Skinpress Rss

Jumaat, 3 Februari 2012

18 HOURS

0


Tiba di Bandar Udara (Airport) Sukarno Hatta, Jakarta kira-kira 16.30 petang (sore). Dari Jakarta lansung berangkat ke Pemalang. Kata temanku, perjalanan dari Jakarta ke Pemalang mengambil masa 1 hari penuh jika menaiki kereta api atau lebih setengah hari jika menaiki kenderaan darat lainnya. Kerana perjalanan adalah dari barat ke timur. Sementara diri dan rombongan akan menaiki bas (bis) menuju ke Pemalang. Wah jarak 9 jam perjalanan yang sangat jauh dan sukar buat penderita “chronic motion sickness” seperti diri ini.

2 jam dibas. Mulai keringat dingin. Padahal sudah makan obat antimuntah yang diberikan ayah dari rumah. Memang bukan obat yang biasanya diri makan (kosumsi) sewaktu berjalan jauh (travel) sewaktu di Makassar, dimetylhidranate. Sepertinya tidak mapan. Ayah sudah tertidur kepenatan. Ummi juga. Tidak sanggup membangunkan mereka. Sensasi mual semakin menggeletek esophagus. Luar biasa. Sambil mengulum gula-gula(mengemut permen), tangan menaip (mengetik) sms. Sengaja mencari kesibukan untuk mengalihkan focus otak dari terus bertumpu pada rasa mual yang merajai. Shivering. Pertama kalinya motion sickness hingga menggigil seperti ini. Masih harus sabar. Masih harus bertahan. Semoga pusat muntah belum teransang untuk bekerja. Hal yang horror untuk dipikirkan sebenarnya..semoga tidak!! Kasihan temanku terpaksa melayani dir isms tidak penting. Hmm..

Dalam kondisi putus harap tersebut, dalam keadaan lemah tanpa daya, tiba-tiba bas membelok ke kawasan istirehat (R&R) di kilometer 19 Jalan Tol Timur Jakarta.alhamdulillah, Ya Allah!! MAUNAH!! Bantuan dari Allah yang Maha Mengerti di saat yang paling tepat. Segera turun dan membasuh muka di kamar kecil. Agak segar. Gigilan sudah agak berhenti. Gelora mual, berkurang ambangnya. Aduh, benar-benar sebuah penyiksaan yang mendera.

Makan malam bersama Prof.Agus, Rektor ISPN Jakarta (salah seorang penganjur program). Soto betawi yang sangat enak menjamah rongga lambung yang memang kosong sejak pagi. Alhamdulillah meski sama sekali hilang selera untuk makan lantaran rasa mual yang masih mengganjal di tenggorokan (tekak) dan kegusaran bahawa ransangan makanan kemudian nanti akan mempercepat teransangnya pusat muntah untuk bekerja. Setelah makan, diri segera mencari obat yang biasa digunakan sewaktu di Makassar atas saran teman. Dari satu toko ke toko yang lain. Tidak ada. Dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Tetap tidak ada. Tidak terbayangkan bagaimana untuk menempuh 7 jam ke depan tanpa perisai ampuh tersebut.
Dalam keputusasaan tersebut, hanya pengharapan pada Allah menjadi azimat sakti. Bahwa Allah yang Maha Mengetahui tidak akan menelantarkan hambaNya. Jika memang diri tidak berjaya mendapatkan obat tersebut berarti Allah sedang member tarbiyah yang harusnya mampu untuk tubuh lemah ini hadapi. Walk slowly. Go beyond the limit. Dalam perjalanan menuju ke bas, datang penjaja jalan dengan bakulnya sambil menawari “ada yang maw obat antimuntah?” Wah, miracle!! Diri segera berpaling dan melihat… Dimenhydrinate!! Obat dalam kemasan kelabu (abu-abu) dengan lukisan kereta, mobil, motor dan sebagainya. Malaikat Penyelamatku!! Terima kasih Ya Allah!! Ternyata Allah hanya menguji diri sebentar. Lansung diberikannya solusi. Alhamdulillah..

Perjalanan malamnya walau masih sering terjaga tapi lebih baik dari yang dijangkakan. Pejam celik..pejam celik.. masih belum sampai. Sudah lewat 12 jam. Di Tegar. Masih jauh dari Pemalang. Efek dimenhydrinate makin menghilang. Ragu untuk makan lagi satu. Temanku agak-agak tidak menggalakkan terlalu banyak mengambil obat atu menggandakan dosis obat. MasyaAllah, harus bertahan..

Jam 08.30 am. Kami tiba di sebuah masjid Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) yang turut menjadi salah satu penganjur program ini. Alhamdulillah. Selesai menikmati makan pagi yang enak disediakan oleh panitia, kami sempat berfoto-foto sementara menunggu arahan selanjutnya dari ketua program. Wah ternyata, kami harus meneruskan lagi perjalanan ke tempat program yang berjarak 2-3 jam ke desa Moga yang terletak dikawasan bukit. Waduh, parah.. tidak sanggup lagi rasanya kembali ke bas dan meneruskan perjalanan ini. Namun itulah. Kebaikan butuh pengorbanan dan pembuktian. Ini juga bagian dari siri perjuangan itu sendiri. SEMANGAT MAHFUZAH!! Yakin boleh.

Perjalanan lanjut. Tiba di Desa Moga jam 11.00 pagi. Di Panti Asuhan Darul Aitam. Alhamdulillah.. akhirnya, perjuangan tuntas.. . Disambut oleh anak-anak SD (sekolah rendah) yang menggemaskan, menghilangkan sedikit kepenatan (kecape’an) di jalan. Senyuman mereka melonggarkan wajah ketat rombongan.18 jam dibas. (9 jam perjalanan normal Jakarta-Pemalang) namun gara-gara jammed (macet), alhasil 18 jam perjalanan yang kami tempuh. Benar-benar sebuah tarbiyah yang luar biasa. Bukan hanya bagi diri yang berpenyakit “motion sickness” tapi juga buat makcik-makcik (tante2) yang turut serta dalam program ini yang kuat bertahan. Padahal jika kita maklumi, diusia mereka, pelbagai penyakit sendi, otot dan tulang menyerang apalagi terpaksa berhotelkan kerusi-kerusi bas yang kecil dan terkotak katik bersama irama bas..

0 ulasan:

Catat Ulasan