Skinpress Rss

Selasa, 10 Julai 2012

SURGERY POSTING

0



Berakhir sudah one of the most critical part of my co-assistant life. S-U-R-G-E-R-Y Department. 11 minggu yang penuh suka duka dan pembelajaran bermakna untuk menempuh hidup. Baik dari mengenal “Dunia Rumah Sakit”, sikap para dokter, rakan sejawat dan gossip-gosip supervisor.

Bermula dengan “warming up”di UGD pada minggu 1. Disitu, titik paling “peak” yang menguji stamina mental, emosional, dan fisikal. Kami dituntut untuk standby di A&E department 7x24 jam full. Waktu makan, solat, dan istirehat harus diatur antara kami ber sebelas orang supaya ada tim yang tetap siaga ditempat. Di UGD inilah inti kepada skill yang harus kami dapatkan dan kami asah sebagai bekal menjadi seorang dokter nanti. Sebaik kedengaran siren UGD lebih dari 2kali, kami sudah siap siaga.. pasien baru yang masuk, segera dimulakan dengan primary survey.. lagi-lagi Airway-Breathing-Circulation-Disability-Exposure sebelum dilanjut dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium rutin seperti darah rutin, foto X-ray Thorax PA, semua specimen yang diperlukan harus kita ambil sendiri. Mengambil darah, meski yang pertama agak gementaran, tapi lama kelamaan terbiasa. Infuse, catheter harus dipasang sendiri. kami juga diberi peluang untuk melakukan hecting. Mahu dikaki, tangan, kepala, leher, wajah mahupun di perut. Tergantung kita rajin mencari peluang dan berani untuk melakukannya. Diri juga banyak kali berpeluang melakukan sendiri procedure cross-section bagi pasien yang terpijak paku atau digigit anjing bagi mengelakkan pembiakan kuman tetani terus membiak subur ditempat luka.

Minggu ke 2, mulai memasuki subdivisi yang lebih spesifik dalam department surgery. Apalagi bedah memang merupakan bagian yang paling luas hingga kita memerlukan pengarahan yang lebih menjurus untuk memudahkan pembelajaran kita. minggu kedua diri terpilih untuk berada di Subdivisi Bedah Saraf. Kerna teman mingguku yang izin libur dan tidak jadi masuk, terpaksa diri berkorban dengan jaga 4 sepanjang minggu tersebut. System oncall di bedah berbeda dengan bagian lain. Di bedah memakai system jaga 1 hari full. 4 hari jaga berarti 4 hari berada dirumah sakit. Untung dokter yang bertangungjawab terhadap kamarku seorang dokter yang bertanggungjawab lagi tidak lokek ilmu. Tiap hari diri diajar bagaimana untuk belajar dibagian ini. Apa yang paling penting untuk diketahui. Penyakit paling banyak yang diri dapatkan dibagian ini tergubung dengan kasus trauma. Epidural Hemorrhage, Subdural hemorrhage, intracerebral hemorrhage, subgaleal hematoma. Bagaimana membedakan penyakit-penyalkit ini dari CT Scan, menentukan luas perdarahan dan terapi yang tepat untuk diberikan. Selain itu ada juga kasus congenital seperti hidrosefalus, tumor dan sebagainya.

Minggu ke 3 berpindah ke subdivisi Ortopedi. Di rumah sakit luar. RS Hikmah. Memandangkan diri adalah anak malay dan betapa Prof.C yang begitu suka hingga tahap fanat dengan “anak malay”, harusnya minggu atas baru diberikan stase di Ortopedi, namun diri diberikan stase disana kerna direquest oleh Prof. disebabkan RS Hikmah letaknya jauh dari Tamalanrea, tempat diri ngekost kontrakan, maka terpaksa berangkat seawal jam 7 pagi.kerna Prof biasanya sudah ada di RS jam 7.30. jadual insulinnya. Sekalian visite pagi dan duduk di poliklinik jika tidak ada operasi yang berjalan untuk hari itu. Kami terbebas dari short case dan long case Ortopedi gara-gara Prof meminta kami (diri dan teman sejawat) membantu beliau edit mengedit slide kerjasamanya dengan specialist ortopedi dari Malaysia untuk dibacakan di symposium internasional beberapa bulan lai. Sebenarnya slide tersebut sudah lengkap, sisa dikonfirmasi sumber yang valid untuk pernyataan yang dinyatakan di slide. Itu bukan kerja yang payah. Prof sering traktir makan siang meski kami sebenarnya lebih suka makan Bakso Mas Marten disisi RS tersebut. Jadilah kami terpaksa menjadikan bakso sebagai menu makan pagi sementara menemani Prof makan pada waktu makan siang sebelum beliau pulang untuk istirehat siang. Pernah juga Prof member peluang kepada diri untuk menjadi asisten 1 dalam operasi ortopedinya. Habis dikesampingkan dokter-dokter residen yang ada. Meski gementaran namun Prof baik dan bermurah hati untuk mengajar diri baik-baik. Pernah melihat operasi osynmor atau pemasangan besi bundar sebagai mengganti head of femur yang patah gara-gara trauma kecil pada wanita usila.

Minggu 4 dirolling masuk ke bagian Bedah Onkologi. Berbagai jenis tumor diri ketemui. Tapi paling banyak dan tersering itu adalah cancer mammae familial adenoma mamae (FAM), tumor tiroid, atau struma Nodusa non-Toxic (SNNT), penting untuk dibedakan samada nodul bersifat toksik atau tidak. Ini sangat penting kerna mempengaruhi pengobatan kemudiannya. Ada lagi tumor ameloblastoma dan yang lainnya. Diri sempat beberapa kali mengikuti proses kemoterapi. Obat-obat kemoterapi akan dicampurkan oleh dokter dan kami ditugaskan untuk menjalankan obat-obat kemo mengikut waktu yang ditetapkan. Dari situ juga diri belajar apa-apa saja yang digunakan sebagai obat kemo dan apa yang diperlukan sebagai pre-medication atau obat profilaksis yang akan menghalang atau mengurangi efek samping obat kemoterapi. Botol-botol obat kemoterapi ditandai dengan angka I, II, III dan IV. Semua ada aturan mainnya.
Minggu 5 agak santai di subdivisi Bedah Plastik. Paling banyak kasus yang ditangani di subdivisi ini adalah kasus-kasus kontraktur akibat dari post combustio. Banyak juga kasus luka bakar dari pelbagai grade. Luka dan jenis-jenis vulnus yang lainnya. Untuk penanganan gawat kami diajarkan prinsip-prinsip balance cairan, selain itu juga diajarkan tentang teknik flapping dan grafting. Sering juga dibincangkan berkenaan trauma inhalasi, trauma di tempat kerja dan sebagainya.

Minggu 6. Subdivisi Bedah Digestif. Subdivisi yang berat juga. Disini kami dituntut untuk tahu tentang bnanyak hal. Mungkin kerna makanan adalah sumber penyakit. Maka kami bukan Cuma diajar mendiagnosis bahkan diajar juga hal yang penting seperti mengganti bekas colostomy, spooling intestine. Menjijikkan tapi harus dilakukan. Kami juga ditekankan untuk melihat sendiri kasus ileus obstruktif, ileus paralitik, tumor rectum yang khas dan sebagainya. Pernah juga diri mengikuti satu operasi pada anak yang lahir dirawat  di NICU dengan diagnosis Gastroskisis yang mana seluruh organ dalamannya terhembur keluar tanpa kantong yang melindunginya.

Minggu 7. Subdivisi Bedah Anak.  Subdivisi yang paling diri sukai.. bedah anak. Mencabar dan seru kerna pasiennya anak-anak. Penyakit pada anak-anak ada macam-macam. Dari hernia inguinalis lateralis hinggalah tumor-tumor. Kenapa anak memerlukan ilmu bagian bedah tersendiri kerna bagian ini meski kelihatan sederhana namun, ia sebenarnya tidak sesederhana yang dipikirkan. Kerna fisiologi anak-anak agak berbeda dengan orang dewasa. cara penanganannya juga berbeda.

Minggu 8. Subdivisi Bedah Toraks Kardiovaskuler (BTKV). Dari hari minggu dating melapor, sudah mulai gege (gaduh gelisah) menghapal pasien dan diagnosis serta menghapal semua tempat-tempatnya. Hingga kami punya peta tersendiri yang menunjukkan dimana lokasi pasien. Begitu memang resminya bagian BTKV. Banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Namun kerna itu kita belajar banyak. Mengenali pasien benar-benar secara detail. Tahu kapan mereka masuk, apa keluhan utamanya. Tahu apa yang tejadi pada mereka. Sudah diterapi dengan apa, mahu di follow up apa.  Setiap pagi menunggu di bangsal Palem Bawah dengan penuh debaran. Menanti “permainan baru” dari big boss.. kapan dibilang “naik OK”, semua bergegas ke ruang operasi sentral, mengganti pakaian dan menunggu di depan kamar operasi nomor 8. Kamar Operasi BTKV. Kapan dibilang “visite” berarti kami akan membagi diri memimpin kamar yang masing-masing bertanggungjawab, sebelum beliau menunjuk “kamu, jadi leader”.. BERATT!! Kadang koass yan menjadi mangsa, tapi kadang dokter residen juga turut terlibat. Sama saja. Jadi koass dan residen juga berkerjasama demi keselamatan bersama.

Minggu 9. Bedah Urologi. Bagian big boss paling besar di bedah. Prof.AMP yang Maha teliti dalam segenap hal. Kata orang, keluar mulut harimau masuk ke mulut singa. 2 minggu yang memerlukan kami untuk tetap siaga dan standby hampir 22 jam di rumah sakit. Dating seawal jam 7 pagi dan pulang jam 10 malam hampir setiap hari. Hingga kadang tidak jelas juga apa yang di”gege”kan. Di urologi kami diperkenalkan dengan penyakit-penyakit yang banyak dimasyarakat seperti benign prostate hyperplasia, nephrolithiasis, urolithiasis dan sebagainya. Kami juga diperkenankan untuk mengikuti operasi yang mengangkat ginjal parsial atau total serta pengangkatan batu ginjal.

Minggu 10. Stase Luar Negeri. Kalau dulu “luar negeri”nya benar-benar luar dari kota Makassar, tapi sekarang Luar Negeri Cuma di rumah sakit pendidikan sebelah asramaku dan dirumah sakit  Ibnu Sina. Tempat biasa LN. tapi tetap saja banyak pengalaman yang didapatkan meski Cuma beberapa hari di setiap rumah sakit. Lebih banyak mempelajari cara menangani outpatient. Atau pasien control. Apa yang harus di follow up dan bagaimana memberikan inform concern yang baik kepada pasien.

Minggu 11. Pengumpulan berkas, diundi nama penguji dan persiapan untuk ujian sudah. Kami dituntut membuat 3 status pasien dari subdivisi yang berbeda dan kasus yang diangkat sebagai kasus panjang atau long case (disertakan discussion) mengikut subdivisi penguji masing-masing.

0 ulasan:

Catat Ulasan