Mahukah kamu mendengarkan kisah Kinan? Kisah cinta yang
tidak berakhir bahagia. Kisah saat kau membenarkan dirimu ditenggelamkan oleh
ketamakan cinta. Pada akhirnya, kau bahkan hanya mampu hidup dengan separuh jiwamu. Kisah kebenaran. Gengsi. Pengkhianatan. Dan Setia. …
Ayuni menghulur kertas kecil kiriman Kinan kepada Jehan. Kertas
bertukar tangan. Jehan membukanya tanpa ekspresi. Selesai membaca, dia membuang
pandangan ke laut lepas. Benteng itu membuat mereka bisa melihat Selat Tebrau
dengan jelas. Jehan menghela nafas. Terasing dari keriuhan teman-temannya. Sebentar
matanya beralih kepada Ayuni. Dia kemudian bertanya:
“Apa yang telah diceritakan padamu Ayuni?”
Yuni membalas tatap.
“Maaf Kang, aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam
urusan peribadimu. Hanya saja, aku tidak enak menolak permintaan teman yang
banyak membantuku”
Panggilan Kang itu sudah melekat pada nama Jehan kerna rasa
hormat teman-temannya dengan peribadi Jehan yang protektif, dewasa dan penuh
dengan perhatian terhadap teman-temannya.
“Aku tidak berniat untuk membela diriku Yuni, hanya saja aku
mahu kamu lebih jernih untuk menilai diriku. Tunggu aku setelah acara ini
selesai. Akanku ceritakan padamu..apa yang perlu kau ketahui”
Jehan:
Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak
juga. Suara debur ombak menghentam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi
perbicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Dan mungkin juga hatinya.
“Ayuni, apa yang diceritakan oleh Kinan tentangku? Jujur
saja.”
“Aku tidak tahu banyak Kang. Hanya saja dia menangis tersedu
di bahuku dan mengatakan betapa dia merinduimu. Betapa kamu tega untuk
menghukumnya seperti ini. Menggantung tak bertali. Itu saja.”
Ayuni benar-benar memilih untuk jujur. Kang sudah layaknya
seperti kakaknya sendiri. dia khawatir apa yang keluar dari bibirnya justru
nanti membuat kondisi antara Jehan dan Kinan bertambah buruk. Atau sebaliknya
akhibat kata-katanya menumbuhkan harapan palsu buat Jehan.
“Apa yang kau pikirkan tentangku setelah mendengarkan itu?”
“Pentingkah apa yang aku fikirkan?” Heran.
“Iya, penting buatku”
“Dia temanku. Kamu juga. Tidak adil aku menghakimi tanpa
mengetahuinya darimu. Jadi aku memutuskan untuk tidak berpendapat. Bagiku, bila
antara dua hati sedang berkonflik, bukan persoalan siapa yang salah dan siapa
yang benar. Tapi hanya persoalan jiwa yang tidak serasi atau memang bukan
jodoh.”
“Terima kasih. Sebenarnya
kamu bukan orang pertama yang diceritakan oleh Kinan. Tapi aku benar-benar
berharap kamu yang terakhir. Semua yang pernah mengenaliku dan mengenalinya
tahu. Kisah itu sepertinya sudah menjadi kisah public. Kau tahu, aku sudah
lelah menjelaskannya berulangkali pada orang-orang dan aku sudah lelah juga
mengatakan padanya untuk berhenti.”
Diam sejenak.
Sungguh hatiku tidak
baik-baik saja. Sehari setelah kau memutuskan untuk mengakhiri semua ini, aku
telah memujuk hatiku agar tegar. Tapi percuma. Menyakitkan. Semua itu membuat
sesak. Dan untuk apa lagi kau kembali mencariku?
“Ceritaku sepertinya terlalu rumit Yuni. Meski jangka
waktunya singkat. Saat di dalamnya ada kesalahpahaman, dan ia mula melibatkan
pihak ketiga antara kami, hal ini menjadi lebih celaru. Kekecewaan membengkak. Kebencian
terlahir. Biar pangkal semua ini, aku juga sebenarnya tidak mengerti. Aku tidak
menyalahkannya. Aku juga mungkin lebih salah. Entahlah”
Jehan mendongak ke langit. Menatap purnama. Berusaha mengusir
rasa sesak yang ketat menyelimuti hati saat nama “Kinan” mengudara.
Aku tahu, selalu ada bagian
yang tidak masuk akal dalam perjalanan cinta. Tetapi lebih kerana, lihatlah
percakapan ini, hanya lebih membuat perkara menjadi kacau. Kecamuk dalam
hatiku. Kau telah membawa pergi bagian “tenang”nya.
“Separuh hatiku sudah pergi. Persis seperti sebuah daun
berbentuk hati yang diiris paksa oleh belati tajam. Dipotong dua. Dan aku sama
sekali tidak bisa mencegahnya. “
Jehan menahan Kristal yang mula terbentuk dimuara matanya. Takkan
dia biarkan Kristal itu jatuh. Untuk orang seperti Kinan, TIDAK AKAN PERNAH!!
“Ketika hati itu terkoyak separuhnya beberapa bulan yang
lalu, aku sudah bersumpah untuk menguburnya dalam-dalam. Berjanji untuk
berdamai meski takkan pernah kuasa untuk melupakan”
Ayuni menelan ludah- berusaha menjawab bijak-dia tahu itu
bohong
“Berdamailah dengan masa lalu. Tidak berdendam apapun. Menerima
apa adanya.” Senyum.
“Cinta bukan sekadar soal memaafkan Yuni. Cinta bukan
sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah
rasionalitas sempurna. Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrational, sesuatu
yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu
akan kembali menganga.”
Aku tahu kau
membutuhkan waktu untuk memahaminya Ayuni. Kerna aku juga belajar dari
pengalaman yang menyakitkan ini. Semoga kau tidak perlu melaluinya.
Kinan:
“Bagaimana Yuni, Jehan mahu menerimaku kembali? Dia baca suratku?
Apa yang dia katakan? Dia pasti mendengarkanmu kerna kamu temannya yang baik. Aku
yakin itu.. iya kan??” Wajah penuh harap
Yuni menghela napas. Menggeleng. Negative.
Airmata Kinan berhembur lagi. Entah untuk keberapa kali.
“Aku salah. Aku salah. Aku tidak harusnya mencampakkan dia
dulu. Aku tidak harus memaksanya hingga sekarang. Sungguh aku menyesal. Tidak bisakah
dia mengerti itu? Tidak bisakah dia memaafkan aku? Aku sudah berusaha meminta
maaf melalui semua orang. Tapi kenapa dia masih keras untuk menerimaku.. semua
kerna Fardi”
“Fardi??” Yuni yang pertamanya malas ikut campur jadi
terpancing.
“Iya. Sebelum aku mengenal Jehan, aku sudah terlanjur
menyintai Fardi. Dia satu projek denganku sewaktu program akhir dulu. Aku
menyintai Fardi dari pertama aku mengenalinya. Kau tahu, Fardi memang sosok
pemuda salih yang baik dan gentlemen. Kami sering diganggu-ganggu dan
digosipkan dikalangan teman-teman. Mungkin kerna kedekatan kami. AKu tahu, dia
juga menyukaiku. Aku yakin itu. Hingga satu saat, dia membuat pernyataan di
depan semua,
'Saya, tidak akan pernah pacaran sama siapapun. Titik!'"
Pernyataanmu itu telah
meranapkan dua pertiga dari jiwaku Far. Dan kau mungkin tidak tahu itu. Beberapa
waktu aku tenggelam dalam keterpurukanku, kecewa dengan penolakan halusmu
hinggalah Arsya dan Santi yang mengerti kegalauanku, memperkenalkan Jehan
menggantikan posisimu, dihatiku. Ya, bermula dari pertemuan singkat, sewaktu
Jehan diundang ke acara pembukaan tapak projek kita. aku tahu Jehan laki-laki
yang baik. Alim. Terpercaya. Kau lihat juga kan, betapa perhatiannya membuat ia
sanggup meredah pekatnya malam sewaktu menghantarkanku obat sewaktu maag ku
kambuh. Padahal jarak tapak projek kita sangat jauh dari kota. Kau lihat
sendiri bukan? Aku yakin, Jehan akan menyayangiku setulus hatinya. Dan aku
memutuskan untuk menjalani saja hubungan kami ini. Benar, hubungan ini
mulus-mulus saja hingga kau kembali untuk mengatakan itu.
Bahwa aku yang terlalu
terburu-buru memutuskan. Bahwa kau tidak ingin berpacaran kerna kau ingin suatu
hari nanti, melamar diriku menjadi permaisuri hatimu.
Dan aku segera berlari
ke dalam lingkaran cintamu. Tanpa berpikir panjang bagaimana nanti dengan
hubunganku dan Jehan? Apa nanti yang akan dikatakan Jehan? Sudahlah, mungkin
jehan hanyalah ujian Tuhan buat menguji perasaan kau dan aku.. bukankah??
Kecemburuanmu Far,
membuat aku perlahan menjauhi Jehan. Aku tahu Jehan merasainya. Menangkap baying
hambar yang mula menggelayut. Namun, apalah aku untuk menangkis cinta yang
sememangnya milikmu?Jehan, benar adalah orang yang wajar untuk kau cemburui
Fardi. Hampir saja aku menyerahkan semua berkas cinta ini padanya. Tapi, kerna
kau berjaya merebutnya kembali sebelum ia kuhulurkan, hingga kau membuat aku
tegar menolak kedatangan Jehan dalam kuyup guyuran hujan semata bertemu denganku.
Mengabaikan telpon-telponnya biar berkali mencoba untuk meraihku. Menghapus smsnya
yang memenuhi kotak pesan. Jehan yang sungguh kusia-siakan kerna cintamu. Dan akhirnya,
kau pergi… meninggalkanku sendiri.
Ayuni:
Ini kedengarannya tidak adil!
“Jehan tahu alasanmu meninggalkannya demi Fardi?”
“Tidak. Aku bahkan tidak pernah memberi kata putus apapun
berkaitan kami. Dia juga. Hilang begitu saja terbawa arus. Dia bahkan tidak
pernah tahu soal Fardi.”
“Jika satu hari nanti, Fardi datang padamu dan memintamu
kembali padanya, apakah kau akan meninggalkan Jehan lagi?”
“Aku tidak tahu Yuni. Yang aku tahu sekarang, aku
membutuhkan Jehan. Dan harus disisiku. Ahhhh, dasar jahat!!pecundang!!”
Ayuni menggenggam botol minuman yang dipegangnya. Tidak menyangka
ada cerita begitu sebalik semua kejadian ini. Dari bibir Kinan. Tidak percaya..
Apa salah Jehan hingga
semudah itu kau jadikan bahan permainan? Kau menjabarkan kisah sedihmu kepada
semua orang dan memposisikan Jehan dalam sangkar orang bersalah, hanya untuk meraih
simpati dari orang banyak?
Kau menganggapnya
jahat kerna dia tidak kembali padamu saat kau mahu? Kau menggelarnya pecundang
kerna dia mencoba untuk melindungi sekeping hatinya yang terluka keranamu? Haruskah
dia kembali padamu Kinan, setelah kau cabik-cabik jiwanya menjadi
berkeping-keping. Jehan tidak pernah pacaran. Dan saat dia menyayangimu, dia
memberikan separuh dari jiwanya untukmu. Maaf Kinan, aku tidak mahu menghakimi
kisah cintamu. Aku yakin ada banyak cerita antara kalian yang membuat kondisi
berada dipondisi terberat ini. Cerita ini sungguh adalah lelucon yang tidak
lucu.
“Kenapa baru sekarang kau mahu kembali kepada Jehan?”
“ Kerna aku baru sadar, aku selama ini salah. Tapi aku
terlalu egois untuk mengakuinya. Aku sadar, tidak ada yang mampu memberikan
perhatian padaku seperti Jehan, tidak ada yang menyintaiku setulus dia."
Yuni mengetap bibir.
“Aku akhirnya tahu apa sesungguhnya yang membuat kita mampu
merindukan sesuatu. Yaitu kepergian. Seperti bahwa bintang hanya terlihat
terang kerana langit ditelan gelap malam. Seperti pelangi membutuhkan hujan
agar lengkungnya bisa dibentuk awan.”
Ya.. paradox paradox hidup yang mahu tidak mahu harus juga
kita hidup dengannya.
“Seperti bahwa kami tahu kami saling sayang justru pada saat
kami melepaskan. Kerna adakala diperlukan jarak untuk membuat kita merasa
dekat. Kerna adakalanya justru perpisahanlah yang membuat kita menyedari
sesungguhnya kita saling cinta”
Kinan, kau terlalu
banyak membaca novel. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi dihati,
tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi kerna kau
tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih. Tidak kurang.
Kinan, aku tidak akan
mungkin akan menjabarkan kisah sadis ini
pada Jehan. Kerna aku tidak berharap dia akan tambah membencimu. Kinan, jangan
lumpuhkan dia dengan airmatamu hanya untuk melukainya lagi di akhir ceritamu. Kerna
dia juga memiliki hati untuk dihargai. Saat kau sudah memilih satu dari
cintamu, belajarlah untuk bertahan biar apapun konsekuensinya. Jangan jadikan
Jehan persinggahanmu untuk melampiaskan emosi sesaat kerna Jehan juga berhak
bahagia.
Buatmu Kang. Sungguh aku
salut padamu. Benarlah katamu, kadang, bersifat keras dan tegas itu perlu. Inilah
yang dikatakan, patah hati, tapi tetap gengsi!! Patah hati, tapi tetap keren!!
[presenting a random love story for a competition. it just to brought up the effect of different type of writing. 1st trial always bad!!]





Suka..
Merintang masalah berat untuk sekeping hati yang sederhana!!!
Menjadi Ayuni yang tak ingin berat sebelah..mencoba komit dengan pendirian dan kesalahan waktu yang membuatnya terlibat dalam tragedi cinta yang menenggelamkan rasa terima kasih.
*Saya cukup bingung bacanya karena JEHAN nama cewek kak sebenarnya..karakter cowoknya jadi terasa hambar!!!ckck!!!tapi secara keseluruhan keren.. :)