Skinpress Rss

Khamis, 20 Oktober 2011

MEDICINE POSTING

0


Setelah lebih 2 bulan bergelut di bagian (depertment) internal medicine (interna), diri akhirnya telahpun menduduki ujian akhir dibagian (department) ini. Menempuh 11 minggu di interna [baca:12minggu gara-gara turun minggu missal (extent) sewaktu lebaran Aidilfitri] benar-benar adalah waktu yang amat singkat untuk mempelajari apatah lagi untuk menguasai bagian ini.
Internal Medicine (interna) mencakupi dari paru (pulmonology), jantung (cardiology), sistem pencernaan (Gastroenterohepatology) dan juga ginjal (urology). Terlalu banyak yang harus dipelajari dalam waktu yang singkat. Namun disitulah cabarannya.

Minggu pertama dan ke-2, diri telah ditempatkan di Infection (IC) Center RSWS. Di IC ini, hanya seramai 4 orang co-ass yang ditugaskan memandangkan IC sendiri terdiri dari 4 lantai. Setiap orang bertanggungjawab ke atas 1 lantai. Semua kes (kasus) infeksi ditangani di IC. Yang paling banyak itu adalah Tuberculosis baik paru mahupun ekstra paru, ada juga HIV dengan segala macam komplikasinya, serta ada juga infeksi lain yang agak jarang. Minggu pertama diri dipertanggungjawab ke atas ward (bangsal) TB lelaki yang pesakitnya meliputi hampir 16 orang perward (perkamar) dan ada 2 kamar. Ditambah dengan 3 ward (kamar) kelas 2 yang masing-masing memiliki 4 orang pesakit. Jadi untuk memulai follow up pagi di IC, diri harus berangkat seawal jam 4.30 pagi setiap hari dan follow up hanya akan selesai jam 7 pagi. Waktu oncall (jaga), hanya seorang co-ass dan seorang dokter yang ditugaskan disitu. Akan agak kepenatan tapi disitulah diri banyak belajar untuk mengatasi sendiri keluhan yang muncul.

Minggu ke-3 di ward (kamar) perawatan khusus yang menangani kes Asites ec causa Cirrhosis Hepatis. Meski pesakit Cuma dua orang, yang agak meletihkan adalah apabila terpaksa melakukan follow up per jam. Namun di sini, diri berpeluang melakukan pungsi cairan pleura (pleural puncture) dan melihat sendiri control spironolactone diuretic, terapi yang digunakan sebagai first line theraphy terhadap kes ascites seperti ini. Pemilihan spironolactone adalah kerna sifat antialdosterone yang mana diketahui secara umum, pada pesakit dengan diagnosis cirrhosis hepatis, kadar aldosteron (hormone yang meningkatkan retensi/penahanan air di tubulus distalis) sangat tinggi hingga menyebabkan air dalam tubuh tidak dapat keluar melalui urin. Peningkatan kadar aldosteron adalah kerana kerusakan hati yang mana hati berfungsi untuk menginaktivasikan hormone aldosteron tersebut.

Minggu ke-4 paling memberikan pengalaman yang berharga buat diri. Dinas (bekerja) di IRD/Unit Gawat Darurat (UGD/emergency). Di situ diri dan sahabat seperjuangan dilatih dan diasah daya analisis kami untuk melakukan anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik (physical examination), hingga pemeriksaan penunjang seperti lab test, radiology dan diagnosis serta pengobatan. Setelah itu baru status yang telah kami lengkapkan, diperiksa oleh dokter residen dan diperbaiki yang salah dan ditambahkan yang kurang. Di sini juga kami dilengkapkan dengan skill/ kemahiran seperti memasang kateter (catheter), nasogastric tube (NGT), infuse (branula) dsb. Walau agak melelahkan namun disini pengetahuan dan pengalamannya amat berharga untuk dibawa sebagai bekalan.

Minggu ke 5-6, kami dihantar untuk bertugas didaerah (hospital peripher). Diri dan seorang lagi teman seperjuangan telah ditugaskan ke Rumah Sakit Ibnu Sina, Rumah sakit dalam Kota yang terletak tidak jauh dari Almamater ku (kampus Hasanuddin). Pengalaman di Ibnu Sina lumayan memperkaya pengalamanku. Walau sibuknya tidak seperti di Rumah Sakit Utama RSWS, namun banyak kes (kasus) yang jarang ditemui didapatkan disini. Seperti hepatoma, tumor colorectal dan beberapa lagi kes (kasus) lainnya. Setiap Senin, Rabu dan Jumat kami akan mengikuti pemeriksaan endoscopy dan colonoscopy yang dijalankan sendiri oleh Prof. H.M. Akil, SpPD KGEH. Selain menjalani rutin untuk follow up pesakit, kami juga berpeluang mengikuti visit supervisor dan meneguk lautan ilmu dari mereka.

Minggu ke7 & 8, diri ditukarkan lagi ke rumah sakit daerah yang lain yang merupakan salah satu rumah sakit pendidikan Labuang Baji yang terletak hampir 1 jam perjalanan dari rumah sakit. Di Labuang Baji, suasananya lebih santai dan bersahabat. Namun tidak menafikan keseriusan dokter-dokternya dalam menjalankan tugas. Baik teman-teman sejawat, dokter mahupun perawat lebih heboh di sini. Dalam kesibukan merawat masih sempat juga menyelit waktu untuk sama-sama memasak Baro’bo dan Kapurung. Sama-sama menikmati enaknya makanan asli Palopo dan Manado tersebut. Dinas (jam kerja) di poliklinik, membantu dr.Mely menangani kasus rawat jalan yang membanjir setiap harinya. Banyak yang kami pelajari di sini terutama penyakit Grave Disease, hipertiroid, tyrothoxicosis dan sebagainya.

Minggu 9-10, kami kembali bertugas di Rumah Sakit Utama RSWS di poliklinik. Setiap hari kami akan dirolling dari poliklinik Umum, Rheumatology, Geriatric, Gastrointestinal, Endocrine & Metabolic, Ginjal Hipertensi, hingga kepada Pulmonologi. Setiap hari menjanjikan pengalaman yang berbeza dan cukup berharga dalam diari kehidupan koass ku.. dengan dokter-dokter yang baik hati lagi senang untuk mengajarkan, supervisor yang sedia memberi tunjuk ajar, teman sejawat yang banyak membantu. Tenaga medis yang cukup membantu. Tiap hujung minggu kami diwajibkan menghadiri symposium / pertemuan ilmiah di hotel mahupun diruang-ruang kuliah bagi menambah ilmu semasa. Ditambah dengan olahraga sore untuk mengukuhkan ikatan antara keluarga interna. Setiap hari penuh dengan aktivitas.

Jumaat, 14 Oktober 2011

KELEZATAN TIDAK ADA BANDINGANNYA

0


“ Berusaha sekuat tenaga untuk menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan. Kelezatan di atas segala kelezatan”
[Ahli Hikmah]

Saudaraku,
Manusia,tetap manusia. Bukan malaikat. Rasulullah SAW, sebagai hamba Allah teladan, juga manusia. Ia tetap memiliki tabiat kemanusiaan. Kerana andai sosok teladan untuk manusia itu bukan manusia, sudah tentu tidak ada manusia yang bisa mengikutinya. Dan artinya ia tidak mungkin dijadikan teladan. Kerana itulah Rasulullah mengucapkan doa:

“ Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia. Aku marah sebagaimana manusia marah. Maka siapa saja dari kaum muslimin yang merasa telah aku sakiti, aku caci, dan aku laknat, jadikanlah hal itu sebagai doa dan pembersih yang akan mendekatkannya kepadaMu pada hari kiamat.”
[HR Bukhari & Muslim]

Meski tetap dengan kemanusiaannya, Rasul tetap memiliki predikat Al-Ma’shum –yang terpelihara dari dosa kerana keimanannya yang tinggi dan Allah merahmatinya dengan selalu meluruskannya dari kesalahan. Iman sajalah yang membuat Rasulullah memiliki kemahuan mantap, cita-cita tinggi, dan mampu terhindar dari bisikan syaitan melalui hawa nafsu.

Saudaraku, ketahuilah..
Syaitan adalah pemangsa orang yang lemah semangat, tidak percaya diri, pesimistik, dan tidak kuat kemahuannya. Orang-orang seperti itu mudah terjebak dengan bisikan syaitan. Munurut Ibnu Qayyim rahimahumullah,

“Jika syaitan melihat seseorang memiliki kemahuan yang lemah, cita-cita yang rendah, condong mengikut hawa nafsu, maka syaitan sangat menginginkannya, membantingnya dan mengekangnya dengan kekangan hawa nafsu dan kemudian mengendalikannya kea rah mana yang ia kehendaki. Tapi, jangan juga menganggap kita mampu menaklukkan hawa nafsu kerana kita merasa memiliki semangat tinggi, optimistic, sangat percaya diri serta kuat kemahuan. Kerana sebenarnya perasaan itu akan membuka celah syaitan untuk menyelinap masuk lalu menguasai hati.”

Coba perhatikan perkataan Ali RA. Menurutnya ada 4 momen kebaikan tertentu yang paling berat dilakukan. Yakni memaafkan ketika marah, menderma ketika tidak punya, menjaga diri dari dosa ketika sendirian, dan menyampaikan kebenaran pada orang yang ditakuti atau diharapkan.

Saudaraku..
Renungkanlah. Momen-momen sepertilah sebenarnya yang sering menjadi celah rawan pencurian oleh syaitan.sulit sekali memberi maaf ketika justeru amarah seseorang meletup dan dalam kondisi mampu melampiaskannya. Sangat sulit sekali memberi sesuatu yang kita sendiri sangat membutuhkannya. Sangat sulit memelihara diri dari dosa bila kesempatan untuk melakukannya datang berulang kali dan terbuka lebar di depan mata kita. Apalagi, kita tahu tidak ada orang lain yang melihat tingkah kita saat itu. Seberapa mampu kita menyampaikan kebenaran kepada orang yang kita takuti? Atau kepada orang yang justeru kita menanam harapan kepadanya? Saudaraku, pada momen-momen itulah kita manusia seringkali tergelincir.

Ada satu kata sangat sederhana untuk mengatasinya. Keikhlasan. Itulah kuncinya. Keikhlasan membawa seseorang mudah memaafkan dikala marah. Ikhlas juga yang menjadikan seseorang ringan memberi meski ia membutuhkan. Ikhlas yang membuat seseorang tidak memandang situasi dalam beramal dan menjauhi maksiat, meski tidak seorangpun melihat. Keikhlasan juga yang membuat seseorang tidak memandang resiko apapun dalam menyampaikan kebenaran. Itulah rahsia-rahsia di sebalik keikhlasan.

Da’ie dan mujahid Islam terkenal, Imam As-Syahid Hassan Al-Banna mengatakan: “ Ikhlas itu kunci keberhasilan”. Menurut Al Banna, para solafussoleh yang mulia, tidak menang kecuali kerana tiga hal, yaitu kekuatan iman, kebersihan hati dan keikhlasan mereka. “bila engkau sudah memiliki tiga karekter tersebut, maka ketika engkau berpikir, Allah akan mengilhamimu petunjuk dan bimbingan. Jika engkau beramal,maka Allah akan mendukungmu dengan kemampuan dan keberhasilan.”

Saudaraku,
Dengan keikhlasan, kita jadi tidak mudah terpedaya oleh nafsu. Dan itulah nikmat yang hanya dirasakan para mukhlisin. Seperti yang tertuang dalam untaian nasehat Ibnu Qayyim, bahawa mengutamakan kelezatan iffah (menjaga diri dari perbuatan durhaka), lebih lezat daripada kelezatan maksiat. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Rasa sakit yang ditimbulkan oleh mengikuti hawa nafsu, lebih dahsyat daripada kelezatan dirasakan seseorang kerna memperturutkan hawa nafsu”.

Ahad, 2 Oktober 2011

YA ALLAH, KENALKANKU DENGAN DIRIKU

0


“ Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah : Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal soleh yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah cita keduniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya kepada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati terhadap mereka. Sebaliknya cirri-ciri kecelakaan adalah: ketika bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya terhadap orang lain. semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah sikap bongkaknya.” (Al Fawaid, Imam Ibnu Qayyim)

Saudaraku,
Mengenali diri memang penting. Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi diri sendiri , ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung , ketimbang orang yang sibuk memperhatikan kekurangan orang lain. Kata Ibnu Qayyim: “ Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.

Saudaraku,
Genggam erat-erat tali keimanan kita. Kenalilah diri. Fahami kebiasaannya. Rasakan setiap getaran-getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemahuan dan kecenderungannya. Waspadailah kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoalah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu tentang diri. Sebagaimana doa yang dilantunkan Yusuf Bin Asbath, murid Sufyan As-Tsauri: “Allahumma arrifni nafsii”, Ya Allah, kenalkan aku dengan diriku.

Jiwa manusia banyak menyimpan rahsia. Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah SWT kepada kita. Karena itu ulama terkenal Sahal bin Abdillah mengatakan bahawa mengenali diri sendiri itu adalah lebih sulit dan lebih halus dari mengenali musuh. Artinya, aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya.
Jika seseorang telah berhasil mengenal dan mengetahui bagaimana kondisi jiwanya, maka ia akan mudah mengontrol dan menguasai keinginan-keinginan buruknya . inilah yang dikatakan ulama’ Makkah, Wuhaib bin Wardi.

“Sesungguhnya di antara kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang keburukan jiwaku. Cukuplah seorang mukmin memelihara dirinya dari keburukan bila ia mengetahui keburukan jiwanya kemudian ia meluruskannya.” Sebagaimana juga perkataan Hasan Al Basri, “ seorang hamba masih dalam keadaan baik selama ia menyedari dan mengetahui sesuatu yang merusak amal-amalnya.” [Az Zuhd, Imam Ahmad]

Saudaraku,
Semoga Allah mempererat genggaman tangan kita dijalanNya. Itulah pentingnya mengenali diri. Fudhail Bin Iyadh RA mengatakan “ la ya’rifur riya ila mukhlish”, riya tidak mungkin disedari, kecuali oleh orang yang ikhlas. Ya, orang yang merasa manisnya keikhlasan, pasti akan mengetahui pahitnya riya. Sebaliknya orang yang tidak pernah merasakan nikmatnya ikhlas, tidak mungkin bisa mengenali pahitnya riya. Begitulah. Manisnya ikhlas dan pahitnya riya,hanya dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa dan mengenali getaran jiwa.

Saudaraku,
Apa yang dikatakan oleh Fudhail itu tadi bertitik tolak karena kondisi dirinya yang sangat mengenal karekter jiwanya sendiri. Orang yang tidak kenal dirinya, bahkan mengingkari keburukan dirinya adalah orang yang tidak akan mampu mengetahui apatah lagi mempengaruhi jiwa orang lain. Apalagi meluruskan kebengkokannya, ia tidak akan bisa. Inilah materi yang disebutkan oleh Al Kailani ketika ia mengatakan:
“bila engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada dirimu, berarti engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada selain dirimu.. kemampuanmu menghilangkan kemungkaran tergantung dengan kekuatan imanmu memerangi kemungkaran dalam dirimu. Kelemahanmu tinggal diam di dalam rumah dari merubah kemungkaran adalah kelemahan imanmu dalam memerangi kemungkaran yang ada dalam dirimu. Kekukuhan dan kekuatan imanlah yang mengukuhkan para ulama’ saat mereka berhadapan dengan pasukan syaitan dari jin dan manusia” [Al-Fathur Rabbani,30]

Jumaat, 30 September 2011

PILIH YANG PALING BERAT

0


Tak seorangpun tahu bagaimana dan kapan tempoh hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal soleh sebagai tabungan di hari akhir. Seorang Abdullah b Mas’ud, sahabat dekat Rasulullah SAW pun pernah menangis saat menderita suatu penyakit, di detik-detik akhir hayatnya. “Aku menangis karena aku justeru menderita sakit, pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat.”

Karena itu Umar bin Khattab RA mengatakan “ Hasibu anfusakum qabla tuhasabu,” berhitunglah pada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir. “Kafaa bi syaibin wa’izan”, cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan, begitu filosofi para salafussoleh untuk mengingat dekatnya waktu “panggilan” Allah SWT.

Saudaraku,
Inilah dering peringatan hati yang harus sentiasa ada dalam diri kita. Dering ini yang akan memicu kesadaran diri untuk segera bekerja sungguh-sungguh, meninggalkan kelezatan semu, palsu dan menipu. Jadilah seperti para sahabat yang berjuang dengan diri, harta dan waktu mereka untuk menegakkan agama Allah. Mereka memindahkan pandangan dan pertimbangannya dari amal duniawi kepada amal ukhrawi. Berkah pengenalan Allah yang tinggi, menuntun hati mereka untuk selalu bisa mengenali sesuatu yang lebih utama.

Saudaraku,
Laksanakanlah hak-hak waktu terutama yang tidak dapat diganti pada waktu yang lain. terlalu banyak hak waktu yang harus ditunaikan, sehingga sebanyak apapun orang beramal, sebenarnya hak waktu takkan habis. Ibnu Ataillah menyebutkan, “Usia dan hembusan nafas kita sangat terbatas. Yang sudah pergi berlalu takkan kembali.” Panjang pendek usia manusia memang sepanjang ia bisa bernafas. Hembusan nafas sama dengan detak jantung , dan mengalirkan darah sebagai tanda kita masih hidup. Hidup kitapun berakhir dengan tersumbatnya saluran nafas, berhentinya detak jantung dan aliran darah. Sederhana sekali. Tapi sangat mahal harganya..

Saudaraku,
Salah satu keadaan yang menyebabkan seseorang surut, longlai, dan tidak konsisten dalam ketaatan, dalam perjuangan, dan dalam pengorbanan, adalah ketika ia tidak menyedari sempitnya waktu untuk beramal. Kondisi ini antara lain muncul dalam sikap taswif, yakni menunda-nunda, santai dan berlambat-lambat melakukan amal soleh. Ulama’ islam asal Quwait, Syeikh jasim Muhalhil, menyatakan penyakit taswif tersebut pada akhirnya akan menjadikan seseorang lambat bergerak, dan akhirnya lumpuh. Benarlah sabda Rasulullah SAW,

“Tidaklah suatu kaum berlambat-lambat dalam suatu urusan, sampai Allah menjadikannya benar-benar lambat” [HR Turmidzi]

Kenapa demikian? Karena menunda-nunda pekerjaan menjadi hak waktu, pasti akan menggeser hak waktu lain yang sebenarnya mempunyai hak yang harus ditunaikan juga. Begitu seterusnya. Pergeseran itu, akan berdampak pada menumpuknya hak-hak waktu yang lain hingga akhirnya menjadi sulit dipenuhi.

Sebab itulah, saudaraku, Hasan Al Basri menegaskan: “Jauhi sifat menunda-nunda. Nilai dirimu tergantung pada hari ini, bukan hari besok. Kalau besok engkau beruntung, berarti keuntunganmu akan bertambah bila hari ini engkau telah beramal. Dan kalau besok engkau rugi, engkau takkan menyesal karena telah beramal pada hari ini” [Az-zuhd,4]

Saudaraku,
Ingat, kita hanya memiliki waktu sedikit untuk beramal soleh. Jauhi bisikan syaitan yang mengarahkan kita mengerjakan prioritas pekerjaan nisbi dan semu. Jangan terjerumus pada pertimbangan yang keliru dalam menunaikan hak waktu. Bila suatu waktu kita merasa sulit menimbang amal atau hak waktu apa yang harus lebih dahulu kita tunaikan, camlah nasihat

Ibnu Ataillah berikut ini:
“Jika kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang paling terasa berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tidak ada sesuatu yang terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar.”

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu berada dalam ketaatan kepadaNya..

Rabu, 28 September 2011

JANGAN PERNAH MENGALAH DENGAN UJIAN

0


Saudaraku,
Suatu ketika, mungkin kita pernah berfikir, betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini. Saat hati kita seolah tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita merasa longlai, lemah dan berat melangkahkan kaki, merasa tidak kuat dan bingung menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat. Ketika kita tak lagi merasa mampu berdiri menopang beban berat yang harus dipikul.
Tidak. Semua itu bukan tanda-tanda kelemahan yang patut disesali. Sebab manusia memang diciptakan dalam keadaan serba lemah. Tapi Allah berjanji tidak akan menimpakan beban masalah kepada seseorang, di atas batas kemampuan orang tersebut untuk memikulnya.

Hamka pernah mengatakan bahawa tingkat cobaan iman itu tak ubahnya dengan anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal fikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau tangannya lemah, kakinya tidak kuat, akalnya hilan, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Yang paling disayangkan, kalau robohnya tidak hanya satu dua anak tangga ke bawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga dibawahnya yang sangat banyak. Bahkan kerna lemahnya, seseorang itu bisa sulit bangkit lagi.

Dalam ungkapan yang lain Imam Hasan Al-Basri mengatakan, “ketika badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman. Tapi setelah datang cobaan, barulah diketahui benar tidaknya pengakuan itu. Orang yang ingin permintaannya cepat terkabul hari ini, dan tidak sabar menunggu, itulah orang yang lemah iman”.
Iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Jangan menuntut kemenangan lahir, kerna kita selalu menang di alam batin. Para nabi, daie dan mujahid mujahidah memikul beban dakwah yang berat, memikul perintah Allahdan kerna itulah mereka tempuh kesulitan. Pertama untuk membuktikan cintanya pada Allah dan kedua untuk menggembleng batinnya agar menjadi semakin kukuh.

Saudaraku,
Di situlah tersimpan kekuatan iman. Tanpa kekuatan iman, sujud dan rukuk menjadi kering. Kerana sesungguhnya ia laksana dahan yang berasal dari batang keimanan. Dahan akan kurus, daun akan kering bila batang tidak memiliki akar yang kuat, kukuh dan tidak mudah goyah diterpa angin dan badai. Dahan dan ranting sangat tergantung oleh suplai makanan dari batang dan akar. Batang dan akar itulah bahan dasar kepada iman.

Saudaraku, sekali lagi,
Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita harus dikabulkan. Karena Allah lah yang lebih mengenal batin kita daripada diri kita sendiri. Teka teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah dalam menolong hambaNya.

Saudaraku,

Lalu kapan, dan bagaimana pertolongan serta bantuan Allah itu? Ibnu Atailah memberi pengarahan yang sangat bagus dalam hal ini.

“tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu, nescaya Allah menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kekuasaanNya. Bersungguh-sunggiuhlah dengan kelemahanmu, nescaya Ia menolongmu dengan kekuatanNya”

Pertolongan, bantuan, dukungan, kemenangan dari Allah itu pasti. “adalah hak bagi Kami menolong orang-orang beriman” [QS ArRum : 47]. Sedetikpun Allah tidak pernah tinggalkan hambaNya yang beriman. Dan, jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuanNya. Masalahnya hanya ada pada proses turunnya pertolongan dan bantuan itu. Karenanya sekali lagi, jangan pernah kalah dengan Cobaan..

Isnin, 26 September 2011

MERIT KAK ANHY

0


Event pertama dikalangan anak-anak KKN ku menghadiri majlis pernikahan kakak kesayangan kami semua, Kak Anhy.. meski undangannya agak mendadak, namun Alhamdulillah berjaya mengintai kesempatan dalam kesempitan waktu untuk turut hadir. Kak Anhy katanya akan berpindah ke Kalimantan mengikuti suaminya yang bekerja di sana beberapa hari setelah majlis pernikahannya nanti.. aduh, makin susah dan sempit peluang untuk bertemu dengan kakak yang heboh dan riang itu.. kesedihan melanda sejenak meski kebahagiaan lebih dominan.. andai waktu dapat dibekukan… namun itulah adat kehidupan.. setiap pertemuan akan beriring dengannya perpisahan. Tidak tahu bila peluang untuk sama berkumpul akan kembali menjengah.

Setelah hampir lebih setahun terpisah setelah pulang dari KKN dulu, pertama kalinya pertemuan ini hampir lengkap dihadiri. Walau masih kurang Amel dan Wawan yang terpaksa bertugas di hari bersejarah Kak Anhy ini, namun kehadiran teman-teman yang lain amat bermakna. Menyulam kembali jalinan yang kian terurai dimakan dek sesaknya waktu. Ada Uul dan Ayong yang menyempatkan waktu walau masing-masing sibuk dengan cari penderita dan urusan koasnya, ada Ochy yang masih ceria seperti selalu, Rahma yang tetap semangat biar flu dan demam menjerat diri, Winda, sang bintang Polaris yang menceriakan keadaan. Iyan yang kalem (tenang)dan sedang mengikuti pelatihan dosen (lecturer),Kiki, pramugari yang lincah dan heboh. Adit yang masih bergelut dengan ujian dibagian akhir tingkat 4, Fitrah yang masih ceria seperti selalu meski kesibukan skripsi dan asistensi yang menggunung, Irfan yang baru-baru baik dari sakit.. wah seperti lama sekali tidak bertemu..

Jumaat, 23 September 2011

TRAKTIRAN WINDA

0


And so we talked all night about the rest of our lives,
Where we're gonna be when we turn twenty-five
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same.
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out because we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now because you don't have another day

Because we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in July
I didn't know much of love but it came too soon
Stay at home talking on the telephone, with me
We'd get so excited and we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair

And this is how it feels.

As we go on,
We remember,
All the times we,
Had together,
And as our lives change,
Come whatever,
We will still be
Friends Forever.

So if we get the big jobs and we make the big money
When we look back now will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school,
Still be trying to break every single rule?
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly

And this is how it feels

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow? (somehow)
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round
Or will these memories fade when I leave this town?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly


* Credited to Winda, Iyan, Ochy & Rahma.. congratulation for the graduation.. Win, thanks for the “traktiran” hihi.. eventhough feeling a bit unhealthy, but it’s always really exciting hanging out with you.. thanks for a cozy day..
* The best coconut shake I’ve tasted because having you around and the unforgettable shoot from Canon camera that worth our while.. great moment together ^_^