Skinpress Rss

Selasa, 30 Ogos 2011

SAAT KEIKHLASAN MENJADI TARUHAN

0


Bertugas di hospital perifer. Hari ini baru hari keempat diri dan teman seperjuangan ditugaskan untuk standby 7 x 24 jam di sini. Jika hari-hari kemarin tidak ada sama sekali aktivitas yang kami lakukan kecuali mengikuti pemeriksaan endoscopy dan colonoscopy yang dilaksanakan oleh Prof. Akil SpPD dan mengikuti visite dokter-dokter spesialis (pakar) pulmonologi, dr. Erwin SpPD SpP, endocrinologist dr.Makbul Aman SpPD dan Prof Akil sendiri sebagai specialist gastrointestinal. Setelah itu kami cuma duduk di sofa ruang lobi rumah sakit sambil mandi sauna (baca: kepanasan)dan tirah baring total dikamar dokter muda.

Tapi hari ini agak luar biasa. Tadi malam, kami telah dihubungi oleh dokter residen untuk follow up seorang penderita yang ditempatkan di ruang ICU (Intensive Care Unit)disebabkan keadaan yang gawat (baca: kritikal). Penderita dengan Bacterial Peritonitis (peradangan pada selaput rongga perut oleh infeksi bacteria) tersebut mengalami penurunan kesedaran sementara alat monitor di ICUkebetulannya rosak. Dari jam 12 malam hingga jam 6 pagi. Diri dan rakan seperjuangan bersekang mata memfollow up penderita tersebut setiap 30 menit.

Sudah tidak tidur semalaman, masuk lagi seorang penderita yang juga dalam keadaan kritis. Penderita yang terdiagnosis menghidap sirosis hepatis (pengecilan hati disebabkan fibrosis atau adanya jaringan parut di hati. Perut membesar yang dialami sejak 1 bulan yang lalu kelihatan semakin membesar namun kerna penderita tidak mahu berobat ke dokter maka dia hanya terus menerus menderita dirumah hingga keadaannya kritis sekali. Adanya demam dan ikterus (demam kuning) memperberat keadaan penderita. Penderita ini juga diarahkan supaya di follow up per 30 menit. Kedudukan ward (baca: lontara) tempat penderita dirawat agak jauh dari kamar dokter muda hingga meyebabkan kami harus standby di sofa lobi lantai 4 yang panas sauna nya masyaAllah, luar biasa sekali.

Sempat kritis keadaan penderita tersebut saat tekanan darahnya (tensi) drop mendadak!! 40/30mmHg. Syok hipovolemik! Lansung cairan diguyur masuk (drip cepat) ke pembuluh darahnya hingga tekanan kembali teraba. Kedaannya terus drop hingga memaksa kami tetap standby dan follow up. Petangnya (sore) sempat keadaan penderita membaik walau agak lambat pembaikannya. Bertemankan mata yang mulai layu, tubuh yang semakin lesu dan longlai, tekak yang mongering 2 kali lipat memandangkan puasa sedang air terus-terus keluar dari tubuh lewat keringat, kami tetap setia di sofa untuk standby. Apa yang agak menjengkelkan kerna banyak sekali hal yang diminta oleh keluarga penderita hingga tak sampai 5 menit kami duduk, ada saja yang keluhannya dari keluarga penderita. “dok, pasiennya mengamuk..” “dok, pasiennya muntah darah..” “ dok, pasiennya mau duduk..” .. “dok, pasiennya mau menulis” dan macam-macam lagi.. capek deh.. tapi jika difikir ulang dari satu sisi, keluarga penderita bersikap seperti itu kerna orang yang tersayang yang sakit hingga mereka pasti mahukan yang terbaik untuk penderita.

Rakan seperjuanganku mengeluh, “ Ya Allah, bilalah orang ni nak meninggal??.. cepat-cepatlah sedikit supaya tidak menyusahkan orang lain..capek deh.. harusnya kita sudah bisa tidur dan santai jam-jam sekarang. bukan standby dengan penuh penderitaan seperti sekarang” tiba-tiba kata-kata tersebut ibarat menyentap tangkai hatiku.. cepat hati beristigfar.. Astagfirullahal adzim.. astagfirullahal adzim.. harusnya kita tidak boleh mendoakan kematian orang lain. Apalagi jika cuma untuk kesenangan dan kerehatan kita. Kasihan penderita tersebut yang berjuang untuk kehidupannya. Kasihan keluarganya yang tak kenal penat berjaga di sampingnya.

Orang-orang tidak berdaya ini, kerna tidak mampu mengatasi, baru datang mencari pertolongan di hospital (rumah sakit).. mereka menyerah diri pada doker atas dasar kepercayaan dan penuh harap. Tidak wajar jika kita membalas mereka dengan doa yang jelek. Bayangkan jika penderita itu adalah sanak saudara kita.. keluarga terdekat kita.. pasti kita juga menginginkan yang terbaik buat mereka. Memang benar, kerja-kerja ini memenatkan.. namun ia adalah kebajikan.. kebajikan yang bermanfaat bagi orang lain itu InsyaAllah akan dihitung sebagai amal soleh dan saham pahala akhirat kita. Di sini Allah mendidik kita tentang erti keikhlasan dalam bekerja. Ketelusan dalam mendidik rasa kasih sayang pada orang lain dan rela mengorbankan kepentingan diri kita demi orang lain..

semoga Allah terus menghidupkan hati-hati kita untuk menjaga keikhlasan dalam bekerja

0 ulasan:

Catat Ulasan