
Lebih kerna menyintai adalah kurnia, akupun memutuskan untuk tidak mengacuh seribu tanya mengapa kemudian memilihmu. Toh, tidak pernah ada jawaban tepat untuk itu. Juga tidak ada alasan pasti mengapa aku selalu murah bercerita meski dalam diammu. Sudah lama aku berhenti bertanya, berhenti juga menjawab. Semakin kucampak pesona rindu yang mengasak ke laut lepas, saat itu juga ia berubah menjadi bah yang kembali menenggelamkan aku. Melaut tanpa kendali. Dan aku…hanya bisa bertahan hidup didalamnya dan menanti ia surut sendiri.
terasing di negerimu. aku! tersorok dalam aspalat kegelisahan. menanti badai berlalu pergi. menunggu murka tsunami reda. menghitung waktu teduh kan datang..seperti terfiksasi dititik beku.. di batas senja, aku melepas lelah, menambat gundah ke dalam alurnya.. sepertinya harus ku tiadakan mimpi indah malam ini. dalam pasrah dan berserah, ku alunkan zikir anatomi dan fisiologi, semoga Tuhan berkenan membuka hijab akal dan mengizinkannya duduk bersemayam disinggahsana ilmu..
segudang tanya tersimpan. silih berganti menampilkan teka teki. serba tak pasti; membingungkan...kadang merunut ABCDE, kadang berubah acak RTDCB. jangan2 teka-teki tentangmu adalah kombinasi kata sandi lebih dari 16 karekter. setiap kali aku terhenti ditubir matamu, kenapa persimpangan jalan yang terhampar? setiap kali aku menoleh ke belakang, kenapa justeru selubung aponeurosismu yang terdepan? apakah hatimu adalah teka-teki silang diluar batas logika? lebih dari itu sangkaku...

0 ulasan:
Catat Ulasan