
Sedar tak sedar, Alhamdulillah diri telah berjaya melewati satu lagi bagian (department) dalam siri kepaniteraan klinik (clinical year) yaitu bagian (department ) Jiwa (Psychiatry). Satu bulan di bagian (department) ini, walaupun bukanlah satu jangka waktu yang lama, namun telah mengajarkan diri akan banyak hal.
Psychiatry atau ilmu kejiwaan adalah suatu gagasan ilmu yang cukup misteri dan sebenarnya sangat susah untuk ditelusuri. Kerna tiada penemuan yang mampu menetapkan secara tepat patomekanisme (pathomechanism) terjadinya sesuatu gangguan (disorder) pada penderita. Melainkan berdasar kepada hipotesis (hypothesis) yang dibuat berasas dari basic organo-biologi dan penelitian melalui functional MRI (fMRI).

Hipotesis (hypothesis) yang dibuat: adanya gangguan pada pelepasan neurotransmitter di otak seperti peningkatan pelepasan dopamine yang mengawal fungsi kognitif, persepsi dan emosi, akan menyebabkan gangguan psikotik (psychotic disorder) yang mana seorang penderita hilang kemampuan untuk menilai antara reality dan fantasi hingga akhirnya menyebabkan penderitaan pada diri sendiri dan orang lain (distress) dan ketidakmampuan (disability) dalam menjalankan pekerjaan, bersosial dan juga menggunakan waktu senggang (lapang) untuk melakukan hal yang bermanfaat. Seringkali gangguan psikotik (psychotic disorder) ini ditandai dengan adanya halusinasi (hallucination) dalam bentuk auditorik (mendengar suara-suara), visual (melihat bayangan atau orang secara jelas), odor (bau busuk) dan lain-lain oleh pancaindera yang tidak dapat dideteksi (dikesan) oleh orang lain. Ini dinamakan adanya gangguan persepsi pada penderita ini.
Selain itu juga penderita bisa menimbulkan gejala waham (delusion) yang mana delusion ini adalah suatu bentuk keyakinan yang dianuti oleh penderita yang tidak sesuai dengan realitas (reality) walaupun telah diberikan kenyataannya dan dipatahkan keyakinannya tetap saja penderita yakin dengan apa yang dianutinya. Ini salah satu bentuk gangguan isi fikir (content) yang berkaitan dengan fungsi kognitif (fungsi berfikir) otak.

Di bagian (department) ini, diri bukan hanya berguru kepada dokter-dokter pakar dan professor tapi juga berguru kepada penderita yang mengalami gangguan tersebut sendiri. Apabila melihat penderita yang terdiri dari pelbagai golongan tua, muda, remaja, belia, orang terpelajar (educated), orang tidak tamat pendidikan, orang kaya, orang miskin, masyaAllah betapa sebenarnya gangguan tersebut bisa menyerang siapa saja tanpa kompromi. Melihat keadaan mereka dikurung di dalam sel-sel (bangsal (ward) yang berpagar besi untuk mengelakkan penderita melarikan diri), makan walaupun sudah disediakan dengan baik, disepahkan ke lantai dan makan makanan yang telah tumpah ke lantai, berkongsi dengan kucing-kucing, merasa kasihan. Tiada lagi sifat manusiawi yang tersisa pada diri mereka.
Saat itu merasa betapa besarnya nikmat akal yang Allah berikan pada kita. Dan betapa akal itu sebenarnya yang menaikkan derajat (darjat) manusia di muka bumi ini. akal yang sehat harus dijaga dan dipelihara bukan hanya secara fisik tapi juga secara maknawinya. Ibarat kata seorang penderita (dalam observasi/in observation),
“jiwa adalah akal fikiran yang diperkuatkan dengan nurani dan kemahuan. Dan semua orang itu bisa sakit jiwa selama dia tidak bersyukur dengan apa yang dia punya dan selama dia berputus asa.”
Kerna itu, kita dapat melihat betapa Islam amat diberi perhatian (dititikberatkan) keseimbangan (tawazun) antara akal, rohani dan jasmani. Dalam hidup ini, kita dihadapkan dengan berbagai macam ujian/dugaan yang mana ujian ini dalam bahas medis (medical term) diistilahkan sebagai stressor (stress factor) yang mana ini yang kemudiannya akan berkembang dan memberi dampak pada akal seseorang. Sebab itu Allah SWT mengajar kita untuk sentiasa sabar dan kembali padaNya.
“sesungguhnya dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang”.

Sabar itu perlukan didikan dan latihan. Kerna memang sabar itu pahit sewaktu menjalaninya tapi manis setelah melaluinya. Dari ujian kecil yang Allah turunkan, hinggalah ujian yang besar, DIA turunkan ujian sebenarnya untuk melatih dan semakin meninggikan ambang batas sabar kita dan agar kita kembali padaNya. Berhubung denganNya. Memohon bantuanNya. Itulah ujian tingkat keimanan sebenarnya.
“dan mohonlah bantuan Allah dengan sabar dan solat”
Ajaibnya mukmin itu, apabila dia diberi nikmat, dia bersyukur dan apabila di uji, dia bersabar. Ujian/ factor stress yang akan memicu ketidak seimbangan neurotransmitter bukan bertitik tolak dari akal, sebaliknya dari nurani yang gersang dan jiwa yang hanya mementingkan keinginan sendiri. Nurani yang tidak seimbang inilah yang akan bermanifestasi pada akal dan fisik manusia. Seperti mana pada penderita psikotik (psychotic disorder), mereka ini hanya mementing Id.
Menurut teori Freud mengatakan bahawa dalam diri manusia ada 3 komponen penting yang mengawal jiwa iaitu:
1) Id, naluri atau kemahuan yang harus segera terpenuhi. Ia biasanya mendominasi anak kecil contohnya apabila anak mahu makan, dia akan menangis sekuatnya.
2) Ego, yang mana manusia akan menahan diri dari melakukan sesuatu yang dianggap tidak wajar. Seperti jika seseorang ingin membuang air, dia tidak mungkin malakukan hal tersebut di khalayak ramai.
3) Super ego. Adalah menahan diri daripada melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan norma masyarakat atau nilaian agama. Contohnya seseorang ingin meminum arak tapi tidak melakukannya kerna takut pada larangan agamanya.

Dalam kata lain, super ego adalah salah satu bentuk tarbiyah, didikan diri. Kita belajar untuk menahan diri dari melakukan hal yang dimurkai Allah dalam hal ini. itu yang kemudiannya nanti akan melahirkan keseimbangan rohani yang akan menguatkan mental seseorang.
Allah SWT juga telah memberikan kita penawar/obat bagi stress sendiri iaitu dengan memohon padaNya, ingat padaNya.
“sesungguhnya setelah kesusahan itu, akan beriring dengannya kesenangan. Dan setelah kesusahan itu ada kesenangan.”
Sungguh, Allah itu dekat dengan kita lebih dari urat marikh kita sendiri.
Jadi kendalikanlah stress, jangan biarkan stress mengendalikan diri kita. Yakinlah bahawa pertolongan Allah itu amat dekat.
“ When you are at the edge of the hill, never give up. Have faith in Allah. Whether HE’ll catch you when you fall or He will teach you how to fly.. Have faith in HIM”..