Skinpress Rss

Rabu, 12 Januari 2011

SEINDAH NAMAMU "MISS"

2


Miss.. walaupun sudah mengenalinya sejak 3 tahun yang lalu, miss bukanlah teman yang terlalu akrab pada diri. Mungkin kerna saking ramainya orang yang ingin berdampingan dengannya, maka diri malas untuk berebut-rebut. Tapi tatkala bertemu, Miss sangat mesra dan senang diajak berbicara. Itulah kelebihan diri Miss yang menyebabkan dia cukup disenangi semua.

Diri mulai akrab dengan Miss gara-gara “sebuah peristiwa” yang pernah berlaku diposko. Miss yang sebelumnya hanya bertegur sapa dengan diri tiba-tiba menjadi teman curhat (curahan hati) yang akrab. Setiap hari pasti Miss menelefon kerana ingin berkongsi rasa. Pertama kali ditawari Miss untuk mengikutinya pulang ke kampong halamannya di Palopo, diri amat teruja.

Ya, kebersamaan itu akan mempertajamkan perkenalan. Sebenarnya sudah lama ingin mengenali Miss secara dekat namun tidak berpeluang. Mungkin jaulah bersamanya nanti akan membuka ruang perkenalan yang lebih luas.

Miss merupakan anak sulung dari 7 bersaudara. 4 lelaki dan 3 perempuan. Ayah Miss merupakan seorang pejabat Negara yang berjawatan tinggi. Seperti ayah teman KKN ku Hatwinda. Menjadi orang kedua terpenting di daerah cukup menjadikan ayahnya sentiasa sibuk dengan urusan pentadbiran. Ibunya pula adalah seorang pengusaha yang membuka kafe yang banyak cawangannya. Ibu dan ayah Miss mengambil beberapa orang anak angkat yang terdiri dari keluarga orang susah, dipelihara dan disekolahkan hingga dewasa. Dikasihi layaknya anak sendiri. Peribadi yang penuh dengan belas kasihan dan penyayang inilah yang mengalir dalam darahnya hingga berakar umbi dalam kehidupan.

Sejak berusia 2 minggu, Miss dirawat dan dijaga oleh nenek disebelah ayahnya lantaran kesusahan keluarga. Sedari kecil terpisah dari orang tua (Miss di Palopo bersama nenek sementara ayah dan ibu di Jawa Tengah atas tuntutan pekerjaan) menyebabkan Miss tidak begitu akrab dengan orang tuanya. Hanya bertemu dengan orang tua setelah usia menginjak 5 tahun. Miss sangat manja dengan nenek yang mana nenek adalah segalanya buat Miss.

Melihat peribadi nenek, diri mengerti kenapa Miss yang baru berusia awal 21 (kelahiran 1990) bisa memiliki peribadi yang cukup dewasa dan cukup prihatin. Sifat peramah yang mendasar pada anak itu melengkapkan kesempurnaan gadis itu sebagai anak pertama dalam keluarga. Sangat akrab dengan sanak saudara hingga nama Miss sentiasa meniti dibibir-bibir saudara maranya. Semua itu sifat yang diwarisi dari neneknya. Bahagia melihat kemesraan keluarga Miss yang cukup bahagia. Sepanjang berada di rumah Miss, gemar sekali membantu nenek memasak kerana sambil diajar resep (resepi) Palopo, nenek tidak habis air liur bercerita pengalaman hidupnya. Masa mudanya bersama kakek (atok) dan cara mendidik lima orang anaknya hingga berjaya ke menara gading.

Sejak kecil, ayah Miss sudah melatih anak-anaknya untuk berdikari dengan memberikan modal untuk anak-anaknya memiliki perniagaan sendiri. Hasil dari perniagaan itu akan menjadi modal pusingan mereka. Dengan itu anak-anak terdidik menjadi orang yang mandiri dan mampu untuk menanggung biaya kuliyah dan biaya makan sendiri. MasyaAllah sungguh kagum dengan Miss.

Meski terlahir dalam keluarga yang kaya dan sendiri juga sudah memiliki usaha sendiri tidak menjadikan Miss seorang yang bongkak. Miss masih lagi mempamerkan dirinya yang merendah diri, tidak pernah dicerita dan ditayangkan ke umum tentang hartanya. Menaiki motor ke kampus layaknya mahasiswa lain dan menjalani kehidupan yang cukup biasa. Mesra dengan semua lapisan masyarakat dan cukup baik dan ringan tulang memberikan bantuan. Itulah Miss..

Sewaktu berada di Palopo dan Toraja, Miss setia melayani kami sepenuh hati. Membawa kami berjalan-jalan ke sekitar tanpa penat dan bosan. Hingga sebelum pulang, baru kami mengetahui jika sebenarnya sewaktu kami ke Toraja ibu Miss dioperasi lantaran sibusitis. Ibu dan ayah Miss berpesan supaya tidak memberitahu kami maka seluruh keluarga Miss merahsiakan hal tersebut dari kami. Sementara itu Miss masih melayani kami dengan ceria seperti tiada apa-apa yang berlaku. Subhanallah.. betapa keluarga itu memuliakan kami sebagai tamu. Sangat dahsyat layanan tersebut. Padanlah ada waktunya Miss lari-lari keluar dari rumah. Ternyata dia ke hospital menjenguk ibunya..

TANA TORAJA

0

Tana Toraja.. suatu tempat wisata yang dibanggakan Sulawesi Selatan lantaran keunikan budaya yang diamalkan masyarakat di sana dari dahulu dan masih dikekalkan hingga ke hari ini. Tana Toraja terletak hampir 2 jam setengah dari Kota Palopo. Tana Toraja dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata yang sangat menarik.

Pallawa.

Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohin banbu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 Km ke arah utara dari Rantepau.

Londa.

Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 Km ke arah selatan dari Rantepau.

Ke’te Kesu.

Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepau.

Pada percutian (libur) kali ini berpeluang untuk tinggal bermalam bersama dengan keluarganya moyang temanku(orang tuanya nenek teman). Walaupun berbeza(beda) agama, namun hubungan mesra antara temanku dengan moyangnya tersebut amat mengharukan. Moyangnya yang sudah menghampiri usia 90an kelihatan sangat mesra menyambut tamu dan masih kelihatan aktif menjalani aktiviti (aktivitas). Walaupun moyang lelaki terbatas pergerakannya lantaran menghidap penyakit Parkinson, namun penglihatan dan ingatannya masih kuat. Temanku yang lebih mesra di panggil “Miss” adalah cicit sulung yang penting dan amat diraikan dikeluarga tersebut.

Sempat mengikuti moyang perempuan (nenek) berjalan ke rumah tetangga pada sebelah sore. Ternyata dirumah tetangga tersebut ada 2 jenazah yang masih disimpan. Menurut tante empunya rumah, satunya adalah jenazah nenek (ibunya) yang punya kaitan darah dengan moyang miss. Nenek tersebut sudah meninggal pada bulan Juni tahun lalu sedangkan jenazah yang lagi satu adalah jenazah bapa saudara yang meninggal September tahun lalu. Jenazah-jenazah ini akan dinaikkan ke Tongkonan setelah upacara/ pesta yang akan diadakan pada bulan Juni nanti. MasyaAllah kasihannya mayat-mayat tersebut. Betapa lama ia tersiksa kerana tidak dimakamkan.

Dalam perjalanan pulang, nenek sempat memarahi Miss kerana tidak masuk ke kamar yang menyimpan mayat tersebut(kerana takut). Kata nenek, mati seperti itulah dinamakan mati terhormat. Mati dimasukkan ke dalam keranda. Nenek juga akan begitu pada akhirnya nanti sedangkan Miss tidak punya itu (dalam Islam hanya tubuh jenazah yang berbalut kain putih yang akan ditanam ke dalam lubang yang digali pada tanah.. liang lahad..tidak ditanam bersama keranda).. lagipula kata nenek, kalau dia nanti meninggal akan membawa bersamanya pakaian-pakaian cantiknya dan wang (uang) miliknya sedangkan miss hanya membawa sehelai kain putih bersamanya. Miss hanya tersenyum mengambil hati dan menggenggam tanganku erat-erat. Auranya mengalir dalam tubuhku. Fikiran bersatu. Kasihan nenek.. merasai bahawa dia akan membawa keranda, pakaian-pakaian cantik dan wang bersamanya tanpa dia sedari bahawa perjalanan manusia kealam kematian itu adalah perjalanan roh. Hal-hal yang tadi semua akan ditinggalkan di tepi kubur. Sama sekali tidak mampu untuk menemani roh untuk menghadap Ilahi. Yang mampu untuk menemani itu hanyalah amal soleh, ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan doa anak yang soleh (yang tidak terlihat dek mata kasar).

Malamnya menerima kunjungan nenek saudara (adik bungsu nenek yang masih berusia 56 tahun) yang mengetahui kedatangan miss ke situ. Nenek saudara ternyata sangat akrab dengan keluarga miss. Dia yang berperan menjaga ayah miss sewaktu kecilnya memandangkan nenek miss(kakak sulung dari keluarga nenek) sentiasa membawa nenek saudara kemana-mana hingga tiba saat nenek saudara menikah dengan seorang pendeta yang bernama Thomas. Pendeta Thomas juga adalah turunan Toraja asli. Kelihatan sangat bersahabat keluarga nenek saudara tersebut hingga pada awalnya sukar untuk percaya kalau suaminya adalah pendeta.

Apa yang diri paling ingati saat berbicara dengan nenek saudara dan Pendeta Thomas adalah tentang upacara pemakaman yang diadakan di situ pada setiap Juni dan Disember. Pada pendapat nenek saudara, agamanya sangat adil hingga setiap kali upacara akan dikorbankan 20-30 ekor kerbau dan berates ekor babi yang mana dagingnya akan diberikan sama rata kepada setiap rumah yang ada di desa tersebut tanpa satupun terkecuali. Berbeza (beda) dengan Islam yang hanya memperuntukkan daging korban kepada fakir miskin dan orang yang tidak mampu. Itulah bukti kasih sayang yang tidak berbelah bagi tanpa membedakan darjat. Tapi setiap mahu mengadakan upacara, pasti terkuras habis wang yang dikumpul bertahun-tahun untuk membeli beratus ekor kerbau yang setiap satunya berharga antara 12-14 juta. Belum lagi kerbau albino yang berwarna putih pink yang setiap satunya berharga mencecah puluhan juta. Itulah demi kebanggan dan penghormatan.

MasyaAllah, lagi satu ajaran yang menyusahkan dan membebankan ummat. Itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam, agama fitrah yang mengikut acuan Pencipta setiap perkara di alam buana ini. Islam tidak pernah membebankan ummatnya untuk melakukan sesuatu hal yang berada di luar kemampuannya. Kenapa Islam mensyariatkan supaya daging korban diberikan kepada fakir miskin kerna fakir miskin adalah orang yang memerlukan dan akan menghargai setiap yang ia dapatkan. Bayangkan jika daging korban diberikan kepada golongan yang kaya, tidak semestinya mereka akan menghargai daging tersebut dan memakannya kerna masih banyak menu lain yang sesuai dengan selera mereka. Daging korban tadi paling-paling akan menjadi simpanan beku di peti hingga tidak layak lagi di makan. MasyaAllah berlaku pembaziran di situ. Orang yang memberi juga.. dipertimbangkan dalam Islam supaya tidak membebankannya kerna jika memberikan daging korban pada semua orang pasti akan membebankan orang yang membuat acara. Betapa Islam itu menimbang banyak aspek.

Islam juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan. Dalam mengadakan sesebuah acara tidak perlu hingga kita menguras semua harta yang kita ada. Sedangkan kita masih harus menjalani hari-hari ke depan yang lebih memerlukan harta-harta tersebut. Makanya sebaiknya kita mengadakan majlis, sesuai dengan kemampuan kita dan sederhana. Kerna yang paling penting menurut Islam itu adalah keberkatan. Itulah kesenian dan keadilan Islam. Adil itu bukan 50%-50% atau sama rata sebaliknya adil itu adalah meletakkan sesuatu kena pada tempatnya.

Pertama kali melalui pengalaman hidup didalam keluarga Kristien yang menganut kepercayaan/aqidah yang jelas sekali berbeza (beda) dengan kita dan bagaimana bermuamalat dengan mereka sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Islam. Memerhatikan cara hidup dan budaya masyarakat yang sama sekali lain dan memahami betapa dibalik tali kekeluargaan yang erat masih ada perhubungan aqidah yang lebih kukuh mengikat kasih sayang kami dengan miss. Merasai bahang kasih sayang dari untaian ukhuwah atas dasar aqidah kerana Allah SWT.

Sebagai kesimpulan dari tarbiyah perjalanan kali ini adalah:
- Kematian bukan hanya persoalan perjalanan jasad tak bernyawa menuju kepada perkuburan sebaliknya adalah perjalanan roh/spiritual menuju kepada pembalasan Allah
- Perkara yang dihitung oleh Allah bukan material sebaliknya amal soleh yang dikerjakan sepanjang hidup di dunia
- Islam itu tidak menyusahkan dan sesuai dengan fitrah manusia
- Islam itu tidak membebankan dan menganjurkan kesederhanaan
- Keadilan itu bukan 50-50 tapi adalah meletakkan sesuatu kena pada tempatnya.

KOTA PALOPO

0


Berpeluang untuk menjejakkan kaki ke Kota Palopo sesuai memenuhi undangan temanku untuk berkunjung ke rumahnya sekaligus berkenalan dengan keluarganya yang asli dari sana. Kami berangkat ke Palopo menaiki bas dengan tambang RP120,000. Perjalanan memakan masa 8 jam dari Kota Makassar melalui Maros dan Pangkep.

Kota Palopo adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota Palopo sebelumnya berstatus kota administratif yang berlaku sejak 1986 berubah menjadi kota otonom sesuai dengan UU Nomor 11 tahun 2002 tanggal 10 April 2002. Kota ini memiliki luass wilayah 155,19 Km2 dan berpenduduk sejumlah 120.748 jiwa dan dengan jumlah Kecamatan: Kecamatan Wara, Kecamatan Wara Utara, Kematan Wara Selatan, Kecamatan Telluwanua, Kecmatan Wara Timur, Kecamatan Wara Barat, Kematan Mungkajang, Kecamaatan Bara dan Kecamatan Sendana.

Terdapat banyak tempat-tempat menarik yang sempat diri dan sahabat-sahabat kunjungi di kota ini. Antara tempat wisata (perlancongan) yang menjadi tumpuan adalah masjid lama, Masjid Jami’ yang dibina menggunakan blok-blok batu yang besar yang dipercayai di ambil dari Tana Toraja dan dilekatkan dengan hanya menggunakan putih telur. Yang menambah keunikan masjid ini adalah tiang tengah yang merupakan tiang penyangga masjid diperbuat dari kayu langka yang sekarang sudah tidak mungkin untuk menemui kayu ssebesar vtiang tersebut. Merupakan mesjid tertua di Sulawesi Selatan juga sebagai bukti bahwa kerajaan Luwu merupakan daerah pertama masuknya agama Islam sekitar abad ke 15 atau abad ke 16. Mesjid ini syarat dengan simbol-simbol keagamaan. Terletak di pusat kota Palopo. Sempat mendirikan solat Magrib berjemaah di masjid bersejarah ini pada malam kedua berada di Palopo.


Selain itu ada juga Perlabuhan Tanjung Ringgit yang menjadi tumpuan jalan santai masyarakat setempat pada sore hari. Di perlabuhan ini terdapat kapal-kapal yang berlabuh memberikan panorama yang indah seperti karya alam yang tidak bisa diungkap oleh pena. Disepanjang perlabuhan terlihat pelbagai aktiviti yang dijalankan oleh para pengunjung. Ada yang memancing ikan, ada yang sekadar berjalan dan berbual (ngobrol) bersama teman-teman, ada yang mengambil peluang berfoto, merakam suasana sore hari yang indah dengan abadi bahkan ada juga yang berenang-renang melepaskan lelah kesibukan kerja yang menggunung. Tak kurang juga yang bersantai sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan di warung sepanjang perlabuhan.

Diri sempat menikmati makanan khas Palopo Kapurung Ikan di salah satu warung di pinggir perlabuhan. Enaknya kapurung ikan memukau rasa. Kuah yang ada kemiripan dengan rasa masak asam pedas itu enak sekali dinikmati dengan sagu dan daun khas ditambah jagung dan campuran lainnya. Didukung pula dengan pisang pepet kegemaran serta pisang goreng coklat plum sugar keju sangat menyaratkan rongga perut. Sempat juga berbual-bual (ngobrol) dengan orang Palopo yang turut makan di situ. Orang-orang Palopo sangat baik dan bersahabat. Sangat mesra dan membuatkan diri merasa tidak canggung.


Ada lagi air terjun Sarambu Alla yang menyegarkan deria. Uniknya air terjun ini,jalan menujunya dipenuhi dusun buah-buahan seperti durian, rambutan dan langsat yang sangat lezat dan manis. Namun sayangnya sewaktu kedatangan kami ke sana, buah-buahan baru memasuki fasa pembungaan hingga buah-buah yang masak ranum belum kelihatan. Setelah mengabadikan beberapa foto disana, kami bergerak ke Sungai Jodoh yang dipercayai warga setempat sebagai tempat paling mustajab untuk mohon dipertemukan jodoh. Setelah melihat kondisi sungai tersebut, terdetik dalam hati, mungkin tempat ini dinamakan sedemikian kerna kondisi sungainya yang berbatu-batu hingga menciptakan suasana yang romantis untuk pasangan yang datang. Setelah itu kami ke kolam renang umum di Hotel Agro. Kolam mandi yang hampir sama dengan waterboom di Dunia Fantasi Pangkep.

Sebelum pulang sempat singgah foto-foto di Masjid Agong Palopo yang terletak di jantung Kota tersebut. Masjid yang sangat megah tersergam indah menunjukkan kebangaan masyarakat Palopo yang beragama Islam..Masjid ini menjadi tumpuan masyarakat baik untuk solat lima waktu, solat Jumaat mahupun solat sunat lebaran Aidilfitri dan Aidiladha. Hingga menurut temanku, warga akan membanjiri masjid itu hingga ke bagian jalan tar (aspal) dan juga padang (lapangan) di depan masjid.

Sabtu, 8 Januari 2011

PLAGIARISME, MANIFESTASINYA PADA KEIMANAN

3


Kemarin baru menduduki ujian akhir perkuliahan Sistem Hematologi. Sewaktu mengambil tempat, kelihatan sekelompok mehasiswa bersemangat berebut tempat supaya masing-masing mengambil posisi ‘strategik’ berhampiran antara satu sama lain. Seorang berkata “bagi-bagi jawapanmu nah”.. ya, mereka sudah merancang untuk saling menduskusikan jawapan saat ujian nanti. Maka tempat yang strategik memainkan peran yang penting untuk memastikan bahawa mereka tidak akan ketahuan (didapati oleh pengawas). Mereka juga sudah membahagikan topic yang harus dikuasai supaya bila ada soalan yang berkenanan sesuatu topic ada teman yang telah betul menguasainya. Jadi topic yang dipelajari oleh seseorang mahasiswa tidak terlalu banyak dan dapat dikuasai dengan baik.

Di satu sudut yang lain, kelihatan beberapa orang mahasiswa sedang khusyuk menyalin nota-nota ringkas atau klue di tangan, dicebisan kertas yang kemudian di selitkan di bagian bekas pensil dan di celah meja. Tak kurang juga yang menulisnya di sisi tepi meja yang akan digunakan dalam sewaktu ujian nanti.

Ditambah lagi dengan terputusnya bekalan listrik ditengah ujian. Bagaikan tuah yang datang bergolek. Kecoh ruangan dengan suara perbincangan mahasiswa. Penjaga hanya memejamkan mata. Pasrah dengan apa yang berlaku..ada mahasiswa yang duduk di depan berpindah ke belakang semata-mata untuk meniru jawapan temannya yang dikatakan lebih pintar.

Wah usaha-usaha yang kreatif untuk meniru (nyontek) dalam ujian. Dewasa ini, diri sering sekali melihat fenomena ini berlaku dalam masyarakat pelajar. Baik sekolah rendah(SD), sekolah menengah (SMP/SMA), pra-universiti (matrikulasi) bahkan di kalangan mahasiswa yang terpelajar sekalipun. Bukan hanya di university ini bahkan di seluruh dunia. Seperti suatu mahakarya yang membudaya dalam masyarakat yang dikatakan sebagai golongan intelektual ini. Budaya Plagiarisme!

Ide atau pemikiran plagiarisme merupakan sesuatu yang bisa dibilang buruk atau negatif. Karena yang tercermin adalah sifat mencontek atau menjiplak sesuatu hasil orang lain dan mengakui sebagai karya pribadi. Itu secara besarnya. Dan meniru dalam ujian juga adalah salah satu bentuk dari plagiarism.
Mungkin seulas deep learning tentang dari mana plagiarisme muncul, diawali dengan seorang yang tidak tahu, dia menanyakan, melihat hasil orang, atau memperoleh tanpa izin milik orang lain sehingga orang tersebut dapat dibilang telah mengetahui obyek tertentu yang dicarinya. Dengan penekanan sesuatu yang didapatnya itu di cap sebagai hasil dirinya sendiri.

Berbeda dengan sesorang yang berhasil memperoleh sesuatu dari orang lain, namun dengan tetap mengakui bahwa hal itu diketahui dari sebuah sumber tertentu serta tidak mengecam bahwa itu hasil jerih payah penemuan atau penciptaan pribadi.
Plagiat berawal dari keindahan serta kecintaan seseorang akan sesuatu. Semua yang dipresepsikan indah oleh manusia berawal dari rasa cinta. Namun karena ada sesuatu hal dalam tanda kutip keterbatasan untuk memperoleh keindahan, maka manusia senantiasa menyikapi dengan beragam. Dan salah satunya menyikapi dengan plegiarisme.

Jika diberikan contoh, setiap musisi beranggapan pujian penggemar adalah sebuah keindahan, namun keterbatasan wawasan serta pemakaian artikel partitur, mereka cenderung meniru. Dan sebagainya. Bagi mahasiswa seperti kita, keindahan yang sangat mendasar adalah point yang bagus, cepat lulus, dan akhirnya mendapat pujian. Namun atas beberapa keterbatasan, banyak mahasiswa melewati jalan pintas.

Sesungguhnya Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, ruku dan sujudlah kamu serta beribadahlah kepada Rabb kamu dan kerjakanlah segala kebajikan, agar kalian mendapatkan kemenangan.”
Sebagai munthalaq kita ambil nilai-nilai rabbani dalam al Qur’an yang terkait dengan muwashafat (ciri) dan khashaish (karakteristik) seorang mukmin. Disebutkan dalam surat Al Mukmin, bahwa salah satu ciri orang mukmin adalah mushallun (menegakkan shalat). Kemudian yang berkaitan erat dengan komitmen kita berdakwah dan berjihad adalah: “Dan orang-orang yang memenuhi amanat dan janji mereka…”.

Hal itu harus menjadi titik tolak kita, bahwa salah satu karakteristik untuk membangun masyarakat muslimin adalah orang-orang yang selalu memelihara amanah yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu wazhifah ibadah dan khilafah. Kewajiban itu telah ditawarkan sebelumnya kepada langit dan bumi, tapi mereka semua menolaknya, kemudian manusia yang siap menerima. Semoga kita tidak termasuk apa yang disebut Allah dalam akhir ayat: “Sesungguhnya manusia dalam keadaan zalim dan bodoh”.

Harus kita sadari pula betapa amanah itu akan dipertangungjawabkan, “Sesungguhnya setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban”. Karena itu tepatilah janji. Ilmu itu adalah amanah dan apabila kita menuntut ilmu, maka ilmu punya hak ke atas kita. Apabila kita meniru dalam ujian (nyontek) maka kita sebenarnya telah melanggar hak ilmu. Untuk apa kita bersusah payah menuntut ilmu kalau pada akhirnya kita tidak mengaplikasikan atau menggunakan ilmu yang telah kita pelajari? Hingga pernah terbaca satu status temanku

“Aku yakin, nilai yang di takdirkan untukku tidak akan berkurang, meski begitu banyak org yang curang. Aku yakin, IP(PNG)ku telah ditetapkn di Lauhul Mahfudz 50rb thn yg lalu, maka kupilih jalan yg ma'ruf untk meraihnya. Aku yakin, rezkiku dimasa depan tidak akan diambil siapapun,maka aku bersabar dengan pRoses ini. Dan aku singkt smua i2 dgn:aku b'iman pd TAKDIRMU Ya Rabb!”

MasyaAllah, Betapa jujur dan amanah pada ilmu juga memerlukan mujahadah. Di saat suasana sekeliling tidak membantu, teman-teman sibuk berdiskusi dan meniru (nyontek) soalan ujian yang harusnya dikerja sendiri, bagaimana kita meneguhkan pendirian bahawa Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar dan Allah Menyaksikan. Ilmu menangis saat melihat perbuatan curang kita yang terang-terangan mengkhianatinya. Mungkin bagi sesetengah orang, meniru itu hanyalah hal yang kecil dan tidak memberi kesan namun sebenarnya dampaknya akan kembali kepada diri kita.

Semoga kita tergolong dalam orang mukmin yang jujur, amanah, meyakini bahawa Allah itu Maha Melihat dan perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sama-samalah mendidik diri menjadi mukmin yang sensitive. Ayuh kita berusaha dengan maksimal dan seterusnya berdoa dan bertawakkal kepada Allah atas semua keputusan. Yakinlah bahawa pertolongan Allah itu dekat. Amat dekat. Raihlah kejayaan dengan jujur dan dengan cara yang diredhai oleh Allah. semoga kejayaan yang kita perolehi adalah kejayaan yang berkat. Hasil titik peluh kita dan melalui jalan yang berkat pula.

ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah tidak melihat kepada hasil tetapi Allah menilai usaha kita dan proses meraihnya. Apabila dia menangguhkan kejayaan buat kita, yakinlah bahawa DIA sedang merancang yang terbaik buat kita.

Ahad, 2 Januari 2011

JEJAK CITA

0



Berdiri aku disini
Menatap mentari terbit lagi
Membawa cahaya menerangi hari
dan saat itu masih ku nanti

Kita sama punya cita
Yang menunggu dihadapan sana
Biarpun berliku ditempuh jua
Cekal dan tabah azimat jiwa

Tika ujian datang menduga
Tiada berputus asa dan kecewa
Andainya rebah bangkit semula
Berserah mengharap RahmatNya

Sama melangkah seiringan
Mengejar sebuah impian
Dengan semangat keyakinan
Menuju ke arah kejayaan
Bertekad penuh keazaman
gemilangkan pasti digenggaman

Jangan lupa memohon padanya
Tawakal boedoa sentiasa
Dialah penentu segala
Apa dikurnia ada hikmahnya

Disana tiada jalan yang mudah
Hanya yang sabarkan terus melangkah
Berbekal keimanan didada
dan usaha pasti akan berjaya... Berjaya

HARI-HARI TARBIYAH

0

Meski hakikatnya hitungan waktu pada semua hari itu sama..kemarin, sekarang dan esok tetaplah 24 jam..

Namun kisah yang terukir di perjalanan hari senantiasa berbeda..sedih, susah, dan senang akan silih berganti datang dan pergi ..

Bersabar, jangan pernah menyerah, dan tetaplah... BERSEMANGAT!!
Angkatlah dagu mu dan kuat kan pundakmu..krn besok akan lebih banyak lagi kisah-kisah baru yang hadir di episode khidupan mu.. Ya, setiap hari itu menjanjikan pengalaman tarbiyah yang baru buat dirimu. Didikan lansung dari Allah untuk mempertingkatkan kualitas dirimu.

Maka sentiasalah bermuhasabah untuk menjadi pribadi yang lebih matang dan tangguh.."semoga hari berikutnya, lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.."

-FZM-

Sabtu, 1 Januari 2011

THREE LITTLE WORDS

0


By Vikki Mount

Silly birthday cards were always the norm in my family. Sentimental cards with messages of love were viewed with disdain and a faint sense of embarrassment. Looking back now, I don't ever remember the words "I love you" being spoken.

Then, just before I turned 29, Dad retired and my parents moved from Victoria to Queensland. As I'm an only child, my friends were shocked that my parents could move so far away from me. I just shrugged, not feeling at all fazed by the situation - instead seeing it as an opportunity to have somewhere warm to go on holidays.

But six months into their retirement, my mother phoned to say she had some bad news: Dad had cancer. "But don't worry," she told me. It was lymphoma and the doctors had assured her this was the most treatable kind. With chemotherapy, he would be "right as rain" in a couple of months. However, when I arrived in Queensland for a visit two months later, I was shocked by my father's appearance. He was frail, underweight and had lost all his hair from the chemo. Although he was only 65, he looked as though he had aged 20 years.

It was a sad sight and I felt my emotions welling up inside. Before I knew what was happening, I fell upon my dad with hugs and kisses, and for the ?rst time in my life I said, "I love you, Dad!" He seemed a little taken aback, but awkwardly told me he loved me, too.

But the tidal wave of emotion didn't stop there as I fell upon my mother in the same fashion, expressing my love for her, too. Then I gently pulled away, expecting some kind of reciprocation. But it never came. Instead, she appeared frozen in horror. Hurt and humiliated, I struggled to understand this rejection. What was wrong with me? What was wrong with her?

The holiday was over all too quickly. When I was back at work once again, I overheard a workmate on a personal phone call to her mother. At the end of it she said, "I love you, Mum." As simple as that. Declarations of love were clearly effortless in her family. Why wasn't it like that in mine? Tears welling up, I ran to the toilets, where I cried so hard I thought my heart would break. This wasn't right! Something had to be done about this love situation once and for all.

My opportunity came the next Sunday during my weekly phone call to my mother. After we had dispensed with our usual pleasantries and updates, I took a deep breath and asked, "Do you love me, Mum?" After a short hesitation, she replied brusquely, "You know I love you. Don't be silly."

"Do I? I don't remember ever hearing it from you."

"Well, we never said things like that in my family."

"Well, I want it to be said in ours. From now on I want to end our conversations with 'I love you.' And that goes for Dad, too."

My mother reluctantly agreed, and for the first time our telephone conversation ended with, "I love you, Mum," and she replied, "I love you, too." Within a short time, "I love you" became easy to say, until it was very natural and we couldn't consider saying goodbye without it. Birthday and Christmas cards went from silly to sentimental, and when Mum bought Dad a Christmas card that year with the words "I love you!" spelt out in holly, I almost cried.

In the meantime, Dad had bravely completed his cancer treatments and, 12 months after being diagnosed, thankfully went into remission. A year later the lymphoma ?ared up again, but once more he valiantly fought it off.

Unfortunately, the stress and worry had taken its toll on my mother, and in May 2000 she was diagnosed with pancreatic cancer. I was told that only ?ve per cent of patients survive.

Just five months after being diagnosed, Mum was admitted to hospital. It was a few days before I was due to ?y out for another visit. Her condition was serious but not critical, and I phoned every morning to check on her. One morning when I rang, she sounded in good spirits, but that evening my instincts told me I needed to ring again.

My worst fear was con?rmed when a nurse answered the phone and regretfully informed me that my mother's condition had rapidly deteriorated. She wasn't expected to make it through the night.

Knowing I couldn't get a fight in time, I asked the nurse to put the phone next to my mother's ear so I could talk to her. "She's barely conscious," the nurse replied. "It's unlikely she'll hear you." But I didn't care. I wanted to do it anyway.

Once she'd placed the phone by my mother's ear, I started sobbing and telling Mum over and over again that I loved her, hoping she could hear. At ?rst, all I could hear from the other end was "Hmmmm" - but then, like a miracle, with a deep sigh she said, "Love you . . . love you, darling." It was the last thing she said before drifting into unconsciousness. She never spoke again. My mother died at 4 o'clock the next morning, with my father by her side.

Although I was devastated by her death, the startling part was how well I coped. Of course, losing a parent is excruciatingly painful and I shed many tears, but receiving those lovely last words made it much more bearable. I had closure in the best possible way.

Slowly, Dad has now adapted to living alone for the first time in his life. Now that there's just the two of us, we're closer than ever.

Then last year, Dad was diagnosed with cancer again. This time it's skin cancer, and to date he has been through two courses of radiotherapy. I don't know whether Dad will win this latest battle. At 79, he's not as strong as he once was, but he's still as determined as ever to go down ?ghting. But there is one thing I do know: whatever happens, whatever the future holds - for Dad and for me - our last words to each other will be "I love you." Of that I'm certain.