Skinpress Rss

Khamis, 24 Januari 2013

FORENSIC AND MEDICOLEGAL DEPARTMENT

0



Alhamdulillah menyelesaikan kepanitraan Forensic dan Medicolegal seperti yang diwajibkan. 6 minggu. Dari 17 Disember 2012 hingga 26 Januari 2012.. (wah setahun yah..hihi).. hari ini ujian. Dengan Prof.Dr.dr. Gatot S. Lawrence, SpPA(K), Msc.DMF,SpF. Sama panjang gelar didepan dan belakang nama beliau. Dan beliau sungguh adalah seorang dosen (lecturer) yang super sekali. Sepanjang 6 minggu dalam pimpinan beliau mengajar banyak hal yang sangat berguna buat diri.

Minggu pertama, kami diharuskan stase di Laboratorium Patologi Anatomi yang terletak di Kandea. Satu tempat yang jauhnya hampir 45 menit dari asrama. Disini, kami diajarkan dasar atau refresh teori-teori yang sebenarnya sudah kami pelajari sewaktu pre-clinic dulu. Dalam minggu ini juga kami mendapat tugas untuk menyempurnakan tugasan mind-mapping berkenaan judul yang harus kami kuasai dan juga mendapat tugasan untuk mengikuti CSL atau menyiapkan contoh Visum et Repertum (surat keterangan saksi) berkenaan luka dan kasus penganiyaan. Dari “mock-clinic” ini kami diharapkan lebih terlatih dan kompiten untuk menangani korban sebenar pada minggu kedua dan seterusnya nanti.

Minggu kedua. Kami mulai harus bertugas di rumah sakit. Dimana pada minggu ini kami dijadualkan untuk stase di RS Wahidin Sudirohusodo yang dekat dengan rumah. Memandangan kami banyak, jadi jadual jaga tidak terlalu melelahkan. Paling kami mempunyai pekerjaan utama untuk memperbaiki Ver yang sudah lama dan harus kami kembalikan kepada pihak polisi. Nah, disini mulai kami diharuskan standby di Rumah Duka alias KAMAR MAYAT. Bayangkan saja, mendengar bunyi brangkar (tempat jenazah) diseret dan raungan keluarga sudah makin terbiasa menemani tidur kami. Kadang tidur bersampingan dengan jenazah yang baru akan dibawa pulang oleh keluarga. Sewaktu ini, baru terfikir waktu kecil dulu, ada perbualan seperti ini:

P: adik, nanti besar nak jadi apa?
A: nak jadi doctor
P: eeiii..kalau jadi dokter, nanti kena tidur dengan mayat….eeiii
A: ……..
D: taklah.. tipu je tuh

Padahal memang benar itu terjadi. HARUS TIDUR DENGAN MAYAT!!
Never lies to children please!!

Cuma dalam tanda kutip bukanlah seperti dicerita-cerita horror di televisi yang tidurnya baku sebelah dengan mayat dengan ikatan pochong disamping dan sebagainya. Hanya saja ruangan bersebelah. Tapi apa yang mahu ditakutkan.. bukankah ALLAH Maha Melihat, ALLAH Maha Mendengar dan Allah Maha Menyaksikan..haha

Minggu ketiga masih bertugas di RS WS gara-gara tidak ada koass yang masuk dibawah minggu kami, jadi kami terpaksa dibahagi dua dan masih bertugas di rumah sakit ini. Jadinya jadual jaga agak menumpuk dan memandangkan kami hanya 2 team, maka kami terpaksa oncall (jaga gawang) each off day alias selang satu hari. Jadinya akrab deh sama teman team, memandangkan hampir tiap hari kami tidur bareng dirumah sakit. Untung kamar koass yang disediakan lumayan hingga kami betah.

Minggu keempat, kami ditugaskan di RS Bhayangkara yang terletak di Mappaodang, lebih jauh dari kota. RS ini adalah RS polisi alias kapan melihat pasiennya dan saat dokter menjelaskan sesuatu penyakit pasien bahkan bertanya “dokter pasti? Bagaimana jika terbukti yang sebaliknya?” hadoii.. semua orang dalam brangkar orang bersalah. Namun disinilah inti dari forensic ini sendiri. kami dihujani pelbagai kasus yang harus kami lakukan sendiri prosedur pemeriksaannya. Baik dari anamnesis pasien, hingga melakukan pemeriksaan, mendokumentasikan dalam bentuk foto mahupun barang bukti lainnya. Dan juga membuat surat keterangan ahli (Surat Visum et Repertum). Tanpa pengawasan secara lansung oleh dokter residen PPDS. Cuma laporan yang kami lakukan akan dikoreksi atau diperiksa oleh dokter polisi spesialis forensic yang bertugas disana. Dr.Eko, Sp.F yang baik hati lagi tidak sombong.  Disini kami belajar bagaimana menangani korban kasus penganiyaan, pemerkosaan yang paling banyak hinggalah visum korban mati. Tapi untuk kasus visum korban mati kami ditetap ditemani lansung oleh dr.Eko. nah disini kami diajarkan untuk bersikap teliti dan tidak melewatkan satu pun bahan bukti. Kami juga sering ditemani beberapa pegawai polisi sebagai saksi bahwa kami menjalankan tindakan sesuai surat permintaan polisi dan sesuai dengan standar prosedur operational.


Selain tugas harian dan tanggungjawab kami untuk mengurus korban, kami juga wajib melaporkan kasus yang kami dapatkan pada residen tiap paginya. Jika kelompok kami ke kandea untuk melapor, maka kelompok yang satu akan standby dibhayangkara. Begitulah tiap harinya. Setiap hari dirumah sakit.

Minggu kelima. Kami kembali bertugas diKandea. Minggu ini kami dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas refarat dan sebagainya serta persiapan untuk ujian. Minggu keenam, semua ko-ass harus sudah ujian. System baru yang diberlakukan adalah semua koas yang keluar dari bagian ini harus dengan nilai.
Secara kesimpulan, forensic sangat melatih diri menjadi lebih peka dan teliti dalam berpikir. Seperti kata Prof.Gatot, kebenaran itu hanya satu dan ia bersifat universal.







Rabu, 23 Januari 2013

YOUR DAY

0


so rare to find a friend like you
somehow when you're around the sky is always blue
the way we talk, the things you say
the way you make it all okay
and how you know all of my jokes but you laugh anyway
if i could wish for one thing
i take the smile that you bring
wherever you go in this world, i'll come around
together we dream the same dream 
forever i'm here for you you're here for me
two voices one song


Ahad, 20 Januari 2013

BIOETHICS

0


Prinsip-prinsip etika adalah aksiom yang mempermudah penalaran etik. Prinsip- prinsip tersebut harus spesifik. Pada prakteknya, satu prinsip dapat dipertimbangkan dengan prinsip lain. Pada beberapa kasus, satu prinsip dapat bersifat lebih penting dari prinsip lainnya. Masyarakat Eropah berpendapat, bahwa sumpah Hippocrates adalah suatu titik penalaran etis. Hal ini didorong oleh pandangan pada filosof dan pemikir Eropah untuk mengembangkan teori-teori etik yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Hal ini disebabkan tidak adanya teori hokum dan teori etika yang koheren pada budaya Eropah.
a)      Etika Kedokteran/ Kaidah Dasar Bioetik
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruik atau benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang yaitu Teori Deontologi dan Teori Teleologi. Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa Deontologi mengajarkan bahawa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri (Immanuel Kant), sedangkan Teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan adalah melihat hasilnya atau akibatnya (Dhume, J bentham, JS Mills) Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya. Sedangkan Teleologi lebih kearah Teleologi lebih kearah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada asas manfaat (aliran utilitarian).

Beauchamp dan Childress(1994) menguraikan (Empat prinnsip etika Eropah) bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan ETIK diperlukan 4 Kaidah Dasar Moral/ Kaidah Dasar Bioetik (moral Principle) dan beberapa rules atau kreteria dibawahnya. Keempat Kaidah Dasar Moral tersebut adalah: 

Prinsip Pertama: Autonomy (Self-determination). 
Yaitu prinsip yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination) dan merupakan kekuatan yang dimiliki pasien untuk memutuskan suatu prosedur medis. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin Inform Consent. Kriterianya meliputi menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien, tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif), berterus terang, menghargai privasi, menjaga rahsia pasien. Menghargai rasionalitas pasien, melaksanakan inform consent, membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri, tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk keluarga pasien sendiri. sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non-emergensi, tidak berbohong ke pasien meskipun demi kebaikan pasien, menjaga hubungan (kontraK)

Prinsip kedua : tidak merugikan (Non-Maleficence) adalah prinsip menghindari terjadinya kerusakan atau prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere” atau “above all do no harm”. Kreterianya meliputi: menolong pasien emergensi, kondisi untuk menggambarkan criteria ini, adalah; pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting (gawat). Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut, tindakan kedokteran tersebut terbukti efektif, manfaat bagi pasien lebih banyak, daripada kerugian dokter atau hanya mengalami resiko minimal. Mengobati pasien yang luka, tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia), tidak menghina atau mencaci maki atau memanfaatkan pasien, tidak memandang pasien hanya sebagai objek, mengobati secara tidak proporsional, mencegah pasien dari bahaya, menghindari mispresentasi dari pasien, tidak membahayakan kehidupan pasien kerana kelalaian, tidak memberikan semangat hidup, tidak melindungi pasien dari serangan. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan yang merugikan pasien dan pihak keluarganya.

Prinsip ketiga : murah hati (Beneficence) yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien atau penyediaan keuntungan dan menyeimbangkan keuntungan tersebut dengan resiko dan biaya. Dalam beneficience tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudarat) beneficence terbagi kepada general atau umum dan specific atau khusus. General beneficence adalah melindungi dan mempertahankan hak orang lain, mencegah terjadi kerugian pada yang lain dan menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain. Specific beneficence meliputi menolong orang cacat dan menyelamatkan orang dari bahaya. Kreterianya meliputi mengutamakan altruism yaitu menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan orang lain menjamin niolai pokok harkat dan martabat manusia. Memandang pasien/keluarga/ sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter. Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya.paternalisme bertanggungjawab dan berkasih sayang. Menjamin kehidupan baik-minimal manusia. Pembatasan goal-based. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan atau preferensi pasien. Minimalisir akibat buruk, kewajiban menolong pasien gawat darurat, menghargai hak pasien secara keseluruhan. Tidak menarik honorium di luar kepantasan. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan. Mengembangkan profesi secara terus menerus, memberikan obat berkhasiat namun murah. Menerapkan Golden Rule Principle.

Prinsip keempat: Keadilan (Justice) yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice) atau pendistribusian dari keuntungan, biaya dan resiko secara adil. Treat similar cases in a similar way (justice within morality) dan memberikan sumbangan relative sama terhadap setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni: memberi sumbangan relative sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya) dan menuntut pengorbanan relatf sama,diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).Prinsip keadilan akan dibahas dengan lebih detail setelah ini. 

Jumaat, 18 Januari 2013

CERITA KINAN

1



Mahukah kamu mendengarkan kisah Kinan? Kisah cinta yang tidak berakhir bahagia. Kisah saat kau membenarkan dirimu ditenggelamkan oleh ketamakan cinta. Pada akhirnya, kau bahkan hanya mampu hidup dengan separuh jiwamu. Kisah kebenaran. Gengsi. Pengkhianatan. Dan Setia. …

Ayuni menghulur kertas kecil kiriman Kinan kepada Jehan. Kertas bertukar tangan. Jehan membukanya tanpa ekspresi. Selesai membaca, dia membuang pandangan ke laut lepas. Benteng itu membuat mereka bisa melihat Selat Tebrau dengan jelas. Jehan menghela nafas. Terasing dari keriuhan teman-temannya. Sebentar matanya beralih kepada Ayuni. Dia kemudian bertanya:

“Apa yang telah diceritakan padamu Ayuni?”

Yuni membalas tatap.

“Maaf Kang, aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan peribadimu. Hanya saja, aku tidak enak menolak permintaan teman yang banyak membantuku”

Panggilan Kang itu sudah melekat pada nama Jehan kerna rasa hormat teman-temannya dengan peribadi Jehan yang protektif, dewasa dan penuh dengan perhatian terhadap teman-temannya.

“Aku tidak berniat untuk membela diriku Yuni, hanya saja aku mahu kamu lebih jernih untuk menilai diriku. Tunggu aku setelah acara ini selesai. Akanku ceritakan padamu..apa yang perlu kau ketahui”

Jehan:

Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara debur ombak menghentam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi perbicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Dan mungkin juga hatinya.

“Ayuni, apa yang diceritakan oleh Kinan tentangku? Jujur saja.”

“Aku tidak tahu banyak Kang. Hanya saja dia menangis tersedu di bahuku dan mengatakan betapa dia merinduimu. Betapa kamu tega untuk menghukumnya seperti ini. Menggantung tak bertali. Itu saja.”

Ayuni benar-benar memilih untuk jujur. Kang sudah layaknya seperti kakaknya sendiri. dia khawatir apa yang keluar dari bibirnya justru nanti membuat kondisi antara Jehan dan Kinan bertambah buruk. Atau sebaliknya akhibat kata-katanya menumbuhkan harapan palsu buat Jehan.

“Apa yang kau pikirkan tentangku setelah mendengarkan itu?”

“Pentingkah apa yang aku fikirkan?” Heran.

“Iya, penting buatku”

“Dia temanku. Kamu juga. Tidak adil aku menghakimi tanpa mengetahuinya darimu. Jadi aku memutuskan untuk tidak berpendapat. Bagiku, bila antara dua hati sedang berkonflik, bukan persoalan siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi hanya persoalan jiwa yang tidak serasi atau memang bukan jodoh.”

“Terima kasih.  Sebenarnya kamu bukan orang pertama yang diceritakan oleh Kinan. Tapi aku benar-benar berharap kamu yang terakhir. Semua yang pernah mengenaliku dan mengenalinya tahu. Kisah itu sepertinya sudah menjadi kisah public. Kau tahu, aku sudah lelah menjelaskannya berulangkali pada orang-orang dan aku sudah lelah juga mengatakan padanya untuk berhenti.”

Diam sejenak.

Sungguh hatiku tidak baik-baik saja. Sehari setelah kau memutuskan untuk mengakhiri semua ini, aku telah memujuk hatiku agar tegar. Tapi percuma. Menyakitkan. Semua itu membuat sesak. Dan untuk apa lagi kau kembali mencariku?

“Ceritaku sepertinya terlalu rumit Yuni. Meski jangka waktunya singkat. Saat di dalamnya ada kesalahpahaman, dan ia mula melibatkan pihak ketiga antara kami, hal ini menjadi lebih celaru. Kekecewaan membengkak. Kebencian terlahir. Biar pangkal semua ini, aku juga sebenarnya tidak mengerti. Aku tidak menyalahkannya. Aku juga mungkin lebih salah. Entahlah”

Jehan mendongak ke langit. Menatap purnama. Berusaha mengusir rasa sesak yang ketat menyelimuti hati saat nama “Kinan” mengudara.

Aku tahu, selalu ada bagian yang tidak masuk akal dalam perjalanan cinta. Tetapi lebih kerana, lihatlah percakapan ini, hanya lebih membuat perkara menjadi kacau. Kecamuk dalam hatiku. Kau telah membawa pergi bagian “tenang”nya.

“Separuh hatiku sudah pergi. Persis seperti sebuah daun berbentuk hati yang diiris paksa oleh belati tajam. Dipotong dua. Dan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. “

Jehan menahan Kristal yang mula terbentuk dimuara matanya. Takkan dia biarkan Kristal itu jatuh. Untuk orang seperti Kinan, TIDAK AKAN PERNAH!!

“Ketika hati itu terkoyak separuhnya beberapa bulan yang lalu, aku sudah bersumpah untuk menguburnya dalam-dalam. Berjanji untuk berdamai meski takkan pernah kuasa untuk melupakan”

Ayuni menelan ludah- berusaha menjawab bijak-dia tahu itu bohong

“Berdamailah dengan masa lalu. Tidak berdendam apapun. Menerima apa adanya.” Senyum.

“Cinta bukan sekadar soal memaafkan Yuni. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrational, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga.”

Aku tahu kau membutuhkan waktu untuk memahaminya Ayuni. Kerna aku juga belajar dari pengalaman yang menyakitkan ini. Semoga kau tidak perlu melaluinya.

Kinan:

“Bagaimana Yuni, Jehan mahu menerimaku kembali? Dia baca suratku? Apa yang dia katakan? Dia pasti mendengarkanmu kerna kamu temannya yang baik. Aku yakin itu.. iya kan??” Wajah penuh harap

Yuni menghela napas. Menggeleng. Negative.

Airmata Kinan berhembur lagi. Entah untuk keberapa kali.

“Aku salah. Aku salah. Aku tidak harusnya mencampakkan dia dulu. Aku tidak harus memaksanya hingga sekarang. Sungguh aku menyesal. Tidak bisakah dia mengerti itu? Tidak bisakah dia memaafkan aku? Aku sudah berusaha meminta maaf melalui semua orang. Tapi kenapa dia masih keras untuk menerimaku.. semua kerna Fardi”

“Fardi??” Yuni yang pertamanya malas ikut campur jadi terpancing.

“Iya. Sebelum aku mengenal Jehan, aku sudah terlanjur menyintai Fardi. Dia satu projek denganku sewaktu program akhir dulu. Aku menyintai Fardi dari pertama aku mengenalinya. Kau tahu, Fardi memang sosok pemuda salih yang baik dan gentlemen. Kami sering diganggu-ganggu dan digosipkan dikalangan teman-teman. Mungkin kerna kedekatan kami. AKu tahu, dia juga menyukaiku. Aku yakin itu. Hingga satu saat, dia membuat pernyataan di depan semua,
'Saya, tidak akan pernah pacaran sama siapapun. Titik!'"

Pernyataanmu itu telah meranapkan dua pertiga dari jiwaku Far. Dan kau mungkin tidak tahu itu. Beberapa waktu aku tenggelam dalam keterpurukanku, kecewa dengan penolakan halusmu hinggalah Arsya dan Santi yang mengerti kegalauanku, memperkenalkan Jehan menggantikan posisimu, dihatiku. Ya, bermula dari pertemuan singkat, sewaktu Jehan diundang ke acara pembukaan tapak projek kita. aku tahu Jehan laki-laki yang baik. Alim. Terpercaya. Kau lihat juga kan, betapa perhatiannya membuat ia sanggup meredah pekatnya malam sewaktu menghantarkanku obat sewaktu maag ku kambuh. Padahal jarak tapak projek kita sangat jauh dari kota. Kau lihat sendiri bukan? Aku yakin, Jehan akan menyayangiku setulus hatinya. Dan aku memutuskan untuk menjalani saja hubungan kami ini. Benar, hubungan ini mulus-mulus saja hingga kau kembali untuk mengatakan itu.

Bahwa aku yang terlalu terburu-buru memutuskan. Bahwa kau tidak ingin berpacaran kerna kau ingin suatu hari nanti, melamar diriku menjadi permaisuri hatimu.

Dan aku segera berlari ke dalam lingkaran cintamu. Tanpa berpikir panjang bagaimana nanti dengan hubunganku dan Jehan? Apa nanti yang akan dikatakan Jehan? Sudahlah, mungkin jehan hanyalah ujian Tuhan buat menguji perasaan kau dan aku.. bukankah??

Kecemburuanmu Far, membuat aku perlahan menjauhi Jehan. Aku tahu Jehan merasainya. Menangkap baying hambar yang mula menggelayut. Namun, apalah aku untuk menangkis cinta yang sememangnya milikmu?Jehan, benar adalah orang yang wajar untuk kau cemburui Fardi. Hampir saja aku menyerahkan semua berkas cinta ini padanya. Tapi, kerna kau berjaya merebutnya kembali sebelum ia kuhulurkan, hingga kau membuat aku tegar menolak kedatangan Jehan dalam kuyup guyuran hujan semata bertemu denganku. Mengabaikan telpon-telponnya biar berkali mencoba untuk meraihku. Menghapus smsnya yang memenuhi kotak pesan. Jehan yang sungguh kusia-siakan kerna cintamu. Dan akhirnya, kau pergi… meninggalkanku sendiri.

Ayuni:

Ini kedengarannya tidak adil!

“Jehan tahu alasanmu meninggalkannya demi Fardi?”

“Tidak. Aku bahkan tidak pernah memberi kata putus apapun berkaitan kami. Dia juga. Hilang begitu saja terbawa arus. Dia bahkan tidak pernah tahu soal Fardi.”

“Jika satu hari nanti, Fardi datang padamu dan memintamu kembali padanya, apakah kau akan meninggalkan Jehan lagi?”

“Aku tidak tahu Yuni. Yang aku tahu sekarang, aku membutuhkan Jehan. Dan harus disisiku. Ahhhh, dasar jahat!!pecundang!!”

Ayuni menggenggam botol minuman yang dipegangnya. Tidak menyangka ada cerita begitu sebalik semua kejadian ini. Dari bibir Kinan. Tidak percaya..

Apa salah Jehan hingga semudah itu kau jadikan bahan permainan? Kau menjabarkan kisah sedihmu kepada semua orang dan memposisikan Jehan dalam sangkar orang bersalah, hanya untuk meraih simpati dari orang banyak?

Kau menganggapnya jahat kerna dia tidak kembali padamu saat kau mahu? Kau menggelarnya pecundang kerna dia mencoba untuk melindungi sekeping hatinya yang terluka keranamu? Haruskah dia kembali padamu Kinan, setelah kau cabik-cabik jiwanya menjadi berkeping-keping. Jehan tidak pernah pacaran. Dan saat dia menyayangimu, dia memberikan separuh dari jiwanya untukmu. Maaf Kinan, aku tidak mahu menghakimi kisah cintamu. Aku yakin ada banyak cerita antara kalian yang membuat kondisi berada dipondisi terberat ini. Cerita ini sungguh adalah lelucon yang tidak lucu.

“Kenapa baru sekarang kau mahu kembali kepada Jehan?”

“ Kerna aku baru sadar, aku selama ini salah. Tapi aku terlalu egois untuk mengakuinya. Aku sadar, tidak ada yang mampu memberikan perhatian padaku seperti Jehan, tidak ada yang menyintaiku setulus dia."
Yuni mengetap bibir.

“Aku akhirnya tahu apa sesungguhnya yang membuat kita mampu merindukan sesuatu. Yaitu kepergian. Seperti bahwa bintang hanya terlihat terang kerana langit ditelan gelap malam. Seperti pelangi membutuhkan hujan agar lengkungnya bisa dibentuk awan.”

Ya.. paradox paradox hidup yang mahu tidak mahu harus juga kita hidup dengannya.

“Seperti bahwa kami tahu kami saling sayang justru pada saat kami melepaskan. Kerna adakala diperlukan jarak untuk membuat kita merasa dekat. Kerna adakalanya justru perpisahanlah yang membuat kita menyedari sesungguhnya kita saling cinta”

Kinan, kau terlalu banyak membaca novel. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi dihati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi kerna kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih. Tidak kurang.

Kinan, aku tidak akan mungkin akan menjabarkan kisah  sadis ini pada Jehan. Kerna aku tidak berharap dia akan tambah membencimu. Kinan, jangan lumpuhkan dia dengan airmatamu hanya untuk melukainya lagi di akhir ceritamu. Kerna dia juga memiliki hati untuk dihargai. Saat kau sudah memilih satu dari cintamu, belajarlah untuk bertahan biar apapun konsekuensinya. Jangan jadikan Jehan persinggahanmu untuk melampiaskan emosi sesaat kerna Jehan juga berhak bahagia.

Buatmu Kang. Sungguh aku salut padamu. Benarlah katamu, kadang, bersifat keras dan tegas itu perlu. Inilah yang dikatakan, patah hati, tapi tetap gengsi!! Patah hati, tapi tetap keren!!

[presenting a random love story for a competition. it just to brought up the effect of different type of writing. 1st trial always bad!!]

Selasa, 15 Januari 2013

KEEP STRONG

0


"seorang mukmin itu menangis lemah disisi Allah dan Allah menguatkannya disisi manusia.."
kekuatan bukan dicipta dari kelemahan orang lain justeru kekuatan itu dibangun dari dalam diri.. tercipta dari kualiti yang kita miliki.. tak perlu menjabarkan kelemahan orang lain untuk menjadi kuat. namun jadilah kuat dengan membina kekuatan itu..

Isnin, 7 Januari 2013

SAAT PUING-PUING ITU PECAH....

0


Saat puing-puing itu pecah..
Saat suara penyeru-Nya diperdengarkan
Ketahuilah bahwa aku selalu menyebut namamu dalam doaku
Dan rasa yang terpendam di hati…
Jiwa yang lama menanti
Akan sirna…

Karena cinta telah tumbuh di hati
Dan bukan sekadar untuk dihayati
Tapi di resapi..
Tak usah resah, tak usah gundah..
Karena di batas waktuku nanti…
Kan kujemput dirimu menjadi bidadariku..
Biarpun lama..
Namun tetaplah menanti…
 ----x----------x------------x------------
Kubiar rasa ini mengalir hingga ke samudera..
Ada rindu yang membara..
Ada hati yang merana..
Terkadang mencintai tak harus memiliki..
Ku sujud dalam malam..
Ku kubur dalam dalam..
Dan kubiarkan menjadi kenangan..
[Berakhir Di Melaka]

Ahad, 6 Januari 2013

KEBENARAN, ANTARA REALITI DAN PROPAGANDA

0



MAKASSAR (voa-islam.com) - Densus 88 kembali melakukan aksi brutalnya dengan membunuh dua orang pemuda yang tidak melakukan perlawanan. Parahnya lagi keduanya ditembak di teras masjid usai shalat Dhuha.

Dua orang yang baru keluar dan berada di teras masjid Nurul Alfiyah RS. Dr. Wahidin Sudiro Husodo langsung ditembak dengan berondongan senjata oleh pasukan Densus 88, sekitar pukul 10.00 WIB, Jum’at (4/1/2013). Kedua pria yang menurut pihak Polri dituding sebagai DPO jaringan teroris Poso tersebut langsung gugur di tempat kejadian.

Keduanya diketauhi bernama Abdul Qodir alias Asmar alias Syamsudin alias Jundi alias Abu Uswah dan Hasan alias Kholil. Keduanya tinggal di Komplek Masjid Ridho Jalan Manuruki II kelurahan Sudiang kecamatan Biringkanayya Makassar dan rumah keduanya berdekatan.

"setelah keduanya selesai sholat Dhuha dan keluar dari masjid langsung diberondong tembakan oleh pasukan Densus 88"

Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana peristiwa pembunuhan tersebut, istri dari Abdul Qodir alias Asmar alias Syamsudin alias Jundi alias Abu Uswah menuturkan kesaksiannya. Ibu tiga anak yang biasa disapa dengan nama Ati atau Ummu Uswah mengisahkan,"pagi itu suami saya bersama Hasan pergi ke Rumah Sakit Dr. Wahidin untuk menjenguk temannya yang sakit," ujarnya kepada voa-islam.com, Sabtu (5/1/2013).

Menurut Ummu Uswah bahwa peristiwa pembunuhan terhadap suaminya dan rekannya Hasan terjadi dalam perjalanan hendak pulang dari Rumah Sakit.


”Setelah dari Rumah Sakit suami saya dan Hasan pergi ke Masjid Nurul Afiyah untuk sholat Dhuha, setelah keduanya selesai sholat Dhuha dan keluar dari masjid langsung diberondong tembakan oleh pasukan Densus 88,” tuturnya.

Meskipun jenazah Abdul Qodir alias Asmar dan Hasan telah dibawa ke RS Polri Keramat Jati Jakarta untuk diautopsi  tapi sampai hari ini pihak keluarga belum mendapatkan pemberitahuan secara resmi dari pihak Polri.

Sementara itu Hardin kakak kandung Abdul Qodir alias Asmar mengatakan bahwa keluarganya akan mengupayakan agar jenazah Abdul Qodir alias Asmar bisa segera diambil untuk kemudian dikebumikan.

Rencananya jenazah Abdul Qodir alias Asmar akan dimakamkan di kampung halamannya di desa Mulyosari Kecamatan Tomoni Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Namun sampai hari ini belum ada keterangan resmi dari pihak Polri kapan jenazah Hasan dan Abdul Qodir alias Asmar akan diserahkan kepada pihak keluarga. [AF]

[http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/01/06/22645/ummu-uswah-suami-saya-diberondong-tembakan-densus-usai-shalat-dhuha]

~benarkan ini sebuah penegakan keadilan? atau hanyalah semata-mata sebuah pembantaian atas nama anti-terorism? kita cukup banyak dikelirukan oleh media dan pihak-pihak tertentu hingga kebenaran itu menjadi abu-abu. pikiran kita dimanipulasikan untuk menerima doktrin yang mereka bawa sedangkan pernahkah kita bertanya kembali pada diri kita, inikah fakta yang terjadi? mereka bisa menipu kita. membutakan mata kita tapi mereka sebenarnya tidak dapat menipu fakta bahwa tubuh korban ini ditembusi oleh lebih dari 22 butir peluru dengan pelbagai ukuran.. TANPA PERLAWANAN!! suatu jumlah yang tidak manusiawi jika dipikir dengan akal sehat kita~