Skinpress Rss

Khamis, 7 Mac 2013

ONCALL RSIA PERTIWI

0




MINGGU 4. Pindah tugas ke RSIA Pertiwi yang berdekatan dengan Pelamonia. Rumah sakit ini tergolong dalam kelas menangah ke atas. Ada 2 kamar bersalin (VK) yakni VK Atas dan VK Bawah. VK atas merupakan VK ekslusif. Yang menempatkan pasien-pasien “PD” istilahnya atau “Pasien Dokter”. Pasien dokter berarti dokter spesialis yang akan membantu partus pasien itu. Meski demikian, tetap saja kami diberi peluang untuk menerima (clerk case) dan juga membuat pemeriksaan dalam vagina (vagina toucher/VT).  VK bawah menempatkan pasien yang masuk dengan jaminan kesehatan JamKesDa (jaminan kesehatan daerah). Alias golongan menengah ke bawah. Nah, di VK bawah ini kami diberi kesempatan bukan hanya menerima pasien bahkan hingga membantu partus, drip oxytocin dan sebagainya.

Suasana di Pertiwi amatlah jauh bedanya dengan RSUD Maros. Maklum saja ini rumah sakit tengah kota metropolitan Makassar. Semua serba ada.serba lengkap. Cepat saja beradaptasi. Begitulah..terima apa adanya. Di sini kami jaga on off atau selang satu hari. Meski capek namun banyak hal yang dapat dipelajari. Lebih enak jaga on off begini daripada 8 jam. Kerna kita bisa melihat proses lansung seorang ibu melahirkan dari mulai sakit nyeri belakangà muncul semua gejala inpartu (mahu melahirkan)à ibu melahirkan à 2 jam post-partum (selesai melahirkan).

Bertugas dirumah sakit daerah dan rumah sakit kota sangat berbeda tipe masyarakatnya. Jika di daerah, ibu hamil sibuk bertanya, “doc, saya bisa melahirkan normal gak yah?” meski dalam kesakitan, tapi jika di kota ibu hamil, jika sakit sedikit, “doc, bisa di operasi saja? Tidak sanggupka” ih ibu.. memangnya dipikir operasi itu tidak nyeri? Tidak ada resiko? Tolonglah.. Why GOD created a women with the internal strength to give abirth if it’s not for her own sake? Natural phenomenon. It’s surely for a reason. Disinilah pentingnya komunikasi dan bagaimana kita menjelaskan pada pasien dengan baik. Ada ko-ass yang takut dengan kata “PD atau pasien VIP”. Padahal yang diperlukan oleh siapapun adalah komunikasi yang baik dan penjelasan.

Dibawah bimbingan dr.Ana, dr.Nyingsi, dr.Negel, dr.Yaya, dr.Richard dan sangat seru. Dr.Ana dan dr.Nyingsi sudah seperti teman sejawat yang sangat memahami.


Selasa, 5 Mac 2013

WELCOME TO RSUD SALEWANGANG,MAROS

0



MINGGU 3. Bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang,Maros. 1 Jam dari Makassar. Selalu bagus perasaannya jika bertugas di rumah sakit jejaring. Suasana yang baru lagi. Bertemu dengan orang-orang yang baru. Berkerjasama dengan dokter dan rakan sejawat yang baru.

Di Maros disediakan ruang koass yang tersendiri dengan makanan yang disediakan 4x1. Dari makan pagi, makan siang, minum sore dan makan malam. Cukup adekuat hingga menjadikan stase di Maros like heaven vacation. Awalnya diri merequest di Maros gara-gara Kak Murni yang pulang bercuti. Kerna diri yang sudah terlanjur masuk di Obgyn, untuk bertemu dengan kakakku sayang itu akan sedikit sulit. Makanya memutuskan untuk minta surat tugas ke Maros. Namun yah mungkin takdir masih mahu menguji, ternyata Kak Murni sudah pulang hari sebelum diri ditugaskan ke sana. Belum jodoh mungkin.

RSUD Salewangang sangat damai. Khas dengan suasana pendesaan dengan ibu bidan dan bicil-bicil yang sangat ramah dan baik hati. Begitu juga dokter residen Obgyn yang bertugas disana. Di bawah bimbingan dr.Isma, dr.Edwin dan dr.Anca’, kami diberi peluang untuk merasai pelbagai pengalaman. Dari menyambut kelahiran gamelli (kembar) hingga menangani kasus pasien plasenta (ari-ari) letak rendah, plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir) dan sebagainya. Membantu persalinan dan hecting itu menjadi santapan harian. Apalagi jarang ada bicil(bidan cilik/mahsiswa kebidanan) yang mahu menindaki. Paling mereka  minta diajarkan. Mengajar bicil bik tindakan mahupun teori selalu saja menyenangkan. Selain membangun hubungan yang baik dalam tim, kita juga dapat berbagi ilmu dan memperkukuhkan pengetahuan yang ada.

Ada satu pengalaman sewaktu tugas disini yang sangat tidak bisa diri lupakan. Ada seorang pasien, Ny.T, usia 21 tahun yang masuk dengan kehamilan anak pertama (G1P0A0) yang masih dalam fase laten (fase lama) dengan pembukaan mulut rahim belum ada. Atas indikasi bayinya dikhawatirkan besar menurut perkiraan ultrasonografi, maka dokter memutuskan untuk merawat inap pasien tersebut dan diinduksi kelahiran. Diri yang kebetulan tugas hari itu, menerima pasien baru ini(clerk case). Sepanjang Ny.T mempunyai keluhan, pasti diri yang dicari untuk menenangkannya. Entah itu pertanyaannya “doc, kenapa sakit sekali seperti ini?” “doc, bisa saya makan kacang?” “doc, anak pertamaku, baik-baikji didalam?” mungkin kedengarannya pertanyaan yang konyol (ridiculous)  tapi itulah kekhawatiran-kekhawatiran yang melanda ibu primigravida atau ibu muda yang hamil pertama kalinya. Prinsip “never lies to the patient” sangat membantu. Diri menjelaskan baik-baik bahwa kesakitannya akan bertambah keras tiap jam. Dan itu sebenarnya proses untuk membantu anaknya mencari jalan keluar dari pintu panggul. Tapi ibunya dilarang untuk mengedan/berkuat. Takutnya akan menyebabkan kepala anaknya bengkak (kaput). Ny.T mendengarkan dengan baik. Dan kami masih sempat bercanda sebelum semakin lama, mukanya makin jauh ditinggal senyum akibat sakitnya kontraksi yang frekuensinya bertambah kerap dan durasinya menjadi semakin lama.

Terakhir sewaktu diri meninggalkan ruang kamar bersalin, Ny.T masih pada pembukaan mulut rahim 4cm. menurut ilmu medis, ibu yang pertama kali hamil membutuhkan 1jam untuk pembukaan mulut rahimnya maju 1cm. untuk menunggu hingga pembukaan lengkap (10cm) ibarat suatu penyiksaan yang tidak berpenghujung. Seakan jarum jam terkena sumpahan Ratu Salju yang membekukan segalanya. Diri bebas tugas malam itu. Kerna system shift yang kami atur. Tim yang satunya yang bertugas. Pagi besoknya, ternyata Ny.T belum juga kunjung melahirkan. Padahal beliau sudah diinduksi dengan obat pematangan serviks 2kali dan induksi oxytocin. Wajahnya yang kepenatan lansung menyungging senyum tatkala meliht wajah bugar cukup tidurku yang muncul saat visite pagi itu. Ny.T mahu diri yang membantu menyambut kelahiran permata hati yang pertamanya itu. Padahal mungkin dia tidak tahu bahwa diri baru 3 kali menyambut kelahiran sewaktu di Siti Fatimah dulu. Hadeuh!! Diri mengiyakan saja. Tidak sampai 5 menit diri duduk di meja untuk mengisi laporan pagi, datang mama dan tante dari Ny.T menemui diri.

“Doc, minta tolong sekali qta(kamu) yang menyambut anaknya. Dia mahunya cuman sama qt(kamu), doc. Katanya lembut carata (caramu).”

Kamprett!! Matemi. Aduh padahal masih belajar juga. Lembut dari mananya juga tidak tahu. Entahlah.
Diri hanya senyum dan mengangguk. Direquest untuk menyambut kelahiran adalah hal yang pertama kali dialami. Mahunya ini ibu disambut anaknya oleh calon dokter yang masih belajar. Namun, mungkin inilah yang dikatakan rezeki untuk menimba lebih banyak ilmu.

Jam 15.00. diri hari ini bertugas di poliklinik. Pasiennya sangat banyak. Supersibuk. Dokter hanya menghandle yang mahu USG dan kasus yang bermasalah. ANC dang anti verban diserah penuh pada diri. Tiba-tiba diri dipanggil oleh adik bidan cilik ke kamar bersalin. Katanya harus segera. Terpaksa meninggalkan poliklinik untuk sementara. Di kamar bersaalin ternyata Ny.T yang mahu melahirkan. Dr.Isma berkata

“Fuzah, kasi partus(melahirkan) pasienmu. Dia requestki.. biar sama saya tidak mahu. Mahunya cuman sama kamu..” dr.Isma ketawa-ketawa. Hadueh!! -__- oklah.

Membantu persalinan Ny.T agak lama kerna ibu itu tidak pengalaman berkuat. Dan beliau kehabisan energy sebelum puncaknya.  Memakan waktu satu jam sebelum bayi perempuan yang mungil itu bisa keluar dari ruang sempit panggul si ibu. Alhamdulillah. Namun tetap terdapat robek perineum tingkat II memandangkan ini adalah kelahiran pertama dan jalan lahir masih sempit.

Setelah diyakini kondisi Ny.T baik-baik pasca persalinan, beliau dipindahkan ke perawatan di bangsal Nifas yang terletak di bagian belakang ruangan VIP, berdekatan dengan kamar koass kami. Namanya juga ibu baru. Sedikit hal yang tidak kena dengan anaknya sudah mampu membuat Ny.T sangat stress. Contohnya, anaknya demam setelah diimunisasi HepB 0 membuat beliau sangat khawatir. Padahal bayi lain dibangsal tersebut tidak ada yang demam. Segera dia menyusul diri di kamar operasi untuk melihat kondisi anaknya. Keseringan keluarga Ny.T mencari diri, membuat teman-teman sejawat jadi jengkel. Tapi mungkin kerna kekhawatirannya dan kurangnya pengalaman membuatkan si ibu terus khawatir.

Jadi ingat suatu kejadian sewaktu bayi Ny.T tidak berhenti menangis. diri sementara tidur siang di kamar koass kerna tidak jaga siang. Mencover tidur gara-gara jaga malam sebelumnya menghadapi kasus gawat dan 3 ibu yang melahirkan. Malam yang melelahkan. Ketukan di pintu kamar koass benar-benar membuat jengkel teman sejawat yang lain dan membuat mereka sampai marah-marah. Mereka melarang diri terus melayani kemanjaan Ny.T namun diri tidak tega. Kasihan sekali sama itu ibu. Segera bangun, mengenakan jas koass dan menyusur ke pintu. Melihat Ny.T yang berwajah kusut dan mendodoi anaknya yang tak kunjung berhenti menangis, mungkin anaknya kelaparan. Diri menyarankan supaya anak itu dibantu saja dengan susu formula. Tidak ada sekali air susu yang keluar hingga membuat bayi mungil itu terus kelaparan. Katanya sudah dibantu namun si anak tetap tidak mahu berhenti menangis. barangkali caranya yang salah.
Diri memangku bayi mungil itu dan memberikan susu formula yang sudah dikemas dalam dot/ botol bayi. 
Tidak sampai setengah jam ia sudah berhenti menagis. Ny.T pula yang menangis terisak-isak sambil mengeluarkan keluh kesahnya. Dia tidak mahu diri pergi dari situ kerna menurutnya anaknya berhenti menangis cuman jika diri ada sisana. Hadeuh!! -_-“ [ribet juga nih jadinya] dalam nada bercanda, aiisyy kalo saya yang jagai terus jadinya anak saya donk. Sambil diri memberi semangat lagi pada ibu muda itu bahwa dia pasti bisa menjalaninya. Anak kecil menangis cuman kerna 3 penyebab. Lapar, popoknya basah (pampers) atau kerna sakit. Padahal diri juga belum punya anak. Hanya mengandalkan teori dan pengalaman mengurus bayi sewaktu koass di bagian anak dulu. Untuk mengajar orang lain menjadi ibu ternyata susah juga. Mungkin dia hanya perlukan waktu dan pengalaman yang akan mengajarkannya. Semoga Ny.T akan berjaya menjadi ibu yang baik suatu hari nanti.

Menjelang hari ke-3 pasca melahirkan, Ny.T diizinkan untuk pulang. Sewaktu pamitan, dia merangkul diri erat-erat sambil mengucapkan ribuan terima kasih atas kesabaranku menghadapi kerenahnya. Yang menurutku tidak sebegitunya. Pengalaman ini mengajarku bahwa kita menjadi dokter tidak cukup mengurus ibunya dari saat mulai sakit mahu melahirkan, sampai 2 jam habis melahirkan, selesai. Namun bagaimana kita mengurusi ibu sampai melayani kekhawatirannya untuk menjalani rutinitas barunya sebagai ibu. Menjelaskan untuk tidak berputus asa untuk memberikan air susu ibu pada bayi, makanan bergizi yang hanya bisa diberikan setelah usia anak 6 bulan. Ny.T sempat menyimpan nomor telpon genggamku andai ada yang mahu ditanyakan. Dan diri berbesar hati mempersilakan saja ditanya apa yang menjadi keraguannya. Mungkin itu bisa membantu.

Benarlah profesion dokter itu punya banyak peluang untuk berbuat baik pada orang lain. Membantu yang dibutuhkan dan menjaga silaturrahim. Tergantung bagaimana kita kemudian menyikapi suatu permasalahan dan pembelajaran itu.



Isnin, 4 Mac 2013

RED TIDE

0



Red tide is a common name for a phenomenon known as an algal bloom (large concentrations of aquatic microorganisms) when it is caused by a few species of dinoflagellates and the bloom takes on a red or brown color. Red tides are events in which estuarine, marine, or fresh water algae accumulate rapidly in the water column, resulting in coloration of the surface water. It is usually found in coastal areas.

These algae, known as phytoplankton, are single-celled protists, plant-like organisms that can form dense, visible patches near the water's surface. Certain species of phytoplankton, dinoflagellates, contain photosynthetic pigments that vary in color from green to brown to red.
When the algae are present in high concentrations, the water appears to be discolored or murky, varying in color from purple to almost pink, normally being red or green. Not all algal blooms are dense enough to cause water discoloration, and not all discolored waters associated with algal blooms are red. Additionally, red tides are not typically associated with tidal movement of water, hence the preference among scientists to use the term algal bloom.

Some red tides are associated with the production of natural toxins, depletion of dissolved oxygen or other harmful effects, and are generally described as harmful algal blooms. The most conspicuous effects of these kind of red tides are the associated wildlife mortalities of marine and coastal species of fish, birds, marine mammals, and other organisms.

Overview
Red tide (NOAA)

Red tides in the Gulf of Mexico are a result of high concentrations of Karenia brevis, a microscopic marine algae that occurs naturally but normally in lower concentrations. In high concentrations, its toxin paralyzes the central nervous system of fish so they cannot breathe. Dead fish wash up on Mexican gulf beaches. Dense concentrations appear as discolored water, often reddish in color. It is a natural phenomenon, but the exact cause or combination of factors that result in a red tide outbreak are unknown. Red tide causes economic harm and for this reason red tide outbreaks are carefully monitored. For example, the Florida Fish and Wildlife Conservation Commission provides an up-to-date status report on the red tide in Florida. Texas also provides a current status report.

Red tide is also potentially harmful to human health.Humans can become seriously ill from eating oysters and other shellfish contaminated with red tide toxin.Karenia brevis blooms can potentially cause eye and respiratory irritation (coughing, sneezing, tearing, and itching) to beachgoers, boaters and coastal residents.People with severe or persistent respiratory conditions (such as chronic lung disease or asthma) may experience stronger adverse reactions. The National Oceanic and Atmospheric Administration's National Ocean Service provides a public conditions report identifying possible respiratory irritation impacts in areas affected by red tides.

The debate over the cause of red tides is controversial. Red tides occur naturally off coasts all over the world. Not all red tides have toxins or are harmful.

Definition

Red tide is a colloquial term used to refer to one of a variety of natural phenomena known as a harmful algal blooms or HABs. The term red tide specifically refers to blooms of a species of dinoflagellate known as Karenia brevis.It is sometimes used to refer more broadly to other types of algal blooms as well.
The term red tide is being phased out among researchers for the following reasons:

-          Red tides are not necessarily red and many have no discoloration at all.
-          They are unrelated to movements of the tides.

    The term is imprecisely used to refer to a wide variety of algal species that are known as bloom-formers.

As a technical term it is being replaced in favour of more precise terminology including the generic term harmful algal bloom for harmful species, and algal bloom for non-harmful species.
The term red tide is most often used in the United States of America to refer to Karenia brevis blooms in the eastern Gulf of Mexico, also called the Florida red tide. These blooms occur almost annually along Florida waters. The density of these organisms during a bloom can exceed tens of millions of cells per litre of seawater, and often discolor the water a deep reddish-brown hue.

The term red tide is also sometimes used to describe harmful algal blooms on the northern east coast of the United States, particularly in the Gulf of Maine. This type of bloom is caused by another species of dinoflagellate known as Alexandrium fundyense. These blooms of organisms cause severe disruptions in fisheries of these waters as the toxins in these organism cause filter-feeding shellfish in affected waters to become poisonous for human consumption due to saxitoxin.The related Alexandrium monilatum is found in subtropical or tropical shallow seas and estuaries in the western Atlantic Ocean, the Caribbean Sea, the Gulf of Mexico and the eastern Pacific Ocean.

Causes

The occurrence of red tides in some locations appears to be entirely natural (algal blooms are a seasonal occurrence resulting from coastal upwelling, a natural result of the movement of certain ocean currents)while in others they appear to be a result of increased nutrient loading from human activities.The growth of marine phytoplankton is generally limited by the availability of nitrates and phosphates, which can be abundant in agricultural run-off as well as coastal upwelling zones. Coastal water pollution produced by humans and systematic increase in sea water temperature have also been implicated as contributing factors in red tides[citation needed]. Other factors such as iron-rich dust influx from large desert areas such as the Saharan desert are thought to play a major role in causing red tides. Some algal blooms on the Pacific coast have also been linked to occurrences of large-scale climatic oscillations such as El Niño events. While red tides in the Gulf of Mexico have been occurring since the time of early explorers such as Cabeza de Vaca, it is unclear what initiates these blooms and how large a role anthropogenic and natural factors play in their development. It is also debated whether the apparent increase in frequency and severity of algal blooms in various parts of the world is in fact a real increase or is due to increased observation effort and advances in species identification methods.

Subhanallah… Allah created something “in time”. Everything comes to occur just like what HE planned it to be. The microorganism that cannot be seen by naked eyes.. the sea, the blooms. The nature phenomenon that comes to elobrate the Power of GOD that control everything. Every single things in the world. And what suppose to be better that that? And what we ought to give our faith in?

Ahad, 3 Mac 2013

ARTI KETAATAN

0



Suatu kisah yang pernah berlaku sewaktu diri lagi stase di RSIA Siti Fatimah.

Satu sore yang damai, masuk seorang ibu hamil anak pertama yang sudah memasuki fase aktif kala 1 dengan pembukaan mulut rahim 5 cm. wah, pasien pertamaku untuk dibantu partus/melahirkan. Maklum saja diri yang sementara menjalani kursus asuhan persalinan normal di RSP sangat bersemangat waja untuk melakukan bantu partus ini. Untuk itu, dokter menugaskan diri untuk mengobservasi ibu tersebut (menghitung kontraksi uterus/rahim dan observasi denyut jantung bayinya tiap setengah jam).menurut perkiraan medis, jika sebuah persalinan kala I sudah memasuki fase aktif, ibu yang kali pertama hamil, membutuhkan waktu 1 jam untuk pembukaan 1cm. dengan kata lain calon pasien pertamaku ini membutuhkan 5 jam lagi untuk mencapai pembukaan lengkap dan siap untuk dipimpin mengedan dan melahirkan bayinya.

Lewat 5 jam. Ibu tersebut sudah mulai merasa kram akibat kontraksi uterus yang semakin lama dan sering. Lendir berdarah keluar dari mulut vagina menandakan waktu untuk melahirkan atau istilahnya “inpartu” sudah sampai. Tiba-tiba BRUSSTTT!! Pecah ketuban/amnion sac. Menandakan bayi sudah siap untuk dilahirkan. Memakai handscone, melakukan pemeriksaan dalam vagina/VT. Pembukaan lengkap. Ubun-ubun kecil sudah arah jam 12 menandakan bayi sudah siap melakukan putaran paksi dalam. Diri siap-siap memakai apron (celemek) dan sarung tangan steril untuk membantu persalinan. Mengajarkan cara berkuat yang benar dan memberikan pengarahan kepada sang ibu untuk mengedan saat paling nyeri dirasakan. 15 menit dipimpin, bayi masih belum keluar. Dokter mulai campur tangan. Ya.. 15 menit terlalu lama untuk mengeluarkan bayi yang berat badan jangkaan 2500g. dipimpin oleh dokter juga berhasil yang sama. Ibunya mengedan terus. Kepala anaknya dibawah sudah terjadi kaput (pembesaran tidak alami akibat tumpukan cairan bawah lapisan kutis) hingga tidak memungkinkan untuk membantu ibu dengan vacuum. Jalan terakhir..IBU HARUS DIOPERASI!! Padahal kepala anaknya hanya 0.5cm hampir keluar di pintu atas panggul.  Semua gara-gara si Ibu yang tidak tahu cara mengedan yang benar.

tidak lama setelah aku menelpon, itu ibu gawat. sesak napas. si ibu yang memang mempunyai riwayat asma sebelumnya terpaksa dilarikan ke ruang operasi sesegera mungkin. suaminya disuruh masuk ke kamar operasi. kami sudah standby dengan pelbagai alat bantu dan obat-obat emergensi yang berkemungkinan dibutuhkan untuk menolong mempertahankan jalan napas sang ibu. tapi resikonya jika menolong ibu, kemungkinan untuk turut menyelamatkan anaknya sangat tipis. hanya salah satu yang bisa dipilih.
dalam suasana yang mencemaskan itu, sang ibu itu memeluk suaminya sambil berkali-kali meminta maaf dan menyebutkan kesalahan2x.. saat suaminya mengatakan "saya memaafkan kamu dan ridho atasmu" beberapa menit kemudian ibu itu mencoba mengumpulkan kekuatannya dan mengedan keras. membuat kami semua kaget. Bayangkan, tindakan yang diambil itu bisa berakibat fatal pada dirinya. kerna saat ibu menghabiskan sisa udara dalam rongga paru, cabang-cabang bronkus yang sedia menyempit pada kasus asma akan segara tertutup dan terblokir.dalam waktu 5 menit saja jika tidak segara ditolong dengan bronkodilator inhalasi dan udara yang cukup akan menyebabkan otak sang ibu mati dan ibu akan tewas dimeja operasi.

tapi selalu saja ada yang namax keajaiban dari Allah.. kamu tahu, anak yang tertahan lama dijalan lahir itu akhirnya lahir dengan normal.. meski kepalanya agak panjang (caput succidum), tapi ia bisa hilang dalam waktu beberapa minggu. dan ibu itu bisa kembali mengatur nafas normal. seperti tidak pernah terkena serangan asma.. Subhanallah sekali.  Bayi mereka, meski tidak menangis spontan, tetap tertolong setelah diresusitasi. benar-benar suatu keajaiban redha seorang suami....

Aku jadi ingat pertanyaan temanku sewaktu kuberikan “tiket jujur” lama dulu. Pertanyaannya,”Jika aku memberikanmu sebuah gelas bertatahkan permata, dan kemudian, aku menyuruhmu untuk memecahkannya, apa yang kamu akan lakukan? dan sebutkan alasannya.”  Pertanyaan yang gampang-gampang susah.  Aku memberikan dua jawaban saat itu.  Ada dua kemungkinan yang akan diri lakukan. Yang pertama, mungkin diri akan menuruti katanya dengan memecahkan gelas tersebut. Kerna mungkin dia ada alasan tertentu yang membuatnya memerintahkan seperti itu. Yang kedua, mungkin juga diri akan mengingkarinya dengan alasan, gelas itu adalah suatu bentuk amanah. Yang mana amanah itu adalah harus dipertahankan biar nyawa dituntut sebagai ganti. (Dia memberikan penilaian 50 markah untuk jawaban itu.)  dia kemudian mengaitkan pertanyaan itu dengan sebuah kisah sang raja yang memilih istri atas dasar ketaatannya. Waktu itu aku berpikir, jika taat dikerja secara buta, ia sia-sia. bukan dasarnya keikhlasan tapi keterpaksaan yang akhirnya menjadi kepasrahan. Tapi sekarang aku mengerti, arti dari ketaatan itu sendiri didalamnya ada kerelaan. keyakinan dan kepercayaan. dan itulah pondisi terkuat sebuah keikhlasan. jika seorang istri tidak bisa memberikan ketaatan pada suami, jadi bagaimana dia menjaga kehormatan keluarganya?..hmm..(dengan catatan suaminya beriman kepada Allah dan suruhannya tidak bertentangn dengan perintah Allah)..

CINTA YANG MANA

Tersebutlah pada suatu kisah, ada seorang Raja yang tengah mencari pendamping hidup..
Ditugaskanlah para orang kepercayaan untuk mencari wanita di seluruh pelosok negeri..

Mulai dari rakyat biasa, hingga yang terpandang..
Dari yang berparas sedang, hingga yang rupawan..
Dari yang sederhana, juga yang kaya raya..
Pada suatu kesempatan, diundanglah beberapa wanita tersebut oleh Sang Raja..
Sebuah jamuan dan pesta mewah pun digelar untuk menyambut mereka..
Namun, tidak beberapaa lama setelah jamuan itu berlangsung…
Kepada mereka diberikan gelas crystal yang bertahtakan permata, berisi minuman terbaik.
Sang Raja kemudian memerintahkan agar mereka membanting gelas masing-masing..
Semuanya terperangah dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu..
Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, karenanya suasana menjadi hening..
Ternyata itu datang dari seorang wanita berparas biasa, sederhana, dan tidak juga begitu kaya..
Di kakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan keheranan.

"Mengapa kau banting gelas itu?"
Tanpa takut wanita itu menjawab : "Ada beberapa sebab :
Pertama, Dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Paduka..
Sang Raja terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu.

Sebab lainnya?" tanya Sang Raja.
"Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Alquran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Paduka adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Paduka." Jawab sang wanita 
Sang Raja pun kian takjub.Demikian pula paran tamunya. "Masih ada sebab lain?"

Wanita itu mengangguk dan berkata :
"Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Pemimpin nya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya."

Maka kemudian, Sang Raja melamar wanita tersebut..
Semua rakyak merasa gembira karena Sang Raja memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada Pemimpin, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya..

Sesungguhnya..
Bersama nafsu dan kekuasaannya yang senantiasa menggoda..
Intan permata yang bernilai tinggi, pun tak kan ada guna..
Ketika “getaran rasa” telah pergi meninggalkan seorang hamba..
Yang tanpa sadar menyangsikan cinta yang Hakiki..

Jumaat, 1 Mac 2013

IBU CEMUMUT, DOKTER CEMUMUT,BIDAN JUGA IKUT CEMUMUT!!

0



MINGGU 2. Bagian Obstetric & Gynecology (Obgyn) ditugaskan di Rumah Sakit Ibu Anak Siti Fatimah. Minggu ini sebenarnya diri akan mengikuti kursus dan pelatihan tentang asuhan  persalinan normal (APN) di Rumah Sakit Pendidikan (RSP). Jadi kami hanya akan bertugas oncall/jaga di RS jejaring ini.
Bersama M.Rizal, Jackson, Zein, Agus dan Tengku Shah, hanya diri seorang coass perempuan yang stase di RS ini. Kami berenam dibahagi kepada 2 tim. Tim A dan tim B yang akan bergiliran jaga sepanjang satu minggu di sini. Diri sangat beruntung untuk berada satu tim dengan M.Rizal dan Jackson. Jack yang dari minggu satu kebetulan satu tim dengan diri sangat membantu mempermudahkan urusan pembelajaranku sepanjang di Obgyn.

 Tiap kali jaga Jack akan mengajarkan teori-teori dan mendiskusikan hal yang penting untuk diketahui. Sama saat kami menerima pasien baru, dia akan memberikan peluang pada diri untuk melakukan Vaginal Toucher (VT) atau nama lainnya Pemeriksaan dalam Vagina. Ini memberikan diri pengalaman untuk menentukan pembukaan portio uterus (mulut rahim) yang membenarkan kepala bayi keluar dari ruang sempit itu. Kemahiran menentukan luas pembukaan sangat tergantung dari jam terbang. Artinya, semakin sering kita melakukan VT, semakin banyak pengalaman dan semakin kita tahu bagaimana yang namanya pembukaan satu sentimeter, dua, tiga dan seterusnya.  Begitu juga dengan pemeriksaan luar. Kepekaan tangan untuk meraba bagian punggung (belakang badan) dan kepala pada pemeriksaan Leopold I-IV serta menentukan perlimaan sangat tergantung dari jam terbang atau pengalaman kita memeriksa. Sepanjang itu Jack banyak mendampingi dan mengajarkan. Maklum saja Jack sudah minggu berbelas-belas di Obgyn. Diri suka menjulukinya dengan panggilan Prof saking pintarnya dia dengan ilmu-ilmu Obgyn. Psst: diri tidak pernah membaca buku untuk kursus APN di keesokan harinya, cukup Prof.Jack mengajarkan tip-tips penting APN hingga diri mampu menjawab pre-test APN dengan baik. Discuss make perfect!! As always..

Berbeda dengan Rizal alias Ical. Meski agak pendiam dan kalem (cool), Ical sangat percaya diri dalam menangani pasien. Ical yang mendampingi diri waktu “partus pertama” yang kubantu. Waktu itu, ibu yang kubantu melahirkan anak pertama. Jadi wajar saja terjadi robekan perineum (bagian antara vagina dan anus) hingga memaksa kami untuk hecting (jahit). Ical ini seperti spesialis yang serba tahu bab-bab hecting. Kata Ical, hecting itu seperti meluahkan karya seni seorang dokter. Harus tahu yang mana yang mahu kita sambungkan dan perkemaskan…bagaimana mahu kita jahit..ototnya, mukosanya, kulitnya..adakah menggunakan teknik interuptus (jahitan putus2) atau subkutikal (antara kulit). Bagaimana memperkemas jahitan hingga ia tidak menyebabkan pendarahan. Alias menutup sumber perdarahan. Ical paling professional tentang itu. Maklum saja sudah minggu keempat di obgyn dan alumni RSUD Salewangang, Maros lagi.

Dokter-dokter residen di sana juga sangatlah baik hati lagi tidak sombong. Ada dr.Eric, dr.Tuti, dr.Santi dan dr.Emmy yang dari dokter senior sampai Observer (dokter yang mengikuti pendidikan spesialis yang semester 1) sangat baik hati. Apalagi diri seorang coass perempuan dan minggu bawah. Sangat di”manjakan”.dan tidak lokek diajar. Very friendly peoples. Dr.Santi misalnya, datang saja pasien baru, pasti diri yang pertama yang dipanggil untuk mengikuti beliau melakukan pemeriksaan dalam alias VT. Beliau juga selalu akan bertanya “Fuzah sudah makan? Sini dulu makan..kasi Bicil (bidan kecil/mahasiswa kebidanan) yang observasi(follow up)”.

Bicil-bicil di RS ini juga sangat membantu. Tiap kali ada ibu melahirkan, mereka lincah menyiapkan set partus (alat-alat yang diperlukan untuk partus/melahirkan), hecting set, underpad, lampu sorot, pakaian bayi, kantong untuk plasenta dan yang paling penting, kami berkerja seperti satu tim bola. Ada yang jaga gawang (bantu melahirkan). Ada penyerang (bantu untuk melakukan aksi Cress-John/Cress-taller) yang tidak etis dilihat itu), ada defender (yang menahan perineum dari robek sewaktu kepala bayi melewati pintu panggul bawah alias vagina) dan ada supporter (bicil-bicil yang menyemangati ibu dengan kata-kata seperti “ayo, ibu pasti bisa!!” “yah, begitu cara berkuatnya,pintar ibu…terussss!!!” “semangat ibu mawmi keluar anakta” “berkuat ibu!!ayo!!”) kita berkisar dengan waktu. Mungkin fase melahirkan/KALA II tidak selama waktu bermain bola, ini hanya kisaran 5-10 menit dan tidak boleh melewati 2jam. Maka kami menukarkan suasana rumahsakit itu menjadi lapangan bola yang meriah..penentu menang kalahnya, pastilah SI IBU ITU SENDIRI. dengan kontraksi yang adekuat dan kekuatan ibu mengedan, maka lahirlah bayi comel yang kutarik kepalanya sewaktu dalam misi penyelamatan gawang gol dari bobolan bola alias keluarnya bayi dari uterus sang ibu.  

Seringkali tim bola kami menang..meski harus akhirnya menggunakan “set hecting” akibat adanya robekan perineum, namun saat kemenangan itu datang, seperti supporter Liverpool yang doyan menyanyikan lagu kebanggaan Anfield “You’ll Never Walk Alone” usai kemenangan..tapi tidak kurang juga kami menelan pahitnya kegagalan dengan segala dukacitanya dimaklumkan, sang ibu HARUS DI SC/dioperasi atas segala indikasi. Saat itu, ooo no.. kecewa penonton. Tapi kami tetap saja solid. Kami temani sang ibu sampai ke meja operasi. Meski bukan kami yang menindaki ibu tersebut (pastilah..kerna sudah kompetensinya dokter spesialis dan dokter residen PPDS), namun kami tetap saja berkontribusi dengan membantu dokter menulis laporan operasi sebanyak 3rangkap..

Meski tiap kali jaga, kepenatan gara-gara pasien yang tidak mengenal system waktu 24 jam, namun tetap terasa seru..sama-sama menderita dan merasai penderitaan si pasien juga. Tidur dimeja-meja atau kursi tidak masalah. Meski diri harus bertemankan secangkir kopi untuk memulakan hari di APN, tetap saja pelatihan yang didapatkan dan langsung dipraktekkan di Rumah Sakit memberikan pengalaman yang luar biasa dan jauh lebih mudah untuk diingat. Knowledge plus practice make perfect!!

  

Sabtu, 23 Februari 2013

MENGURUNG RINDU

0


Kerinduanku,
Bagai ombak yang menghempas pantai
Tahu saatnya untuk pergi
Namun tak pernah lelah untuk kembali

Kerinduanku,
Bagai angin yang bertiup sepoi
Makin lama makin kencang
Hingga akhirnya menjadi puting beliung

Kerinduanku,
Bagai hujan renai
Yang turun mengguyur bumi
Kian menjadi bah yang menghayutkan

Kerinduanku,
Bagai mentari yang bersinar terang
Indah dipandang menebar benderang
Hangatnya memeluk jiwa yang kedinginan

Kerinduanku,
Seperti arus sungai yang mengalir
Makin ditahan makin kuat menghunjam
Mengaliri tiap relung hati yang kontang
Kerinduanku,
Bagai elang rajawali yang ingin bebas
Makin dikurung makin berontak
Maka lepaskanlah..biarkan ia bebas…

Amni_shamrah
02 Februari 2013
12.55 am

Rabu, 20 Februari 2013

SEMANGAT YANG TIDAK MATI

0



Menerima sms dari teman..
“Telah kembali ke Rahmatullah saudara kita Kak Novian, FKG 2005 tadi pagi. Innalillahi Wa Inna Ialihi Rajiun..”

Ya Allah!! Kak Novian!! Innalillahi Wa Inna ilaihi Rajiun..Dari Allah SWT kita datang, dan kepadaNya lah kita kembali..

Kemarin diri dikejutkan dengan berita bahwa Kak Novian dalam keadaan kritis dirawat di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo tepatnya di UGD. Beliau kecelakaan sewaktu dalam perjalanan pulang dari salah satu program diksar BSMI Maros paginya. Tepatnya di Jalan Bandara Lama Maros. Sempat dilarikan di RS Maros sebelum tidak tertangani dan dirujuk ke RSWS. Sewaktu itu diri dalam perjalanan ke RS Maros kerna akan bertugas disana selama satu minggu. Lambat mendapat berita tersebut.

Sempat menghubungi teman yang bertugas di WS untuk melihatkan kondisi Beliau. Waktu itu masih GCS 10. Koma ringan. Beliau masih bernafas spontan tapi direncanakan untuk diintubasi untuk mempertahankan jalan napas gara-gara Maxillofacial Injury atau patah tulang rahang. 2jam kemudian masuk sms dari teman yang lain memberitakan jika kondisi beliau berfluktuasi. Naik turun dan cenderung gawat. Darah keluar dari mulut dan hidung seakan ada massif bleeding di dalam. Dokter semakin ragu. GCS menurun menjadi 7. Gencarkan doa.. Ya Allah selamatkanlah kakak ini. Dia orang baik Ya Allah. Orang yang senang membantu orang lain. 

Jam 4 sore, keadaan makin kritis. Darah “O” dibutuhkan. Ingat suatu ketika dulu, diri pernah bertanya pada kakak,
“Kak, jika ada lagi kegiatan donor darah, panggilka juga yah..mahu ikut donor”
Kak Novi yang tahu diri pernah ikut dalam kegiatan donor sebelumnya mungkin penasaran bertanya;
“Kenapa sukaki ikut yang begituan? Kenapa suka donor darah?..”
“Mungkin darah itu satu yang tidak mahal kak, kerna tubuh kita sendiri yang produksi. Jadi kita tak terlalu merasa jika ia berharga. Namun buat setengah orang, ia memberi harapan kelansungan hidup buat  mereka kak. Kita hanya melakukan sedikit pengorbanan untuk menahan pedihnya jarum donor yang besar itu. Tapi dengan itu kita membantu orang yang benar butuh, melanjutkan hidupnya.”
Muncul begitu saja asbabnya. Tercerah dari sebuah kisah yang diri baca tentang PENDONOR YANG CACAT.

“Benar katamu. Jika uang kita kasi ke orang, tidak tentu orang akan menggunakannya dengan penuh bijaksana. Adakalanya ada orang yang bahkan menyalahgunakan uang tersebut untuk kepentingan sendiri. namun jika kita belajar konsep sedekah dari donor darah, kita akan benar merasa bahwa kita ingin membantu orang yang benar memerlukan. Orang yang Allah bantu melalui tangan-tangan dan tubuh yang DIA pinjamkan pada kita. bayangkan jika kita nanti berada dalam kondisi membutuhkan seperti itu, semoga Allah juga akan menghulurkan bantuanNya lewat tangan-tangan orang lain. Jadi untuk membantu juga kita harus memberikan yang terbaik”.

Waktu itu merasa jawaban Kak Novi itu sangat mantap. Dan sama sekali tidak menyangka bahwa Tuhan benar-benar menjadikan kata itu nyata. 

Cepat-cepat menyebarkan sms itu keteman-teman. Untuk mendonorkan darah buat relawan sejati itu. Semoga Tuhan akan membantunya lewat tangan-tangan orang lain yang prihatin untuk membantu..seperti yang beliau yakini.. GCS 5. Edema cerebri dan hemothorax memperberat kondisi kakak. Hampir jatuh ke koma dalam, disertai gangguan jalan napas yang disebabkan oleh darah yang tertumpuk disana. Beliau sudah tidak bisa bernafas spontan. Harus dengan alat bantu ventilator. Suhu tubuhnya makin tinggi. 

Jam 22.00 malam.
“fuzah, kondisi Kak Novi makin parah. GCS 3. Darah keluar dari mulut, hidung dan…telinga”
Ya Allah..airmata yang tertahan menetes juga akhirnya. Sedih dengan kondisi yang semakin menipis harapannya. Perdarahan dari telinga merupakan salah satu petanda dari terjadinya fraktur basis cranii atau patahnya tulang dasar otak. Ia bisa berakibat fatal atau mematikan kerna disana terdapat pusat pernafasan dimedulla oblongata. Waktu kian menipis. Usaha yang dilakukan hanya untuk memperpanjang waktu hidup. Tidak lebih. Tidak kurang.  Hanya bisa berharap pada keajaiban..

Pertama kali mengenali Kakak itu sewaktu kami satu bagian di THT. Alias akhir tahun lalu. Kak Novi adalah salah satu aktivis BSMI Makassar yang begitu berwibawa. Sewaktu itu, Kak Novi mengajak temanku Uni ikut serta dalam Baksos yang akan diadakan di Maros pekan depannya. Uni yang memang akrab dengan diri sejak dari Bagian anak turut mengajak diri menyertai aktivitas itu memandangkan Uni juga tahu jika diri juga sangat berminat dengan program kemanusiaan seperti itu. 

Kak Novi cepat mengenali diri setelah tahu namaku. Kata Kak Novi dia sudah pernah mendengar namaku. [hadeuh terkenal salah-salah. #Tepuk Jidat] Melanjuti hari-hari Ko-ass sangat membantu mengakrabkan diri dengan kakak yang satu ini. Tidak jemu-jemu dia mengundang diri untuk ikut serta dalam program-program BSMI. Ketelusan hatinya untuk membantu sesama sangat terserlah dari kesungguhan dan pedulinya. Meski diri tidak bisa sering ikut serta dalam setiap ajakannya namun beliau sungguh memberikan impak yang baik terhadap peribadi seorang relawan.

Pernah diri bertanya pada Kak Novi,
“Kak, apa yang membuat kakak sangat bersemangat untuk istiqamah dengan BSMI? Tiap kali kakak ketemu ma aku, pasti tentang program-program kemanusiaan itu yang kakak bahas..seakan mengakar dalam dirinya kakak..” 

bukan pertanyaan yang menguji. Tapi lebih pada penasaran. Kerna sebanyak yang pernah kutemui, orang lebih kepada ikut-ikutan atau lebih kepada menginginkan nama besar ataui diakui keberadaannya hingga mereka cenderung ikut serta dalam organisasi-organisasi bebas seperti BSMI.

“Gak tahu juga yah. Merasa terpanggil saja..” senyum.

Terakhir waktu bertemu beliau waktu di Kandea 3 minggu lalu, kakak sibuk memberi update tentang Banjir di Maros. Ada satu kata-kata kakak yang diri melekat di kepalaku;

“Kasihan itu orang-orang di Camba. Air sampai batas pinggang.Harta benda rusak semua. Kenderaan barang elektronik. Bahkan sampai kebutuhan harian saja tidak bisa terpenuhi. Mana yang masalah sanitasi, sakit-sakitan dan syok emosional. Mereka butuh dukungan. Tidak terbayangkan bagaimana mereka begitu kuat menjalaninya. Kita juga jika ke sana banyak belajar dari semangat mereka untuk lebih dewasa menanggapi hidup”

Satu lagi yang paling tidak terlupakan adalah, waktu kakak memujukku mengikuti salah satu aktivitas baksos, beliau berkata

“Dik, saya ini, ilmuku terbatas. Hanya tahu seputar gigi dan sedikit ilmu dasar tentang kesehatan. Kamu ahlinya. jika ada kesempatanmu, ayuhlah bergabung untuk membantu orang lain. Ini amal jariah kita. jika bukan kita siapa lagi? Masih banyak orang diluar sana yang benar butuh bantuan kita dan mereka terkekang biaya. Mereka terhimpit dengan keadaan. inilah kehidupan..dan kehidupan itu harus terus diperjuangkan..Apa kontribusi kita? ilmu itu amanah. Dan ia akan dipertanggungjawabkan”

Subhanallah. Kata-kata yang sangat berbekas. Kepeduliannya itu murni dari hatinya. Disalurkan lewat organisasi. Usaha keprihatinan dan kebaikan hatinya benar sangat menginspirasi. Diri tidak mengenal lama dan akrab Kak Novi namun perkenalan yang singkat itu cukup memberi pembelajaran yang banyak.  Kak Novi adalah sosok seorang pejuang. Bahkan Allah mengambilnya dalam salah satu dari siri perjuangannya. Kini, beliau sudah pergi. …sudah berada di alam baka dan tidak lagi memikirkan rasa takut pada kematian. Tidak lagi diurusi beban dunia yang fana ini. Kitalah yang masih hidup yang justeru masih dibebani dengan rasa takut pada maut itu dan juga rasa takut pada beban hidup ini. Dan seperti kata beliau..kehidupan itu harus terus diperjuangkan..

Mendung. Awan berkabut. Bagaikan bidadari menangis di kaki langit, mengiringi pemergiannya. Hari itu mentari redup terlindung tidak dibenarkan menyinar. Berhias ratapan awan-awan tebal itu.  Harum kemboja siap-siap mengalukan kedatangannya. Semoga beliau terhitung sebagai syahid. Orang yang diambil dalam kondisi berjihad dijalanNya. Semoga beliau tenang ditempat istirehat abadi. 

Mari kita lebih menggunakan logika dari rasa. Memang berat menerima arti kehilangan. Namun kematian pasti akan datang samada kita siap atau tidak. Pejuang akan mati. Sama seperti tokoh-tokoh besar yang pernah mengukir namanya di kanvas sejarah. Namun semangatnya tetap hidup!! Dalam jiwa-jiwa orang yang mengambil ikhtibar darinya. 

“Selamatkan Satu Nyawa Sambung Seribu Asa”