
Dari jendala poliklinik dermatologi, kelihatan sepasang merpati dua sejoli berpimpinan tangan berjalan menuju ke poliklinik tersebut. Kelihatan hubungan yang mesra dan harmonis sekali. Di wajah sang suami kelihatan raut gusar dan khawatir yang tidak berbelah bagi. Mungkin khawatir dengan kondisi sang isteri yang tampak sakit sedang tersebut. Sambil menunggu giliran untuk masuk bertemu dengan dokter, sang suami tidak lepas menggendong tangan isterinya sambil membaca dzikir-dzikir penenang hati.
Sebentar kemudian, si isteri dipanggil masuk ke ruangan dokter untuk menjalani pemeriksaan. Sang suami setia memimpin tangan isterinya hingga ke depan pintu kamar pemeriksaan. Lalu isterinya berkata “Abi tunggu di sini yah,” sambil mencium tangan si suami. Wah, romantisnya! Sewaktu dokter menjalankan pemeriksaan pada bagian yang agak sulit, Cuma diri dan seorang lagi temanku yang berjilbab besar yang dibenarkan menemani (atas permintaan pasien/pesakit) sendiri. Memandangkan penderita adalah seorang muslimah yang masih muda yang bercadar (berpurdah).Sewaktu pemeriksaan dijalankan, Dr.M kelihannya amat terkejut kerna ternyata penyakit yang dideritai oleh muslimah tersebut tidak hanya satu tapi 3. Bacterial Vaginosis, Candidiasis dan Tinea Cruris. Saking banyaknya infeksi yang terjadi hingga kata dokter sebenarnya sangat jarang adanya kasus (kes) seperti ini kecuali pada keadaan system immune yang sangat rendah (suspect penyakit immunosuppressive).
Setelah selesai pemeriksaan fisik (physical examination), dokter melanjutkan anamnesisnya dan dari situ diketahui bahawa baru sejak beberapa tahun belakangan sang muslimah tersebut rentan terkena infeksi (infection). Bisa dikatakan dalam 1 bulan, 2-3 minggu beliau pasti terkena demam dan flu (selsema), nyeri badan (sakit badan), menggigil dan sebagainya. Sedangkan si muslimah ini sejak kecil aktif bersukan dan jarang sakit. Dr.M meminta si suami masuk dan merangkaikan banyak pertanyaan yang diperkirakan berkaitan untuk membantu menegakkan diagnosis. Dari riwayat pennyakit sekarang, penyakit terdahulu, penyakit dalam keluarga hinggalah kepada riwayat pernikahan dan latar belakang keduanya.
Ny.D terlahir dari sebuah keluarga imam (kiai) di pendesaan. Sejak kecil terjaga dalam biah pesantren (pondok) dan sempat kuliah di UNIM dalam bidang ilmu syariah hingga selesai. Sementara si suami terlahir dari keluarga sukses yang sangat sibuk sehingga sejak kecil beliau tidak mendapat belaian kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Melalui masa remaja yang penuh pemberontakan hingga beliau melakukan banyak hal yang tidak seharusnya seperti terlibat dengan alcohol dan pil ecstacy, rokok dan sex bebas. Orang tuanya sangat kesal dan memutuskan untuk menghantarnya ke sekolah pesantren. Di pesantren baru beliau merasai betapa luasnya kasih sayang Allah yang mendakapnya setiap saat hingga mencetuskan rasa sesal dan kesal yang tidak berbelah bagi atas dosa-dosanya yang telah lalu. Beliau bertaubat. Bertaubat dengan taubat nasuha. Astagfirullahal azim, pengakuan tersebut sangat mengejutkan.
Memasuki alam kuliah, beliau menjadi antara penggerak (aktivis) dakwah kampus dan terkenal sebagai seorang yang sangat sholeh (soleh). Sehinggalah saat tiba waktunya, dia dikenalkan (ta’aruf) dengan seorang muslimah sholehah (solehah) yang kini telah bergelar isterinya. Walau sebelumnya tidak pernah saling mengenal, tapi istikharah cinta telah menyatukan hati mereka. Membangun sebuah keluarga sakinah demi meraih cintaNya.
Dr.M serba salah. Berat rasanya mahu menyampaikan kecurigaannya bahawa pasangan suami isteri tersebut telah terinfeksi virus yang maha kejam yaitu
HIV!! Berbekalkan semangat yang tinggi dan mujahadah yang jitu, Dr.M tetap berterus terang seraya mengusulkan supaya mereka berdua menjalani pemeriksaan kimia darah, untuk mendeteksi (mengesan) CD4 dalam darah. Dengan kata lain, CD4 adalah pemeriksaan penunjang untuk memastikan adanya infeksi virus HIV. Wajah keduanya berubah. Benar, sebuah berita yang amat mengejutkan. Ibarat merenggut jantung hati dari jasad. Suasana sepi. Beberapa ketika. Tangan keduanya masih saling menggenggam erat. Saling berpandangan sebelum akhirnya kedua mereka menandatangani surat persetujuan untuk pemeriksaan tersebut.
Beberapa hari kemudian, pasangan tersebut kembali ke poliklinik untuk melihat hasil lab dari pemeriksaan CD4 tersebut. Dan betapa remuknya hati saat mendapati bahawa ternyata hasilnya
HIV POSITIF!! Tepat seperti yang dicurigakan oleh Dr.M. Ya Allah, betapa beratnya ujian yang menimpa mereka! Usai mendengar penjelasan detail dari dokter berkenaan penyakit tersebut, sang suami spontan menangis keras sambil melutut memohon ampunan dari sang isteri. Dia merasa bahawa sendirilah lelaki paling kejam yang mengaku menyintai isterinya dalam masa yang sama menularkan penyakit zalim yang membuatkan isterinya menderita. Dia telah menzalimi isterinya dengan menyakitinya. Tangis derita batinnya seakan tidak mampu untuk membendung lautan rasa penyesalan terhadap isteri sholehah. Andai saja dia tahu bahawa dia menghidap penyakit zalim akibat perbuatan kejinya dahulu, dia pasti tidak akan tegar untuk menikahi isterinya dan menzaliminya.
Dalam linangan airmata, sang isteri menggenggam erat tangan suaminya seraya berkata:
“suamiku, tidak pernah terdetik biar 1 kali dalam hidupku kata menyesal kerna menikahimu. Saya tahu betul dan saya amat yakin bahwa anda adalah seorang pemuda yang sholeh (soleh). Sewaktu Allah memberikan kita ujian yang maha berat ini, yakinlah.. Allah tahu kemampuan kita dan DIA tidak akan menyia-nyiakan kita..”
MasyaAllah, luar biasa..kata-kata sang isteri benar-benar menjadi bahan pelajaran buat kami semua. Betapa redhanya beliau menghadapi takdir yang menjengah. Betapa tenang jiwanya melihat kehidupan sebagai ujian yang harus dituntaskan. Beliau sama sekali tidak meletakkan kesalahan tersebut pada kesilapan masa lalu suaminya bahkan tidak pernah menyesal dijodohkan dengan suaminya melainkan dia bersyukur dengan semua itu dan menerimanya sebagai ujian hidup.
Kisah nyata yang telah mata ini saksikan menyedarkan diri bahawa terkadang, saat kita menahan diri demi menantikan seorang insan yang telah ditakdirkan untuk mengimami/ mendampingi hidup kita, secara tidak sedar, kita berharap semoga insan itu adalah seorang yang sempurna. Andai saja kita dihadapkan dengan kisah seperti wanita tadi, pasti kebanyakan dari kita akan kecewa dan kesal. Insan yang diharapkan tidak seperti yang kita bayangkan. Jadi persiapkanlah diri bahwa siapapun itu yang akan kita damping, ingatlah.. dia juga adalah manusia biasa seperti kita.. manusia yang tidak akan sempurna. Perjelas kembali bahwa jika benar pernikahan itu disandar kerna Allah SWT, pastikan setiap jalan yang ditempuh adalah jalan menuju keredhaanNya..