Skinpress Rss

Selasa, 12 Mac 2013

APN & POED

0




Asuhan Persalinan Normal (APN) adalah salah satu pelatihan wajib yang harus kami, ko-assisten obstetric dan ginekologi ikuti sebagai persyaratan wajib kepanitraan klinik. Pelatihan ini diadakan pada minggu 2 setelah minggu pertamanya kami diberi waktu “adaptasi” di rumah sakit. Pelatihan ini sangat penting sebagai pembekalan kami membantu persalinan normal di lapangan. Meski sebelumnya kami telah pun mendapatkan semua teori sewaktu pre-klinik dulu, namun pelatihan ini bertujuan merecall atau merefresh teori-teori tersebut guna membantu persalinan normal.

Dibimbing oleh dokter yang sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis (PPDS) dr.Windy, kami menjalani pelatihan ini dengan santai dan bersahaja. Lebih releks dan membantu proses pembelajaran yang efektif. Kami berdiskusi bebas sambil berkongsi pengalaman yang berbeda yang kami dapat waktu di rumah sakit masing-masing. Setiap hari ada juga sesi diskusi bersama supervisor. Nah, disini kami lebih bebas untuk bertanya, mendapat penjelasan dan mendengarkan pengalaman lansung dari para spesialis ONG yang lebih banyak memakan garam dari kami. Apalagi bagian ini benar-benar mencabar kerna ia membutuhkan kepekaan dan jam terbang kerna mata seorang dokter Obgyn terletak dihujung jarinya. Jari yang menentukan pasien berada pada pembukaan berapa, mata jeli untuk menentukan jenis kelamin anak melalui USG, dan sebagainya.

Pada pelatihan ini selain diskusi dan kuliyah, kami juga ditayangkan video-video sebagai alat bantu untuk lebih mengerti dan clinical skill lab di mana kami mempraktekkan sendiri apa yang telah kami pelajari. Nah disini kami dipermantap dengan teori kala I atau fase pembukaan dimana serviks membuka dari 1-10 cm. kala II: kala pengeluaran bermula dari pembukaan lengkap hingga bayi lahir dari mulut vagina. Kala III: fase plasenta/ari-ari.sementara kala IV: fase observasi. Setiap kala ini kami diajari teori, prmasalahan dan penanganan yang harus kami lakukan untuk menghadapi setiap permasalahan yang timbul.


Pelayanan Obstetri Dan Emergensi Dasar (POED), adalah pelatihan yang wajib kami ikuti pada minggu ke 5/6. Diharapkan kami telah mendapat membantu persalinan normal dengan baik sepanjang 2-3 minggu jeda yang diberikan. POED ini adalah pelatihan tentang membantu persalinan tidak normal atau lebih tepatnya mengatasi kasus emergensi dan patologis dalam bidang Obstetri dan Ginekologi. Dengan dr.Reni sebagai pembimbing, POED ternyata lebih seru. Disinilah inti dari menjadi seorang dokter. Kebiasaan masyarakat di Sulawesi, persalinan normal jarang mereka ke dokter. Selain biaya yang mahal (menurut kepercayaan orang tempatan) khawatir persalinan mereka akan bermasalah. [Nah lorh?? Apa hubungannya coba?]. jadi selalunya kasus yang bermasalah yang datang ke dokter. Entah itu memang kasus yang bermasalah atau “hasil karya” dukun dan bidan yang kemudian menimbulkan “permasalahan” baru buat persalinan tersebut.

Tapi itulah inti dari menjadi seorang dokter “Obgyn”. Pada pelatihan ini kami diajarkan teknik-teknik membantu persalinan abnormal seperti dystocia bahu, dengan menggunakan maneuver Mc Robert, Massanti, Hibbard, Corkscrew Woods, Schwartz and Dixon. Setiap maneuver ini mempunyai teknik tertentu dan membutuhkan jam terbang yang tinggi. Semakin sering dilihat dan dilakukan semakin cekap dan berseni.
Selain itu juga kami juga diajarkan untuk melakukan kuret (curratage) yang menjadi kompetensi kami serta penyakit-penyakit yang banyak terkena pada ibu hamil seperti perdarahan antepartum, perdarahan post partum, preeclampsia, eklampsia, infeksi nifas dan pertolongan seperti ekstraksi vakum dan sebagainya.
Meski kami tetap tugas di rumah sakit masing-masing (oncall). Kadang jaga malam. Kadang jaga siang. Tapi kami semakin terobsesi dengan pembelajaran yang kami terima. Apalagi saat melihat sendiri kasus yang kami pelajari dilapangan. 



Isnin, 11 Mac 2013

REST PLACENTA ~RS POLRI BHAYANGKARA MODE

0




MINGGU 5. Stase RS Polri Bhayangkara, Mappaodang. Seharusnya diri akan mengikuti kursus POED minggu ini. Namun disebabkan ada acara besar besaran Obyn minggu ini, maka POED ditiadakan. Lebih malang lagi, diri akan menjadi chief/kapten pada minggu ini. Hadeuh satu tugas yang berat. Tapi mungkin inilah salah satu bentuk pendidikan yang melatih kita memikul tanggungjawab. Untungnya kami diwajibkan mengikuti acara Kongres Nasional bagian Obstetri dan Ginekologi yang akan diadakan di Hotel Clarion pada 2-6 Maret. Berarti kami hanya diwajibkan oncall setelah acara itu berakhir. Sepanjang acara berlansung kami diberikan libur missal oleh pihak KPM.
Dengan waktu yang singkat tersebut, kami juga berpeluang menimba pengalaman yang sangat keren menurutku. Beberapa pengalaman yang sungguh mendewasakan.

Sewaktu berlansung acara Kongres Nasional, atau tepatnya hari pertama ko-ass diliburkan dari tugas di rumah sakit, ada dokter yang menelpon diri. Dimarah dan dimaki-maki. Dengan kata-kata yang keras. Pokoknya beliau mahu diri dan yang jaga datang malam itu juga. Olala, sudah jam 00.15. mana ada pete-pete (angkotan umum) jam segini. Sebentar disms, “Dik, paling lambat itu kalian ada di RS Bhayangkara jam 3 subuh”. Baca ulang. Weh biar  betul ini dokter. Tidak percaya. Pikiran menerawang. Kalau saja ada superjet 2040 atau pintu doraemon, sekelip mata dokter, Jreeennnggg!! Adama didepan situ.

Besoknya pagi-pagi selesai saja solat subuh, diri ke sana menaiki taksi. Dengan hujan keras dan gelap gulita, benar-benar melatih kesabaran. Tidak semua orang akan mengerti. Sampai disana subuh-subuh. Dokter sudah mulai visite. Meski dia masih mahu marah-marah, namun mungkin kerna kasihan melihat diri yang sudah basah kuyup diguyur hujan, diurung niatnya jauh-jauh. Akhirnya visite berakhir tenang. Dokter tersebut siap memberikan kami tumpangan untuk sama-sama ke tempat acara. Sebelum ke tempat acara, dokter singgah dikosan dokter residen untuk mandi.setelah itu beliau siap membelikan diri sarapan dan didalam mobil beliau bercerita itu ini seperti sudah melupakan semua kemarahan yang sebelumnya. Baguslah. Ternyata dia seorang yang tidak menyimpan dalam hati. Hubungan dengan dokter residen kemudiannya jadi enak. Meski dia masih sering marah-marah tidak lagi seperti pertama kalinya yang sangat begis dan menggunakan kata-kata kasar tersebut. Sebaliknya lebih toleransi.entahlah mungkin sebenarnya tergantung bagaimana kita bersikap.

Jngat satu kejadian sewaktu jaga malam. Seorang ibu hamil kedua datang dengan pembukaan 4. Kala aktif bagi proses kelahiran. Ibu itu melahirkan pada tengah malam. Jam 02.00 pagi WITA. Bidan besar yang menolong persalinan. Kerna sudah dibantu bidan, diri lansung menyiapkan oxytocin dan sebagainya. Kerna suasana yang kalut tiba-tiba itu, diri tidak memperhatikan jika bidan telah memeriksa plasenta yang lahir. Perkiraan diri, tidak mungkin bidan besar akan melewatkan hal yang seperti itu. Dia juga tidak melakukan eksplorasi dalam untuk membersihkan sisa jaringan dalam uterus (rahim). Dipikiranku, mungkin kerna mempercayakan bahwa bidannya yakin plasenta lahir lengkap dan tidak lagi membutuhkan eksplorasi..tidak juga terjadi robekan perineum. Maka selesai. Pasien ditutup.

Diri masih mengawasi pasien untuk 2 jam pasca persalinan. Ibunya kelihatan baik-baik saja. Kecuali ada keluhan nyeri perut bagian bawah. Mungkin disebabkan kontraksi uterus. Sehingga setengah jam ibu masih mengeluh yang sama. Dan ini tidak biasa. Timbul kecurigaan. Pas diri melihat perdarahan ibu yang masih membanjir, yakin ada yang tidak beres. Lansung memakai handscone (sarung tangan steril) dan melakukan explorasi.  OMG!! Masih ada plasenta yang tersisa. Agak besar hingga menyebabkan ibu mengeluh sakit perut bawah. Kontaksi masih berlansung kuat gara-gara berusaha mengeluarkan sisa plasenta yang masih banyak. REST PLACENTA!! 

Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan.

Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena:
a). plasenta belum lepas dari dinding uterus; atau
b). plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.

Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:
a). kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva);
b). plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).

Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).

Insiden
Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%–60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Insidens perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta dilaporkan berkisar 16%–17% Di RSU H. Damanhuri Barabai, selama 3 tahun (1997–1999) didapatkan 146 kasus rujukan perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta. Dari sejumlah kasus tersebut, terdapat satu kasus (0,68%) berakhir dengan kematian ibu.

Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecian mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta.

Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat oto miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan. 

Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:
1. Fase laten, ditandai oleh menebalnya duding uterus yang bebas tempat plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
2. Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm).
3. Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa.
4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya.

Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang mendadak, uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang.
Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala tinggi. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan dan mengklovasi uterus, bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta :
1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction ring.
2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa; implantasi di cornu; dan adanya plasenta akreta.
3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.

Gejala Klinis
a. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
b. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.

Pemeriksaan Penunjang
a. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
b. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time (PT) dan activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.

Diagnosa Banding
Meliputi plasenta akreta, suatu plasenta abnormal yang melekat pada miometrium tanpa garis pembelahan fisiologis melalui garis spons desidua.

Penanganan
Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah:

a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
1. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan.
2. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ.
3. Sepsis
4. Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak selanjutnya.

Prognosis
Prognosis tergantung dari lamanya, jumlah darah yang hilang, keadaan sebelumnya serta efektifitas terapi. Diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting.

Serentak, dokter Anty masuk. Beliau terjaga gara-gara diri sempat izin dulu untuk melakukan eksplorasi tadi. Marah-marah pada bidan. Aduh jadi tidak enak. Pasien didorong ke USG besoknya untuk mengevaluasi berapa banyak sisa yang tertinggal didalam. Jika terlalu banyak, pasien terpaksa dikuret. Distu diri mndapat pelajaran betapa pentingnya memeriksa plasenta yang lahir lengkap apa tidak, melakukan eksplorasi setelah membantu persalinan meski plasentanya lengkap untuk mengelakkan sebarang kemungkinan dan pentingnya pengawasan 2 jam postpartum. Jika salah satu dari hal ini terlewatkan atau diabaikan, kita mungkin bahkan mencelakakan pasien atau membiarkan pasien dalam kondisi yang tidak terbantu. 

Ahad, 10 Mac 2013

PASIEN RUJUKAN ~ PPCM

0



Pengalaman pertama merujuk pasien ke RS WS. Ibu MRS dengan keluhan sesak napas setelah melahirkan. Sewaktu masuk, wajah pasien sudah pucat dan nadi dan pernapasan yang cepat. Kelihatan otot-otot bantu napas sudah digunakan untuk memaksa udara masuk ke dalam paru. ibu ini habis melahirkan di rumah sakit Siti Fatimah 3 hari lalu dan dipulangkan kerna dikatakan sudah sembuh. Sesampai dirumah pasien sudah diserang sesak. Tidak ada riwayat asma sebelumnya. Tidak ada riwayat batuk lama. Pada pemeriksaan fisik juga tidak didapatkan bunyi Wheezing atau ronchi. Jadi curiga ke arah penyakit jantung yang biasa terkena pada ibu hamil. suspek kardiomiopati pada kehamilan. 

Kardiomiopati peripartum merupakan suatu kardiomiopati dilatasi dengan etiologi yang tidak diketahui. Kondisi ini didefinisikan sebagai :
    Berkembangnya gagal jantung di bulan terakhir masa kehamilan atau dalam 5 bulan setelah kelahiran.
    Tidak adanya penyebab gagal jantung.
    Tidak adanya gagal jantung sebelum satu bulan terakhir kehamilan.
    Terdokumentasi adanya disfungsi sistolik

Kardiomiopati peripartum relative jarang, tetapi dapat mengancam jiwa penderita. Di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), diperkirakan kondisi ini terjadi pada 1 dari setiap 2.289 kelahiran hidup. Keadaan ini lebih sering mengenai wanita Afrika Amerika. Angka kejadian pastinya sangat bervariasi. Angka tertinggi ditemukan di Haiti dengan kejadian 1 dari 300 kelahiran hidup atau 10x lebih tinggi dari AS.
Kardiomiopati peripartum lebih sering ditemukan pada wanita multipara. Kondisi ini dilaporkan lebih sering pada wanita yang hamil anak kembar dan pada wanita dengan preeklamsia. Tapi kedua kondisi ini berhubungan  dengan tekanan onkotik serum yang lebih rendah, yang dapat menjadi faktor predisposisi edema paru non kardiogenik pada wanita dengan stressor lain.

Etiologi
Kardiomiopati peripartum merupakan salah satu bentuk penyakit miokardial primer idiopatik, yang berhubungan dengan kehamilan. Beberapa mekanisme etiolog telah diajukan. Tetapi tidak satupun yang dapat menjelaskan dengan pasti bagaimana penyakit ini bisa muncul.
Beberapa kaadaan yang diperkirakan dapat menjadi penyebab, atau mekanisme terjadinya kardiomiopati peripartum, antara lain :
    Miokarditis: Melvin dan kawan-kawan membuktikan adanya miokarditis dengan melakukan biopsi endomiokardial, pada pasien dengan kardiomiopati peripartum. Dikatakan bahwa hipotesa menurunnya sistim kekebalan selama hamil, dapat meningkatkan replikasi virus dan kemungkinan untuk terjadinya miokarditis meningkat. Infeksi virus yang bersifat kardiotropik.
    Aportosis dan inflamasi.
    Respon abnormal hemodinamik pada kehamilan: perubahan heodinamik selama kehamilan dengan meningkatnya volume darah dan curah jantung, serta menurunnya afterload. Sehingga, respon dari ventrikel kiri untuk penyesuaian menyebabkan terjadinya hipertrofi sesaat.
    Faktor-faktor penyebab lain: efek tokolisis yang lama, kardiomiopati dilatasi idiopatik, abnormalitas dari relaxine, defisiensi selenium dan sebagainya.
    Laporan kasus dan pengalaman menunjukkan adanya ejeksi fraksi yang rendah, yaitu sekitar 10-15% pada pasien dengan preeklamsia berat. Normalisasi ekokardiogram baru bisa dicapai dalam 3-6 bulan. Preeklamsia termasuk faktor risiko, tetapi pada beberapa kasus kondisi ini justru bisa menjadi penyebab. Edema paru non kardiogenik memiliki banyak penyebab yang juga harus dipertimbangkan.
    Sebuah penelitian tahun 2005 menemukan, 8 dari 26 pasien yang terinfeksi parvovirus B19, virus herpes manusia 6, virus Epstein-Barr dan sitomegalovirus terdeteksi setelah analisa molekuler spesimen biopsi miokardial.
    Otoantibodi terhadap protein miokardial telah teridentifikasi pada pasien dengan kardiomiopati peripartum, tetapi tidak pada pasien dengan kardiomiopati idiopatik.

Mortalitas dan Morbiditas
Angka mortalitas dari berbagai penelitian berskala kecil, berkisar 7-50%. Setengah kematian terjadi dalam 3 bulan setelah kelahiran. Penyebab terbanyak adalah gagal jantung progresif, aritmia atau tromboembolisme. Angka kematian yang dihubungkan dengan kejadian embolik, dilaporkan sebanyak 30%.
Dalam keadaan akut, hipoksia pada ibu hamil dapat menyebabkan tekanan pada janin. Sementara thromoembolik bisa mempersulit kardiomiopati peripartum, karena dapat menyebabkan kondisi hiperkoagulabilitas pada kehamilan. Aliran darah yang rendah dapat memicu thrombosis vena, atau terjadi embolisme arterial akibat ventrikel kiri yang terdilatasi berat.
Ketika seorang wanita hamil terdiagnosa menderita kardiomiopati peripartum, berikan antikoagulasi antepartum dengan heparin subkutan. Lanjutkan sampai 6 minggu setelah kelahiran. Untuk beberapa alasan, unfractionated heparin memberikam lebih banyak manfaat, dibanding low molecular weight heparin selama periode antepartum.

Manifestasi Klinis
Pada kehamilan normal, dispnea ringan adalah hal yang wajar. Banyak gejala yang dialami pasien penyakit jantung, juga dialami pasien dengan kehamilan hormal. Dispnea, pusing, orthopnea dan penurunan kapasitas kemampuan fisik, merupakan gejala normal yang terjadi pada wanita hamil.

Pada penderita kardiomiopati peripartum, gejala-gejalanya sama pada pasien dengan disfungsi sistolik yang tidak hamil. Perlu dilakukan evaluasi lebih jauh, pada orang dengan gejala-gejala berikut: batuk, orthopnea, dispnea nokturnal paroksismal, kelelahan, palpitasi, hemoptisis, nyeri dada dan nyeri pada perut.
Pada kehamilan normal, karena ada peningkatan progestin endogen, volume tidal respirasi meningkat dan pasien memiliki kecenderungan mengalami hiperventilasi. Meski demikian, kecepatan repirasi seharusnya masih normal. Kehamilan normal ditandai penurunan gelombang X dan Y yang berlebihan pada vena di leher. Tetapi tekanan vena di leher seharusnya juga masih dalam kondisi normal.

Jika dilakukan auscultation pada jantung, akan terlihat suatu murmur ejeksi sistolik di sudut sterna kiri bagian bawah, di atas daerah paru pada 96% wanita. Murmur aliran arterial paru ini cenderung lebih tenang, saat inspirasi. Murmur diastolik butuh evaluasi lebih jauh S1 mungkin berlebihan dan pemisahan S2 mungkin lebih menonjol karena peningkatan aliran darah di sisi sebelah kanan. Sedangkan S3 merupakan temuan normal pada kehamilan.

Edema peripheral terjadi pada sepertiga wanita hamil sehat. Meski begitu, waspadai perubahan secara tiba-tiba berupa pembengkakan di akhir masa kehamilan, yang memungkin tidak normal dan harus diselidiki lebih jauh.
Pada wanita dengan kardiomiopati peripartum. tanda-tanda gagal jantung sama dengan pasien yang mengalami disfungsi sistolik yang tidak hamil. Mereka umumnya mengalami takikardi dan pernurunan oksimetri denyut. Tekanan darah normal.
Temuan fisik kardiomiopati peripartum, meliputi peningkatan tekanan vena leher, kardiomegali, suara jantung ketiga, komponen pulmonik suara jantung kedua yang keras, regurgitasi mitral dan atau tricuspid, pulmonary arles, pemburukan edema peripheral, aritmia, fonemena embolik dan hepatomegali.

Pemeriksaan Laboratorium
Preeklamsia seharusnya bisa disingkirkan, berdasar riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan darah. Pada riwayat kesehatan, penderita mengalami sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri abdominal sisi bagian kanan dan pembengkakan tangan atau wajah.
Pada pemeriksaan fisik, bisa ditemukan vasospasma retina, terdengar S4 saat dilakukan auscultation pada jantung, hiperrefleksia/klonus, kekakuan pada quadran bagian atas kanan dan terdapat edema di wajah atau tangan.

Pemeriksaan laboratorium akan ditemukan abnormalitas pada kadar serum kreatinin, yang meningkat lebih dari 0,8 mg/dL, kadar hemoglogin lebih dari 13 g/dL (karena ada kebocoran kapiler dan hemokonsentrasi) peningkatan kadar enzim lever, trombositopenia, hasil urin dipstick test mengindikasikan lebih dari "1+" protein, penurunan kliren kreatinin urin 24 jam (normal 150% di atas kadar wanita tidak hamil atau mendekati 150 mL/min), dan proteinuria lebih dari 300 mg.

Pemeriksaan urin: Trace atau proteinuria 1+ bisa normal. Proteinuria 2+ atau lebih tinggi menunjukkan preeklamsia. Kesampingkan infeksi. Kultur urin bisa membantu mengesampingkan infeksi. Ukur oksimetri denyut.uji serologis, bisa mengesampingkan penyebab lain kardiomiopati, termasuk infeksi (misalnya viorus, rickettsial, HIV, syphilis, Chagas disease, diphtheria toxin). Kesampingkan etologi toksin, seperti alkohol dan kokain.

Pemeriksaan Penunjang Elektrokardiografi (EKG)
Perubahan normal pada pembacaan EKG yang muncul selama kehamilan, mencakup sinus takikardi, pergesaran axis QRS ke kiri atau ke kanan dan denyut prematur atrium dan ventrikel. Denyut prematur atrium dan ventrikel, sinus aritmia, sinus arrest dengan irama nodal escape, wandering atrial pace maker dan paroksismal supraventrikular takikardi, umumnya tidak terjadi selama proses melahirkan.
ST segment elevasi, depresi, atau perubahan amplitudo gelombang P.QRS, atau T harus diinterpretasikan secara hati-hati. Beberapa ahli melaporkan, hal ini tidak menjadi masalah. Dengan tidak adanya gejala, banyak perubahan EKG yang tidak spesifik ini tidak membutuhkan evaluasi lebih lanjut. EKG lebih berguna untuk mendiagnosa aritmia dari pada untuk menggambarkan kelainan struktural.

Pemeriksaan Invasif
Kateterisasi jantung menghasilkan paparan sekitar 0,005 rad terhadap janin yang telah dilindungi penutup. Jika kateterisasi jantung diperlukan, akses dari arteri radialis atau arteri brakialis sebaiknya digunakan, daripada menggunakan akses dari arteri femoral. Ini akan menghasilkan paparan radiasi yang lebih sedikit terhadap janin. Akses dari arteri radialis sekarang lebih popular, daripada pendekatan dari arteri brakhialis. Dan, dengan kateter yang lebih kecil dan bentuk balon dan stent yang lebih baik,  percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA) dapat dibawa keluar secara aman melalui rute arteri radialis, jika diperlukan.


Mengawasi tanda-tanda vital si pasien yang baru berusia 19 tahun. Tiba-tiba dr.Anty yang jaga pada hari itu berkata;

“Fuzah, pasien ini mahu dirujuk ke RSWS. Kita tidak bisa tangani disini. Jadi kamu ikut hantar pasiennya. Jangan sampai kenapa-kenapa di jalan”

Sedikit panic. Mahu ku apakan pasiennya kalau “kenapa-kenapa” seperti dibilang sama dokter.

“nanti bidan juga ikut. Tapi kamu yang harus tindaki kalau pasien tiba-tiba gawat. Jika tidak bisa baru hubungi saya..” bisik dr.Anty.

Alamak!! Pengalaman masih setahun jagung. Belum mantap tapi kerna arahannya dr.Anty terpaksa memikul amanah ini. Perjalanan menaiki ambulan yang menegangkan. Jika dulu waktu sekolah menengah, suka saat menaiki ambulan menemani faten atau hidayati yang tiba-tiba pingsan disekolah. Apalagi bunyi siren yang menyihir semua kenderaan untuk ke samping. Perasaan kali ini sangat berbeda. Kerna diri memakai jas putih ini. Jas putih yang memiliki tanggungjawab maha berat disebaliknya.

Mengawasi tanda vital si ibu. Nadi, pernafasan. Oksigen tambahan hanya tersedia canul yang bisa mensuplai 2L-4L oksigen. Tidak cukup untuk menampung kebutuhan oksigen si ibu yang sangat sesak. Semoga cepat tiba di WS!! Perjalanan sepertinya jauh berbatu-batu. Ambulan serasa merangkak perlahan membelah pekatnya malam. Ibu sempat henti napas. Hampir kami melakukan resusitasi jantung paru (CRP). Namun untungnya setelah satu siklus ibu kembali sadar dan sesak lagi. Paling kurang masih sadar sampai ke rumah sakit. Oh Tuhan!! Sungguh ngeri pengalaman seperti itu. Tapi seru juga sih. Disitu baru merasa pentingnya ilmu yang selama ini kita pelajari untuk membantu orang lain. Nampak sederhana namun sebenarnya sangat penting. Sama seperti di filem-filem medis di televesi. Keren juga yah.

Sampai di WS, sudah ada teman sejawat yang menunggu. Teman ko-ass. Kerna tidak ada oksigen transfer, diri menggunakan ambu bag buat sementara melarikan pasien ke dalam UGD Pinang. Sambil tangan sibuk mengambu, sambil mulut harus melaporkan kasus pada teman sejawat guna mempercepat penanganan yang tepat yang harus dilakukan. Sebentar baru datang dokter-dokter residen yang bertugas untuk menangani pasien tersebut. Untung kami selesai juga memasang oksigen, mengambil darah dan melakukan pemeriksaan fisik yang dasar pada pasien.

Tidak ada ibu bapa pasien yang datang. Padahal anaknya sekritis ini, antara hidup dan mati. Sebelum berangkat tadi, dr.Anty sempat membisikkan, jika pasien ini untung-untungan selamat sampai pagi besok. Kerna hemoglobin dalam darahnya sangat rendah. Dan kontraksi jantungnya tidak begitu bagus.  Cek percek, baru diri mendapat tahu, sebenarnya pasien ini tidak didatangi keluarga kerna beliau ternyata KAWIN LARI!! Astagfirullahal adzim.. ternyata ada kejadian yang seperti ini. Anak ini masih begitu muda.  Kami memujuk sang suami untuk mengkhabari orang tuanya. Dalam kondisi seperti ini, harus ada pemberitahuan pada orang tua sebelum ada hal yang tidak diinginkan berlaku.

Ya akhirnya orang tua perempuan tersebut datang. Menangis. ketersinggungan yang sepertinya lama membengkak masih berbekas di mata orang tuanya. Mamanya si pasien memeluknya erat. Menangis jadi-jadi. Bapanya memarahinya dalam bahasa bugis yang ku tak mengerti. Yang jelas semua penuh penyesalan. Si pasien tak henti meminta maaf dari orang tuanya. Persoalan cinta selalu menjadi hal yang rumit. Entahlah adakah kekuatan cinta selalu memilih jalan yang salah untuk membuktikan? Ataukah manusia sebenarnya cenderung memilih jalan yang salah itu? Pertimbangan keharusan selalu berseberangan dengan kemahuan. Kenapa pernikahan selalu saja dijadikan penyelesaian yang begitu memaksa. Walau apa caranya. Harusnya arti pernikahan itu sendiri dipahami. 

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Pernikahan adalah ibadah. Bukan Cuma sekadar mendapat  pengesahan secara hukum, yang biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Pernikahan itu menyambung silaturrahim. Bukan bahkan memutuskannya.


Jumaat, 8 Mac 2013

TERUSAN PANAMA, MAHAKARYA TERMAHAL DUNIA

0


Kemarin sempat bercerita.. salah satu judul yang paling menarik itu adalah terusan. ternyata masih ada satu terusan yang diri belum ketahui...itulah Terusan Panama (Panama Canal) atau mungkin tidak perhatian sewaktu guru menjelaskan dalam kelas geografi sekolah menengah dulu..huu -_-" but thanks anyway you had increase my knowledge..

TERUSAN Panama (Panama Canal) adalah sebuah kanal besar yang terletak di negara Panama, Amerika Tengah. Kanal Panama atau yang lebih dikenal dengan nama Terusan Panama lebih jelasnya adalah sebuah terusan yang membelah tanah genting Panama sepanjang 82 km, sekaligus juga membelah daratan Amerika Utara dan Amerika Selatan dan dengan demikian berhasil menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik. Terusan ini memotong waktu tempuh kapal laut karena tidak perlu memutar lewat ujung selatan Amerika Selatan. Sebagai contoh, jika sebuah kapal laut berlayar dari New York (Pantai Timur AS) menuju ke San Francisco (Pantai Barat AS) dan tidak melalui terusan ini maka jarak perjalanannya menjadi 22.500 km (14.000 mil), sedangkan jika memanfaatkan terusan maka jaraknya hanya menjadi 9.500 km (6.000 mil) saja!

Rencana pembangunan terusan ini sudah mulai muncul di abad ke 16 namun baru berhasil direalisasikan pada 15 Agustus 1914. Walaupun pembangunannya dilanda berbagai masalah seperti penyakit malaria, demam kuning, bencana tanah longsor, dan kekurangan air, terusan ini akhirnya berhasil didirikan dan telah membantu ratusan ribu kapal menyeberang sejak pembukaannya atau rata-rata 12.000 kapal per tahun.


Sejarah Pembangunan

Gagasan pembangunan Terusan Panama dicetuskan pertama kali pada tahun 1524 oleh raja Spanyol saat itu, Charles V. Raja berpendapat jika tanah genting di Panama dibelah maka akan meringankan perjalanan kapal-kapal kerajaan yang berlayar dari Ekuador ke Peru ataupun sebaliknya. Tahun-tahun berikutnya, sejumlah kerajaan lain di Eropa juga mengemukakan gagasan yang sama namun masih terbentur kendala teknologi dan sumber daya.

Pembangunan fisik terusan akhirnya baru berhasil dimulai pada tanggal 1 Januari 1880. Saat itu Pemerintah Perancis yang terinspirasi dari kesuksesan insinyurnya, Ferdinand de Lesseps, yang berhasil mendirikan Terusan Suez di benua Afrika, memutuskan memulai proyek mahasulit ini. Pembangunan terusan dipercayakan langsung pada de Lesseps. Sayangnya, karena terkesan buru-buru dan tidak melakukan studi geologi dan hidrologi yang memadai, proyek ini mulai banyak memakan korban jiwa dan dana. Wabah malaria dan demam kuning merebak dan sejumlah besar pekerja terjangkit dan bahkan meninggal dunia (tercatat sekitar 22.000 orang) sehingga proyek mulai terbengkalai. Peralatan yang terbuat dari besi dan baja mulai berkarat, sebagian pekerja angkat tangan dan kembali ke negaranya.

Melihat kondisi ini, pemerintah Perancis pada tahun 1893 memutuskan menghentikan sementara proyek ini. Selanjutnya pada tahun 1898, Perancis melobi Amerika Serikat (AS) untuk meneruskan proyeknya. Tahun 1902, Senat AS menyetujui pengambilalihan proyek ini. Tahun 1904, presiden AS masa itu, Theodore Roosevelt, memutuskan membeli sisa-sisa peralatan proyek dari Perancis dan meneruskan pembangunan terusan. Namun, hal ini dilakukan AS setelah berhasil memerdekakan Panama dari Kolombia. Sebagai kompensasinya, Pemerintah Panama memberikan hak pengelolaan terusan kepada AS.

Pembangunan Terusan Panama pun dilanjutkan kembali! Kali ini melalui persiapan matang dan penyediaan infrastruktur yang memadai. Presiden Theodore Roosevelt menunjuk George Washington Goethals sebagai pimpinan proyek. Peralatan lama sedikit demi sedikit mulai diganti dengan peralatan baru yang lebih canggih. Tahun 1914, proyek Terusan Panama berhasil diselesaikan. Dua tahun lebih cepat dari target yang ditetapkan yaitu pada 1 Juni 1916. Terusan Panama akhirnya dibuka secara resmi pada 15 Agustus 1914 yang bertepatan dengan mulai berkecamuknya Perang Dunia I di Eropa dan kapal laut pertama yang melintas adalah sebuah kapal kargo yang bernama, Ancon.

Pada 1930an, Terusan Panama disempurnakan dengan diciptakannya danau-danau buatan sebagai penampung air yang dibuka jika ada kapal yang akan lewat. Selain itu juga dibuat beberapa pintu air. Setelah Perang Dunia II, rakyat Panama mulai menuntut hak pengelolaan dan selain itu memprotes kehadiran militer AS yang semakin hari semakin bertambah banyak. Akhirnya pada 7 September 1977, Presiden AS, Jimmy Carter dan Presiden Panama, Omar Torrijos menandatangani sebuah kesepakatan yang mengizinkan Panama mengelola sendiri terusan itu namun tetap menjamin netralitas kawasan (Neutrality Treaty) dan AS diizinkan untuk kembali kapan saja. Akan tetapi, kesepakatan ini dikecam oleh sebagian besar rakyat AS. Selanjutnya, pada 31 Desember 1999, pengelolaan terusan diserahkan sepenuhnya ke Panama melalui Otoritas Terusan Panama/Panama Canal Authority (ACP).

Sebelum penyerahan ini, pemerintah Panama telah mengadakan tender internasional untuk 25 tahun kontrak pengoperasian pelabuhan kontainer yang dimenangkan oleh perusahaan Hutchison Whampoa, sebuah perusahaan asal Hong Kong yang dimiliki oleh taipan Li Ka Shing

Cara Pengoperasian

Berbeda dengan Terusan Suez, Terusan Panama mengandalkan sejumlah pintu air dan beberapa danau buatan. Dari Teluk Limon di Samudera Atlantik, kapal memasuki pintu air Gatun Locks yang mengangkat kapal setinggi 26 meter dari permukaan laut. Sejumlah lokomotif listrik kecil menuntun atau mendorong kapal melintasi pintu-pintu air tersebut. Kapal kecil mematikan mesin dan didorong, sedang kapal besar dituntun tapi tetap bergerak dengan kekuatan sendiri. Pintu air raksasa dari baja di belakang kapal ditutup dan pintu air di depannya dibuka untuk mengalirkan air pelan-pelan dari Danau Gatun. Ada tiga pintu air yang harus dilewati, yang akhirnya menaikkan kapal sampai sejajar dengan permukaan danau.

Kapal kemudian melepaskan diri dari lokomotif listrik dan berlayar melintasi danau buatan itu sejauh 22 mil atau 35 kilometer. Danau buatan ini semula adalah lembah Sungai Chagres yang dibendung dengan membangun dam raksasa Gatun. Sesampai di ujung tenggara Danau Gatun kapal memasuki Lintasan Gaillard (gill-yard) yang panjangnya 13 kilometer, lebar 150 meter dan kedalaman minimum 13 meter. Di ujung lintasan Gaillard kapal kembali memasuki pintu air yang juga dilengkapi lokomotif-lokomotif pendorong. Pintu air pertama Pedro Miguel Locks menurunkan kapal 9 meter ke permukaan danau Miraflores. Dari sini kapal kemudian berlayar melintasi danau Miraflores sejauh 2 setengah kilometer ke pintu air Miraflores atau Miraflores Locks. Disini dua pintu air menurunkan kapal sampai sejajar dengan permukaan Samudera Pasifik. Dan dari sini kapal berlayar memasuki Teluk Panama dan kemudian keluar ke Samudera Pasifik.

Diukur dari Teluk Limon di Samudera Atlantik ke Teluk Panama di Samudera Pasifik terusan ini memiliki panjang sekitar 82 kilometer dengan lama pelayaran sekitar 8 jam. Rata-rata ada 12.000 kapal melintasi terusan ini setiap tahun, atau sekitar 33 kapal sehari. Tetapi karena sempit, terusan ini tidak dapat dilewati kapal induk dan kapal tangki raksasa. Oleh karenanya kapal-kapal yang bisa melintas di terusan Panama disebut kapal-kapal Panamaz.

Tarif melewati terusan

Otoritas terusan menetapkan tarif untuk melintas Terusan Panama berdasarkan jenis kapal, ukuran, dan kargo apa yang dimuat dalam kapal. Tahun 2007, Otoritas telah menetapkan tarif terbarunya dan kapal Disney Cruise Line asal AS pada tahun 2008 mencatat rekor sebagai pembayar tarif termahal yaitu sejumlah USD 331.200.

Tantangan ke Depan

Terusan Panama menghadapi sejumlah persaingan sengit dari misalnya jawatan kereta api inter-samudra yang melintasi Amerika Serikat dan Meksiko, serta rencana negara tetangga Nikaragua untuk juga membangun terusan. Melihat tantangan ini Pemerintah Panama pada tahun 2006 lalu menggelar referendum untuk memperluas terusan. Untungnya referendum ini disetujui oleh sekitar 80% rakyat Panama. Secara kongkrit, perluasan terusan Panama akan dibarengi dengan pembangunan dua pintu air ekstra lebar, yaitu pada awal dan akhir terusan. Terusan Panama juga akan diperluas dan diperdalam di beberapa tempat. Proyek ini akan makan waktu paling sedikit delapan tahun dan biayanya mencapai lebih dari USD 5 milyar. Panama sendiri akan menyalurkan sekitar separuh ongkosnya yang bisa jadi diambil dari kantong Otoritas Terusan Panama yang tahun 2007 tercatat meraup pendapatan sekitar USD 1,76 miliar. Sisanya diambil dari pinjaman-pinjaman internasional.

Terusan Panama termasuk salah satu karya bangunan termahal di dunia. Seberapa besar jasa kanal yang menguras sekitar AS $ 387 milliar serta nyawa ribuan manusia itu? Inilah kisah suatu bencana yang berubah menjadi karya dunia yang mengagumkan dan sarat dengan kenekatan, korupsi  serta kebangkrutan.

Khamis, 7 Mac 2013

ONCALL RSIA PERTIWI

0




MINGGU 4. Pindah tugas ke RSIA Pertiwi yang berdekatan dengan Pelamonia. Rumah sakit ini tergolong dalam kelas menangah ke atas. Ada 2 kamar bersalin (VK) yakni VK Atas dan VK Bawah. VK atas merupakan VK ekslusif. Yang menempatkan pasien-pasien “PD” istilahnya atau “Pasien Dokter”. Pasien dokter berarti dokter spesialis yang akan membantu partus pasien itu. Meski demikian, tetap saja kami diberi peluang untuk menerima (clerk case) dan juga membuat pemeriksaan dalam vagina (vagina toucher/VT).  VK bawah menempatkan pasien yang masuk dengan jaminan kesehatan JamKesDa (jaminan kesehatan daerah). Alias golongan menengah ke bawah. Nah, di VK bawah ini kami diberi kesempatan bukan hanya menerima pasien bahkan hingga membantu partus, drip oxytocin dan sebagainya.

Suasana di Pertiwi amatlah jauh bedanya dengan RSUD Maros. Maklum saja ini rumah sakit tengah kota metropolitan Makassar. Semua serba ada.serba lengkap. Cepat saja beradaptasi. Begitulah..terima apa adanya. Di sini kami jaga on off atau selang satu hari. Meski capek namun banyak hal yang dapat dipelajari. Lebih enak jaga on off begini daripada 8 jam. Kerna kita bisa melihat proses lansung seorang ibu melahirkan dari mulai sakit nyeri belakangà muncul semua gejala inpartu (mahu melahirkan)à ibu melahirkan à 2 jam post-partum (selesai melahirkan).

Bertugas dirumah sakit daerah dan rumah sakit kota sangat berbeda tipe masyarakatnya. Jika di daerah, ibu hamil sibuk bertanya, “doc, saya bisa melahirkan normal gak yah?” meski dalam kesakitan, tapi jika di kota ibu hamil, jika sakit sedikit, “doc, bisa di operasi saja? Tidak sanggupka” ih ibu.. memangnya dipikir operasi itu tidak nyeri? Tidak ada resiko? Tolonglah.. Why GOD created a women with the internal strength to give abirth if it’s not for her own sake? Natural phenomenon. It’s surely for a reason. Disinilah pentingnya komunikasi dan bagaimana kita menjelaskan pada pasien dengan baik. Ada ko-ass yang takut dengan kata “PD atau pasien VIP”. Padahal yang diperlukan oleh siapapun adalah komunikasi yang baik dan penjelasan.

Dibawah bimbingan dr.Ana, dr.Nyingsi, dr.Negel, dr.Yaya, dr.Richard dan sangat seru. Dr.Ana dan dr.Nyingsi sudah seperti teman sejawat yang sangat memahami.


Selasa, 5 Mac 2013

WELCOME TO RSUD SALEWANGANG,MAROS

0



MINGGU 3. Bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang,Maros. 1 Jam dari Makassar. Selalu bagus perasaannya jika bertugas di rumah sakit jejaring. Suasana yang baru lagi. Bertemu dengan orang-orang yang baru. Berkerjasama dengan dokter dan rakan sejawat yang baru.

Di Maros disediakan ruang koass yang tersendiri dengan makanan yang disediakan 4x1. Dari makan pagi, makan siang, minum sore dan makan malam. Cukup adekuat hingga menjadikan stase di Maros like heaven vacation. Awalnya diri merequest di Maros gara-gara Kak Murni yang pulang bercuti. Kerna diri yang sudah terlanjur masuk di Obgyn, untuk bertemu dengan kakakku sayang itu akan sedikit sulit. Makanya memutuskan untuk minta surat tugas ke Maros. Namun yah mungkin takdir masih mahu menguji, ternyata Kak Murni sudah pulang hari sebelum diri ditugaskan ke sana. Belum jodoh mungkin.

RSUD Salewangang sangat damai. Khas dengan suasana pendesaan dengan ibu bidan dan bicil-bicil yang sangat ramah dan baik hati. Begitu juga dokter residen Obgyn yang bertugas disana. Di bawah bimbingan dr.Isma, dr.Edwin dan dr.Anca’, kami diberi peluang untuk merasai pelbagai pengalaman. Dari menyambut kelahiran gamelli (kembar) hingga menangani kasus pasien plasenta (ari-ari) letak rendah, plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir) dan sebagainya. Membantu persalinan dan hecting itu menjadi santapan harian. Apalagi jarang ada bicil(bidan cilik/mahsiswa kebidanan) yang mahu menindaki. Paling mereka  minta diajarkan. Mengajar bicil bik tindakan mahupun teori selalu saja menyenangkan. Selain membangun hubungan yang baik dalam tim, kita juga dapat berbagi ilmu dan memperkukuhkan pengetahuan yang ada.

Ada satu pengalaman sewaktu tugas disini yang sangat tidak bisa diri lupakan. Ada seorang pasien, Ny.T, usia 21 tahun yang masuk dengan kehamilan anak pertama (G1P0A0) yang masih dalam fase laten (fase lama) dengan pembukaan mulut rahim belum ada. Atas indikasi bayinya dikhawatirkan besar menurut perkiraan ultrasonografi, maka dokter memutuskan untuk merawat inap pasien tersebut dan diinduksi kelahiran. Diri yang kebetulan tugas hari itu, menerima pasien baru ini(clerk case). Sepanjang Ny.T mempunyai keluhan, pasti diri yang dicari untuk menenangkannya. Entah itu pertanyaannya “doc, kenapa sakit sekali seperti ini?” “doc, bisa saya makan kacang?” “doc, anak pertamaku, baik-baikji didalam?” mungkin kedengarannya pertanyaan yang konyol (ridiculous)  tapi itulah kekhawatiran-kekhawatiran yang melanda ibu primigravida atau ibu muda yang hamil pertama kalinya. Prinsip “never lies to the patient” sangat membantu. Diri menjelaskan baik-baik bahwa kesakitannya akan bertambah keras tiap jam. Dan itu sebenarnya proses untuk membantu anaknya mencari jalan keluar dari pintu panggul. Tapi ibunya dilarang untuk mengedan/berkuat. Takutnya akan menyebabkan kepala anaknya bengkak (kaput). Ny.T mendengarkan dengan baik. Dan kami masih sempat bercanda sebelum semakin lama, mukanya makin jauh ditinggal senyum akibat sakitnya kontraksi yang frekuensinya bertambah kerap dan durasinya menjadi semakin lama.

Terakhir sewaktu diri meninggalkan ruang kamar bersalin, Ny.T masih pada pembukaan mulut rahim 4cm. menurut ilmu medis, ibu yang pertama kali hamil membutuhkan 1jam untuk pembukaan mulut rahimnya maju 1cm. untuk menunggu hingga pembukaan lengkap (10cm) ibarat suatu penyiksaan yang tidak berpenghujung. Seakan jarum jam terkena sumpahan Ratu Salju yang membekukan segalanya. Diri bebas tugas malam itu. Kerna system shift yang kami atur. Tim yang satunya yang bertugas. Pagi besoknya, ternyata Ny.T belum juga kunjung melahirkan. Padahal beliau sudah diinduksi dengan obat pematangan serviks 2kali dan induksi oxytocin. Wajahnya yang kepenatan lansung menyungging senyum tatkala meliht wajah bugar cukup tidurku yang muncul saat visite pagi itu. Ny.T mahu diri yang membantu menyambut kelahiran permata hati yang pertamanya itu. Padahal mungkin dia tidak tahu bahwa diri baru 3 kali menyambut kelahiran sewaktu di Siti Fatimah dulu. Hadeuh!! Diri mengiyakan saja. Tidak sampai 5 menit diri duduk di meja untuk mengisi laporan pagi, datang mama dan tante dari Ny.T menemui diri.

“Doc, minta tolong sekali qta(kamu) yang menyambut anaknya. Dia mahunya cuman sama qt(kamu), doc. Katanya lembut carata (caramu).”

Kamprett!! Matemi. Aduh padahal masih belajar juga. Lembut dari mananya juga tidak tahu. Entahlah.
Diri hanya senyum dan mengangguk. Direquest untuk menyambut kelahiran adalah hal yang pertama kali dialami. Mahunya ini ibu disambut anaknya oleh calon dokter yang masih belajar. Namun, mungkin inilah yang dikatakan rezeki untuk menimba lebih banyak ilmu.

Jam 15.00. diri hari ini bertugas di poliklinik. Pasiennya sangat banyak. Supersibuk. Dokter hanya menghandle yang mahu USG dan kasus yang bermasalah. ANC dang anti verban diserah penuh pada diri. Tiba-tiba diri dipanggil oleh adik bidan cilik ke kamar bersalin. Katanya harus segera. Terpaksa meninggalkan poliklinik untuk sementara. Di kamar bersaalin ternyata Ny.T yang mahu melahirkan. Dr.Isma berkata

“Fuzah, kasi partus(melahirkan) pasienmu. Dia requestki.. biar sama saya tidak mahu. Mahunya cuman sama kamu..” dr.Isma ketawa-ketawa. Hadueh!! -__- oklah.

Membantu persalinan Ny.T agak lama kerna ibu itu tidak pengalaman berkuat. Dan beliau kehabisan energy sebelum puncaknya.  Memakan waktu satu jam sebelum bayi perempuan yang mungil itu bisa keluar dari ruang sempit panggul si ibu. Alhamdulillah. Namun tetap terdapat robek perineum tingkat II memandangkan ini adalah kelahiran pertama dan jalan lahir masih sempit.

Setelah diyakini kondisi Ny.T baik-baik pasca persalinan, beliau dipindahkan ke perawatan di bangsal Nifas yang terletak di bagian belakang ruangan VIP, berdekatan dengan kamar koass kami. Namanya juga ibu baru. Sedikit hal yang tidak kena dengan anaknya sudah mampu membuat Ny.T sangat stress. Contohnya, anaknya demam setelah diimunisasi HepB 0 membuat beliau sangat khawatir. Padahal bayi lain dibangsal tersebut tidak ada yang demam. Segera dia menyusul diri di kamar operasi untuk melihat kondisi anaknya. Keseringan keluarga Ny.T mencari diri, membuat teman-teman sejawat jadi jengkel. Tapi mungkin kerna kekhawatirannya dan kurangnya pengalaman membuatkan si ibu terus khawatir.

Jadi ingat suatu kejadian sewaktu bayi Ny.T tidak berhenti menangis. diri sementara tidur siang di kamar koass kerna tidak jaga siang. Mencover tidur gara-gara jaga malam sebelumnya menghadapi kasus gawat dan 3 ibu yang melahirkan. Malam yang melelahkan. Ketukan di pintu kamar koass benar-benar membuat jengkel teman sejawat yang lain dan membuat mereka sampai marah-marah. Mereka melarang diri terus melayani kemanjaan Ny.T namun diri tidak tega. Kasihan sekali sama itu ibu. Segera bangun, mengenakan jas koass dan menyusur ke pintu. Melihat Ny.T yang berwajah kusut dan mendodoi anaknya yang tak kunjung berhenti menangis, mungkin anaknya kelaparan. Diri menyarankan supaya anak itu dibantu saja dengan susu formula. Tidak ada sekali air susu yang keluar hingga membuat bayi mungil itu terus kelaparan. Katanya sudah dibantu namun si anak tetap tidak mahu berhenti menangis. barangkali caranya yang salah.
Diri memangku bayi mungil itu dan memberikan susu formula yang sudah dikemas dalam dot/ botol bayi. 
Tidak sampai setengah jam ia sudah berhenti menagis. Ny.T pula yang menangis terisak-isak sambil mengeluarkan keluh kesahnya. Dia tidak mahu diri pergi dari situ kerna menurutnya anaknya berhenti menangis cuman jika diri ada sisana. Hadeuh!! -_-“ [ribet juga nih jadinya] dalam nada bercanda, aiisyy kalo saya yang jagai terus jadinya anak saya donk. Sambil diri memberi semangat lagi pada ibu muda itu bahwa dia pasti bisa menjalaninya. Anak kecil menangis cuman kerna 3 penyebab. Lapar, popoknya basah (pampers) atau kerna sakit. Padahal diri juga belum punya anak. Hanya mengandalkan teori dan pengalaman mengurus bayi sewaktu koass di bagian anak dulu. Untuk mengajar orang lain menjadi ibu ternyata susah juga. Mungkin dia hanya perlukan waktu dan pengalaman yang akan mengajarkannya. Semoga Ny.T akan berjaya menjadi ibu yang baik suatu hari nanti.

Menjelang hari ke-3 pasca melahirkan, Ny.T diizinkan untuk pulang. Sewaktu pamitan, dia merangkul diri erat-erat sambil mengucapkan ribuan terima kasih atas kesabaranku menghadapi kerenahnya. Yang menurutku tidak sebegitunya. Pengalaman ini mengajarku bahwa kita menjadi dokter tidak cukup mengurus ibunya dari saat mulai sakit mahu melahirkan, sampai 2 jam habis melahirkan, selesai. Namun bagaimana kita mengurusi ibu sampai melayani kekhawatirannya untuk menjalani rutinitas barunya sebagai ibu. Menjelaskan untuk tidak berputus asa untuk memberikan air susu ibu pada bayi, makanan bergizi yang hanya bisa diberikan setelah usia anak 6 bulan. Ny.T sempat menyimpan nomor telpon genggamku andai ada yang mahu ditanyakan. Dan diri berbesar hati mempersilakan saja ditanya apa yang menjadi keraguannya. Mungkin itu bisa membantu.

Benarlah profesion dokter itu punya banyak peluang untuk berbuat baik pada orang lain. Membantu yang dibutuhkan dan menjaga silaturrahim. Tergantung bagaimana kita kemudian menyikapi suatu permasalahan dan pembelajaran itu.



Isnin, 4 Mac 2013

RED TIDE

0



Red tide is a common name for a phenomenon known as an algal bloom (large concentrations of aquatic microorganisms) when it is caused by a few species of dinoflagellates and the bloom takes on a red or brown color. Red tides are events in which estuarine, marine, or fresh water algae accumulate rapidly in the water column, resulting in coloration of the surface water. It is usually found in coastal areas.

These algae, known as phytoplankton, are single-celled protists, plant-like organisms that can form dense, visible patches near the water's surface. Certain species of phytoplankton, dinoflagellates, contain photosynthetic pigments that vary in color from green to brown to red.
When the algae are present in high concentrations, the water appears to be discolored or murky, varying in color from purple to almost pink, normally being red or green. Not all algal blooms are dense enough to cause water discoloration, and not all discolored waters associated with algal blooms are red. Additionally, red tides are not typically associated with tidal movement of water, hence the preference among scientists to use the term algal bloom.

Some red tides are associated with the production of natural toxins, depletion of dissolved oxygen or other harmful effects, and are generally described as harmful algal blooms. The most conspicuous effects of these kind of red tides are the associated wildlife mortalities of marine and coastal species of fish, birds, marine mammals, and other organisms.

Overview
Red tide (NOAA)

Red tides in the Gulf of Mexico are a result of high concentrations of Karenia brevis, a microscopic marine algae that occurs naturally but normally in lower concentrations. In high concentrations, its toxin paralyzes the central nervous system of fish so they cannot breathe. Dead fish wash up on Mexican gulf beaches. Dense concentrations appear as discolored water, often reddish in color. It is a natural phenomenon, but the exact cause or combination of factors that result in a red tide outbreak are unknown. Red tide causes economic harm and for this reason red tide outbreaks are carefully monitored. For example, the Florida Fish and Wildlife Conservation Commission provides an up-to-date status report on the red tide in Florida. Texas also provides a current status report.

Red tide is also potentially harmful to human health.Humans can become seriously ill from eating oysters and other shellfish contaminated with red tide toxin.Karenia brevis blooms can potentially cause eye and respiratory irritation (coughing, sneezing, tearing, and itching) to beachgoers, boaters and coastal residents.People with severe or persistent respiratory conditions (such as chronic lung disease or asthma) may experience stronger adverse reactions. The National Oceanic and Atmospheric Administration's National Ocean Service provides a public conditions report identifying possible respiratory irritation impacts in areas affected by red tides.

The debate over the cause of red tides is controversial. Red tides occur naturally off coasts all over the world. Not all red tides have toxins or are harmful.

Definition

Red tide is a colloquial term used to refer to one of a variety of natural phenomena known as a harmful algal blooms or HABs. The term red tide specifically refers to blooms of a species of dinoflagellate known as Karenia brevis.It is sometimes used to refer more broadly to other types of algal blooms as well.
The term red tide is being phased out among researchers for the following reasons:

-          Red tides are not necessarily red and many have no discoloration at all.
-          They are unrelated to movements of the tides.

    The term is imprecisely used to refer to a wide variety of algal species that are known as bloom-formers.

As a technical term it is being replaced in favour of more precise terminology including the generic term harmful algal bloom for harmful species, and algal bloom for non-harmful species.
The term red tide is most often used in the United States of America to refer to Karenia brevis blooms in the eastern Gulf of Mexico, also called the Florida red tide. These blooms occur almost annually along Florida waters. The density of these organisms during a bloom can exceed tens of millions of cells per litre of seawater, and often discolor the water a deep reddish-brown hue.

The term red tide is also sometimes used to describe harmful algal blooms on the northern east coast of the United States, particularly in the Gulf of Maine. This type of bloom is caused by another species of dinoflagellate known as Alexandrium fundyense. These blooms of organisms cause severe disruptions in fisheries of these waters as the toxins in these organism cause filter-feeding shellfish in affected waters to become poisonous for human consumption due to saxitoxin.The related Alexandrium monilatum is found in subtropical or tropical shallow seas and estuaries in the western Atlantic Ocean, the Caribbean Sea, the Gulf of Mexico and the eastern Pacific Ocean.

Causes

The occurrence of red tides in some locations appears to be entirely natural (algal blooms are a seasonal occurrence resulting from coastal upwelling, a natural result of the movement of certain ocean currents)while in others they appear to be a result of increased nutrient loading from human activities.The growth of marine phytoplankton is generally limited by the availability of nitrates and phosphates, which can be abundant in agricultural run-off as well as coastal upwelling zones. Coastal water pollution produced by humans and systematic increase in sea water temperature have also been implicated as contributing factors in red tides[citation needed]. Other factors such as iron-rich dust influx from large desert areas such as the Saharan desert are thought to play a major role in causing red tides. Some algal blooms on the Pacific coast have also been linked to occurrences of large-scale climatic oscillations such as El Niño events. While red tides in the Gulf of Mexico have been occurring since the time of early explorers such as Cabeza de Vaca, it is unclear what initiates these blooms and how large a role anthropogenic and natural factors play in their development. It is also debated whether the apparent increase in frequency and severity of algal blooms in various parts of the world is in fact a real increase or is due to increased observation effort and advances in species identification methods.

Subhanallah… Allah created something “in time”. Everything comes to occur just like what HE planned it to be. The microorganism that cannot be seen by naked eyes.. the sea, the blooms. The nature phenomenon that comes to elobrate the Power of GOD that control everything. Every single things in the world. And what suppose to be better that that? And what we ought to give our faith in?