Berakhir sudah one of the most critical part of my
co-assistant life. S-U-R-G-E-R-Y Department. 11 minggu yang penuh suka duka dan
pembelajaran bermakna untuk menempuh hidup. Baik dari mengenal “Dunia Rumah
Sakit”, sikap para dokter, rakan sejawat dan gossip-gosip supervisor.
Bermula dengan “warming up”di UGD pada minggu 1. Disitu,
titik paling “peak” yang menguji stamina mental, emosional, dan fisikal. Kami dituntut
untuk standby di A&E department 7x24 jam full. Waktu makan, solat, dan
istirehat harus diatur antara kami ber sebelas orang supaya ada tim yang tetap
siaga ditempat. Di UGD inilah inti kepada skill yang harus kami dapatkan dan
kami asah sebagai bekal menjadi seorang dokter nanti. Sebaik kedengaran siren
UGD lebih dari 2kali, kami sudah siap siaga.. pasien baru yang masuk, segera
dimulakan dengan primary survey.. lagi-lagi
Airway-Breathing-Circulation-Disability-Exposure sebelum dilanjut dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium rutin seperti darah rutin, foto X-ray
Thorax PA, semua specimen yang diperlukan harus kita ambil sendiri. Mengambil
darah, meski yang pertama agak gementaran, tapi lama kelamaan terbiasa. Infuse,
catheter harus dipasang sendiri. kami juga diberi peluang untuk melakukan
hecting. Mahu dikaki, tangan, kepala, leher, wajah mahupun di perut. Tergantung
kita rajin mencari peluang dan berani untuk melakukannya. Diri juga banyak kali
berpeluang melakukan sendiri procedure cross-section bagi pasien yang terpijak
paku atau digigit anjing bagi mengelakkan pembiakan kuman tetani terus membiak
subur ditempat luka.
Minggu ke 2, mulai memasuki subdivisi yang lebih spesifik
dalam department surgery. Apalagi bedah memang merupakan bagian yang paling
luas hingga kita memerlukan pengarahan yang lebih menjurus untuk memudahkan
pembelajaran kita. minggu kedua diri terpilih untuk berada di Subdivisi Bedah
Saraf. Kerna teman mingguku yang izin libur dan tidak jadi masuk, terpaksa diri
berkorban dengan jaga 4 sepanjang minggu tersebut. System oncall di bedah
berbeda dengan bagian lain. Di bedah memakai system jaga 1 hari full. 4 hari
jaga berarti 4 hari berada dirumah sakit. Untung dokter yang bertangungjawab
terhadap kamarku seorang dokter yang bertanggungjawab lagi tidak lokek ilmu. Tiap
hari diri diajar bagaimana untuk belajar dibagian ini. Apa yang paling penting
untuk diketahui. Penyakit paling banyak yang diri dapatkan dibagian ini
tergubung dengan kasus trauma. Epidural Hemorrhage, Subdural hemorrhage,
intracerebral hemorrhage, subgaleal hematoma. Bagaimana membedakan
penyakit-penyalkit ini dari CT Scan, menentukan luas perdarahan dan terapi yang
tepat untuk diberikan. Selain itu ada juga kasus congenital seperti
hidrosefalus, tumor dan sebagainya.
Minggu ke 3 berpindah ke subdivisi Ortopedi. Di rumah sakit
luar. RS Hikmah. Memandangkan diri adalah anak malay dan betapa Prof.C yang
begitu suka hingga tahap fanat dengan “anak malay”, harusnya minggu atas baru
diberikan stase di Ortopedi, namun diri diberikan stase disana kerna direquest
oleh Prof. disebabkan RS Hikmah letaknya jauh dari Tamalanrea, tempat diri
ngekost kontrakan, maka terpaksa berangkat seawal jam 7 pagi.kerna Prof
biasanya sudah ada di RS jam 7.30. jadual insulinnya. Sekalian visite pagi dan
duduk di poliklinik jika tidak ada operasi yang berjalan untuk hari itu. Kami terbebas
dari short case dan long case Ortopedi gara-gara Prof meminta kami (diri dan
teman sejawat) membantu beliau edit mengedit slide kerjasamanya dengan
specialist ortopedi dari Malaysia untuk dibacakan di symposium internasional
beberapa bulan lai. Sebenarnya slide tersebut sudah lengkap, sisa dikonfirmasi
sumber yang valid untuk pernyataan yang dinyatakan di slide. Itu bukan kerja
yang payah. Prof sering traktir makan siang meski kami sebenarnya lebih suka
makan Bakso Mas Marten disisi RS tersebut. Jadilah kami terpaksa menjadikan
bakso sebagai menu makan pagi sementara menemani Prof makan pada waktu makan
siang sebelum beliau pulang untuk istirehat siang. Pernah juga Prof member peluang
kepada diri untuk menjadi asisten 1 dalam operasi ortopedinya. Habis dikesampingkan
dokter-dokter residen yang ada. Meski gementaran namun Prof baik dan bermurah
hati untuk mengajar diri baik-baik. Pernah melihat operasi osynmor atau
pemasangan besi bundar sebagai mengganti head of femur yang patah gara-gara
trauma kecil pada wanita usila.
Minggu 4 dirolling masuk ke bagian Bedah Onkologi. Berbagai jenis
tumor diri ketemui. Tapi paling banyak dan tersering itu adalah cancer mammae
familial adenoma mamae (FAM), tumor tiroid, atau struma Nodusa non-Toxic
(SNNT), penting untuk dibedakan samada nodul bersifat toksik atau tidak. Ini sangat
penting kerna mempengaruhi pengobatan kemudiannya. Ada lagi tumor ameloblastoma
dan yang lainnya. Diri sempat beberapa kali mengikuti proses kemoterapi. Obat-obat
kemoterapi akan dicampurkan oleh dokter dan kami ditugaskan untuk menjalankan
obat-obat kemo mengikut waktu yang ditetapkan. Dari situ juga diri belajar
apa-apa saja yang digunakan sebagai obat kemo dan apa yang diperlukan sebagai
pre-medication atau obat profilaksis yang akan menghalang atau mengurangi efek
samping obat kemoterapi. Botol-botol obat kemoterapi ditandai dengan angka I,
II, III dan IV. Semua ada aturan mainnya.
Minggu 5 agak santai di subdivisi Bedah Plastik. Paling banyak
kasus yang ditangani di subdivisi ini adalah kasus-kasus kontraktur akibat dari
post combustio. Banyak juga kasus luka bakar dari pelbagai grade. Luka dan
jenis-jenis vulnus yang lainnya. Untuk penanganan gawat kami diajarkan
prinsip-prinsip balance cairan, selain itu juga diajarkan tentang teknik
flapping dan grafting. Sering juga dibincangkan berkenaan trauma inhalasi,
trauma di tempat kerja dan sebagainya.
Minggu 6. Subdivisi Bedah Digestif. Subdivisi yang berat
juga. Disini kami dituntut untuk tahu tentang bnanyak hal. Mungkin kerna makanan
adalah sumber penyakit. Maka kami bukan Cuma diajar mendiagnosis bahkan diajar
juga hal yang penting seperti mengganti bekas colostomy, spooling intestine. Menjijikkan
tapi harus dilakukan. Kami juga ditekankan untuk melihat sendiri kasus ileus
obstruktif, ileus paralitik, tumor rectum yang khas dan sebagainya. Pernah juga
diri mengikuti satu operasi pada anak yang lahir dirawat di NICU dengan diagnosis Gastroskisis yang
mana seluruh organ dalamannya terhembur keluar tanpa kantong yang
melindunginya.
Minggu 7. Subdivisi Bedah Anak. Subdivisi yang paling diri sukai.. bedah anak.
Mencabar dan seru kerna pasiennya anak-anak. Penyakit pada anak-anak ada
macam-macam. Dari hernia inguinalis lateralis hinggalah tumor-tumor. Kenapa anak
memerlukan ilmu bagian bedah tersendiri kerna bagian ini meski kelihatan
sederhana namun, ia sebenarnya tidak sesederhana yang dipikirkan. Kerna fisiologi
anak-anak agak berbeda dengan orang dewasa. cara penanganannya juga berbeda.
Minggu 8. Subdivisi Bedah Toraks Kardiovaskuler (BTKV). Dari
hari minggu dating melapor, sudah mulai gege (gaduh gelisah) menghapal pasien
dan diagnosis serta menghapal semua tempat-tempatnya. Hingga kami punya peta
tersendiri yang menunjukkan dimana lokasi pasien. Begitu memang resminya bagian
BTKV. Banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Namun kerna itu kita belajar banyak.
Mengenali pasien benar-benar secara detail. Tahu kapan mereka masuk, apa
keluhan utamanya. Tahu apa yang tejadi pada mereka. Sudah diterapi dengan apa,
mahu di follow up apa. Setiap pagi
menunggu di bangsal Palem Bawah dengan penuh debaran. Menanti “permainan baru”
dari big boss.. kapan dibilang “naik OK”, semua bergegas ke ruang operasi
sentral, mengganti pakaian dan menunggu di depan kamar operasi nomor 8. Kamar
Operasi BTKV. Kapan dibilang “visite” berarti kami akan membagi diri memimpin
kamar yang masing-masing bertanggungjawab, sebelum beliau menunjuk “kamu, jadi
leader”.. BERATT!! Kadang koass yan menjadi mangsa, tapi kadang dokter residen
juga turut terlibat. Sama saja. Jadi koass dan residen juga berkerjasama demi
keselamatan bersama.
Minggu 9. Bedah Urologi. Bagian big boss paling besar di
bedah. Prof.AMP yang Maha teliti dalam segenap hal. Kata orang, keluar mulut
harimau masuk ke mulut singa. 2 minggu yang memerlukan kami untuk tetap siaga
dan standby hampir 22 jam di rumah sakit. Dating seawal jam 7 pagi dan pulang
jam 10 malam hampir setiap hari. Hingga kadang tidak jelas juga apa yang di”gege”kan.
Di urologi kami diperkenalkan dengan penyakit-penyakit yang banyak dimasyarakat
seperti benign prostate hyperplasia, nephrolithiasis, urolithiasis dan
sebagainya. Kami juga diperkenankan untuk mengikuti operasi yang mengangkat
ginjal parsial atau total serta pengangkatan batu ginjal.
Minggu 10. Stase Luar Negeri. Kalau dulu “luar negeri”nya
benar-benar luar dari kota Makassar, tapi sekarang Luar Negeri Cuma di rumah
sakit pendidikan sebelah asramaku dan dirumah sakit Ibnu Sina. Tempat biasa LN. tapi tetap saja
banyak pengalaman yang didapatkan meski Cuma beberapa hari di setiap rumah
sakit. Lebih banyak mempelajari cara menangani outpatient. Atau pasien control.
Apa yang harus di follow up dan bagaimana memberikan inform concern yang baik
kepada pasien.
Minggu 11. Pengumpulan berkas, diundi nama penguji dan
persiapan untuk ujian sudah. Kami dituntut membuat 3 status pasien dari
subdivisi yang berbeda dan kasus yang diangkat sebagai kasus panjang atau long
case (disertakan discussion) mengikut subdivisi penguji masing-masing.

0 ulasan:
Catat Ulasan