Skinpress Rss

Khamis, 24 Januari 2013

FORENSIC AND MEDICOLEGAL DEPARTMENT

0



Alhamdulillah menyelesaikan kepanitraan Forensic dan Medicolegal seperti yang diwajibkan. 6 minggu. Dari 17 Disember 2012 hingga 26 Januari 2012.. (wah setahun yah..hihi).. hari ini ujian. Dengan Prof.Dr.dr. Gatot S. Lawrence, SpPA(K), Msc.DMF,SpF. Sama panjang gelar didepan dan belakang nama beliau. Dan beliau sungguh adalah seorang dosen (lecturer) yang super sekali. Sepanjang 6 minggu dalam pimpinan beliau mengajar banyak hal yang sangat berguna buat diri.

Minggu pertama, kami diharuskan stase di Laboratorium Patologi Anatomi yang terletak di Kandea. Satu tempat yang jauhnya hampir 45 menit dari asrama. Disini, kami diajarkan dasar atau refresh teori-teori yang sebenarnya sudah kami pelajari sewaktu pre-clinic dulu. Dalam minggu ini juga kami mendapat tugas untuk menyempurnakan tugasan mind-mapping berkenaan judul yang harus kami kuasai dan juga mendapat tugasan untuk mengikuti CSL atau menyiapkan contoh Visum et Repertum (surat keterangan saksi) berkenaan luka dan kasus penganiyaan. Dari “mock-clinic” ini kami diharapkan lebih terlatih dan kompiten untuk menangani korban sebenar pada minggu kedua dan seterusnya nanti.

Minggu kedua. Kami mulai harus bertugas di rumah sakit. Dimana pada minggu ini kami dijadualkan untuk stase di RS Wahidin Sudirohusodo yang dekat dengan rumah. Memandangan kami banyak, jadi jadual jaga tidak terlalu melelahkan. Paling kami mempunyai pekerjaan utama untuk memperbaiki Ver yang sudah lama dan harus kami kembalikan kepada pihak polisi. Nah, disini mulai kami diharuskan standby di Rumah Duka alias KAMAR MAYAT. Bayangkan saja, mendengar bunyi brangkar (tempat jenazah) diseret dan raungan keluarga sudah makin terbiasa menemani tidur kami. Kadang tidur bersampingan dengan jenazah yang baru akan dibawa pulang oleh keluarga. Sewaktu ini, baru terfikir waktu kecil dulu, ada perbualan seperti ini:

P: adik, nanti besar nak jadi apa?
A: nak jadi doctor
P: eeiii..kalau jadi dokter, nanti kena tidur dengan mayat….eeiii
A: ……..
D: taklah.. tipu je tuh

Padahal memang benar itu terjadi. HARUS TIDUR DENGAN MAYAT!!
Never lies to children please!!

Cuma dalam tanda kutip bukanlah seperti dicerita-cerita horror di televisi yang tidurnya baku sebelah dengan mayat dengan ikatan pochong disamping dan sebagainya. Hanya saja ruangan bersebelah. Tapi apa yang mahu ditakutkan.. bukankah ALLAH Maha Melihat, ALLAH Maha Mendengar dan Allah Maha Menyaksikan..haha

Minggu ketiga masih bertugas di RS WS gara-gara tidak ada koass yang masuk dibawah minggu kami, jadi kami terpaksa dibahagi dua dan masih bertugas di rumah sakit ini. Jadinya jadual jaga agak menumpuk dan memandangkan kami hanya 2 team, maka kami terpaksa oncall (jaga gawang) each off day alias selang satu hari. Jadinya akrab deh sama teman team, memandangkan hampir tiap hari kami tidur bareng dirumah sakit. Untung kamar koass yang disediakan lumayan hingga kami betah.

Minggu keempat, kami ditugaskan di RS Bhayangkara yang terletak di Mappaodang, lebih jauh dari kota. RS ini adalah RS polisi alias kapan melihat pasiennya dan saat dokter menjelaskan sesuatu penyakit pasien bahkan bertanya “dokter pasti? Bagaimana jika terbukti yang sebaliknya?” hadoii.. semua orang dalam brangkar orang bersalah. Namun disinilah inti dari forensic ini sendiri. kami dihujani pelbagai kasus yang harus kami lakukan sendiri prosedur pemeriksaannya. Baik dari anamnesis pasien, hingga melakukan pemeriksaan, mendokumentasikan dalam bentuk foto mahupun barang bukti lainnya. Dan juga membuat surat keterangan ahli (Surat Visum et Repertum). Tanpa pengawasan secara lansung oleh dokter residen PPDS. Cuma laporan yang kami lakukan akan dikoreksi atau diperiksa oleh dokter polisi spesialis forensic yang bertugas disana. Dr.Eko, Sp.F yang baik hati lagi tidak sombong.  Disini kami belajar bagaimana menangani korban kasus penganiyaan, pemerkosaan yang paling banyak hinggalah visum korban mati. Tapi untuk kasus visum korban mati kami ditetap ditemani lansung oleh dr.Eko. nah disini kami diajarkan untuk bersikap teliti dan tidak melewatkan satu pun bahan bukti. Kami juga sering ditemani beberapa pegawai polisi sebagai saksi bahwa kami menjalankan tindakan sesuai surat permintaan polisi dan sesuai dengan standar prosedur operational.


Selain tugas harian dan tanggungjawab kami untuk mengurus korban, kami juga wajib melaporkan kasus yang kami dapatkan pada residen tiap paginya. Jika kelompok kami ke kandea untuk melapor, maka kelompok yang satu akan standby dibhayangkara. Begitulah tiap harinya. Setiap hari dirumah sakit.

Minggu kelima. Kami kembali bertugas diKandea. Minggu ini kami dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas refarat dan sebagainya serta persiapan untuk ujian. Minggu keenam, semua ko-ass harus sudah ujian. System baru yang diberlakukan adalah semua koas yang keluar dari bagian ini harus dengan nilai.
Secara kesimpulan, forensic sangat melatih diri menjadi lebih peka dan teliti dalam berpikir. Seperti kata Prof.Gatot, kebenaran itu hanya satu dan ia bersifat universal.







0 ulasan:

Catat Ulasan