Duduk-duduk di kerusi seperti hari-hari sebelumnya di Depatmen Forensik Dan Medikolegal RS Wahidin Sudirohusodo sambil mengerjakan
visum et repertum (surat keterangan saksi) di ruang tunggu. Tiba-tiba
kedengaran bunyi dentuman..
“Dum!! Dum!! Dum!! Dum!!”
Siapa lagi itu main petasan(mercun) gak habis-habisnya..
Bapak petugas yang ada segera keluar ke perkarangan untuk
melihat ulah siapa yang bermain petasan siang-siang begini di kawasan rumah
sakit lagi. Belum sempat bapak keluar dari pintu utama,
“DOOM”
satu dentuman kuat luar biasa kedengaran berserta
pekikan orang-orang.
Penasaran, kami semua yang sementara mengerjakan VeR itu
serentak saling memandang dan bangun dari tempat duduk menuju ke pintu. Sebaik
saja diri keluar dari pintu utama tersebut… Mata dijamu pemandangan tubuh seseorang laki-laki yang rebah
menyembah bumi. Darah mulai mengalir deras dari kepala. Kejadian itu jauh.
Beberapa meter dari pintu utama tempat kami berada. Dekat dengan mesjid
menjelang solat Jumat.
Kelihatan beberapa orang berpakaian pelindung peluru
berlindung disebalik mobil-mobil disitu sambil menumpukan senapang/sniper dan
pistol entah apapun itu dan siaga menembak ke sasaran. Densus 88. Orang-orang
lari bertempiaran. Sambil menjerit “sembunyi!!sembunyi!!”
Dokter Spesialis Forensik yang baru tiba dan masih mengunci
mobilnya lansung diamankan oleh salah satu orang berbaju pelindung diri.
Sementara beberapa orang lagi berlari kearah kami dan menarik kami ke dalam
bagunan forensic. “hati-hati doc, ada teroris diluar. Kita harus diamankan dari
tempat kejadian takutnya ada peluru yang nyasar. Jauhi pintu dan jendala!!”.
Kami disuruh berkumpul dalam ruang administrasi yang agak jauh dari pintu utama
kerna dikhawatirkan peluru bisa menembus pintu.
“DAMM!!”
Bunyi menyentak pintu utama. Tidak tahu apa itu. Sang
pegawai polisi itu lansung menyuruh kami bersembunyi dibawah meja. Takutnya
teroris masuk ke sini. Perasaan yang
bergelayut waktu itu sangat mendebarkan. Ya Tuhan, selamatkanlah. Kami!! Ini
tidak seberat kondisi perang. Tidak seberat Palestine. Tapi tiba-tiba berpikir
bagaimana kalau mereka punya bom tangan seperti yang pernah diliat ditelevesi.
Bagaimana jika mereka memasang bom waktu? Oh Tuhan!! Benar-benarkah ini? Ada
terosis di RS Wahidin, rumah sakit kelas atas di Makassar..
3menit. Bunyi tembakan yang bertalu-talu melayang ke udara
berhenti sudah. Diganti dengan bunyi mobil-mobil dan polisi yang mengamankan
kawasan kejadian. Anggota densus 88 yang tadi mengamankan kami lansung keluar
dan membantu teman-temannya. Sebuah mobil avanza putih berhenti di depan Mesjid
dan anggota Densus yang masih siaga cepat-cepat mengangkat jenazah korban
pertama yang mati kerna peluru yang menembus tepat dikepalanya. Serta satu lagi
korban yang ditembak di bagian peha dan satu lagi teroris dipercayai berjaya
melarikan diri. Perdarahan fatal femur bisa mengguyur 3L dari tubuh korban dan
menyebabkan pasien meninggal ditempat. Mobil
hitam yang dinaiki para densus 88 itu menyusuli Avanza putih tersebut dan
bubar. Mayat akan dibawa ke RS Polisi Di RS Bhayangkara untuk dibuat visum mati
(surat keterangan ahli) sebelum diterbangkan ke Jakarta dan dievakuasi disana. Sewaktu di visum, dijumpai lebih dari 4 luka
tembakan yang menembus tubuh korban. Dan dua-duanya terkepung dalam misi
pemberantasan anti-terroris itu.
Menurut sumber-sumber dari pihak kepolisian PolRestabes
Makassar, para terroris itu dipercayai telah merencanakan untuk melakukan aksi
keganasan di RS WS malam menjelang tahun baru atas motif yang tidak diketahui.
Maka 3 dari anggotanya ditugaskan untuk mengincar (spying) system keselamatan
Rumah sakit dengan menyamar sebagai anggota keluarga pasien dan diberi kartu
pengenalan keluarga.. Tapi sepertinya
rencana mereka molor gara-gara diketahui oleh pihak Densus yang turut siaga
ditengah kelompok masyarakat disini. Dilaporkan juga dari polisi, pada korban
didapatkan beberapa laras senjata api dan bom granat. Oh Tuhan, kalau malam
tahun baru itu mereka melancarkan aksi, kami juga akan terperangkap dalamnya
kerna kami Oncall (jaga) sepanjang hari terakhir tahun itu. Dan malamnya kami
masih sempat keluar ke halaman untuk menyaksikan kembang api tahun baru itu.
Dan para teroris ini menjadikan masjid dekat kamar mayat itu sebagai sarang
operasi mereka. Benar-benar Tuhan masih menyayangi kami..





0 ulasan:
Catat Ulasan