Skinpress Rss

Rabu, 28 September 2011

JANGAN PERNAH MENGALAH DENGAN UJIAN

0


Saudaraku,
Suatu ketika, mungkin kita pernah berfikir, betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini. Saat hati kita seolah tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita merasa longlai, lemah dan berat melangkahkan kaki, merasa tidak kuat dan bingung menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat. Ketika kita tak lagi merasa mampu berdiri menopang beban berat yang harus dipikul.
Tidak. Semua itu bukan tanda-tanda kelemahan yang patut disesali. Sebab manusia memang diciptakan dalam keadaan serba lemah. Tapi Allah berjanji tidak akan menimpakan beban masalah kepada seseorang, di atas batas kemampuan orang tersebut untuk memikulnya.

Hamka pernah mengatakan bahawa tingkat cobaan iman itu tak ubahnya dengan anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal fikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau tangannya lemah, kakinya tidak kuat, akalnya hilan, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Yang paling disayangkan, kalau robohnya tidak hanya satu dua anak tangga ke bawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga dibawahnya yang sangat banyak. Bahkan kerna lemahnya, seseorang itu bisa sulit bangkit lagi.

Dalam ungkapan yang lain Imam Hasan Al-Basri mengatakan, “ketika badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman. Tapi setelah datang cobaan, barulah diketahui benar tidaknya pengakuan itu. Orang yang ingin permintaannya cepat terkabul hari ini, dan tidak sabar menunggu, itulah orang yang lemah iman”.
Iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Jangan menuntut kemenangan lahir, kerna kita selalu menang di alam batin. Para nabi, daie dan mujahid mujahidah memikul beban dakwah yang berat, memikul perintah Allahdan kerna itulah mereka tempuh kesulitan. Pertama untuk membuktikan cintanya pada Allah dan kedua untuk menggembleng batinnya agar menjadi semakin kukuh.

Saudaraku,
Di situlah tersimpan kekuatan iman. Tanpa kekuatan iman, sujud dan rukuk menjadi kering. Kerana sesungguhnya ia laksana dahan yang berasal dari batang keimanan. Dahan akan kurus, daun akan kering bila batang tidak memiliki akar yang kuat, kukuh dan tidak mudah goyah diterpa angin dan badai. Dahan dan ranting sangat tergantung oleh suplai makanan dari batang dan akar. Batang dan akar itulah bahan dasar kepada iman.

Saudaraku, sekali lagi,
Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita harus dikabulkan. Karena Allah lah yang lebih mengenal batin kita daripada diri kita sendiri. Teka teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah dalam menolong hambaNya.

Saudaraku,

Lalu kapan, dan bagaimana pertolongan serta bantuan Allah itu? Ibnu Atailah memberi pengarahan yang sangat bagus dalam hal ini.

“tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu, nescaya Allah menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kekuasaanNya. Bersungguh-sunggiuhlah dengan kelemahanmu, nescaya Ia menolongmu dengan kekuatanNya”

Pertolongan, bantuan, dukungan, kemenangan dari Allah itu pasti. “adalah hak bagi Kami menolong orang-orang beriman” [QS ArRum : 47]. Sedetikpun Allah tidak pernah tinggalkan hambaNya yang beriman. Dan, jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuanNya. Masalahnya hanya ada pada proses turunnya pertolongan dan bantuan itu. Karenanya sekali lagi, jangan pernah kalah dengan Cobaan..

0 ulasan:

Catat Ulasan