Skinpress Rss

Jumaat, 24 Ogos 2012

STILL AND CARELESS WITHIN

0


Within you, I’ve found the perfect friend

Someone who I know will be there till the end
And they’re not just thoughts I hope will fulfill
But thoughts that will stand forever still



Still as the wind on a hot summer’s day
Still as your friendship I’ll never betray
Still as the characters in a photograph
Still as your breathless, silent laugh



Within you, I’ve found the perfect friend
A mind that I can comprehend
A person I see is so much like me
A mutual relationship so carefree



Carefree as a child who questions the world
Carefree as a scream that goes unheard
Carefree as an adult blessed with a dream
Carefree as water flowing downstream



Within you, I’ve found the perfect friend
With whom I can be real, and never pretend
You’ve always been someone unique from the rest
You hold a piece of me no other can possess



Within you is reason to live every moment in time
Within you the life I want is always mine
Within you, I have the perfect friend
With you, I see myself till the very end

Ahad, 19 Ogos 2012

EID MUBARAK ALBUM

0

dedicated for my dear brother that didn't able to be home in eid.. Minal Aidil Wal Faizin.. Taqabbalallahu minna wa minkum.. it's more enjoyable if you're here.. ^_~

tetap semangat menjalani ruas perjuanganmu...

~at the airport before departure~
~ready for eid sholah~
~at masjid UniTen..for the first time in my whole 24 years~
~after sholah..a lots of people celebrate hari raya at town~
~Pak Usu's Family without Ana n Bang Ngah,he's working today~
~Dad, mom n Wan..~
~Along's family.. before both umar n amin spoil the Baju Raya with watermelon~
~just us.. without you!~
~Ready to Balik Kampung~
~Kak Long Azi's girls came at noon~
~taking a pic before they're leaving for Johor~
~we and the nieces.. seems they all getting taller and Abby also included~
~our bi family.. all getting sporting for this "family picture" things..haha~
~we and the girls again~
~accompanying umar and zahid playing bunga api~
~our big family at ummi's family tree~
~ gotta chance to meet our nephews and nieces~
~kampung always give and extra sweet memories to behold~
~with Ana at the end.. she came back from Perak on the second day..my childhood bestfriend~
~at home..Kolam Ikan ummi while waiting ayah to go for Lebaran visit to rumah Che Su~
~beloved nephews on hari raya~

Sabtu, 18 Ogos 2012

POHON BULAN

0



by: Ulfa Hidayati on Saturday, December 24,2011 at8.52 am

“Besok penerbangannya pukul 09:00, artinya dia sudah di Bandara sekitar pukul 08:00. Yah, saya harus cepat bangun agar saya bisa tepat tiba di sana tepat waktu”.
Bisikku dalam hati, mencoba menyemangati diri sebelum menggelar selimutku untuk tidur. Denting jam seperti mengerti kalau detak jantungku sangat berharap sejalan seirama dengannya. Mataku mulai letih, tapi saya masih berusaha menatap satu foto yang sengaja ku jepit di pita baju yang ku gantung di samping madingku. Melekat sekali wajah itu seperti ia sedang tersenyum nyata di depanku.
“Tunggu aku besok, tolong jangan pergi sebelum aku datang… please, please, please.. Meski diriku bukanlah sahabat lamamu dan belum menjadi teman karibmu..”

            Kring.. Kring.. Kring… treekkk,,brukkk…pling pling pling..
15 menit kemudian..

“Salsaa, salsa, bangun.. waktu subuh sudah lewat Nak. Cepetan gih”.
 Mama memanggil dari luar kamar berkali-kali.
“Fiuh,, masih juga subuh Ma. Ntar lagi gih.. ??? Apppaaa,, subuuhhh???”.
Saya terperangah. Saya mencari alarm sialku itu yang tidak membangunkanku. Saya nyaris marah saat melihat alarm ku pecah berserakan di lantai. Ku ulang kembali memori, mencari penyebab jatuhnya alarm mungil ini dengan gambar minny mouse nya menambah warna indahnya. Ternyata tadi subuh, saya sendiri yang melemparnya ke lantai. Fiuh,,dengan sangat menyesal.. ku lihat ponselku, menunjukan pukul 05:45. L

            Setelah mandi dan sholat subuh, saya menyiapkan sebuah hadiah kecil. Tak terlalu memang tapi isinya juga berharga seperti dia yang ku anggap saudaraku. Setelah hadiah kecil itu selesai saya beranjak membersihkan diri, menyetrika, lalu kemudian bersiap meretas jalan menuju Bandara. Waktu sudah menunjukkan pukul 07:32, kaki kananku mulai beranjak dari teras rumah setelah pamit sama orang tuaku tercinta. Hmm, mereka tak tahu kalau hari ini saya keluar rumah bukan untuk kepentingan mengajar tapi untuk bersua sahabat ku yang kini benar-benar akan pergi meninggalkan NKRI ini. Kenapa mesti ke Indonesia kalau juga toh kau akan pergi juga nantinya meninggalkan Negara ini? Kenapa kau hanya menyisakan kenangan saja? Kenapa tak kau simpan raga mu bersama kami? Ah, pikiranku memang ngaco terus dari kemarin.

Sebut saja sahabatku ini Vinta. Ia mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia. Mengambil Fakultas Kedokteran. Cerdas memang dia, ku acungkan jempolku. Memang tidak lama saya mengenalnya. Hanya berawal dari perkenalan kecil dari temannya yang Alhamdulillah masih bisa terjalin hingga detik ini.
Sms masuk:
“Saa,,dimana?? Vinta dah mau tiba di Bandara nihh.. lammaaa kali kau sa..”.
“Dasar Sessy cerewet,sabar aja napa???  Ini juga dah di jalan. Macet tau.”
Balasanku di Sessy ternyata juga membuatku panic. Nyaris jam 08:00 sekarang. Macet, sekitar 2 blok. “Pak, bisa cepetan gak?”.
“Iyya neng, ini juga dah cepetan tapi yah mau gimana lagi. Macet neng”.
Si Bapak taksi ini benar. Mau cepat pun tak bisa. Macet beneran panjang skali. Kalau saya menunggu jalan ini mungkin  pesawat Vinta sudah take off. Hmm,saya harus lari meskipun jarak yang ku tempuh masih sekitar 10 km. minimal sekarang saya meleewati macet ini dulu. Setelah memberi sopir taksinya uang, saya pun berlari di tengah jalan raya.

 Kaki ku mulai sakit, apalagi jalan juga banyak yang rusak karena saat ini musim sedang berganti dengan hujan. Bicara tentang hujan, saat ini benar-benar ada tanda-tanda akan turun hujan. Saya sudah melewati pusat kemacetan. Tak ada taksi, angkot pun jadi. Pukul 08:10 saat ini. Ngos-ngosan sudah saya, badan mulai berkeringat berinringan dengan sebuah sms masuk lagi.
“Sa, aku gak tahu apa kamu ke Bandara apa tidak. Tapi, aku benar-benar sedih harus meninggalkan Indonesia tanpa ketemu kamu untuk terakhir kalinya”.
Sekejap, air mataku mengalir. Tak ku pedulikan penumpang mau bilang apa tentangku. Ku pencet tombol panggilan.
“Halo Vin, sekarang aku menuju Bandara. Tolong jangan pergi sebelum aku datang Vin. Aku mohon. Dah deket kok, nyaris nyampe aku ni. Vin, Vinta??”.. hanya isak tangis ku dengar di seberang sana.
“Vin, aku gak peduli. Bagaimana pun keadaan kamu sekarang aku Cuma mau bilang. Tolong jangan pergi sebelum aku datang. Aku janji akan lebih cepat Vin, Oke?!!”.. tut..tut..tut..tut..tut..

            Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Angkot hanya bisa berhenti di depan Bandara. Sekitar sekilo lagi perjalananku baru bisa sampai. Tak ku lihat 1 pun Bus Bandara terparkir ria di sana. Terpaksa, lagi dan lagi saya berlari. Rasanya nafasku sudah setengah-setengah. Tenagaku terkuras. Kaki ku sakit. Badanku basah karena keringat, kalau tahu begini kejadiannya tak perlu repot-repot tadi ku setrika sedemikian rapinya Karena toh ujungnya pun akan kusut singset tak karuan begini. Hujan kini menemaniku berlari. Banyak mata yang memandangku. Sedkit lagi Salsa, 10 meter lagi. Ayo lari Sa, lari, lari. Ku bayangkan kini diriku di kejar sebuah buldoser yang akan menghaluskan badanku dengan tanah. Lari ku sangat kuat dan akhirnya sampai juga saya di pintu pemberangkatan. Cepat mataku mencari sosok sahabatku itu.

“Vinta, vinta, kamu dimana Vin?”. Saya belum menemukannya. Saya masih mencari di kerumunan orang. Dann, ku dapat Vinta itu tapi sudah memberikan tiketnya pada petugas.
Segenap tenagaku teriak “Vintaaaaaaa…… Vintaaaaa…. Tungguuuu…!!!!”
Ku lihat teman-temanku yang lain menoleh ke arahku. Air mataku berlinang. “Vintaa..” masih saja ku teriaki anak itu. Dasar anak keras kepala kau Vinta, saya sudah capek-capek ke sini dank au tak menemui sedikitpun sementara kau akan pergi dan entah akan kembali apa tidak???

Vinta menoleh ke arahku. Ia langsung menjatuhkan tasnya dan berlari ke arahku. Ku rasakan dengan sangat badannya menubruk badan kurusku. Benar-benar seperti adegan romantic di film-film india tapi saya masih juga memeluk badannya dengan tak mampu berkata-kata lagi. Saya juga Vinta, menangis sejadi-jadinya. Vinta melepaskan pelukannya, begitupun aku. “Sa, makasih kamu sudah mau datang. Saya menunggu mu dari tadi. Sampai kamu harus basah kuyup begini. Benar-benar kesan terakhir yang jelek yang ku titipkan padamu Sa”. “Vin, gak ada kesan jelek. Semua indah, saya mencintaimu karena Allah. Tolong jangan lupakan kami sahabat-sahabatmu. Ini ada bingkisan manisku untukmu. Buka saat kamu sudah di Malaysia. Maaf, nilainya mungkin tidak semahal kasih sayangmu Vin tapi hanya itu yang bisa ke berikan untukmu. Ku tahu kamu sulit lagi kembali ke Indonesia. Vin, dulu kita pernah mimpi. Kalau harus memilih, maka kamu mau kita jadi pohon agar kita tidak akan terpisah 1 sama lain. Meskipun kita di tebang, layu, dan akhirnya mati tetap akar kita akan tetap menyatu dan berdekatan. Kini, susah untukku menjadi pohonmu lagi karena kini kita benar-benar jauh. Tapi Vin, kalau kamu merindukan kami sahabat-sahabat mu.. keluarlah, tutup matamu dan rasakan angin. Angin akan meringankan beban rindu itu dan membawanya pada kami. Dan, lihatlah bulan di malam hati Vin. Pohon Bulan itu adalah diriku yang akan selalu memandangmu dari jauh hingga Allah lah yang mempertemukan kita”. Ku sebarkan senyumku, tapi Vinta hanya bisa mengangguk dan terisak.

Perlahan, Vinta menghilang di kerumunan orang. Mungkin kini dia sudah tersenyum memandang Bulan Pohon itu.. Miss U, Siztah..!!!

Jumaat, 17 Ogos 2012

TRIBUTE TO INDONESIA

0



Negeri itu bukan negeriku
Tapi ia banyak mengajarku memaknai kehidupan
Disanalah aku menuntut ilmu dunia akhirat
Menyingkir gelap menjemput cahaya nan benderang

Negeri itu bukan negeriku
Tapi disanalah aku mengenal banyak perkara
Disana aku mengenal hati-hati yang ikhlas
Belajar untuk saling menyayangi dengan telus
Merentasi batas Negara, passport dan visa

Negeri itu bukan negeri sempurna
Masih ada si papa kedana tidak tercukupi
Masih ada anak yatim yang tidak terbela
Masih banyak yang sakarat terdampar, tidak sanggup dengan biaya

Namun negeri itu tetap terhormat
Didalamnya lahir ilmuan dan cendikiawan
Anak negerinya rela bermandi darah membela nasibnya
Mereka meyanjung tinggi adat budaya dan warisan pancasila

Negeri itu negeri terbilang,
Ia menaungi ratusan pulau dan negeri
Turut meneduhi ratusan suku yang berbilang
Namun ia mempersatukan semuanya

Negeri itu negeri bertahan
Pantang menyerah sebelum tumpas
Biar acap kali bencana menggegar
Meski kian kali rusuhan mengobrak abrik keamanan
Ia tetap saja bangkit dan berdiri semula

Negeri itu,
Negeri yang mengajarku arti sejatinya sabar
Negeri yang mendidikku, keadilan itu saat ia diletakkan pada tempatnya
Negeri yang membuatku belajar.. bahwa tawakkal itu harus totalitas
Negeri yang membuatku melihat dari jendala yang berbeda..

“Happy Independence Day, Indonesia!!”

~amni shamrah~
17 Augustus 2012
08.00 am

Khamis, 16 Ogos 2012

ZIARAH KUBUR

0



SEMEMANGNYA amalan menziarah tanah perkuburan merupakan suatu amalan yang lazim dan menjadi tradisi turun- temurun masyarakat kita. Terutama di musim perayaan Aidilfitri mereka menziarahi tanah perkuburan bagi tujuan berdoa dan menyedekahkan ayat-ayat suci al-Quran kepada mereka yang pergi lebih awal meninggalkan dunia ini.

Sesetengah kelompok tertentu mengecam keras perbuatan atau tradisi membaca al-Quran atau surah Yasin di kalangan umat Islam ketika menziarah tanah perkuburan. Malahan dikatakan bahawa membaca al-Quran atau bertahlil di kuburan merupakan perbuatan bidaah dan sesat.
Menurut mereka perbuatan tersebut tidak dianjurkan oleh agama, tidak pernah dilakukan oleh Nabi s.a.w. Perbuatan ini boleh membawa kepada perbuatan syirik yang sangat berbahaya kepada keutuhan tauhid umat Islam.

Sedangkan pada hakikatnya dari segi adab menziarahi kuburan kita disunatkan membaca al-Quran seperti surah al-Fatihah, al- Ikhlas, al-Mauzatain atau membaca surah Yasin dan pahala bacaan itu dihadiahkan kepada ahli kubur kata Imam Ahmad r.a.
Pahala bacaan tersebut akan sampai kepada ahli kubur. Semakin ramai ahli keluarga yang membaca surah Yasin sudah tentu akan semakin banyak cucuran rahmat yang diberikan kepada orang yang diziarahi.
Mereka dianjurkan membaca surah Yasin seperti dikatakan Nabi s.a.w. bermaksud: Barang siapa berziarah ke kuburan kedua-dua orang tua atau salah satu di antara mereka pada hari Jumaat dan membacakannya surah Yasin, maka dia akan diampuni dosanya dan dihitung sebagai kebaikan.

Satu-satunya amalan yang sangat baik ketika menziarah kubur ialah membaca (sebahagian) al-Quran dan berzikir kepada Allah s.w.t. Banyak ulama yang menegaskan bahawa pembacaan al-Quran itu dapat sampai kepada arwah orang yang telah meninggal dunia.

Dalam fadilat surah Yasin, diterangkan hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam masnadnya oleh Abu Daud, An-Nasai dan disahkan oleh Ibnu Hiban, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Bacalah Yasin bagi orang-orang yang (akan atau) telah wafat di antara kamu (Muslimin).
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud, Barang siapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca al-Fatihah, Qul Huwa llahu Ahad dan Alhakumut takasur, lalu ia berdoa “Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mukminin penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafaat) pada hari kiamat. Hadis-hadis inilah dijadikan dalil oleh ulama mengenai dibolehkan membaca al-Quran bagi orang yang telah wafat.

Keafiatan
Ziarah kubur juga bertujuan berlaku ihsan terhadap penghuni kubur, lebih-lebih lagi kepada roh kedua-dua ibu bapa kita dan menggembirakan mereka dengan memberi salam, memohon doa agar dilimpahi dengan rahmat, pengampunan dan keafiatan dari Allah s.w.t.
Bahawa permohonan doa anak yang soleh itu, yang sentiasa mendoakan kedua-dua ibu bapa mereka yang telah meninggal dunia akan diterima serta ditulis oleh Allah s.w.t. sebagai anak yang taat kepada ibu bapanya.

Sabda Rasulullah s.a.w. dalam hadis yang diriwayatkan oleh Iman Muslim yang bermaksud: Apabila seseorang manusia itu mati, akan terputuslah daripadanya segala amalan melainkan tiga perkara: Sedekah yang berterusan manfaatnya, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak yang soleh yang mendoakan baginya.
Selain itu, kita juga disunatkan untuk berdoa dengan cara berpaling ke arah kiblat serta mengangkat kedua-dua belah tangan dan mohon ke hadrat Allah s.w.t. semoga roh ahli kubur dilimpahi dengan rahmat, keselamatan, keafiatan dan sebagainya Inilah yang dilakukan Rasulullah s.a.w. ke atas kubur anaknya Ibrahim.

Ziarah kubur sememangnya disyariatkan bahkan disunahkan. Nabi s.a.w. sering berziarah ke kuburan kaum Muslim dan beristighfar memohon ampun bagi para penderhaka yang menjadi ahli kubur, sebagai bukti bahawa kedatangan Nabi adalah satu rahmat.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari menyebut: Rasulullah s.a.w. melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata. Kedua-dua ahli kubur ini sedang diazab Tuhan, meskipun bukan kerana dosa besar. Rasulullah s.a.w. lalu meletakan di atas kedua-dua kuburan itu pelepah kurma yang masih hijau sambil berdoa, Sesungguhnya kedua-dua pelepah kurma itu, insya-Allah, akan meringinkan azab mereka sehingga pelepah itu kering. Dengan berkat kehadiran Rasulullah ke kuburan itu, Tuhan meringankan azabnya.
Ziarah juga adalah cara kita untuk mendoakan orang yang telah mendahului kita. Al-Quran mencontohkan doa itu: Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan. (Maksud al-Quran surah Al-Hasyr:10).

Itulah perintah al-Quran agar kita mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Doa itu kita baca ketika berziarah kubur. Menziarahi kubur berserta membaca ayat suci al-Quran sebenarnya dapat melembutkan hati yang keras kerana ketika seseorang menziarahi kubur ia sudah tentu akan teringat dengan firman Allah yang bermaksud: Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. (al-Anbiyaa ayat 35)
Begitu juga dalam firman Allah yang lain bermaksud: Setiap makhluk yang ada (di muka bumi ini) pastilah akan binasa dan kekallah zat Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan. (Surah al-Rahman ayat 26-27).

Jika manusia sudah teringat dan menghayati ayat-ayat Allah ini sudah tentu dia akan merasa takut dan akan meninggalkan perbuatan jahat.
Sesungguhnya Islam menggalakkan umatnya supaya saling hormat-menghormati sesama manusia, dan tidak terkecuali dengan orang yang telah meninggal dunia.
Kerana itulah Islam menganjurkan umatnya supaya menghormati ahli kubur serta menjaga kehormatan persekitaran perkuburan.

Amat dikesali sekiranya amalan membaca al-Quran di kuburan yang diamalkan Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya ini dikata bidaah (sesat) dan sebagainya.
Umat Islam yang pulang kampung hanya sekali setahun sempena perayaan, maka amat digalakkan merebut peluang tersebut untuk menziarahi kuburan ibu bapanya dan secara tidak langsung juga mendidik kepada anak-anaknya (cucunya) dengan amalan kebaikan ketika berziarah kuburan.

Isnin, 13 Ogos 2012

JUST IN TIME

0




Menguruskan imigrasi adalah hal yang paling ribet (leceh) yang harus dilakukan setiap kali mahu pulang kampung. Meski jarak sebenarnya tidaklah terlalu jauh, 3jam 30 menit dengan menaiki direct flight, namun keharusan untuk mengurus ERP (entrance re-entry permit), permit untuk masuk kembali ke Indonesia membuat rentang jarak seakan berganda puluhan kilo batu.

Paling kurang, ERP memakan masa 1 minggu untuk diurus. Mulai mendaftar nama di rektorat dan mendapatkan surat izin untuk membuat ERP, hinggalah setor berkas (install document permohonan) di Kantor Imigrasi yang berpusat di Sudiang, pembayaran permit (yang harus dilakukan setelah 2 hari kerja dari tarikh pemasukan boring permohonan) dan mengambil passport dan document lain yang telah selesai diproses juga 2 hari. Yang lebih ribet dari itu adalah menguruskan kartu pendudukan sementara atau izin tinggal terbatas (KITAS). Lebih banyak document dan proses yang harus dilakukan hingga menyebabkan stress tingkat tinggi atau istilahnya “haunted by immigration”. Benar-benar mimpi ngeri yang butuh kesabaran dan ketangguhan yang cukup tinggi.

Pengurusan kali ini tambah meningkatkan kadar stress yang sudah cukup tinggi. Bayangkan saja diri akan pulang ke kampung hari senin 2 minggu lagi. Dijanji KITAS ku selesai hari Jumatnya supaya sempat memasukkan berkas untuk ERP guna untuk pulang. Namun ternyata janji tinggal janji. Harusnya urusan KITAS sudah selesai dari 2 minggu sebelumnya namun disebabkan alasan “yang menandatangani KITAS pergi keluar negeri, maka tiada orang yang bisa menandatanganinya. Hanya itu. Harus menunggu dengan ketidakpastian. Ridiculous.. sabar.. sabar dan kuatkan kesabaran. Dibilang hari Senin baru bisa diambil. Aduh, menanti hari Senin benar-benar adalah sebuah penyiksaan..3 hari, banyak yang tumpang melintas dibenak. Jangan-jangan tidak sempat siap.. jangan-jangan masih belum ditandatangani.. jangan-jangan.. aisshh.. astagfirullahal adzim!! Kenapa keraguan menggelayut saat akal lelah membuat pertimbangan. Padahal ada Allah yang mengatur segalanya. Tawakkal saja.

Hari Senin pun tiba. Tapi sebuah penantian masih saja sia-sia. Tiada kepastian membuat diri terpaksa lagi menunggu sampai sore. Alih-alih jawaban yang diperoleh “datang lagi hari rabu”. Speechless. Mengecewakan. Baru selesai KITAS pada hari Rabu berarti peluang untuk pulang Senin setipis kertas. Ya Allah, mungkin tawakkalku yang belum total. Mungkin doa masih terhadang dek dosa-dosa yang menggunung. Astagfirullahal adzim.. Hanya Allah yang mampu menurunkan keajaiban sekarang.

Meski dijanji Rabu, tetap saja diri ke kantor imigrasi lagi hari selasanya. Memang sepertinya harusnya lebih berusaha di samping pasrah menyerah. Setelah menceritakan masalah diri kepada ibu yang bertugas, ibunya bilang “nda bisa saya kasi jaminan tapi sa usahakan”.terima kasih ibu.. itu sudah cukup membantu. Berusaha itu sudah cukup meringankan stress yang menggunung seperti fenomena gunung es dalam mindaku. Beberapa jam menunggu, akhirnya KITAS bisa diambil hari ini. Alhamdulillah.. Alhamdulillah benar-benar bantuan Allah yang mengatur segalanya. DIA uji kita sekejap untuk melihat reaksi dan cara kita merespon. Kemudian cepat-cepat DIA memberikan jalan keluar. Segera memasukkan berkas untuk membuat ERP. Paling sudah ringan sedikit proses yang akan dijalani.

Hampir saja menyusahkan ayah untuk membeli ulang tiket yang harganya melambung tinggi disebabkan musim lebaran yang kunjung menjengah. Hari Kamis dijanjikan untuk membayar ERP. Tapi itulah, ternyata Allah masih mahu menguji sekaligus meninggikan ambang batas kesabaran diri ini. Hari Kamisnya, tetap sama. Janji tinggal janji. Berkasnya belum selesai dikerja katanya. Aduh.. ini menyangkut pelayanan publik!! 

Ya Allah kuatkanlah kesabaran. Sabar dan kembali lagi besoknya, Jumat. Tetap saja sama. Belum selesai.. Masih berusaha untuk menggesa bapak yang dikantor atas menyelesaikan berkas tersebut. Kerna hukum sunnatullahpasti akan berlaku sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Jika diri tidak Berjaya membayar KITAS pada hari ini bermakna tiada sudah harapan untuk pulang kampung Senin nanti. Benar-benar sebuah ujian yang berat. Ya Allah, bantulah.. kurniakan daku kesabaran dari kekuatan yang bersisa. Setelah menunggu hingga sore, akhirnya, masih juga bantuan Allah menyelamatkan lagi kondisi. Berjaya menyelesaikan proses pembayaran ERP dengan lancar.hari Senin pagi baru bisa diambil KITAS dan passport.

Padahal hari Senin siangnya, diri bakalan berangkat pulang ke tanah air. Critical time. Sempat berpikir, kalau saja nanti Senin kembali ke kantor ini dan jawabannya “belum selesai” atau harus menunggu hingga sore baru bisa mengambil passport, aduh.. tapi tiba-tiba sukma berbisik, Allah telah membantuku 2 kali, kenapa masih meragukan kebaikan Allah untuk menyelesaikan kebuntuan kita?? iya akhirnya pasrah dengan kekuatan tawakkal. Kerna Allah lebih tahu mana yang terbaik. Tidak lagi mengharap bisa pulang 100%. Jika Allah berkehendak, maka diri akan pulang kampung sebagaimana yang direncanakan sedang jika Allah berkehendak sebaliknya, maka itulah yang terbaik buat diri.

“Kita merancang, Allah juga merancang dan Dia juga menentukan. Dan ketahuilah keputusan Allah itu adalah yang terbaik. Yakin itu!!”.

Alhamdulillah akhirnya Senin berjalanan lancar sesuai pengharapan yang terpanjat ke arasy Langit. Semuanya berlaku “just in time”.

Ahad, 12 Ogos 2012

TASIK a.k.a DANAU

0




Setiap orang pasti punya cara tersendiri saat masalah lagi menumpuk dipundak. Kita butuh jeda. Tapi bagaimana caranya memberI jeda pada diri terserah pada individu masing-masing. Ada yang suka pergi mall dan shopping sepuasnya, ada yang suka ke restoran dan makan yang enak. ada yang suka ke kolam dan melihat ikan berenang-renang. ada yang suka menanam pohon dan sebagainya. Bagi diri, menjadi kebiasaan, saat kepala tepu dengan sebarang masalah yang memuncak, atau kesedihan yang melanda pantai hati, suka untuk mengunjungi salah satu tasik/danau di kampus. Danau yang agak terpencil yang airnya selalu tenang dan menghangatkan perasaan.

Aku suka danau. Kadang hanya duduk-duduk dipinggirnya seakan bisa membuang dan menenggelamkan dalam-dalam masalah yang mengisi kepala. Kesedihan yang bagai gunung berapi pendam yang menunggu waktu mahu meletus. Belajar dari danau yang tenang, biar bagaimana kecamuknya didalam, ia tidak pernah menampakkannya pada permukaan. Dalamnya sarat rahsia dan padat cerita.. namun hanya dia dan Tuhan yang tahu. Ia tidak butuh pihak lain untuk turut mengadili, mengomentari mahupun memberi saran.. cukup dia jalaninya perlahan-lahan. Member ruang untuk waktu memulihkan segalanya. Iya. Aku mahu seperti itu.

Hari ini membawa seseorang ke danau ini. Iya, sepertinya orang yang semakin penting posisinya di hati ini. Adikku yang dikasihi.. ya aku ingin memperkenalkan tasik ini pada dia.. mungkin tidak penting-penting amat namun ia punya nilai tersendiri buat aku. Apalagi untuk momen-momen yang penting seperti sekarang. Sedenarnya sederhana saja. Tapi ternyata melewati jalanan ini bersama lebih seru dari sendirian.. thank you for everything sis..