Presiden baru Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setelah Presiden sebelumnya
diinterogasi oleh pihak KPK berhubungan dengan Kasus Suap Daging Sapi Import. Ujian
yang maha berat yang ditimpakan Allah mungkin beralasan untuk mendidik
jiwa-jiwa tangguh.
Subhanallah.. suatu pengalaman yang menurut diri sangat
membangkitkan semangat dan keyakinan yang padu pada tarbiyah Allah Subhana Wa
Ta’ala.. suatu bentuk kepasrahan dan pantang menyerah untuk membawa dakwah itu
dengan lebih gencar.
Program ini diadakan di Hotel Sahid, tidak jauh dari Pantai
Losari. Sesampai disana, disambut dengan barisan solidaritas PKS yang siap
memudahkan jalan. Semua menunggu di dalam dalam baris yang teratur. Di auditorium
sudah penuh dengan kader-kader PKS yang datang dari seluruh penjuru Sulawesi
Selatan. Ada yang dari Gowa, Takalar, Jeneponto, Bulukumba. Ada yang dari
Maros,Pangkep, Pare-pare, Sidrap, Pinrang, Palopo bahkan dari Palu dan Buton.
Sulawesi Tenggara. MasyaAllah sekali pengorbanan mereka semata-mata menunjukkan
kebersamaan ini dalam saat getir dan musibah yang maha dahsyat yang melanda. Ada
ibu-ibu yang membawa anak bayi berusia 1minggu, ada ibu yang membawa anak-anak
kecil dengan pakaian bertulis “Mujahid Muda”. Berbagai ragam. Tak kurang para
pemuda yang menjadi tunggak dan tulang belakang masyarakat yang ingin dibangun
ini.
Berpeluang ketemu teman-teman sahabat-sahabat koass yang
turut berkecimpung dalam DNT ini. Uni, Ety,Izra,Wahyuni dan lain-lain. Diri,
adik-adikku Ima,Aine dan Syimah juga diberi kesempatan oleh Allah untuk
bergabung dengan barisan ini. Alhamdulillah.
Sebaik Ustaz Anis Matta masuk ke ruangan, bergema nasyid “Bekerja
Untuk Indonesia” dendangan Izzatul Islam yang sangat berkobar dan bersemangat. Cukup
membuat jiwa bergetar. Ustaz Anis Matta berserta para pimpinan PKS itu Cuma duduk
melantai dibawah seperti para peserta yang lain. Tidak ada tanda-tanda tidak
selesa dan canggung dengan situasi seperti itu. Wajah yang tenang dan
berkaliber itu bercahaya sinar wajah orang soleh..Subhanallah.
Dalam ucaptamanya, ustaz membawa kita kepda suatu sejarah
yang simple sebenarnya namun sangat menggugah hati orang-orang yang
mendengarkannya. Beliau mengangkat kembali kisah peperangan Ain Jalut yang
terjadi pada 3 September 1260 Masehi atau 25 Ramadan 658 Hijriah, meru pakan
salah satu pertempuran besar dalam sejarah Islam. Selain itu, pertempuran ini,
menurut banyak ahli sejarah, termasuk salah satu pertempuran yang penting dalam
sejarah penaklukan bangsa Mongol di Asia Tengah. Dalam perang itu, untuk
pertama kalinya bangsa Mongol mengalami kekalahan telak dan tidak mampu
membalasnya di kemudian hari. Padahal Mongol (Tartar) telah menguasai banyak
daerah Islam dan bahkan menjatuhkan Khilafah Abbasiah. Mereka juga berhasil
membunuh Khalifah Mu’tashim Billah di Bagdad pada 656 H/1256 M. Yang uniknya
dari perang ini, Allah membalikkan Tentera Mongol yang katanya penuh dengan
tipu daya dan kekejian akhirnya diberi sinar iman hingga kemudian mereka
terbalik menjadi para pendukung Islam yang membina kekuatan demi menegakkan
agama Allah dimuka bumi.
Ustaz juga membawakan kisah Perang Hittin. Pertempuran
Hittin adalah suatu pertempuran yang terjadi pada bulan Ramadan tahun 584
H/1187 M, antara pasukan Muslim dibawah pimpinan Salahuddin Ayyubi dan Tentara
Salib dari Kerajaan Yerusalem. Pertempuran ini dimenangkan oleh pihak Muslim,
dan adalah salah satu pertempuran terpenting dalam Perang Salib. Sebagian besar
kekuatan tentara salib di tanah suci terbunuh atau ditawan oleh pihak Muslim
(termasuk raja Guy Lusignan yang berhasil ditawan), dan setelah pertempuran ini
tentara Muslim dapat merebut kembali Yerusalem dan kota-kota lainnya di tanah
suci.
Kisah terakhir yang dibawakan adalah Kisah Penaklukan
Konstantinople. Penaklukan Konstantinopel (dan dua wilayah pecahan lainnya
segera setelah itu Bizantium) menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi, sebuah
negara yang telah berlangsung selama hampir 1.500 tahun, itu juga merupakan
pukulan besar untuk Kristen. Intelektual Yunani dan non-Yunani Beberapa
meninggalkan kota sebelum dan sesudah pengepungan, migrasi terutama ke Italia.
Dikatakan bahwa mereka membantu penanda dimulainya Renaisans. Itu juga
merupakan beberapa tanda akhir Abad Pertengahan oleh jatuhnya kota dan
kekaisaran.
Kisah-kisah ini ada makna yang tersendiri dimana kita
belajar dari sejarah bahwa harus melihat musibah itu sebagai potensi untuk
terus bergerak menuju kepada apa yang diredhai oleh Allah. Menjadikan ujian itu
sebagai booster atau pemicu supaya kita lebih dekat dengan Allah. Meningkatkan kualitas
ibadah dan doa. Dan untuk semakin merapatkan saff dan barisan perjuangan ini
agar lebih solid. Subhanallah. Semoga badai yang mengguncang aliran dakwah ini
justeru akan menjadikan aliran itu berubah menjadi pusaran, menjadi bah yang
akan membanjiri arena bumi Allah ini..amin.





0 ulasan:
Catat Ulasan