Skinpress Rss

Jumaat, 4 Januari 2013

TERRORIS VS DENSUS 88

0



Duduk-duduk di kerusi seperti hari-hari sebelumnya  di Depatmen Forensik Dan Medikolegal  RS Wahidin Sudirohusodo sambil mengerjakan visum et repertum (surat keterangan saksi) di ruang tunggu. Tiba-tiba kedengaran bunyi dentuman..

“Dum!! Dum!!  Dum!!  Dum!!”

Siapa lagi itu main petasan(mercun)  gak habis-habisnya..

Bapak petugas yang ada segera keluar ke perkarangan untuk melihat ulah siapa yang bermain petasan siang-siang begini di kawasan rumah sakit lagi. Belum sempat bapak keluar dari pintu utama,

“DOOM”
 satu dentuman kuat luar biasa kedengaran berserta pekikan orang-orang.
Penasaran, kami semua yang sementara mengerjakan VeR itu serentak saling memandang dan bangun dari tempat duduk menuju ke pintu. Sebaik saja diri keluar dari pintu utama tersebut… Mata dijamu pemandangan  tubuh seseorang laki-laki yang rebah menyembah bumi. Darah mulai mengalir deras dari kepala. Kejadian itu jauh. Beberapa meter dari pintu utama tempat kami berada. Dekat dengan mesjid menjelang solat Jumat.

Kelihatan beberapa orang berpakaian pelindung peluru berlindung disebalik mobil-mobil disitu sambil menumpukan senapang/sniper dan pistol entah apapun itu dan siaga menembak ke sasaran. Densus 88. Orang-orang lari bertempiaran. Sambil menjerit “sembunyi!!sembunyi!!”

Dokter Spesialis Forensik yang baru tiba dan masih mengunci mobilnya lansung diamankan oleh salah satu orang berbaju pelindung diri. Sementara beberapa orang lagi berlari kearah kami dan menarik kami ke dalam bagunan forensic. “hati-hati doc, ada teroris diluar. Kita harus diamankan dari tempat kejadian takutnya ada peluru yang nyasar. Jauhi pintu dan jendala!!”. Kami disuruh berkumpul dalam ruang administrasi yang agak jauh dari pintu utama kerna dikhawatirkan peluru bisa menembus pintu.

“DAMM!!”

Bunyi menyentak pintu utama. Tidak tahu apa itu. Sang pegawai polisi itu lansung menyuruh kami bersembunyi dibawah meja. Takutnya teroris masuk ke sini.  Perasaan yang bergelayut waktu itu sangat mendebarkan. Ya Tuhan, selamatkanlah. Kami!! Ini tidak seberat kondisi perang. Tidak seberat Palestine. Tapi tiba-tiba berpikir bagaimana kalau mereka punya bom tangan seperti yang pernah diliat ditelevesi. Bagaimana jika mereka memasang bom waktu? Oh Tuhan!! Benar-benarkah ini? Ada terosis di RS Wahidin, rumah sakit kelas atas di Makassar..


3menit. Bunyi tembakan yang bertalu-talu melayang ke udara berhenti sudah. Diganti dengan bunyi mobil-mobil dan polisi yang mengamankan kawasan kejadian. Anggota densus 88 yang tadi mengamankan kami lansung keluar dan membantu teman-temannya. Sebuah mobil avanza putih berhenti di depan Mesjid dan anggota Densus yang masih siaga cepat-cepat mengangkat jenazah korban pertama yang mati kerna peluru yang menembus tepat dikepalanya. Serta satu lagi korban yang ditembak di bagian peha dan satu lagi teroris dipercayai berjaya melarikan diri. Perdarahan fatal femur bisa mengguyur 3L dari tubuh korban dan menyebabkan pasien meninggal ditempat.  Mobil hitam yang dinaiki para densus 88 itu menyusuli Avanza putih tersebut dan bubar. Mayat akan dibawa ke RS Polisi Di RS Bhayangkara untuk dibuat visum mati (surat keterangan ahli) sebelum diterbangkan ke Jakarta dan dievakuasi disana.  Sewaktu di visum, dijumpai lebih dari 4 luka tembakan yang menembus tubuh korban. Dan dua-duanya terkepung dalam misi pemberantasan anti-terroris itu.

Menurut sumber-sumber dari pihak kepolisian PolRestabes Makassar, para terroris itu dipercayai telah merencanakan untuk melakukan aksi keganasan di RS WS malam menjelang tahun baru atas motif yang tidak diketahui. Maka 3 dari anggotanya ditugaskan untuk mengincar (spying) system keselamatan Rumah sakit dengan menyamar sebagai anggota keluarga pasien dan diberi kartu pengenalan keluarga..  Tapi sepertinya rencana mereka molor gara-gara diketahui oleh pihak Densus yang turut siaga ditengah kelompok masyarakat disini. Dilaporkan juga dari polisi, pada korban didapatkan beberapa laras senjata api dan bom granat. Oh Tuhan, kalau malam tahun baru itu mereka melancarkan aksi, kami juga akan terperangkap dalamnya kerna kami Oncall (jaga) sepanjang hari terakhir tahun itu. Dan malamnya kami masih sempat keluar ke halaman untuk menyaksikan kembang api tahun baru itu. Dan para teroris ini menjadikan masjid dekat kamar mayat itu sebagai sarang operasi mereka. Benar-benar Tuhan masih menyayangi kami..

0 ulasan:

Catat Ulasan