Skinpress Rss

Jumaat, 18 Januari 2013

CERITA KINAN

1



Mahukah kamu mendengarkan kisah Kinan? Kisah cinta yang tidak berakhir bahagia. Kisah saat kau membenarkan dirimu ditenggelamkan oleh ketamakan cinta. Pada akhirnya, kau bahkan hanya mampu hidup dengan separuh jiwamu. Kisah kebenaran. Gengsi. Pengkhianatan. Dan Setia. …

Ayuni menghulur kertas kecil kiriman Kinan kepada Jehan. Kertas bertukar tangan. Jehan membukanya tanpa ekspresi. Selesai membaca, dia membuang pandangan ke laut lepas. Benteng itu membuat mereka bisa melihat Selat Tebrau dengan jelas. Jehan menghela nafas. Terasing dari keriuhan teman-temannya. Sebentar matanya beralih kepada Ayuni. Dia kemudian bertanya:

“Apa yang telah diceritakan padamu Ayuni?”

Yuni membalas tatap.

“Maaf Kang, aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan peribadimu. Hanya saja, aku tidak enak menolak permintaan teman yang banyak membantuku”

Panggilan Kang itu sudah melekat pada nama Jehan kerna rasa hormat teman-temannya dengan peribadi Jehan yang protektif, dewasa dan penuh dengan perhatian terhadap teman-temannya.

“Aku tidak berniat untuk membela diriku Yuni, hanya saja aku mahu kamu lebih jernih untuk menilai diriku. Tunggu aku setelah acara ini selesai. Akanku ceritakan padamu..apa yang perlu kau ketahui”

Jehan:

Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara debur ombak menghentam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi perbicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Dan mungkin juga hatinya.

“Ayuni, apa yang diceritakan oleh Kinan tentangku? Jujur saja.”

“Aku tidak tahu banyak Kang. Hanya saja dia menangis tersedu di bahuku dan mengatakan betapa dia merinduimu. Betapa kamu tega untuk menghukumnya seperti ini. Menggantung tak bertali. Itu saja.”

Ayuni benar-benar memilih untuk jujur. Kang sudah layaknya seperti kakaknya sendiri. dia khawatir apa yang keluar dari bibirnya justru nanti membuat kondisi antara Jehan dan Kinan bertambah buruk. Atau sebaliknya akhibat kata-katanya menumbuhkan harapan palsu buat Jehan.

“Apa yang kau pikirkan tentangku setelah mendengarkan itu?”

“Pentingkah apa yang aku fikirkan?” Heran.

“Iya, penting buatku”

“Dia temanku. Kamu juga. Tidak adil aku menghakimi tanpa mengetahuinya darimu. Jadi aku memutuskan untuk tidak berpendapat. Bagiku, bila antara dua hati sedang berkonflik, bukan persoalan siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi hanya persoalan jiwa yang tidak serasi atau memang bukan jodoh.”

“Terima kasih.  Sebenarnya kamu bukan orang pertama yang diceritakan oleh Kinan. Tapi aku benar-benar berharap kamu yang terakhir. Semua yang pernah mengenaliku dan mengenalinya tahu. Kisah itu sepertinya sudah menjadi kisah public. Kau tahu, aku sudah lelah menjelaskannya berulangkali pada orang-orang dan aku sudah lelah juga mengatakan padanya untuk berhenti.”

Diam sejenak.

Sungguh hatiku tidak baik-baik saja. Sehari setelah kau memutuskan untuk mengakhiri semua ini, aku telah memujuk hatiku agar tegar. Tapi percuma. Menyakitkan. Semua itu membuat sesak. Dan untuk apa lagi kau kembali mencariku?

“Ceritaku sepertinya terlalu rumit Yuni. Meski jangka waktunya singkat. Saat di dalamnya ada kesalahpahaman, dan ia mula melibatkan pihak ketiga antara kami, hal ini menjadi lebih celaru. Kekecewaan membengkak. Kebencian terlahir. Biar pangkal semua ini, aku juga sebenarnya tidak mengerti. Aku tidak menyalahkannya. Aku juga mungkin lebih salah. Entahlah”

Jehan mendongak ke langit. Menatap purnama. Berusaha mengusir rasa sesak yang ketat menyelimuti hati saat nama “Kinan” mengudara.

Aku tahu, selalu ada bagian yang tidak masuk akal dalam perjalanan cinta. Tetapi lebih kerana, lihatlah percakapan ini, hanya lebih membuat perkara menjadi kacau. Kecamuk dalam hatiku. Kau telah membawa pergi bagian “tenang”nya.

“Separuh hatiku sudah pergi. Persis seperti sebuah daun berbentuk hati yang diiris paksa oleh belati tajam. Dipotong dua. Dan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. “

Jehan menahan Kristal yang mula terbentuk dimuara matanya. Takkan dia biarkan Kristal itu jatuh. Untuk orang seperti Kinan, TIDAK AKAN PERNAH!!

“Ketika hati itu terkoyak separuhnya beberapa bulan yang lalu, aku sudah bersumpah untuk menguburnya dalam-dalam. Berjanji untuk berdamai meski takkan pernah kuasa untuk melupakan”

Ayuni menelan ludah- berusaha menjawab bijak-dia tahu itu bohong

“Berdamailah dengan masa lalu. Tidak berdendam apapun. Menerima apa adanya.” Senyum.

“Cinta bukan sekadar soal memaafkan Yuni. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrational, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga.”

Aku tahu kau membutuhkan waktu untuk memahaminya Ayuni. Kerna aku juga belajar dari pengalaman yang menyakitkan ini. Semoga kau tidak perlu melaluinya.

Kinan:

“Bagaimana Yuni, Jehan mahu menerimaku kembali? Dia baca suratku? Apa yang dia katakan? Dia pasti mendengarkanmu kerna kamu temannya yang baik. Aku yakin itu.. iya kan??” Wajah penuh harap

Yuni menghela napas. Menggeleng. Negative.

Airmata Kinan berhembur lagi. Entah untuk keberapa kali.

“Aku salah. Aku salah. Aku tidak harusnya mencampakkan dia dulu. Aku tidak harus memaksanya hingga sekarang. Sungguh aku menyesal. Tidak bisakah dia mengerti itu? Tidak bisakah dia memaafkan aku? Aku sudah berusaha meminta maaf melalui semua orang. Tapi kenapa dia masih keras untuk menerimaku.. semua kerna Fardi”

“Fardi??” Yuni yang pertamanya malas ikut campur jadi terpancing.

“Iya. Sebelum aku mengenal Jehan, aku sudah terlanjur menyintai Fardi. Dia satu projek denganku sewaktu program akhir dulu. Aku menyintai Fardi dari pertama aku mengenalinya. Kau tahu, Fardi memang sosok pemuda salih yang baik dan gentlemen. Kami sering diganggu-ganggu dan digosipkan dikalangan teman-teman. Mungkin kerna kedekatan kami. AKu tahu, dia juga menyukaiku. Aku yakin itu. Hingga satu saat, dia membuat pernyataan di depan semua,
'Saya, tidak akan pernah pacaran sama siapapun. Titik!'"

Pernyataanmu itu telah meranapkan dua pertiga dari jiwaku Far. Dan kau mungkin tidak tahu itu. Beberapa waktu aku tenggelam dalam keterpurukanku, kecewa dengan penolakan halusmu hinggalah Arsya dan Santi yang mengerti kegalauanku, memperkenalkan Jehan menggantikan posisimu, dihatiku. Ya, bermula dari pertemuan singkat, sewaktu Jehan diundang ke acara pembukaan tapak projek kita. aku tahu Jehan laki-laki yang baik. Alim. Terpercaya. Kau lihat juga kan, betapa perhatiannya membuat ia sanggup meredah pekatnya malam sewaktu menghantarkanku obat sewaktu maag ku kambuh. Padahal jarak tapak projek kita sangat jauh dari kota. Kau lihat sendiri bukan? Aku yakin, Jehan akan menyayangiku setulus hatinya. Dan aku memutuskan untuk menjalani saja hubungan kami ini. Benar, hubungan ini mulus-mulus saja hingga kau kembali untuk mengatakan itu.

Bahwa aku yang terlalu terburu-buru memutuskan. Bahwa kau tidak ingin berpacaran kerna kau ingin suatu hari nanti, melamar diriku menjadi permaisuri hatimu.

Dan aku segera berlari ke dalam lingkaran cintamu. Tanpa berpikir panjang bagaimana nanti dengan hubunganku dan Jehan? Apa nanti yang akan dikatakan Jehan? Sudahlah, mungkin jehan hanyalah ujian Tuhan buat menguji perasaan kau dan aku.. bukankah??

Kecemburuanmu Far, membuat aku perlahan menjauhi Jehan. Aku tahu Jehan merasainya. Menangkap baying hambar yang mula menggelayut. Namun, apalah aku untuk menangkis cinta yang sememangnya milikmu?Jehan, benar adalah orang yang wajar untuk kau cemburui Fardi. Hampir saja aku menyerahkan semua berkas cinta ini padanya. Tapi, kerna kau berjaya merebutnya kembali sebelum ia kuhulurkan, hingga kau membuat aku tegar menolak kedatangan Jehan dalam kuyup guyuran hujan semata bertemu denganku. Mengabaikan telpon-telponnya biar berkali mencoba untuk meraihku. Menghapus smsnya yang memenuhi kotak pesan. Jehan yang sungguh kusia-siakan kerna cintamu. Dan akhirnya, kau pergi… meninggalkanku sendiri.

Ayuni:

Ini kedengarannya tidak adil!

“Jehan tahu alasanmu meninggalkannya demi Fardi?”

“Tidak. Aku bahkan tidak pernah memberi kata putus apapun berkaitan kami. Dia juga. Hilang begitu saja terbawa arus. Dia bahkan tidak pernah tahu soal Fardi.”

“Jika satu hari nanti, Fardi datang padamu dan memintamu kembali padanya, apakah kau akan meninggalkan Jehan lagi?”

“Aku tidak tahu Yuni. Yang aku tahu sekarang, aku membutuhkan Jehan. Dan harus disisiku. Ahhhh, dasar jahat!!pecundang!!”

Ayuni menggenggam botol minuman yang dipegangnya. Tidak menyangka ada cerita begitu sebalik semua kejadian ini. Dari bibir Kinan. Tidak percaya..

Apa salah Jehan hingga semudah itu kau jadikan bahan permainan? Kau menjabarkan kisah sedihmu kepada semua orang dan memposisikan Jehan dalam sangkar orang bersalah, hanya untuk meraih simpati dari orang banyak?

Kau menganggapnya jahat kerna dia tidak kembali padamu saat kau mahu? Kau menggelarnya pecundang kerna dia mencoba untuk melindungi sekeping hatinya yang terluka keranamu? Haruskah dia kembali padamu Kinan, setelah kau cabik-cabik jiwanya menjadi berkeping-keping. Jehan tidak pernah pacaran. Dan saat dia menyayangimu, dia memberikan separuh dari jiwanya untukmu. Maaf Kinan, aku tidak mahu menghakimi kisah cintamu. Aku yakin ada banyak cerita antara kalian yang membuat kondisi berada dipondisi terberat ini. Cerita ini sungguh adalah lelucon yang tidak lucu.

“Kenapa baru sekarang kau mahu kembali kepada Jehan?”

“ Kerna aku baru sadar, aku selama ini salah. Tapi aku terlalu egois untuk mengakuinya. Aku sadar, tidak ada yang mampu memberikan perhatian padaku seperti Jehan, tidak ada yang menyintaiku setulus dia."
Yuni mengetap bibir.

“Aku akhirnya tahu apa sesungguhnya yang membuat kita mampu merindukan sesuatu. Yaitu kepergian. Seperti bahwa bintang hanya terlihat terang kerana langit ditelan gelap malam. Seperti pelangi membutuhkan hujan agar lengkungnya bisa dibentuk awan.”

Ya.. paradox paradox hidup yang mahu tidak mahu harus juga kita hidup dengannya.

“Seperti bahwa kami tahu kami saling sayang justru pada saat kami melepaskan. Kerna adakala diperlukan jarak untuk membuat kita merasa dekat. Kerna adakalanya justru perpisahanlah yang membuat kita menyedari sesungguhnya kita saling cinta”

Kinan, kau terlalu banyak membaca novel. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi dihati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi kerna kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih. Tidak kurang.

Kinan, aku tidak akan mungkin akan menjabarkan kisah  sadis ini pada Jehan. Kerna aku tidak berharap dia akan tambah membencimu. Kinan, jangan lumpuhkan dia dengan airmatamu hanya untuk melukainya lagi di akhir ceritamu. Kerna dia juga memiliki hati untuk dihargai. Saat kau sudah memilih satu dari cintamu, belajarlah untuk bertahan biar apapun konsekuensinya. Jangan jadikan Jehan persinggahanmu untuk melampiaskan emosi sesaat kerna Jehan juga berhak bahagia.

Buatmu Kang. Sungguh aku salut padamu. Benarlah katamu, kadang, bersifat keras dan tegas itu perlu. Inilah yang dikatakan, patah hati, tapi tetap gengsi!! Patah hati, tapi tetap keren!!

[presenting a random love story for a competition. it just to brought up the effect of different type of writing. 1st trial always bad!!]

1 ulasan:

  • 24 Januari 2013 pada 5:42 PTG

    Suka..
    Merintang masalah berat untuk sekeping hati yang sederhana!!!
    Menjadi Ayuni yang tak ingin berat sebelah..mencoba komit dengan pendirian dan kesalahan waktu yang membuatnya terlibat dalam tragedi cinta yang menenggelamkan rasa terima kasih.


    *Saya cukup bingung bacanya karena JEHAN nama cewek kak sebenarnya..karakter cowoknya jadi terasa hambar!!!ckck!!!tapi secara keseluruhan keren.. :)

Catat Ulasan