Skinpress Rss

Isnin, 13 Ogos 2012

JUST IN TIME

0




Menguruskan imigrasi adalah hal yang paling ribet (leceh) yang harus dilakukan setiap kali mahu pulang kampung. Meski jarak sebenarnya tidaklah terlalu jauh, 3jam 30 menit dengan menaiki direct flight, namun keharusan untuk mengurus ERP (entrance re-entry permit), permit untuk masuk kembali ke Indonesia membuat rentang jarak seakan berganda puluhan kilo batu.

Paling kurang, ERP memakan masa 1 minggu untuk diurus. Mulai mendaftar nama di rektorat dan mendapatkan surat izin untuk membuat ERP, hinggalah setor berkas (install document permohonan) di Kantor Imigrasi yang berpusat di Sudiang, pembayaran permit (yang harus dilakukan setelah 2 hari kerja dari tarikh pemasukan boring permohonan) dan mengambil passport dan document lain yang telah selesai diproses juga 2 hari. Yang lebih ribet dari itu adalah menguruskan kartu pendudukan sementara atau izin tinggal terbatas (KITAS). Lebih banyak document dan proses yang harus dilakukan hingga menyebabkan stress tingkat tinggi atau istilahnya “haunted by immigration”. Benar-benar mimpi ngeri yang butuh kesabaran dan ketangguhan yang cukup tinggi.

Pengurusan kali ini tambah meningkatkan kadar stress yang sudah cukup tinggi. Bayangkan saja diri akan pulang ke kampung hari senin 2 minggu lagi. Dijanji KITAS ku selesai hari Jumatnya supaya sempat memasukkan berkas untuk ERP guna untuk pulang. Namun ternyata janji tinggal janji. Harusnya urusan KITAS sudah selesai dari 2 minggu sebelumnya namun disebabkan alasan “yang menandatangani KITAS pergi keluar negeri, maka tiada orang yang bisa menandatanganinya. Hanya itu. Harus menunggu dengan ketidakpastian. Ridiculous.. sabar.. sabar dan kuatkan kesabaran. Dibilang hari Senin baru bisa diambil. Aduh, menanti hari Senin benar-benar adalah sebuah penyiksaan..3 hari, banyak yang tumpang melintas dibenak. Jangan-jangan tidak sempat siap.. jangan-jangan masih belum ditandatangani.. jangan-jangan.. aisshh.. astagfirullahal adzim!! Kenapa keraguan menggelayut saat akal lelah membuat pertimbangan. Padahal ada Allah yang mengatur segalanya. Tawakkal saja.

Hari Senin pun tiba. Tapi sebuah penantian masih saja sia-sia. Tiada kepastian membuat diri terpaksa lagi menunggu sampai sore. Alih-alih jawaban yang diperoleh “datang lagi hari rabu”. Speechless. Mengecewakan. Baru selesai KITAS pada hari Rabu berarti peluang untuk pulang Senin setipis kertas. Ya Allah, mungkin tawakkalku yang belum total. Mungkin doa masih terhadang dek dosa-dosa yang menggunung. Astagfirullahal adzim.. Hanya Allah yang mampu menurunkan keajaiban sekarang.

Meski dijanji Rabu, tetap saja diri ke kantor imigrasi lagi hari selasanya. Memang sepertinya harusnya lebih berusaha di samping pasrah menyerah. Setelah menceritakan masalah diri kepada ibu yang bertugas, ibunya bilang “nda bisa saya kasi jaminan tapi sa usahakan”.terima kasih ibu.. itu sudah cukup membantu. Berusaha itu sudah cukup meringankan stress yang menggunung seperti fenomena gunung es dalam mindaku. Beberapa jam menunggu, akhirnya KITAS bisa diambil hari ini. Alhamdulillah.. Alhamdulillah benar-benar bantuan Allah yang mengatur segalanya. DIA uji kita sekejap untuk melihat reaksi dan cara kita merespon. Kemudian cepat-cepat DIA memberikan jalan keluar. Segera memasukkan berkas untuk membuat ERP. Paling sudah ringan sedikit proses yang akan dijalani.

Hampir saja menyusahkan ayah untuk membeli ulang tiket yang harganya melambung tinggi disebabkan musim lebaran yang kunjung menjengah. Hari Kamis dijanjikan untuk membayar ERP. Tapi itulah, ternyata Allah masih mahu menguji sekaligus meninggikan ambang batas kesabaran diri ini. Hari Kamisnya, tetap sama. Janji tinggal janji. Berkasnya belum selesai dikerja katanya. Aduh.. ini menyangkut pelayanan publik!! 

Ya Allah kuatkanlah kesabaran. Sabar dan kembali lagi besoknya, Jumat. Tetap saja sama. Belum selesai.. Masih berusaha untuk menggesa bapak yang dikantor atas menyelesaikan berkas tersebut. Kerna hukum sunnatullahpasti akan berlaku sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Jika diri tidak Berjaya membayar KITAS pada hari ini bermakna tiada sudah harapan untuk pulang kampung Senin nanti. Benar-benar sebuah ujian yang berat. Ya Allah, bantulah.. kurniakan daku kesabaran dari kekuatan yang bersisa. Setelah menunggu hingga sore, akhirnya, masih juga bantuan Allah menyelamatkan lagi kondisi. Berjaya menyelesaikan proses pembayaran ERP dengan lancar.hari Senin pagi baru bisa diambil KITAS dan passport.

Padahal hari Senin siangnya, diri bakalan berangkat pulang ke tanah air. Critical time. Sempat berpikir, kalau saja nanti Senin kembali ke kantor ini dan jawabannya “belum selesai” atau harus menunggu hingga sore baru bisa mengambil passport, aduh.. tapi tiba-tiba sukma berbisik, Allah telah membantuku 2 kali, kenapa masih meragukan kebaikan Allah untuk menyelesaikan kebuntuan kita?? iya akhirnya pasrah dengan kekuatan tawakkal. Kerna Allah lebih tahu mana yang terbaik. Tidak lagi mengharap bisa pulang 100%. Jika Allah berkehendak, maka diri akan pulang kampung sebagaimana yang direncanakan sedang jika Allah berkehendak sebaliknya, maka itulah yang terbaik buat diri.

“Kita merancang, Allah juga merancang dan Dia juga menentukan. Dan ketahuilah keputusan Allah itu adalah yang terbaik. Yakin itu!!”.

Alhamdulillah akhirnya Senin berjalanan lancar sesuai pengharapan yang terpanjat ke arasy Langit. Semuanya berlaku “just in time”.

Ahad, 12 Ogos 2012

TASIK a.k.a DANAU

0




Setiap orang pasti punya cara tersendiri saat masalah lagi menumpuk dipundak. Kita butuh jeda. Tapi bagaimana caranya memberI jeda pada diri terserah pada individu masing-masing. Ada yang suka pergi mall dan shopping sepuasnya, ada yang suka ke restoran dan makan yang enak. ada yang suka ke kolam dan melihat ikan berenang-renang. ada yang suka menanam pohon dan sebagainya. Bagi diri, menjadi kebiasaan, saat kepala tepu dengan sebarang masalah yang memuncak, atau kesedihan yang melanda pantai hati, suka untuk mengunjungi salah satu tasik/danau di kampus. Danau yang agak terpencil yang airnya selalu tenang dan menghangatkan perasaan.

Aku suka danau. Kadang hanya duduk-duduk dipinggirnya seakan bisa membuang dan menenggelamkan dalam-dalam masalah yang mengisi kepala. Kesedihan yang bagai gunung berapi pendam yang menunggu waktu mahu meletus. Belajar dari danau yang tenang, biar bagaimana kecamuknya didalam, ia tidak pernah menampakkannya pada permukaan. Dalamnya sarat rahsia dan padat cerita.. namun hanya dia dan Tuhan yang tahu. Ia tidak butuh pihak lain untuk turut mengadili, mengomentari mahupun memberi saran.. cukup dia jalaninya perlahan-lahan. Member ruang untuk waktu memulihkan segalanya. Iya. Aku mahu seperti itu.

Hari ini membawa seseorang ke danau ini. Iya, sepertinya orang yang semakin penting posisinya di hati ini. Adikku yang dikasihi.. ya aku ingin memperkenalkan tasik ini pada dia.. mungkin tidak penting-penting amat namun ia punya nilai tersendiri buat aku. Apalagi untuk momen-momen yang penting seperti sekarang. Sedenarnya sederhana saja. Tapi ternyata melewati jalanan ini bersama lebih seru dari sendirian.. thank you for everything sis..

Jumaat, 10 Ogos 2012

PROLOG RINDU

0



Dua tiga hari lagi
Kita akan terpisah dek rentang jarak dan waktu
Takkan ada lagi ucapan selamat pagi
Mahupun pesanan-pesanan usil yang menceriakan hari
Atau hanya sekadar ucapan berbuka tepat waktu

Berjauhan ini, takkan lama
Namun cukup membentang ruang rindu untuk mengalir mengisi jarah
Aku ingin membeli lebih banyak waktu
Agar kita bisa menpertautkan kebersamaan ini dengan lebih erat
Ku tidak tahu selama mana ia bisa bertahan
Tapi saat ia tercipta beriring bahagia dalamnya

Menatap wajahmu saja
Sudah melimpahkan rindu lewat batas empangan
Apalagi saat berjauhan denganmu
Pasti ia menjadi bah yang mengganas dan menenggelamkan
Biar kita hanyut di dalamnya, aku tidak peduli!!

Jika engkau merinduiku,
Hitunglah bintang-bintang di langit
Hingga ia luruh gugur ke dalam foto-foto bundar kita
Andai masih juga merinduiku
Bisikannya kepada angin malam
Biar ia membawa kabar waktu datang menziarahiku
Dan aku juga akan melakukan hal yang sama

Sungguh, ini adalah perpisahan sementara
Masih bisa mengatakan “sampai jumpa”
Namun aku tetap merasakan sekelumit sesal
Saat berpisah denganmu tanpa memelukmu dan menyatakan:
“terima kasih kerna sudi hadir dalam hidupku”

~amni_shamrah~
10 Agustus 2012
21.00 pm


Khamis, 9 Ogos 2012

TENDANGAN MAUT (LANGIT)

0


so..here you go..

“Lapangannya mahu disegel, Kang,” kata Aziz. Kami semua mendengar kalimat ini dan menoleh. Aku berlari mengejar bola hingga ke pinggir lapangan.menghentikannya, dan membawanya dengan tangan. Semua orang merapat.
“Disegel?” ulang Wolf.
“Disegel!” Aziz, mendongak menatap Wolf, berkata keras. Bangga memakai kosakata baru itu; segel.
“Apa yang disegel?” Jendra, terengah letih mendekat dengan kedua tangan dipinggangnya.
“Kata siapa?” Tanya Wolf, merendahkan suara.
“Kata Pak Winarno!” teriak Aziz, tanpa menyesuaikan intonasi.
Pak Winarno itu sekretaris desa.
“Apa yang disegel?” ulang Jendra.
“Bilang nggak kenapa disegel?” Tanya Wolf pelan—masih dalam tekanan suara khas penuh wibawa lulusan PM gontor dan Universitas Al-Azhar yang dibanggakan semua orang itu.
“Katanya berisik Kang, tiap sore mengganggu aktivitas mesjid dan ketertiban masyarakat. “ saat itu aku belajar bahawa kalimat copy-paste dari ingatan kanak-kanak memang sungguh canggih.
“Apanya yang disegel?” ulang Jendra lagi.
Jawab Aziz “Ini udah mau dipasang papan disitu, Kang…”
“WOI, APANYA YANG DISEGEL?!?” Jendra—stres.
“Lapangan…”jawab Wolf. Namun sebelum ia selesai dengan kalimatnya, semua orang dalam kerumunan tiba-tiba menoleh ke pinggir lapangan. Dari arah mesjid, bapak-bapak itu berdatangan. Pak Sekretaris  Desa berjalan paling depan. Ia membawa sesuatu yang dibungkus kertas Koran. Semacam papan. Di belakangnya, berjalan dua laki-laki gagah dalam seragam hijau dan topi hijau yang tidak lama kemudian menjadi sangat popular dalam sebuah situs komunitas Indonesia di internet. Hansip. Masing-masing membawa sebilah kayu.

Pak Sekdes memandang kami. Jenggot hitam panjangnya bergerak-gerak saat sudut-sudut bibirnya tertarik ke sana sini. Ia meletakkan bungkusannya di tanah. Meletakkan tangan dipinggang. Lalu, menunjuk-nunjuk. Dalam sekejap, kedua lelaki dalam topi hansip itu bekerja.
Kami berjalan ke sana. Wolf paling depan, mendekati Pak Sekdes. Tanyanya, dalam tutur anak PM Gontor featuring Universitas Al-Azhar yang sangat khas, yang amat sopan itu
“Ada apa ini, Pak?”
“NDA BOLEH MAIN DISINI LAGI!” teriaknya—kami terlonjak kaget.
“Ngerti?! Bocah-bocah gak iso diatur! Sudah dikasih tahu, jangan rebut disamping masjid! Masjid itu tempat ibadah, tempat ibadah itu kudune tenang!”
“Soal masjid tempat ibadah semua juga tahu, Pak, salahe lapangannya disamping masjid,” kata Zul—teman dekat Jendra sejak SD. Memusuhi Pak Sekdes sejak mereka dikejar-kejar gara-gara main petesan sehabis sahur pada bulan puasa waktu masih seusia Aziz.
Pak Sekdes melotot. “ini lapangan harus tetap bersih biar bisa dipakai buat acara kampung!”
Jendra baru akan berkata sesuatu—tetapi Wolf menepuk tangannya, dengarkan dia dulu.
“Pokoknya, ndak boleh main bola disini lagi!”
“Terus, kita main bola di mana dong Pak?” Tanya Aziz. Memelas.
“Yo ra urus!”
“Pak” kata Wolf. “gimana kalo kita janji nggak akan main bola setelah Magrib?”
“Kita juga biasa berhenti main kalo sudah Magrib,” tambahku.
“pengajian ba’da Asar minggu lalu disini tidak bis tenang, inget?!” kedua tangannya terpasang lebih kencang pada pinggang. Kemudian, dia membelakangi kami, menyuruh-nyuruh kedua hansipnya. Dua hansip itu kini memakukan papan yang dia bawa pada bilah kayu. Kemudian mendirikannya.
Sekarang, kami tak punya pilihan. Papan itu ditegakkan. Dan kami membubarkan diri. Esok harinya lapangan itu dipasang portal.

-----------xx----------------------------xx----------------------------------------xx-----------------

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan lapangan itu. Cuma lapangan rumput liar, tak seberapa luas disamping masjid kampung. Sisi utara dibatasi tembok masjid, sisi selatan, rumah Kepala Desa. Sisi Barat dipagari jalinan kawat yang sudah terburai-burai—dibelakangnya belantara liar. Ada banyak lapangan futsal yang lebih bagus dengan rumput sintetis import kalau saja kami mahu sedikit repot untuk jalan ke pusat kota. Namun, disana kami tidak bisa bertelanjang dada, berteriak sekeras-kerasnya dan terutama sekali harus membayar.

Jadi lapangan rumput itu dengan begitu saja menjadi tempat berkumpul anak laki-laki dikampung. Dari segala usia. Semua anak-anak squad, sejak lulus SMP, bereuni disini.  Attar pernah menghabiskan  beberapa tahun SMP di Bangka Belitung, ketika ikut kakek membuka lahan untuk kebun sawit disana—tetapi dia tetap pulang ke lapangan ini. Juga bersama anak-anak seragam putih-biru dan putih-merah yang akan segera bergabung dan melempar tas sekolah mereka bila melihat kami berkumpul.

Hari itu kami berkumpul lagi. Diruang tamu rumahku. Gerimis turun memenuhi kaca jendala dan membeceki lapangan diluar sana. Disiram air hujan, rerumputnya tampak tumbuh subur meninggi.  Jendra dan zul duduk dilantai. Di depan layar playstation, menatap lapangan bola digital mereka sendiri. Attar barbering disofa. Memeluk gitar. Tiba-tiba dia berkata
“Kita bisa singkirin portalnya”. Jreng.  Tidak ada jawaban setelah petikan gitar imaginer itu. Cuma terdengar riuh penonton bola imaginer dari layar PS.
“Ajak Aziz, ajak anak sekampung. Biarin aja papannya disitu.”
Tidak ada suara jreng, dan kali ini kami saling pandang. Wolf duduk di sofa—baru selesai solat—masih dalam baju koko,sarung, peci, dan Al-Quran kecil ditangannya, menoleh. Ia berdiri. “Yuk”. Lalu lenyap ke dalam kamar.
Attar ikut berdiri. Zul mematikan layar PS, aku bergegas mengambil bola. Bunda memanggil Wolf dan berusaha menyusulnya saat ia keluar kamar. Ia sudah melepas koko dan menggantikan sarung dengan sehelai boxer.
“Kan udah ndak boleh main disana?” ujarnya cemas.
“Nggak apa-apa Bunda,” bantah Wolf.
“Rasya, nanti kita mahu ke rumah Rara habis Magrib..!!” Rara itu calon isteri Wolf. Pernikahan mereka kurang dari satu bulan lagi.
“Kan habis Magrib,Bunda.” Wolf memasukkan diri ke dalam kaos merah Liverpool-nya. “I’ll be back then, Bunda gak usah khawatir…”
“Hujan nak. Jendra, Attar, hujan..Zul, Langit…”
“Astaga Bunda, kita kan sudah besar…,” Attar keluar paling akhir. Bunda masih berusaha menyusul, mengangkat abayanya dan melangkah tergesa kedepan. Tetapi kami, tahu tanpa kerudung seperti itu, Bunda tidak akan sampai ke teras.

Jadi, satu persatu, kami berlari kecil, keluar ke tengah gerimis. Melewati setapak perkarangan, keluar pagar layaknya kesebelas yang keluar dari ruang ganti di babak kedua pertandingan (dibabak pertama biasanya mereka keluar bersama-sama anak kecil itu). Gerimis turun lebih renggang saat kami mencapai lapangan. Namun baju sudah kadung basah dan menempel di badan, jadi tak urung juga—kembali topless. Kami merunduk melewati portal, menyampirkan baju-baju disana. Aku melakukan kick-off. Dalam sebentar, teriakan kami terdengar ke seluruh penjuru kampung.

Wolf kebobolan gol dalam sepuluh menit. Aku bermain dipihak Ali dan Zul. Dua lawan tiga. Tidak imbang. Bim tidak ada hari ini—mengunjungi saudaranya di Semarang. Tetapi Aziz lewat saat hujan kembali turun deras. Dia berjalan dari warung, membawa paying kembang-kembang yang sudah patah salah satu rusuknya, dan kantong plastic hitam yang didekapnya didada.
Zul berteriak, “Azeeezz!! Woi!!”
Kalau Pak Sekdes sedang tidur, dia pasti sudah terbangun kaget. Aziz menoleh. Zul melambai, aku melambai. Anak itu tersenyum girang dengan gigi-gigi besarnya yang segera saja mencuat off-side.lalu, dia bergegas masuk ke rumah, meninggalkan payung dan kantong plastic berisi belanjaan ibunya untuk kemudian berlari menyusul kami.

There’s always something about football.

Kegembiraan yang tidak bisa didefinisikan saat bola bundar itu bergulir nyaman dikaki, juga misteri-misteri yang terjadi di antaranya. Kejutan-kejutan yang menyenangkan saat berada di area penalty lawan, dan perasaan bahwa ada kawan dalam posisi yang paling kita butuhkan saat-saat ini—semuanya lebih dari sekadar mencetak gol. Lebih dari itu.

Sore merambat turun, hujan semakin deras. Kami sudah tidak ingat berapa gol, berapa off-side, berapa pelanggaran. Yang ada hanya peluh bercampur air hujan. Aziz berteriak paling keras dengan suaranya yang belum akil baligh itu, berlari dari satu pojok ke pojok lain seperti kesetanan.
Pada saat itu Bu Lek Yani keluar. Berdiri di seberang masjid, di bawah paying patah rusuk itu.
“AZIZ!! PULANG!!”

Gemuruh menggelinding di ujung langit. Lalu sunyi. Bola mendarat diam di atas genangan lumpur.
Kukira Aziz akan keluar dengan pembelaan-pembelaan, alasan-alasan, memohon untuk terus bermain. Namun, tidak. Dia berlari ke portal, menarik bajunya yang basah. “pulang dulu, Kang” katanya kepada Wolf. Ia menunduk dibawah portal dan berlari menyonsong ibunya.
Harusnya Bu Lek Yani hanya perlu memayunginya sampai rumah—Aziz telah menurut dengan patuh. Tetapi, ia marah besar. Menarik satu telinga Aziz hingga kepalanya tertarik ke bawah, mencecer dengan kata-kata yang tidak bisa kami dengar. Wolf terpana melihat itu. Aziz berusaha menahan tangis—kerana tidak berani menangis.

Dia bahkan lupa membawa pulang sandal jepitnya. Anak itu usianya baru 10 tahun.
“You don’t do that to a kid,” kata Wolf. Seisi lapangan sunyi.
Bu Lek Yani bukan seorang yang galak. Kami mengenalnya. Suaminya sudah meninggal, dan Aziz anak satu-satunya. Jelas, ada yang tidak beres disini.  Pertanyaan ini terjawab waktu aku dan Jendra datang untuk mengembalikan sandal jepit itu.

Bu Lek Yani berjualan kue, dan menjadi buruh cuci untuk penghasilan tambahan. Ia mencuci dan menyeterika dirumahnya. Aziz kadang-kadang membantu mengantar-jemput cucian. Hari itu, teman kami itu membantu menyeterika. Duduk di lantai, menghadap lipatan selimut dan kain sarung yang dilapis-lapis sebagai landasan seterika. Ia sedang menyeterika sehelai baju seragam kerja. Baju seragam kerja itu milik Pak Sekdes.

[petikan dari novel : Believe, Karena Cinta Aku Percaya.. Tulisan: Morra Quatro]

Selasa, 7 Ogos 2012

CARDIOLOGY POSTING

0



[25Juli-22Agustus 2012]

Pertama kalinya satu bagian dengan Kak Soolihah. Gembira. Siap sama-sama, pergi ke rumah sakit bersama-sama. Meski bertugas ditempat berbeda namun tetap bisa ketemu ditempat kerja. Kebahagiaan yang sederhana lagi. Apalagi saat mendapat jadual jaga bersama-sama. Sewaktu diri minggu satu, kakak minggu dua. Seminggu di atasku.

Minggu 1: Diri ditugaskan dipoliklinik. Disini, diri dituntut untuk tensi pasien control dan anamnesis pasien yang baru. Banyak kasus yang ditemui disini. Dari control infarc miocard hinggalah penyakit-penyakit kelainan katup. Sasaran utama atau target yang ingin dicapai dibagian ini, agar kami para koas mampu menegakkan diagnosis dan mampu membaca EC dengan baik setelah lulus dari bagian ini. Jadi kami ditubi untuk melihat dan belajar tentang dasar, prinsip dan interpretasi ECG.

Jaga malam bersama kakak. Menerima pasien baru di UGD. Baru belajar apa yang harus dilakukan jika pasien masuk ke bagian ini. Pasien atrial fibrillation (AF). Datang dengan keluhan sesak napas. Alhamdulillah sudah melalui bagian interna dan bedah hingga bisa bertindak lebih aktif. Dokter terlambat datang. Jadi kami memberikan dahulu terapi oksigen dan meminta pemeriksaan laboratorium lengkap termasuk enzim dan biomarker jantung segera.

Minggu 2: sama-sama kakak bertugas di CVCU atau Cardiovascular Care Unit atau di Malaysia istilahnya CCU. Satu minggu disini kami diberi peluang untuk belajar cara penanganan bagi pasien critical dan juga melihat obat-obat yang digunakan. Kami juga berpeluang untuk melihat rawatan kardioversi yang menggunakan direct shock atau DC. Ana dan Nabilah juga masuk ke bagian ini minggu 1. Kami semua bersama-sama di CVCU. Belajar bersama, follow up bersama, pulang bersama. Disini kami juga melihat kasus gawat seperti atrial fibrilasi rapid ventricular response, myocard infarc, syok cardiogenic dan pelbagai lagi. Setiap hari memonitor perubahan ECG yang berlaku untuk mengetahui efek pengobatan yang diberikan.

Minggu 3. Ditugaskan di ruang tindakan. Disini kami dikehendaki untuk mahir memasang lead atau electrode ECG, melihat pengambilan echocardiography dan juga melihat pemeriksaan Treadmill dilakukan. Kami dirolling supaya bisa melihat semua tindakan yang dilakukan di bagian kardiologi. Test treadmill/ stress test  dilakukan disuatu ruangan. Pasien diminta berlari jarak jauh di atas alat jogging sementara lead ECG terpasang ditubuh mereka. Dilihat berapa lama pasien bisa bertahan dengan latihan yang dilakukan. Semakin lama semakin bagus hasilnya. Test ini biasanya dilakukan pada kasus stable angina pectoris untuk melihat tingkat berat dan membedakan dengan pelbagai penyakit lainnya.

Minggu 4. Ditugaskan dibangsal. Disini banyak lagi kasus bervariasi yang kami perhatikan. Dari perikarditis, penyakit miokard infarc lama, dan banyak lagi. Kebanyakan pasien kalo dibangsal sudah dalam kondisi yang stabil namun tetap diperhatikan. pemeriksaan fisik lebih bebas dilakukan dan pasien lebih kooperatif untuk memberikan informasi. 

Bagian Cardiology bagi diri adalah bagian yang paling disukai. Bukan hanya kerna bagian ini, dokternya baik-baik, dari residen hingga supervisor. Ada ruang pertemuan yang didalamnya ada perpustakaan yang bisa kita gunakan untuk belajar. Diri, kakak, Hana, Nabilah dan Ummi suka duduk-duduk nongkrong disini saat tidak ada kegiatan sambil belajar dan online. Kadang ada dokter residen yang turut disitu dan mengajar kami. Kadang Cuma diskusi biasa sambil belajar ECG lagi.dan paling penting, kerna ini satu-satunya bagian yang kami berlima masuk bersama meski beda minggu buat pertama kalinya. ^_~ I like..


Ahad, 5 Ogos 2012

MENTAL DENDALION

0




Berhari-hari aku mencoba untuk berhenti
Berhenti untuk menulis tentangmu
Tapi masih saja atma berkonfrontasi
Mahu sekali melakar kata biar dengan ritme berbeda

Menahan diri dari bercerita sebebasnya
Berusaha untuk tidak mengeluh
Barangkali kau juga sudah bosan
Dengan cerita-cerita purba yang melemaskan

Katamu untuk menjadi kuat harus belajar bertahan
Mahu berdiri tegar jangan pernah manjakan mental
Benar katamu, mungkin aku sudah tidak seteguh dulu
Atas banyak hal cepat merasa lelah, ingin menyerah
Terlupa sudah bagaimana untuk menyemangati diri lagi
Mengobat sendiri luka yang parah berdarah

Kau benar saat mengatakan
Kau takkan selalu ada
Kerna hakikat percaturan takdir
Tidakkan pernah bisa kita tebak alur jalannya
Terbaik mulai mengatur diri dengan jarak
Mencoba untuk tunduk pada hakikat, senyum pada takdir
Semoga takkan ada yang terluka dihujungnya

Jangan mulai sesuatu yang tidak bisa kita akhiri
Jangan berharap pada sesuatu yang tak pasti
Kerna kita sejatinya tidak memiliki masa depan kita sendiri
Kita hanya bisa berusaha untuk merubah sekelumit noda dititik lemah
Agar ia tidak menjadi asbab kita jatuh tersungkur dan gugur dijalan
Ya aku mengerti itu..dan kau ternyata jauh lebih berhati-hati

Aku harus berusaha lagi untuk kuat meski berat,
Mengutip kembali serpih semangat yang pecah berkeping
Menjalani episode sabar dan mujahadah itu bahkan  lebih berat
Tapi aku telah berjanji untuk berusaha
Selebihnya, biarkan takdir berjalan dalam ruasnya sesuai ketentuan Pencipta

Amni_shamrah
06 Agustus 2012
22.00 pm
[terinspirasi dari satu kisah teman]


Sabtu, 4 Ogos 2012

IMAN

0



Kau umpama rembulan, menerangi kegelapan
Kau ibarat bintang, Menghiasi langit malam
Kau umpama pelangi, Mewarnai alam ini
Kau menerangi hatiku, Bak mentari terangi siang
Kau menghiasi hatiku, Yang dahulu kekosongan

Kau berikan kekuatan, Untuk kuterus berjuang
Hadapi segala cabaran, Atasi permasalahan
Kau curahkan kebahagiaan, Meleraikan kesedihan
Waktu ku terasa keseorangan, Ketika dalam berjuang

Ramai yang melupakanmu, Tak ramai yang mengecap nikmatmu
Tak ramai yang ditemanimu, Tak ramai merasa manismu
Inspirasi mukmin sejati, Tempatmu letaknya di hati, 
Sana kau berkurang dan bertambah
Kaulah penyelamat ummah, 

Ku merasa manismu
Dalam menyintai Allah dan Rasul
Dalam menyayangi Sahabat
Dalam membenci kekufuran

Kepada Allah kuberdoa Hidup matiku bersamamu
Bersama dihidupkan semula, Melangkah ke syurga bersama
Kan kujagamu selalu, Dengan membaca Al-Quran
Jua mengingati ajal, Mekarlah kau di hatiku