Skinpress Rss

Khamis, 8 November 2012

THE POWER OF DZIKIR

2


Isteri Umar bin Abdul Aziz pernah bercerita. Mungkin saja, katanya, ada orang yang lebih banyak melakukan solat dan puasa dari suamiku, tapi, tambahnya, aku belum pernah mendapatkan orang yang lebih memiliki rasa takut kepada Allah daripada Umar Bin Abdul Aziz.
“Setelah solat Isya aku pernah melihatnya duduk berdoa dan menangis. ia menangis sampai tertidur. Lalu tersadar, melanjutkan berdoa dan menangis hingga ia tertidur kembali. Itulah yang dilakukan sampai waktu subuh”

Saudaraku, 
betapa terasa ada kesenjangan sangat jauh antara kita dengan kehidupan para salafussoleh. Di antara mereka ada yang hidup dengan ragam kesulitan yang jauh melebihi kesulitan yang kita alami. Tapi mereka tetap mampu menunaikan ibadah secara proportional dan baik. Mereka, bahkan dengan tanggungjawab dan tuntutan tugas yang begitu melimpah. Tapi mereka tetap mampu memilih prestasi ibadah yang jauh lebih padat dan berkualitas. Begitulah gambaran kemampuan mereka mengimbangi tuntutan duniawi dan ukhrawi.

Bagaimana dengan kita?
Kita, mungkin kerap merasa kekurangan waktu. Atau, lebih tepatnya sulit membagi-bagi waktu untuk memenuhi semua tugas dan kewajiban. Kita, seolah ada diantara banyak tarikan kewajiban yang membuat kita kewalahan mengikutinya. Bahkan, boleh jadi, ada di antara kita yang merasa, untuk memenuhi suatu kewajiban itu, harus mengorbankan kewajiban yang lain. “kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia”motto perjuangan seperti ini menjadi tidak lebih dari sekadar memahami realitas yang tidak bisa diselesaikan.

Saudaraku, 
Mari duduk dan tenangkan hati. Biarkan suasana hening menguasai hati kita. resapilah betapa banyak dan luar biasanya nikmat dan kurnia Allah untuk kita. tidak ada nikmat yang mampu kita hitung. Berdzikirlah… ucapkan kalimah tasbih “Subhanallah”, tahmid “Alhamdulillah” dan takbir “Allahu Akbar”.. Laa haulaa wa laa quwwata illaa billah.. tidak ada daya upaya kecuali dari Allah semata..

Dalam suasana dan ucapan zikir itulah sesungguhnya kita tengah mengalami proses suplai energy yang bisa membuat hati kita menjadi kuat. Dan disanalah sesungguhnya inti kekuatan kita. Ya, dzikrullah. Tanpa itu, tubuh kita pasti sulit memikul ragam tanggungjawab hidup yang memang berat ini. Hati yang hidup menjadi sumber energy yang sangat berarti untuk segala aktivitas jasad. Inilah sebenarnya yang dimaksudkan dalam sabda Rasulullah SAW:

“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan orang yang telah mati”
[HR Bukhari]

Artinya, lalai dari dzikrullah sama dengan kematian jasad. Sebab orang mati, adalah jasad yang tak memiliki tenaga apapun untuk memiliki sesuatu. Sepertimana juga Imam Ibnu Taimiyah pernah mengilustrasikan yang mirip dengan hadith tadi

“Dzikir bagi hati itu ibarat air bagi ikan.  Bagaimana kondisi ikan bila ia harus berpisah dari air?”
[Al Wabil Ash-Shoib,93]

Saudaraku, 
Perhatikan firman Allah dalam surah Hud ayat 52:
“Istaghfiruu rabbakum”. Mohon ampunlah pada Tuhanmu..
Pada akhir ayat tersebut Allah mengatakan “Yazidkum quwwatan ilaa quwwatikum”. Allah akan menambah kekuatan pada kekuatanmu. Itu alasannya Rasulullah SAW lebih memilih memberi panduan dzikir tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x kepada Ali dan Aisyah RA, ketimbang memberikan pembantu untuk meringankan pekerjaan rumah tangga mereka. Ini juga yang menjadi latar belakang mengapa Hasan Al-Banna menekankan fondisi dakwahnya pada factor ihya’ul qulub, hidupnya hati yang akan menggerakkan kekuatan maha dahsyat dalam tubuh seorang muslim.

Saudaraku,
Dzikir itu mudah dan sederhana. Tapi betapa besar dan luar biasa faedahnya. Setidaknya ada 80 faedah dzikrullah yang diuraikan Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al wabil Ash Shoib. Antara lain, menghidupkan hati, mengusir syaitan mengalahkan tipu daya syaitan, memohon ridho Allah, menghilangkan resah gelisah, menjemput kebahagiaan, memberi cahaya dalam hati dan wajah, menjadikan pengal=malnya dekat pada Allah. Subhanallah…

Dzikir ada 3 jenis, menurut Ibnu Qayyim. Dzikir yang disertai hati dan lisan, itu tingkatan dzikir paling tinggi. Dzikir yang hanya dengan hati, derajat yang kedua. Dan dzikir dengan lisan sahaja, itu derajat ketiga. [Tahzibul Madarij,467]. Menurut Ibnu Hajar, semua bentuk dzikir itu mendapat pahala yang besar disisi Allah.

Saudaraku,
Jangan lalai. Mari, saling mengingatkan, agar kita tak lupa dan jauh dari dzikrullah. Kelalaian membawa kelemahan. Kelemahan yang semakin lama menjadikan kita “mati” secara ruhani, dan akibatnya jasad kita merasa berat menjalani perjuangan menegakkan kebenaran dalam hidup.sulit rasanya kita menyaingi prestasi para solafussoleh dalam beribadah mahupun perjuangan mereka. Tapi yakinlah, dzikir yang rutin kita ucapkan, akan menjadi suplai utama kekuatan, sebagaimana solafussoleh itu mengambil kekuatan utama mereka dari dzikir. Semoga kita mampu menangkap hikmah besar dari catatan hidup Sofyan Ats-Tsauri yang sangat takut bila diakhir hayatnya ia berada dalam kondisi lalai atau su’ul khotimah. Suatu ketika ia menangis semalam suntuk, hingga seorang sahabatnya bertanya, “Apakah engkau menangis kerana engkau takut dari dosa?” Sofyan menjawab “dosa lebih ringin dari apa yang aku rasakan. Saya menangis kerana takut dari su’ul Khotimah” [Qitarul Mustaghfirin ila Diyari Taibin]

Semoga Allah mengampuni kesalahan kita. 

*Foto-foto Program Pengenalan Usrah 2012

Selasa, 6 November 2012

UNNI SARANGHYEYO

5



Sudah lama aku ingin mencatatkan sesuatu buatmu
Meski kadang pena terhenti
Dan akal menguncikan diri
Tidak tahu harus bermula dari mana ingin menceritakan apa
Serasa tak terluah dek kata
Meski lautan aksara bersedia meminjamkan hurufnya
Kerna sememangnya, mengenalimu adalah suatu rahmat
Yang hanya mampu ditafsir oleh hati

Aku tidak tahu bagaimana lagi untuk berterima kasih pada Tuhan
Selain puji syukur hamdallah yang tak lepas ku rapal
Kerna menghadirkanmu dalam episode kehidupanku
Bagai kiriman istimewa dari syurga
Seperti cerekarama yang dimainkan dilayar kaca
Berjalan seperti garis cerita yang disutradarai takdir Pencipta

Unni,
Darimu aku belajar bersikap
Menjadi wanita cekal yang iltizam dalam kerjaya
Menjadi hamba muslimah yang taat beragama
Menjadi anak shalihah yang ikhsan pada orang tua
Menjadi calon istri dan ibu yang berbakti pada keluarga
Mmenjadi sosok wanita tangguh yang bisa diteladani

Unni,
Huluran tanganmu hangat mem’bluetooth’kan signal kasih sayang
Sinar mata beningmu menghantar daku dalam dekapan ukhuwah
Hamparan cintamu menggambarkan ladang kebaikan yang terbentang
Aku tidak tahu sejak kapan, kau sudah menjadi pemeran utama dalam sinetronku
Aku tiada mengingatmu kecuali semua tentang kebaikan
Kau mencontohkanku arti kelembutan hati
Serta bagaimana menjadi kakak sejati

Unni, tahukah dikau
Ada orang bijak mengatakan:
Saat kita mendewasa dibelakang bayangan sosok yang hebat
Kita akan belajar untuk menjadi seorang yang hebat pula
Dan sungguh, kau adalah sosok yang hebat itu….
Dan aku bersyukur bisa belajar dibalik bayangmu

Unni ketahuilah…
Bahwa kau adalah keajaiban bagiku…

~Amni_shamrah~
06 November 2012
08.00pm

Sabtu, 3 November 2012

MESKI SEKERDIPAN MATA

2


Saudaraku,
Cobalah perhatikan lebih seksama salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW berikut ini:
“Ya Allah, rahmatMu lah yang aku harapkan. Maka janganlah engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri, sekejap matapun. Perbaikilah semua keadaanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau”
[HR Abu Daud]

Tampak jelas sekali bagaimana Rasulullah SAW, figure dan guru paling baik untuk kita dalam kebersihan dan kesucian jiwa itu , memohon dengan segala kesungguhan. Ia bermunajat dengan potongan-potongan kata yang begitu merajuk memohon kasih sayang Allah SWT. Rasul yang maksum itu meminta supaya Allah tidak membiarkannya sendirian menjalani hidup. Begitu kuatnya permintaan Rasulullah agar Allah tidak membiarkannya hanyut terbawa oleh keinginan nafsu. Meski hanya sekejap mata. Sekali lagi, MESKI HANYA DALAM SEKEJAP MATA!!

Saudaraku,
Penegasan kata ‘sekejap mata’ dalam doa Rasulullah itu menandakan bahwa hidup ini memang seharusnya tidak boleh sedikitpun tergelincir dalam kedurhakaan. Hidup ini, satu detikpun tidak boleh jatuh dalam kemurkaanNya.tidak boleh sejenakpun terbawa dalam arus kemaksiatan. Kita sangat memerlukan bantuan Allah disini. Seperti yang diungkapkan dalam bait-bait doa Rasulullah SAW

Saudaraku,
Begitu panjang rentang waktu yang harus kita lewati dalam hidup ini. Melangkahkan kaki, satu langkah demi satu langkah. Menata dan menyusun amal-amal dari waktu ke waktu. Melihat ke belakang, berapa jauh jarak yang telah kita tinggalkan. Lalu melihat ke depan, jarak yang tidak bisa kita terka seberapa jauh panjangnya. Sejauh dan sepanjang itulah kewaspadaan kita untuk tidak cenderung pada bisikan yang mengajak pada kemaksiatan. Sejauh dan sepanjang itulah kita harus memohon dan menghiba kepada Allah SWT agar benar-benar memelihara dan melindungi kita dari kesesatan yang membawa kesengsaraan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kasih sayang Allah.

Saudaraku,
Nafsu keburukan itu tak pernah mati. Setiap kita berhasil mematahkannya, maka ia akan muncul kembali dalam bentuk yang lain. Hal ini disebutkan dalam perkataan Ibnu Ataillah
“setiap kali nafsu itu mati, maka Allah akan menghidupkan nafsu yang lain hingga ia mati dan pedangmu meneteskan darah mujahadah”
Begitulah.. tuntutan nafsu manusia akan terus menerus merayu manusia untuk dipenuhi. Ia bisa saja dipatahkan, tapi akarnya akan tetap ada dan suatu saat akan tumbuh dan hidup kembali dalam bentuknya yang berbeda.

Kerna itu kita memerlukan 2 bekal kesabaran. Sabar badany dan sabar nafsany.
“Kesabaran itu mempunyai dua bentuk. Pertama  disebut sabar badany,seperti menanggung beban secara fisik saat melakukan pekerjaan berat yang terkait urusan dunia atau agama. Kedua disebut sabar nafsany, seperti sabar dalam menahan diri dari keinginan hawa nafsu yang mendorong terus menerus”
[Ibnu Quddamah dalam Minhajul Qashidin]

Saudaraku,
Kuraslah semua potensi terpendam dalam diri kita untuk kebenaran. Habiskanlah waktu yang kita miliki untuk memepersembahkan amal-amal soleh yang banyak. Kerna, pasti, jika kebenaran menghabiskan potensi terpendam dalam diri kita, maka kebatilan tidak akan mendapat tempat untuk menggunakan potensi itu. Jika kebenaran telah menguasai hati dan sanubari kita, sudah pasti tidak ada tempat lai buat kerisauan, main-main, menjelek-jelekkan orang lain. Otak kita memang mustahil secara focus memikirkan lebih dari satu hal pada waktu bersamaan. Begitulah yang difirmankan Allah SWT
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”
[QS Al-Ahzaab:4]

Kita tidak bisa mengumpulkan dua perasaan yang bertentangan dalam satu hati. Kerna salah satu dari dua perasaan itu akan mengusir yang lainnya. Imam Syafi’e rahimahumullah mengatakan:
“jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebenaran, maka dirimu akan disibukkan dengan yang batil.”
Jika kita tidak menyesuaikan diri dengan selalu mengisi waktu dan bergerak cepat melakukan kebaikan, berjuang dengan prestasi teratur, maka kita akan terbawa arus pikiran yang buruk, kesia-siaan senda gurau, kebohongan dsb.

 Saudaraku,
Terakhir disini, mari menghitung, berapa banyak waktu-waktu yang tidak kita lewati di jalan ketaatan? Berapa banyak jarak kesempatan hidup yang tak terisi dengan amal-amal soleh? Sering terjadi pada umur yang panjang tapi sedikit manfaatnya. Ada pula umur yang pendek waktunya tapi panjang manfaatnya. Berdoalah selalu saudaraku, agar Allah tidak melepaskan kita tanpa perlindunganNya meski hanya sekejap mata..

Foto-foto sewaktu program Spider Nevi  bersama adik-adik naqibah. Menyambut ulangtahun dan makan-makan bersama. 

Khamis, 1 November 2012

ZUNEIGUNG PART 2

0



“Mai mahu solat dhuha sama-sama?” Kak Risma bertanya sambil tangannya lincah mengangkat tempat kopi, cangkir dan piring berisi ibu goreng dan sambal yang baru kami santap sebagai sarapan pagi itu. Wajah Kak Risma sudah basah dengan wudu’. Mai cepat-cepat menghulurkan tangan dan membantu Kak Risma merapikan tempat itu.

“Iya mahu kak..”Mai menjawab ringkas.

“Sudah.. biar kakak yang kerja.. sayang pergi wudu’ dulu sana..” Kak Risma senyum dan mengambil piring yang sedang dicuci Mai..sambil menarik tangan adiknya itu ke dalam aliran air. Mai membalas senyum sambil berlalu ke kamar mandi untuk berwudu’.

“Allahu Akbar!!” 
Takbiratul ihram. Sunyi. Tenang. Pintu-pintu langit pun terbuka memberi laluan buat doa yang dipohon dari hati yang terdalam.

Rakaat demi rakaat berdiri dalam khusyu’ yang mengabdi..seakan waktu terhenti disitu. Oh Tuhan, terimalah ibadah kami sebagai satu bentuk kesyukuran kami atas segala nikmatmu yang melimpah ruah. Mai tenggelam dalam dzikir solatnya. Terasa rahmat dan kasih sayang Allah yang dekat padanya. Merasa cinta Allah sedang mendakapnya dalam jalinan kasih sayang ini. Dada sebak. Mai sungguh menghargai ukhuwah ini. Sangat menghargai saat-saat solat dibelakang Kak Mukrim. Bahunya bersentuh dengan bahu Kak Risma. Hangat. Sehangat ukhuwah yang mengalir diselanya..Mai tak pernah merasai yang namanya solat sunat berjemaah bersama seperti ini dengan siapapun. Biasa, paling-paling dia melakukannya sendirian.sesederhana ilmu yang dia punya. Tapi sepertinya suami istri ini mendisiplinkan solat sunnah ini sebagai amal jama’ie mereka..menitikberatkan ibadah ini sebagai energi tambahan yang memomentumkan kekuatan..sungguh indah..terima kasih Ya Allah!! Terima kasih menghadirkan mereka dalam kehidupanku. Terima kasih meminjamkan sedikit dari sifat kasihmu yang memenuhi cekerawala untuk menjalinkan hati-hati kami. Tiada lain yang bisa kupersembahkan kecuali rasa syukurku..Mata Mai berkaca-kaca. Hatinya berbunga bahagia. Tak henti lafaz syukur itu diulang-ulang.

Usai solat dhuha. Kak Mukrim memperpanjangkan dzikirnya. Menikmati hening pagi dengan alunan asma’ Allah benar-benar menenangkan jiwa yang gundah. Empang tangis Mai pecah jua..tak sanggup lagi menampung hujan yang sudah menjadi bah yang menggenaskan.. dia menangis semahu-mahunya. Kaget Kak Risma dan Kak Mukrim. Segera Kak Risma merangkul bahu Mai..turut menangis entah kenapa. Dia hanya ingin menenangkan perasaan Mai. Tidak sanggup rasanya dia membenarkan airmata itu terus mengalir keluar dari mata bening adik yang disayangi fillah itu.. setelah tangis Mai mereda, dia memeluk Kak Risma seraya berkata

 “kakak, terima kasih…sungguh, kau adalah keajaiban bagiku..”

“dan kau adikku, adalah kado paling berharga dari Tuhan buatku..”

_________xx__________________________xx_________________________xx_______________

“Siap-siap sayang, kita pergi hantarkan undangan di Pare-pare”. Kak Risma menyodorkan gamis coklat yang telah siap diseterika untuk dipakai Mai.

“Undangan?”Mai sememangnya bingung kerna dia hanya mengikuti rentak perjalanannya keluarganya kak Risma. Maklum saja, Mai memang jarang sebenarnya main di daerah sini. Anak rantau yang dibebani kuliah dipundaknya.

“Iya sayang, undangan nikahannya sepupu kakak. Itu Kak Lin yang kita kerumahnya tadi malam.. Masih ingat? Kan Mai sudah janji tuh mahu datang pekan depan..Mapaccinya malam jumat. Akad nikahnya Sabtu siangnya..jangan lupa yah..hmm..begitulah Mai, agak ribet adatnya, kalau memanggil, harus kita sendiri hantarkan undangannya ke rumah.. sebenarnya sih tujuannya untuk mengeratkan silaturrahmi. Tapi Islam tidak menyusahkan.. Adat yang bikin begitu.. tapi yah, yang namanya adat,masih dijunjung tinggi sama orang tua.. selagi tidak bertentangan dengan syariat, kita turuti saja supaya tidak banyak silang dengan mereka kan.. ^_^”jelas kak Risma panjang lebar.

Perjalanan ke Pare-pare dari Sidrap memakan masa tidak sampai 2jam setengah. Pemandangan sawah padi yang hijau membentang, menyihir mata yang memandang. Tidak heran, Sidrap mendapat julukan Negeri penghasil beras.sesekali melewati kaki gunung lebih menyerlahkan kesaktian alam.. Diselang seli dengan lahan-lahan pembuatan garam di daerah tertentu, bagai hipnotis yang menghanyutkan. Negeri yang indah. Detik hati Mai. Ayah Kak Risma sibuk bercerita dengan menantu dan anaknya sementara ibu Kak Risma sudah terbang mengangkasa dalam mimpi indahnya. Kecape’an kerna telat tidur gara-gara menguruskan pembagian daging korban kemarin. Ponakan-ponakan kecil Kak Risma sibuk bercanda sesama sendiri. sesekali terdengar suara riuh dari tempat duduk belakang. Ada saja yang bisa dijadikan bahan mainan. Lucu benar anak-anak ini.

Tiba di rumah Kak Mukrim jam 11 pagi. Baru Mai tahu ternyata Kak Mukrim asli Pare-pare. Selama ini, Mai tidak pernah ambil tahu tentang Kak Mukrim.. hanya sebatas profesionalismenya di kampus. Tapi orang tuanya Kak Mukrim, memang pernah Mai kebetulan ketemu sewaktu pertama kali kerumahnya Kak Risma awal tahun ini. Sewaktu itu, orang tuanya Kak Mukrim singgah di rumah Kak Risma sehabis pulang dari kampung mereka di Bone. Mai maklum memang kalau orang tua Kak Mukrim tersangat baik. Apalagi mereka sungguh-sungguh mengajak Mai ke rumah mereka di Pare-pare jika berkesempatan. Sebaik saja Mai menjejakkan kaki ke rumah, segera dia disambut oleh mamanya Kak Mukrim dengan pelukan dan ciuman dipipi kanannya. MasyaAllah,padahal baru benar dia mengenali tante itu. Baru kali kedua bertemu.

“Akhirnya sampai juga disini yah nak..” kata tante penuh mesra. Mai disuruh duduk dan dihidangkan dengan kuih muih yang memenuhi meja.

Kak Risma hilang dibalik tabir membantu tante menyiapkan makan siang. Mai masih tidak begitu berani bertingkah. Kalau dinegaranya, pasti saja dia sudah turun ke dapur untuk turut membantu. Adat Melayu. Tapi disini sedikit berbeda budayanya. Biasa, biar anak gadis ke rumahnya orang, asal namanya tamu duduknya didepan saja. Tidak ikut membantu. Mai gatal tangan jadinya. Tapi takut juga malah dianggap tidak sopan jika dia ikut sibuk-sibuk didapurnya orang. Untung ada ayah Kak Mukrim yang ramah dan bisa ditemani cerita.

Ayah Kak Mukrim bekerja sebagai Kepala Dinas Perancangan Bandar di Pare-pare namun perwatakannya sangat sederhana. Dengan anak seusia Mai juga bisa ditemani bicara. Tidak lokek menceritakan pengalaman-pengalaman berharganya. Mai teringat kata murabbinya “kita selalu bisa menghirup lautan pengalaman berharga dari generasi yang lebih dulu dari kita. jadi jangan sungkan untuk ramah dan hormat pada yang lebih tua”. Terdetik dihati Mai, oh inilah dia, ayah dan ibu hebat yang melahir dan mendidik sosok sehebat Kak Mukrim sama seperti pikirannya sewaktu bertemu dengan ibu bapa Kak Risma pertama kali dulu. MasyaAllah sekali.

Mereka makan bersama siang itu. Keluarga Kak Risma. Dan keluarga Kak Mukrim. Dan tantenya Kak Mukrim yang ternyata berteman juga dengan Mai di alam maya facebook. Oh, lagi lagi dunia yang sempit. Selesai solat dzuhur, keluarga Kak Mukrim dan keluarga Kak Risma sama-sama berangkat untuk ziarah ke rumah keluarga Kak Mukrim. Bermula dari rumah neneknya hingga ke rumah tante-tante Kak Mukrim yang lain. Mama Kak Mukrim tak jemu-jemu memperkenalkan Mai pada keluarga. Dan sambutan hangat tetap menghiasi wajah yang melihat Mai.

Hati Mai tersentuh lagi saat tangannya menggenggam erat tangan neneknya Kak Mukrim. Dicium sungguh-sungguh tangan wanita tua itu. Teringat almarhumah neneknya yang baru 2 pekan kembali ke rahmatullah. Melengkapkan title “Mai tidak punya nenek lagi!!”fikirannya bahkan sempat lari ke sana sekali.

2 minggu yang lalu….

“Assalamu’alaikum Mai..ayah Cuma mahu kasi tahu, nenekmu sakit berat. Pak cikmu telpon tadi pagi. Dan ayah bergegas pulang. Sekarang saja masih dijalan. Mai doakan nenek ye..” nada suara ayah terdengar tenang. Tapi Mai tahu, gejolak hatinya pasti sudah menggegarkan volcano-volcano yang tidur lama.

“Iya ayah, insyaAllah. Ayah kabari Mai jika sudah lihat keadaan nenek”perasaan Mai tidak enak. Nenek jarang sakit yang pakai perkataan “berat” dibelakangnya. Saat ayah Mai yang selaku dokter mengatakan itu, Mai tahu keadaan neneknya benar-benar parah. Mai berkira-kira sendiri. dia menyiapkan dokumen imigrasi kilatnya. Persiapan kalau "ada apa-apa". Jadual pesawat diperiksa. Standby mode.

Jam 12.00 siang

“Mai, nenek sudah kembali ke rahmatullah.. Mai banyakkan sabar yah sayang. Nda usah pulang dulu. Kerna mahu cepat-cepat disimpan. Mai juga tahukan kalau jenazah itu harus disegerakan simpannya. Mai kirim doa saja ya nak.. semoga Allah terima doa anak cucunya yang soleh solehah..” Ayah masih kelihatan tenang.

‘Iya ayah insyaAllah..” tidak mampu berkata-kata. Airmata sepertinya sudah menenggelamkan bebola matanya hingga bayangan kamar saja tidak lagi jelas kelihatan.

Terbayang wajah bersih nenek tersenyum dengan garis-garis keriput khas orang tua saat menghantar Mai pulang ke bumi Angging Mammiri usai lebaran Eidul Fitri kemarin. Masih terasa hangatnya pelukan nenek. Tangan lembutnya yang kukuh berpegang saat Mai pimpin beliau menziarahi kubur kakek (atuk).Mai tidak punya peluang lagi untuk menggenggam tangan tua itu erat-erat.

_______xx______________________xx_________________________xx______________________

“Mai makan yuk. Itu tante Ida paling pintar bikin konro.. coba rasa” Suara mama Kak Mukrim mengembalikan Mai ke dunia nyata.

“Ih, tante kenyang sekali tante.. soalnya tadi Mai udah 3kali nambah dirumah tante. Salahnya kari ayam tante tuh.. yang enak buanget hingga full semua perut Mai sampai bagian cadangannya juga abis terpakai..hihi” Mai berbisik sambil mengharap pengertian tante dari disuruh makan terus..

“Itu tadi kari, ini konro.. pasti masih bisa kompromi dikit tuh perutnya..tante Ida udah dari tadi panggil-panggil nyuruhin coba.. gak enak gak disentuh sama sekali tuh” tante meyakinkan..

Mai terpaksa makan lagi. Enak betul konro masakan tante Ida. Sepertinya biar harus disimpan sebagian di ‘hepar’ juga, Mai tidak menyesal makan. Enaknya!! Nyum nyum..baru mahu tepar dengan perut kenyangnya, Mai disodor lagi dengan mangga ranum merah orange yang siap dikupas oleh mama Kak Mukrim..subhanallah ini tante satu sungguh-sungguh luar biasa layanannya. Sambil kumpul-kumpul bersama mama Kak Risma, mama Kak Mukrim dan tante-tante yang lain, mereka berkenalan dengan lebih dekat. Tante Ida selaku tuan rumah, sibuk bercerita tentang anak-anaknya hingga dikeluarkan album foto. Tidak cukup dengan itu, sampai foto yang dipajang didinding juga dikasi turun untuk memperkenalkan anak-anaknya pada Mai.

Keluarganya Kak Mukrim terlalu baik dan ramah. Mai tidak merasa asing berada ditengah mereka. Mai memang jarang canggung berada dikalangan orang tua. Mungkin hasil didikan ibunya dari kecil yang sering mambawanya bersama ke acara-acara pengajian. Tapi juga kadang Mai pasti lebih banyak mempertahankan kesopanan “gadis melayu”nya dikalangan teman pengajian ibunya. Tapi berada diantara tante-tante ini benar-benar nyaman. Mendengar tawa canda mereka dan menyedut pengalaman mereka. Apalagi pengalaman-pengalaman mendidik anak. Mai yakin pasti akan berguna buat dirinya dihari depan.

Usai kunjungan ke rumah keluarga, mama Kak Mukrim menyiapkan kari ayam bersama burasa dan tolong-tolong untuk Mai bawa pulang ke Makassar. Dengan pelukan hangat melepas Mai pulang dengan sinar mata penuh harap akan ada lagi pertemuan. Mai kembali menyalami nenek. Sambil mencium pipi tuanya. Mai tidak ngerti bahasa bugis. Tapi Mai ngerti bahasa kasih sayang nenek. 

Di perjalanan pulang, Mai menangis lagi. Entah kenapa hatinya semakin sensitive kerna dia semakin tua atau memang apa yang berlaku hari ini semuanya mengharukan hatinya. Kak  Risma memeluknya lagi. Kali ini dengan senyuman.

“Kenapa ini adiknya kakak, yang kakak sayang banget padanya, menangis terus hari ini?” Kak Risma mendekap sambil membelai belakang Mai..

“Gak tau juga kak, udah ketuaan kale, bawaanx emosian terus..” Mai mencoba menutup malu sambil meneggelamkan wajahnya yang masih bersisa airmata dibahu Kak Risma.

Seisi mobil ketawa.

Setelah lega, Mai bertanya pada Kak Risma,

“Kakak sama Kak Mukrim keluarga juga kah?”

Biasanya dikeluarga bugis, mereka suka menjodohkan anak-anak mereka dikalangan keluarganya. Katanya supaya harta tidak lari ke orang luar disamping mengakrabkan lagi hubungan kekeluargaan.

“Tidak..”

“Tapi sepertinya keluarganya Kak Risma sama keluarganya Kak Mukrim sangat akrab. Hingga keluarganya kakak juga bisa sama-sama jalan dirumah keluarganya Kak Mukrim?” Mai penasaran.

“^_^ sayang, pernikahan itu bukan Cuma untuk diri kita dan dia. Tapi pernikahan itu rahmat Allah untuk menyatukan dua buah keluarga. Ia menyatukan hati kita hingga kita menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita dan keluarga kita juga menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita juga. Pernikahan itu menjadi ibadah saat kita menjadikannya ladang tanaman akhirat.saat kita bersama-sama menjadikan rumah sebagai sambungan madrasah. Seninya kerna solat, indahnya oleh munajat. Tapaknya iman, jalannya syariat. Natijahnya akhlak…ih..kok jadinya kakak ngasi ceramah pra-pernikahan yah?” hahaha.. sama-sama ketawa..


Yang jelas, Mai sudah mendapat terlalu banyak pembelajaran berharga dalam episode kehidupannya hari ini.. …

Rabu, 31 Oktober 2012

ZUNEIGUNG PART 1

4


“Mai lebaran dirumahnya kakak saja yah. Soalnya kasian ma ibunya kakak gak ada yang temanin. Cuman berdua dirumah kalau ayahnya kakak gak kerja”

Sms dari kak Risma benar-benar membuat Mai serba salah. Bukan tidak mahu, tapi di satu sisi,Mai yang selaku senior tahun akhir dan mantan sekertaris organisasi Kebajikan Persatuan Pelajar Malaysia di Indonesia punya tanggungjawab untuk mengurus adik-adiknya yang semakin ramai dan memerlukan perhatiannya. Sambutan Hari Raya Aidiladha adalah salah satu program andalan PKPMI memandangkan pada sambutan ini, kebanyakan warga Malaysia yang sementara melanjutkan kuliah di bumi Makassar ini tidak pulang ke tanah air disebabkan kekangan libur pendek dan yang harus tetap bertugas di rumah sakit. Jadi biasanya sambutannya akan diadakan besar-besaran.

Disinilah warga PKPMI akan mengambil peluang untuk saling berkenalan dan mengeratkan silaturrahim. Biasanya, persatuan akan mengadakan solat sunat aidiladha bersama-sama dan dilanjutkan dengan khutbah aidiladha oleh salah seorang senior atau dipanggil ustaz yang berkesempatan untuk memberikan khutbah.selesai itu, berbekal dana yang diberikan oleh pihak pemerintah untuk kebajikan mahasiswa disini, persatuan akan membeli seekor sapi untuk dikorbankan dan dilanjut dengan acara masak dan makan bersama. Nah disinilah lahan untuk para mahasiswa saling meluah cerita menambah akrabkan silaturrahim sambil mengusir pergi rasa sunyi dan rindu akan keluarga saat takbir menggema di persada maya. Mahasiswa Malaysia disini sudah seperti saudara kandung. Yang senior dihormati, yang junior disayangi. tidak ada istilah “gap” dan “malu-malu kucing”. Itulah persaudaraan yang lahir hasil dari kebersamaan.

Mai masih berpikir.. di satu sisi yang lain,  Mai sudah terlanjur dekat sama ibu dan ayahnya Kak Risma. Sudah beberapa kali juga Mai ke rumahnya Kak Risma meski Kak Risma jauh di Surabaya. Kalau bicara tentang telponan sama ibunya Kak Risma, sudah terhitung sering..tiap minggu malah. Bahkan ibu Kak Risma sudah mengganggap Mai seperti anak sendiri. Itu yang membuat Mai betah dengan keluarga Kak Risma.Kak Risma hanya 2 bersaudara. Kakak pertamanya yang cowok dan dia sendiri. Kakak pertama kak Risma bekerja di luar negeri. Liburnya tidak tentu. Jarang benar beliau boleh pulang tepat waktu sempena lebaran dan sebagainya. Kak Risma sendiri diterima sebagai pegawai negeri di Surabaya dan beliau sudah bertugas disana hampir 3 tahun. Pulang ke kampung juga tidak menentu. Tinggal ayah dan ibu kakak berdua menghuni istana cinta mereka di Sidrap. Kadang ditemani ponakan Kak Risma yang tinggal tidak jauh dari rumah.

“ InsyaAllah kakak. Tapi jika Mai setelah solat eid baru berangkat ke sana gak apa-apa kan? ^_^” akhirnya Mai mengalah. Tidak ada salahnya menyambung silaturrahmi dengan keluarga Kak Risma.
“Alhamdulillah kalau ghitu sayang. Nanti kakak kabari ibu. Soalnya ibu sudah siap menunggu Mai dirumah”. Kak Risma senang sekali.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar…La Ila Ha Illallahu Wa Allahu Akbar..Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd..

Takbir Kemenangan yang menjadi symbol keagungan pengorbanan menggema penjuru alam. Alhamdulillah akhirnya saat ini tiba. Seperti yang dijanjikan, Mai berangkat ke rumah Kak Risma selesai solat Aidiladha dan makan pagi bersama-sama junior dan teman seperjuangannya. Berfoto-foto yang sepertinya sudah menjadi adat serta menyaksikan penyembelihan haiwan korban. Mai tidak mahu terlalu lambat nanti tiba di Sidrap. Kasihan ibunya Kak Risma yang menunggu.

Jam 10 pagi. Mai sudah tiba diperkarangan rumah Kak Risma bertemankan motor HondaBeat putihnya. Ibu Kak Risma lansung memeluk erat Mai diikuti tante-tantenya Kak Risma yang kebetulan bertandang. Sedang membantu di dapur, tiba-tiba

“Najlaa Rumaisa’!!” namanya diseru.

Tersentak. Belum sempat dia berbalik, tubuhnya sudah dirangkul dari belakang. Mai segera tahu kalau itu adalah Kak Risma.

“MasyaAllah kakak.. Kok nda bilang-bilang kalau pulang.” Mai segera menyalami Kak Risma sebaik rangkulan dilepas. Pipi gebu kakak kesayangan itu dicium sebelum tubuhnya membalas rangkulan Kak Risma.

“Lah kan yang namanya surprise buat Mai, masa’ dibilang.. gak surprise lagi kalau gitu donk” senyum dibalas senyum.rindu yang membeku. Hanya bicara sufi yang mampu mencurah luapan rasa yang semakin mencair bahkan meleleh di suhu kehangatan kasih berpusar arus ini. Mereka tenggelam didalamnya. Bahkan airmata saja tidak mampu keluar untuk mengganggu.

“Balas-balas senyum mulu. Ajak itu Mai minum air es kelapa dulu baru lanjut tatap tatapan..haha.” Teguran Kak Mukrim, suaminya Kak Risma dari belakang menyentak mereka dari tatapan kasih tersebut dan mengembalikan ke dunia nyata.

“Yuk Mai, minum es kelapa kegemaran Mai..hihi” Kak Risma gesit menarik tangan Mai ke hadapan sambil sebelah tangannya menjenjeng tas besar yang dibawa dari Surabaya.

 Kak Risma baru tiba dari Surabaya setelah berangkat dari sana usai solat eid pagi tadi. Di Surabaya Kak Risma bekerja sebagai ahli gizi di salah satu Puskesmas terpencil yang menjadikan signal telpon genggam suatu barang berharga mahal. Listrik disita 12 jam membuat malam gelap gulita tanpa semburat cahaya. Modem internet seakan putus asa untuk berkhidmat namun tetap harus bertahan demi kebaikan buat orang banyak yang membutuhkan. Dari Bandar Surabaya ke tempat bertugas Kak Risma harus menaiki kapal kecil yang menyusuri sungai kecil yang berkelok-kelok. Hidup terpisah dari suami tercinta hampir tiga tahun tak menjadikan Kak Risma lemah. Bahkan sebaliknya beliau semakin kuat semangat dan tabah menempuh ujian yang mendatang.

Terkenang perkenalan pertama dengan Kak Risma melalui MukaBuku. Waktu itu Mai memang memerlukan sosok seorang sahabat. Entah badai sepi dari mana yang melanda pantai hatinya saat itu. Mai teringat ada seorang teman mensugesti Kak Risma atas alasan kalau Kak Risma satu almamater sama dirinya. Almamater Unhas. Hatinya tergerak untuk mengenali kakak itu dengan lebih dekat. Sudah beberapa waktu sejak Kak Rismayanti Wahab itu bergelar temannya di facebook. Tapi tidak pernah satu kalipun dia berpeluang menegur. Akhirnya, dia menyapa juga. Bertanya itu ini. Pertama kali Kak Risma membalas pesannya, Mai merasa ada aura tersendiri pada diri Kak Risma yang terus menariknya untuk dekat dengannya. Kak Risma punya aura seperti kakaknya, Kak Na’ilah Alfarafisyah..Kakak kandung yang dikagumi dan selalu dirindui saban waktu. Apalagi Kak Risma dan Kak Na’ilah lahir pada tahun yang sama 1985. Pesan demi pesan melayang, telpon demi telpon berganti. Ukhuwah antara Mai dan Kak Risma kian memekar. Pertama kali berpeluang ketemu saat Kak Risma kembali ke kampung dan turun ke Makassar pada ulangtahun Mai tahun lalu. Ya, itu pertemuan pertama mereka yang diisi dengan 2menit malu-malu sebelum semuanya sirna dan seperti sudah lama benar mengenal. Mereka heboh bertukar cerita sambil tertawa sampai hampir lupa akan kehadiran Kak Mukrim disitu.

“Mai tambah lagi, gak usah malu-malu. Kalau malu, kakak yang kasi habis semuanya”.. 
Kak Mukrim mencelah memecahkan lamunan Mai. Mai tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Kak Mukrim Fawwaz, adalah seniornya dikampus. Tepatnya asisten dosen dibidang mikrobiologi yang digilai ramai dan sering mendampingi laboratorium mikrobiologi  sewaktu dia masih di alam kuliah. Kak Mukrim yang humoris, pintar mengajar, alim dan baik hati itu pasti saja tidak mengenalnya lantaran dia hanyalah salah satu dari ratusan anak kuliah yang dibimbing dalam laboratorium mikrobiologi tersebut. Pertama kali mengetahui Kak Risma adalah istrinya Kak Mukrim, Mai hampir saja syok berat. Speechless. How small world. Mahu pingsan juga ada. Tapi yah sudahlah. Dia terlanjur akrab dengan Kak Risma.

“Mai tidur disinikan bentar malam.. nanti kita sama-sama pergi dirumahnya tante kakak dikota..”
Kak Risma setengah mendesak.
“Errr….” Mai segan sebenarnya. Tidak enak mahu merepotkan. Tapi seakan tertahan untuk mengatakan itu. Apalagi rindunya pada Kak Risma belum tuntas.

“Mai udah janji dulu. Jadi gak ada alasan untuk nolak” separuh tegas. Tersenyum. Merasa kemenangan dipihaknya.

Mai terpaksa akur.

Selesai makan dan solat, Kak Risma membawa Mai ke kamar bujangnya. Kamar yang ditempati sebelum beliau menikah dulu.

“Maaf ya Mai, kamar ini agak kecil dan kotor. Soalnya Kakak disini waktu kakak SMA sampai kuliah dulu..bentar kakak ganti alasnya”kata Kak Risma sambil lincah ke kamarnya mencari alas baru.

Mai memerhati sekeliling. Didinding-dinding tertempel poster F4 dan Barbie Xu yang pernah terkenal gara-gara sinetron, Meteor Garden yang dimainkan ditelevesi dan sempat membudaya dikalangan remaja dimasa itu. Ada juga stiker Doraemon yang menjadi andalannya sampai sekarang.tersenyum. Kak Risma juga pernah mengalami masa-masa remaja yang mencemaskan. Menggilai artis-artis yang menghiasi layar televesi.

“Itulah hasil kreativitas jaman-jaman jahiliyah dulu” kata kak Risma separuh ketawa. Mereka sama-sama ketawa. Kak Risma duduk disamping Mai. Menggapai album jaman kecilnya sambil menunjukkannya kepada Mai. Setiap satu dijelaskan dengan teliti. Memutarkan lagi nilai-nilai memori yang terkandung didalamnya. Mereka ketawa lepas sambil bertukar cerita lucu bersama. Hingga akhirnya mereka sama-sama tertidur dikasur kecil itu. Sama seperti yang sering dijalani Mai bersama Kak Na’ilah saat pulng libur. Mai jadi rindu..

Selesai solat asar, mereka bersiap-siap untuk ke rumah tantenya Kak Risma di kot. Kak Risma menyedia dan menyeterika bajunya untuk dipakai Mai. Kerna Mai memangnya tidak membawa persiapan pakaian lantaran tidak berencana untuk menginap. Mai hampir saja meneteskan airmata saat itu. Benar-benar ada bayang Kak Na’ilah dalam diri Kak Risma. Sepertinya Tuhan sedang memujuk dirinya yang sepi di Negara orang demi menimba ilmu. Dia yang tidak berkesempatan untuk bermanja dengan Kak Na’ilah sepanjang usia remaja-dewasanya ini. Dia yang tidak sebebas dulu bercerita itu ini pada Kak Na’ilah kerna khawatir akan membuat kakaknya itu diamuk gelisah. Dia yang harus selalu berpura-pura kuat dan tegar. Ya Tuhan memberikannya keserasian dengan Kak Risma. Meski beda budaya, beda keturunan. Beda latar belakang. Namun Tuhan mengajarnya banyak hal lewat Kak Risma sama seperti waktunya bersama Kak Na’ilah. Tuhan memberinya keluarga baru lewat perkenalannya dengan Kak Risma.

Sepanjang dirumah tante, Mai diperkenalkan kepada saudara-saudara Kak Risma sebagai adiknya. Dan Kak Risma dengan sabar menjelaskan satu-satu salasilah keluarganya itu kepada Mai. Disambut hangat oleh keluarga besarnya Kak Risma membuat Mai merasa berada di keluarga sendiri. Subhanallah, sungguh ini adalah pemberian Tuhan yang sangat bernilai buat Mai. Sampai kapanpun dia tidak bakal lupa dengan momen-momen yang dia lalui hari ini. Dan pasti…pasti dia akan merindui semua ini saat dia pulang ke Malaysia nanti.

Pulang dirumah, mereka mulai sibuk lagi. Bersiap-siap barbiqu. Mahu bakar bebek (itik) katanya. Sama-sama sibuk membakar dan memasak dihalaman rumah. Sambil bersembang-sembang bersama sepupu-sepupu Kak Risma yang ikut nimbrung di situ.


“Kita mahu bikin nasu palekko. Khan Mai mahu coba nasu palekko. Keahliannya Kak Mukrim itu..” Bisik Kak Risma sambil menyentuh bahu Mai yang sedang sibuk membakar bebek. Mai tersentak. Bagi etnis Bugis, “Nasu palekko” atau hidangan bebek cincang sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu, Pasalnya, menu yang satu ini terkadang dijadikan sebagai menu wajib jika warga melangsungkan pesta hajatan. Mai pernah bilang sama Kak Risma satu waktu dulu bahwa dia ingin mencoba masakan itu sebelum pulang. Waktu itu hanya bicara ringan. Tidak terlalu penting. Dan dia hanya meluahkan perasaan dengan bebas. Tidak disangkanya Kak Risma masih ingat akan kata-katanya itu. Dan dia mencoba untuk memunaikannya. Mai tambah-tambah lagi terharu. Airmatanya lewat batas empangan. Luruh jua dengan sifat sensitive Kak Risma pada dirinya meski dia bukanlah siapa-siapa.

.............bersambung...........................

Isnin, 29 Oktober 2012

OCTOBER EVE

2



Jadikan semalam untuk dimuhasabah
Hari ini untuk kita usahakan
dan hari esok, Untuk matlamat kerana Allah

~Saranghyeyo Chinguya~

Ahad, 28 Oktober 2012

PUISI BUAT NENEK

0


Bergetar hatiku saat senyummu menyambut hadirku
Mata tuamu mungkin sudah tidak bisa mengidentifikasi dengan baik
Memorimu mungkin sudah tidak sebaik hari kemarin
Namun sentuhanmu tidak pernah dingin dari bayu kasih

Sebak jiwaku saat tangan tuamu menggenggam erat tanganku
Saat daku memimpin tanganmu masuk ke ruang
Memegang payung tuamu adalah satu kehormatan

Aku juga pernah punya nenek
Yang bisa kupimpin tangannya menyusuri jalan kuburan
Untuk menebar ziarah beberapa waktu yang lalu
Aku masih punya peluang untuk mengecup dahinya yang berkedut-kedut
Mencium pipinya yang sudah kendur
Dan menyalami tangannya yang sudah menua dikunyah waktu
Namun kesempatan itu sudah sirna
Saat Tuhan memanggilnya kembali ke sisi Rabbi

Aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengulang waktu dengannya
Melewati hari kemarin saat dia masih disisiku
Saat Tuhan masih memberiku ruang untuk berbakti padanya
Bahkan untuk merenung pada redup sinar sepasang mata tua itu
Kesempatan yang sama sekali tidak akan berulang!!

Ya, mungkin Tuhan masih menyanyangiku
Memberiku ruang untuk menyaksikan lagi kasih nenek lewat matamu
Meski Cuma sebentar tapi ia bisa meneduhkan rindu yang takkan pernah kelar
Semoga Kau merahmati ruhnya dan menempatkannya dikalangan orang soleh
Amin.

amni_shamrah
~22.30pm~
28 October 2012